Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 29 April 2011

TUDI ISLAM METODOLOGI DAN PENDEKATAN

/ On : 13.25/ Thank you for visiting my small blog here.
TUDI ISLAM
METODOLOGI DAN PENDEKATAN
Oleh : Isnawati


Review
Pendahuluan

Islam sebagai agama dan ajaran, jika dipandang dari aspek sosiologi merupakan bagian dari kehidupan manusia, karena itu dapat dijadikan sebagai salah satu objek kajian, baik melalui pendekatan metodologi.
Sebagai agama dan ajaran, Islam mencakup banyak aspek yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan merupakan satu kesatuan yang integral, oleh sebab itu kedua hal ( pendekatan dan metodelogi ) merupakan sesuatu yang sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai tolak ukur dalam mempelajari dan mengkaji Islam.
Selain itu Islam dapat dijadikan sebagai objek penelitian epistemologi, karena memiliki sumber ajaran yang jelas. Oleh sebab itu aliran rasionalisme dan empirisme sangat signifikan dalam menelaah perpedaan epistemologi dalam Islam. Selanjutnya akan penulis resume mulai dari kata kunci Islam, muslim, Islami, Islamisasi, dan Dunia Islam, selanjutnya akan dilihat bagaimana Islam sebagai wahyu dan seterusnya.

A. Makna Islam Dan Muslim
Agama Islam merupakan satu-satunya agama Allah. Allah secara gamlang telah menegaskan bahwa agama yang diridhai -Nya hanyalah agama Islam.



Artinya: Sesungguhnya agama ( yang diridhai ) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian ( yang ada ) diantara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat menghisabnya. ( Ali-Imran: 19. )
Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa manusia siapa saja jika mencari agama dan keyakinan selain agama Islam, Allah tidak akan menerima agamanya, dan kelompok manusia yang semacam itu di akhirat kelak akan termasuk kedalam kelompok orang-orang yang merugi, ( Ali-Imran: 85 ).
B. Muslim, Islami, Islamisasi, Dunia Islam.
Tetapi bagi orang yang telah menyatakan diri masuk kedalam Islam atau memeluk agama Islam disebutlah ia Muslim. Dengan kata lain orang muslim adalah orang yang berserah diri kepada kehendak atau hukum Allah dan menjalankan dengan penuh keyakinan.
Adapun Islami merupakan gambaran semasa hidupnya mengacu kepada nilai-nilai Islami, tentu saja Islam sesuai dengan yang dipahaminya. Artinya standarisasi seseorang dikatakan Islami atau tidak, mengarah kepada pemahaman keagamaan masing-masing. Segala aturan kehidupan manusia selalu bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
Islamisasi adalah dalam bentuk verbal yaitu pengislaman, yang menjadikan kata ini kedalam bentuk verbal adalah adanya ahiran kata “isasi”, yang berarti proses, cara, perbuatan. Jadi Islamisasi merupakan proses maupun cara atau perbuatan untuk menyebarakan Islam kepada orang lain yang belum menganut Islam upaya menjadikan atau memasukkan objek kedalam Islam baik sebagai nilai, norma, ajaran maupun agama. Minsalnya Islamisasi ilmu pengetahuan ,berarti mengupayakan ilmu pengetahuan tersebut masuk kedalam Islam, yakni bernilai atau bernuansa sessuai dengan islami.
Dunia Islam di artikan: sebagai bumi dengan segala sesuatu yang terdapat diatasnya. Lingkungan atau lapangan kehidupan yang didalamnya ada pemeluk-pemeluk agama Islam atau tempat masyarakat Islam, dengan demikian dunia Islam sekarang ini sangat membutuhkan pemikiran-pemikiran baru. Dunia Islam juga lebih sering di istilahkan dengan konsep ummah, penyebutan kata Islam setelah kata dunia bererti menujukkan kesatuan esensial Muslim.
C. Islam Sebagaia Sumber Wahyu, Pemikiran dan Pengamalan.
1. Islam sebagai sumber wahyu.
Telah disebutkan, Islam wahyu dari Allah SWT. Kepada Nabi Muhammad Saw, untuk disampaikan kepada manusia sebagai pedoman hidup bagi seluruh ummatnya. Islam adalah agama wahyu yakni Al-Qur’an bahasa-bahasa harfiah, abadi dari Allah SWT, dan dipelihara dalam bahasa Arab yang diwahyukan ( QS. Al-Hijr.9 ). Pada awalnya dijaga dalam bentuk lisan (hafalan) dan bentuk tertulis semasa hidup Nabi Muhammad, keseluruhan teks ahirnya dikumpulkan dalam versi standar dan resmi kira-kira 15 atau 20 tahun sesudah nabi wafat, Al_qur’an inilah yang diyakini muslim sebagai sumber utama rujukan.
Adapun Hadist atau Sunnah Nabi Muhammad Saw, yang menjadi rujukan kedua setelah Al-Qur’an merupakan penerjemah Al-Qur’an dalam tindakan-tindakan, ia menghidupkan wahyu memberi bentuk kongkrit pada hukum-hukum yang di wahyukan Allah untuk berbagai kehidupan manusia sebagai penjelas. Jadi dapat di simpulkan, bahwa Islam sebagai wahyu dan ajaran yang tertuang dalam Al-Qur’an, secara orisinil dan transparan bersumber dari wahyu Ilahi yang tidak akan pernah mengalami perobahan selama-lamanya .
PENUTUP.
Segala yang telah digariskan oleh Allah adalah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk memahami Islam secara baik, minimal untuk dirinya sendiri. Sementar tugas studi Islam (Islamic Studies) bukan saja untuk “kusumsi” sendiri tetapi juga untuk memperkaya khajanah intelektual Islam. Dan yang terpenting memberikan pemahaman yang benar terhadap Islam, tugas ini karena terkait dengan Metodologi dan pendekatan, maka setiap manusia berusaha bias dan boleh melakukanya .
Di sisi lain, pentinya studi Islam untuk tetap aktual ditengah perkembangan zaman dan dinamika masyarakat. Jika tidak, Islam bias ketinggalan zaman. Bukankah masa kejayaan Islam abad petengahan, pengkajian Islam dilakukan secara serius, sehingga meninggalkan ilmu-ilmu yang luar biasa kuantitas dan kualitasnya. Merupakan keterpurukan bagi umat Islam itu sendiri, dari itu kita membenahi kembali sebagai mana untuk pelajaran bagi ummat semuanya.



