Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Minggu, 15 Mei 2011

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PUISI DENGAN MODEL PAIKEM BAGI SISWA KELAS VI SD NEGERI SUNGAI LUENG LANGSA TIMUR

/ On : 09.25/ Thank you for visiting my small blog here.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PUISI
DENGAN MODEL PAIKEM BAGI SISWA KELAS VI
SD NEGERI SUNGAI LUENG
LANGSA TIMUR



PENELITIAN TINDAKAN KELAS



DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU SYARAT
KENAIKAN PANGKAT/GOLONGAN MELALUI ANGKA KREDIT


O
L
E
H


NURHAYATI, S.Pd
NIP. 19660505 198812 2 001













PEMERINTAH KOTA LANGSA
DINAS PENDIDIKAN
SD NEGERI SUNGAI LUENG
LANGSA TIMUR
2011

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN i
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL v
DAFTAR LAMPIRAN vi
ABSTRAK vii

BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 1
C. Rumusan Masalah 2
D. Tujuan Penelitian 2
E. Manfaat Penelitian 2

BAB II Kajian Teori dan Hipotesis
A. Kajian Teori 3
1. Pengertian Puisi 3
2. Jenis-jenis Puisi 6
3. Manfaat Puisi 7
4. Hakikat puisi 8
5. Pengajaran Puisi di Kelas VII SD 9
6. Metode Pengajaran Puisi 13
7. Membaca Puisi 14
8. Tujuan membaca puisi 16
9. Tehnik membaca puisi dengan pembelajaran
Paikem 17
10. Penilaian membaca puisi 19
B. Penelitian Yang Relevan 21
C. Kerangka Berfikir 21
D. Hipotesis Tindakan 22

BAB III METODELOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian 23
B. Subjek penelitian 23
C. Sumber data 23
D. Tehnik dan alat pengumpulan data 24
E. Analisis data 24
F. Prosedur penelitian 24

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kemampuan Siswa 28
B. Deskripsi Hasil Siklus I 29
C. Deskripsi Hasil Siklus II 31
D. Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus 33

BAB V Penutup
A. Kesimpulan 36
B. Saran 37

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



















BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Rendahnya kemampuan belajar siswa pada pembelajaran bahasa Indonesia tentang membaca puisi telah lama menjadi bahan pikiran yang mengganggu para guru Sekolah Dasar. Siswa menampakan sikap kurang bersemangat dan kurang siap membaca puisi kedepan kelas.
Apa menjadi permasalahan? Siswa tidak berani tampil dan membaca puisi dengan intonasi ekspresi gerak mimik dan penghayatan yang wajar. Keadaan belajar siswa seperti ini sangat dipengaruhi oleh minat baca dan ketrampilan menulis yang dilakukan siswa. Disamping itu kurangnya penerapan metode dan pendekatan pembelajaran aktif dan efektif, yang sering disebut dengan pendekatan PAIKEM.
Puisi merupakan salah satu karya sastra yang diberikan mulai dari tingkat SD kelas III sampai dengan kelas VI. Yang merupakan salah satu alat pendidikan yang cukup ampuh dalam mendewasakan manusia. Sebab karya sastra mengandung berbagai nilai kehidupan.
Nilai-nilai kehidupan tersebut meliputi nilai-nilai sosial atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat seperti akhlak atau sopan santun dan adat istiadat dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu, karya sastra (puisi) perlu diperkenalkan dan diajarkan kepada anak sejak dini.

B. Identifikasi Masalah
Pada bagian ini yang menjadi masalah adalah rendahnya kemampuan siswa membaca puisi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam hal ini yang menjadi tantangan perubahan mode pembelajaran dengan sistim lama kepada system pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dengan metode pembelajaran yang bervariasi dan melakukan pendekatan-pendekatan baru seperti PAIKEM pada tingkat Sekolah Dasar.

C. Rumusan Masalah
Masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. Bagaimanakah kemampuan siswa kelas VI SD Negeri Sungai Lueng membaca puisi ?

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang kemampuan siswa kelas VI SD Negeri Sungai Lueng membaca puisi dan langkah-langkah yang ditempuh guna untuk meningkatkan kemampuan siswa.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat.
(a) Sebagai bahan masukan bagi guru kelas untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia (puisi) guna memperbaiki metode dan pendekatan pembelajaran.
(b) Sebagai bahan masukan bagi lembaga terkait.
(c) Untuk meningkatkan mutu pembelajaran Bahasa Indonesia membaca puisi.
(d) Sebagai bahan masukan bagi peneliti lain yang ingin meneliti tentang membaca puisi.


