Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 29 April 2011

Studi Teologi Islam

/ On : 13.28/ Thank you for visiting my small blog here.
Studi Teologi Islam
Oleh: Amri
07 PEDI 1088

A. Pendahuluan
Setiap yang berkeinginan memahami agamanya secara mendalam, tidak dapat menolak urgensi mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan mengokohkan keyakinan yang berdasarkan pada argumentasi atau landasan yang kuat sekaligus mengantisipasi serta mengatasi bentuk-bentuk invasi pemikiran yang bertujuan mendangkalkan atau bahkan menyesatkana keyakinan dari pemahaman yang absah.
Sejarah perkembangan teologi Islam menunjukkan fakta bahwa terdapat lebih dari satu aliran teologi. Ada yang bersifat liberal, ada pula yang bersifat tradisional, dan ada pula yang mempunyai sifat antara keduanya. Corak teologi tersebut merupakan wujud dari dinamika intelektual atau pemahaman yanga kemudian menjadi khasanah ilmu dalam Islam.
Seluruh agama samawi yang diturunkan oleh Allah SWT di muka bumi ini menempatkan teologi pada posisi sentral. Oleh karenanya para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah sebagai pengemban risalah mempunyai misi untuk menyampaikan dan menanamkan teologi kapeda umatnya.
Misi risalah yang seperti tersebut di atas jugalah yang diemban oleh Nabi Muhammad saw sebagai seorang Nabi dan Rasul yang terakhir yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan Risalah-Nya. Bahkan dari totalitas kehidupan rasul, sebagian besar tugas risalahnya menyampaikan misi sentral tersebut.
Pada masa Rasul sampai dengan masa khalifah Usman Ibn Affan problem teologis di kalangan umat Islam belum muncul. Barulah setelah khalifah yang keempat Ali Ibn Thalib persoalan teologis muncul kepermukaan.Teologi (tauhid) pada masa Rasul belum merupakan ilmu keislaman yang berdiri sendiri. Istilah tersebut baru dikenal jauh setelah beliau wafat, yakni pada abad ke-3 H. Hal itu disebabkan oleh persoalan arbitrase antara Ali dan Muawiyah Ibn Abi Sofyan dan kelompok yang menolak arbitrase tersebut sehingga lambat laun terkristalisasi dalam berbagai bentuk aliran teologi dengan berbagai macam tokoh dan pendekatan masing-masing.
Setiap orang yang berkeinginan memahami agamanya secara mendalam, tidak dapat menolak urgensi mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan mengokohkan keyakinan yang berdasarkan pada argumentasi atau landasan yang kuat sekaligus mengantisipasi serta mengatasi bentuk-bentuk invasi pemikiran yang bertujuan mendangkalkan atau bahkan menyesatkan keyakinan dari pemahaman yang absah.
Sejarah perkembangan teologi Islam menunjukkan fakta bahwa terdapat lebih dari satu aliran teologi. Ada yang bersifat liberal, adapula yang bersifat tradisional, dan adapula yang mempunyai sifat antara keduanya. Corak teologi tersebut merupakan wujud dari dinamika intelektual atau pemahaman yang kemudian menjadi khazanah ilmu dalam Islam. Oleh karena itu sekarang sangat diperlukan menggali kembali nilai-nilai dalam teologi Islam sebagaimana termaktub dalam referensi utamanya, sehingga teologi Islam berkembang tanpa harus kehilangan relevansinya sebab seharusnya teologi bersifat kontekstual dan transedental.
Oleh karena itu sekarang sangat diperlukan menggali kembali nilai-nilai dalam teologi Islam sebagaimana termaktub dalam referensi utamanya, sehingga teologi Islam berkembang tanpa harus kehilangan relevansinya sebab seharusnya teologi bersifat kontekstual dan trasendental.
Apakah sesungguhnya teologi islam tersebut ? Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan kajian teologi Islam tersebut ? Siapa dan bagaimana tokoh yang mengembangkan dan karya-karyanya dengan sejumlah persoalan tersebut akan di kaji dalam makalah ini.
B. Pengertian Istilah-Istilah teologi Islam
Teologi berarti ilmu yang mempelajari tentang ketuhanan serta berbagai masalah yang berkaitan dengannya berdasarkan dalil-dalil yang meyakinkan dan jika dihubungkan dengan prediket Islam, maka teologi Islam berarti ilmu yang mempelajari tentang Tuhan dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya menurut konsepsi Islam.
