Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Sabtu, 07 Mei 2011

penelitian tentang / skripsi download makalah GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG RESIKO TINGGI KEHAMILAN TERHADAP KEPATUHAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI RSUD LANGSA TAHUN 2011

/ On : 03.35/ Thank you for visiting my small blog here.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Salah satu indikator derajat Kesehatan Nasional adalah Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Berdasarkan survei demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003 AKI dan AKB di Indonesia yaitu 307/100.000 kelahiran hidup dan 35/1000 kelahiran hidup sedangkan AKI dan AKB yang ingin dicapai pada tahun 2010 adalah 125/100.000 kelahiran hidup dan 16/1000 kelahiran hidup. (Dalam Erika, 2006). Tingkat Kematian Ibu di Indonesia adalah tingkat kematian ibu tertinggi di kawasan Asia Tenggara walaupun tolok ukurnya sangat sulit. (Arifin, 2005). AKI untuk provinsi Aceh tahun 2008 adalah 190/100.000 kelahiran hidup (Profil kesehatan provinsi NAD, 2009). Sedangkan Dinas Kesehatan Kota Langsa Tahun 2010 mencatat 2,30% kematian maternal dan 6,56% kematian bayi dari 3.062 kelahiran.
Kehamilan adalah fungsi normal dari tubuh, bukan suatu penyakit, namun beberapa faktor dapat menyebabkan penyulit pada kehamilan, termasuk keadaan yang telah ada sebelumnya dan hal-hal yang berkembang selama kehamilan. Kehamilan yang mengancam kesehatan janin atau ibu disebut sebagai resiko tinggi. Kehamilan resiko tinggi adalah suatu kehamilan yang memiliki keadaan tertentu sehingga menyebabkan meningkatnya resiko selama kehamilan.
Adapun faktor-faktor resiko tinggi pada ibu hamil antara lain adalah Primigravida kurang dari 20 tahun, kehamilan dengan umur lebih dari 35 tahun, anak lebih dari empat, jarak persalinan terakhir dan kehamilan sekarang kurang dari dua tahun, tinggi badan kurang dari 145 cm, berat badan kurang dari 33 kg atau lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm, riwayat keluarga menderita penyakit kencing manis, hipertensi, dan riwayat cacat congenital, kelainan bentuk tubuh, misalnya kelainan tulang belakang atau panggul, HB kurang dari 11 gram %. (Rochjati,2007).
Wanita dengan setiap penyulit ini membutuhkan asuhan khusus sebelum, selama, dan setelah persalinan. (Hamilton, 1995). Komplikasi pada saat kehamilan, melahirkan dan pasca persalinan merupakan penyebab utama kematian wanita usia subur (23%). Bagi wanita yang berumur 20-24 tahun, komplikasi tersebut merupakan penyebab kematian (40%). Komplikasi obstetric yang paling sering adalah pendarahan, infeksi, eklamsia, abortus dan partus lama (Depkes RI,2003).
Keterlambatan dan system rujukan merupakan masalah tersendiri dalam matarantai tingginya AKI, khususnya di negara berkembang dengan sarana dan fasilitas yang terbatas. (Manuaba, 2001). Pada saat ini masih banyak terjadi Rujukan Terlambat, dimana kasus Resiko Tinggi Ibu Hamil yang dikirim dan datang di Rumah Sakit dalam keadaan sangat darurat, sehingga kesempatan untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya sering sangat terbatas (Depkes RI,2005).
Profil Kesehatan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tahun 2009 terdapat 113.182 ibu hamil,dan ibu hamil dengan komplikasi resiko tinggi yang ditangani dan tidak ditangani berjumlah 4512 (19,93%). Sedangkan berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Langsa tahun 2010 terdapat Ibu Hamil dengan jumlah 3500 orang dan di antaranya terdapat 994 kasus (142,00%) Ibu hamil dengan Risiko Tinggi atau dengan komplikasi, dan hanya 182 kasus (26,00%) Ibu hamil dengan Risiko Tinggi atau Komplikasi yang ditangani.
Dalam menurunkan angka kematian ibu secara bermakna, kegiatan deteksi dini dan penanganan ibu hamil berisiko atau komplikasi kebidanan perlu di tingkatkan baik di fasilitas kesehatan maupun di masyarakat. Dalam rangka itulah deteksi ibu hamil berisiko atau komplikasi kebidanan perlu difokuskan pada keadaan yang menyebabkan kematian ibu bersalin di rumah dengan pertolongan dukun bayi (Depkes RI,2005).
Jumlah kematian maternal secara keseluruhan kecil, tetapi mortalitas maternal tetap menjadi masalah yang signifikan karena proporsi kematian yang tinggi dapat dicegah, terutama melalui perbaikan akses ke dan penggunaan pelayanan perawatan prenatal. (Bobak,2004).
Untuk menegakkan kehamilan dengan resiko tinggi pada ibu dan janin salah satunya dengan cara melakukan pengawasan antenatal. (manuaba,2001).
Antenatal Care merupakan suatu bentuk pelayanan preventif promotif dasar yang bertujuan agar ibu dan bayi yang dilahirkan dalam keadaan sehat. (Erika,2006). Antenatal Care atau pelayanan prenatal atau pemeriksaan masa hamil adalah satu faktor yang berpengaruh terhadap nasib kehamilan. (Erika, 2006). Wanita yang mempunyai resiko kehamilan tinggi harus diketahui secara dini, jika memungkinkan, dan diberi perawatan antenatal yang lebih intensif.
Perawatan prenatal yang adekuat dan terfokus pada kesehatan dan penurunan faktor resiko dapat memperbaiki hasil akhir kehamilan (Bobak,2004). Wanita yang menerima layanan kesehatan pranatal secara dini dan berkelanjutan akan memiliki hasil akhir kehamilan yang lebih baik dibandingkan wanita yang tidak menerima layanan itu. (McKenzie, 2006).
Data provinsi NAD tahun 2010 periode januari hingga juni, jumlah kunjungan kehamilan sebanyak 2.271 kunjungan,dengan jumlah kunjungan pertama 1.184 (52,1%) dan kunjungan keempat 1.087 (47,8%). (Dalam Dhian, 2010). Sedangkan di Kota Langsa, selama tahun 2010 terdapat 4.058 ibu hamil dan 2.231 (55,0%) yang melakukan kunjungan pertama sedangkan yang melakukan kunjungan sampai empat kali hanya 1.989 (49,01%). Di RSUD Langsa, selama tahun 2010 tedapat 490 kasus kehamilan beresiko tinggi dari 2.099 ibu hamil dan 524 (25%) diantaranya tidak melakukan Antenatal Care secara rutin, dan data dari bulan Januari-Maret 2011 jumlah ibu hamil sebanyak 245 orang dan ibu hamil beresiko tinggi sebanyak 85 orang (34,6%).
