Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 29 April 2011

PENDEKATAN HISTORIS DALAM STUDI ISLAM

/ On : 13.24/ Thank you for visiting my small blog here.
PENDEKATAN HISTORIS DALAM STUDI ISLAM
Dipresentasikan oleh : Nurzubaidah
NIM : 07 KOMI 1154


A. Pendahuluan
Ketika Islam muncul pada tataran politik, Islam merupakan kekuatan yang pernah menghiasi percaturan politik dunia yang diwakili dengan dinasti-dinasti yang pernah eksis, seperti di era Nabi di Madinah, era khulafaurrasyidin, era dinasti umayyah, era Abbasiyah dan era modern (Turki Utsmani).
Pada dasarnya untuk mengkaji Islam diperlukan semacam pendekatan yang mampu menjelaskan dari sisi mana Islam dilihat. Untuk itu diperlukan seperangkat metodologi atau pendekatan agar studi Islam lebih dapat dikaji secara objektif. Pendekatan yang sering digunakan dalam studi Islam berwajah ganda, di samping bersifat teologis normatif juga bersifat historis-kritis.
Islam sebagai produk sejarah ini dapat diteliti dengan menggunakan pendekatan kritis-historis (empiris). Pendekatan sejarah dalam studi Islam bukan hanya untuk mengungkapkan masa lalu, namun juga membahas kecenderungan dari masa lalu ke masa kini dan memprediksi masa kini ke masa depan. Dengan demikian kajian sejarah sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam mempelajari Islam bertujuan untuk melihat dari segi kesadaran sosial pada perilaku atau pendukung suatu peristiwa sejarah sehingga mampu mengungkapkan banyak dimensi dari peristiwa tersebut.
Pendekatan sejarah dalam studi Islam amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu turun dalam situasi dan kondisi sosial kemasyarakatan, yaitu bagaimana melakukan pengkajian terhadap berbagai studi keislaman dengan menggunakan pendekatan sejarah sebagai salah satu alat (metodologi) untuk menyatakan kebenaran dari objek kajian itu.
Beranjak dari hal di atas maka dalam makalah ini akan membahas tentang sejarah dan perkembangan Historiografi Islam awal, defenisi sejarah dan pendekatan sejarah, sejarawan-sejarawan muslim terkenal dan karya-karyanya, kritik-kritik dan kajian-kajian terhadap karya-karya sejarawan Islam periode awal dan pertengahan, perkembangan modern dan mutakhir dalam historiografi: tokoh-tokoh penting dan karya-karyanya dan signifikansi dan kontribusi pendekatan sejarah dalam studi Islam.
B. Pengertian Sejarah dan Pendekatan Sejarah
Secara etimologi, kata “sejarah” terjemahan dari kata tarikh, sirah (bahasa Arab), history (bahasa Inggris), geschichte (bahasa jerman).Semua kata tersebut berasal dari bahasa Yunani, yaitu “istoria” yang berarti ilmu. Dalam penggunaannya, filosof Yunani memakai kata istoria untuk menjelaskan secara sistematis mengenai gejala alam. Dalam perkembangan selanjutnya, kata istoria dipergunakan untuk menjelaskan mengenai gejala-gejala terutama hal ikhwal manusia dalam urutan kronologis.
Secara leksikal, sejarah adalah pengetahuan atau uraian tentang peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Secara terminologi sejarah adalah kisah dan peristiwa masa lampau umat manusia, baik yang berhubungan dengan peristiwa politik, sosial, ekonomi maupun gejala alam.Defenisi ini memberi pengertian bahwa sejarah tidak lebih dari sebuah rekaman peristiwa masa lampau manusia dengan segala dimensinya. Maka lapangan sejarah adalah meliputi segala pengalaman manusia.