BAB II
KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori
1. Pengertian Puisi
Puisi dapat dikatakan karya sastra yang paling tua di dunia, jika dibandingkan dengan karya sastra dalam bentuk lainnya, seperti prosa dan drama. Hal tersebut sesuai dengan perkembangan zaman atau tingkat perkembangan zaman atau tingkat perkembangan jiwa manusia terutama dalam menyampaikan pikiran dan perasaan yang ditujukan kepada orang lain yaitu pendengar. Penyampaian pikiran dan perasaan dituliskan dalam bentuk puisi, misalnya nyanyian-nyanyian, cerita atau nasihat, kisah-kisah serta pemujaan-pemujaan.
Puisi yang mengandung sifat-sifat tersebut di atas dinyanyikan, dilagukan atau dibacakan pada acara-acara tertentu seperti pesta desa, pemujaan, atau mantra, acara keagamaan dan adat istiadat atau kegiatan sosial budaya. Perlu diketahui bahwa puisi diciptakan dalam suasana perasaan dan pengucapan jiwa yang spontan dan padat. Puisi berbicara tentang jiwanya sendiri yakni mengungkapkan dirinya sendiri.
Dewasa ini puisi dapat diklasifikasikan dalam dua zaman yaitu puisi lama dan puisi baru (modern). Pada bagian ini disebutkan bahwa dalam pengertian puisi itu terdapat ide, bentuk, emosi dan kesan yang dalam. Puisi mengekspresikan perasaan dan merangsang imajinasi melalui bahasa dalam suasana tertentu. Dalam hal ini Zulfahnur, dkk (1996:79-80) menyebutkan sebagai berikut :
Puisi merupakan ekspresi pengalaman batin (jiwa) penyair mengenai kehidupan manusia, alam dan Tuhan melalui media bahasa yang estetik yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya, dalam bentuk teks yang dinamakan puisi.
Kutipan diatas merupakan penjelasn bahwa melalui puisi penyair dapat mengekspresikan pengalaman batinnya mengenai kehidupan manusia. Penyair juga mengekspresikan pengalaman bahwa (jiwa) tentang alam dan Tuhan. Puisi mempunyai ciri yang unik yaitu bahasa yang padu, utuh, dan kepadatan penggunaan kata, jadi puisi merupakan bahasa yang terikat.
Pada klasifikasi kedua adalah puisi baru (modern). Puisi baru tidak mengandung keterikatan bentuk, rima, jumlah baris pada setiap bait, dan jumlah kata pada setiap larik. Kriteria tersebut inilah yang membedakan antara puisi lama dan puisi baru.
Berbicara mengenai pengertian puisi dewasa ini banyak pengamat karya sastra memberikan pengertian puisi menurut sudut pandangnya, Zulfahnur, dkk. (1996:3), yang mengutip dari Coleridge, mendefenisikan puisi sebagai berikut :
…………..puisi sebagai karangan yang terindah dari yang terindah. Penyair memilih kata-kata setepat-tepatnya, disusun dengan sebaik-baiknya, seimbang, senada, seirama, antar unsur saling menyatu, mengikat hingga menjadi suatu karangan yang utuh.
Pengertian di atas menunjukkan bahwa puisi adalah sebuah karangan yang ditulis dengan bahasa yang indah dari yang terindah.
Sunardjo dan Saini, (1986:121-122) mengutip dari empat pengertian puisi yaitu :
Pertama, arti lugas, ini berhubungan dengan kegiatan pikiran penyair ketika kesadarannya bersinggung dengan suatu pokok (berupa pendapat penyair tentang pokok pembicaraannya).
Kedua, artinya puisi berhubungan dengan perasaan penyair. Dalam menghadapi pokok pembicaraan penyair tidak hanya berfikir melainkan juga merasa.
Ketiga, arti puisi berhubungan dengan nada. Nada bicara seorang penyair ditentukan oleh dua faktor utama yaitu pokok pembicaraan dan orang yang diajaknya berbicara.
Keempat, arti puisi berhubungan dengan itikat, artinya penyair menyisipkan keinginannya agar sesuatu terjadi sebagai dampak sajaknya, baik pada diri pembaca atau bahkan pada masyarakat yang menjadi sasaran sajaknya itu.

Dengan memperhatikan keempat pengertian puisi tersebut di atas, penulis dapat mengambil pengertian puisi berhubungan dengan kegiatan pikiran, perasaan, yang diungkapkan penyair melalui pokok pembicaraan dengan nada tertentu dan memiliki itikad tertentu pula.
Bertolak dari pengertian-pengertian puisi tersebut di atas penulis dapat menarik pengertian bahwa puisi adalah karya sastra sebagai karangan yang dibangun dengan bahasa yang indah dan mengikat serta penuh keserasian yang melukiskan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan alam dan ketuhanannya. Dengan demikian puisi berarti karya sastra yang telah hadir dalam peradaban manusia dalam menyatakan keadaan atau suasana kehidupan dalam berbagai situasi baik situasi kegembiraan, kegetiran, atau pertentangan dan segala macam kondisi yang dialami oleh suatu masyarakat tertentu seperti halnya kondisi daerah Aceh yang lalu dengan penuh tindakan kekerasan yang mengakibatkan pelanggaran hak-hak azasi dan martabat manusia. Dalam suasana seperti ini muncullah suara-suara penyair menyampaikan aspirasinya dalam membela kebenaran melalui ungkapan karya puisi seperti terhimpun dalam karya puisi “Keranda-keranda”, diterbitkan Dewan Kesenian Banda Aceh bekerjasama dengan ELSAM dan NGO HAM Aceh, 1999.
Dari paparan defenisi puisi berdasarkan rumusan para ahli, kiranya perlu suatu klasifikasi tentang jenis-jenis puisi.

