Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 29 April 2011

Sejarah dan Pemikiran Tasawuf di Indonesia

/ On : 13.03/ Thank you for visiting my small blog here.
Sejarah dan Pemikiran Tasawuf di Indonesia
TUESDAY, 25. NOVEMBER 2008, 01:38:50
ARTIKEL ISLAM, TASAWUF
Tasawuf, sebagai aspek mistisme dalam islam, pada intinya adalah kesadaran adanya hubungan komunikasi dengan Tuhannya, yang selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat (qubr) dengan Tuhan. Hubungan kedekatan tersebut dipahami sebagai pengamalan spiritual dzauqiyah manusia dengan Tuhan, yang kemudian memunculkan kesadaran bahwa segala sesuatu adalah kepunyaan-Nya. Segala eksistensi yang relatif dan nisbi tidak ada artinya dihadapan eksistensi Yang Absolut.

Hubungan kedekatan dan hubungan penghambaan sufi dan khaliq-nya akan melahirkan persepektif dan pemahaman yang berbeda - beda anatar sufi yang satu dengan sufi lainnya. Keakraban dan kedekatan ini mengalami elaborasi sehingga akan melahirkan dua kleompok besar. Kelompok pertama mendasarkan pengalamannya kesufiannya dengan pemahaman yang sederhana dan dapat difahami oleh manusia pada tataran awam, dan pada sisi lain akan melahirkan pemahaman yang kompleks dan mendalam,dengan bahasa- bahasa simbolik - filosofis. Pada pemahaman yang pertama kemudian melahirkan tasawuf sunni, yang tokoh - tokohnya anatar lain Al Junaid, Al Qusyairi, dan Al Ghazali. Sedangkan pemahaman yang kedua menjadi tasawuf falsafi, yang tokoh - tokohnya antaa lain Abu Yazid Al Busthami, Al Hallaj, Ibnu Arabi, dan Al Jilli.
Dikalangan penganut tasawuf falsafi itu lahirlah teori - teori seperti fana, baqa dan ittihad ( yang dipelopori oleh Abu YAzid Al Busthami,Hulul (yang dipelopori oleh Al HAllaj), Wahdat Al Wujud (yang dipelopori oleh Ibn Arabi), Insan Kamil (yang dipelopori oileh Al Jilli), yang tidak diakui oleh kalangan tasawuf sunni. Kendati sufi sunni juga mengakui kedekatan manusia dengan Tuhannya, hanya saja masih dalam batas- batas syariat yang tetap membedakan manusia dengan TUhan. Teori - teori tersebut lahir karena kaum sufi falsafi mengakui " kebersatuan" itu, dengan alasan bahwa manusia adalah manusia, sedangkan Tuhan adalah Tuhan, yang tidak mungkin dapat bersatu antar keduanya.
Konsekuensi terhadap adanya faham"kebersatuan" yang diajarkan kaum sufi falsafi itu membuat mereka melacak asal - usuldirinya dan segala wujud yang ada. Menurut mereka, manusia sebagai makhluk sempurna merupakan pancaran atau turunan dari wujud sejati yang menurunkan wujud - wujud-NYA dari alam rohani ke alam materi dalam bentuk manifestasi wujud secara berurutan (gradasi wujud, hierarki wujud). Proses penurunan wujud ini dalam perbendaharaan sufi dinamakan dengan tanazzul, yang dikenal melalui bentuk poenyingkapan diri (tajalli), baik tajalli dzati (ghaib) maupun tajalli syuhudi seperti yang dikonsepsikan oleh Ibnu Arabi. Konseptanazil dan tajalli ini juga dapat ditemukan dalam pemikiran Al Jilli. Menurutnya proses tanazzul berupa tajalli Tuhan yang berlangsung secaraterus - menerus pada alam semseta terdiri atas lima martabat secaraberturu - turum yaitu uluhiyyah, ahadiyyah, wahidiyah, rahmaniyah, rububiyah. Kelihatanya konsep seperti ini mirip dengan teori emanasi dari Al Farabi.
Pada akhirnya kedua Konsep pemikiran tentang tanazzul tadi, baik Ibn Arabi maupun Al Jilli memiliki pandangan yang sama, yaitu bahwa manusia sebagai manifestasi Tuhan merupakan akhir dari manifestasi-Nya dan sekaligus menjadi titik tolak untuk mengenal dan kembali kepadaNya. Dengan mengenali diri manusia maka Tuhan akan dikenal karena segenap citraNya telah terangkum dalam dirri manusia itu sendiri sebagai manusia sempurna (insan Kamil). Inilah yang dimaksud dengan ungkapan yang banyak digunakan oleh kaum sufi,"barang siapa yang mengeal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya."