Menurut Ibnu Khaldun sejarah tidak hanya dipahami sebagai suatu rekaman perisriwa masa lampau, tetapi juga penalaran kritis untuk menemukan kebenaran suatu peristiwa, adanya batasan waktu (yaitu masa lampau), adanya pelaku (yaitu manusia) dan daya kritis dari peneliti sejarah. Dengan kata lain di dalam sejarah terdapat objek peristiwanya (what), orang yang melakukannya (who), waktunya (when), tempatnya (where) dan latar belakangnya (why). Seluruh aspek tersebut selanjutnya disusun secara sistematik dan menggambarkan hubungan yang erat antara satu bagian dengan bagian lainnya.
Sebagai ilmu, sejarah terikat pada prosedur penelitian ilmiah. Sejarah juga terikat pada penalaran yang bersandar pada fakta. Kebenaran sejarah terletak dalam kesediaan sejarawan untuk meneliti sumber sejarah secara tuntas, sehingga diharapkan ia akan mengungkapkan sejarah secara objektif. Hasil akhir yang diharapkan ialah adanya kecocokan antara pemahaman sejarawan dengan fakta. Sejarah dengan demikian didefenisikan sebagai ilmu tentang manusia yang merekonstruksi masa lalu.
Adapun yang direkonstruksi sejarah adalah menyangkut apa yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan dan dialami oleh manusia. Mengungkapkan kisah dan peristiwa masa lampau umat manusia, terdapat dua implikasi metodologis. Pertama, keharusan memakai metode studi sejarah yang lebih problem oriented. Kedua, penjelasan serta penelaahan sejarah didasarkan pada analisis yang social-scientific. Terdorong oleh kecenderungan metodologis ini, maka dalam prakteknya sejarawan menggunakan pendekatan dan konsep-konsep serta teori-teori ilmu-ilmu sosial yang mempunyai daya penjelas yang lebih besar dalam memberikan keterangan historis (historial explanation).
Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah suatu cabang studi yang berkenaan dengan penelitian yang berhubungan dengan kejadian-kejadian yang terikat pada waktu, yang berhubungan dengan semua kejadian yang terjadi didunia ini. Dengan demikian sejarah pada hakekatnya adalah upaya melihat masa lalu melalui masa kini. Untuk mengarah pada suatu keyakinan atas kebenaran informasi masa lampau tentu tidak terlepas dari dukungan berbagai data yang akurat, di antara data itu adalah data sejarah. Maka pendekatan sejarah (historis) amat dibutuhkan dan tidak dapat dielakkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan.
Adapun yang dimaksud disini dengan pendekatan sejarah yang menjadi titik fokus pembahasan disini adalah cara pandang yang digunakan untuk merekonstruksi masa lalu umat manusia yang melihat suatu peristiwa dari segi kesadaran sosial yang mendukungnya. Pendekatan ini lebih populer disebut “sejarah sosial”. Pendekatan ini merupakan alternatif terbaik untuk lebih menjelaskan perkembangan dan perubahan-perubahan historis pada masa lalu secara lebih aktual dan komprehensif.
Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis. Pendekatan sejarah dibutuhkan dalam studi agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang kongkret bahkan berkaitan dan kondisi sosial kemasyarakatan.
Pendekatan sejarah adalah mengkaji Islam dari perspektif myang dikenal dalam ilmu-ilmu sejarah, dalam ini sebuah sejarah dipengaruhi oleh banyak faktor, sejarah dipengaruhi oleh masa dan cara berpikir di masa itu, dan sebagainya. Ketika diterapkan dalam mengkaji Islam, maka Islam bukan dilihat sebagai doktrin semata, tetapi dilihat secara historis yang terkena deretan hukum historis yang selalu berubah.