2. Jenis-jenis Puisi
Jenis puisi atau disebut juga genre puisi ada beberapa macam. Wildan, (1997:72) menyebutkan genre puisi sebagai berikut :
(a) Genre lirik (puisi lirik)
(b) Genre naratif (puisi naratif)
(c) Genre diafan (puisi diafan)
(d) Genre prismatif (puisi prismatif)

a. Puisi Lirik
Puisi lirik diartikan seabgai puisi nyanyian yang dilengkapi dengan alat musik. Isi nyanyian berupa pemujaan terhadap dewa, pahlawan atau perasaan seseorang terhadap sesuatu hal. Pemujaan terhadap Tuhan dilakukan dengan suara yang merdu dan murni.
b. Puisi naratif
Puisi naratif ialah puisi yang meliputi tiga konsep yaitu cerita, teks dan narasi. Cerita atau peristiwa tentang sesuatu akan terujud dalam suatu teks atau tulisan. Narasi merupakan suatu proses penceritaan yang telah diungkapkan dalam teks secara kronologis, dengan penuh partisipasi yang menghubungkan peristiwa dengan peristiwa penceritanya.
c. Puisi diafan
Puisi diafan ialah puisi yang didominasi oleh diksi yang denotative. Bahasa yang digunakan adalah bahasa keseharian dan mencerminkan nada atau nuansa realistis (Waluyo, 1987:140). Biasanya puisi seperti ini kurang menggunakan pengimajinasian akan tetapi lebih bersifat prosa. Puisi diafan mudah dipahami atau mudah dimengerti.
d. Puisi prismatif
Puisi prismatif merupakan puisi gelap. Diaktakan demikian karena susah dipahami. Puisi dapat mengandung arti atau makna yang berbeda atau boleh dikatakan dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda. Puisi ini menggunakan bahasa yang bersifat banyak penafsiran.
Pengkajian sepintas kilas secara garis besar tentang jenis-jenis puisi itu memberikan arahan bagi kita bahwa karya sastra puisi dapat dibedakan menurut maksud dan tujuan. Artinya seorang penyair akan menulis puisi sesuai dengan maksud tertentu. Pada umumnya maksud penulisan dari pembacaan puisi dari zaman ke zaman meliputi masalah pemujaan, penyampaian perasaan, hiburan, kegetiran, dan keharuan.

3. Manfaat Puisi
Sebagai karya sastra puisi mempunyai berbagai manfaat. Kebermanfaat puisi telah berlangsung sejak lahirnya, manfaat tersebut telah dirasakan manusia jauh sebelumnya. Karena itu dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai berikut :
(1) Puisi dapat menjadi arahan dalam membentuk kepribadian
(2) Dapat mengembangkan cognitive peserta didik
(3) Dapat melatih diri berimajinasi
(4) Dapat menggambarkan kehidupan manusia dan lingkungan tertentu.
(5) Dapat membangkitkan semangat heroik
(6) Menceritakan suara alam dan lingkungan manusia.
(7) Dapat membandingkan dan mengapresiasikan karya sastra.
(8) Berdasarkan pandangan penyair
(9) Puisi memberikan motivasi bagi pembaca puisi bahwa dirinya telah melahirkan suatu ungkapan dengan bahasa yang indah, bebas dan misteri.
(10) Melalui puisi penyair dapat menyampaikan protes sosial bagi lingkungan masyarakat tertentu.

Demikian beberapa manfaat puisi yang dapat dikemukakan pada bagian ini. Manfaat yang bersifat sosial misalnya penyampaian protes terhadap sesuatu yang dianggap belum mempunyai kebenaran atau kesesuaian dengan suasana kehidupan yang diharapkan yang penuh keharmonisan. Selain penyampaian protes juga menyangkut suatu keadaan yang riil dan berguna bagi kehidupan manusia serta didukung oleh sifat social budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat.

4. Hakikat Puisi
Pada pembahasan terdahulu telah dikemukakan bahwa puisi merupakan salah satu karya sastra imajinatif. Puisi berbeda dengan karya sastra lainnya seperti prosa maupun drama. Untuk memperoleh pemahaman tentang hakikat puisi penulis mengutip beberapa pendapat tentang makna suatu puisi berdasarkan sudut pandang sebagai berikut :
……………….puisi adalah cetusan sukma sesuatu yang keluar dari sukma, dari jiwa dari hati nurani ciptaan Tuhan ini. Semuanya yang terbentang adalah puisi, karena mengandung keindahan yang hakiki.
……………….puisi sebagai alat pengungkapan pikiran dan perasaan atau sebagai alat ekspresi (Zulfahnur, dkk. 1996:6).