Beberapa penelitian yang berhubungan juga telah dilakukan diantaranya berjudul “Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu hamil Tentang Kehamilan Resiko Tinggi” di Desa PB.Beuramoe Langsa Barat (Dini Puspitasari, 2010). Didapatkan hasil penelitian dari 30 responden di polindes PB. Beuramo yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 6 responden (20%), yang berpengetahuan cukup 10 responden (33%), yang berpengetahuan kurang 14 responden (47%).
Sedangkan penelitian yang berjudul “Hubungan Kepatuhan Ibu Hamil Dalam Melaksanakan Antenatal Care Dengan Berat Badan Lahir” di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta (Diana Erika, 2006). Didapatkan hasil penelitian dari 30 responden terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan ibu hamil melaksanakan antenatal care dengan berat badan lahir, pada ibu dengan kepatuhan tinggi didapatkan berat badan lahir normal sebanyak 25 orang (78,1%) dan selebihnya dengan kepatuhan rendah didapati berat badan lahir rendah.
Kemiskinan dan kekurangan pengetahuan menyebabkan terjadinya kelambatan mengambil keputusan dalam mengenal gejala dini komplikasi kehamilan. (Manuaba,2001). Pengetahuan masyarakat tentang gejala komplikasi dan tindakan cepat untuk segera meminta pertolongan ke fasilitas kesehatan terdekat menjadi kunci utama dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi. (Puspitasari, 2010).
Kesadaran masyarakat untuk melakukan Antenatal Care masih rendah sedangkan besarnya kemungkinan terjadinya komplikasi persalinan pada setiap ibu tidak sama tergantung keadaan selama kehamilan, apakah termasuk kelompok kehamilan resiko rendah atau ibu hamil dengan masalah / faktor resiko yaitu kehamilan resiko tinggi dan kehamilan resiko sangat tinggi. (Rochjati, 2007).
Berdasarkan pemikiran inilah peneliti berusaha melihat gambaran pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi kehamilan terhadap kepatuhan kunjungan Antenatal Care.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi kehamilan antara kepatuhan kunjungan Antenatal Care di RSUD Kota Langsa.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi kehamilan terhadap kepatuhan kunjungan Antenatal Care di RSUD Kota Langsa pada tahun 2011.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi kehamilan di RSUD Kota Langsa
1.3.2.2 Mengetahui kepatuhan kunjungan antenatal care pada ibu hamil di RSUD Kota Langsa
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Ilmu Keperawatan
Sebagai dasar untuk mengaplikasikan asuhan keperawatan pada ibu hamil agar memeriksakan kehamilannya dan dapat meningkatkan asuhan keperawatan pelayanan maternitas khususnya pada ibu hamil.
1.4.2 Bagi RSUD Kota Langsa
Sebagai bahan masukan dan informasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan dalam rangka mendukung upaya peningkatan kualitas ibu hamil dan janin.
1.4.3 Bagi Responden
Sebagai pertimbangan dan panduan bagi ibu hamil untuk upaya preventif, kuratif maupun rehabilitatif.
1.4.4 Bagi Peneliti Lain
Dapat menambah bahan bacaan sebagai informasi untuk peneliti selanjutnya.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kehamilan
Kehamilan merupakan suatu perubahan dalam rangka melanjutkan keturunan yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang tumbuh didalam rahim ibu. (Prawiroharjo, 2002), selanjutnya dapat dijelaskan tingkat pertumbuhan dan besarnya janin seusia kehamilan, pada setiap melakukan pemeriksaan kehamilan (Depkes RI, 2003).
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lama hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) di hitung dari haid pertama haid terakhir (dimulai dari konsepsi) sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ke 7 sampai 9 bulan (Saifudin, 2002).
Proses terjadinya kehamilan karena bertemunya sel telur dan sel sperma maka terjadilah pembuahan (Muchtar, 1998).
2.2 Pengertian Kehamilan Resiko Tinggi
Kehamilan resiko tinggi adalah salah satu kehamilan yang didalamnya kehidupan atau kesehatan ibu atau janin dalam bahaya akibat gangguan kehamilan yang kebetulan atau unik. (Bobak, 2004).
Adapun faktor- faktor resiko tinggi pada ibu hamil antara lain adalah Primigravida kurang dari 20 tahun, kehamilan dengan umur lebih dari 35 tahun, anak lebih dari empat, jarak persalinan terakhir dan kehamilan sekarang kurang dari dua tahun, tinggi badan kurang dari 145 cm, berat badan kurang dari 33 kg atau lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm, riwayat keluarga menderita penyakit kencing manis, hipertensi, dan riwayat cacat congenital, kelainan bentuk tubuh, misalnya kelainan tulang belakang atau panggul, HB kurang dari 11 gram %. (Rochjati, 2007).
Untuk menegakkan kehamilan dengan resiko tinggi pada ibu dan janin adalah dengan melakukan anamnesis yang intensif (baik), melakukan pemeriksaan fisik, melakukan pemeriksaan penunjang (mis, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rontgen, pameriksaan ultrasonografi, dan pemeriksaan lain yang dianggap perlu). Berdasarkan waktu, keadaan resiko tinggi dapat ditetapkan menjelang kehamilan, saat hamil muda, saat hamil pertengahan, saat trismester ketiga, dan saat persalinan/pascapartus. (Manuaba, 2008)
Peristiwa intrapartum dan prenatal dapat menimbulkan efek merugikan pada bayi dalam kehidupan selanjutnya bukanlah hal yang baru. Kecacatan biologis serius, masalah kesehatan, gangguan obstetri, dan masalah sosial dapat mengganggu ibu dan bayi, baik dalam tingkat ringan maupun secara nyata. Identifikasi tentang pasien risiko tinggi penting dalam meminimalkan mortalitas dan morbiditas maternal dan neonatus. (Bobak, 2004)
Ada banyak bukti yang diketahui merupakan faktor risiko yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi pasien risiko tinggi secara dini dalam masa prenatal serta intrapartum. Kira-kira 20% wanita hamil diidentifikasi berisiko pada masa prenatal; hal ini membuat sekitar 55% hasil akhir kehamilan buruk (ACOG, 1988 dalam Bobak, 2004).
Umumnya, perawat yang siaga dan mengenal penyimpangan dari kondisi normal melihat dan melaporkan faktor risiko tinggi yang potensial atau nyata. Banyak faktor pada wanita tersebut dan dari lingkungan sekitar mempengaruhi hasil akhir kehamilannya. (Bobak,2004).
Beberapa faktor, yang menempatkan kehamilan pada risiko tinggi: kemiskinan, nutrisi yang tidak adekuat, infeksi, penyakit menular seksual (PMS), kondisi medis, dan penggunaan zat, seperti tembakau, alcohol, kokain, dan obat lain, mengganggu seluruh pengalaman melahirkan bagi ibu,janin/ neonatus, dan keluarga. (Bobak,2004).
2.3 Karakteristik Ibu Hamil Dengan Kehamilan Resiko Tinggi
2.3.1 Ibu Hamil Dengan Masalah Primi Muda
Primi muda adalah ibu hamil yang pertama dengan umur 16 tahun atau kurang. Masalah: Rahim ibu belum matur, di khawatirkan keselamatan, kesehatan dan pertumbuhan janin dalam kandungan, mental ibu belum dewasa, adanya kemungkinan terjadinya kesulitan dan komplikasi dalam persalinan (Rochjati, 2007).