C. Islam Sebagai Fenomena Sejarah
Pendekatan sejarah dalam studi Islam merupakan pengkajian fenomena historis dari masyarakat muslim terutama sejak terbentuknya komunitas muslim masa Muhammad saw hingga masa sekarang. Alquran sendiri di lain pihak menyajikan kisah mengenai masyarakat terdahulu dengan berbagai variasi, yang perlu mendapat pembuktian secara empiris dari berbagai sumber yang ada. Alquran juga diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan situasi dan kondisi yang pada dasarnya merupakan jawaban bagi persoalan yang berkembang di masyarakat. Dalam ilmu tafsir, lahirlah ilmu Asbab al-Nuzul yang pada intinya berisi sejarah turunnya alquran juga merupakan jawaban bagi persoalan perkembangan dalam masyarakat.
Umat Islam sebagai bagian dari masyarakat pada umumnya tentu saja tidak lepas dari peristiwa sejarah. Saat ajaran Islam diwujudkan oleh pemeluknya dalam bentuk tindakan atau amalan, maka ia menjadi sejarah. Atas dasar itu Islam dapat dilihat sebagai wahyu berbentuk Alquran dan Hadis, sedangkan Islam sebagai wahyu dan sebagai produk sejarah berarti segala apa yang dipikirkan, dikerjakan, dikatakan, dirasakan dan dialami oleh orang-orang Islam.
Islam sebagai wahyu yang berbentuk Alquran dan Hadis, pemaparan makna yang terkandung dalam kedua nas tersebut tidak selamanya diungkapkan dengan bahasa yang jelas, melainkan sebagian memerlukan penjelasan atau penafsiran. Untuk itulah kedudukan Hadis terhadap Alquran berfungsi sebagai Mubayyan. Setelah Rasul wafat tentu tidak ada lagi mubayyan. Maka tugas para intelektual muslimlah selanjutnya untuk memberikan pemahaman dan penafsiran terhadap Alquran yang belum ada bayan-nya dari Rasul dan juga terhadap hadis yang kurang jelas pemahamannya.
Para ulama kemudian merumuskan atau membuat alat bantu ke dalam suatu bentuk pemahaman yang mudah dipahami dan dapat diamalkan terhadap suatu kasus hukum yang datang kemudian. Salah satu di antara rumusan atau alat bantu itu adalah kondisi historis empiris atau kondisi historis sosiokultural Alquran berupa sebab-sebab turunnya Alquran (asbab al-Nuzul) dan juga kondisi historis sosiokultural hadis (asbab al-Wurud). Untuk itu dibutuhkan pengetahuan sejarah tentang peristiwa-peristiwa dalam Islam. Sejarah bagi kaum muslimin tidak hanya bermanfaat sebagai cermin masa lalu untuk dijadikan pedoman bagi masa kini dan mendatang, tapi juga menjadi alat untuk memahami secara lebih tepat sumber-sumber Islam.
Apabila dipahami secara benar, Islam sebagai agama yang terakhir bahkan penyempurnaan ajaran umat terdahulu, tidak dapat dipungkiri merupakan fenomena sejarah. Kenyataan ini dapat dimengerti, mengingat Islam sebagai agama yang relatif belakangan, sejak kelahirannya langsung berhadapan dengan tradisi institusi agama-agama lama. Lebih dari itu Alquran sebagai sumber ajaran kandungannya juga berbicara tentang kejadian masa lalu yang bernuansa sejarah, sehingga tidak terlepas dalam penyempurnaan ajaran agama umat terdahulu itu memiliki keterkaiatan untuk diterapkan pada kondisi setelah Rasul saw diutus.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa Islam merupakan fenomena sejarah. Sampai saat ini kajian tentang masa lalu itu kerapkali dijadikan sebagai gambaran dan pedoman (I’tibar) buat kehidupan masa kini. “Dan seluruhnya Kami kisahkan kepadamu berita-berita Rasul yang dapat memantapkan hatimu, dan semuanya mengandung kebenaran, I’tibar dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.