Memperhatikan pengertian puisi berdasarkan sudut pandang tersebut di atas penulis dapat mengklasifikasikan puisi itu sendiri dari tiga alternative yaitu :
(1) Bahwa puisi itu merupakan cetusan sukma, sesuatu yang keluar dari jiwa, dan hati nurani.
(2) Bahwa puisi merupakan penghayatan terhadap alam semesta ciptaan Tuhan semua yang terbentang adalah puisi karena mengandung keindahan yang hakiki.
(3) Bahwa puisi sebagai alat pengungkapan pikiran dan perasaan atau sebagai alat ekspresi.
Puisi dapat dikatakan rekaan pengarang untuk menyampaikan atau mendendangkan perasaannya pada pendengarnya. Melahirkan perasaan jiwa yang mengandung suatu seni dan diucapkan dengan bahasa yaitu bahasa puisi. Bahasa puisi itu berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam pengungkapan karya sastra dalam bentuk prosa atau drama. Bahasa puisi memiliki seni dan multidimensi. Hal tersebut sesuai dengan tulisan Zulfahnur (1996:8-9) bahwa pada hakikatnya puisi itu adalah :
(a) Sebuah karya seni, sebagai sebuah karya seni, ia puitis kepuitisan itu terlihat dari daya rangsangannya terhadap pembaca, pemiantnya. Rasa tergugah, haru, senang, merupakan respon dari stimulus puisi yang diterima pembaca, dan
(b) Sejenis bahasa multidimensi, yaitu bahasa yang menggunakan lebih dari satu dimensi yaitu : dimensi intelektual, dimensi rasa, dimensi emosional dan dimensi imajinatif.

Penulis sangat sependapat dengan pendapat di atas. Puisi itu adalah sebuah karya seni dan diungkapkan dengan berintonasi atau berirama dengan bahasa multidimensi. Bahasa multidimensi dapat memanfaatkan sumber tenaga bahasa seperti perulangan, irama, dan sebagainya.

5. Pengajaran puisi di kelas VI SD
Sebagaimana lazimnya materi pengajaran bahasa Indonesia di SD meliputi kegiatan membaca, menyimak, berbicara, dan menulis. Semua kegiatan tersebut menjadi beban belajar bagi siswa SD kelas VI. Perwujudan kegiatan tersebut dikembangkan dalam berbagai topik atau tema. Pengembangan topik atau tema tersebut disesuaikan dengan kebutuhan, waktu, dan tujuan pengajaran yang ingin dicapai. Pada pembahasan ini penulis membatasi pada aspek khusus yaitu pengajaran bahasa Indonesia dalam bentuk puisi khususnya dikelas VI. Namun, perlu diketahui bahwa puisi juga telah diajarkan didepan kelas IV dan V. Pelaksanaan pengajaran di kelas VI juga diikuti kembali dengan tema-tema yang memaparkan puisi. Bahkan, materi pengajaran puisi itu diteruskan sampai di kelas VI SD.
Sesuai dengan permasalahan penelitian tindakan kelas yang telah penulis tetapkan, berikut ini penulis menyajikan ruang lingkup materi puisi yang diajarkan dalam pengajaran Bahasa Indonesia di kelas VI yaitu sebagai berikut :

Silabus Membaca Puisi di Kelas VI SD (Kode: 6.3)
– Kompetensi Dasar : Membacakan puisi karya sendiri dengan ekspresi yang tepat.
- Materi pokok pembelajaran : Puisi karya sendiri
- Kegiatan pembelajaran :
 Siswa mendengarkan contoh pembacaan puisi yang benar.
 Siswa membacakan puisi dengan intonasi, ekspresi, gerak, mimik, dan penghayatan yang wajar.
 Siswa mengubah puisi kedalam bentuk prosa/cerita sederhana
- Indikator :
 Membacakan puisi dengan intonasi ekspresi, gerak, mimik dan penghayatan yang wajar. Mengubah puisi dalam bentuk prosa/cerita sederhana.
 Menjelaskan amanat atau pesan yang terkandung dalam puisi.
- Penilaian :
 Teknik non test
 Perbuatan
 Bentuk
 Kinerja
 Instrumen : lembar penilaian kinerja
 Alokasi waktu : 8 x 7p x 35 menit.
- Sumber belajar : Buku yang relevan, majalah, Koran, internet.

Memperhatikan silabus membaca puisi pada kelas VI SD menjelaskan bahwa siswa membaca puisi karya sendiri dengan ekspresi yang tepat hasil ciptaan sendiri. Disamping itu siswa dapat merubah bentuk puisi kedalam prosa/cerita sederhana. Siswa dapat menjelaskan amanat atau pesan yang terkandung dalam puisi.

Puisi hasil karya sendiri siswa yang dibacakansiswa kelas VI SD adalah sebagai berikut :

Kantuk
Kantukku datang
Tanpa kuundang
Padahal aku harus belajar
Hati perang
Terus belajar
Atau berhenti dan tidur
Tetapi perang itu
Hanya sebentar saja
Sebab
Sesaat baru belajar
Aku telah mendengarkan
Aku terbangun ketika
Tanganku kesemutan

Doni. R
Kelas vI SDN Modopuro

6. Metode Pengajaran Puisi
Pada bagian ini yang penulis maksud dengan metode puisi adalah metode pengajaran puisi yaitu cara penyajian kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru kelas berkenaan dengan puisi.
Menyangkut materi pengajaran puisi di kelas VI SD ada beberapa alternatife, Trimansyah (1998:17) menyebutkan :
(a) Menyimak pembacaan puisi,
(b) Meniru pembacaan puisi,
(c) Membaca puisi dalam hati,
(d) Mengidentifikasikan kata-kata sukar dalam puisi,
(e) Menjawab pertanyaan puisi,
(f) Menyusun paraphrase puisi, dan
(g) Menceritakan isi puisi dengan kata-kata sendiri.