2.3.2 Ibu Hamil Dengan Masalah Primi Tua
Primi tua adalah ibu hamil pertama kali pada umur 35 tahun atau lebih. Masalah pada umur 35 tahun atau lebih yaitu pada tubuh ibu terjadi perubahan dari jaringan alat-alat kandungan dan jalan lahir oleh karena proses menjadi tua, lebih kaku, ada kemungkinan lebih besar ibu hamil mendapatkan bayi dengan cacat kelahiran, pada persalinan dapat terjadi komplikasi seperti persalinan macet, perdarahan pasca persalinan. (Rochjati, 2007).
2.3.3 Ibu Hamil Dengan Masalah Primi Tua Sekunder
Primi tua sekunder adalah dimana kahamilan dan kelahiran anak yang terkecil 10 tahun lalu atau lebih. Masalah pada primi tua sekunder yaitu 10 tahun atau lebih ibu tidak pernah hamil dan melahirkan, pengalaman hamil sudah 10 tahun yang lalu, ibu sudah lupa, ibu cemas dan khawatir, membutuhkan pendamping dan penjelasan agar psikologis tenang, umur ibu sudah bertambah tua ada kemungkinan timbul penyakit-penyakit pada tubuh ibu hamil atau timbul masalah karena kehamilannya, misalnya kaki bengkak, tekanan darah tinggi, jalan lahir ibu sudah bertambah kaku, seolah-olah seperti melahirkan pertama lagi. (Rochjati, 2007).
2.3.4 Ibu Hamil Dengan Masalah Grande Multi
Grande multi adalah ibu hamil yang telah pernah hamil dan melahirkan 4 kali atau lebih. Masalah pada Grande Multi yaitu kesehatan ibu hamil mudah terganggu kurang gizi, kurang darah atau anemi, tampak ibu dengan perut menggantung disebabkan otot-otot perut menjadi kendur, dalam persalinan ada bahaya terjadi perdarahan pasca persalinan, disebabkan oleh dinding rahim dengan otot rahimnya kendur. (Rochjati, 2007).
2.3.5 Ibu Hamil Dengan Masalah Tinggi Badan 145 cm atau Kurang
Ibu hamil dengan tinggi badan 145 cm atau kurang memerlukan perhatian khusus, ada dua kemungkinan yaitu panggul ibu dengan ukuran jalan lahir didapatkan sempit dan panggul ibu ukuran luas normal tetapi janinnya/kepalanya besar, disebut ada ketidak sesuaian antara ukuran luas panggul ibu, ukuran besar kapala bayi dapat terjadi dan ukuran panggul normal pada bayi besar, besar bayi normal pada panggul sempit (Rochjati, 2007).
2.3.6 Ibu Hamil Dengan Masalah Riwayat Obstetrik Jelek
Ibu hamil dengan riwayat obstetri jelek terjadi pada kehamilan ke dua atau lebih, kahamilan yang lalu dua kali atau lebih mengalami abortus yaitu bayi lahir prematur, berat lahir bayi kurang dari 2500 gram, bayi lahir hidup, lalu mati dengan umur 7 hari atau kurang, bayi lahir tidak ada tanda-tanda hidup, tidak bernapas/tidak menangis dan masalah riwayat obstetri jelek ada kemungkinan pada kehamilan ini terjadi kegagalan kehamilan lagi, sangat membutuhkan upaya kelangsungan kehamilan dan penyelamatan janin/bayi (Rochjati, 2007).
2.3.7 Ibu Hamil Dengan Masalah Seksio Sesaria
Ibu pernah hamil dan melahirkan dengan pertolongan operasi sesar, dapat timbul bahaya pada kehamilan bekas seksio sesar seperti terjadi robekan rahim, sangat berbahaya bagi ibu karena pada tepat robekan terjadi perdarahan banyak kemudian terjadi infeksi dalam rongga perut ibu serta ibu dapat meninggal. (Rochjati, 2007).
2.3.8 Ibu Hamil Dengan Masalah Anemia
Adanya anemia atau kurang darah perlu diduga ibu hamil dengan keluhan lemas badan, merasa cepat lelah, ibu tampak pucat pada muka, kelopak mata, lidah dan bibir, pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar Haemoglobin (HB) dalam darah kurang dari 10 gram % (Rochjati, 2007).
2.3.9 Ibu Hamil Dengan Masalah Malaria
Adalah ibu hamil dengan penyakit malaria dengan keluhan: panas tinggi, menggigil, sakit kepala, muntah-muntah. Pada pemeriksaan darah, ditemukan parasit malaria yang disebut plasmodium malaria. Pengaruh malaria terhadap kehamilan, yang disebabkan oleh suhu yang tinggi dapat terjadi abortus, kematian janin dalam kandungan, persalinan premature. (Rochjati, 2007).
2.3.10 Ibu Hamil Dengan Masalah Preeklamsia
Preeklamsi berat terjadi apabila preeklamsi ringan tidak dirawat dengan baik dengan gejala: Oedem meluas pada muka, dinding perut, tekanan darah meningkat sekali, disertai dengan keluhan: Sakit kepala, penglihatan kabur, nyeri ulu hati, perasaan mual dan mau muntah, bila memburuk disertai dengan kejang-kejang dan koma sering mengakibatkan kematian ibu dan bayi (Rochjati, 2007).
2.3.11 Ibu Dengan Masalah Hamil Kembar
Adalah ibu hamil dengan dua janin atau lebih dalam rahim ibu, masalah pada kehamilan kembar dapat terjadi keracunan kehamilan, hidramnion, ibu anemia. (Rochyati, 2007).
2.3.12 Ibu Hamil Dengan Masalah Hidramnion
Adalah kehamilan dengan banyaknya air ketuban lebih dari dua liter, perkembangan hidramnion biasanya terjadi dalam triwulan ketiga, bahaya yang terjadi pada kehamilan yaitu preeklamsi, cacat bawaan pada bayi, bayi kecil dan kelainan letak, letak sungsang atau letak lintang (Rochyati, 2007).
2.3.13 Ibu Hamil Dengan Masalah Janin Mati Dalam Kandungan
Adalah ibu hamil dengan keluhan tidak terasa gerakan janin, perut dirasa mengecil oleh karena rahim tidak membesar, payudara mengecil. Bahaya yang ditimbulkan janin mati dalam kandungan lebih dari empat minggu adalah timbulnya gangguan pembekuan darah ibu, disebabkan zat-zat berasal dari jaringan mati dari buah kehamilan yang masuk dalam peredaran darah ibu (Rochyati, 2007).
