Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Selasa, 10 Mei 2011

A. KOSEP DASAR. 1. Pengertian. Asma merupakan ganguan inflamasi kronik jalan nafas yang melibatkan berbagai sel inflamasi. Dasar penyakit ini adalah hiperaktivitas bronkus dalam berbagai tingkat, obtruksi jalan nafas dan gejala per nafasan ( mengi dan sesak ). ( Arief Mansjoer, 1999 ). Asma Bronciale adalah penyakit jalan nafas obsruktif intermitin refesible di mana trakea dan bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne, 2001 ). 2. Etiologi. Ada beberapa hal yang merupakan factor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan Asma Bronciale. #. Faktor predisposisi • Genetik => Dinama yang di turunkan adalah bakat alerginya. #. Faktor Predisposisi. • Alergen => Dimana alergen dapat di bagi menjadi 3 jenis yaitu: a. inhalan ( debu, bulu binatang, serbuk bunga dll ). b. ingestan ( makanan dan obat-obatan ). c. kontraktan (perhiasan, logam dan jam). 3. Klasifakasi Bedasarkan penyebabnya Asma Bronciale dapat di klasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu: a. Ekstinsik ( alergi ) b. Intrinsik ( non alergi ). c. Asthma gabungan, bentuk asma yang paling umum, ini mempunyai karekteristik dari bentuk arlegi dan non arlegi. 4. Patofisiologi Asma Bronciale di tandai dengan kontraksi spastic dari obat polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar ber nafas, penyebab yang umum adalah hipersentivitas bronkhiolus terhadap benda-benda asing di udara. Seorang yang alergi mempunyai kecendrungan untuk membentuk sejumlah antibody I g t. abnormal dalam jumlah besar dan antibody ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya pada Asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstesial paru yang berhubungan dengan btonkiolus dan bronkus kecil. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi denga baik dan adekuat tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. 5. Manifestasi Klinis. Manifestasi Klinis pada pasien Asma adalah Batuk dyspnea, dari wheezing dan pada sebagian penderita disertai dengan rasa nyeri dada pada penderita yang sedang bebas dari serangan tidak di temukan gejala klinis, Penderita Asma yaitu: a. Tingkat 1 => secara klinis normal tanpa kelainan periksaan fisik dan fungsi paru b. Tingkat 2 => tanpa keluhan dan kelainan periksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya tanda-tanda jalan nafas. c. Tingkat 3 => tanpa keluhan pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obruksi jalan nafas. d. Tingkat 4 => pasien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing. e. Tingkat 5 => status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim di pakai. 6. Pemeriksaan penunjang. a. pemeriksaan labotarium b. pemeriksaan radiology c. pemeriksaan tes kulit d. elektrokardiografi e. scanning paru d. spirometri. 7. Penatalaksanaan. 1. pengobatan. a. Farmakologik : #. Bronkodilator => Obat yang melebarkan saluran nafas, terbagi 2 golongan yaitu : Simpatomimetik / Andrenergik santin ( teofilin ). b. Non Farmakologik. #. Memberikan penyeluhan #. Menghindari factor pencetus #. Pemberian cairan #. Fisiotherapy #. Dan beri O2 bila perlu. ( Smelzer Suzanne, 2001 ) B. ASUHAN KEPERAWATAN. 1. Pengkajian • Aktivitas / Istirahat. Gejala : Ketidak mampuan untuk melakukan aktivitas sehari-¬hari karena sulit bernapas. Tanda : Keletihan, Gelisah, Kelemahan umum. • Sirkulasi. Gejala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah. Tanda : Pucat dapat menunjukkan anemia. • Integritas Ego. Gejala : peningkatan factor resiko, perubahan pola hidup. Tanda : Ansietas, ketakutan peka rangsang. • Makanan / cairan. Gejala : mual, muntah napsu makan menurun / anoreksia ketidak mampuan makan karena stres pernapasan penurunan berat badan. Tanda : Tugor kulit buruk, edema dependen, bekeringat, penurunan berat badan. • Higiene. Gejala : Penurunan kemampuan / peningkatan kebutuhan, bantu melakukan aktivitas sehari-hari. Tanda : Kebersihan kurang memperhatian, bau badan. • Pernapasan Gejala : Napas pendek, ( timbulnya tersembunyi dengan dispnea sebagai gejala menonjol pada emfisema ) khususnya pada kerja : Cuaca atau berulangnya sulit napas ( asma ). Tanda : Dapat lambat atau biasanya cepat, fase ekspirasi memanjang dengan mendengkur. A • Keamanan. Gejala : Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat atau faktor lingkungan dan adanya berulangnya infeksi. • Interaksi Sosial. Gejala : Hubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, penyakit lama atau ketidak mampuan membaik. Tanda : Ketidak mampuan membuat atau memperthankan suara karena stres penapasan, keterbatasan mobilitas fisik. • Penyuluhan / Pembelajaran. Gejala : Pengunaan / penyalah gunaan obat, penapasan kegagalan untuk membaik. C. DIAGNOSA KEPERAWATAN. Dx : 1 Bersihan jalan napas berhubungan dengan penurunan energi / kelemahan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan bersihan jalan napas pasien teratasi. Kriteria hasil : Pasien akan mempertahankan jalan napas dengan bunyi napas bersih / jelas. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. Mis : Batuk efektif dan mengeluarkan sekret. Intevensi : Auskultasi bunyi napas, catat adanya bunyi napas, Mis : mengi, Krekels, ronki. Adanya / derajat dispnea, Mis : keluhan “lapar sudah” gelisah, cemas, stres pernapasa dan ansietas. Pertahankan populsi lingkungan, Mis : debu, asap rokok, pentilasi Kurang membaik, bulu binatang yang berhubungan dengan kondisi Indivudu. Rasional : Bunyi napas redup dengan ekpirasi mengi / tak adanya bunyi napas (asma berat). Disfungsi pernapasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proses Kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. Pencetus tipe raeksi alergi pernapasan yang dapat mentriger episode akut. DAFTAR PUSTAKA Arief Mansjoer, 1999. Kapita selekta kedokteran Edisi III Catatan 2 jakarta, media aesculapilus 2000. Smelzer Suzanne, 2001. Buku ajar keperawatan medical bedah Edisi 1 jakarta. EGC. Prata Wijaya. k. 1990. Asma bronchiale di kutip dari ilmu Penyakit dalam, Jakarta. EGC. FUI. Doengoes, Marlyn E dkk, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta : EGC. PENGKAJIAN KELUARGA I. IDENTITAS UMUM KELUARGA a. Identitas kepala keluarga : Nama : Sayed Jafar Pendidikan : SD Umur : 45 tahun Pekerjaan : Pedagang Agama : Islam Alamat : Neuheun, Dsn Balee Rakyat. Kec. Peusangan. Suku : Aceh No.Hp/Telp : - - - - - - - b. Komposisi Keluarga : NO NAMA L/ P UMUR HUB. KLG PEKERJAAN PENDIDIKAN 1 Sayed jafar L 45 Kk Pedagang SD 2 Yusra Wati P 37 Istri Irt MAN 3 Cut Itahastuti P 19 Anak Mahasiswa S1 4 Cut Irmayati P 17 Anak Pelajar SMA 5 Cut Evasusanti P 15 Anak Pelajar SLTP 6 Cut Mandasari P 12 Anak Pelajar MIN 7 Syarifah Nadiya P 6 Anak Pelajar MIN c. Geonogram