PENGETAHUAN MANUSIA
Oleh: Isnawati


Review

Pendahuluan

Manusia sebagai makhluk Allah yang sempurna dimuka bumi ini, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Atas dasar inilah manusia terus mengembangkan kemampuannya dalam melihat fenomena-fenomena yang terjadi di alam ini. Dalam perjalanan sejarah yang begitu panjang terlihat pertumbuhan pengetahuan yang di tandai dari perolehan ilmu melalui trial dan error sampai kepada pengetahuan kimia dan ilmu umum lainnya dengan metode-metode tertentu.
Keingintahuan manusia terhadap suatu objak mendorong untuk mengenal, memahami sesuatu yang dialaminya,mengumpulkan pengetahuan sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan nilai pengetahuan, menemukan hakekatnya, dan menerbitkan serta mengatur semuanya itu di dalam bentuk yang sistimatis. Dan membawa kita kepada pemahamam, dan pemahamam membawa kita kepada tindakan yang lebih layak.
Pada dasarnya manusia dalam memperoleh pengetahuan di landasi oleh tiga hal pokok, yaitu apakah yang ingin di pahami, babaimanakah untuk memperoleh pengetahuan, dan apa nilai pengetahuan tersebut bagi manusia. Maka manusia akan bertanya , apa, siapa, bagaimana, dimana, kapan dan kenapa. Ini semua memerlukan jawaban yang memakai serangkaian jalan pemikiran yang menhasilkan pengetahuan. Untuk itu diperlukan pengamatan, pengukuran, penjelasan dan pemeriksaan benar tidaknya. Sehingga sampai kepada ilmu yang dibuktikan secara ilmiyah.
A. Cara Memperoleh Pengetahuan.
Proses terjadinya pengetahuan menjadi masalah mendasardalam efistimologi sebab hal ini akan mewarnai pemikiran kefilsafatan. Pandangan yang sederhana dalam memikirkan proses terjadinya pengetahuan yaitu dalam sifat Afriori adalah: pengetahuan terjadi tampa adanya melalui pengalamam baik pengalamam indra maupun pengalam bathin. Sedangkan Aposteriori adalah pengetahuan terjadi karena adanya pengalamam. Didalam mengetahuinya memerlukan alat yaitu pengalamam indra, nalar, otoritas, intuisi, wahyu dan keyakinan. Sepanjang sejarah kefilsafatan alat-alat untuk mengetahui tersebut memiliki peranan masing-masingbaik secara sendiri-sendiri maupun berpasangan satu sama lain tergantung kepada filusup atau paham yang dianutnya, hal ini dapat di buktikan sebagai berikut.
1.Terial Error (coba –salah)
Metode Terial dan Error atau metode terial Success (coba-hasil) telah di kenal secara Universal dan tidak memerlukan penjelasan secara panjang lebar. Tehnik ini dipergunakan oleh ahli pisikologi yang diterapkan pada penelitian tentang hewan dan manusia dimana mereka memecahkan masalahdalam suatu kesulitan yang di alaminya. Metode torial dan error sering di sebut yang di kemukakan dalam bentuk Refleksi, yaitu dalam berfikir reflektip pemecahanya di selesaikan dalam imajinasi. Dalam imajinasi dan refleksi mengecek mana yang cocok dan mana yang tidak juga menghemat waktu dan tenaga yang terjadi seering dalam kehidupan itu sendiri.
2. Common Sense ( pengetahuan biasa )
Pengetahuan biasa atau Common Sense dalam filsafat dikatakan dengan istilah Good Sense, karena seseorang memiliki sesuatu dimana ia menerima secara baik yakni bila pada suatu benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. Dengan Common Sense, semua orang sampai kepada keyakinanya secara umum tentang sesuatu, dimana mereka akan berpendapat sama semuanya. Common Sense diperileh dari pengalamam sehari-hari, seperti air dapat dipakai untuk menyiram bunga dan lain-lain.
3. Pengetahuan Akal
Islam memberi kedudukan yang sangat tinggi terhadap akal manusia,hal ini dapat dilihat dari beberapa ayat Al-Qur’an. Pengetahuan melalui akal disebut dengan pengetahuan “Akli” pengetahuan “Naqli” akal dengan indra dalam kaitanya dengan pengetahuan yang laiunnya tidak dapat di pisahkan. Aktipitas akal juga disebut berfikir, berfikir merupakan ciri khas yang dimiliki oleh manusia sebagai mahluk yang palin tinggi drajatnya di muka bumi ini. Akal dalam Islam merupakan kaitan dari tiga unsure, yakni Fikiran, Perasaan, dan Kemauan. Yang dalam pengertian biasa fikiran itu terdapat pada otak, sedangkan perasaan terdapat pada indra dan kemauan terdapat dalam jiwa. Ketiga komponon diatas satu dengan yang lainnya tidak dapt dipisahkan, karena jika terpisah maka di katakana tidak berfungsi sebagai akal.
4.Pengalaman
Pengalaman didalam metode obsevasi melip[uti pengalamam indrawi seperti: melihat, mendengar, menyentuh, meraba membawa sesuatu , juga didalamnya termasuk membawa kita sadar, berada dalam situasi yang bermakna dengan berbagai fakta yang saling berhubungan.
B. Pengertian dan Perbedaan Antara Pengetahuan, ILmu dan Filsafat
1. Pengetahuan adalah hasil dari proses usaha manusia untuk tahu. untuk mengetahui hasil suatu pekerjaan harus tahu dari padanya: kenal, sadar, insf, mengerti dan pandai. Pengetahuan itu semua milik atau isi pikiran untuk kebenaran dan pengetahuan.
2. ILmu adalah suatu sistim dari berbagai pengetahaun yang masing-masing suatu lapangan pengalamam tertentu, atau kumpulan penetahuan yang merupakan kesatuan yang sistimatis dan memberikan penjelasan yang dapat di pertanggungjawabkan dengan menunjukan sebab-sebab hal kejadian iti.
3. Filsafat adalah di jabarkan dari perkataan “philosofhia” kata philos berarti cinta dan sophos berarti keijaksanaan / pengetahuan yang mendalam. Perkataan ini berasal dari bahasa Yunani. Dapat disimpulkan: Cinta akan kebijaksanaan untuk mecari suatu kebenaran yang hakiki. Apabila kita berbicara tentang kebijaksanaan maka bukan hanya orang terpelajar atau yang ahli dalam salah satu lapangan ilmu pengetahuan saja yang dapat di sebut bijaksana. Seseorang yangmengerti bayak hal atau ahli ilmu pengetahuan, belum tentu orang yang bijaksana.