Ilmu kalam adalah salah satu cabang dari ilmu keislaman yang belakangan ini lebih populer dengan sebutan Teologi Islam. Sehubungan dengan itu dalam tulisan ini istilah teologi Islam akan sering juga dengan menggunakan ilmu kalam.
Di dalam buku-buku Literatur Inggris maupun Prancis ditemukan istilah Theologi, yang berasal dari kata Theos yang artinya Tuhan dan Logos artinya Ilmu, jadi Theologi adalah ilmu tentang Ketuhanan, yaitu yang membicarakan zat Tuhan dari segala seginya dan hubungannya dengan alam.
Dalam Islam ada sejumlah istilah tentang teologi diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Tauhid
Tauhid secara etimologis berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk masdar dari kata Wahhada, yuwahhidu, tauhidan, yang berarti tunggal, satu dan esa. Sedangkan tahid secara terminolgis adalah ilmu yang mengkaji tentang wujud Allah, sifat Allah ada pada-Nya, sifat-sifat yang boleh pada Allah dan sifat-sifat yang mustahil bagi Allah. Juga mengkaji tentang rasul dan Meyakini kerasulan mereka. Hal-hal yang boleh dan terlarang dihubungkan dengan mereka. Sedangkan menurut yang lain menyatakan bahwa tauhid adalah ilmu yang menyelidiki dan mengkaji tentang persoalan yang wajib, jaiz dan mustahil bagi Allah dan para Rasul-Nya dan mengupas dalil-dalil yang berhubungan dengannya.
Selanjutnya Muhammad Thaher Badrie dalam kitabnya, “Syarah Kitab At-tauhid Muhammad Bin Abdul Wahab”, menjelaskan makna tauhid adalah meyakini keesaan Tuhan, atau menganggap bahwa ada satu tuhan tidak ada yang lainnya. Oleh karena itu pokok pembahasan yang paling penting adalah menetapkan keesaan Allah SWT dalam zat dan perbuatan-Nya dalam menjadikan alam semesta dan hanya ialah yang menjadi tujuan terakhir alam ini. Prinsip inilah yang menjadi tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad Saw.
Dari defenisi diatas tentunya masih banyak defenisi lain yang dikemukakan oleh para ahli dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah yang dikaji dalam tauhid meliputi mabda (persoalan yang berhubungan dengan Allah). Wasitah (masalah yang berkaitan dengan perantara atau penghubung antara manusia dengan Allah). dan Ma’ad (hal-hal yang membicarakan tentang hari yang akan datang atau kiamat). Ilmu tauhid juga mempunyai sebutan lain.hal itu muncul sesuai dengan aspek kajian yang ditonjolkan dalam pengkajiannya.
2. Ilmu Kalam
Disebut dengan ilmu kalam, karena persoalan yang terpenting yang menjadi pembicaraan pada abad-abad permulaan hijriyah adalah apakah kalam Allah itu qadim atau baharu. Para ahli dibidang ini disebut dengan Mutakallimin.
Adapun Ilmu Kalam adalah sebagai Ilmu yang membicarakan tentang wujudnya Tuhan (Allah), sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang tidak ada padanya.
Ilmu ini disebut juga dengan Ilmu Ushuluddin karena objek bahasan utamanya adalah pokok-pokok agama yang merupakan masalah esensial dalam ajaran Islam. Sebutan lain untuk ilmu ini juga disebut dengan ilmu aqidah atau aqo’id yang berarti ilmu yang mempelajari tentang hal-hal yang menetapkan agama dengan dalil-dalil yang dapat diyakini kebenarannya. Abu Mansur al-Maturidi sebagai tokoh teologi dari kalangan Sunni menyebutkannya dengan fiqh al-Akbar dalam buku beliau al-fiqh al-Akbar Risalah fi al-‘aqaid.
Kalam artinya perkatann, firman, ucapan, pembicaraan. Dalam bahasa diartikan bahwa kalam itu adalah suatu susunan kalimat yang ada artinya. Kalangan ahli tafsir dan ahli agama umumnya kalam itu diartikan dengan firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, kemudian digambarkan dengan huruf dan dikumpulkan menjadi alquran.
Ibn Khaldun mengatakan bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang berisi alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisikan bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah.
