Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 29 April 2011

PENELITIAN HISTORIS - KOMPARATIF

/ On : 13.09/ Thank you for visiting my small blog here.
PENELITIAN HISTORIS - KOMPARATIF
Dipresentasikan Oleh: Saharani


A. Pendahuluan
Bagi peneliti sejarah yang menganut “histories komparatif”, sikap netral dalam pengkajian dan penulisan sejarah merupakan hal yang sulit untuk direalisasikan. Alasannya, bahwa pengetahuan sejarah itu pada dasarnya adalah mengalihkan fakta-fakta pada suatu bahasa lain, menundikkannya pada bentuk-bentuk, kategori-kategori, dan tuntutan-tuntutan khusus dan penelitian.
Perbandingan antara dua atau beberapa objek bias menghasilkan beberapa makna dalam hal ini perlu dilakukan perbandingan, dalam melakukan perbandingan bias dilakukan antara satu dengan lainnya, serta dapat dilihat dari segi materialnya, sifat-sifatnya, kuantitas atau kualitasnya. Namun bias juga dilihat dari segi persamaan, kemiripan, perbedaan dan pertentangan. Atau bisa pula perbandingan antara satu dengan lainnya dilihat sebagai alat banding atau alat ukur. Makna perbandingan (komparatif) dengan demikian, bisa ditarik meluas dan sering pula ditempatkan secara terbatas.
Dalam studi agama, pendekatan komparatif bukanlah suatu metode yang baru, akan tetapi pendekatan ini merupakan pengembangan dari pendekatan yang ikut mengiringi pendekatan-pendekatan lain karena Islam bukanlah agama yang monodimensi. Islam bukan agama yang terbatas pada hubungan antar manusia dengan Tuhan, tetapi Islam juga mengatur masalah kehidupan manusia di bumi yang merupakan dimensi lain dari agama. Maka memandang Islam pada satu dimensi saja tidaklah cukup untuk mengetahui Islam secara keseluruhan sekalipun kita telah melihatnya secara benar. demikian juga terhadap sejarah (historis) yang memerlukan data yang detail, dan berkesinambungan antar satu masa dengan masa berikutnya yang dalam hal ini memerlukan komparatif (perbandingan) terutama sumber, data, fakta, material dan lain lainnya yang mendukung kesamaan dan atau perbedaan dari sejarah tersebut.
Komparatif selalu dimaknai dengan perbandingan, berarti ada beberapa obyek paling sedikit dua obyek yang akan dibandingkan apakah sama, berbeda, ada segi-segi persamaan atau segi-segi perbedaan. Perbandingan antara dua atau beberapa objek yang bisa dimaknai dengan beberapa makna. Bisa dibandingkan antara satu dengan yang lain dari segi materialnya dan sifat-sifatnya.
B. Sejarah Penelitian Historis Komparatif
Penelitian historis komparatif dimulai pada priode sebelum perang dunia I yang merupakan sebuah perpaduan dari sosiologi, sejarah, ilmu politik dan ekonomi. Penelitian historis komparatif berkembang dan ditemukan oleh para antropologi dan oleh para peneliti sejarah. Dari perang dunia I sampai tahun 1950-an sedikit sekali sosiolog yang mengadakan penelitian historis komparatif, mereka banyak mengadakan penelitian lapangan. Namun betapapun kecilnya, itu merupakan sesuatu yang sangat penting. Orang-orang yang berpengaruh dalam historis komparatif yang telah menyebarluaskannya pada priode ini adalah Marco Bloch, George Human dan Robert Merton serta Karl Polanji, mereka memberi perhatian khusus terhadap penelitian sejarah dengan menggunakan metodologi penelitian histories komporatif.
Para ilmuan tersebut tertarik didalam penelitian komparatif bertambah setelah perang dunia ke II. Hal ini disebabkan karena komunikasi internasional yang membaik. Dan perubahan kerajaan colonial kepada sebuah kemepimpinan dunia yang dimotori oleh Amerika Serikat. Arti penting dari segolongan kecil pelajar yang telah menerapkan sebuah pendekatan struktur fungsional yang telah ditampilkan selama tahun 1950-an, mereka memasukkan Robert Bella`s, Tokugawa Religion (1957) dan Neil Smeksers, perubahan sosial dibidang revolusi industri (1959) Reinhard Bendixs bekerja untuk kepentingan industri (1956), sebuah keunikan persandingan empat bangsa dari perubahan sejarah juga kelihatan dalam priode ini.
Beberapa faktor telah mendorong hasil penelitian historis komparatif pada tahun 1960-an, Pertama, beberapa sejarawan seperti Lee Benson, Robert W, Fogel, Ricard Jensen, dan Steven Thernstron, mengangkat teknik kuantitatif dari ilmu pengetahuan sosial menambah penyimpangan terhadap sejarah dan ilmu pengetahuan sosial. Pada statistik penyelidikan mobilitasnya menunjukkan pengembangan, dan hasil pungutan suara para sejarawan memperlihatkan kekuatan dari data kuantitatif dan memberi pertanyaan baru peneliti kuantitatif untuk alamat teknik yang mereka gunakan.
Kedua, teknik survey yang diambil dari Amerika digunakan untuk pelajar yang tidak sama. Seperti pada Alond dan Verva`s pada budaya masyarakat (1963). Banyak persoalan metodologi yang baru dan pertanyaan yang timbul dari usaha-usaha dalam menggunakan teknik kuantitatif untuk campuran penyamarataan warga Negara.
Ketiga, pekerja-pekerja sosial historis komparatif seperti Max Weber dan Clar Marx, telah menterjemahkan dan membuat untuk pertama sekali dalam bahasa Inggris. Terjemahan dari Weber mungkin banyak mempengaruhi penulisan sejarah tahun 1960-an. Kemudian yang lain dipengaruhi oleh orang-orang yang bergerak dibidang ilmu-ilmu sosial..
Keempat, pentingnya pelajaran yang diambil dari buku-buku yang lama, menunjukkan cara baru untuk membuat penelitian historis komparatif dan pentingnya membuat kemajuan teori. Penyelidikan Tilly`s dari Prancis pada tahun 1970 menggabungkan logika kualitatif dan data sejarah baru. Penyelidikan Moor`s dari Inggris, India, Jepang, Jerman, Amerika Serikat dan Uni Siviet menemukan bagaimana gabungan dari peristiwa dan persatuan kelompok sosial yang menyebabkan beberapa negara membangun negara demokrasi dan yang lain membangun pemerintahan non demokrasi. Penyelidikan Thompson dari Inggris terlebih dahulu pada tahun 1940, telah menunjukkan cara baru kepada penyelidikan secara singkat dan bahagian-bahagian kehidupan, kata-kata dan perbuatan-perbuatan manusia biasa. Pemikiran ini untuk semua transaksi yang baik dari sejarah sosial baru yang dapat dari E.P. Thomson.
Perhatian peneliti historis komparatif berkembang pada tahun 1970-an. Sebagaimana yang terdapat dalam beberapa buku yang sesuai dengan model, bagaimana melakukan penelitian historis komparatif. Ada tiga faktor yang kelihatannya mempunyai alasan pengembangannya. Pertama, peneliti mengupas, kedua fungsi struktur yang pandangan masyarakatnya statis menetapkan perekonomian di dalamnya paham marxisme ortodok. Mereka membangun teori baru yang sensitif terhadap hubungan sejarah dan budaya serta mencoba beberapa cara untuk teori-teori baru.
Kedua, sebagai sebuah hasil kongkrit permainan politik dibeberapa negara barat, para peneliti mempunyai perhatian di dalam pertanyaan yang mendasar tentang sifat masyarakat dan pilihan sosial.
Penelitian historis komparatif telah menyediakan beberapa pertanyaan seperti, apakah proses dasar dari masyarakat industri, bagaimanakah kesadaran tentang perubahan masyarakat, bagaimanakah mengubah struktur dasar sosial.
Ketiga, banyak peneliti telah melihat batasan didalam pemahaman tertentu pada sebuah pendekatan yang sempurna dan merasa bahwa teknik pendekatan kualitatif itu sendiri tidak mencukupi. Setelah perkembangannya pada tahun 1970-an historis komparatif, berubah kepada sebuah kekuatan vital sampai pada tahun 1980-an. Pada tahun 1983 sebagian dari sosiologi historis komparatif telah diformat didalam American sociological association (ASA). Didalam keputusan presiden ASA Melvin Kohn ( 1987 ) berkata, peneliti negara campuran yang telah berpengalaman merupakan kebangkitan yang hampir ditinggalkan pada tahun 1970-an, lebih lanjut Hant (1989) menegaskan, sejarah sosiologi telah mencapai sejarah penting dari sosiologi itu dan boleh jadi tes perkembangan yang cepat. Beberapa format artikel yang dipergunakan dari peneliti historis komparatif kelihatan dalam jurnal ilmiah yang terkenal. Sebagai contoh tentang 40 % dari pengumuman artikel-artikel didalam jurnal sosiologi Amerika Serikat sampai pada tahun 1990mengumumkan sejarah atau perbandingan didalam beberapa penerapannya. Seementara pada tahun 1985-1989 hanya mencapai 28 % dan pada tahun 1976-1978 hanya mencapai 18 %.
C. Langkah-langkah Penelitian Historis Komparatif
Penelitian historis komparatif umumnya memiliki langkah-langkah sebagai berikut; 1) menentukan objek penelitian, 2) membuat desain atau kerangka penelitian, 3) mengumpulkan data dari berbagai sumber, 4) evaluasi kualitas data, 5) mengolah data, 6) mensintesiskan data, 7) menganalisis data dan 8) membuat kesimpulan.
1). Menentukan objek penelitian
Objek kajian meliputi dua hal, yang pertama, objek material dan kedua, objek formal. 1) objek material dalam hal ini yang menjadi objek kajian adalah seluruh bukti sejarah; atau salah satunya, seluruh bidang sejarah atau salah satunya. 2) objek formal, tulisan-tulisan tentang gagasan sejarah yang sedang dikaji sebagai perbandingan dengan pendekatan sejarah. Jadi tidak diselidiki menurut pendekatan lain semisal hukum, tafsir, fiqih dan lain-lain.Tinjauan yang bersifat interdisipliner yang melibatkan semuanya itu memungkinkan dilakukan sebagai pengayaan, bukan tinjauan utama.
2) Membuat desain atau kerangka penelitian
Mengikuti metode penelitian historis, maka terdapat tingkat analisis penelitian. Secara garis besar dapat dipaparkan dalam table sebagai berikut :
Tingkatan
Kerangka Uraian Data yang Diperlukan/Bukti Sejarah Metode Pendekatan
1) Teks