EPISTIMOLOGI ISLAM :
BEBERAPA PRINSIP DASAR
Oleh: Isnawati

Resume

Kajian Islam sebagai pedoman hidup manusia telah menjadi bagian yang terus- menerus dilakukan dengan berbagai metode dan pendekatan. Banyak metode dan pendekatan yang menjelasakan nilai-nilai Universal yang terkandung didalan Islam. Islam sebagai ilmu dan pengetahuan, karena merupakan integral dari kehidupan manusia yang tidak terbantahkan lagi. Namun dalam memahami Islam sebagai ilmu dan pengetahuan, teryata kita harus memadukan Islam dengan fisafat. Hal ini sangat penting karena di dalam kajian filsafat, akan membuktikan kebenaran-kebanaran yang dimiliki oleh Islam
1.Islam
Pengertian Islam berasal dari bahasa Arab dalam bentuk isim masdhar yaitu salima dalam bentuk fi`il madhi aslama adalah selamat dan sentosa, yang artinya selamat, damai, sejahtera, patuh, tunduk, taat, berserah diri dan memeliharanya untuk menjalankan apa yang termuat didalamnya, agar selamat dan sentosa dalam beragama yang kita yakini. Dan Islam adalah Agama yang di wahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw. Untuk disampaikan kepada umat manusia hingga akhir zaman. Orang yang beragama Islam yang menegakkan segala perintahnya dan meninggalkan segala larangannya disebut muslim, adapun jika seseorang muslim, yang disebut sebagai penganut Islam itu telah berbuat, bertingkah-laku dan berprinsif sesuai dengan tuntutan Islam disebut ia sebgai Islami.
Islam yang bersumberkan Al-Qur`an dan Hadis memberikan apresiasi yang sangat tinggi dan luas terhadap kedudukan akal dan memberikan spirit kuat terhadap pengembangan ilmu, bahkan dijelaskan dalam QS. Al-Mujadalah: 11. Menempatkan kedudukan akal dalam bentuk setara dengan Iman. Karena Al-Qur`an itu bisa dikaji dengan pendakatan ilmiah, namun Al-Qur`an itu tidak ilmiah, karena kata ilmiah berarti sesuatu yang dihasilkan dari produk akal pikiran.
2. Ontologis.
Manusia adalah ciptaan Allah SWT yang didalam dirinya di beri kelengkapan-kelengkapan psikologis dan fisik yang memiliki kecendrungan kearah yang baik dan yang buruk. Dalam uraian tentang difinisi filsafat ialah segala sesuatu, meliputi kesemestaan yang amat luas dan tak terbatas objekya.
Kata ontology berasal dari bahasa Yunani, yaitu “On” yang artinya being dan logos artinya teori. Jadi ontology adalah teori tentang keberadaan sebagai keberadaan. Secara garis besar ontologi membedakan ada itu antara: ada mutlak, ada terbatas, ada umum dan ada khssus, karena sesuatu dipandang dalam kedaan yang wajar, sebelum manusia menelidiki yang lain manusia berusaha mengerti hakekat sesuatu.
3. Sumber-Sumber Pengetahuan
Ilmu logika yang bersangkutan dengan pengetahuan hubungan antara sesuatu dengan sesuatu, yang biasa disebut dengan kepercayaan, penilaian dan pembenaran. Salah satu perdebatan yang muncul dikalagan filosof adalah, sekitar pengetahuan manusia mengenai pertayaan-pertayaan tentang bagaimana pengetahuan itu muncul dalam diri manusia, bagaiman intelektualnya tercipta, apakah sumber yang memberikan pengetahuan itu fitri atau perolehan. Bersumber dari nash Al-Qur`an maka pengetahuan itu terbagi dua: pertama pengetahuan yang bersumber dari eksternal, yaitu pengetahuan yang sampai pada pemikiran melalui bantuan dari alam luar. Yang kedua pengetahuan yang bersumber dari potensi bawaan, hanya meresponi pengetahuan yang datang dan mewarnai pengetahuan itu, sesuai dengan fitrah manusia.
4. Cara Mempelajari Islam (kajian Epistemologis)
Setiap objek kajian keilmuan menuntut suatu metode yang sesuai dengan objek ilmu
Tersebut. Tidak semua ilmu pengetahuan dapat disebut ilmu sebab, ilmu merupakan pengetahuan cara untuk


mendapatkanya harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang di susun secara konsesten dan kebenaranya telah teruji secara empiris. ILmu yang di kembangkan dalam Islan menggunakan metode Ijtihat yaitu mengunakan segenap daya upaya akal dan potensi manusiawi lainya untuk mencari kebenaran dan mengambil kebijakan dengan bimbingan Al-Qur`an dan Sunnah Rasullah Saw. Hingga melahirkan ide-ide funsional yang benar.
Kajian epistimologi dalam Islam mengandung aspek apa yang kita ketuhui mengenai tiori dan isi ilmu serta bagaimana cara mengetahuinya artinya sesuatu yang berhubungan dengan metodologi. Kriteria kebenaran epistimologi dalam Islam ada tiga: teori Korespondensi (kebenara diungkapkan sesuai dengan fakta-fakta yang ada ) teori Konsistensi (kebenaran di tegaskan atas putusan yang baru dan telah di ketahui berhubungan dengan kebenaran sebelumnya) teori Prakmatis ( dengan prinsip bahwa kebenaran adalah jika bermamfaat.
5. Peran Dan Fungsi Pengetahuan Dalam Islam (kajian Aksiologi)
Jika berbicara mengenai peran dan fungsi pengetahuan, maka sebenarnya sama dengan kita berbicara mengenai manfaat atau tujuan dari sesuatu kegiatan yang telah dilaksanakan, bahawa setiap orang tidak akan melakukan suatu hal apabila tidak ada tujuan, target ataupun manfaat yang bisa diambil dari kegiatan tersebut.
Sebahagian pendapat bahwa ilmu pengetahuan itu merupakan tujuan pokok bagi orang yang menekuninya, sehingga timbul ungkapan “Ilmu untuk ilmu pengetahuan”. Sebagian lagi cenderung mengatakan bahwa pengetahuan bertujuan untuk menjadi alat dalam menambah kesenagan manusia dalam kehidupan yang terbatas dimuka bumi ini. Sedangakan sebagian lagi cenderung menjadikan pengetahuan, sebagai alat untuk meningkatkan kebudayaan dan kemajuan bagi umat manusia secara keseluruhan.
Ilmu pengetahuan dikatakan bermanfaat apabila:

1. Mendekatkan pada kebenaran Allah SWT, bukan menjauhkannya
2. Dapat membantu umat dalam merealisasikan tujuan-tujuannya
3. Dapat memberi pedoman sesama manusia
4. Dapat memberi solusi dalam segala hal
5. Berpikir kreatif dalam menanggapi suatu permasalahan
6. Bijaksanan dan beri’jtihat




STUDI ISLAM DALAM PETA PENGETAHUAN ILMIAH

Oleh: Isnawati



Resume


1. Klasifikasi Pengetahuan Manusia


Ketika manusia lahir kedunia, ia sama sekali tidak mengetahui apaun , tidak berilmu sedikitpun dalam QS. An-Nahl / 16: 78.Manusia melalui pengalam dan upayanya kemudian memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang tersusun sistimatis dengan metodologinya yang jelas dan meningkat menjadi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan inilah yang mengangkat derajat manusia, baik secara individu maupun kelompok. Kemajuan dan kemunduran manusia terkait dengan kemampuan mereka menguasai dan memamfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi adalah kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan.
Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan dan manusia yang memiliki ilmu pengetahuanmenjadi dihormati. Ada berbagai sarana dan sumber, dan dengan dari mana manusia mendapatkan pengetahuan tersebut, diantaranya melalui indra (hawas,hati-Qalbu, karsa-budi, af`idah) dan akal penalaran, QS. An-Nahl: 179
2. Ilmu-Ilmu Alam
Ilmu-ilmu kealaman (nature science), merupakan ilmu mengkaji gejala-gejala alam yang bersipat fisik dan dapat diindra dengan pengamatan yang dilakukan secara langsung dan hasilnya dapat diuji berulang-ulang. Ciri-ciri dan cara kerja ilmu kealaman antara lain adalah pengamatan dilakukan secara berulang-ulang, terdapat hubungan antara teori dan pengamatan dan kemampuan meramalkan gejala alam yang lain. Yang termasuk kedalam kelompok ilmu-ilmu kealaman antara lain adalah: Fisika, Biologi, Geologi dan Astronomi dan lainnya.

3. Ilmu-ilmu Sosial
Ilmu-ilmu sosial (social science) bekerja dengan mengamati fenomena-fenomena kehidupan manusia dalam kehidupan sosialnya, mengkaji motif-motif dan makna yang terkandung dalam gejala sosial dan prilaku manusia dalam hubungannya dengan masyarakat. Yang termasuk kedalam ilmu-ilmu sosial adalah: Agama, antropologi, sosiologi, psikologi, ekonomi, politik dan lain-lain.
Islamicing Social Sciences menetapkan lima sasaran

b. Mengetahui khazanah Islam.
c. Menentukan relevansi Islam yang spesifik pada seetiap bidang ilmu pengetahuan moderen
d.Mencari cara-cara untuk melakukan sinetesa kreatif antara khazanah Islam dan khazanah ilmu pengetahuan mederen.
e.Mengerahkan pemikiran Islam kearah lintasan-lintasan yang mengarah pada pemenuhan pola ilmu Allah.
3. Ilmu-Ilmu Humaniora.
Ilmu-ilmu humaniora adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari dan mengaji tentang hal-hal yang diciptakan manusia dan menjadi perhatian manusia seperti: agama, filsafat, sejarah, kesenian dan lain-lain. Dan kajiannya terhadap karya-karaya klasikIslam perlu digalakkan kembali namun bukan hanya berupa redeskripsi untuk menemukan esensi karya-karya tersebut untuk diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Dalam bidang filsafat minsalnya, Hasan Langgulung melakukan penggalian ulang terhadap karya-karya filsafat Ibnu Sina untuk diterapkan dalam bidang ilmu pendidikan. Ia menyatakan bahwa filsafat Ibnu Sina dalam dunia pendidikan yang meliputi:

a.Falsafah pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan arah pendidikan.Memfokoskan tujuannya pada pengembangan akal sebab ia berpendapat bahwa akal merupakan puncak kejadian b. Teori-teori pengetahuan (efistimologi) yang dibukukan dalam Al-Shifa yang merupakan ensiklopedi ilmu pengetahuan yang terpajang yang pernah dibuatnya.
c. Pelaksanaan pendidikan, dengan konsep penelitian yang di kemukakan bersifat menyeluruh, meliputi dunia dan akherat.
Dalam bidang kesusastraan Syeh Sajjad Husin dan Syeh Ali Ashraf dalam menyoroti penyebaran Bahasa Arab pada warga muslim diseluruh dunia, khususnya urgensi penguasaan Bahasa Arab bagi kalangan ilmuan muslim. Ia menyatakan bahwa gejala mutakhir yang muncul dikawasan muslim ketersaingan umat di berbagai Negara didunia dari warisan kebudayaan dan keilmuan Islam yang disebabkan ketiadaan penguasaan Bahasa Arab. Akibatnya umat Islam dan khususnya para ilmuan Islam sangat bergantung pada terjemahan-terjemahan yanmg akibatnya mereka hanya mendapatkan pengenalan selintas dalam khazanah Islam.

4. Pendekatan Inter Disiplin Dan Multi Disiplin Dalam Kajian Islam.
Pendekatan inter disiplin dalam kajian Islam adalah penguasaan antara ilmu-ilmu pokok dengan ilmu-ilmu cabang yang erat kaitannya seperti Ibnu Khaldun yang menguasai bukan hanya dalam bidang sejarah namun juga dalam bidang sosiologi, demikian juga ulama-ulama kalam yaitu antara ilmu kalam dan filsafah dan seterusnya. Pendekatan dalam bidang ilmu ini diaktualisasikan kembali sehingga para ilmuan tidak hanya menghususkan keilmuannya dan tidak hanya pada satu disiplin ilmu.



