Penyebutan ilmu kalam, didasari oleh beberapa alasan, antara lain : Pertama : problema-problema yang diperselisihkan umat Islam pada masa-masa ilmu ini adalah masalah kalam Allah SWT yaitu alquran, apakah ia makhluk dalam arti diciptakan ataukah ia qadim dalam arti abadi tidak diciptakan. Kedua : dalam membahas masalah-masalah ketuhanan tidak terlepas dari dalil-dalil aqli yang dijadikan sebagai argumentasi yang kuat sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan dalam logika (mantiq) yang penyajiannya melalui permainan kata-kata (kalam) yang tepat. Dan juga cara pembuktian kepercayaan-kepercayaan agama menyerupai logika dalam filsafat, maka pembuktian dalam soal-soal agama ini dinamai ilmu kalam untuk membedakan dengan logika dalam filsafat.
C. Pertumbuhan dan Perkembangan Kajian Teologi Dalam Islam
Agak aneh kiranya kalau dikatakan bahwa dalam Islam, sebagai agama, persoalan yang pertama-tama timbul adalah dalam bidang politik dan bukan dalam bidang teologi. Tetapi persoalan politik ini segera meningkat menjadi persoalan teologi. Agar hal ini menjadi jelas perlulah kita terlebih dahulu kembali sejenak ke dalam sejarah Islam, tegasnya ke dalam fase perkembangannya yang pertama.
Pada masa kerasulan Muhammad teologi sudah diperkenalkan beliau secara mendalam kepada para sahabatnya. Pada masa ini umat Islam tidak mengalami kesulitan dalam untuk menemukan solusi dalam problem keagamaan. Hal itu dikarenakan pada masa ini problem keagamaan tidak banyak ditambah lagi pada masa ini Rasul mempunyai otoritas untuk menyelesaikan berbagai problem keagamaan.
Pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar persoalan teologi masih relatif kecil. Karena pada masa ini umat Islam memusatkan perhatiannya pada persoalan dalam Negara dan ekspansi wilayah. Demikian halnya yang terjadi pada masa Usman Ibn Affan.
Pertikaian dalam masalah politik akhirnya dapat diselesaikan umat Islam, akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya persoalan politik muncul kembali dengan motif dan skala yang lebih besar dan kompleks. Berawal dari kasus kematian Usman (24-34 H/644-656 M) sebagai khalifah yang ketiga. Pertikaian antara pendukung Ali bin Abi Thalib dan Usman bin Affan ini melahirkan jalan damai melalui arbitrasi. Sebagian kelompok Ali tidak menyetujui jalan damai ini dan menganggap Ali telah keluar dari Islam atau kafir, karena menurut mereka ini hanya Allah yang berhak memutuskan perkara tersebut, bukan manusia.
Berbeda halnya pada masa khalifah Ali Ibn Thalib, pada masa ini persoalan teologi sudah mulai muncul kepermukaan. Walaupun awalnya yang muncul dalam bidang politik. Terutama yang berkenaan dengan khalifah. Persoalan tersebut bermula dari terbunuhnya Khalifah Usman Ibn Affan dan diangkatnya Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah berikutnya. Kelompok Muawiyah, kelompok yang masih loyal dengan Usman menuntut Ali untuk menyelesaikan persoalan terbunuhnya Usman dan tidak mengakui kekhalifahan Ali, bahkan ia menuduh Ali melakukan konspirasi untuk membunuh Usman.
Pada masa ini ada dua peristiwa besar yang terjadi. Pertama, perang antara Ali Ibn Abi Thalib dengan Zubair, thalhah dan Aisyah yang terkenal dengan perang jamal, Kedua, Perang antara Ali dan Muawiyah, seorang Gubernur yang berada di Syam, yang terkenal dengan perang Siffin. Pertempuran yang pertama berhasil dimenangkan oleh Ali. Sedangkan pertempuran yang kedua berakhir dengan tahkim (arbitrase).
Penyelesaian dengan tahkim ternyata tidak menyelesaikan persoalan, bahkan menjadikan umat Islam makin terpecah. Sebahagian pendukung Ali berbalik memusuhinya sehingga Ali menghadapi dua musuh, yakni Muawiyah dan bekas pengikutnya sendiri. Dengan demikian, pada masa itu ada empat kelompok umat Islam : pertama, mereka yang masih loyal kepada Ali, Kedua , Pendukung Muawiyah : Ketiga, mereka yang awalnya mendukung Ali berbalik memusuhi Ali, Keempat, mereka yang tidak memihak kepada kelompok manapun (netral).
