Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 29 April 2011

STUDI ISLAM ISLAM DALAM PETA PENGETAHUAN ILMIAH

/ On : 13.22/ Thank you for visiting my small blog here.
STUDI ISLAM ISLAM DALAM PETA PENGETAHUAN ILMIAH
Dipresentasikan oleh : Islahul Umam
NIM : 09 KOMI


A. Pendahuluan
Kajian tentang studi Islam tidak hanya terkait dengan persoalan ketuhanan atau keimanan saja, akan tetapi juga mencakup tentang sejarah kebudayaan Islam, masyarakat sosial muslim dan kajian-kajian kebudayaan bercorak Islam lainnya. Kajian ilmiah tentang Islam dapat dibedakan antara Islam yang merupakan sebagai sumber dan Islam sebagai pemikiran serta Islam dalam pengamalan penganutnya.
Agama Islam, di samping sebagai keyakinan yang dianut oleh manusia dengan corak spritualnya, juga harus dipelajari sebagai objek kajian Ilmiah yang menarik. Alasannya adalah karena selain Agama dapat mempengaruhi semangat kerja, semangat juang dan bekorban bagi pemeluknya, Islam juga merupakan budaya bahkan sejak lama telah menjelma menjadi budaya, Islam mempunyai masyarakat. Bila Islam adalah budaya dan mempunyai masyarakat maka ia layak dikaji ilmiah dengan berbagai pendekatan. Dibeberapa perguruan tinggi, kajian tentang Islam telah menjadi bagian kajian ilmiah. Misalnya Ms Gill University, dan lain-lain.
Pada bagian berikutnya kajian Islam berkembang tidak hanya mengkaji tentang ketuhanan, tetapi juga mengkaji tentang ilmu-ilmu kealaman, social serta kemanusiaan. Pada kesempatan ini pemakalah ingin menguraikan secara ringkas keberadaan studi Islam dalam peta pengetahuan ilmiah yaitu meliputi : klasifikasi pengetahuan manusia: hubungan dan implikasinya terhadap bidang Ilmu kealaman, ilmu-ilmu social dan humaniora, studi Islam dalam tiga kelompok ilmu tersebut serta bagaimana pendekatan inter-disipliner dan multi-disiplin ilmu-ilmu ini dalam studi Islam.