STUDI AL-QUR’AN
Oleh: Isnawati
Resume
A. Pengertian Al-qur’an, Wahyu dan Ilham.
Sesuai dengan namnya, Al-Qur’an adalah kitab suci yang menjadi bacaan bagi manusia untuk memperoleh petunjuk-petunjuk Tuhan. Telah diyakini oleh orang yang beriman bahwa Al-Qur’an adalah meliputi segala sesuatu maksudnya ia memberikan dasar-dasar etik untuk semua persoalan yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia secara menyeluruh sehingga dengan dasar itu, orang mukmin menjadikannya segala landasan hidup dan mengembangkan pesan-pesan untuk keperlukan hukum praktis.
Karena Al-Qur’an adalah yang diturunkan oleh Allah Swt, maka Al-qur’an juga disebut sebagai wahyu yang berarti pemberitahuan secara samar dan cepat dari Allah kepada Nabi-Nya tentang hukum-hukum atau perintah-Nya maupunn kebenaran-kebenaran lain yang menimbulakan keyakinan kepada Nabi yang bersangkutan bahwa apa yang diterimanya adalah betul-betul dari Allah,
Sedangkan Ilham adalah : Pengetahuan atau perasaan halus yang meyakinkan jiwa dan yang mendorongnya untuk mengetahui darimana datangnya. Kajian terhadap Al-Qur’an pada awal islam dilakukan ketika Nabi Muhammad memerintahkan kepada sahabatnya untuk menghafal dan menulisnya serta mengumpulkannya. Ketika Nabi meninggal dan terjadilah perang yamamah yang mengakibatkan banyaknya penghafal Al-Qur’an meninggal maka atas inisiatif Umar Bin Khattab, beliau meminta kepada Abu Bakar agar segera mengumpulkan dan menulis Al-Qur’an dalam sebuah mushab.
B. Kajian Al-Qur’an Di Kalangan Muslim Awal
Kajian Al-qur’an di kalangan Muslim Awal dapat dikelompokkan dalam beberapa masa :
Peratama : Pada masa Rasulullah, Kedua : Abu Bakar Shiddiq, Ketiga : Usman Bin Affan Keempat : sesudah Usman Bin Affan. Yang kesemuanya mempunyai ragam dan cara tertentu dalam pengumpulan dan lainnya. Namun pada Usman Bin Affan banyak ragam Al-Qur’an itu sehingga untuk menyeragamkannya dilakukan penulisan kembali dengan menyalin suhub-suhub Al-Qur’an yang disimpulkan oleh Hafsah karena milikinya dianggap naskah Al-Qur’an standart.
C. Pendekatan Dalam Studi Al-Qur’an.
Pendekatan utama dalam memahami Al-Qur’an adalah pendekatan bahasa, pendekatan konteks antara kata dengan ayat dan pendekatan bersifat penemuan ilmiah. Untuk melakukan usaha tersebut memerlukan alat yaitu Ulumul qur’an, Asbabun Nuzul, Maki/Madani, Tarikh Al-Qur’an, Lughah wal Qiraah.
C. Metode Penafsiran Al-qur’an.
Dalam memahami metode penafsiran Al-Qur’an ada beberapa pendekatan metode yang dapat dilakukan diantaranya :
- Metode Tahlili (Analitis)
- Metode Ijmali (Global/Universal)
- Metode Muqarrin (Komparasi)
- Metode Maudhu’I (Tematis)
D. Perkembangan Mutkhir dalam studi Al-qur’an.
Ada beberapa hal juga terjadi dalam perkembangan studi Islam yang melahirkan bermacam bidang dalam studi Al-qur’an anatara lain : Ilmu tilwah Al-qur’an, Ilmu tajwid Al-qur’an, ilmu tawarikah an Nuzul Al-qur’an, IIlmu mawathin an nusul Al-qur’an, Ilmu asbabun nuzul Al-qur’an, Ilmu gharib Al-qur’an, Ilmu I’rab Al-qur’an, ilmu wujuh wa an-nazhar’ir Al-qur’an, Ilmu ma’rifat Al-qur’an, Ilmu nasikh wa mansukh Al-qur’an, Ilmu bada’ul Al-qur’an, Ilmu I’faz Al-qur’an, Ilmu tasasub Al-qur’an, Ilmu Al-Qur’an, Ilmu amsal Al-qur’an, Ilmu jadal Al-qur’an.
































STUDI HADIST
Oleh:



Resume

Hadist secara etimologi berarti komunikasi, cerita, percakapan, baik dalam konteks agama atau duniawi atau dalam konteks sejarah atau pristiwa dan kejadian aktual. Dari sudut istilah As-Sunnah yang artinya segala sabda dan perbuatan Nabi Muhammad Saw. Pada umumnya ulama Hadist memberi pengertian bahwa, segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw, dari perkataan, perbuatan, taqrir ataupun sifat.
Sedangkan As-Sunnah adalah sebagai kehidupan Nabi yang bersipat lebih luas. Jika hadist dibatasi pada riwayat kehidupan Nabi, maka As-Sunnah pada model kehidupan Nabi. Al-khabar adalah berita yang bersumber dan disampaikan oleh Rasul Allah, Al-Atsar adalah sama dengan Al-Hadist atau apa-apa yang disandarkan atau datang dari perkataan dan perbuatan sahabat dan tabiin. Sedangkan As-Sanad adalah silsilah atau rentetan perawi Hadist yang meriwayatkan satu matan Hadist sampai kepada sumber aslinya. Al-Matan dapat dipahami sebagai lafadz Hadist yang diriwayatkan oleh perawi Hadist
Karena Al-hadist merupakan sumber hukum setelah Al-Qur’an maka kedudukan dan fungsinya sangat menentukan putusan hukum praktis. Salah satu sumber hukum setelah Al-Qur’an maka kedudukan dan fungsinya sangat menentukan dalam putusan hukum praktis. Salah satu fungsinya adalah penjelas dari yang terdapat dalam Al-Qur’an, dan disamping itu mempunyai otoritas pembuat atau penetap hukum bagi masyarakat, oleh karena itu pemahaman terhadap hadist haruslah tepat dan benar.
Didalam studi hadist diperlukan seperangkat ilmu yaitu : tahammul hadist yaitu menjelaskan tentang cara-cara yang ditempuh oleh para sahabat Rasul dalam menerima hadist dari Rasul, sekaligus menyampaikan kepada para sahabat yang lain. Dan selain itu juga Ilmu Tarikh Ar Ruwat, Ilmu Al Jar Wa Ta’dil, Ilmu Gharib Al Hadist, Ilmu Mushtalakhul Hadist, Ilmu Illah Al Hadist Dan Ilmu Mushalal Al Hadist atau Ulmul Hadist.
Secara garis besar objek bahasan ulmul hadist dapat dibagi menjadi dua bagian : yaiatu :
a. Ilmu Hadist Riwayah, yaitu ilmu hadist yang khusus berhubungan dengan riwayah, yang meliputi pemindahan segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammaf berupa perkataan, perbuatan, takrir, sifat jasmaniah atau tingkah laku dengan cara yang diteliti dan terperinci. Dengan kata lain ilmu ini adalah khusus membahas tata cara periwayatan, pemeliharaan dan penulisan/pembukuan hadist.
b. Ilmu Hadist Dirayah, yaitu yang bertujuan untuk mengetahui hakikat riwayat, syarat-syarat, macam-macam dan hukumnya, keadaan para perawi, syarat mereka, jenis yang diriwayatkan dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Sehingga dengan alat Bantu ilmu tersebut dapat ditetapkan hadist yang makmul dan hadist mardud.