Kelompok yang keluar dari barisan Ali berpendapat bahwa persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan dengan cara tahkim. Masalah tersebut hendaknya diserahkan kepada hukuk-hukum Allah di dalam alquran. Karena itu mereka yang tidak berhukum kepada hukum-hukum Allah adalah kafir. Mereka menganggap orang-orang yang menerima tahkim seperti Ali. Muawiyah, Abu Musa al-Asy’ari dan Amr bin As adalah kafir. Kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan nama khawarij, dan dari sinilah mulanya muncul persoalan teologi dalam Islam. Dalam perkembangan lebih lanjut paham khawarij mengalami perubahan. Orang yang kafir tidak hanya seperti yang disebutkan di atas, akan tetapi setiap orang Islam yang melakukan dosa besar dianggap kafir. Konsep inilah yang melahirkan polemik teologis sehingga muncul berbagai aliran teologi dalam Islam.
Pendapat khawarij ini mendapat tanggapan dari kelompok umat Islam lainnya, mereka berpendapat muslim yang melakukan dosa besar masih tetap mukmin. Masalah dosa besar yang dilakukannya diserahkan kepada Allah. Kelompok ini dikenal dengan nama Murji’ah.
Tidak lama kemudian muncul pula kelompok Mu’tazilah yang berpendapat orang yang melakukan dosa besar tidak mukmin tidak pula kafir ia berada diantara keduanya (al-manzilah bain al-manziatain).
Aliran teologi Mu’tazilah ini dalam perjalanan sejarahnya pernah menjadi aliran teologi resmi Negara pada masa al-makmun khalifah ketujuh dari Dinasti Abbasiyah. Sehingga khalifah pada masa itu memaksakan aliran ini diikuti oleh rakyatnya. Lambat laun reaksi terhadap mu’tazilah ini muncul diantaranya aliran teologi yang dipelopori oleh Abu Hasan al-‘Asy’ari di Bashrah dan Abu Mansur al-Maturidi di Samarkhand. Di samping itu, saat kaum khawarij muncul, juga muncul kelompok setia dari Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan Syi’ah.
Dengan demikian aliran-aliran teologi penting yang timbul dalam Islam ialah aliran Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah, Asy’ariah dan Maturidiah. Aliran-aliran Khawarij, Murjiah dan Mu’tazilah tak mempunyai wujud lagi kecuali dalam sejarah. Yang masih ada sampai sekarang ialah aliran-aliran Asy’ariah dan Maturidiah dan keduanya disebut ahl Sunnah wa al-Jamaah. Aliran Maturidiah banyak dianut oleh umat Islam yang bermazhab Hanafi, sedangkan aliran Asy’ariah pada umumnya dipakai oleh umat Islam Sunni Lainnya. Dengan masuknya kembali faham rasionalisme ke dunia Islam, yang kalau dahulu masuknya itu melalui kebudayaan Yunani Klasik akan tetapi sekarang melalui kebudayaan Barat modern, maka ajaran-ajaran Mu’tazilah mulai timbul kembali, terutama sekali di kalangan kaum intelegensia Islam yang mendapat pendidikan Barat. Kata neo-Mu’tazilah mulai dipakai dalam tulisan-tulisan mengenai Islam.
D. Islam Sebagai Sumber Kepercayaan.
Di masa Nabi masih hidup, aqidah itu masih murni. Pada masa khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab juga masih murni. Akan tetapi pada masa khalifah ketiga Usman bin affan baru kelihatan secara terang-terangan timbulnya penyelewengan-penyelewengan aqidah yang dimulai oleh Yahudi yang bernama Abdullah Ibnu Saba’. Dia adalah seorang pendeta Nasrani di Yaman yang masuk agama Islam. Sebenarnya unsur penyelewengan itu sudah ada lebih dahulu yaitu ketika masuknya tiga orang pendeta Nasrani ke dalam Islam, yaitu Ka’ab al-Qur’an akbar, Wahab bin Munabih dan al-Laitsyi. Sejak saat it uterus menerus terjadi penyelewengan-penyelewengan dengan bentuk bermacam-macam diantaranya tahyul, khurafat dan kebatinan.