B. Pengertian Studi Islam.
Secara etimologi, kata Islam berasal dari kata dalam bahasa Arab yaitu kata ﺃﺴﻠﻢ yang asal kata salima (ﺳﻟﻢ) yang berarti selamat sentosa, menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat lahir dan batin.
Secara terminologi, Islam dapat dipahami dari dua sisi. Pertama, Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya untuk mengesakan-Nya. Kedua, Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah kepada manusia melalui Rasulullah Muhammad. Adapun pengertian yang pertama mengandung makna bahwa Islam adalah agama universal yang ditujukan kepada seluruh umat manusia untuk semua waktu dan tempat. Sedangkan pengertian kedua khusus untuk agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad. Agama Islam dalam pengertian ini bersifat universal juga karena ditujukan kepada seluruh umat manusia dan untuk semua waktu dan tempat.
Studi Islam adalah kajian ilmiah tentang Islam. Istilah studi mengandung makna kajian ilmiah, yaitu kajian yang logis, sistematis, objektif dan rasional. Kajiannya didasarkan kepada fakta-fakta dan data yang dianalisis secara ilmiah dengan berbagai pendekatan. Dengan kata lain, studi Islam berarti menjadikan Islam sebagai objek kajian. Jadi, bukan menjadikan Islam sebagai agama dan seperangkat kepercayaan.
Dalam mendudukkan Islam sebagai objek kajian, maka perlu dibedakan antara Islam sebagai ajaran, pemahaman atau pemikiran dan pengamalan atau praktek. Islam sebagai ajaran adalah ajaran-ajaran yang termuat pada alquran dan hadis. Islam sebagai ajaran ini bersifat universal, absolut dan tidak lapuk dimakan masa. Sedangkan islam sebagai pemahaman dan pengamalan, merupakan reaksi manusia terhadap ajaran Islam yang universal itu. Pemahaman dan pengamalan manusia itu bersifat partikular dan kondisional, terikat oleh ruang dan waktu.
Lebih lanjut, Baharuddin membedakan objek kajian studi Islam kepada dua objek studi. Objek pertama disebutnya dengan studi tentang Islam dan yang kedua disebutnya dengan studi di dalam Islam. Studi tentang Islam adalah kajian ilmiah yang menjadikan Islam sebagai objek studi. Sedangkan studi di dalam Islam adalah kajian yang menjadikan Islam sebagai sumber inspirasi untuk membangun konsep-konsep dan teori-teori keilmuan dalam Islam. Dalam kajian Islam sebagai objek studi berkembang berbagai pendekatan dalam mengkaji Islam, seperti pendekatan antropologis, sosiologi, sejarah, psikologi, ekonomi, politik dan lain-lain. Dalam kajian islam sebagai sumber inspirasi membangun konsep dan teori keilmuan dalam Islam berkembang ilmu-ilmu keislaman, seperti: Ilmu tafsir, kalam, hadis, fikih, tasawuf, filsafat, dakwah dan lain-lain.
Berkenaan dengan dimensi pembahasannya, Islam tidak saja mengurus hal-hal yang bersifat transedental semata, lebih jauh dari itu Islam juga memberi "investasi" yang besar pada lapangan pengetahuan alam, sosial dan kemanusiaan, sebagaimana akan diuraikan lebih lanjut dalam pembahasan selanjutnya.
C. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan Manusia
Manusia sebagai makhluk Allah yang sempurna di muka bumi ini, memiliki rasa ingin tahu yang begitu tinggi. Atas dasar inilah manusia terus mengembangkan kemampuannya dalam melihat fenomena-fenomena yang terjadi di alam ini. Dalam perjalanan sejarah yang begitu panjang terlihat pertumbuhan pengetahuan yang ditandai dari problem ilmu melalui trial dan error sampai kepada pengetahuan kimia yang begitu sarat dengan metode-metode tertentu.
Keingintahuan manusia terhadap suatu objek mendorong untuk mengenal, memahami sesuatu yang dialaminya, baik pada hewan, (yang banyak dilakukan peneliti-peneliti ilmiah pada awalnya), pada alam maupun pada manusia itu sendiri. Pada dasarnya manusia dalam memperoleh pengetahuan dilandasi oleh tiga hal pokok yaitu : apakah yang ingin diketahui, bagaimana cara untuk memperoleh pengetahuan dan apa nilai pengetahuan tersebut bagi manusia. Maka manusia akan bertanya : apa, siapa, bagaimana, dimana, kapan dan kenapa. Ini semua memerlukan jawaban yang memakai serangkaian jalan pemikiran yang menghasilkan pengetahuan. Untuk itu diperlukan pengamatan, pengukuran, penjelasan dan pemeriksaan benar tidaknya sehingga sampai kepada ilmu yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
M.Atho Mudzhar, menjelaskan pendekatan dan metodologi ilmu pengetahuan kepada tiga jenis, yaitu ilmu-ilmu kealaman, ilmu-ilmu kebudayaan dan ilmu-ilmu sosial. Lebih lanjut, ilmu pengetahuan dari aspek pragmatis ilmu terbagi kepada dua. Pertama, ilmu-ilmu kealaman, seperti : fisika, kimia, biologi dan lain-lain, yang bertujuan untuk mencari hukum-hukum, prinsip-prinsip dan keteraturan yang ada pada alam. Kedua, ilmu budaya yang mempunyai sifat tidak berulang. Sebagai contohnya, batu nisan seorang tokoh sejarah adalah unik untuk tokoh yang bersangkutan dan tidak ditemukan pada tokoh lain.
Sedangkan ilmu pengetahuan manusia berdasarkan kepada klasifikasi ilmu menurut objek ilmu pengetahuan terbagi pada tiga bagian, yaitu : Ilmu-ilmu Alam, ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora
Ilmu-ilmu Alam
Ilmu Alam, dalam bahasa lain disebut juga Kosmologi. Secara general data dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu yang mempelajari alam, baik alam mikro maupun alam makro, dalam keterkaitan dengan segala unsur pendukungnya berupa struktur dan eksistensi. Lebih khusus lagi, kosmologi ini dapat dikenal melalui metode rasional sebagai hasil berpikir, bukan hasil perasaan, tersusun secara sistematik dan didukung oleh data empirik.
Akan tetapi, istilah alam ('alam: Arab, universe: Inggris) memiliki beberapa perbedaan ketika dipakai oleh golongan tertentu. Para teolog mendefenisikan alam sebagai sesuatu selain Allah, sementara para filosofis Islam mendefenisikan sebagai kumpulan jauhar yang tersusun dari maddat (materi) dan shurat (bentuk), baik yang ada di bumi maupun di langit. Sedangkan alam dalam bentuk jamaknya adalah 'alamin, oleh alquran dikatakan sebagai kumpulan yang sejenis dari makhluk Tuhan yang berakal.
Telah merupakan kenyataan yang tidak tergoyahkan lagi bahwa pemikir ilmiah selalu berada di belakang setiap kemajuan yang dicapai oleh manusia dari masa kemasa. Langkah pertama dimulai ketika manusia menemukan bagaimana caranya belajar melalui cara mencoba-coba (trial and error), dan cara ini pada akhirnya membimbing manusia kepada pengetahuan yang ilmiah, yaitu pengetahuan yang melibatkan observasi dan eksperimentasi dan mencakup ilmu-ilmu kealaman dasar seperti kimia, fisika, matematika, astronomi, geologi, botani dan zoologi, bersama dengan bentuk-bentuk terapannya dalam bidang pengobatan, pertanian, permesinan, farmasi, kedokteran hewan dan lain-lain.
Dalam sejarah ilmu pengetahuan, filsafat adalah pengetahuan yang pertama lahir. Dalam tema-temanya, filsafat inilah yang pertama kali mempersoalkan tentang alam. Sehingga para ahli filsafat pada waktu itu disebut filosof alam. Seperti : Anaximandros, Anaximenes, Thales. Mereka memikirkan tentang alam besar (makro-kosmos) yang dimulai dari pertanyaan tentang asal alam. Dari perkembangan filsafat muncullah disiplin ilmu lainnya yang relative mandiri dan bidang tertentu, seperti ilmu kealaman yang merupakan disiplin ilmu yang pertama sekali muncul dari perkembangan filsafat. Yang mempelajari tentang susunan benda-benda serta perkembangannya.