D. Sejarawan Terkenal dan Karya-Karyanya
Tokoh sejarawan terkemuka dalam bidang sejarah adalah Ibnu Khaldun yang merupakan juga bapak sosiologi Islam terkemuka pada zamannya dengan menulis buku karyanya al-Muqaddimah. Elaborasi pemikirannya dalam karyanya ini ditulis dalam konteks manajemen konflik yang disusun dengan begitu rapinya dan sangat dikagumi bukan hanya oleh sejarawan Islam tetapi tokoh non-Islampun mengakuinya.
Dari sekian banyak tokoh sejarawan yang terkenal berikut diketengahkan beberapa tokoh dan karyanya yang dapat dipaparkan antara lain:
1. Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir al-‘abari (w.310/923 M) di antara karyanya adalah Tarikh al-Rasul wa al-Muluk,
2. Abu Hasan Ali Ibn Husain al-Mas’udi (w.345 H/957 M) di antara karyanya adalah Muruj al-‘ahab,
3. Ibn Maskawaih (w.421 H/1030 M) di antara karyanya adalah Tajarib al-Umam wa Ta’aqub al-Humam.
4. Abu Rayhan Muhammad Ibn Ahmad al-Biruni (w.448 H/1048 M) di antara karyanya adalah al-Asar al-Baqiyah ‘an al-Qur’an al-khaliyah,
5. Waliyuddin abd al-Ramhan Ibn Khaldun (w.808 H/1406 M) di antara karyanya adalah al-Muqaddimah dan al-‘Ibar.
E. Perkembangan Modern dan Mutakhir dalam Historiografi : Tokoh-tokoh Penting dan Karya-karyanya.
Historiografi Islam
Ada dua faktor pendukung utama berkembangnya penulisan sejarah dalam sejarah Islam, yaitu : Pertama, Alquran sebagai kitab suci umat Islam memerintahkan umatnya untuk memperhatikan sejarah. Beberapa ayat alquran dengan tegas memerintahkan hal itu. Diantara adalah Q.S.ar-Rum : 9. Alqurana bahkan tidak hanya memerintahkan untuk memeperhatikan perkembangan sejarah manusia. Tetapi juga menjanjikan banyak kisah-kisah. Sebahagian ulama berpendapat bahwa dua pertiga isi Alquran itu adalah kisah sejarah. Ini dipaparkan dengan tujuan agar umat manuasia mengambil I’tibar dari padanya.
Kedua, Ilmu Hadis awal masa perkembangan Islam, ilmu hadis merupakan ilmu yang paling tinggi dan paling diperlukan oleh umat Islam pada waktu itu. Ulama bepergian dari satu kota ke kota lain untuk mencari hadis dan meriwayatkannya, kemudian lahirlah kitab hadis. Dapat dikatakan bahwa penulisan hadis inilah yang merupakan perintis jalan menuju perkembangan ilmu sejarah. Bahkan dalam rangka menyeleksikan hadis yang benar dari yang salah, muncullah ilmu kritik hadis, baik dari segi periwayatannya maupun dari segi matan ataupun materinta. Ilmu ini pulalah yang dijadikan metode kritik penulisan sejarah paling awal. Ada dua faktor pendukung utama berkembangnya penulisan sejarah dalam sejarah Islam, yaitu :
Manna’ alQathan membagi kisah di dalam Alquran kepada tiga golongan :
1. Kisah para Nabi maupun Rasul yang berisi usaha, fase-fase dan perkembangan dakwah mereka, serta sikap orang yang menentang mereka.
2. Kisah orang-orang terdahulu yang tidak termasuk Nabi seperti Thalut, Jalut, dua orang Nabi Adam dan ashabul Kahfi.
3. Kisah-kisah besar yang berhubungan dengan kehidupan Nabi Muhammad, seperti Isra’ Mi’raj, Perang Badar dan lain-lain.
Untuk melihat lebih jelas keadaan pertumbuhan dan perkembangan historiografi Islam pada periode awal dan juga perkembangan mutakhirnya dapat dilihat dalam pembahasan berikut ini :
1. Historiografi Islam Pada Periode Awal
Kajian mengenai pertumbuhan dan perkembangan historiografi Islam periode awal perlu diadakan tinjauan dari dua segi, yaitu dari segi aliran dan metode. Dari segi aliran. Menurut Hussein Nashshar historiografi Islam pada periode awal itu terpola dalam tiga aliran.