Konsep pokok dalam teologi Islam itu adalah Tauhid, yang dalam perkembangannya telah mengembangkan struktur sosial yang membebaskan manusia dari segala macam perbudakan. Tauhid yang dipandang sebagai inti dari teologi Islam telah melahirkan masyarakat yang egaliter dan dinamis yang memiliki andil besar merekonstruksi peradaban Paganis menjadi peradaban yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk termulia yang memiliki akal dan jiwa.
Konsep tauhid ini merujuk pada alquran menekankan tegaknya keadilan dan kebijakan. Karenanya segenap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan harus dihadapi setiap muslim dengan keinginan untuk menghentikan dan melenyapkannya, tidak berputus asa apalagi pasrah. Hal ini merupakan bagian yang paling mendasar dalam teologi Islam. Oleh sebab itu kesungguhan umat Islam untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul dalam teologi adalah sesuatu yang menjadi keharusan untuk diselesaikan. Sehingga Islam yang merupakan sumber kepercayaan tidak diragukan lagi eksistensinya sebagai sumber kepercayaan dan mengandung nilai-nilai fitrah yang antisipatif dan solutif terhadap dinamika kehidupan.
Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad mengandung sistem kepercayaan (iman).Agama ini tidak hanya mengajarkan kepada umatnyahal-hal yang bersifat fisika maupun hal-hal yang bersifat metafisika. Karena keterbatasan manusia ia bukan hanya tida bisa memahami yang metafisika yang sajapun tidak seluruhnya dapat dipahami oleh manusia.
Dengan demikian masalah bentuk dan wujud Tuhan bukanlah lokasi pembicaraan rasio tapi merupakan bagian dari rasa keberagaman. Rasa keberagaman itu muncul dari adanya keyakinan dalam diri manusia tentang adanya Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengannya ditambah fitrah manusia yang mempunyai kecendrungan untuk meyakini hal-hal yang ada di luar dirinya.
Keyakinan tersebut menumbuhkan sikap taat dan patuh terhadap ajaran agama yang dimiliknya. Konsep tauhid ini merujuk pada alquran menekankan tegaknya keadila dan kebajikan. Karenanya segenap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan harus dihadapi setiap muslim dengan keinginan untuk menghentikan dan melenyapkannya, tidak berputus asa apalagi pasrah. Hal ini merupakan bagian yang paling mendasar dalam teologi Islam. Oleh sebab itu kesungguhan umat Islam untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul dalam teologi adalah sesuatu yang menjadi keharusan untuk diselesaikan. Sehingga Islam yang merupakan sumber kepercayaan tidak diragukan lagi eksistensinya sebagai suatu sumber kepercayaan dan mengandung nilai-nilai fitrah yang antisipatif dan solutif terhadap dinamika kehidupan.
E. Aliran-aliran Utama Teologi Islam, Tokoh-Tokoh, Karya dan Pendekatannya.
1. Khawarij
Kelompok yang mengutamakan khawarij ditujukan kepada golongan yang keluar dari kelompok Ali bin Abi Thalib sebagaimana yang telah diuraikan terdahulu. Tetapi ada pula yang menyatakan pemberian nama khawarij berdasarkan surah an-Nisa’ ayat 100 yang di dalamnya menyatakan ada sekelompok orang yang keluar dari kediamannya menuju Allah dan Rasul-Nya.
Tokoh utama aliran ini adalah Abdullah bin Wahab al-Rasyidi. Beliau ini pimpinan kelompok yang memisahkan diri dari kelompok Ali. Kemudian Urwah bin Hudair, Mustarid bin Sa’ad, Hausarah al-Asadi, Quraib bin Maruah, Nafi bin azraq, Abdullah bin Basir, Zubair bin Ali, Qatari bin Fuja’ah, Abd al-Rabih, Abd al-Karim bin Ajrad, Ziad bin Asfar dan Abdullah bin Ibad.
Ajaran pokok aliran ini dapat dikelompokkan menjadi tiga : Pertama, orang Islam yang melakukan dosa besar adalah kafir; Kedua, khalifah harus dipilih oleh rakyat dan tidak satupun kelompok berhak mengklaim kelompoknya yang paling berhak menduduki posisi tersebut; Ketiga, Imam tidak diperlukan lagi apabila manusia secara sadar dapat mengatur dirinya sendiri. Karena itu imam bukanlah wajib syar’i hanya sesuatu yang jaiz (boleh).