Sumber dari ilmu ini adalah alam. Manusia yang merupakan makhluk sapiens didorong oleh kebutuhan dan rasa ingin tahunya, mengerahkan kekuatan akalnya untuk menyingkap rahasia alam. Agar pengetahuannya itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, maka dia menerapkan kriteria-kriteria yang benar yang disebut meodologi ilmiah, yaitu menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif. Dengan cara yang seperti ini, maka manusia dapat menyingkap rahasia alam yang melahirkan berbagai disiplin ilmu.
Ilmu-ilmu kealaman disebut juga ilmu-ilmu eksakta (ilmu pasti) yang kebenarannya pasti, walaupun dalam kenyataannya sosiologisnya bersifat kebenarannya probabilistis. Yaitu sebuah teori keilmuan yang saat ini dianggap benar, namun besar kemungkinan pada saat yang lain teori tersebut akan ditumbangkan oleh teori yang akan datang belakangan.
Inti dari ilmu kealaman ini adalah positivisme, sesuatu itu baru dianggap sebagai ilmu kalau dapat diamati (observable), dapat diukur (Measurable) dan dapat dibuktikan (Veriviable).
Islam, melalui alquran, telah membuka jalan untuk melakukan observasvasi dan penelitian tentang segala fenomena yang terjadi di alam raya, mulai dari alam mikro hingga ke alam makro.
"...Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa alquran itu yang benar..."
Dalam Islam, alam adalah ciptaan dan anugerah. Sebagai ciptaan ia bersifat teologis, sempurna dan teratur. Sebagai anugerah, alam adalah tempat yang baik dan tidak ternoda bagi manusia. Tidak ada jurang pemisah di alam. Tidak ada objek atau kejadian di alam ini terjadi secara kebetulan. Semua kejadian yang terjadi dengan sebab akibat yang dapat diperkirakan. Inilah sebabnya mengapa alam adalah kosmos yang nyata, bukan chaos yang membiarkan terjadinya sesuatu tanpa akibat, atau kadang-kadang berakibat, kadang-kadang tanpa akibat.
Akan tetapi ilmu pengetahuan akan terbentur pada hal-hal empiris dan kasat indera saja. Maka untuk menerangkan hal-hal yang diluar itu, tidak mungkin manusia mengetahuinya kecuali melalui sikap percaya dan menerima (Iman dan Islam), peran agama (baca: Wahyu) merupakan hal yang mutlak diperlukan.
Ilmu pengetahuan bukan alat untuk menciptakan kebenaran, melainkan untuk memahami atau menemukan kebenaran yang pada dasarnya telah ada dan berjalan di luar manusia. Maka tidak mengherankan bila teori Einstein, seperti yang telah dikemukakan, terbuktikan salah seiring dengan ditemukannya teori baru oleh Friedman yang lebih benar.
Selain menciptakan alam raya ini dengan keteraturan yang begitu apik, tuhan juga menempatkan posisi alam lebih rendah dari manusia sehingga sebagai khalifah dapat menguasainya dan "rencana" Serta "disain" Tuhan dapat berjalan sempurna. Dengan posisi yang demikian maka ruang untuk melakukan syirik (seharusnya) tidak ada, meningat manusia dengan ketinggian akalnya mampu "menaklukkan" alam raya, meskipun secara aktual manusia belum, atau tidak akan pernah sama sekali, paham akan seluruh alam. Akan tetapi secara potensial, manusia dapat memahami alam ini, baik mikro demikian juga makro.
Jadi jelaslah bagi kita bahwa di dalam Islam, alam merupakan ciptaan Allah untuk manusia. Manusia di suruh untuk memelihara dan melestarikan alam ini dengan baik dan tidak boleh merusaknya.
Ilmu-Ilmu Sosial
lmu-ilmu sosial dinamakan demikian, karena ilmu-ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehidupan bersama sebagai objek yang dipelajarinya, ilmu-ilmu sosial belum mempunyai kaidah-kaidah dan dalil-dalil yang tetap diterima oleh bagian terbesar masyarakat, karena ilim-ilmu tersebut belum lama berkembang. Sedangkan yang menjadi objeknya adalah masyarakat manusia yang selalu berubah-ubah.Karena sifat masyarakat selalu berubah-ubah, hingga kini belum dapat diselidiki dan dianalisa secara tuntas hubungan antara unsur-unsur di dalam masyarakat secara mendalam.
Ilmu sosial atau lebih tepatnya sosiologi, secara luas dapat diartikan sebagai ilmu tentang masyarakat. Sosiologi seperti ini dapat disebut juga sebagai macro sosiology, ilmu tentang gejala-gejala sosial, institusi-institusi sosial dan pengaruhnya terhadap masyarakat. Secara sempit sosiologi didefenisikan sebagai ilmu tentang perilaku sosial ditinjau dari kecendrungan individu lain dengan memperhatikan simbol-simbol interaksi.
P.J.Bouman mendefenisikan ilmu sosial sebagai berikut :
Ilmu-ilmu sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perhubungan-perhubungan sosial antara manusia dengan manusia, antara manusia dan golongan manusia, serta sifat dan perobahan-perobahan dari bangunan dan buah fikiran sosial. Ia berusaha mencapai sintesis antara ilmu jiwa sosial dan ilmu bentuk sosial, sehingga dapat memahami kenyataan masyarakat dalam hubungan kebudayaan umumnya.
Secara terminologi, ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan-perubahan sosial.
Sosiologi sendiri pada awalnya didirikan oleh Auguste Comte. Ide-ide positif yang dikembangkan Comte dalam filsafat dan politik juga turut dipakai di bidang sosiologi. Auguste Comte mendefenisikan positif sama dengan atau sebagai realitas fakta atau gejala. Comte membedakan antara fakta dan pernyataan nilai. Bagi Comte sosiologi merupakan puncak dan penghabisan sebuah usaha ilmiah karena sosiologi melakukan penyelidikan terhadap gejala-gejala masyarakat yang juga terdapat pada makhluk-makhluk hidup lainnya.
Abad ke-20 di satu dimensi ditandai oleh perkembangan sains dan teknologi yang pesat luar biasa. Perkembangan iptek berhasil menciptakan peradaban modern yang menjanjikan berbagai kemajuan dan kemudahan. Di lain dimensi, akhir abad ke-20 ini ditandai pula oleh berbagai bencana dan kemelut yang meresahkan dihampir semua bidang kehidupan sosial.
Dalam kondisi kekinian, keresahan tersebut dapat disaksikan secara langsung: perang antar bangsa dan perang saudara yang terus menerus berlangsung, kemelut ekonomi yang melanda banyak negara, ledakan penduduk yang tak terkendali, membanjirnya para pengungsi ke negara-nrgara makmur dan aman, pencemaran alam akibat industrialisasi, melunturnya nilai-nilai yang serba cepat, pola kejahatan yang makin canggih, mewabahnya penyakit-penyakit yang sulit diatasi dan berbagai pelanggaran hak azasi.
Melihat dampak yang ditimbulkan oleh sosiologi yang berlandaskan rasional empirik ini, agaknya agama kembali dilirik. Ditandai dengan kemunculan sosiologi agama, peran sosiologi mengalami perubahan, tidak lagi semata-mata dipandang bahwa sosiologi harus berhenti sebatas penjelasan fenomena sosial semata. Kuntowijoyo, memberi istilah dengan: ilmu sosial profetik, yaitu ilmu sosial yang mampu mengubah fenomena sosial tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi dilakukan, untuk apa dan oleh siapa. Ilmu sosial yang mampu mengubah fenomena berdasarkan cita-cita etik dan profetik tertentu.
Humaniora
Humaniora, tidak jauh berbeda dengan ilmu sosial, sebab dia juga menempatkan manusia sebagai objek kajiannya. Perbedaan yang sangat tipis antara ilmu sosial dan humaniora adalah, ilmu sosial mengkaji tingkah laku manusia dengan manusia lainnya ketika dia berinteraksi. Sedangkan humaniora adalah mempelajari aspek etis dari interaksi itu atau aktualisasi dari potensi manusia dalam wilayah fikiran, rasa dan kemauan.
Menurut T. Jasop, humaniora adalah ilmu-ilmu "kejiwaan" (geisteswissenshaften, "Spritual" ssienses) dikurangi dengan ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu perilaku (sebagian), atau dengan lebih positif, ia mencakup bahasa dan sastra, sejarah kebudayaan, filsafat dan etika, hukum serta agama (teologi). Dengan pendidikan intelektual maupun etika. Dengan perkataan lain, lebih luas dari pada pengajaran dan latihan. Dengan pendidikan manusia diproses menjadi manusia dewasa yang utuh untuk kehidupan, disamping dilatih menjadi tenaga kerja untuk penghidupannya; jadi dia dipersiapkan agar adabtable terhadap lingkungan masa depan. Tidak hanya untuk lingkungan masa kini.