Pertama, Aliran Madinah, mereka mengembangkan penulisan sejarah bertolak dari gaya penulisan ahli hadis, lalu kemudian mulai berkembang penelitian khusus tentang kisah peperangan Rasul (al-Maraghi). Orang pertama yang menyusun al-Maraghi dan kemudian disebut sebagai simbol peralihan dari penulisan hadis kepada pengkajian al-Maraghi, ialah Aban Ibnu Usman Ibn Affan (w.105 H/723 M) dan yang paling terkenal sebagai penulis al-Maraghi adalah Muhammad Ibn Muslim al-Zuhri (w.124 H/742 M), dari penulisan al-Maraghi kemudian dikembangkan lagi dan melahirkan penulisan Sirah Nabawiyah (riwayat hidup Nabi Muhammad saw).
Kedua, aliran Iraq. Aliran ini lebih luas dari aliran Madinah dan Yaman, karena memperhatikan harus sejarah sebelum Islam dan masa Islam sekaligus dan sangat memperhatikan sejarah para khalifah. Sistem penulisan aliran ini adalah pengungkapan kisah al-ayyam di masa sebelum Islam, kemudian karena panatisme politik kekabilahan yang diakibatkan oleh adanya persaingan antara kabilah untuk mencapai kekuasaan, disini dikembangkan model penulisan silsilah.
Langkah pertama yang sangat menentukan perkembangan penulisan sejarah di Iraq adalah pembukuan tradisi lisan. Ini pertama kali di lakukan oleh Ubaidillah Ibn Abi Rafi’ dengan menulis buku yang berisikan nama para sahabat yang bersama Amir al-Mukminin (Ali bin Abi Thalib) ikut dalam perang Jamal, Siffin dan Nahrawan oleh karena itu, dia dipandang sebagai sejarawan pertama dalam aliran Iraq ini.
Ketiga, Aliran Yaman, mereka mengembangkan penulisan sejarah pra-Islam. Di daerah ini jauh sebelum Islam datang telah berkembang budaya penulisan peristiwa, isinya adalah cerita-cerita khayal dan dongeng-dongeng kesukuan, sehingga berita-berita israiliyat masuk dan mempengaruhi historiografi Islam. Para penulis hikayat-hikayat yang banyak dikutip oleh sejarawan muslim berikutnya yang terpenting di antaranya adalah Ka’ab al-Ahbar (w.32 H).
Ketiga aliran penulisan sejarah tersebut di atas, kemudian melebur dalam karya-karya penulis sejarah berikutnya, khususnya dalam karya-karya sejarah. Tiga sejarawan besar Ibn Ishaq (w.207 H/823 M) dengan karyanya al-Maraghi dan Muhammad Ibn Said (w.230/845 M) dengan karyanya ‘abaqat al-Kabir.
Sedangkan dari segi metode historiografi Islam periode awal dibagi menjadi dua bagian yaitu: Pertama, Historiografi dengan metode riwayat. Metode ini tumbuh dan berkembang dari masa awal sampai abad ketiga. Tokoh historiografi dengan riwayat ini adalah al-‘abari dengan karyanya Tar’k al-Rusul wa la-Muluk. Kedua, Historiografi dengan metode dirayah. Metode ini tumbuh dan berkembang abad keempat dan kelima Hijrah, pelopornya adalah al-Mas’udi (w.345 H) dengan karyanya Muruj al-‘ahab. Kemudian mengalami perkembangan dari masa ke masa dan mencapai puncaknya pada diri ibn Khaldun.
