Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Rabu, 18 Mei 2011

ada pepatah yang mengatakan kalau

/ On : 00.50/ Thank you for visiting my small blog here.
I.2. Perumusan Masalah
Baru-baru kita tersentak dan terenyuh, anak tunggal pahlawan nasional Ismail Marzuki, Rachmiaziah Ismail Marzuki (60), hidup dalam kekurangan. Rachmi tidak sanggup membayar sewa kontrak rumah selama 6 tahun. “Untung saja pemilik rumah ini, Pak Agus, orangnya baik. Dia sering telepon, ‘yang penting Ibu sehat, tidak usah dipikirkan yang itu (uang kontrak)’,” kata Rachmi yang menirukan ucapan pemilik rumah. Di rumah tipe 45 di Perumahan Bappenas, Blok A 12, Cinangka, Wates, Sawangan, Depok, itu Rachmi hanya tinggal dengan suaminya, Muhammad Benny.
Sebagaimana dilansir detik.com, keluarga Ismail Marzuki tidak lagi menerima royalti atas lagu-lagu ciptaan sejak tahun 2008. Hal itu dikarenakan pahlawan nasional itu sudah meninggal lebih dari 50 tahun. “Sejak dua tahun lalu karya Bapak sudah jadi public domain,” kata anak tunggal pahlawan nasional Ismail Marzuki, Rachmiaziah Ismail Marzuki, di kediamannya, Perumahan Bappenas, Blok A 12, Cinangka, Wates, Sawangan,. Ismail Marzuki, yang dikenal dengan lagu ciptaanya Rayuan Pulau Kelapa, meninggal dunia pada Mei 1958. Menurut Undang-undang Hak Cipta, hak cipta berlaku selama hidup pencipta dan terus berlangsung hingga 50 tahun setelah pencipta meninggal dunia. Meski royalti secara legal distop,namun Rachmi mengaku terkadang masih mendapat dari pihak-pihak yang menggunakan karya ayahnya. “Mereka memberi atas dasar kebijaksanaan saja,” kata Rachmi.


Komponis Pejuang Legendaris
Siapa yang tak kenal nama Ismail Marzuki! Dan siapa yang tak kenal lagu halo-halo Bandung atau Rayuan Pulau Kelapa sudah barang tentu semua orang tahu lagu tersebut baik dari kalangan usia anak-anak sampai usia lanjut (catatan, lagu tersebut adalah lagu wajib disekolah-sekolah SD, SMP atau SMA), karena beliau-lah bangsa Indonesia mempunyai lagu perjuangan dan lagu wajib yang penuh makna.
Ismail Marzuki terkenal sebagai komponis lagu-lagu yang bernuansa perjuangan atau kepahlawanan. Selain itu, lagu-lagu pop yang ia ciptakan juga memiliki makna nostalgia. Dalam perjalanan musik Indonesia, lagu gubahan Ismail Marzuki telah mengilhami para pemusik-instrumentalis maupun vokalis-untuk memperdengarkan, memainkan, maupun menyanyikan melodi-melodi yang pernah amat populer, dan hingga kini masih tetap populer itu. Hasilnya acap kali unik. Di antara album kumpulan lagu Ismail Marzuki yang pernah populer adalah produksi King’s Record tahun 1986. Di sana ada Patti Bersaudara, Koes Hendratmo, Rien Djamain, dan Johan Oentung. Lalu ada produksi Billboard (juga 1986), menampilkan penyanyi lebih banyak, tujuh orang, dengan berbagai style, yakni Kris Biantoro, Henny Purwonegoro, Broery Pesolima, Lilis Suryani, Jimmy Samalo, Zwesty Wirabhuana, dan Masnun. Yang menarik, penata musik album ini adalah mendiang Sudharnoto, pencipta Mars Garuda Pancasila, yang sahabat Ismail dan pianis ulung yang juga membuat album instrumental lagu-lagu sahabatnya. Khusus untuk Masnun, ia juga pernah membuat sebuah album lagu Ismail Marzuki dalam versi keroncong. Lalu secara terpisah-pisah, lagu Pak Maing juga dinyanyikan oleh Sam Saimun, Titiek Puspa, dan masih banyak penyanyi lainnya. Termasuk di sini adalah dari kalangan seriosa, seperti Pranawengrum Katamsi, Ati Sriyati, Aning K Asmoro, dan Binu Sukaman. Para penyanyi dengan penata musiknya, menghasilkan nuansa baru. Hal itu tak terelakan karena mengingat popularitasnya, mereka yang punya keinginan untuk menyanyikan lagu Ismail Marzuki haruslah menemukan kreasi baru agar dirasakan adanya kesegaran baru. Di pihak lain, dengan adanya proses itu, sesungguhnya lagu-lagu Ismail sendiri, meski dengan judul sama, merupakan variasi yang amat kaya. Para instrumentalis pun tak ketinggalan. Violis terkemuka Idris Sardi punya album khusus, sementara pianis Jaya Suprana dalam rekaman terakhirnya memasukkan Aryati, Juwita Malam, dan Sabda Alam dengan pendekatan permainan piano klasik, membuat karya-karya yang akrab di telinga tersebut menjadi sesuatu yang baru dan segar. Sebelumnya, pianis senior Nick Mamahit dengan trionya juga memainkan Rindu dengan unik, sama uniknya dengan Titiek Puspa ketika menyanyikan lagu yang sama. (sumber :mellowtone.multiply.com, 1 juni 2007).
Ismail Marzuki memulai debutnya di bidang musik pada usia 17 tahun, ketika untuk pertama kalinya ia berhasil mengarang lagu O Sarinah” pada tahun 1931. Ismail mempunyai kepribadian yang luhur di bidang seni. Perhatian Ismail Marzuki terhadap berbagai sudut kehidupan kentara sekali dari tema-tema lagu yang dibawakan dan diciptakannya. Materi lagu-lagu tersebut diangkat dari kehidupan tukang becak, alam dan lingkungan, cinta, sampai pada masalah kebangsaan. Bila sebagian besar lagu-lagunya bertemakan tentang cinta, hal itu terlepas dari kepribadiannya yang romantis. Dalam usia 30 tahun, ciptaan Ismail Marzuki mulai memperlihatkan bobot yang lebih berat dalam unsur melodi, syair dan intensitasnya serta kemahirannya dalam meleburkan perlambangan asmara dengan perjuangan untuk tanah air, hal ini terlihat pada tahun 1944 dengan lahirnya ciptaan yang berjudul “Rayuan Pulau Kelapa”dengan melodi serta syairnya dengan bobot yang sudah matang. Dipandang dari nafas lagu-lagu dan syair ciptaannya, Ismail Marzuki merupakan seorang nasionalis yang setia pada cita-cita perjuangan kemerdekaan, pada kehidupan rakyat dan pada ibu pertiwi. Dan karya-karyanya yang berjumlah lebih dari 200 buah, sarat dengan nilai-nilai perjuangan.

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>