2) Sosiologi- antropologi-kultur-budaya







3) Bukti sejarah Cari data berupa bahan tulisan dan bahan cetakan seperti buku harian, rekaman resmi, testimoni dalam kehakiman, memorandum, buku tahunan, surat kabar, majalah, arsip dan sebagainya.

Rekaman bahasa lisan seperti dongeng, syair dan bentuk-bentuk rekaman lisan yang lain. Ahli-ahli sejarah sering kali melakukan wawancara dengan orang-orang yang dapat dipandang sebagai saksi hidup mengenai peristiwa penting yang terjadi pada masa sebelumnya. Wawancara yang berupa rekaman kaset, dapat ditransfer menjadi bahan tertulis.


Sumber jenis ini dapat berupa gedung, bangunan lain, cetak biru (blue-print) bangunan sekolah, relief, batu atau papan yang ditandatangani pada waktu pendirian suatu monument dan lain-lain. Dokumen





Rekaman oral (lisan)










Peninggalan-peninggalan Sejarah

3) Mengumpulkan data dari berbagai sumber
Sebenarnya bukan hanya rekaman yang berupa bahan tertulis saja yang dapat dipandang sebagai sumber sejarah. Secara garis besar sumber-sumber sejarah dapat diklasifikasikan menjadi empat tipe sumber; 1) dokumen berupa bahan tulisan dan bahan cetakan seperti buku harian, rekaman resmi, testimoni dalam kehakiman, memorandum, buku tahunan, surat kabar, majalah, arsip dan sebagainya. 2) rekaman kuantitatif dapat dikatakan bagian dari dokumen. Rekaman sensus penduduk, anggaran, sekolah, daftar hadir siswa, daftar nilai dan kumpulan rekaman yang berupa angka-angka merupakan bahan yang sangat berguna bagi peneliti sejarah. 3) rekaman oral (lisan) adalah berbagai rekaman bahasa lisan seperti dongeng, syair dan bentuk-bentuk rekaman lisan yang lain. Ahli-ahli sejarah sering kali melakukan wawancara dengan orang-orang yang dapat dipandang sebagai saksi hidup mengenai peristiwa penting yang terjadi pada masa sebelumnya. Wawancara yang berupa rekaman kaset, dapat ditransfer menjadi bahan tertulis. Dan 4) peninggalan-peninggalan, sumber jenis ini dapat berupa gedung, bangunan lain, cetak biru (blue-print) bangunan sekolah, relief, batu atau papan yang ditandatangani pada waktu pendirian suatu monument dan lain-lain.
4) Evaluasi kualitas data
Dari peneliti sejarah dituntut adanya sikap super kritis dalam mengevaluasi kualitas data. Bahan-bahan sejarah yang ada kadang-kadang nampak sangat tidak bermakna bagi orang awam. Dokumen, data kuantitatif dan peninggalan-peninggalan sejarah kadang-kadang merupakan sesuatu yang murni, unik, tetapi kadang-kadang sudah merupakan polesan. Rekaman yang berupa dokumen dapat saja ditulis langsung oleh penulis asli tetapi nampak seperti ditulis oleh editor. Sumber sejarah mungkin menunjukkan pada kajian yang tidak terjadi atau terjadi tetapi berbeda dengan deskripsi yang disampaikan oleh saksi mata. Masih banyak lagi ragam penyajian informasi yang terdapat di dalam sumber sejarah.
5) Mengolah data
Analisis data yang baik memerlukan pengelolaan data yang dilakukan secara efisien. Karena itu kita harus mencatat data dalam format yang memudahkan analisisnya. Dalam hal ini komputer memegang peranan penting dan memiliki kapasitas untuk mencari lokasi dan mengeluarkan kembali informasi yang melebihi standar manusia. Komputer dapat pula memperbaiki efisiensi kita dalam mengelola data dengan memperoleh akses sesuai dengan yang diperlukan. Dalam wawancara, jika kita memfilekan pembicaraan kemudian kita dapat mereferensikan data secara lebih ekonomis dan mengeluarkannya dalam referensi yang lebih lengkap sewaktu diperlukan.
6) Mensintesiskan data
Dalam memperoleh dan menganalisis bukti sejarah, perlu diperhatikan keakuratan data-data yang didapatkan antara salah satu data dengan data yang lainnya dengan menggunakan analisis isi (content analysis) baik terhadap ruang dan waktu maupun keabsahan data dari aspek sosiologi maupun dari sudut pandang antropologi. Mensisntesiskan data dari sudut pandang sejarah tentunya merupakan hal yang penting salah satu indikatornya adalah dokumen sejarah
7) Menganalisis data
Data dapat dikumpulkan melalui wawancara, pengamatan, dari dokumen atau secara gabungan daripadanya. Pengumpulan data biasanya menghasilkan catatan tertulis yang sangat banyak, transkrip wawancara yang diketik, atau pita video/audio tentang percakapan yang berisi penggalan data yang jamak nantinya dipilah-pilah dan dianalisis. Proses ini dilaksanakan dengan jalan membuat kode dan mengkatagorisasi-kan data.