2. Historiografi Islam Modern, Tokoh dan Karyanya.
Pada penghujung abad XVIII, barat telah mengalami kemajuan yang luar biasa, walau pada hakikatnya kebangkitannya tidak terlepas dari pengaruh Islam. Hal ini dimulai dengan reinainsance pada berbagai diagram keilmuan. Mereka bukan hanya mengadopsi keilmuan Islam secara menyeluruh, namun mulai mengembangkannya dalam fase yang sangat realistis dan cepat. Berbagai macam disiplin ilmu kembali mereka kembangkan, bukan hanya sekedar kajian sejarah namun sudah mulai mengarah kepada sejarah sosial yang meninjau culture sebuah kaum.
Akan tetapi, Kuntowijoyo mengungkapkan, sejarah sosial sudah merupakan gerakan yang sudah lama namun baru mendapat perhatian sekitar tahun 1950 an yaitu melalui aliran penulisan Annales Historis Economique et Sociale.
Perkembangan selanjutnya, sejarah sosial mengalami perkembangan yang luas dan kearah tersebut para pemikir serta sejarawan Islam menghadap. Secara ideal, sejarah sosial ialah studi tentang struktur dan proses tindakan timbal balik manusia sebagaimana telah terjadi dalam kontek sosio-kultural dalam masa lampau yang tercatat. Oleh karena itu, sejarah sosial disebut juga dengan total history atau general history.
Kini kearah itulah perkembangan penulisan sejarah bergerak, namun penulisan sejarah di dunia Islam tampaknya tidak begitu cepat mengikuti perubahan yang terjadi di Barat. Para sejarawan arab modern ini masih disibukkan dengan metodologi dan pendekatan baru yang sebenarnya sudah lama berkembang di Barat.
Dr.Muhammad Fathi Uts’man menerjemahkan general history itu kedalam bahasa Arab dengan al-Tarikh al-‘am yang dapat dibedakan dengan al-Tarikh al-Khash. Dalam bukunya diungkapkan bahwa tarikh al-am itu tidak memilah-milah manusia kedalam beberapa aspek secara terpisah, aspek agama, aspek ekonomi,aspek hukum dan lain sebagainya.
Takluknya beberapa daerah Islam telah mematahkan semangat untuk mengkaji lebih dalam tentang sejarah, hal ini mungkin dikarenakan sibuknya perjuangan menuntut kemerdekaan bila kita mencoba menelaah perkembangan sejarawan muslim modern, kita belum mendapatkan figur yang pas selain al-Jabarti.
Beliau menulis dua buku penting, yang pertama : ‘Ajaib al-Atsar Fi al-Tarajim wa Akhbar yang di kenal dengan nama Tarikh al-Jabarti dan buku Mazhar at-Taqdis. Buku tarikh al-Jabarti dimulai dengan mukaddimah, dilanjutkan dengan peristiwa-peristiwa pada tahun 1099 H dan berakhir dengan peristiwa pada tahun 1236 H. Adapun buku Mazhar at-Taqdis merupakan sebuah catatan terperinci tentang proses pendudukan Perancis atas Mesir.
Al-Jabarti dapat dikatakan sebagai seorang sejarawan yang dengan sadar menghidupkan kembali ilmu Arab-Islam di Mesir. Kehadirannya pula telah membawa angin segar yang harus dihidupkan kembali oleh ilmuwan selanjutnya. Namun dalam penulisan sejarahnya, ia tetap berpegang pada gambaran umum penulisan sejarah zaman dahulu (kebangkitan Islam) yang mengurutkan kejadian berupa tahun secara sistematik.