2. Murji’ah
Kaum Murji’ah pada mulanya merupakan golongan yang tidak mau turut campur dalam pertentangan-pertentangan yang terjadi ketika itu dan mengambil sikap menyerahkan penentuan hukum kafir atau tidaknya orang-orang yang bertentangan itu kepada Tuhan.
Perbedaan antara kelompok khawarij yang berpendapat bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh Bani Umayyah adalah menyeleweng dari ajaran Islam dan kelompok pendukung Ali memandang bahwa Muawiyah merampas kekuasaan dari Ali dan keturunannya menjadi penyebab timbulnya aliran ini.
Murji’ah berasal dari kata arja’a yang berarti menunda dan memberi pengharapan. Aliran teologi ini disebut murji’ah karena mereka berkeyakinan bahwa orang yang berdosa besar diberikan suatu pengharapan untuk mendapatkan rahmat dari surga Allah.
Pemimpin utama aliran ini adalah Hasan bin Bila al-Muzani, Abu Sallat al-Samman dan Dirar bin Umar, Dan selanjutnya Muhammad bin Ali bin Abi Thalib dan Jahm bin Safyan.
Adapun ajaran pokok aliran ini adalah : Pertama, iman kepada Allah dan Rasul-Nya cukup hanya di dalam hati. Adapun amal tidak merupakan suatu kemestian. Kedua, orang Islam yang melakukan dosa besar tidak dihukumkan kafir. Ia tetap mukmin selama ia mengakui Syahadatain. Ketiga, hukum terhadap perbuatan manusia ditangguhkan sampai hari kiamat.
Pemikiran aliran ini terbagi dalam dua golongan Murji’ah moderat, tokohnya adalah Abu Hanifah, sedangkan golongan Murji’ah ekstrim tokohnya adalah Al-Khassaniah, al-Ubaidillah, al-Salihiah dan Jaham bin Safwan.
3. Qadariyah
Aliran ini disebut dengan aliran qadariyah karena merekalah yang pertama sekali yang mempersoalkan tentang qadar. Tokoh aliran ini adalah Ma’bad al-Juhaini dan Ghailam al-Dimasyqi.
Aliran ini berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk bertindak (qudrah) dan memilih atau berkehendak (iradah). Karena itu manusialah yang menentukan perbuatannya apakah ingin melakukan kebaikan atau kejahatan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
4. Jabariyah
Aliran ini merupakan anbitrasi dari pendapat Qadariyah mengenai perbuatan manusia. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk mewujudkan perbuatannya dan tidak mempunyai kemampuan untuk memilih segala gerak-gerik yang dilakukan oleh manusia ditentukan oleh Allah. Tokoh aliran ini adalah Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Safwan.
5. Mu’tazilah
Kaum Mu’tazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dari persoalan-persoalan yang dibawa kaum Khawarij dan Mur’jiah. Dalam pembahasan mereka banyak memakai akal sehingga mendapat nama Kaum Rasionalis Islam. Namun kaum Mu’tazilah tidak begitu banyak berpegang pada sunnah atau tradisi, bukan karena tidak percaya pada tradisi Nabi dan para sahabat, tetapi karena ragu akan keorisinilan hadis-hadis yang mengandung sunnah atau tradisi itu.
Sebutan untuk aliran ini berarti memisahkan diri, karena tokoh utama Mu’tazilah Washil bin Atha’ memisahkan diri dari gurunya Hasan al-Basyri. Versi lain menyatakan bahwa kata mu’tazilah adalah sebutan untuk mereka yang mengasingkan diri dari pertikaian politik pada saat itu dan memusatkan perhatian untuk beribadah.
Ajaran pokok aliran ini dikenal dengan istilah usul al-khamsah (lima prinsip ajaran), yakni , attauhid, al-‘adl, al-Wa’ad wa al-Wa’id, al-Manzilah bain al-manzilatain dan amar ma’ruf wa Nahi al-Munkar.
Tokoh aliran ini adalah Washil bin Atha’, Amru bin Ubaid, Abu Huzail al-Allaf, al-Nazzam serta al-Jubba’i.
6. Syi’ah
Yang dimaksud dengan Syi’ah adalah segolongan umat Islam yang timbul sesudah Nabi Muhammad saw wafat, yang berpendapat bahwa sesudah rasulullah wafat yang berhak menggantikan beliau sebagai kepala Negara (imam atau khalifah) ialah keluarga beliau, yang dikenal dengan istilah ahlul bait.