Ilmu-ilmu kealaman berbeda dengan ilmu-ilmu sosial dan humaniora, meskipun objek kajiannya sama-sama alam. Alam yang diteliti oleh ilmu-ilmu kealaman adalah alam besar atau disebut juga makro kosmos.Alam besar yang dimaksud adalah bumi. Sedangkan alam yang dikaji atau diteliti oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora adalah alam kecil atau disebut dengan mikro kosmos.
Secara umum humaniora dapat dikatakan sebagai pengetahuan tentang manusia. Dalam hal ini yang menjadi titik sentral pembahasannya adalah mengenai hak azasi manusia. Pada awalnya ide hak hak azasi manusia timbulpada abad ke- 17 dan abad ke 18 masehi , sebagai reaksi terhadap keabsolutan para raja dan kaum feodal terhadap rakyat yang mereka perintah dan mereka pekerjakan. Sehingga klasifikasi masyarakat terbelah dua, lapisan atas umumnya minoritas dan memiliki hak hak serta lapisan bawah yang mayoritas dan mempunyai kewajiban kewajiban.
D. Studi Islam dalam Ketiga Kelompok Ilmu
Sekarang mari kita melihat bagaimana studi Islam dalam peta pengetahuan ilmiah. Kita mulai dengan menjelaskan apa maksud dari studi Islam tersebut. Studi Islam (Islamic studies=Dirasah al-Islamiyah) atau studi ilmiah tentang Islam adalah upaya pengkajian Islam dengan menerapkan metode ilmiah, khususnya dalam konteks sosial sains.
Objek ilmiah studi Islam sering diistilahkan dengan "Islam pada tiga tingkatan" atau tiga kelompok Ilmu. Memang studi-studi ke-Islaman tidak akan pernah terlepas dari salah satu tingkatan ini, baik pada tataran wahyu, pemahaman atau pemikiran dan pengamalannya dalam masyarakat.
Islam sebagai wahyu adalah sudah tetap, yakni Islam seperti halnya yang tersebut dalam alquran al-karim. Maka memahami Islam sebagai wahyu adalah hal sungguh esencial dalam kajian-kajian ke-Islaman. Studi tafsir alquran al-Karim contohnya adalah salah satu studi Islam pada tataran pertama.
Pada tataran selanjutnya yakni Islam sebagai pemikiran atau pemahaman, memberikan ruang kajian ilmiah yang tidak kalah luasnya dengan Islam sebagai wahyu. Banyak perdebatan-perdebatan antar kelompok-kelompok teologi merupakan perdebatan dalam tataran kedua ini. Contohnya adalah tingkah laku seorang manusia, apakah ia mempunyai kehendak sendiri ataukah pekerjaannya sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Perdebatan dalam masalah ini ramai diperbincangkan oleh kaum Mu'tazilah kemudian menganut paham free will juga termasuk dalam kajian Islam sebagai pemikiran. Bagaimana kemudian memahami kata kutiba yang ada dalam ayat puasa kemudian diartikan menjadi wajib juga merupakan contoh dari studi Islam pada tataran kedua.
Konsep kajian Islam sebagai pemikiran atau pemahaman adalah kajian yang berangkat dari sumber-sumber yang diakui sebagai sumber-sumber Islam, seperti alquran al-karim, hadis, ijma' dan lain sebagainya.Selain itu mengkaji Islam pada tataran kedua ini juga akan memberikan ruang untuk mengkaji Islam sebagaimana dipahami oleh suatu masyarakat. Contohnya seperti " konsep wahdatul wujud dalam tarekat Naqsabandiyah, atau "syaria'ah menurut MUI" misalnya dan lain sebagainya. Kajian Islam sebagai pemahaman akan menyediakan ruang studi yang sangat luas, seluas agama Islam yang menyebar di dunia.
Sedangkan Islam pada tataran terakhir, yakni Islam sebagai pengamalan, juga memberikan ruang kajian ke-Islaman yang sungguh luas. Konsep kajian Islam sebagai pengamalan berangkat dari pertanyaan dasar: bagimanakah suatu masyarakat mengamalkan Islam ? dari kajian ke-Islaman pada tingkat kedua dan ketiga inilah kemudian nantinya muncul studi wilayah, yakni memahami Islam pada suatu masyarakat, daerah, bangsa atau etnis Islam.
Salah satu perbedaan antara Islam sebagai pemahaman dengan Islam pada pengamalan adalah aktualisasinya pada kehidupan. Karena bisa saja suatu pemahaman tentang Islam tidak teraplikasikan dalam pengamalan, atau malah bertentangan dengan fakta. Contoh kajian pada tataran ini adalah penganut konsep wihdatul wujud pada aliran Tarekat Naqsabandiyah, atau mazhab ciputat dan lain sebagainya. Dalam kajian-kajian ke-Islaman tiga tataran ini memang perlu dijelaskan agar tidak terjadi kesalah pahaman antara pengkaji dengan pembaca.
Objek kajian studi Islam ini juga memenuhi persyaratan yang diterapkan kepada ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, dapat diobservasi, dapat diteliti kembali kebenarannya, dapat diuji intersubjektif dan inter-disiplin.
Studi Islam mempunyai kerangka kerja, kerangka teoritis pembahasan masalah, penyelesaian masalah, inquiry, hipotesis dan kesimpulan. Perangkat langkah-langkah metodologis yang merupakan syarat keilmiahan sebuah kajian telah dipenuhi oleh studi Islam.
Studi Islam juga memakai beberapa pendekatan tertentu dalam kajiannya layaknya ilmu-ilmu lainnya. Objek-objek studi Islam bisa didekati dengan pendekatan sosiologis, antropologis, psikologis dan lain sebagainya. Studi Islam telah memenuhi syarat-syarat untuk dapat dikatakan ilmiah artinya studi Islam telah menempati jajaran dan peta kajian-kajian ilmiah lainnya. Dengan begitu diharapkan para pengkaji ke-Islaman bisa mempertahankan keilmiahan kajiannya, hingga Islam bisa dipahami dengan lebih objektif, universal dan humanis.
Meski demikian, ternyata ada juga beberapa kendala menurut beberapa golongan yang mengakibatkan studi-studi ke-Islaman pada beberapa kajian tidak bisa dipandang sebagai ilmiah dan tentu saja pendapat mereka itu juga disanggah oleh beberapa golongan lainnya. Seperti studi sastra Islam dan memang merupakan problem yang dihadapi oleh studi sstra pada umunya misalnya, kajian-kajian tentang sastra dipandang tidak bisa mempertahankan keilmiahannya karena tidak bisa melengkapi beberapa syarat-syarat keilmiahan seperti pengujian intersubjektif dan lain sebagainya.
Selain itu, bagi para pengkaji Islam yang shaleh-shaleh dalam pengertian tradisional, dalam beberapa objek, terdapat keterasingan dalam mengkaji Islam bila ingin menjadikan kajian tersebut memenuhi syarat ilmiah yang diajukan oleh para sarjanawan ilmu-ilmu lain. Seperti sejarah Islam, bagi pengkaji muslim, sejara, sejarah Islam tidak bisa dilepaskan dari wahyu, bahwa kepintaran dan kebijakan Muhammad tidak semata-mata hasil dari usahanya dalam bermasyarakat akan tetapi juga merupakan bimbingan tuhan. Disinilah persoalan kemudian muncul karena syarat "keilmiahan" tidak bisa menerima sesuatu tanpa ada sumber yang bisa dibuktikan dalam pandangan mereka, khususnya dalam pemahaman sarjanawan Barat.
Akan tetapi tentu saja hal ini dapat dibantah bahwa kerangka dan langkah-langkah metodologi sebuah kajian tidak sama dengan kajian lainnya. Islam mengakui wahyu, ilham dan intuisi sebagai sumber pengetahuan sementara aliran rasionalis tidak mengakuinya. Aliran rasionalis harus lebih rendah hati dan sadar bahwa mengkaji Islam dalam segala aspeknya tidak akan bisa dilepaskan secara total dari wahyu, agar sebuah kajian ke-Islaman dapat menghasilkan kesimpulan yang lebih mendekati kebenaran.
Karena studi islam berobjek kepada tiga tataran objek kajian seperti yang dikemukakan diatas, maka dapat kami simpulkan bahwa kebnyakan studi Islam masuk dalam bagian ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