2.3.14 Ibu Hamil Dengan Masalah Hamil Serotinus (hamil lewat bulan)
Hamil lewat bulan adalah umur kehamilan 42 minggu atau lebih, masalah yang ditimbulkan dari hamil lewat bulan: Pada umur kehamilan 42 minggu atau lebih, uri sebagai organ atau alat penyalur makanan, zat asam dari ibu ke janin mengalami proses menjadi tua, akibatnya fungsinya menurun, timbul bahaya janin kekurangan zat asam dan akibatnya janin menjadi kurus, kulit mengkisut, lemak pada kulit sangat berkurang dan berat lahir bayi menurun kurang dari 2500 gram, janin dapat mati dalam rahim. (Rochyati, 2007).
2.3.15 Ibu Hamil Dengan Masalah Kelainan Letak
Dalam kehamilan letak normal kepala janin terletak dibagian bawah rahim, letak sungsang dan letak lintang biasanya pada kehamilan tua 8-9 bulan atau 36-38 minggu didalam rahim. (Rochyati,2007). Perbedaan letak pada beberapa hal penting bahwa bagian terendah tidak dijumpai dibagian bawah uterus, sehingga proses pembukaan yang berlangsung itu tidak akan tertutup oleh bagian janin keterbukaan proses melebarnya serviks dalam proses persalinan akan menyebabkan terjadinya keadaan patologis. (Manuaba, 2008).
2.3.16 Ibu Hamil Dengan Masalah Perdarahan Antepartum
Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi sebelum bayi lahir, perdarahan terjadi pada kehamilan triwulan terakhir setelah 28 minggu atau lebih, perdarahan dapat keluar sedikit-sedikit,sekaligus banyak sekali. Bahaya perdarahan yang dapat timbul sebelum bayi lahir, bila perdarahan banyak yaitu dapat membahayakan ibu menjadi kurang darah, shock dan ibu meninggal, dapat membahayakan janinnya yaitu bayi mati dalam kandungan. Tindakan operasi sesar terpaksa di lahirkan walaupun kehamilan belum cukup dalam upaya penyelamatan ibu dan bayi, bayi lebih premature. (Rochyati, 2007).
2.4 Pengertian Antenatal Care
Antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu selama masa kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan antenatal. (Syafrudin, 2009). Menurut Depkes RI (1994) adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil secara berkala untuk menjaga keselamatan ibu dan janinnya. Sedangkan menurut Winkjosastro (2005) antenatal care adalah pengawasan terhadap ibu hamil dengan mempersiapkan sebaik-baiknya fisik dan mental ibu dalam kehamilan, mengusahakan agar wanita hamil sampai akhir kehamilan sekurang-kurangnya harus sama sehatnya atau lebih sehat, penemuan dan pengobatan dini adanya kelainan fisik atau psikologik, melahirkan tanpa kesulitan dan bayi yang dilahirkan dalam keadaan sehat baik fisik maupun mental. Sasaran antenatal care adalah untuk menjamin bahwa setiap kehamilan yang diinginkan berpuncak pada kelahiran bayi sehat tanpa mengganggu kesehatan ibunya (Cunningham, 1995). Oleh karena itu, pelayanan atau asuhan antenatal merupakan cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal. (Saifudin, 2002). Ibu hamil sebaiknya dianjurkan memeriksakan diri sedini mungkin ketika terlambat menstruasi sekurang-kurangnya satu bulan, sehingga kelainan yang mungkin timbul pada kehamilan tersebutdapat diketahui dan dapat segera diatasi.
Peran asuhan antenatal dalam mempromosikan kelangsungan hidup ibu dan bayi baru lahir secara logis merupakan hal yang sangat rumit karena begitu banyak faktor dalam lingkungannya yang saling berinteraksi untuk mempengaruhi efektivitas dan mutu dari asuhan yang diberikan kepada ibu hamil. Agar bisa efektif dalam mempromosikan kelangsungan hidup ibu dan anak, maka asuhan antenatal harus berfokus pada semua intervensi-intervensi yang memang sudah jelas menguntungkan dalam hal mengurangi penyakit dan angka kematian ibu dan anak serta harus berfokus pada cara yang paling baik untuk menyediakan jasa asuhan ini. (WHO-JHPIEGO,2003 dalam Erika, 2006).
2.4.1 Tujuan Antenatal Care
Tujuan perawatan antenatal adalah mengusahakan agar:
1. Ibu sampai pada akhir kehamilan sama sehatnya atau lebih sehat dari pada sebelum hamil.
2. Setiap problema fisik atau psikologik yang timbul semasa kehamilan dapat dideteksi dan diobati.
3. Setiap komplikasi kehamilan dapat dicegah atau dideteksi secara dini dan diberi penatalaksanaan secara adekuat.
4. Ibu dapat melahirkan anak yang sehat.
5. Ibu mempunyai kesempatan membahas kecemasan dan ketakutannya tentang kehamilan.
6. Ibu diberitahu tentang setiap tindakan, alas an dilakukan tindakan tersebut dan hasil yang mungkin dicapai.
7. Pasangan dipersiapkan untuk kelahiran dan membesarkan anak, termasuk mendapatkan informasi mengenai diet, perawatan anak,keluarga berencana dan mempersiapkan ibu agar dapat memberikan ASI eksklusif pada masa nifas. (Jones, 2001).
Tujuan Khusus Antenatal Care, Meliputi:
1. Mengenali dan menangani penyulit-penyulit yang mungkin dijumpai dalam kehamilan.
2. Mengenali dan mengobati penyakit-penyakit yang mungkin diderita sedini mungkin.
3. Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan anak.
4. Memberikan nasehat-nasehat tentang cara hidup sehari-hari dan keluarga berencana,kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi. (Mochtar, 1998).
2.4.2 Pelaksana Pelayanan Antenatal Care
Sebagai pelaksana antenatal care terdiri dari:
1. Tenaga medis meliputi dokter umum dan dokter spesialis obstetric dan ginekologi.
2. Tenaga perawatan meliputi bidan. (Depkes RI, 1994).

2.4.3 Lokasi Pelayanan Antenatal Care
Tempat pelayanan antenatal care dapat bersifat statis dan aktif meliputi:
1. Puskesmas
2. Paskesmas pembantu
3. Pondok Bersalin
4. Posyandu
5. Rumah penduduk (pada kunjungan rumah kegiatan puskesmas).
6. Rumah Sakit Pemerintah atau Swasta
7. Rumah Sakit Bersalin
8. Tempat praktek swasta bidan atau dokter (Depkes RI, 1994).
2.5 Frekuensi Antenatal Care
WHO menganjurkan agar setiap wanita hamil mendapatkan pemeriksaan kehamilan paling sedikit 4 kali kunjungan selama periode antenatal, masing-masing 1 kali kunjungan selama trismester 1 (sebelum usia kehamilan 14 minggu), 1 kali kunjungan selama trismester II (usia kehamilan 14-28 mimggu) dan 2 kali selama trismester III (usia kehamilan antara 28-36 minggu dan sesudah usia kehamilan 36 minggu). (WHO-JHPIEGO,2003 dalam Erika, 2006). Menurut Bobak (2004) kunjunga antenatal regular secara ideal dimulai segera setelah ibu pertama kali terlambat menstruasi. Hal ini untuk memastikan kesehatan ibu hamil dan bayinya.