8) Membuat kesimpulan.
Dalam membuat kesimpulan merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang dikemukakan pada pembahasan dan penelitian sejarah. Perlu ditegaskan bahwa bukan ringkasan dari pembahasan. Kesimpulan adalah natijah atau hasil/jawaban dari rangkaian argumentasi yang tertuang dalam bab-bab pembahasan. Pada bagian ini juga dimuat hal-hal yang perlu ditindak lanjuti dari hasil penelitian, baik berupa penelitian lanjutan atau implikasi praktis dari hasil penelitian tersebut.
Disamping hal tersebut juga dikuatkan pendapat para ahli ilmu lainnya dalam langkah-langkah penelitian historis yang sepakat untuk menetapkan empat kegiatan pokok di dalam cara meneliti sejarah. Gottchalk misalnya, mensistematisasikan langkah-langkah itu sebagai berikut:
1. Pengumpulan objek yang berasal dari suatu zaman dan pengumpulan bahan-bahan tertulis dan lisan yang relevan;
2. Menyingkirkan bahan-bahan (atau bagian-bagian daripadanya) yang tidak otentik;
3. Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya berdasarkan bahan-bahan yang otentik;
4. Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya itu menjadi suatu kisah atau penyajian yang berarti.
Secara lebih ringkas, setiap langkah ini berturut-turut biasa juga diistilahkan dengan: Heuristik, Kritik atau verifikasi, Aufassung atau intepreasi, dan Darstellung atau historiografi. Sebelum keempat langkah ini sebenarnya ada satu kegiatan penting, yang oleh Kuntowijoyo ditambahkannya menjadi lima langkah penelitian sejarah, yaitu : 5. Pemilihan Topik dan Rencana Penelitian.
1. Teknik Pemilihan Topik Penelitian
Topik penelitian adalah masalah atau objek yang harus dipecahkan atau diatasi melalui penelitian ilmiah. Topik tidak sama dengan judul, karena yang dimaksud dengan judul adalah “abstraksi” dari masalah atau topik yang dirumuskan dalam bentuk kalimat. Sekedar contoh perbedaan antara topik dengan judul, ialah karya Harry J. Benda. Sejarawan ini memilih topik “Islam di Indonesia dalam Masa Pendudukan Jepang”, lalu hasil penelitiannya itu diberi judul “Bulan Sabit dan Matahari Terbit”. Dalam judul ini ternyata masih diperlihatkan juga topik penelitiannya, sehingga bisa saja memang topik penelitian itu sebagai judul penelitiannya, ini soal selera saja.
Dalam sebuah judul penelitian ilmiah, biasanya terdiri dari: (1) masalah, objek atau topik penelitian sejarah; (2) subjek sejarah; (3) lokasi atau daerah; (4) tahun atau waktu terjadinya peristiwa sejarah; (5) desain, strategi atau metode penelitian.
Objek peristiwa seperti dalam judul di atas adalah “kehidupan politik” atau “ perkembangan peran”; subjeknya “Umat Islam” dan “Pemerintah Jepang”; lokasinya “di Indonesia, khususnya di Jawa”; dan waktunya pada masa “Pendudukan Jepang” atau bisa juga dengan penentuan angka tahun, “1942-1945”, misalnya.
Bagaimana mencari topik yang tepat? Dalam hal ini harus kembali kepada motif penelitian itu, yakni bukanlah semata-mata untuk menghasilkan karya yang bersifat kompilasi. Akan tetapi haruslah dapat memberikan sumbangan baru kepada perkembangan ilmu pengetahuan dengan menggunakan fakta baru dari penemuannya dalam melaksanakan penelitian atau interprestasi baru terhadap data yang telah lama dikenal orang.
Bagaimana cara memilih topik penelitian sejarah? Menurut Kuntoeijoyo, topik sebaiknya dipilih berdasarkan kedekatan emosional dan kedekatan intelektual. Dua syarat ini dapat dipahami, bahwa topik itu bisa ditemukan atas (1) Kegemaran tertentu atau pengenalan yang lebih dekat tentang hal yang terjadi di sekitarnya atau pengalaman penelitian, dan (2) keterkaitan penelitian dengan disiplin ilmu atau aktivitasnya dalam masyarakat. Jadi bagi peneliti Sejarah atau Peradaban Islam, misalnya, maka topik yang akan lebih tepat untuk dipilih adalah di sekitar “Islam dan Umat Islam”. Disekitar topik yang masih sangat umum ini, mahasiswa dapat memilih topik yang spesifik dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, seperti yang disarankan Louis Gottchalk sebagai berikut:
1. Perangkat pertanyaan yang bersifat geografis, yaitu terfokus pada interogatif: “dimana?”.
2. Perangkat pertanyaan yang bersifat biografis, yang dipusatkan di sekitar interogatif: “Siapa?”.
3. Perangkat pertanyaan yang bersifat kronologis, yang dipusatkan di sekitar interogatif: “Bilamana?”
4. Perangkat pertanyaan yang bersifat fungsional, yaitu berkisar di sekitar interogratif: “Apa?”.
Berkaitan dengan sejarah Islam dan umatnya, maka berdasarkanpertanyaan-pertanyaan diatas yang pertama kali harus dipertanyakan “Umat Islam di mana? Benua Kawasan, Negeri, Daerah, Kota, Desa dan sebagainya. Kedua , “Umat Islam sebagai orang apa atau kelompok apa?” Etnis, Aliran, Organisasi, Tokoh, dan sebagainya. Ketiga, dalam periode mana pada masa silam Islam dan umatnya itu akan dipelajari? Awal Islam, Abad Pertengahan, Adab Modern, Tahun 1905, Periode Kemerdekaan Indonesia, dan sebagainya. Keempat, peristiwa atau kegiatan jenis apa dari Umat Islam itu? Politik, Sosial, Ekonomi, Kebudayaan, Pemikiran, Ajaran dan seterusnya.
Apabila seorang peneliti telah dapat memilih topok-topik sejarah yang menarik hatinya, tetapi ia mungkin bingung menentukan topik yang tepat untuk penelitiannya, maka jalan yang bisa melempangkannya ialah mencari informasi di seputar aspek yang menarik minatnya itu. Pencarian informasi dapat dilakukan, antara lain dengan cara:
Pertama, meminta penjelasan atau saran-saran kepada orang lain, seperti dosen, sejarawan, atau komunitas ilmiah lainnya yang dipandang mengerti tentang topik penelitian yang ditentukan.
Kedua, yang lebih penting lagi ialah membaca berbagai karangan atau buku-buku untuk mengenal segala segi permasalahan yang bertalian dengan topik penelitian. Melalui cara ini peneliti akan dapat mengenal hal-hal yang bersifat umum, singkat, dan sederhana.
2. Teknik Penyusunan Rencana Penelitian
Rencana penelitian bisa juga disebut usul atau proposal penelitian. Perencanaan penelitian pada pokoknya merupakan serentetan petunjuk yang disusun secara logis dan sistematis. Suatu perencanaan penelitian dalam bidang ilmiah apapun, dan khususnya dalam bidang sejarah, membutuhkan pemikiran yang seksama sehingga seringkali memakan waktu yang tidak sebentar.
Isi suatu perencanaan penelitian biasanya memuat langkah-langkah yang akan dilakukan dalam meneliti sebuah topik yang telah ditentukan. Perincian sebuah proposal itu tidak perlu seragam, tergantung pada badan atau lembaga yang menerima proposal itu, yang tentunya akan berbeda-beda dari satu badan ke badan yang lain. Namun isi proposal penelitian pada umumnya terdiri atas: latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, lingkup penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, hipotesis (bila ada), cara penelitian, dan jadwal penelitian.
a. Latar Belakang
Dalam penelitian, “latar belakang” biasanya diidentikkan dengan suatu masalah yang akan diteliti. Masalah sejarah sudah barang tentu adalah suatu peristiwa masa lampau yang dipertanyakan dan sangat penting untuk dipecahkan, atau sesuatu yang mengandung beberapa kemungkinan pemecahan serta jawabannya berdasarkan fakta-fakta masa lampau. Dalam hal ini uraian mengenai latar belakang suatu topik hanyalah garis besarnya saja. Begitu pula latar sejarah itu secara kronologis hendaknya di seputar waktu terdekat dengan topik. Jadi kalaulah topik yang diteliti adalah tentang “Islam pada abad 19”, maka latar belakangnya tidak perlu sampai menyangkut perihal Islam itu pada abad-abad yang jauh sebelumnya.
Hal lain yang harus diuraikan disini ialah jawaban atas pertanyaan “mengapa masalah itu diteliti?”. Berarti penjelasan mengenai alasan-alasan masalah itu dipandang menarik, penting, dan perlu diteliti merupakan uraian tentang urgensinya penelitian. Contoh pentingnya penelitian itu, antara lain karena menyangkut masalah umum (masyarakat), merupakan mata rantai sejarah, dan melengkapi khazanah ilmu pengetahuan. Kecuali itu perlu juga dijelaskan kedudukan masalah yang akan diteliti itu dalam lingkup permasalahan yang lebih luas.
Dalam bagian latar belakang ini perlu dikemukakan pula “keaslian penelitian”, yaitu dengan menjelaskan bahwa masalah yang dihadapi belum pernah dipecahkan oleh peneliti terdahulu, atau dinyatakan secara tegas beda penelitian ini dengan yang sudah pernah dilakukan. Di sini disebutkan pula tentang garis besar metode penelitian dan faedah yang dapat diharapkan terutama bagi ilmu pengetahuan dan kepentingan masyarakat.
b. Perumusan Masalah
Dalam bagian ini memuat yang lebih jelas lagi tentang masalah yang telah ditetapkan dalam Latar Belakang Masalah. Dengan perkataan lain, masalah itu diidentifikasikan dengan rumusan masalah yang secara eksplisit dalam urutan sesuai dengan intensitas terhadap topik penelitian. Bentuk perumusan masalah pada umumnya berupa kalimat pertanyaan, tetapi bisa juga dalam kalimat pernyataan yang bersifat menggugah perhatian. Akan tetapi di sini dapat pula keduanya sekaligus, misalnya, rumusan itu dituangkan dalam bentuk pernyataan sebagai penegasan topik, lalu diikuti pertanyaan-pertanyaan pokok yang pada gilirannya berfungsi untuk menjabarkan topik dimaksud.
c. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Dalam bagian ini pertama-tama disebutkan secara spesifik tujuan yang ingin dicapai. Tujuan berarti sebagai tindak lanjut terhadap masalah yang diidentifikasikan, sehingga apa yang dituju hendaklah sesuai dengan urutan masalah yang telah dirumuskan. Adapun kegunaan penelitian, disini lebih ditegaskan lagi kemanfaatan penelitian itu bagi pengembangan suatu ilmu dan bagi kegunaan praktis. Namun kegunaan apapun harus tetap terkait dengan maksud dan tujuan penelitian itu sendiri.
d. Lingkup Penelitian
hal ini dimaksudkan agar peneliti tidak terjerumus dalam sekian banyak data yang ingin diteliti. Oleh karena itu luasan dan batas penelitian dalam tempat dan waktu perlu dijelaskan. Contoh, masalah “Perjuangan Umat Islam”. Masalah ini sangat luas, bisa perjuangan di bidang politik, sosial, ekonomi, agama dan sebagainya. Untuk itu perlu ditentukan segi-segi mana dari persoalan yang luas itu akan dijadikan pusat perhatian. Lingkup tempat juga perlu dibatasi, apakah mencakup seluruh Indonesia, Pulau Sumatera, ataukah daerah yang lebih kecil lagi. Demikian pula batasan waktu dan periode yang dijadikan konsentrasi penelitian. Di dalam penjelasan atas batas-batas tersebut perlu dikemukakan alasannya secara tepat.
e. Tinjauan Pustaka
Bagian ini berisi uraian sistematis tentang hasil-hasil penelitian terdahulu dan yang ada hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan. Untuk penelitian sejarah, berarti perlu dikemukakan sejarah penulisan (historiografi) dalam bidang yang akan diteliti, dan seluruh hasil penelitian yang ada harus di-review. Dalam review itu dikemukakan apa kekurangan para peneliti terdahulu dan apa yang masih perlu diteliti. Apabila persoalan sejarah yang akan diteliti itu ternyata belum ada hisoriografinya, maka kepustakaan umum yang dianggap terkait dengan hal penelitian dapat dipergunakan, dan isinya sama menjelaskan bahwa permasalahan yang akan diteliti belum terjawab atau belum terpecahkan secara memuaskan. Semua sumber yang dipakai harus disebutkan dengan mencatumkan nama penulis dan tahun penerbitan. Sedapat mungkin fakta-fakta yang dikemukakan diambil dari sumber aslinya.
f. Landasan Teori
Landasan teori dijabarkan dari tinjauan pustaka dan disusun sendiri oleh peneliti atau mahasiswa. Dalam hal ini landasan teori adalah sama maksudnya dengan “kerangka pemikiran”, yakni jalan pikiran menurut kerangka yang logis untuk menangkap, menerangkan dan menunjukkan masalah-masalah yang telah diidentifikasikan. Kerangka teori yang relevan pada gilirannya berfungsi sebagai tuntunan untuk menjawab, memecahkan, atau menerangkan masalah yang telah diidentifikasikan itu, atau untuk merumuskan hipotesis. Penyusunan landasan teori pada umumnya dapat berbentuk uraian kualitatif, model matematis, atau persamaan-persamaan yang langsung berkaitan dengan bidang ilmu yang diteliti.
Dalam penelitian sejarah, teori yang dipergunakan biasanya disusun sesuai dengan pendekatan apa dan bidang sejarah mana yang diteliti. Bila yang diteliti adalah mengenai sejarah sosial, maka teori-teori yang relevan digunakan adalah dari sosiologi, begitu pula bidang sejarah yang lain, seperti agama, kebudayaan, ekonomi dan politik.
g. Hipotesis
Isi hipotesis adalah kesimpulan sementara yang dinyatakan dari landasan teori atau tinjauan pustaka. Kesimpulan dimaksud berupa jawaban sementara terhadap masalah yang diidentifikasikan. Dalam metode historis seringkali dipertanyakan apakah diperlukan hipotesis atau tidak. Sementara pendapat menyebutkan bahwa “suatu penelitian bertolak dari hipotesis atau tidak, bukanlah syarat mutlak yang menentukan sifat ilmiah dari suatu penelitian”.
Pendapat lain menyatakan, “selama penelitian itu hanya terbatas pada pengumpulan fakta-fakta, hipotesis tidak diperlukan”. Namun menurut Winarno Surakhmad, penelitian yang sekedar mengumpulkan fakta bukanlah penelitian dalam arti sebenarnya. Oleh karena itu penelitian historis yang bertujuan menemukan generalisasi dan memberikan pengertian fenomena dalam dimensi waktu, mestilah memerlukan hipotesis.
Hipotesis itu biasanya dibedakan antara hipotesis kerja dan hipotesis penguji. Hipotesis kerja adalah suatu ide atau rumusan tanggapan mengenai arah penelitian, sedangkan hipotesis penguji adalah tanggapan yang memungkinkan memberi jawaban yang tepat mengenai persoalan penelitian dan langkah-langkahnya ditentukan untuk dapat menguji kebenaran tanggapan itu. Dengan demikian hipotesis kerja mungkin lebih tepat untuk penelitian sejarah, yang rumusannya adalah menyatakan harapan adanya hubungan antar fakta-fakta.