Aliran Syi’ah ini muncul karena dorongan masalah politik, masalah politik timbul buat pertama kali setelah Rasulullah wafat. Pergolakan-pergolakan yang terjadi pada akhir pemerintahan Usman sampai terbunuhnya dan diangkatnya Ali menjadi Khalifah mengakibatkan timbulnya golongan baru yang bertendensi politik yaitu :Golongan umat Islam yang mendukung politik ahlul bait yang dipimpin oleh Ali bin abi Thalib, yang akhirnya menjelma menjadi Syi’ah.
Syi’ah adalah kelompok yang loyal kepada Ali dan merupakan pendukung dan pengikut setia Ali. Ajaran-ajaran pokok aliran ini adalah,at-tauhid, al-adl, an-Nubuwwah, al-Imamah (pemimpin umat hanyalah imam dan imam itu terpelihara dari dosa. Imam setelah rasul adalah Ali dan keturunannya), dan al-ma’ad (kepercayaan adanya hari akhirat yang pasti ada).
7. al-Asy’ariyah dan al-Maturidiyah
Aliran al-Asy’ari dinisbahkan kepada Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ari. al-asy’ari sebelumnya sangat menguasai paham mu’tazilah karena ia adalah murid dari tokoh Mu’tazilah al-Jubba’i. Namun kemudian beliau keluar dari paham Mu’tazilah yang selama ini dipahaminya.
Ajaran pokok al-Asy’ari adalah : pertama, Tuhan mempunyai sifat-sifat yang disebutkan di dalam alquran; kedua, alquran Qadim bukan makhuk; Ketiga, Tuhan dapat dilihat di akhirat; keempat, perbuatan manusia diciptakan oleh Tuhan dan berbarengan dengan kekuasaan manusia. Kelima, keadilan Tuhan bersifat absolut; keenam, orang muslim yang berbuat dosa besar yang meninggal sebelum ia bertaubat, ia tetap mukmin. Pikiran-pikiran teologi al-Asy’ari dapat diketahui melalui karya-karyanya seperti Maqalat al-Islamiyyin al-Ibanah dan al-Luma’.
Al-Maturidiyah juga dinisbatkan kepada Abu Mansur bin Mahmud al-Maturidi yang lahir di Samarkhand. Sama halnya dengan paham al-Asy’ari teologi al-Maturidi merupakan reaksi terhadap paham Mu’tazilah.
Pemikiran teologi al-Maturidi lebih rasional dibandingkan al-Asy’ari. Pemikiran teologi al-Maturidi, yakni ;
Pertama, Tuhan mempunyai sifat dengan sifat itulah Tuhan melakukan yang dikehendakinya, dan bukan dengan zatnya.
Kedua, Perbuatan manusia diwujudkannya sendiri walaupun kehendak untuk berbuat itu merupakan kehendak Tuhan.
Ketiga, Alquran adalah kalam Allah yang Qadim.
Kelima, Tuhan mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu.
Keenam, Janji Tuhan, baik janji memberikan pahala kepada orang berbuat baik dan siksaan kepada orang yang berbuat jahat pasti ditepati.
Ketujuh, Ayat-ayat alquran yang menggambarkan Tuhan mempunyai bentuk jasmani seperti manusia harus ditakwil.
Pemikiran teologi al-Maturidi dapat dilihat dari karya-karya beliau seperti Risalah fi al-‘Aqaid dan Syarah al-Fiqh al-Akbar.
Sebagai pengikut Abu Hanifah banyak memakai rasio dalam pandangan keagamaannya, al-Maturidi banyak pula memakai akal dalam sistem teologinya.
F. Signifikansi dan Kontribusi Pendekatan Teologi dalam Studi Islam
Sedangkan ahli teolog berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat memberi interpretasi yang libera tentang teks ayat-ayat Alquran dan Hadis. Dengan demikian timbullah teologi Liberal seperti yang terdapat dalam aliran Mu’tazilah. Teolog-teolog yang berpendapat atau dekat dengan arti harfi dari teks Alquran dan Hadis. Sikap demikian menimbulkan teologi tradisional sebagai yang ada dalam aliran As’ariyah.