2. Historiografi Islam Mutakhir, Tokoh dan Karyanya.
Tarikh adalah system penanggalan yang penghitungannya didasarkan atas peredaran bulan mengelilingi bumi. Dalam perkembangan selanjutnya, tarikh menjadi beragam dan berkembang sesuai perkembangan pencatatan sejarah itu. Disebut juga penunjukan waktu tentang apa yang dilakukan perawi hadia dan pemimpin agama. Dalam hal ini diterangkan tanggal kelahiran dan kematian, kesehatan jasmani dan rohani, kesegaran pikiran, perjalanan yang dilakukan, ketelitian dan kemampuan ilmu, tingkat keadilan, kefasikan dan hal-hal khusus lainnya.
Sejarawan pada periode awal muncul nama-nama seperti Aban Ibn Usman (w.1n5 H). Muhammad Ibn Muslim al-Zuhri (w.124 H) sampai kepada at-Tabari (w.310 H), kemudian disusul beberapa tokoh terkemuka pada masa pertengahan seperti Ibn Khaldun (w.808 H), di Penghujung abad 18 awal abad 19, muncul seorang sejarawan yang disebut sebagai pelopor dan perintis kebangkitan kembali Arab Islam yang bernama Abd Rahman al-Jabarti (w.124 H/1825 M).
Dengan menggunakan dan mengembangkan corak penulisan sejarah melalui metode hawliyat ditambah dengan metode Maudu’iyat (tematik). Baru pada abad 20 para sejarawan Islam terutama setelah adanya kontak budaya dan ilmu pengetahuan antara Timur dengan Barat mulai mengembangkan historiografi Islam dengan metode kajian terhadap sejarah secara menyeluruh, total atau global, tidak hanya satu aspek sosial saja dengan mencontoh metode dan pendekatan yang berkembang di dunia Barat. Hal ini seperti diungkapkan oleh seorang guru besar sejarah Islam di Universitas Ayn Syams di Kairo Abd al-Mu’in Majid.
F. Pendekatan Historis Dalam Studi Islam dan Manfaatnya.
Pendekatan historis dalam studi Islam amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi dan kondisi sosial kemasyarakatan. Yaitu bagaimana melakukan pengkajian terhadap berbagai studi keislaman dengan menggunakan pendekatan histories sebagai salah satu alat (metodelogi) untuk menyatakan kebenaran dari objek kajian itu.
Pentingnya pendekatan ini, mengingat karena rata-rata disiplin keilmuan dalam Islam tidak terlepas dari berbagai peristiwa atau sejarah. Baik yang berhubungan dengan waktu, lokasi dan format peristiwa yang terjadi. Melalui pendekatan historis dalam studi Islam ditemukan berbagai manfaat yang amat berharga, guna merumuskan secara benar berbagai kajian keislaman dengan tepat berkenaan dengan suatu peristiwa. Dari sini, maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisnya.
Seseorang yang ingin memahami alquran secara benar, maka ia harus mempelajari sejarah turunnya alquran (asbab al-Nuzul) dengan demikian ia akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hukum tertentu dan ditujukan untuk memelihara syari’at dari kekeliruan memahaminya.
Mengingat begitu besar peranan pendekatan historis ini, maka diharapkan akan melahirkan semangat keilmuan untuk meneliti lebih lanjut beberapa peristiwa yang ada hubungannya terutama dalam kajian Islam di berbagai disiplin ilmu dan diharapkan dari penemuan-penemuan ini akan lebih membuka tabir kedinamisan dalam mengamalkan ajaran murni ini dalam kehidupan yang lebih layak sesuai dengan kehendak syara’, mengingat pendekatan historis memiliki cara tersendiri dalam melihat masa lalu guna menata masa sekarang dan akan datang.
G. Kesimpulan
Islam sebagai agama tidak dapat dipungkiri merupakan fenomena sejarah. Pendekatan sejarah ( historis) dalam studi Islam amat dibutuhkan dalam melakukan pengkajian terhadapnya sebagai salah satu alat (metodelogi) untuk menyatakan kebenaran dan objek kajian itu, sehingga dengannya pemahaman terhadap Islam akan lebih baik.