E. Pendekatan Inter-disiplin dan Multi-disiplin.
Ketiga tataran objek kajian ke-Islaman seperti yang dipaparkan diatas bisa dikaji dengan menggunakan beberapa pendekatan seperti pendekatan historis, sosiologis, antropologis, psikologis, pendekatan wilayah, fenomenologis, komparatif dan post-modernisme.
Inter-disiplin pendekatan akan terjadi bila sebuah objek displin ilmu didekati dengan pendekatan disiplin ilmu lainnya, sebut saja gabungan pendekatan sosiologis dan historis atau sosiologis dengan psikologis. Contoh kajian yang menggunakan dua pendekatan adalah sosiologi sastra dimana ilmu kesusastraan didekati dengan pendekatan sosiologis, kajian ini akan mempelajari aspek-aspek struktur masyarakat dalam sebuah karya sastra, sejarah sosial umat Islam. Politik hukum Islam, dan lain sebagainya.
Seperti yang dipaparkan diatas bahwa objek kajian-kajian ke-Islaman bisa didekati dengan beberapa pendekatan. Aspek hukum Islam bisa didekati dengan pendekatan psikologis atau sosiologis atau fenomenologis. Inter-disiplin ini sungguh berguna bagi kajian-kajian ke-Islaman, karena sebuah kajian akan dapat dipahami dengan lebih detail, dan seringkali kajian ke-Islaman yang menggunakan sebuah pendekatan tidak bisa menjelaskan sebuah fenomena, lalu bisa dijelaskan dengan kajian yang mengambil objek yang sama tapi dengan menggunakan pendekatan yang berbeda.
Sejarah Islam saja tidak akan bisa menjelaskan kenapa Ali tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk tidak berdamai dengan Muawiyah pada kejadian tahkim, karena para Qurra ( pendukung dan tentara Ali) memaksa untuk berdamai, padahal ia adalahpemimpin sah, menantu dan sepupu Rasul, termasuk orang paling dihormati, pintar dan termasuk salah satu orang yang paling dahulu masuk Islam, kecuali bila didekati dengan pendekatan sosiologis. Kajian sejarah sosial ternyata bisa menjelaskannya dengan baik dengan mengemukakan bahwa ternyata pendukung Ali adalah orang-orang Arab Selatan yang tidak pernah hidup dengan administrasi negara yang mapan, selalu terjadi pergantian pemimpin dalam kurun waktu yang singkat, badui dan hidup miskin.
Sedangkan multi-disiplin akan muncul bila sebuah kajian senuah disiplin ilmu didekati dengan dua pendekatan disiplin ilmu yang berbeda. Seperti hukum didekati dengan sejarah dan sosial yang kemudian menghasilkan kajian sejarah sosial hukum Islam.
Seperti dengan inter-disiplin ilmu, multi-disiplin ini juga sangat berguna dalam menjelaskan sebuah fakta. Sebagai contoh, ilmu hukum Islam tidak membahas bagaimana hukum tersebut berkembang, lalu untuk menjawab pertanyaan itu maka digunakanlah pendekatan inter-disiplin yakni sejarah hukum Islam, akan tetapi juga sejarah hukum Islam tidak bisa menjelaskan kenapa tiba-tiba muncul Bukhari, Muslim, Abu Daud dan sebagainya yang dengan begitu semangat menghabiskan hidupnya untuk mencari hadis langsung kepada "sumbernya". Lalu untuk menjelaskan fakta sejarah tersebut kajian sejarah hukum ini kemudian didekati dengan pendekatan sosiologis yang kemudian berhasil menjelaskan bahwa ternyata setelah Syafi'i mendapatkan kondisi hukum yang didasarkan pada sumber yang tidak bisa dibuktikan keasliannya kepada nabi, maka Syafi'i pun merumuskan ushul fikihnya dengan menyatakan bahwa hukum harus mempunyai sumber yang bisa dibuktikan berasal dari alquran atau hadis, sementara pada saat itu hadis yang terbukti berasal dari Rasul sungguh sedikit, kebanyakan hanya opini bahwa sebuah perkataan yang mereka pakai sebagai sumber adalah hadis karena Rasul pasti mengatakan hal-hal baik. Dengan pengaruh Syafi'i masyarakat hukumpun berubah dan menginginkan hukum yang orisinil, dan hukum yang orisinil harus berdasarkan sumber yang terbukti orisinil, maka tidak lama kemudian muncullah orang yang dengan semangatnya mau mengumpulkan hadis dengan segala pembuktian keasliannya.
Suatu disiplin ilmu memiliki otonom di dalam dirinya. Namun karena gejala kehidupan yang dideskripsikan dan dijelaskan oleh ilmu tersebut merupakan suatu kesatuan yang kompleks, serta tingkat perkembangan dan kemampuan disiplin itu bervariasi, disiplin ilmu itu tidak dapat melepaskan diri dari bantuan dan kerjasama dengan ilmu lain. Terlebih bila gejala kehidupan itu akan dijelaskan secara komprehensif, maka terjadi adhesi dan kohesi, bahkan integrasi antar disiplin ilmu.
Berkenaan dengan hal itu, penelitian antar disiplin merupakan penggabungan unsur informasi dan unsur metodologi dari dua atau lebih disiplin ilmu dalam suatu program atau kegiatan penelitian. Adapun penelitian multi-disiplin merupakan kegiatan penelitian menurut disiplin ilmu masing-masing, kemudian digabungkan secara eksternal sebagai satu kesatuan. Pengkajian Islam secara sintetik yang berorientasi pada transformasi psikologi telah berkembang pada pengkajian-pengkajian secara analitik yang berfungsi pada level yang objektif untuk transformasi kemasyarakatan.
Hanna Djumaha Bastaman memberikan beberapa pola pemikiran Islamisasi sains berkaitan dengan inter-disiplin dan multi-disiplin sebagai berikut :
a. Similarisasi : Penyamaan Konsep
b. Paralelisasi : Memparalelkan Konsep
c. Komplementasi : Saling memperkuat satu sama lain
d. Komparasi : Membandingkan konsep atau teori
e. Induktivikasi : Menghubungkan prinsip agama kepada asumsi-asumsi
f. Verifikasi : Pembuktian kebenaran agama oleh suatu hasil penelitian.
Karena itu untuk dapat melihat Islam sebagai suatu objek kajian ilmiah secara objektif, kritis, analitis, metodologis, maka ia harus dilihat dari perspektif historis-empiris atau pengamalan dan buah pemikiran. Sebab bila Islam dilihat dari perspektif normatif (dogma, sumber ajaran yang absolut) semata, maka yang tampak adalah nilai-nilai romantisme, apologis, subjektif dan bersifat memihak.