Pelayanan antenatal yang lengkap mencakup banyak hal, seperti anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan kebidanan, pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, serta intervensi dasar dan khusus (sesuai resiko yang ada). Penerapan operasionalnya dikenal standar,minimal “5T”. (Syafrudin, 2009).
Adapun standar minmal 5T yang dilakukan pada antenatal care meliputi:
1. Timbang berat badan dan tinggi badan
2. Ukur tekanan darah
3. Pemberian imunisasi tetanus toksoid secara lengkap
4. Pengukuran tinggi fundus uteri
5. Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
(Syafrudin, 2009).
Standar minimal pelayanan antenatal care 7T yang meliputi 5T ditambah dengan tes terhadap PMS, dan temu wicara dalam rangka persiapan rijukan. Setiap ibu hamil menghadapi resiko komplikasi yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu, setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya 4 kali kunjungan selama periode antenatal.
Pada setiap kali kunjungan antenatal tersebut, perlu didapatkan informasi yang sangat penting, yaitu:
1. Kunjungan trismester I dan II: Kunjungan setiap 1 bulan sekali, diambil data tentang laboratorium, pemeriksaan ultrasonografi, nasehat diet tentang empat sehat lima sempurna dan tambahan protein ½ gram/kgBB = 1telur/hari, observasi adanya penyakit yang dapat mempengaruhi kehamilan/ komplikasi kehamilan, rencana untuk pengobatan penyakitnya,dan menghindari terjadinya komplikasi kehamilan, imunisasi tetanus I.
2. Kunjungan trismester III: Kunjungan dua minggu sekali sampai ada tanda kelahiran, evaluasi data laboratorium untuk melihat hasil pengobatan, diet empat sehat lima sempurna, pemeriksaan ultrasonografi, imunisasi tetanus II, observasi adanya penyakit yang menyertai kahamilan dan komplikasi hamil trisemester III, rencana pengobatan, nasehat tentang tanda-tanda inpartu dan kemana harus dating untuk melahirkan. (Manuaba, 1998).
Dalam standar pelayanan kebidanan dijelaskan tentang standar pelayanan antenatal yang terdiri dari 6 standar sebagai berikut:
1. Standar 1: Identifikasi ibu hamil. Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan motivasi ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur.
2. Standar 2: Pemeriksaan dan pemantauan antenatal. Bidan memberikan sedikitnya 4 kali pelayanan antenatal, pemeriksaan meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal.
3. Standar 3: Palpasi abdominal. Bidan melakukan abdominal secara seksama dan melakukan palpasi untk memperkirakan usia kehamilan, mameriksa posisi, bagian terendah janin dan masuknya kepala janin dalam rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu.
4. Standar 4: Pengelolaan anemia pada kahamilan. Bidan melakukan pencegahan, penemuan, penanganan dan atau rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
5. Standar 5: pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan. Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan, mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya.
6. Standar 6: Persiapan persalinan. Bidan memberikan saran yang tepat pada ibu hamil, suami serta keluarganya pada trimester III, untuk memastikan bahwa persiapan persalinan yang bersih dan aman seta suasana yang menyenangkan akan direncanakan dengan baik, disamping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. Bidan hendaknya melakukan kunjungan rumah untuk hal ini. (Depkes RI, 2001)
2.6 Pemeriksaan Yang Dilakukan Pada Antenatal Care
2.6.1 Anamnesa. (Unpad, 1983 dalam Erika,2006)
Tujuannya adalah untuk identifikasi (mengenal) penderita dan menentukan status social ekonominya yang harus diketahui, tang terdiri dari:
A. Informasi Biodata
1. Nama, umur, pekerjaan
2. Nama suami, agama, alamat
B. Anamnesa obstetri. (Manuaba,1998)
1. Kehamilan yang keberapa
2. Apakah persalinan: Spontan, persalinan aterm, hidup atau dengan tindakan
3. Umur anak terkecil
4. Untuk primigravida, lama kawin
5. Tanggal haid terakhir
C. Keluhan utama (Unpad,1983 dalam Erika, 2006)
Apakah penderita datang untuk pemeriksaan kehamilan atau ada pengaduan-pengaduan lain yang penting.
D. Riwayat kesehatan, termasuk penyakit-penyakit yang pernah diderita dahulu dan sekarang, seperti: (WHO-JHPIEGO, 2003 dalam Erika, 2006)
1. Masalah kardiovaskuler
2. hipertensi
3. diabetes
4. malaria
5. PMS atau HIV/AIDS
6. lain-lain
7. imunisasi tetanus
2.6.2 pemeriksaan fisik.( Hamilton, 1995)
Tujuanya adalah untuk mendeteksi komplikasi-komplikasi kehamilan, yang terdiri dari:
1. Penampilan umum, termasuk postur tubuh, ststus nutrisi
2. Tinggi dan berat badan, bentuk tubuh
3. Mata, telinga, hidung, mulut dan gigi (lubang pada gigi membutuhkan penanganan segera)
4. Tekanan darah, jantung, dan paru-paru
5. Pemeriksaan payudara dan puting susu
6. Pemeriksaan abdomen dengan palpasi (merasakan) perbesaran uterus, denyut jantung janin (bila janin telah berusia 10 minggu atau lebih), dan temuan abdomen lainnya.
7. Pemeriksaan ekstremitas terhadap edema
8. Pemeriksaan vagina terhadap tanda kehamilan seperti tanda Chadwick.
9. Usap sevik terhadap pemeriksaan sitologi kanker (papinocolaou biasa dismbil dari servik dengan menggunakan aplikator, diletakkan pada preparat kaca, dengan segera dimasukkan kedalam alcohol 95%, dan dikirim untuk pemeriksaan mikroskopik).
10. Usap sekresi vagina untuk mengetahui gonorrhea.
11. Pemeriksaan manual organ-organ pelvic terhadap tanda-tanda kehamilan (tanda hegar atau lainya) dan keadaan abnormal.
12. Pengukuran pelvic (pelfimetri) untuk menetukan ukuran perkiraan outlet tulangn pelvic tempat janin lewat saat lahir.
13. Urinalisis-gula, aseton, dan albumin, biasanya dilakukan oleh perawat di ruangan atau klinik menggunakan tes yang sederhana dan cepat (asam sulfosalisilat di teteskan kedalam urin akan mengumpulkan albumin).
14. Pemeriksaan darah-hemoglobin dan hitung darah; pemeriksaan standar terhadap syphilis (kemungkinan kelainan janin dari syphilis maternal yang tidak diobati); penetuan golonngan darah, RH dan titer antibody rubella, yang menadakan apakah ibu sudah mendapatkan imunitas campak jerman; dan pemeriksaan terhadap AIDS.