Selain penggambaran tanazzul yang telah disebutkan diatas, terdapat penggambaran lain yang khas yang digambarkan lewat dunia wujud atau alam - alam ('awalim) wujud. Penggamabaran tersebut dilihat dari sudut pandang perwujudan dan diperoleh ma'rifat yang diistilahkan dengan al hadharat (kehadiran - kehadiran), meliputi martabat asasi bagi wujud alam semesta yang tersusun dari tajalli - tajalli. Penggambaran yang dianggap paling sistematis dari al hadharat, seperti yang disampaikan oleh Abu Thalib Al MAkki (wafat 368 H / 996 M ) adalah Huhut ( Esensi atau realitas absolut ), Lahut ( realitas being yakni Tuhan atau Pribadi Tuhan ), Jabaraut (alam malaikat), Malakut (alam gaib) dan Nasut (alam manusia).
Teori - teori tentang tanazzul dan tajalli yang dikemukakan para tokoh sufi falsafi diatas ternyata pada perkembangan sejarahnya tersebar luas hampir keseluruh dunia Islam seiring dengan tersebar dab berkembangnya agama ISlam ke seluruh pelosok dunia, termasuk ke Indonesia. Adapun di Indonesia, teori tanazzul yang berdasar pada konsep - konsep pemikiran Ibn Arabi dan Al Jilli itu kemudian mengkristal menjadi konsep Martabat Tujuh.KOnsep ini merupakan tingkatan - tingkatan perwujudan melalui tujuh tingkat martabat, yaitu ahadiyah, wahdah, wahidiyah, alam arwah, alam mitsal, alam ajsam dan alam insan.
Martabat - martabat ahadiyah, wahdah dan wahidiyah disamakan juga dengan maratib al ilahi (jabatan - jabatan Tuhan) . Pada Maratib Ilahi itu, martabat wahdah sebagai perantara yang menghubungkan anatara ahdiyah dan martabat wahidiyah yang tidak dikenal dalam teori - teori tanazzul sebelumnya.
Martabat alam arwah, alam mitsal dan alam ajsam disebut juga dengan maratib al kawni (jabatan - jabatan duniawi). Sedangkan pada martabat insan terkumpul semua martabat yang ada sebelumnya (al jami) dan dipandang sebagai martabat yang sempurna. Oleh karena itu dalam martabat ini terdapat insan kamil sebagai wadah tajalli Tuhan yang sempurna.
Konsep Martabat Tujuh yang masih sangat terkait dengan pemikiran Ibnu Arabi dan Al Jilli itu diterima dan dikembangkan oleh para tokoh sufi dari berbagai daerah di Indonesia, misalnya Syamsuddin As Sumatrani (dari Pasai Aceh), Abd. Ra'uf As Sinkli (Singkil Aceh), Abd Shamad Al Palimbani (Palembang - Sumatera Selatan), Abd. Muhyi Pamijah (Jawa Barat), dan Muhammad Aidrus (Buton - Sulawesi). Mereka mengembangkan pemikiran sufistik Indonseia dengan wacana dan pendekatan tarekat - atrekat yang menyertainya.
Pemikiran-pemikiran tasawuf fasafi diatas tidak lantas begitu saja diterima oleh tokoh - tokoh tasawuf sunni. Golongan yang disebut kedua ini bahkan menolak pemikiran - pemikiran tasawuf yang filosofis karena menurut mereka hal itu akan membawa kerncedrungan pantheisme. Dan ternyata ada tokoh yang mengklaim para penganut martabat tujuh dan wujudiyah sebagai kufur atai zindik. Polemik di anatar kedua kubu penganut tasawuf ini begitu mewarnai sejarah perkembangan dan pemikiran tasawuf di Indonesia, sejalan dengan proses masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia.
Berdasarkan hal diatas , perkembangan Islam di Indonesia sangat terkait sejarah dan pemirian tasawuf. Atau dengan kata lain penyebaran Islam di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari tasawuf. Bahkan " Islasm Pertama " yang dikernal di Nusantara ini sesungguhnya adalah Islam yang disebarkan dengan sufistik. Para penyebar Islam di Indonesia itu umunya pada Da'i yang memiliki pengetahuan dan pengamalan tasawuf. Dianatar mereka juga banyak yang menjadi pangamal dan penyebar tarekat di Indonesia.

http://my.opera.com/alislam2008/blog/sejarah-dan-pemikiran-tasawuf-di-indonesia

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>