/ On : 12.16/ Thank you for visiting my small blog here.
A. KOSEP DASAR.

1. Pengertian.
Asma merupakan ganguan inflamasi kronik jalan nafas yang melibatkan berbagai sel inflamasi.
Dasar penyakit ini adalah hiperaktivitas bronkus dalam berbagai tingkat,
obtruksi jalan nafas dan gejala per nafasan ( mengi dan sesak ).

( Arief Mansjoer, 1999 ).

Asma Bronciale adalah penyakit jalan nafas obsruktif intermitin refesible di mana trakea dan bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu.

(Smelzer Suzanne, 2001 ).




2. Etiologi.
Ada beberapa hal yang merupakan factor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan Asma Bronciale.
#. Faktor predisposisi
• Genetik => Dinama yang di turunkan adalah bakat alerginya.
#. Faktor Predisposisi.
• Alergen => Dimana alergen dapat di bagi menjadi 3 jenis yaitu:
a. inhalan ( debu, bulu binatang, serbuk bunga dll ).
b. ingestan ( makanan dan obat-obatan ).
c. kontraktan (perhiasan, logam dan jam).


3. Klasifakasi
Bedasarkan penyebabnya Asma Bronciale dapat di klasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu:
a. Ekstinsik ( alergi )
b. Intrinsik ( non alergi ).
c. Asthma gabungan, bentuk asma yang paling umum, ini
mempunyai karekteristik dari bentuk arlegi dan non arlegi.

4. Patofisiologi
Asma Bronciale di tandai dengan kontraksi spastic dari obat polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar ber nafas, penyebab yang umum adalah hipersentivitas bronkhiolus terhadap benda-benda asing di udara.
Seorang yang alergi mempunyai kecendrungan untuk membentuk sejumlah antibody I g t. abnormal dalam jumlah besar dan antibody ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya pada Asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstesial paru yang berhubungan dengan btonkiolus dan bronkus kecil.
Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi denga baik dan adekuat tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi.

5. Manifestasi Klinis.
Manifestasi Klinis pada pasien Asma adalah Batuk dyspnea, dari wheezing dan pada sebagian
penderita disertai dengan rasa nyeri dada pada penderita yang sedang bebas dari serangan tidak di temukan gejala klinis,
Penderita Asma yaitu:
a. Tingkat 1 => secara klinis normal tanpa kelainan periksaan fisik dan fungsi paru
b. Tingkat 2 => tanpa keluhan dan kelainan periksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya tanda-tanda jalan nafas.
c. Tingkat 3 => tanpa keluhan pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obruksi jalan nafas.
d. Tingkat 4 => pasien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing.
e. Tingkat 5 => status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim di pakai.