2.6.3 Penyuluhan Bagi Ibu Hamil
A. perawatan diri selama kehamilan
Perwatan diri saat kehamilan sangat penting diketahui ibu, agar dapat menjaga kesehatan diri dan janinnya dengan baik.
a. Diet bagi ibu hamil
1. Pada dasarnya di anjurkan makanan empat sehat lima sempurna Karena kebutuhan akan protein dan bahan makanan tinggi, di anjurkan tambahan sebuah telur sehari. Nilai gizi dapt ditentukan dengan bertambahnya berat badan sekitar 6,5 sampai 15 kg selam hamil. Berat badan yang bertambah terlalu besar atau kurang perlu mendapat perhatian khusus karena kemungkinan terjadi penyulit kehamilan. Kenaikan berat badan tidak boleh lebih dari 0,5 kg / minggu. (Manuaba 1998).
2. Makan makanan yang bergizi tinggi kalori dan tinggi protein.seorang wanita hamil harus mendaptkan makanan dibawah ini setiap hari:
- Ikan atau daging 120 gram dan sebutir telur
- Susu 500 ml atau keju 30 gram
- Sebuah jeruk, sebuah apel atau buah-buahan lainnya
- Sayur-sayuran hijau paling tidak 3 kali seminggu (Jones, 2001)
3. Minum lebih banyak dari biasa (± 10 gelas / hari)
b. Perawatan Payudara
1. Manfaat perawatan payudara sejak kehamilan 7 bulan Perawatan payudara sebelum lahir bertujuan untuk memelihara hygiene payudara melenturkan/menguatkan puting susu, dan mengluarkan puting susu yang datar atau masuk ke dalam (rettrakted nipple). Perawatan payudara setelah melahirkan bertujuan memelihara hygiene payudara, memper banyak/memeprelancar produksi ASI, dan merangsang sel-sel payudara.
2. Cara Perawatan payudara
Teknik perawatan payudara sebelum lahir adalah sebagai berikut:
- Kompres puting susu dan area sekitarnya dengan menempelkan kapas/lap yang dibasahi minyak.
- Bersihkan puting susu dan area sekitarnya dengan handuk kering yang bersih.
- Pegang kedua puting susu lalu tarik keluar bersama dan diputar kedalam 20 kali, keluar 20 kali.
- Pangkal payudara dipegang kedua tangan lalu payudara di urut dari pangkal menunju puting susu sebnyak 30 kali.
- Kemudian pijat daerah areola sehingga keluar cairan 1-2 tetes untuk memastikan saluran susu tidak tersumbat.
- Memakai BH yang menopang payudara.
Teknik perawatan payudara setelah melahirkan adalah sebagai berikut:
- Licinkan kedua telapak tangan dengan minyak
- Tempatkan kedua telapak tangan diantara kedua payudara.
- Dengan menggunakan telapak tangan, payudara diurut dari bagian tengah ke atas melingkar ke kiri/kanan menuju ke bawah kiri/kanan.
- Selanjutnya dari arah bawah/samping menuju ke tengah (melintang). Pada saat ini posisi telapak tangan di urut kan ke arah depan dan payudara di angkat, kemudia dilepas perlahan-lahan.
Sedangkakn cara untuk merangsang sel-sel ASI adalah sebagai berikut:
- Menekan puncak payudara dengan jari-jari merapat dengan gerakan melingkar pada satu tempat.
- Pengusapan dengan ujung-ujung jari dari pangkal payudara kearah puting susu.
- Menggoncangkan payudara dengan sedikit membungkuk ke depan. (Manuaba, 1998).
c. Kebersihan diri
Selama hamil ibu perlu lebih menjaga kebersihan diri, Karena dengan adanya perubahan hormonal maka rongga mulut dan jalan lahir lebih peka terhadap infeksi. Ibu perlu mandi dan sikat gigi secara teratur minimal 2 kali sehari. (Depkes RI,1994)
d. Istirahat cukup dan mengurangi kerja fisik berat
Wanita hamil boleh melakukan pekerjaanya sehari-hari di rumah, di kantor maupun di pabrik asal bersifat ringan yang tidak menimbulkan kelelahan. Kelelahan harus di cegah dengan cara pekerjaan harus diselingi dengna istirahat (Unpad, 1983 dalam Erika, 2006)
e. Senam hamil (Depkes RI, 1994)
Seman hamil yang baik sangat bergun dalam mennghadapi persalinan. Manfaat senam hamil antara lain adalah :
- Melatih pernafasan
- Melatih otot panggul dan vagina agar lentur atau tidak kaku.
- Melancarkan peredaran darah, yang pada kehamilan relative lambat.
- Melatih mengejan/meneran.
B. Tanda-tanda bahaya dalam kehamilan (Depkes RI, 1994)
Tanda bahaya dalam kehamilan perlu diketahui oleh ibu, agar tetap waspada terhadap ancaman kesehatn diri maupun janinnya. Dengna pengetahuan ini dan motifasi yang kuat, jika terjadi ancaman ksehatan akan segera memeriksakan kehamilanya walaupun jadwal pemeriksaan kehamilan berikutnya belum tiba saatnya. Tanda-tanda tersebut antara lain:
a. Perdarahan melalui jalan lahir, baik sedikit maupun banyak.
b. Bengkak mula-mula pada kaki yang tidak hilang setelah istirahat, diserstai nyeri kepala, mual, nyeri ulu hati. Terlebih bila tanda tersebut disertai penglihatan kabur dan kejang-kejang
c. Keluar cairan ketuban dari jalan lahir sebelum kehamilan cukup umur
d. janin tidak bergerak atau pergerakanya jarang dalam sehari semalam
e. berat badan turun atau tidak bertambah
C. Perkembangan kehamilan
Ibu perlu mengetahui perkembangan kehamilan/janin pada tiap tahapan kehamilannya, agar dapat memahami apa yang harus, boleh dan tidak boleh dilakukan. Pengetahuan ini akan memotifasi ibu untuk melakukan setiap anjuran dari pelaksana pemeriksaan kehamilan (Depkes RI,1994).
2.6.4 Palpasi, yang terdiri dari :
1. leopold I, untuk menetukan tinggi fundus uteri
2. leopold II, dapat menetukan bats samping uterus dan dapt pula di tentukan letak punggunng janin yang membujur dari atas ke bawah menghubungkan bokong dengan kepala.
3. leopold III, dapat menetukan bagian apa yang terletak di sebelah bawah.
4. leopold IV, menetukan bagian jannina mana yang terletak disebelah bawah dan dapat menetukan beberapa bagia dari kepala telah masuk kedalam pintu atas panggul. (wiknjosastro, 2005)
2.6.5 Auskultasi, dengan menggunakan stetoskop, untuk mengetahui bunyi dan frekuensi jantung janin. (Wiknjosastro, 2005)
2.7 Prenatal Care
Prenatal care adalah perawatan untuk memberikan kesehatan maksimal bagi calon ibu dan bayinya Hamilton (1995). Sedangkan menurut Manuaba (2001) prenatal care adalah pengawasan janin dalam rahim yang dapat ditentukan dengan pemeriksaan khusus untuk mengurangi kejadian abortus, prematuritas dan gangguan neonatus serta evaluasi kala I dan II sehingga tercapai well born baby dan well health mother. Dalam prakteknya, antara antenatal care dengan prenatal care tidak dibedakan.