h. Metode Penelitian
Dalam penyurunan rencana penelitian, peneliti akan dihadapkan pada tahap pemilihan metode atau teknik pelaksanaan penelitian. Sedikitnya ada lima macam metode penelitian yang bisa dipilih; historis, deskriptif, korelasional, eksperimental dan kuasi eksperimental. Pilihan yang tepat atas salah satu metode ini sangat tergantung pada maksud dan tujuan penelitian. Jadi bila tujuan penelitian itu adalah mendeskripsi dan menganalisis peristiwa-peristiwa masa lampau, maka sangatlah tepat menggunakan metode historis. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, metode historis itu bertumpu pada empat langkah kegiatan: heuristic, kritik, interpretasi dan historiografi.
3. Teknik Pengumpulan Sumber
Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut tentang teknik mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah itu. Teknik dimaksud biasa dinamakan heuristik, artinya memperoleh. Menurut G.J. Renier, heuristik adalah suatu teknik, suatu seni, dan bukan suatu ilmu. Oleh karena itu heuristik tidak mempunyai peraturan-peraturan umum. Heuristik seringkali merupakan suatu ketrampilan dalam menemukan, menangani dan memperinci bibliografi, atau mengklasifikasi dan merawat catatan-catatan.
Apakah alat-alat heuristik itu? Apabila sumber-sumber sejarah itu ternyata terdapat di museum-musium atau perpustakaan, maka catalog-katalog dapat dipergunakan sebagai alat utama hauristik. Akan tetapi sumber tertulis itu tidak selamanya terkoleksi secara rapih. Bila ternyata sumber-sumber itu terdapat pada koleksi swasta atau perorangan, maka yang terpenting untuk diketahui adalah tempat-tempat atau dimana koleksi dokumen-dokumen itu tersedia.
Sebelum peneliti mengayunkan langkahnya lebih jauh dalam pencarian sumber-sumber yang lebih terperinci, sebetulnya panduan heuristik yang pertama kali dapat dilakukan adalah dengan membaca bibliografi terdahulu mengenai topic penelitian. Berdasarkan bacaan ini, selain penelitian dapat mengumpulkan sebagian data, ia juga dapat mencatat sumber-sumber terkait yang dipergunakan dalam karya terdahulu itu. Dengan demikian, peneliti mulai dapat menjaring sebanyak mungkin jejak-jejak sejarah yang ditemukannya. Lalu peneliti memperhatikan setiap jejak itu dan bagian-bagiannya, dengan selalu bertanya apakah itu merupakan sumber yang tepat dan apakah itu merupakan data sejarah.
Suatu prinsip didalam heuristik adalah sejarawan harus mencari sumber primer. Sumber primer dalam penelitian sejarah adalah sumber yang disampaikan oleh saksi mata. Hal ini dalam bentuk dokumen, misalnya catatan rapat, daftar anggota organisasi, dan arsip-arsip laporan pemerintah atau organisasi massa; sedangkan dalam sumber lisan yang dianggap primer adalah wawancara langsung dengan pelaksana peristiwa atau saksi mata. Adapun kebanyakan disampaikan oleh bukan saksi mata. Segala bentuk sumber tertulis, baik primer maupun sekunder, biasanya tersajikan dalam aneka bahasa dan ragam tulisan. Sumber sejarah Indonesia, misalnya, banyak disajikan dalam bahasa Belanda, Melayu, Jawa atau Arab. Oleh karena itu pengolahan atas sumber-sumber yang diperoleh sangat mutlak perlu penguasaan bahasa-bahasa sumber.
Pekerjaan penelitian dalam melakukan telaah dokumen atau library research ialah membuat catatan. Data penelitian yang diperoleh melalui telaah pustaka itu mustahil hanya dapat disimpan dalam ingatan semata, tetapi seharusnya dibuat catatan-catatan dari sumber-sumber yang ditelaah.
Sedikitnya tiga bentuk catatan yang dapat dibuat, sebagaimana dikemukakan Florence M.A. Hilbish yaitu: (1) quotation (kutipan langsung), (2) citation atau indirect quotation (kutipan tidak langsung), dan (3) summary (ringkasan) dan comment (komentar). Perbedaan harus jelas agar tidak terjadi kekeliruan dan dapat memudahkan peneliti dalam penyusunan laporan nanti.
Selanjutnya bagaimana teknik pengumpulan sumber lisan? Dalam hal ini wawancara atau interview merupakan teknik yang sangat penting. Wawancara langsung dengan saksi atau pelaku peristiwa dapat dianggap sebagai sumber primer, manakala sama sekali tidak dijumpai data tertulis. Namun begitu wawancara juga bisa merupakan sumber sekunder, apabila fungsi wawancara itu sebagai bahan penjelasan atas kesamaran data atau ayang diamati oleh peneliti dirasa belum lengkap. Paling sedikit ada tiga syarat yang sebaiknya dipenuhi oleh peneliti sebelum melangsungkan wawancara:
Pertama, banyak membaca di sekitar permasalahanyang akan ditanyakan, sehingga peneliti cukup mampu manakala harus terjadi dialog denga informan.
Kedua, dipersiapkan alat tulis dan alat perekam yang baik. Bahkan tape recorder dipandang sangat penting, agar keterangan-keterangan dari informan dapat ditampung secara lebih utuh dan lengkap. Apalagi kalau informan yang diwawancarai dalam satu kesempatan lebih dari satu orang, maka tape akan sangat membantu peneliti.
Ketiga, peneliti terlebih dahulu sudah mempersiapkan bahan-bahan pertanyaan, yaitu berupa daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis dan terarah sesuai dengan permasalahan yang akan dihimpun.
Pada wantu wawancara itu dilangsungkan, peneliti harus memperhatikan kode etik tertentu agar informan dengan segala senang hati bersedia memberikan jawaban atau penjelasan. Diantaranya, jangan ada kesan memaksa, pertanyaan cukup singkat dan setaraf dengan tingkat pengetahuan informan, peneliti harus bersabar untuk siap menjadi pendengar, bersikap toleran dan tidak menyinggung perasaan informan, dan sebagainya. Seusai wawancara semua hasil rekaman itu harus segera ditranskrip, dan di dalam lembaran transkrip jangan lupa mencantumkan tanggal wawancara serta identitas informan, lalu mintakan tandatangan.
4. Teknik Verifikasi: Kritik Sumber
Setelah sumber sejarah dalam berbagai kategorinya itu terkumpul, tahap yang berikutnya ialah verifikasi atau lazim disebut juga dengan kritik untuk memperoleh keabsahan sumber. Dalam hal ini yang juga harus diuji adalah keabsahan tentang keaslian sumber (otentisitas) yang dilakukan melalui kritik ekstern; dan keabsahan tentang kesahihan sumber (kreadibitas) yang ditelusuri melalui kritik intern. Berikut ini kedua teknik verifikasi tersebut akan dijelaskan lebih lanjut.