F. Kesimpulan
Sebagai penutup, studi Islam dalam peta ilmu pengetahuan tidaklah terbatas pada ketiga bidang ilmu ini saja akan tetapi lebih luas dari itu. Kajian ke-Islaman pada alam raya telah memberi nilai baru terhadap beberapa teori yang telah dikemukakan ahli, baik dari kalangan Barat terlebih lagi dari kalangan muslim.
Studi Islam dengan segala perangkatnya telah berhasil atau paling tidak sedang dalam usaha untuk membuktikan diri secara total untuk bisa diakui sebagai kajian ilmiah. Sebagian besar studi Islam ini masuk pada bagian ilmu-ilmu sosial dan humaniora.
Problem keilmiahan studi Islam berkaitan dengan perangkat-perangkat yang bersifat metodologis seperti objek, kerangka kerja, kerangka teoritis, pendekatan inquiry, perumusan maslah dan sebagainya. Untuk bisa mempertahankan keilmiahan kajian ke-Islaman, maka seharusnyalah pengkaji-pengkaji ke-Islaman mempunyai langkah-langkah dan perangkat metodologis yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan.
Objek-objek kajian-kajian ke-Islaman bisa didekati dengan berbagai macam pendekatan dan berbagai disiplin ilmu yang kemudian menghasilkan inter-disiplin dan multi-disiplin ilmu. Hal ini sungguh berguna dalam menjelaskan fakta-fakta yang terjadi dalam objek kajian-kajian ke-Islaman.
Demikian pula dalam sosiologi, fenomena masyarakat dengan segala permasalahannya telah menjadi bagian studi Islam dalam melahirkan tatanan yang seimbang, dimana permaslahan yang timbul ditengah-tengah masyarakat (skala global: masyarakat dunia), tidak hanya diselesaikan secara rasio-empirik saja, yang tidak lain malah melahirkan permaslahan baru yang lebih rumit,