2.7.1 Tujuan perawatan prenatal:
Tujuan perawatan prenatal adalah untuk memberikan kesehatan maksimal bagi calon ibu dan bayinya. Hal ini dipenuhi oleh tindakan sebagai berikut:
1. Menetukan bahwa wanita tersebut benar-benar hamil
2. Evaluasi dan tangani keadaan medis lain yang mungkian ada
3. Diagnosa dan obati penyulit kehamilan yang terjadi
4. Member dukungan akan kebutuhan psikologis pada wanita untuk menurunkan stress yang berhubungan dengan penyulit
5. Menjelaskan diit nutrisi
6. Menyiapkan wanita untuk persalinan dan perawatan anak dengan pendidikan dan bantuan.
7. Memberikan penjelasan dan memberikan perawatan postpartum dan supervisi medis bagi neonatus. (Hamilton, 1995).
2.8 Tinjauan Variabel
2.8.1 Pengetahuan
Menurut Benyamin Bloom (dalam Puspitasari, 2010), pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Aspek pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang akan dapat mempengaruhi pola pikir dan sikap terhadap sesuatu hal yang akhirnya akan mempengruhi terjadnya perubahan perilaku (Notoadmodjo (2003) dalam Erika, (2006)).
Penelitian Roger (1974) (dalam Puspitasari,2010) Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.
Tingkat pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan, yaitu:
a. Tahu (know), diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipengaruhi sebelumnya, termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall).
b. Memahami, diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi, diartikan sebagai untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situsi atau kondisi yang riil.
d. Analisis, suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kadalam komponen.
e. Sintesis, menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu keseluruhan baru.
f. Evaluasi, berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
(Notoadmodjo (2002), dalam Puspitasari, 2010)
2.8.2 Kepatuhan
Kepatuhan adalah ketaatan ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan kehamilan dari pertama kali ada tanda-tanda kehamilan sampai umur kehamilan 36 minggu. (Erika,2006)
Menurut Soeprapto (2000) (dalam Erika, (2006) Kepatuhan dapat dipengaruhi oleh banyak factor seperti budaya, social ekonomi, pendidikan, agama, dan konsep social dilingkungan masyarakat setempat.
Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan Hermawati (2004) (dalam Erika, (2006)) bahwa ibu hamil yang memiliki pengetahuan tinggi mempunyai kecendrungan untuk memiliki kepatuhan yang tinggi dalam melakukan Antenatal Care, demikian pula sebaliknya.




2.9 Kerangka Teoritis
















BAB III
KERANGKA KONSEP

3.1 KERANGKA KONSEP
Kerangka konsep pada dasrnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau di ukur melalui penelitian yang akan dilakukan. Variable adalah ssesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki oleh satuan penelitian tetang konsep penelitaian. Variable ini menjadi 2 yaitu: variable independen dan dependen (Notoadmodjo, 2005)
Dari hasil tinjauan teoritis dan telaah kepustakaan maka disimpulkan kerangka konsep hubungan pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi kehamilan dengan kepatuhan kunjungan antenatal care di RSUD kota langsa tahun 2011, sebagai berikut:
Variable Independen Variable Dependen






3.2 Variabel Penelitian
Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian ( Arikunto, 2002). Dalam penelitian ini terdapat 2 variabel yaitu satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Variabel bebas (Independen Variable) yaitu variable yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variable independen (Variabe Terikat) sedang variable terikat (Dependen Variable) yaitu variable yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. (Sugiyono, 2007).
Adapun variable-variable dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variable bebas: pengetahuan
2. Variable terikat: kepatuahan kunjungan ANC
3.3 Definisi Operasional
NO Variable Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur
Variable Dependen (Terikat)
1. Kepatuhan kunjungan ANC Ketaatan ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan dalam kehamilan, dari awal kehamilan sampai umur kehamilan 36 minggu Mengedarkan kuesioner Kuesioner Tinggi
Sedang
Rendah Ordinal
Variabel Independen (Bebas)
1. Pengetahuan
Ibu hamil
Resiko tinggi Pemahaman ibu hamil tentang resiko tinggi kehamilan Kuesioner Kuesioner Baik
Sedang
Kurang Ordinal

3.4 Pengukuran Variable
3.4.1 Pengetahuan (Nursalam, (2003) dalam Puspitasari, (2010))
Kriteria penilaian dan pengkategorian variabel pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi kehamilan dibuat sebanyak 10 pertanyaan dengan bobot nilai tertinggi yaitu 2 dan terendah 0. Jadi total skor pertanyaan mengenai pengetahuan tertinggi adalah 20 dan terendah 0, maka:
1. Pengetahuan baik : Jika responden menjawab pertanyaan 76%-100% dengan total skor 16-20.
2. Pengetahuan sedang : Jika responden bisa menjawab pertanyaan 56%-75% dengan total skor 10-14.
3. Pengetahuan kurang : Jika responden bisa menjawab pertanyaan <56% dengan total skor <10. 3.4.2 Kepatuhan (Arikunto, (1990) dalam Erika, (2006)) Kriteria penilaian dan pengkategorian variabel kepatuhan ibu hamil melaksanakan ANC dibuat sebanyak 9 pertanyaan dengan bobot nilai 0 untuk jawaban tidak tahu, nilai 1 untuk jawaban tidak, dan nilai 2 untuk jawaban ya atau kepatuhan rendah dinilai 0, sedang dinilai 1, dan tinggi dinilai 2. Jadi total skor pertanyaan kepatuhan tertinggi adalah 18 dan terendah 0, maka: 1. Kepatuhan tinggi : Jika responden bisa menjawab pertanyaan 76%-100% dengan total skor 13-18. 2. Kepatuhan sedang : Jika responden bisa menjawab pertanyaan 56%-75% dengan total skor 7-12. 3. Keptuhan rendah : Jika responden bisa menjawab pertanyaan <56% dengan total skor 0-6. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan cross sectional yaitu setiap subjek penelitian hanya di observasi sekali saja dan pengukuran terhadap variabel dilakukan pada saat yang sama (Notoadmodjo, 2005). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi kehamilan terhadap kepatuhan kunjungan antental care di RSUD Langsa Tahun 2011. 4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilakukan di RSUD Kota Langsa pada bulan mei tahun 2011. 4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua ibu hamil yang melakukan Antenatal Care di RSUD Kota Langsa baik dengan kehamilan berisiko tinggi maupun tidak berisiko sebanyak 245 orang. 4.3.2 Sampel Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah sebanyak 20% dari jumlah populasi dan didapatkan jumlah 49 orang responden. Menurut Nursalam jika besar populasi ≤ 1000 maka sampel bisa diambil 20-30%. (Nursalam, 2008). Adapun teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah accidental sampling, yaitu dengan mengambil seluruh ibu hamil trismester ketiga yang melakukan Antenatal Care di RSUD Kota Langsa 4.4 pengumpulan Data 4.4.1 Data primer Yaitu data yang diperoleh dipoli kebidanan RSUD kota Langsa melalui penyebaran angket terstruktur dengan menggunakan kuesioner. 4.4.2 Data sekunder Data sekunder diperoleh dari catatan medis ibu bersalin di ruang bersalin RSUD Kota Langsa dan Dinas Kesehatan Kota Langsa. 4.5 Teknik Pengolahan Data Teknik pengolahan data yang akan peneliti lakukan adalah dengan cara : 4.5.1 Editing yaitu semua kuesioner yang telah dijawab oleh responden diperiksa dengan teliti, jika terdapat kekeliruan segera di perbaiki sehingga tidak mengganggu pengolahan data. 4.5.2 Coding yaitu memberikan kode jawaban dengan kode tertentu agar lebih mudah dan sederhana. 4.5.3 Transfering yaitu memindahkan jawaban atau kode jawaban kedalam media tertentu. 4.5.4 Tabulating yaitu data yang telah diolah kemudian disusun dalam bentuk presentase selanjutnya disajikan dalam bentuk table. 4.6 Analisa Data Analisis data dilakukan secara univariat yang digunakan untuk mencari nilai distribusi frekuensi dan proporsi dari variabel-variabel yang ada pada peneliatian ini. Untuk menentukan persentase perolehan (P) untuk tiap-tiap katagori dengan menggunakan rumus yang telah ditemukan Sudjana (2002) sebagai berikut: P = x 100 % Keterangan : P = Angka persentase F = Frekuensi yang dicari persentasenya N = Jumlah seluruh responden 4.7 Penyajian Data Data yang telah dikumpulkan diolah secara manual dan disajikan dalam bentuk table distribusi frekuensi, narasi dan table silang. KUESIONER PENELITIAN Pengetahuan ibu hamil tentang kehamilan resiko tinggi No Responden : II. Jawablah pertanyaan berikut ini dengan benar, beri tanda silang (x) pada jawaban yang di anggap benar 1. Apakah yang dimaksud dengan kehamilan resiko tinggi ? a. Kehamilan yang memiliki peluang untuk melahirkan secara baik b. Kehamilan yang memiliki keadaan tertentu sehingga menyebabkan meningkatnya resiko selama kehamilan c. Kehamilan yang memiliki kesempatan pada ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan pada dukun. 2. Apa saja faktor penyebab kehamilan resiko tinggi ? a. Ibu hamil kurang dari 20 tahun, anak lebih dari 4, dan tinggi badan< 145 cm b. Ibu hamil usia 20 tahun,tinggi badan 150 cm, dan BB< 33kg c. Ibu hamil usia>35 tahun, anak 3 orang, dan tinggi badan<145kg
3. Apa masalah yang dihadapi oleh ibu hamil usia kurang dari 20 tahun ?
a. Rahim ibu masih belum masak
b. Mental ibu sudah dewasa
c. Adanya kemungkinan terjadi kecemasan
4. Apa maslah yang dihadapi oleh ibu hamil usia lebih dari 35 tahun dengan kehamilan yang pertama ?
a. Pada persalinan dapat terjadi komplikasi: persalinan macet, perdarahan setelah melahirkan.
b. Ada kemungkinan lebih besar ibu hamil mendapat bayi yang sehat
c. Alat reproduksi lebih matang
5. Apa masalah yang akan dihadapi oleh ibu hamil dengan tinggi kurang dari 145 cm ?
a. Resiko panggul sempit
b. Resiko hamil gantung
c. Resiko bengkak pada kaki yang menyulitkan ibu beraktifitas
6. Apa kepanjangan dari istialah 4T dalam mencegah peningkatan angka kematian ibu ?
a. Mecegah terlambat periksa, terlambat mengetahui tanda bahaya, terlambat mendapat pertolongan, dan terlambat mengambil keputusan
b. Mencegah terlambat mengenal tanda bahaya resiko tinggi, terlambat mengambil keputusan dalam keluarga, terlambat memeperoleh transportasi dalam rujukan dan terlambat memperoleh penanganan gawat darurat secara memadai.
c. Ibu hamil terlalu tua, terlalu muda, terlalu sering, dan terlalu banyak
7. Menurut ibu apa yang harus anda lakukan bila anda merupakan salah satu dari ibu hamil yang beresiko tinggi ?
a. Melalukan perawatan yang rutin pada tenaga kesehatan
b. Melakukan pengobatan pada dukun agar kehamilan ibu dapat dipastikan dalam keadaan lebih baik
c. Mempercayai semua proses kehamilan pada orang tua
8. Menurut ibu, ibu hamil dengan masalah bekas operasi tergolong pada ibu hamil resiko ?
a. Resiko tinggi
b. Resiko rendah
c. Resiko sedang
9. Penyakit kehamilan apa sajakah yang tergolong dalam ibu hamil resiko tinggi?
a. Darah tinggi, dan mual muntah saat hamil
b. Gamely, dan pos date ( hamil lewat bulan)
c. Letak sungsang, dan letak lintang
10. Untuk mengurangi komplikasi kehamilan pada ibu resiko tinggi maka ibu harus mendapat 5T saat melakkukan pemeriksaan kehamilan. Sebutkan kepanjangan dari 5T.
a. Tablet Fe, imunisasi TT, timbanng BB, ukur tekanan darah, ukur TFU
b. Tablet Fe, tablet B12, imunisasi TT, ukur tekana darah, ukur TFU,
c. Tablet Fe, timbang BB, tekanan darah, ukur TFU



KUESIONER KEPATUHAN
III. Pilihlah jawaban yang sesuai menurut ibu dan beri tanda centang ( √ ) pada kolom yang tersedia.
Pertanyaan Ya Tidak Tidak tahu Ket
1. Pada umur kehamilan satu bulan (4 minggu), saya memeriksa kehamilan saya 1 kali kepetugas kesehatan.
2. Pada umur kehamilan 2 bulan (8 minggu), saya memeriksakan kehamilan saya 1 kali kepetugas kesehatan.
3. Pada umur kehamilan 3 bulan (12 minggu), saya memeriksakan kehamilan saya 1 kali kepetugas kesehatan.
4. Pada kehamilan 4 bulan (16 minggu), saya memeriksakan kehamilan saya 1 kali ke petugas kesehatan.
5. Pada kehamilan 4 bulan (20 Minggu) saya memeriksakan kehamilan saya 1 kali ke petugas kesehatan.
6. Pada umur kehamilan 6 bulan (24 minggu), saya memeriksakan kehamilan saya 1 kali ke petugas kesehatan.
7. Pada umur kehamilan 7 bulan (28 minggu), saya memeriksakan kehamilan saya 2 kali ke petugas kesehatan.
8. Pada umur kehamilan 8 bulan (32 minggu), saya memeriksakan kehamilan saya 2 kali ke petugas kesehatan.
9. Pada umur kehamilan 9 bulan (36 minggu), saya memeriksakan kehamilan saya 2 kali ke petugas kesehatan.

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>