Teologi liberal memberikan peluang-peluang dalam ruang gerak dalam menyesuaikan hidup dengan peredaran zaman dan perobahan kondisi dalam masyarakat bagi para penganutnya adalah luas. Para penganutnya tidak banyak menghadapi kesulitan-kesulitan dalam menyesuaikan hidup dengan perkembangan-perkembangan yang timbul dalam masyarakat modern, terutama dalam lapangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknoogi. Dalam teologi tradisionil, sebaliknya penganutnya kurang mempunyai ruang gerak karena mereka terikat hanya pada dogma-dogma, tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti Dzanni. Sehingga sukar untuk mengikuti perubahan dan perkembangan yang terjadi pada masyarakat modern.
Teologi Liberal, selanjutnya dengan pembahasannya yang bersifat filosofis, sukar dapat ditangkap oleh golongan awam. Tetapi teologi tradisionil, dengan uraian yang sederhana, mudah dapat dimengerti oleh kaum awam.
G. Penutup.
Dari uraian-uraian diatas dapat dikemukakan bahwa kajian teologi perlu dikaji melalui pendekatan baru. Karena dalam pengkajian teologi harus dapat menjawab problem sosial umat seperti kajian teologi transformatif yang bersifat sosiologis.
Dalam Islam sebenarnya terdapat lebih dari satu aliran teologi. Ada aliran yang bersifat liberal, ada yang bersifat tradisionil dan ada pula yang mempunyai sifat antara liberal dan tradisionil. Dengan demikian orang yang memilih mana saja dari aliran-aliran itu sebagai teologi yang dianutnya, tidaklah pula menyebabkan ia menjadi ke luar dari Islam.
Pada hakikatnya semua aliran tersebut, tidaklah keluar dari Islam, tetapi tetap dalam Islam, dengan demikian tiap orang Islam bebas memilih salah satu dari aliran-aliran teologi tersebut, yaitu aliran mana yang sesuai dengan jiwa dan pendapatnya. Hal ini tidak ubahnya pula dengan keterbatasan tiap orang Islam memilih Mazhab Fiqh mana yang sesuai dengan jiwa dan kecenderungannya. Di sinilah kelihatan hikmah ucapan Nabi Muhammad saw : “Perbedaan faham dikalangan umatku membawa rahmat”. Dan bukan membawa perpecahan sesama umat Islam.




DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abu Bakar Aceh, Ilmu Ketuhanan ( Ilmu Kalam), Jakarta : Tintamas , 1966.
Ahmad Amin, Duna al-Islam, Kairo, Mesir : An-Nahdah al-Misriyyah, 1936.
Ahmad Amin, Fajr al-Islam, Kairo : Maktabah an-Nahdoh, 1965.
Ahmad Hanafi, Theologi Islam (Ilmu Kalam), Jakarta : Bulan Bintang, 1997.
Al-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal, Mesir : Mustafa al-baby al-Halaby, 1967.
Deding S, Ilmu Kalam, Bandung : cv.Armico, 1990.
Harun Nasution , Islam Rasional; Gagasan dan Pemikiran, Bandung : Mizan, 1996.
Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa perbandingan, Jakarta : UI Press, 1986.
Hasan Asari &Amroini Drajat (ed), Dalam Antologi Kajian Islam, Bandung : Citapustaka Media, 2004.
Ilhamuddin, Alam Pikiran Islam, dalam Majalah Ilmiyah An-Nadwah, Medan : Fakultas Dakwah IAINSU, 1993.
M.Thahir A.Muin, Ikhtisar Ilmu Tauhid, tt : Kita.
M.Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996.
Muhammad Abduh, Risalah at-Tauhid, Kairo : Al-Manar, 1969.
Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-MAzahib al-Islamiyah fi as-Siyasah wa al-‘Aqaid, Kairo :Maktbah al-Adab, tt.
Muhammad Thaher Badre, Syarah Kitab at-tauhid Muhammad bin Abdul Wahab, Jakarta: Pustaka Panjimas, tt.
T.M.Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam, Jakarta : Bulan Bintang, 1990.
Tim Redaksi Ensiklopedi, Ensiklopedi Islam, Jakarta : PT.Ictiar Baru Van Hoeve, 1999.

KUMPULAN REVIEW
MATA KULIAH METODE PENELITIAN


Oleh
A M R I
07 MPI 1088


Dosen Pembimbing
Dr. Saiful Akhyar Lubis, MA
DR. Al-Rasyidin, M.Ag
















PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
2008

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>