Melihat alternative - alternatif tersebut di atas untuk menyampaikan materi pengajaran puisi kepada anak didik atau siswa, guru dapat memilih metode yang tepat sesuai dengan kegiatan siswa dalam pembelajaran puisi. Sebagaimana lazimnya dalam kegiatan belajar mengajar guru dapat menggunakan metode-metode pengajaran sebagai berikut.
(1) Metode Pemberian Tugas
Metode ini berfungsi dalam kegiatan pemecahan masalah secara mandiri dan metode ini dapat dilakukan bersama dengan metode lain seperti demonstrasi, diskusi, kerja kelompok dan sejenisnya.
(2) Metode Diskusi
Metode diskusi berfungsi dalam kegiatan pemecahan masalah untuk menemukan suatu rumusan atau suatu kesimpulan terhadap sesuatu yang sedang dibicarakan.
(3) Metode Latihan
Metode latihan berfungsi untuk memberi kesempatan bagi siswa melatih diri seperti melakukan, membaca, berdeklamasi, bermain peran dan sosiodrama.
(4) Metode Bercerita
Metode bercerita berfungsi untuk menyajikan materi pelajaran dengan cara penuturan atau penjelasan secara lisan oleh guru kepada siswa. Dalam metode ini peran guru sebagai sumber informasi. Karena itu, siswa diperlukan memiliki keterampilan bertanya.
(5) Metode Menjawab Pertanyaan
Metode ini sering disebut metode Tanya jawab. Metode menjawab pertanyaan ini memungkinkan komunikasi langsung antara murid dengan guru dalam suatu interaksi. Dengan metode ini guru dapat melatih siswa untuk mempunyai pengertian atau pemahaman yang mendalam tentang apa yang didengar ataupun dibaca.

Pemilihan metode sesuai dengan kebutuhan penyajian materi puisi di kelas VI tersebut diperkirakan penyajian lebih bervariasi dan menarik bagi siswa bahkan dapat menghidupkan suasana belajar dengan penuh motivasi atau dorongan.

7. Membaca Puisi
Membaca puisi merupakan salah satu kegiatan pembelajaran dalam memahami puisi pada umumnya di samping kegiatan-kegiatan lainnya seperti menyimak, mendengarkan, menulis, menceritakan dan mendiskusikannya.
Sebelum diberikan pengertian membaca puisi terlebih dahulu ditinjau pengertian membaca pada umumnya. Dalam hal ini Sobari (1981:58) menyebutkan sebagai berikut :
Membaca berarti memahami apa yang tersirat atau yang tersurat. Membaca apa yang tersurat dengan tujuan memahami gagasan yang ditulis oleh penulisnya. Disamping itu memahami situasi gagasan yang dikehendaki olehnya.

Pengertian tersebut mengisyaratkan bahwa membaca berarti kegiatan pengungkapan suatu pikiran atau perasaan yang dilambangkan dalam bentuk timbul (huruf) yang tersurat dan memahami isi yang tersirat atau makna yang terkandung pada lambang bacaan itu. Disamping itu juga dalam membaca berarti memahami situasi atau gagasan, ide, maksud yang ingin disampaikan oleh penulisnya.
Membaca puisi sering dikacaukan dengan pengertian berdeklamasi. Sebenarnya kedua pengertian ini tidak identik, masing-masing mempunyai makna tersendiri.
Kedua istilah itu ada yang membedakannya secara hitam putih sehingga muncul fenomena yang aneh, baca puisi adalah berdiri mematung dengan teks puisi di tangan serta berusaha tidak bergerak dan deklamasi adalah membaca puisi yang telah dihafal dengan tambahan gerak artifisial (Mulyana, 1997:33).


Meskipun Mulyana mencatat perbedaan pengertian membaca puisi dan deklamasi sebagaimana penulis kutip di atas, para ahli lain berpendapat bahwa membaca puisi selalu berhubungan erat dengan pengalaman, baik sebagai penulis ataupun pembaca dengan sasaran memabca puisi untuk menyampaikan maksud kepada pendengar atau penonton secara bebas dan spontan.
Untuk memahami cara membaca puisi dengan baik, sekruang-kurangnya pembaca harus memperhatikan hal-hal berikut:
(a) Memperhatikan judul puisi yang dibacanya
(b) Memperhatikan titik pandang penulisannya
(c) Mencari kekerapan kata yang digunakannya
(d) Memahami kata bermakna lugas
(e) Memahami kata bermakna kias
(f) Menjiwai puisi yang dibacakannya