a. Keaslian sumber (otentisitas)
Peneliti melakukan pengujian atas asli dan tidaknya sumber berarti ia menyeleksi segi-segi fisik dari sumber yang ditemukan. Bila sumber itu merupakan dokumen tertulis, maka harus diteliti kertasnya, tintanya, gaya tulisannya, bahasanya, kalimatnya, ungkapannya, kata-katanya, hurufnya, dan segi penampilan luarnya yang lain. Otentisitas semua itu minimal dapat diuji berdasarkan lima pertanyaan pokok sebagai berikut:
1). Kapan sumber itu dibuat? Peneliti harus menemukan tanggal pembuatan dokumen. Manakala tidak dijumpai tanggal yang pasti, penekanan mengenai tanggal kira-kira dapat dilakukan dengan cara penetapan tanggal paling awal dan tanggal yang paling akhir. Setalah tanggal dari pada dokumen itu dapat diterka, lalu dihubungkan dengan materi sumber untuk mengetahui apakah tidak anakronistik (menyalahi zaman). Misalnya sebuah dokumen dengan huruf ketikan diklaim berasal dari abad ke-18, jelas tidak tepat sebab mesin ketik belum ditemukan sebelum abad ke-19.
2). Dimana sumber dibuat? Beraryi peneliti harus mengetahui asal usul dan lokasi pembuatan sumber yang dapat menciptakan keasliannya. Lokasi pembuatan sumber itu bisa saja berbeda dengan tempat di mana sumber itu tersimpan. Jika suatu dokumen tersimpan di tempat-tempat tertentu, seperti di dalam arsip keluarga, kantor niaga, kantor pemerintah, atau perpustakaan, maka penyimpanannya dapat menciptakan pra anggapan mengenai otentisitas.
3). Siapa yang membuat? Hal ini mengharuskan adanya penyelidikan atas kepengarangan. Jadi setelah diketahui siapa pengarang dari suatu dokumen, peneliti berusaha untuk melakukan identifikasi terhadap pengarang mengenai sikap, watak, pendidikan dan sebagainya.
4). Dari bahan apa sumber dibuat? Untuk hal ini analisis terhadap bahan atau materi yang berlaku pada zaman tertentu bisa menunjukkan otentisitas. Beberapa pertimbangan yang dapat dipakai untuk menguji keaslian bahan dokumen, misalnya, kertas masih jarang ditemukan sebelum abad ke-15, dan percetakan tidak dikenal; potlot masih sulit ditemukan dan sebelum abad ke-16; dan kertas (India) baru ada pada akhir abad ke-19.
5). Apakah sumber itu dalam bentuk asli? Dalam hal ini pengujian mengenai integritas sumber merupakan langkah yang sangat menentukan. Kecacatan sumber dimungkinkan terjadi pada bagian-bagian dokumen atau keseluruhannya, yang disebabkan oleh usaha sengaja untuk memalsukan atau kesalahan disengaja. Untuk ini perlu dilakukan kritik teks, sebagaimana teknik yang berlaku di kalangan ahli filosof.
b. Kesahihan Sumber (Kredibilitas)
Kekeliruan sumber bisa disebabkan dari kekeliruan dalam sumber informasi yang terjadi dalam usaha menjelaskan, menginterprestasikan, atau menarik kesimpulan dari suatu sumber, disamping itu bisa juga terjadi pada kekeliruan sumber formal. Penyebab ketidak sahihan isi sumber itu memang sangatlah kompleks. Selain disebabkan kekeliruan tersebut di atas bisa juga terjadi karena perspeksi perasaan, karena ilusi dan halusinasi, sintesis dari kenyataan yang dirasakan dalam reproduksi dan komunikasi, dan kekeliruan lebih sering terjadi dalam catatab sejarah, dalam biografi misalnya, memoir (ingatan yang luas), buku harian, jurnal dan surat-surat, surat kabar dan inskripsi (tanggal yang salah atau pernyataan tentang peristiwa yang tidak pernah terjadi).
5. Teknik Interpretasi
Interprestasi atau penafsiran sejarah seringkali disebut juga dengan analisis sejarah. Analisis sendiri berarti menguraikan, dan secara terminologis berbeda dengan sintesis yang berarti menyatukan. Namun keduanya, analisis dan sintesis, dipandang sebagai metode-metode utama dalam interprestasi.
Didalam proses interprestasi sejarah, seorang peneliti harus berusaha mencapai pengertian faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa. Data sejarah kadang mengandung beberapa sebab yang membantu mencapai hasil dalam berbagai bentuknya. Walaupun suatu sebab kadangkala dapat mengantarkan kepada hasil tertentu, tetapi mungkin juga sebab yang sama dapat mengantarkan kepada hasil yang berlawanan dalam lingkungan lain. Oleh karena itu interprestasi dapat dilakukan dengan cara memperbandingkan data guna menyingkap peristiwa-peristiwa mana yang terjadi dalam waktu yang sama. Jadi jelaslah untuk mengetahui sebab-sebab dalam peristiwa sejarah itu memerlukan pengetahuan tentang masa lalu, sehingga saat penelitian peneliti akan mengetahui situasi pelaku, tindakan, dan tempat peristiwa itu.
Dalam menginterprestasikan sejarah, peneliti kadang terpaksa membuat dugaan yang dibayangkan dari data yang ada dan berusaha untuk menemukan penjelasannya sesuai dengan dugaan-dugaan itu. Hal demikian bisa saja mengarah kepada hasil yang tidak sesuai dengan hakekat sejarah itu sendiri, bahkan yang ada hanyalah cerminan pemikiran, aliran, atau selera si peneliti.
Untuk itu peneliti sebaiknya memusatkan perhatiannya pada pos-pos tertentu yang membicarakan suatu masalah, misalnya, dengan mempelajari tokoh-tokoh, lingkungan kejadian yang melingkupinya, dan perbedaan atau persamaan sifat keanggotaan masyarakat. Selanjutnya perhatian diarahkan kepada analisis mengenai apa yang dipikirkan orang, diucapkan, dan diperbuat orang yang menimbulkan perubahan melalui dimensi waktu. Metode interprestasi sejarah pada umumnya sering diarahkan kepada pandangan para ahli filsafat, sehingga sejarawan bisa mendapatkan kemungkinan jalan pemecahan dalam menghadapi masalah historis. Beberapa interprestasi menganai sejarah dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Interprestasi Monistik, yaitu interprestasi yang bersifat tunggal atau suatu penafsiran yang hanya mencatat peristiwa besar dan perbuatan orang terkemuka yang meliputi interprestasi teologis (takdir Tuhan), geografis (peranan sejarah), ekonomis (faktor ekonomi) dan rasial (penafsiran yang ditentukan oleh peranan ras atau bangsa.
2. Interprestasi Pluralistik. Interprestasi semacam ini dimunculkan oleh para filosof abad ke-19 yang mengemukakan bahwa sejarah akan mengikuti perkembangan-perkembangan sosial, budaya, politik dan ekonomi yang menunjukkan pola peradaban yang bersifat multikompleks.
Para ahli sejarah membebaskan penggunaan apa saja dari bentuk dan metode interprestasi itu yang logis untuk mencapai tujuannya. Meskipun dikalangan sejarawan modern sendiri kecenderungan terhadap interprestasi pluralis lebih menonjol, karena mereka beranggapan bahwa kemajuan studi sejarah dapat didorong pula oleh kemajuan ilmu pengetahuan lainnya.
6. Teknik Penulisan: Historiografi
Sebagai fase terakhir dalam metode sejarah, historiografi di sini merupakan cara penulisan, pemaparan, atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan. Layanan laporan penelitian ilmiah, penulisan hasil penelitian sejarah itu hendaknya dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai proses penelitian, sejak dari awal (fase perencanaan) sampai dengan akhirnya (penarikan kesimpulan). Berdasarkan penulisan sejarah itu pula akan dapat dinilai apakah penelitiannya berlangsung sesuai dengan prosedur yang dipergunakannya tepat atau tidak; apakah sumber atau data yang mendukung penarikan kesimpulannya memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai atau tidak; dan sebagainya.
Diantara syarat umum yang harus diperhatikan peneliti di dalam pemaparan sejarah, adalah:
1. Peneliti harus memiliki kemampuan mengungkapkan bahasa secara baik.
2. Terpenuhinya kesatuan sejarah, yakni suatu penulisan sejarah itu disadari sebagai bagian dari sejarah yang lebih umum, karena ia didahului oleh masa dan diikuti oleh masa pula. Dengan perkataan lain, penulisan itu ditempatkannya sesuai dengan perjalanan sejarah.
3. Menjelaskan apa yang ditemukan oleh peneliti dengan menyajikan bukti-buktinya dan membuat garis-garis umum yang akan diikuti secara jelas oleh pemikiran pembaca. Dalam hal ini perlu dibuat pola penulisan atau sistematika penyusunan dan pembahasan.
4. Keseluruhan pemaparan sejarah haruslah argumentative, artinya usaha peneliti dalam mengerahkan ide-idenya dalam merekonstruksi masa lampau itu didasarkan atas bukti-bukti terseleksi, bukti yang cukup lengkap, dan detail fakta yang akurat.
Cukup jelaslah bahwa hal yang membedakan penulisan sejarah dari penulisan ilmiah bidang lain ialah penekanannya pada aspek kronologis. Karena itu alur pemaparan fakta harus selalu diurutkan kronologisnya, sekalipun yang ditunjukkan di dalam pokok setiap pembahasan adalah tema tertentu tetap saja harus yang sesuai dengan batasan waktu tertentu pula.
D. Data dan Bukti dalam Kontek Historis
Data sejarah adalah metode yang dilakukan oleh peneliti sejarah atau pengumpulan dan menganalisa faktor sejarah. Sejarah sosiologi adalah sebagian dari penelitian historis komparatif itu. Penelitian yang sama atas empat tipe dari fakta sejarah atau data-data primer, data skunder, catatan yang sedang berjalan, data menurut ingatan. Sejarah tradisional memperagakan peranan di atas data primer. Penelitian historis komparatif sering menggunakan data skunder atau tipe data perbandingan didalam kombinasinya. Sebagai contoh: Sudakno pada tahun 1984 memeriksa aktivitas sosial Amerika untuk mengevaluasi teori-teori dari kekuatan politik. Dari 40 data dia telah menyebutkan untuk fakta, 23 adalah data primer (surat-surat, memo, laporan kantor, surat kabar atau majalah, artikel-artikel dari beberapa priode), 3 adalah mengumpulkan ingatan kembali (memori atau legenda) dan 21 adalah data sekunder (bukan sejarah, dari beberapa penelitian). Sebuah penelitian Griffin, Wallace, dan Rubin tahun 1986 sebuah gerakan anti persatuan, sebelum tahun 1930 merupakan data primer yang digabungkan (statemen-statemen pengacara) dan data-data skunder (data sejarah) yang dianalisa dari tekanan yang bergerak (data pemerintahan pada kondisi ekonomi).
1. Data primer
Surat, diari, surat kabar, novel, kumpulan artikel, fhotografer dan seterusnya dari itu yang telah tinggal pada masa yang telah lalu dan mempunyai ketahanan untuk menghadirkan adalah data primer. Mereka menemukan di dalam arsif (tempat yang berisi dokumen, cerita, didalam koleksi pribadi, catatan keluarga atau musiman). Dokumen hari ini dan objek-objek (surat-surat kita, program televise, iklan, sandang, transportasi, menjadi data primer untuk sejarah masa yang akan datang. Sebuah contoh klasik data primer adalah sebuah kumpulan tulisan surat kuning oleh seorang suami yang pergi berperang untuk istrinyadan menemukannya didalam sebuah loteng oleh seorang peneliti.
Amin Zade tahun 1984 telah menggunakan data primer ketika dia meneliti pasangan dari protestan di tiga kota di Prancis dalam pertengahan 1800-an. Dia telah menguji dokumen tulisan-tulisan tangan di dalam arsip pemerintahan Prancis yang telah di buat oleh mata-mata kantor pengadilan.
2. Skunder
Penelitian sosial sering menggunakan data skunder, buku-buku dan tulisan-tulisan artikel oleh sejarawan spesialais sebagai bukti dari kondisi yang telah lalu. Skotpol (1984) telah menetapkan menggunakan banyak material, menggunakan materi-materi yang demikian tidak bisa sistematis dalam sosiologi Historical Compratif, tidak jauh menyimpang. Undang-undang kesepakatan dan prosedur-prosedur untuk menggunakan data skunder secara sah sebagai fakta. Penelitian skunder mempunyai batasan dan kebutuhan untuk digunakan sebagai peringatan. Batasan dari fakta sejarah skunder, di masukkan problem-problem dari data sejarah yang tidak akurat dan kekurangan dari penelitian di dalam wilayah kepentingan. Sebagian penelitian tidak dapat digunakan tes hipotesa. Posfakto (setelah perjalanan) keterangan tidak dapat dijadikan criteria yang positif dari keterangan-keterangan yang ada. Sebab control statistic sedikit, dapat digunakan dan mungkin tidak mungkin dijadikan ciplakan. Masih di dalam penelitian sejarah, oleh sebagian pelaku pran yang penting di dalam perkembangan keterangan umum. Diantaranya digunakan yang lain. Sebagai contoh banyak subtansi penelitian yang darurat dan evolusi dari kecendrungan lembur.
E. Penelitian
Sebuah metode kompratif, problem-problem di dalam tipe yang lain dari penelitian adalah membesar-besarkan di dalam sebuah study kompratif. Prinsipnya disini tidak ada perbedaan antara penelitian kompratif antar budaya dan penelitian tingkah laku masyarakat perorangan, penipuan agaknya di dalam jarak dari tipe-tipe tertentu dari masyarakat. Penelitian kompratif adalah melebihi dari sebuah perspektif atau orientasi, kemudian teknik penelitian terpisah.
Sebuah penampikan perspektif kompratif melemahkan di dalam desain penelitian dan menolong peneliti memprbaiki kualitas penelitian. Fokus dari penelitian kompratif adalah di atas kesamaan dan perbedaan di antara bagian-bagian dengan perbandingan antara pengetahuan dan perasaan.
Selanjutnya, penelitian kompratif membantu peneliti mengidentifikasi aspek-aspek dari kehidupanmasyarakat yang mempunyai jarak (budaya), sebagaimana telah disebarkan untuk membuat batasan bagian-bagian tersendiri. Semua peneliti ingin menyamakan beberapa gelar, peneliti positif adalah telah nenarik data penemuan hukum umum atau model dari tingkah laku sosial yang berpegang dari persilangan masyarakat. Tetapi peneliti positif semestinya tidak kompratif.
Penelitian kuantitatif juga memeriksa perbedaan beberapa kasus tetapi dengan sebuah tekanan yang berbeda, hasil akhir adalah menerangkan beberapa variasi dari satu variable yang berbeda yang digunakan banyak kasus persilangan.
Tipe peneliti kuantitatif hanya mempunyai keluarga besar bagi beberapa kasus. Penelitian kompratif dapat mengeliminasi atau menerangkan keterangan alternatif lain untuk hubungan kekeluargaan yang kuat. Contoh, While (1985) telah melihat pada hubungan yang baik antara tahun, diterima di sekolah atau tidak diterima. Contoh yang lain antara dua peneliti, Hassifing dan Abdul, menilai hubungan baik antara umur yang masih anak-anak yang menyusui dan pada permulaannya timbul masalah-masalah emosional. Hassifing melihat hanya pada data Amerika yang menunjukkan batasan dari 5 sampai 15 bulan pada masa menyusui. Dan adanya indikasi, problem emosional. Sementara Abdul melihat pada data dari 10 budaya dan menemukan sebuah batasan dari 5 sampai 36 bulan pada masa menyusui dia mengambil rata-rata dari problem perkembangan emosional yang menyusui sampai 18 bulan. Kemudian naik dan turunnya pada penurunan level. Abdul mengambil kesimpulan yang akurat, problem yang emosional pada umumnya untuk menyusui antara 6-26 bulan. Tetapi kelambatan atas menyusui menyebabkan kemungkinan problem-problem emosional Hassifing, reaksi mengambil kesimpulan penuh tentang hubungan baik, sebab dari perbuatan yang sempit dari usia menyusui di Amerika.