STUDI HUKUM ISLAM


Oleh : Isnawati



Resume


Hukum Islam bersumber dari Al-Qur’an dan hadist. Tetapi jika ada sesuatu permasalahan yang tidak didapati hukumnya di dalam Al-Qur’an dan hadist perlu dilakukan ijtihad.
Ijtihad merupakan cara yang harus ditempuh dalam penerapan hukum Islam sejalan dengan perkembanagan dinamika masyarakat. Hal ini telah diantisipasi oleh ulama salaf dan para mujtahid menghadapi perubahan sosial yang terjadi di zamannya masing-masing. Berbagai metode yang pada dasarnya mengacu pada dalil rasional seperti: Qiyas, Ihtisan, Istishab, dan lainnya yang tetap mempunyai keterkaitan kuat dengan sumber hukum Islam.
Syari’ah secara etimologi berarti pengaturan atau undang-undang yaitu peraturan-peraturan mengenai tingkah laku, harus dipatuhi dan dilaksanakan sebagai mana mestinya.
Dan secara terminology berarti jalan hidup muslim, yang memuat ketetapan-ketetapan Allah, dan ketentuan Rasul-Nya, bauik berupa larangan maupun suruhan, meliputi seluruh asfek hidup dan kehidupan manusia. Pengertian syari’ah dalam Al-Qur’an Al-Jatsiyah: 18.
Fiqh berasal dari pukaha, yafqahu-fiqhan. Secara etimologi berarti paham, pengertian fiqh ini tercantum dalam Qur’an Taubah: 87. Secara terminology adalah: Mengetahui hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliyah yang dikaji dari dalil-dalil yang terperinci. Dapat dipahami fiqh adalah upaya sungguh-sungguh dari para mujtahid untuk menggali hukum syara’ sehingga dapat di amalkan umat Islam, dan fiqh bersifat ijtihadiyah. Oleh sebab itu pemahaman terhadap hukum syara’ tersebut mengalami perubahan dan perkembangan situasi dan kondisi umat itu sendiri
Ushul fiqh menurut syari’ah adalah ilmu tentang kaedah-kaedah dan pembahasan yang menghasilkan hukum-hukum syara’yang praktis dari dalil-dalil yang terperinci, atau kumpulan kaedah-kaedah dan pembahasan yang menghasilkan hukum syara’ yang amaliyah dari dalail-dalail tafsily. Juga Ushul fiqh adalah kaedah-kaedah yang menyampaikan kepada istimbat hukum.
Mazhab adalah huluan atau aliran mengenai hukum fiqh yang menjadi ikutan umat Islam (yang dikenal empat majhab yaitu: Hanafi, Maliki, Hambali, Syafi’i) bermazhab dan mempunyi mazhab, mengikuti mazhab
Fatwa adalah bentuk mufrad, dan jamaknya fatwa yaitu pandangan atau tafsisran
Resmi dibidang hukum yang diberikan oleh seseorang mufti.
Fatwa secara etimologi berarti menjelaskan hukum. Secara tirminologi fatwa adalah pendapat atau keputusan tentang suatu hukum syari’at yang dibuat oleh orang yang berwenang tentang hal tersebut, Orang yang memberi fatwa disebut mufti yaitu orang yang diserahkan kepadanya masalah-masalah yang berkaitatan dengan syariat.
Fatwa juga merupakan petuah atau nasehat, jawaban atas pertanyaan yang berkenaan dengan hukum, jama’ fatwa. Dalam ilmu ushul fiqh berarti pendapat yang dikemukan seorang mujtahid atau seorang fiqh sebagai jawaban yang diajukan oleh peminta fatwa dalam suatu kasus yang sifatnya tidak mengikat . Pihak yang menerima fatwa tersebut bisa pribadi, dan bisa kelompok masyarakat. Bila fatwa yang salah bisa berakibat menyesatkan umat.
Qoul yaitu perkataan. Yang dimaksud adalah perkataan para sahabat Nabi yang dapat dijadikan sebagai dasar hukum.