8. Tujuan Membaca Puisi
Membaca puisi adalah aktivitas yang merupakan alat untuk mencapai suatu maksud dan tujuan tertentu. Ditinjau dari sudut perkembangan karya puisi pada dasarnya mempunyai latar belakang tertentu sesuai dengan zaman lahirnya suatu ungkapan puisi yang mencerminkan situasi suatu masyarakat dalam kurun waktu tertentu. Umumnya orang membaca puisi dengan tujuan dimaksud dapat dikemukakan sebagai berikut :
a. Tujuan umum membaca puisi
(1) Untuk memberi makna unsur bahasa yang tidak bermakna melalui karya puisi.
(2) Untuk mengungkapkan yang tak terungkapkan.
(3) Untuk menyampaikan suatu amanat.
(4) Untuk mewujudkan fungsi lambang rasa, keceriaan, kegembiraan atau rasa yang menyeramkan.
(5) Mengungkapkan pemujaan terhadap Tuhan atau dewa sesuai dengan kepercayaan.
(6) Untuk mengantarkan suatu permasalahan dan mengungkapkannya.
(7) Untuk melanjutkan kehidupan suatu bahasa.
(8) Untuk memeriahkan suatu pesta atau hari peringatan yang bersejarah.
(9) Untuk tujuan melakukan protes sosial dilingkungan tertentu.
(10) Untuk mengungkapkan keprihatinan terhadap kemanusiaan atas prilaku manusia dengan tindakan kekerasan.
(11) Untuk mengembalikan harkat dan martabat manusia pada posisi yang sewajarnya, dan
(12) Untuk mendapatkan kenikmatan atau memberikan kepuasan bagi pendengar sebagai suatu nilai atau hiburan yang menyenangkan.

b. Tujuan khusus membaca puisi
Tujuan khusus membaca puisi untuk melatih siswa membiasakan diri membacakan puisi hasil karya sendiri dengan gaya dan nada yang diharapkan.

9. Teknik Membaca Puisi dengan Pembelajaran Paikem
Teknik membaca puisi merupakan suatu system yang terkoordinasi dalam membaca puisi. Pengaturan secara lebih khusus ini bertujuan agar pembacaan puisi sesuai dengan sasaran dan tujuan yang hendak dicapai. Pelaksanaan membaca puisi dapat terlaksana secara efektif.
Pembacaan puisi dapat dilakukan dalam dua cara yaitu membaca puisi dengan menggunakan teks dan membaca puisi tidak membaca teks tetapi dihafal yang disebut juga deklamasi. Pembacaan puisi dengan menggunakan teks dapat dilaksanakan pada tempat biasa-biasa seperti dalam ruangan kelas. Membaca puisi yang tidak menggunakan teks atau deklamasi biasanya dilakukan dalam bentuk pementasan atau panggung hiburan.
Selain hal-hal tersebut di atas teknik membaca puisi dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut :
(1) Bacalah judul puisi serta nama penyairnya.
(2) Beri kesenyapan antara pembacaan judul dengan pembacaan baris pertama sebanyak 3 ketukan.
(3) Berilah kesenyapan antara dua ketukan antar bait.
(4) Pada akhir pembacaan intonasi kebanyakan menurun. Pembaca dapat mempergunakan teknik penekanan pada setiap suku kata pada baris terakhir (Zulfahnur, dkk. 1996:84)
Dengan memperhatikan tahap-tahap pembacaan tersebut di atas, dapat diharapkan siswa mampu membacakan puisi secara efektif dan mampu memperoleh hasil yang optimal. Selain tahap-tahap pembacaan puisi tersebut di atas juga perlu dipahami cara-cara pembacaan puisi sebagai berikut :
(a) Membaca dalam hati (agar puisi tersebut terapresiasi secara penuh)
(b) Membaca nyaring (agar pembaca dapat mengatur daya vokal, tempo, timbre, interpolasi, rima, irama dan diksi).
(c) Membaca kritis (dengan mengoreksi pembacaan sebelumnya, segi-segi apa yang masih kurang dan bagaimana cara mengatasinya).
(d) Membaca puitis (Mulyana, dkk.. 1997:38)

Pada bagian ini penulis menerapkan teknik membaca puisi dengan model PAIKEM. Kata Paikem menerapkan singkatan dari kata : pembelajaran, aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Penerapan model pebelajaran ini diharapkan agar siswa dapat melaksanakan tugas belajarnya dengan dorongan dan semangat yang tinggi untuk mampu membaca puisi baik hasil kerja orang lain maupun hasil karya sendiri. Indikator keberhasilan Paikem dapat dilihat pada :
1. Guru
a. Dalam RPP terlihat kegiatan siswa yang bernuansa Paikem.
b. Memberi tugas dan bantuan yang berbeda sesuai dengan kemampuan murid.
c. Menggunakan berbagai media, metode dan sumber belajar.
d. Kreatif dalam menggunakan barang-barang sehari hari dalam pembelajaran.
e. Guru terampil dalam pengelolaan kelas
f. Guru menciptakan pembelajaran yang menantang.
2. Murid
a. Tidak takut bertanya
b. Berdiskusi dengan temannya
c. Aktif bekerja
d. Bekerja secara kelompok dalam memecahkan masalah.
e. Dapat mengungkapkan dengan kata sendiri
f. Dapat melakukan pembelajaran di luar kelas
g. Melakukan kegiatan baca mandiri
h. Melakukan kegiatan proyek (teknologi sederhana)