Sejarah Islam sebagai dari bagian fenomena sosial memiliki cita rasa yang spesifik dan berbeda dengan agama lainnya. Hal ini lah yang menjadikan banyaknya pakar yang berbeda pendapat dalam memahami Islam baik yang berkaitana dengan awal dimulainya sejarah Islam atau dalam kontek perjalanannya sebagai agama yang mengklaim dirinya sebagai penyempurnaan agama-agama samawi yang lainnya, bahkan sampai akhir dunia nanti.
Sejalan dengan pendidikan sejarah, pada masa awal Islam terjadi periodesasi, priode Yaman, Madinah dan Irak. Masing-masing periode memiliki beragam perbedaan yang menimbulkan khazanah keislaman yang lebih luas. Sesungguhnya pengetahuan sejarah sendiri , telah dikumandangkan oleh Allah ketika menceritakan beragam manusai lampau, hanya saja penyampaiannya yang secara global perlu mendapat respon pengetahuan manusia untuk mencari validitasnya. Demikian juga dengan perkembangan selanjutnya, ketika manusai mencoba untuk mengkaji masa lampau dan menuntut kebenaran sejarah.
Sejarak tidak dapat dipisahkan dari subjektivitas, hanya saja diminimalisir untuk dapat memberikan kajian yang jauh lebih baik adanya. Adanya unsur kepentingan penulis, serta sudut pandang yag berbeda menjadi faktor dominan untuk meletakkan sejarah pada penilaian sebelah mata.

BIBLIOGRAFI

Abd al-Aziz al-Duri, Bahs fi Nassy,I al-Ilm al-Tarikh al-Arab, (Beirut: Dar al-Masyriq, 1986).
Abuddin, Nata, Metodologi Study Islam, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1993).
Badri Yatim, Historiografi Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999).
Departemen Pendidikan dan Kebudayan RI, Ksmud Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai pustaka, 1995).
Dudung Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999).
Ibnu Khaldun, Al-Muqaddimah, (Mesir : Mushthafa Muhammad, t.th).
Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Islam Historis Dinamika Studi Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Galang Press, 2002).
Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: PT.Tiara Wacana, 1994).
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya, 1995).
Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah,(Jakarta: UI Press, 1986).
M. Deden Ridwan (ed), Tradisi Baru Penelitian Agama Islam Tinjauan Antardisiplin Ilmu, (Jakarta : Pustaka Pelajar, 2001).
Manna al-Qattan, Mabahits fi Ul-m al-Qur’an, Mesir : Dar a-Maarif, 1997).
Manna’ al-Qathan, Mabahist fi Ulumil Qura’an, (Beirut : Muassasah al-Risalah, 1990).
Muhammad Ahmad Tahrini, al-Muarrikhun wa at-Tarikh al-Arab, (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1991).
Muhammad Fathi, al-Maddkhal ila’ al-Tarikh al-Islami, (Beirut: Darul Nafais, 1988), h.72,
Nourouzzaman Shiddiqi, Jeram-jeram Peradaban Muslim, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996).
Said Agil Husin Munawwar dan Abdul Mustaqim. Asbab al-Wurud, Study Kritis Hadis Nabi. ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001).
Sayyid Ismail Kasyif, Majadir al-Tarikh al-Islam wa Manahij al-Bahs Fih, (Kairo : Maktabah al-Khariji, 1976).




CRITICAL REVIEW
Mata Kuliah
Pendekatan Dalam Pemikiran Islam


Dipresentasikan oleh :
AMRI
Program Studi
Managemen Pendidikan Islam (MPI)
NIM : 07 MPI 1088


Dosen Pengasuh :
Dr. Nawir Yuslem, MA
Dr.Phil. Zainul Fuad, MA











PROGRAM PASCASARJANA
IAIN SUMATERA UTARA
M E D A N
2008

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>