Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Rabu, 01 Juni 2011

Sejarah Perkembangan Tasawuf

/ On : 14.31/ Thank you for visiting my small blog here.
A. Unsur Nasrani (Kristen)
Bagi mereka yang beranggapan bahwa tasawuf berasal dari unsur nasrani, mendasarkan orang untuk mentafsirnya pada dua hal :
1. Adanya interaksi antara orang Arab dan kaum Nasrani pada masa jahiliyah maupun zaman Islam.
2. Adanya segi – segi kesamaan antara kehidupan para Asketis atau sufi dalam hal ajaran cara mereka melatih jiwa (riyadhah) dan mengasingkan diri (khalwat) dengan kehidupan Al-Masih dan ajaran – ajarannya serta dengan para rahib ketika sembahyang dan berpakaian.


Poko – pokok ajaran tasawuf yang di klaim berasal dari agama Nasrani, antara lain adalah :
1. Sikap fakir, Al-Masih adalah fakir.
2. Tawakkah kepada Allah dalam soal penghidupan.
3. Peranan syeh yang menyerupai pendeta, perbedaannya pendeta dapat menghapus dosa
4. Selibasi, yaitu menahan diri tidak menikah karna menikah dianggap dapat mengalihkan diri dari tuhan.
5. Penyaksian, bahwa sufi menyaksikan hakikat Allah dan mengadakan hubungan dengan Allah, Injilpun telah menerangkan terjadinya hubungan langsung dengan tuhan.


B. Unsur Hindu – Budha.
Tasawuf dan sistem kepercayaan agama hindu memiliki persamaan, antara lain :
- Sikap fakir
- Cara ibadah dan mujahadah (Darwis Al-Birawi)
- Paham Reinkarnasi (perpindahan ruh dari satu badan ke badan yang lain), cara pelepasan dari dunia versi Hindu Budha dengan persatuan diri dengan jalan mengingat Allah.
- Salah satu maqamat sufiah, yaitu fana memiliki persamaan dengan ajaran tentang nirwana dalam agama Hindu. Ajaran nirwana agama Budha mengajarkan ummatnya untuk meninggalkan dunia dan memasuki kehidupan kontemplatif. Paham fana’ hampir serupa dengan paham nirwana. (Harun Nasution).
- Para sufi belajar menggunakan tasbih sebagaimana yang dipakai oleh para pendeta Budha (Goldziher).

Namun, Qamar Kailani dalam ulasannya tentang asal usul tasawuf menolak
pendapat mereka yang mengatakan tasawuf berasal dari agama Hindu-Budha. Menurutnya, pendapat ini terlalu ekstrim. Kalau diterima bahwa ajaran tasawuf itu berasal dari Hindu-Budha berarti pada zaman Nabi Muhammad telah berkembang ajaran Hindu-Budha di Mekkah. Padahal, sepanjang sejarah belum ada kesimpulan seperti itu.


C. Unsur Yunani
Kebudayaan Yunani seperti Filsafat, telah masuk ke dunia Islam pada akhir
daulah Amawiyah dan puncaknya pada masa daulah Abasiyah – ketika berlangsung zaman penerjemahan filsafat Yunani. Dengan kegiatan penerjemah seperti itu, banyak buku – buku filsafat, disamping buku – buku lainnya, yang di pelajari ummat Islam. Ini dapat diartika sebagai proses pengenalan ummat Islam pada mitode berfikir yang filosofis yang juga turut mempengaruhi pola pikir sebahagian orang Islam yang ingin berhubungan dengan tuhan.

Pada persoalan ini, boleh jadi tasawuf yang terkenal pengaruh yunani adalah tasawuf yang di klasifikasikan sebagai tasawuf yang bercorak filsafat. Hal ini dapat dilihat dari pikiran Al-Farani, Al-Kindi, Ibnu Tsina terutama uraian tentang filsafat jiwa. Demikian juga uraian – uraian tasawuf dari Abu Yazid AL-Hallaj, Ibnu Arabi, Syukhrawardi, dll.


D. Unsur Persia.
Sebenarnya Arab dan Persia memiliki hubungan. Sejak lama pada bidang politik,
Pemikiran, kemasyarakat dan sastra. Namun, belum ditemukan argumentasi yang kuat yang menyatakan bahwa kehidupan rohani Persia telah masuk ke tanah Arab. Yang jelas, kehidupan kerohanian Arab masuk ke Persia hingga orang – orang Persia itu terkenal sebagai ahli – ahli tasawuf. Barangkali ada persamaan antara Istilah zuhud di Arab dengan zuhud menurut agama Manu dan mazdaq : antara lain istilah hakikat Muhammad dan paham permu Hormuz (Tuhan – tuhan kebaikan ) dalam agama Zarathustra. (Reynold A : Nicholoson)
Demikianlah, uraian yang mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa asal – usul tasawuf berasal dari luar Islam. Pendapat ini biasanya berasal dari kalangan orientalis, karena paradigmanya hanya melihat bahkan mengidentikkan ajaran Islam dengan ajaran – ajaran non – Islam. Disamping itu, paradigmanya dibangun dari hasil pemikiran logika yang dipengaruhi oleh situasi sosial. Paradigma yang “tidak adil” itu jelas melihat kemiripan antara satu kasus dengan kasus lainnya sebagai hal yang sama dan bersumber dari hal yang sama pula.
Kebanyakan ahli tasawuf muslim yang berpikiran moderat mengatakan bahwa faktor utama timbulnya tasawuf hanyalah Al-Quran dan As-Sunnah, bukan dari luar Islam (Abdul Halim Mahmud). Abdul Halim Mahmud, misalnya, menolak analisis orientalis diatas. Ia mengatakan bahwa tasawuf yang berkembang di dunia Islam adalah berasal dari Al-Quran dan As-Sunnah. Berdasarkan dua sumber Naqli inilah benih – benih tasawuf muncul. Kemudian dipengaruhi kebudayaan asing, yaitu India (Hindu), Yunani, Persia atau Masehi.
Dengan demikian dari semua uraian diatas dapatlah di simpulkan bahwa sebenarnya tasawuf ini bersumber dari ajaran Islam itu sendiri, mengingat Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya pun telah mempraktekkannya. Hari ini dapat dilihat dari azaz – azaznya yang banyak berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri juga bahwa setelah berkembang menjadi aliran pemikiran (misalnya tasawuf filsafat), tasawuf mendapat pengaruh dari budaya filsafat Yunani, Hindu, Persia, dan sebagainya.




E. Unsur Arab.
Mengingat kehadiran Islam bermula dari daratan Arab maka uraian tentang sejarah
Tasawuf ini pun bermula dari tanah Arab. Untuk melacak perkembangan tasawuf tidak hanya memperhatikan ketika tasawuf mulai dikaji sebagai ilmu, melainkan sejak zaman Rasulullah SAW. Memang pada masa Rasulullah dan masa sebelum datangnya Islam, istilah “tasawuf” itu belum ada. (Muhammada Yasir Syarf). Istilah sufi itu sendiri baru pertama kali digunakan oleh Abu Hasyim, seorang zahid dari Syiria (w.780 h).
Akan tetapi tidak dapat di sangkal lagi bahwa hidup seperti yang digambarkan dalam kalangan sufi itu sudah ditemukan orang, baik pada diri Nabi Muhammad SAW sendiri maupun pada diri sahabat – sahabatnya. Sikap – sikap Rasulullah SAW dan para sahabat ini kemudian dipraktekkan pula oleh kaum sufi berikutnya. Para tabi’in merupakan perintis dalam usaha sendiri – sendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah tanpa melepaskan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai poko syariat Islam.

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>