10. Penilaian Membaca Puisi
Penilaian atau evaluasi adalah kegiatan untuk mengukur kemampuan siswa sejauh mana tujuan pembacaan puisi itu sudah dicapai. Sementara membaca puisi sebagai mana lazimnya melakukan suatu penilaian itu dapat dilakukan dengan teknik-teknik tertentu seperti observasi, tes, non test, menilai hasil karya atau perbuatan siswa.
Penilaian membaca puisi mempunyai tujuan antara lain sebagai berikut :
Memberikan umpan balik bagi siswa, guru atau orang tua siswa dengan tujuan untuk memperbaiki cara belajar mengajarnya, mengadakan perbaikan dan pengayaan bagi siswa serta menempatkan siswa pda situasi belajar mengajar yang lebih tepat sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya (Depdikbud, 1995:31).

Sesuai dengan tujuan penilaian tersebut di atas sebagaimana dicantumkan dalam petunjuk teknis membaca puisi di tingkat SD dimana kegiatan evaluasi dapat dilaksanakan dalam tiga tahap.
- Tahap pertama pada kegiatan awal
- Tahap kedua pada kegiatan inti
- Tahap ketiga pada kegiatan akhir atau penutup.
Penilaian pada tahap awal melakukan penilaian kesiapan siswa membaca puisi. Penilaian tahap kedua pada kegiatan pelaksanaan membaca puisi melalui lisan dan pengamatan. Penilaian tahap terakhir atau penutup. Untuk menilai tingkat keberhasilan yang dicapai masing-masing siswa sesuai kriteria penilaian yang telah ditetapkan. Untuk lebih jelas bobot dan aspek penilai membaca puisi dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

TABEL I
BOBOT DAN ASPEK PENILAIAN MEMBACA PUISI
NO ASPEK PENILAIAN BOBOT
1
2
3
4
5 Penjiwaan
Lafal
Ekspresi / mimik
Irama / intonasi
Ketepatan waktu 40
15
15
15
15
Jumlah 100

Penilaian kemampuan siswa membaca puisi dilaksanakan oleh peneliti tindakan dan di bantu oleh guru pengamat. Hasil penilaian membaca puisi dikategorikan untuk menentukan kedudukan siswa dalam kelompok dengan berpedoman pada penilaian baca puisi oleh Depdikbud 1998 dengan kriteria sebagai berikut :
A. Amat baik ( 80 – 100 )
B. Baik ( 70 – 79 )
C. Sedang ( 60 – 69 )
D. Kurang ( < - 59 )

B. Penelitian Yang Relevan
Penelitian tindakan ini dilakukan untuk mendapatkan data penelitian yang relevan sesuai dengan sifat penelitian yaitu penelitian tindakan. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan judul “Peningkatan Kemampuan Membaca Puisi dengan Model PAIKEM bagi siswa kelas VI SD Negeri Sungai Lueng Langsa Timur”.
Model pembelajaran PAIKEM merupakan singkatan dari kata pembelajaran, aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Penerapan model PAIKEM ini untuk membentuk kebiasaan siswa yang aktif dan mendapatkan atau menemukan dan dapat disaksikan atas keberhasilan yang diperoleh siswa yang menyenangkan.

C. Kerangka Berfikir

Secara skematis uraian digambarkan dalam kerangka pemikiran sebagai berikut :















Gambar : 1. Diagram Alir Penelitian
Tindakan Kelas

D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka penulis membuat suatu hipotesis tindakan sebagai berikut. Melalui model Paikem dapat meningkatkan kemampuan siswwa kelas VI membaca puisi pada SDN Sungai Lueng Langsa Timur.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Sungai Lueng terletak di Langsa Timur, di daerah pinggiran yang masyarakatnya rata-rata petani/nelayan kelas yang dijadikan sampel adalah kelas VI dengan jumlah siswa 22 orang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 12 orang perempuan dengan tingkat kemampuan rata-rata sedang. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 2 Januari 2011 s/d tanggal 31 Maret 2011. Keadaan guru bidang studi masih belum mencukupi. Seperti guru bidang studi Bahasa Indonesia. Karena itu membaca puisi menjadi tugas guru kelas. Dan kemampuan rata-rata siswa dikategorikan sedang. Peneliti adalah guru kelas sudah mengajar di sekolah ini selama 20 tahun. Peneliti berkolaborasi dengan dua rekan guru kelas yang berperan sebagai tim pengamat baca puisi.

B. Subjek Penelitian
Berdasarkan judul penelitian yaitu meningkatkan kemampuan membaca puisi dengan model PAIKEM bagi siswa kelas VI SD Negeri Sungai Lueng tahun pelajaran 2010/2011, maka subjek penelitian adalah siswa kelas VI SD Negeri Sungai Lueng yang berjumlah laki-laki 10 orang perempuan 12 orang.

C. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa, sebagai subjek penelitian data yang dikumpulkan dari siswa meliputi data hasil tes kemampuan membaca puisi. Tes dilaksanakan secara lisan mulai membaca puisi sampai selesai bagi masing-masing siswa. Penelitian ini dilakukan pada setiap siklus guna untuk menentukan hasil yang sudah dicapai dan dapat merencanakan siklus berikutnya. Disamping itu juga penulis menggunakan teman sejawat sesama guru kelas sebagai sumber data melalui pengamatan.

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini pengumpulan data menggunakan teknik tes dan non tes. Tes dilakukan secara lisan pada saat siswa membaca puisi dengna katagori nilai sangat baik.
Amat baik (a), baik (b) cukup (c) kurang (d). Dalam bentuk non tes dengan menggunakan format pengamatan tentang mimik dan waktu yang dilakukan oleh tim pengamat.

E. Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif yang meliputi :
1. Analisis deskriptif dan komparatif hasil belajar dengan cara membandingkan hasil belajar pada siklus I dan siklus II dan membandingkan hasil belajar dengan indicator pada siklus I dan siklus II.
2. Analisis deskriptif kualitatif hasil observasi dengan cara membandingkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II.

F. Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang ditandai dengan adanya siklus, adapun dalam penelitian ini terdiri atas 2 siklus, setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi setiap siklus dapat digambarkan sebagai berikut :













Secara rinci kegiatan penelitian ini dapat disampaikan sebagai berikut :
1. Sebelum pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTA PTK)
a. Refleksi awal
Berdasarkan refleksi dari hasil pengamatan sebelumnya serta informasi yang teliti temukan pada siswa kelas VI SD Negeri Sungai Lueng maka dapat disampaikan bahwa hasil belajar atau kemampuan siswa membaca puisi belum mencapai hasil yang optimal. Seharusnya siswa sudah mampu membaca puisi baik karya sendiri atau pun hasil karya orang lain.
b. Pengamatan dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan di kelas.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui kejian pustaka dan observasi terhadap kemampuan siswa kelas VI membaca puisi sebelum melaksanakan penelitian bahwa kemampuan siswa membaca puisi masih memdapatkan nilai yang sedang belum pada katagori amat baik. Pada kegiatan ini guru memberikan pembelajaran secara konfeksional dalam prestasi belajar pada taraf di bawah rata. Inilah yang menjadi anggapan bahwa pembelajaran puisi menggunakan pendekatan Paikem diperkirakan dapat meningkatkan kemampuan siswa membaca puisi.

2. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
a. Gambaran umum pelaksanaan penelitian tindakan kelas
Tindakan ini dilaksanakan selama dua siklus. Hasil refleksi siklus I digunakan sebagai acuan dalam perbaikan pada tindakan siklus II. Sedangkan hasil refleksi siklus II nantinya digunakan sebagai acuan untuk rencana tindak lanjut pada pembelajaran selanjutnya. Masing-masing siklus terdiri atas dua kali pertemuan tiap kali pertemuan dua jam pelajaran. Pada pertemuan pertama siswa diberi tugas untuk mencari puisi yang ditulis orang lain dalam buku materi untuk dijadikan contoh dan dapat dibaca melalui melatih diri yang disaksikan oleh teman sekelas serta dapat membacakan untuk dapat dinilai. Pertemuan kedua memberi tigas kepada siswa untuk membacakan puisi hasil karya sendiri dengan penerapan model Paikem. Setiap siswa diminta untuk mempersentasikan puisi yang dibuatnya. Peneliti melakukan penilaian dengan menggunakan format penilaian.

b. Rincian prosedur penelitian tindakan kelas sebagai berikut.
I. Siklus I
1. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini hal-hal yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
a. Memberi tugas untuk siswa mempelajari puisi yang ditulis orang lain dapat dibacanya.
b. Membaca puisi sesuai aspek penilaian
c. Membuat puisi untuk dapat dibacakan
d. Pembelajaran ini dengan penerapan modal pembelajaran PAIKEM agar siswa aktif, mofatif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Tahap Pelaksanaan Tindakan sesuai dengan indicator yang ingin dicapai dalam pembelajaran membaca puisi seperti yang dibenarkan dalam RPP.
3. Tahap Pengamatan
Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan siklus I mulai dari pertemuan pertama hingga kedua. Pengamatan ini untuk merekam hasil pengamatan tentang kemampuan siswa membaca puisi yang baik dengan memperhatikan mode pembelajaran Paikem dan kriteria atau aspek penilaian membaca puisi yang akan ditentukan.
4. Tagap Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan persentase yang dilakukan siswa baik puisi hasil karya orang lain maupun karya hasil karya sendiri. Tahap refleksi ini dijadikan acuan untuk menentukan langkah siklus ke II.

II. Siklus II
Pada siklus kedua dilaksanakan sama dengan siklus I, yaitu tahap perencanaan. Tahap pelaksanaan, tahap pengamatan dan tahap refleksi. Siklus ke II ini untuk menentukan tindak lanjut dan pengambilan kesimpulan penelitian tindakan kelas.

Relate Posts



1 komentar:

Rizal mengatakan...

Thanks infonya...
visit my blog http://punya-rizal.blogspot.com

Poskan Komentar

>