F. Beberapa Tipe Penelitian Historis-Komparatif
Terdapat beberapa tipe dalam penelitian historis komparatif, diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Dalam satu negara, masa lalu, bersifat kuantitatif; contoh: Brown dan Warner, 1992, meneliti tentang hubungan antara kaum imigran dengan prilaku polisi di kota-kota besar USA tahun 1900).
2. Dalam satu negara, masa lalu, bersifat kualitatif; contoh: Beisel’s, 1990, meneliti tentang kampanye dalam memerangi kejahatan di tiga kota USA pada penghujung tahun 1980-an.
3. Dalam beberapa negara, masa lalu, bersifat kualitatif; contoh: Barkey 1991, meneliti tentang keadaan pada masa pemberontakan petani di Prancis dan Turki pada abad ke tujuh belas.
4. Dalam satu negara, jangka waktu tertentu, bersifat kuantitatif; contoh: Tolnay dan Beck 1992, meneliti tentang migrasinya orang-orang Afrika Amerika dari Amerika Selatan antara tahun 1910-1930.
5. Dalam satu negara, jangka waktu tertentu, bersifat kualitatif; contoh: Prechel 1990, meneliti tentang hubungan antara industri baja Amerika dengan kebijakan pemerintah dalam waktu 50 tahun.
6. Dalam beberapa negara, waktu sekarang, bersifat kuantitatif; contoh: Wright dan Cho 1992, meneliti tentang pola persahabatan di antara kelas-kelas sosial berbeda di Amerika, Swedia dan Norwegia.
G. Kesimpulan
Penelitian historis komporatif diartikan sebagai suatu penyelidikan yang menguji hubungan variabel yang terwujud sebelumnya. Jenis pendekatan penelitian ini sering digunakan dalam bidang sejarah, pendidikan, psikologi dan akhir-akhir ini juga dalam bidang sosiologi. Karena sebagian besar variabel yang diselidiki dalam bidang-bidang tersebut baik secara langsung dapat dimanipulasi oleh peneliti. Tidak adanya kontrol pada variabel bebas merupakan kelemahan utama pada pendekatan jenis penelitian ini. Tidak adanya kemungkinan penetapan subjek-subjek secara acak dari berbagai tingkat karena adanya penyelesaian sendiri. Ini berarti subjek-subjek ditetapkan pada tingkat khusus menurut karakteristik yang mereka miliki atau pengalaman yang telah mereka lalui.
Konsekuensinya adalah adanya penafsiran yang tidak cocok pada penelitian historis komporatif jika peneliti tidak memiliki pengetahuan yang luas dalam hal ia dapat menjelaskan penemuan-penemuan melalui penelitian historik komporatif dengan menggunakan pendekatan-pendekatan antara lain seperti interprestasi, induksi dan deduksi, koherensi intern, holistika, kesinambungan histories, idealisasi, komparasi, heuristika, bahasa inklusif atau analogal, deskripsi, lokasi kejadian, sumber sejarah dan mengevaluasi kualitas fakta.