6. Pemeriksaan penunjang.
a. pemeriksaan labotarium
b. pemeriksaan radiology
c. pemeriksaan tes kulit
d. elektrokardiografi
e. scanning paru
d. spirometri.

7. Penatalaksanaan.
1. pengobatan.
a. Farmakologik :
#. Bronkodilator => Obat yang melebarkan saluran nafas, terbagi 2 golongan yaitu : Simpatomimetik / Andrenergik santin ( teofilin ).
b. Non Farmakologik.
#. Memberikan penyeluhan
#. Menghindari factor pencetus
#. Pemberian cairan
#. Fisiotherapy
#. Dan beri O2 bila perlu.

( Smelzer Suzanne, 2001 )

B. ASUHAN KEPERAWATAN.
1. Pengkajian
• Aktivitas / Istirahat.
Gejala : Ketidak mampuan untuk melakukan aktivitas sehari-¬hari
karena sulit bernapas.
Tanda : Keletihan, Gelisah, Kelemahan umum.


• Sirkulasi.
Gejala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah.

Tanda : Pucat dapat menunjukkan anemia.

• Integritas Ego.
Gejala : peningkatan factor resiko, perubahan pola hidup.

Tanda : Ansietas, ketakutan peka rangsang.

• Makanan / cairan.
Gejala : mual, muntah napsu makan menurun / anoreksia ketidak mampuan makan karena stres pernapasan penurunan berat badan.

Tanda : Tugor kulit buruk, edema dependen, bekeringat, penurunan berat badan.

• Higiene.
Gejala : Penurunan kemampuan / peningkatan kebutuhan, bantu melakukan aktivitas sehari-hari.

Tanda : Kebersihan kurang memperhatian, bau badan.
• Pernapasan
Gejala : Napas pendek, ( timbulnya tersembunyi dengan dispnea sebagai gejala menonjol pada emfisema ) khususnya pada kerja : Cuaca atau berulangnya sulit napas ( asma ).

Tanda : Dapat lambat atau biasanya cepat, fase ekspirasi memanjang dengan mendengkur.

A
• Keamanan.
Gejala : Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat atau faktor lingkungan dan adanya
berulangnya infeksi.


• Interaksi Sosial.

Gejala : Hubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, penyakit lama atau ketidak
mampuan membaik.

Tanda : Ketidak mampuan membuat atau memperthankan suara karena stres penapasan,
keterbatasan mobilitas fisik.


• Penyuluhan / Pembelajaran.

Gejala : Pengunaan / penyalah gunaan obat, penapasan kegagalan untuk membaik.






C. DIAGNOSA KEPERAWATAN.


Dx : 1

Bersihan jalan napas berhubungan dengan penurunan energi / kelemahan.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan bersihan jalan napas pasien teratasi.


Kriteria hasil : Pasien akan mempertahankan jalan napas dengan bunyi napas bersih / jelas.

Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. Mis :
Batuk efektif dan mengeluarkan sekret.


Intevensi : Auskultasi bunyi napas, catat adanya bunyi napas, Mis : mengi,
Krekels, ronki.

Adanya / derajat dispnea, Mis : keluhan “lapar sudah” gelisah, cemas,
stres pernapasa dan ansietas.

Pertahankan populsi lingkungan, Mis : debu, asap rokok, pentilasi
Kurang membaik, bulu binatang yang berhubungan dengan kondisi
Indivudu.


Rasional : Bunyi napas redup dengan ekpirasi mengi / tak adanya bunyi napas
(asma berat).

Disfungsi pernapasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proses
Kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit.

Pencetus tipe raeksi alergi pernapasan yang dapat mentriger episode akut.





DAFTAR PUSTAKA

Arief Mansjoer, 1999. Kapita selekta kedokteran Edisi III
Catatan 2 jakarta, media aesculapilus 2000.

Smelzer Suzanne, 2001. Buku ajar keperawatan medical bedah
Edisi 1 jakarta. EGC.

Prata Wijaya. k. 1990. Asma bronchiale di kutip dari ilmu
Penyakit dalam, Jakarta. EGC. FUI.

Doengoes, Marlyn E dkk, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan
Untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien.
Jakarta : EGC.









PENGKAJIAN KELUARGA

I. IDENTITAS UMUM KELUARGA

a. Identitas kepala keluarga :

Nama : Sayed Jafar Pendidikan : SD
Umur : 45 tahun Pekerjaan : Pedagang
Agama : Islam Alamat : Neuheun, Dsn Balee Rakyat. Kec. Peusangan.
Suku : Aceh No.Hp/Telp : - - - - - - -

b. Komposisi Keluarga :
NO NAMA L/
P UMUR HUB. KLG PEKERJAAN PENDIDIKAN
1 Sayed jafar L 45 Kk Pedagang SD
2 Yusra Wati P 37 Istri Irt MAN
3 Cut Itahastuti P 19 Anak Mahasiswa S1
4 Cut Irmayati P 17 Anak Pelajar SMA
5 Cut Evasusanti P 15 Anak Pelajar SLTP
6 Cut Mandasari P 12 Anak Pelajar MIN
7 Syarifah Nadiya P 6 Anak Pelajar MIN


c. Geonogram

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>