STUDI FILSAFAT ISLAM

Oleh: Isnawati
Nim: 06 PEDI 959


Resume

1.Filsafah

Kata-kata filsafat diucapakan falsafah diambil dari bahasa Arab, orang Arab sendiri mengambil dari bahasa Yunani : Philosophia, dalam bahasa Yunani kata filosafia itu merupakan kata majemuk yang terdiri dari Fhilo yang berarti mencintai dan Shopia berarti kebijaksanaan. Fhilosofhia adalah: Cinta akan kebijaksanaan (Inggris: Love of Wisdom) (Arab: Muhibbun al-Hikmah). Orang berfilsafat atua orang yang melakukan filsafat disebut ‘filosuf’ artinya pencinta akan kebijaksanaan
Filusof Heroklatios (540-480 SM), sedah memakai kata filsafat untuk menerangkan hanya Tuhan yang mengetahui hikmah dan pemilik hikmah. Manusi harus puas dengan tugasnya di dunia, sebagai pencari pencinta hikmah. Kemudian Socrates (470-399 SM), memberi filsafat dengan tegas, yaitu pengetahuan sejati, terutama untuk menentang kaum sopis yang menamakan dirinya para bijaksana (sofos). Ia bersama pengikutnya menyadari bukan orang yang sudah bijaksana, tetapi hanya mencintai kebikjaksanaan dan berusaha mencarinya.
2. Hikmah
Kata hikmah dalam Al-Qur’an disebutkan 20 kali, tidak termasuk kata sintaksisnya, seperti hakim. Makna Al-Hikmah selanjutnya disebut Hikmah, dalam bahasa Arab berartyi besi kekang atau besi pengekang hewan. Yakni pengendali. Hikmah dalam pengertian bahasa, kemudian digunakan sehingga hikmah diartikan sebagai sesuatu yang dapat mengendalaikan manusia agar tidak bertindak dan melakukan perbuatan yang keji, prilaku dan budi pekerti yang rendah, tercela dan tidak terpuji.
Ibnu Manjzur, penulis kamus standar dalam bahasa Arab, Lisan al- Arabi, menjelasakan bahawa istilah hikmah terkandung makna ketelitian dan kecermatan dalam ilmu dan amal yang dilakuka.

3. Pendekatan-pendekatan Dalam Studi Filsafat Islam
a. Pendekatan Historik adalah: memberi jalan kepada manusia merancang hari depan kehidupan manusia yang lebih manusiawi, yang cerdas,kritis, sebagai bimbing dalam proses penyelamatan masyarakat dari suatu krisis, menuju darul Islam.
b. Pendidikan Doktrinal adalah: Sebagai pengetahuan yang mendalam menjelaskan tentang ayat-ayat-Nya mesucikan mereka mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah.
c. Pendekatan Metodik adalah: Selalu mengarahkan kepada pola berfikir yang terarah, dengan metode-metode tertantu.
d. Pendekatan Organig adalah: Metode secara rasio atau pikiran bekerja analilsis, hidup dari fakta-fakta melalui pernyataan dengan realitas dan spiritual.
e. Pendekatan Teologik adalah: Ilmu pada hakekeatnya mempunyai tujuan, bahwa ilmu sebagai perwujudan kebutuhan manusia yang terungkap dalam suatu kepentingan fundamental.
4. Fisafat dan Agama
Hakikat manusia adalah mahkluk pencari kebenaran. Ada tiga jalan untuk mencari, menghampiri dan menemukan kebenaran: Ilmu, Filsafat, dan Agama. Ketiga cara ini mempunyai ciri tersendiri dalam mencari, menghampiri dan menemukan kebenaran itu. Filsafat dapat berfikir menuntut pengetahuan untuk memahami bersifat tenang dalam pekerjaan. Dan Agama berarti mengabdikan diri, sesuai dengan aturan-aturan agama itu sendiri, agama menurut pengetahuan untuk beribadat yang terutama merupakan hubungan manusia dengan Tuhan.












STUDI TEOLOGI ISLAM
Oleh : Isnawati
Nim: 06 PEDI 959


Resume

Sebagaimana diketahui, bahwa teologi berasal dari perkataan “theos” artinya Tuhan dan “logos” artinya ilmu. Jadi Teologi adalah: Ilmu tentang Tuhan atau Ilmu Ketuhanan membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Setiap orang yang inggin menyelami seluk beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajarai teologi akan memberikan seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan yang kuat.
Bahasan tentang pengertian teologi, ilmu tauhid, teologi. Kemudian asala mula dan perkembangan ilmu kalam , Islam sebagai sumber kepercayaan dan keyakinan, pendekatan dalam memahami agama dikaitkan dengan teologi dan kontribusi pendekatan atau kegunaanya berdasarkan teologi dalam kajian Islam.
1. Ilmu Tauhid, Menurut Muhammad Abduh: Ilmu Tauhid ilmu yang membicarakan tentang wujud Tuhan, sifat-sifat yang mesti ada padanya, sifat-sifat yang tidak mesti adanya padanya, membicarakan tentang Rasul-rasul.Dan Tauhid adalah: Percaya tentang Wujud Tuhan yang maha Esa, yang tidak ada baginya, baik zat, sifat maupun perbuatannya, yang mengutus utusan-utusan untuk memberi petunjuk kepada alam dan umat manusia kepada jalan kebaikan.
2. Ilmu Kalam, Menurut Ibnu Khaldun adalah: Suatu ilmu yang mengandung hujjah-hujjah tentang aqidah Islam berdasarkan dalil-dalil akal dan menolak (paham) pembawa bid’ah yang menyimpang dari aqidah maazhab ulama shalaf dan ahlul sunnah. Menurut Al-Tahanumi ilmu kalam adalah: Suatu ilmu yang dapat menetapkan kebenaran (keberanian) aqidah agama terhadap orang lain dengan memgemukakan hujjah-hujjah dan menolak berbagai kesamaran (kekeliruan). Kalam dapat disimpulkan:
a. Ilmu kalam mempergunakan penalaran dalam penetapan kebenaran ajaran aqidah yang telah digariskan dalam wahyu Allah seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an dan hadist mutawatir.
b. Bahwa tugas ilmu kalam adalah untuk menolak paham-paham yang keliru atau ajaran-ajaran yang bid’ah yang menyimpang dari aqidah yang benar dengan memberikan dalil-dlail yang rasional atau kesahihan aqidah Islam.
3. Ushul al-din ilmu ini disebut juga dengan ilmu Usuluddin karena objek bahasan utamanya adalah pokok-pokok agama yang merupakan masalah esensial dalam ajaran Islam, sebutan lain untuk ilmu ini juga disebut dengan ilmu aqidah atau ilmu aqo’id yang berarti ilmu yang mempelajari tentang hal-hal yang menetapkan agama dengan dalil-dalil yang dapat diyakini kebenarannya. Abu Mansyur Al-Maturridi sebagai tokoh teologi dari kalangan Sunni menyebutnya dengan fiqih Al-Akbar dalam buku beliau Al-Fiqh Al-Akbar Risalah fi al-aqid.
Kepercayaan sesuatu agama merupakan pokok dasar dalam setiap diri manusia. Akan tetapi gaya ushlub bahasa ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist tersebut lebih mendekati kepada gaya percakapan, memberi petunjuk dan nasehat , dari pada gaya penguraian secara ilmiyah. Kita tidak dapat menyatakan bahwa Al-Qur’an dan hadist Nabi berisi uraian yang teratur dan sisitimatis tentang soal kepercayaan dan meletakkan metode yang lengkap serta mencakup untuk ilmu tauhid (teologi) Islam. Memang hal ini bukan menjadi tugas Rasul-Rasul dan mereka yang bekerja didalam perbaikan ummat,
Dengan demikian, maka teologi Islam belum dikenal pada masa Nabi Muhammad saw dan sahabatnya, melainkan baru dikenal pada masa kemudian. Setelah ilmu-ilmu ke-Islaman satu-persatu mulai muncul dan setelah orang banyak membicarakan soal-soal gaib atau metafisika. Dalam pada itu, teologi Islam tidak sekaligus timbul, dan pada masa-masa pertama berdirinya belum jelas dasar-dasarnya. Baru setelah mulai beberapa fase, maka ia mengenal beberapa golongan dan aliran, setelah kaum muslimin selama kurang lebih tiga abad lamanya melakukan perdebatan. Baik antara sesama mereka maupun dengan lawan-lawannya dan pemeluk agama-agama lain.
Maka ahkhirnya kaum muslimin sampai kepada suatu ilmu yang menjelaskan dasar-dasar aqidahnya dan juga perincian-perinciannya. Selama masa itu mereka terbantu oleh berbagai factor, baik factor keislaman atau bukan, factor-faktor politik maupun sosial. Sebagai mana dijelaskan dalam Al-Qur’an sendiri bahwasannya kitab utama agama Islam.
STUDI TASAWUF
Oleh: Isnawati
Nim: 06 PEDI 959