BIBLIOGRAFI
Abul Hasan An-Nadwi,Kehidupan Nabi Muhammad,terj Yunus Ali Muhdhar, (Semarang: As-Syifa, 1992).
Afzalur Rahman, Quranic Science, Edisi Indonesia, Al-qur'an Sumber Ilmu Pengetahuan, Cet.II, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992), Abdul Syani, Sosiologi Dan Perubahan Masyarakat, (Lampung : Pustaka Jaya, 1995).
Al-Raqib al-Asfahani, Mu'jam Mufradat Alfaz al-Qur'an, (Beirut Lubnan: Dar al-Fikr, tt.).
Baharuddin & Buyung Ali Sihombing, Metode Studi Islam, (Bandung : Citapustaka Media,2005).
Baharuddin, " Studi Islam dalam Perkembangan Sains (Membangun Paradigma Psikologi Islami dari Al-Qur'an)". Pidato Ilmiah, Disampaikan pada Rapat Senat Terbuka STAIN Madang-Sidimpuan dalam rangka Diesnatalis XXXIII dan Wisuda Sarjana XXIV dan Ahli Muda II, tanggal 9 Pebruari 2002 Ilyas Ba-Yunus, Farid Ahmad, Islamic Sosiology; An Introduction, Terj. Hamid Basyaib, (Bandung: Mizan, 1996).
Cik Hasan Bisri, Tradisi Baru Penelitian Islam: Tinjauan antar Disiplin Ilmu, (Bandung : 2001).
Endang Saifuddin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama, (Bina Ilmu, tt).
Hussein Bahreisi, Hadits Bukhari-Muslim, (Surabaya : Karya Utama, tt).

Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1977).

Ismail R. Al-Faruqi, Islam and Cultur, Terj. (Bandung: Mizan, 1989).

Ira M.Lapidus, A History Of Isamic Society, (New York: Cambridge University Press, 1993).
Jalaluddin Rahmat, Islam alternatif, (Bandung : Mizan, 1986).

Jujun S.Suriansumantri, Ilmu Dalam Perspektif, Cet. X (Jakarta : Yayasan Obor, 1992).
Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi untuk aksi, (Bandung: Mizan, 1998).

Louis O.Kattsoff, Soejono Soemargono(Penterj.), Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999).
Marshall Hodgson, The Venture Of Islam, Jil. 1, (Chicago: Chicago University Press, 1974).
M.Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, Cet. 1, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998).
Mohammad Hatta, Alam Pemikiran Yunani, (Jakarta: Tintamas, 1982).
National Comisión For UNESCO, Islam and Arab Contribution to The European Renainsance, Egypt : 1977), Edisi Indonesia, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Kebudayaan,, Cet., I, (Bandung : Pustaka, 1986).
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Cet, 34, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2002).
Sirajuddin Zar, Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Islam, Sains dan Alquran, (Jakarta: Rajawali Pers, 1997).
Syamsuddin Abdullah, Agama dan Masyarakat Pendekatan Sosiologi Agama, (Jakarta: Logos Wacana ilmu, 1997). Tim MGMP, Sosiologi SUMUT, Sosiologi (Medan : Kurnia, 1999).

P.J.Bouman, Ilmu Masyarakat Umum, Pengantar Sosiologi,Terj (Yakarta: PT.Pembangunan, tt).
Tim MGMP Sosiologi,(Medan: Kurnia, 1999).
Tim MGMP, Sosiologi SUMUT, Sosiologi (Medan : Kurnia, 1999).

T.jacob, Manusia, Ilmu dan Teknologi, (Yogyakarta: PT.Tiara Wacana yogya, 1988).















STUDI ISLAM DALAM PETA PENGETAHUAN ILMIAH


Makalah untuk memenuhi tugas pada Mata Kuliah
Pendekatan Dalam Pengkajian Islam


Dipresentasikan oleh :
Islahul Umam
Program Studi
Islam (KOMI)


Dosen Pengasuh :
Prof.Dr.Nawir Yuslem, MA

















PROGRAM PASCASARJANA
IAIN SUMATERA UTARA
M E D A N
2009

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>