Contoh : FORMAT RANCANGAN PENELITIAN KUALITATIF

Judul: GERAKAN TAREKAT QADIRIYAH DAN NAQSYABANDIYAH SURYALAYA DI TASIKMALAYA, 1905-1995

ABSTRAKSI
KATA PENGANTAR
PEDOMAN TRANSLITERASI
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
D. Ruang Lingkup Penelitian
E. Kerangka Teoritis/Kajian Pustaka
F. Sistematika Pembahasan

BAB II SEJARAH TAREKAT QADIRIYAH DAN NAQSYABANDIYAH SURYALAYA
A. Sejarah Gerakan Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah, tahun 1905
B. Perkembangan Gerakan Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah di Tasikmalaya
C. Konsep Tauhid, Ibadah dan Fiqhiyah dalam Perkembangan Gerakan Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah

BAB III METODE PENELITIAN
A. Pendekatan
B. Sumber Data
C. Alat Pengumpulan Data
D. Teknik Menganalisa Data

BAB IV HASIL PENELITIAN
B. Pola Pendekatan Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah dalam Perkembangannya
C. Pemikiran Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah tentang Tauhid
D. Konsep Fiqh Dilihat dari Pandangan Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah
E. Konsep Ibadah Dilihat dari Pandangan Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah

BAB V P E N U T U P
A. Kesimpulan
B. Saran-saran
BIBLIOGRAFI
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BIBLIOGRAFI

Abdurrahman, Dudung, Metode Penelitian Sejarah. cet. 1. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.
Al-Sharqawi, ‘Effat, Filsafat Kebudayaan Islam, terj. Ahmad Rofi’ Usmani, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1981).
Arikunto, Suharsimi. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 1990.
Harahap, Syahrin. Metodologi Studi Tokoh; Pemikiran Islam. Jakarta: Istiqamah Mulya Press, 2006.
Hasan, Usman. Metode Penelitian Sejarah. terj. Muin Umar. ed.al. Jakarta: Departemen Agama, 1986.
Ibrahim, Alfian. ed.al., Tentang Metodologi Sejarah. Supplement atas Buku dari Babad dan Hikayat sampai Sejarah Kritis. 1994.
Koentjaraningrat. Model-model Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT. Gramedia, 1989.
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya. 1995.
Louis, Gottschalk. Mengerti Sejarah. terj. Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press, 1983.
Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.
Renier. Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah. terj. Muin Umar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.
Sihombing, Baharuddin dan Buyung Ali Sihombing. Metode Studi Islam. Bandung: Citapustaka Media, 2005.
Winarno, Surakhmad. Pengantar Penelitian Ilmiah; Dasar, Metode, Teknik. Bandung: Tarsito, 1985.



DAFTAR ISI



A. Pendahuluan 1
B. Sejarah Penelitian Historis Komparatif 2
C. Langkah-langkah Penelitian Historis Komparatif 5
1). Menentukan objek penelitian 5
2) Membuat desain atau kerangka penelitian 5
3) Mengumpulkan data dari berbagai sumber 6
4) Evaluasi kualitas data 6
5) Mengolah data 7
6) Mensintesiskan data 7
7) Menganalisis data 7
8) Membuat kesimpulan. 8
D. Data dan Bukti dalam Kontek Historis 22
F. Beberapa Tipe Penelitian Historis-Komparatif 25
G. Kesimpulan 25

Lampiran-lampiran:
Contoh : FORMAT RANCANGAN PENELITIAN KUALITATIF 27
BIBLIOGRAFI 28

PENELITIAN HISTORIS KOMPARATIF




Makalah Perbaikan
Mata Kuliah:
Metodologi Penelitian Komunikasi




Oleh :
SAHARANI
Program Studi
KOMUNIKASI ISLAM (KOMI)


Dosen Pengasuh :
Dr. H. Syukur Kholil, MA
















PROGRAM PASCASARJANA
IAIN SUMATERA UTARA
M E D A N
2006

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>