Resume
Pembahasan tentang tasawuf sangat variatif, keragaman ini lebih disebabkan oleh persepsi tentang asal munculnya kata tasawuf itu sendiri disamping prilaku atau keadaan kaum sufi pada praktekkehidupan mereka. Jika dilihat dari segi etimologi maka kata tasawuf merupakan bentuk masdar dari ‘tasawwafa’ yang telah mengalami derivasi dari kat ‘safa’ yang berarti labisa-al suf yang berarti kain wol.
Dari segi kebahasaan (liguistik) terdapat sejumlah istilah tasawuf adalah:
1. Kata saff yang artinya barisan dalam shalat berjama’ah. Alasannya karma iman yang kuat, jiwa yang bersih dan selalu memilih saf yang terdepan dalam shalat berjama’ah.
2. Kata saffah artinya pelana yang dipergunakan oleh para sahabat Nabi yang miskin, untuk bantal tidur diatas bangku batu disamping masjid Nabawi. Ada pula yang mengartikan saffah suatu kamar di samping masjid Nabawi disediakan untuk orang yang ikut pindah bersama Nabi dari Mekah ke Madinah dan penghuni saffah ini disebut ahli suffah, mereka mempunyai pendiran yang teguh dan tekun beribadah. Mempunyai sifat-sifat terpuji, kesederhanaan dan mencurahkan segala jiwa raganya kepada Allah.
Kata ‘sufi’ berasal dari bahasa Yunani “shopos, sifia” yang artinya Hikmah, menurut ahlul sufi adalah pencari hikmah atau ilmu hakikat. Dari istilah Arab yaitu kata: “al-saffa” (jernih dan bersih) dihubungkan dengan kebiasaan sufi yang senantiasa inggin suci, bersih, jauh dari segala bentuk yang diharamkan dan kotor supaya dapat lebih dekat dengan sang pencipta. Kata al-suffah (serambi). Hal ini dihubungkan dengan kebiasaan orang-orang mukmin yang miskin yang selalu mengambil tempat tinggal di serambi masjid untuk meningkatkan amal dan menyempurnakan bati dan jiwa, kata al-siffah (sifat-sifat), kata al- saf (barisan dalam shalat) hal ini dihubungkan dengan kebiasaan orang-orang sufi yang selalu mengambil tempat dibarisan pertama didalam shalat jama’ah di masjid. Kata al- suff (bulu kambing).
Hal ini dihubungkan dengan kebiasaan para masa lalu yang selalu memakai kain wol yang terbuat dari bulu Domba sebagai lambang prisnsif kesederhanaan. Yang sangat berhubungan sufi dan tasawuf, namun asal perkataan sufi kata suff keduanya ada hubungan kolerasi yakni antara jenis pakain yang sederhana dengan kebersahajaan hidup para sufi.
Pengertian Thriqah dari segi bahasa tarikat berasal dari bahasa Arab Thariqat yang artinya jalan, keadaan, aliran dalam garis sesuatu. Menurut Mustafa Zahri Thariqat adalah jalan atau petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dicontohkan Nabi Muhammad dan dikerjakan oleh sahabat-sahabatnya, turun-temurun sampai kepada guru secara berantai sampai oada masa kini.
Sumber Tasawuf, permulaan jalan dan perkembangan Tasawuf adalah akibat pengaruh ajaran Al-Qur’an dan sunnah Nabi setelah beliau membaca ayat-ayat suci dan hadist Nabi, mencontoh prilaku Nabi dan sahabatnya serta pengaruh tuntunan agama Islam pada umumnya diantar ayat-ayat tersebut adalah:
1. Q.S. Ali Imran: 31. “ Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah ikutilah
Aku. Niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha pengampun lagi maha penyang”.
2. Q.S. Al-Ahzab: 41. Hai oaring-orang yang beriman, berzikirlah dengan menyebut
Nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.
a. Bersumberkan Hadist Rasulullah: “Barang siapa yang mengetahui dirinya, maka ia telah mengetahui Tuhannya” Dengan kata lain carilah Tuhanmu dan dirimu sendiri.
b. Hadist Kudsi: Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian aku inggin dikenal, maka Kuciptakanlah mahluk dan mereka mengenalku, menurut hadist ini Tuhan dapat dikenal melalui mahluknya tetapi pengetahuan yang lebih tinggi yang lebih tinggi ialah mengetahui Tuhan melalui dirinya.

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>