Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 29 April 2011

makalah skripsi pola pendidikan dalam keluarga download

/ On : 13.04/ Thank you for visiting my small blog here.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya setiap orang tua menghendaki anaknya menjadi anak yang baik, setiap orang tua mengharapkan anaknya patuh, merasa bahagia jika anaknya pintar dan banyak lagi harapan lain tentang anak, yang kesemuanya berbentuk sesuatu yang positif.
Sementara itu, setiap orang tua berkeinginan untuk mendidik anaknya secara baik dan berhasil, mereka berharap mampu membentuk anak yang memiliki kepribadian. Anak yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. anak yang berakhlak mulia, anak yang berbakti terhadap orang tua, berguna bagi dirinya, keluarga, masyarakat, nusa, bangsa, Negara, juga bagi agamanya, cerdas dan terampil.
Namun, apa hendak dikata, terkadang harapan tinggal harapan semata, mimpi tidak jadi kenyataan, bagai pungguk merindukan bulan, kenyataan yang amat bertentangan dengan harapan, malah itu yang harus dihadapi, harus diterima, apakah itu sudah menjadi takdir ? Para orang tua dalam keluarganya ikut memberi warna atas baik buruknya si anak, hitam putihnya si anak tersebut, dan orang tua juga orang yang menentukan mandiri tidaknya anak-anak dikemudian hari.
Sikap kemandirian anak sejak dini haruslah mendapat perlakuan dan perhatian pendidikan yang serius pada setiap anak-anak sejak dini dalam keluarganya karena usia dini merupakan usia dimana sianak sedang mencari identitas dirinya, pada masa ini anak akan menyerap semua informasi-informasi yang benar maupun yang menyesatkan dari lingkungannya demikian halnya dengan prilaku meniru dari setiap kebiasaan-kebiasaan dalam lingkungan keluarga setiap anak.
Usia anak yang memiliki kecenderungan seperti tersebut yang menurut Wasty Soemanto dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan berpendapat bahwa “anak bukanlah manusia dalam bentuk kecil (bayi), atau manusia dewasa minus beberapa hal yang belum dimiliki, tetapi seseorang yang sedang berada pada masa perkembangan tertentu yang mempunyai potensi untuk menjadi dewasa”. Dengan demikian dapat difahami bahwa batasan usia dini dalam proses pembentukan kepribadian menuju kemandirian anak tersebut dalam tahapan psikologi perkembangan anak dan remaja tergolong kepada “tahapan I yaitu dari 0,0 sampai 7,0 tahun (masa anak kecil atau masa bermain)”.
Sementara dalam hal pertumbuhan dan perkembangan manusia itu sendiri Agus Sujanto mengemukakan di dalam bukunya Psikologi Perkembangan sebagai berikut :
1. Masa kanak-kanak (masa pendidikan dini atau masa bermain), yaitu sejak lahir sampai usia 05 tahun.
2. Masa anak yaitu usia 06 sampai dengan 12 tahun (masa pendidikan rendah).
3. Masa pubertas, yaitu usia 13 sampai dengan 18 tahun bagi putri dan 13 – 22 tahun bagi putra.
4. Masa adolesen sebagai masa transisi kemasa dewasa.
Dimana pada usia dini ini anak sedang menuju masa perkembangan dan kecenderungan untuk mencoba melakukan sesuai dengan dirinya sendiri sehingga membutuhkan bimbingan dan pembinaan sikap dari setiap lingkungan keluarganya.
Pada usia dini ini, individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya, dimulai dari kehidupan individu itu sebagai masa oral (mulut), anak-anak memasukkan apa saja ke dalam mulutnya karena mulut merupakan alat untuk melakukan eksplorasi (penelitian) dan belajar, tahun kedua anak belajar berjalan dan mulai menguasai ruangan, pembiasaan terhadap kebersihan (kesehatan) seperti buang air kecil dan air besar dan tahun ketiga dan selanjutnya memasuki tahun ketujuh adalah perkembangan anak terutama pada fungsi pancaindranya dan bermain.
Dalam masa ini pendidikan dalam keluarga yang diperankan oleh kedua orang tua adalah orang yang memegang peranan penting dan berpengaruh atas sikap kemandirian anak-anaknya, dimana orang tua bertanggung jawab untuk membina, mendidik dan membentuk sikap kemandirian anak sehingga anak mampu meraih peluang untuk memiliki sikap mandiri dan dasar ilmu pengetahuan dan kecakapan yang luas secara alamiah.
Lingkungan keluarga merupakan masyarakat alamiah yang memiliki pola pendidikan yang khas, dalam lingkungan ini terletak dasar-dasar pendidikan, pendidikan disini berlangsung dengan sendirinya sesuai dengan tatanan pergaulan yang berlaku didalamnya. Disini diletakkan dasar-dasar pengalaman melalui rasa kasih sayang dan penuh kecintaan. Untuk itu anak sebagai generasi penerus dan pewaris orang tuanya haruslah diberikan pembinaan sikap kemandirian yang sesuai dengan pertumbuhannya melalui pola-pola pembinaan dalam keluarga.
Melatih sikap kemandirian pada setiap pribadi anak merupakan kewajiban yang mutlak, karena pada masa ini sianak harus dididik dan berhak memperoleh pendidikan, dibina secara mendasar tentang sikap mandiri sesuai dengan tingkat perkembangannya. Hal tersebut juga berlaku terhadap lingkungan keluarga yang berada di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed dimana dalam lingkungan keluarga sering terjadi pengabaian perhatian orang tua terhadap sikap kemandirian anak usia dini yang disebabkan oleh faktor-faktor antara lain kepadatan aktifitas orang tua, kelalaian dan kurang perhatian masing-masing orang tua terhadap perkembangan kemandirian anak-anaknya dan lain sebagainya, sehingga mereka terkadang tidak memiliki pola-pola pendidikan bagi perkembangan anak-anaknya di rumah.
Berdasarkan pada uraian dan latar belakang tersebut diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam hal ini adalah bagaimanakah pola-pola pendidikan dini dalam keluarga terhadap sikap kemandirian anak, dengan demikian penulis merasa tertarik untuk mengetahui “POLA PENDIDIKAN DINI DALAM KELUARGA DAN PENGARUHNYA TERHADAP SIKAP KEMANDIRIAN ANAK DI DESA SAMPAIMAH KECAMATAN MANYAK PAYED”.
B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Berapa besarkah pengaruh pola pendidikan dini terhadap perkembangan sikap kemandirian anak di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
2. Apasajakah konsep pola pendidikan dini yang ada pada orang tua dalam pembinaan sikap kemandirian anak di lingkungan keluarga desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
C. Penjelasan Istilah
Upaya menyatukan persepsi dalam satu pemahaman guna menghindari makna ganda terhadap judul penelitian ini, maka penulis memberikan batasan-batasan istilah pada judul skripsi ini, diantaranya :
1. Pola
Pengertian “pola” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah: “Gambar yang dipakai untuk contoh…”.
Pola yang dimaksudkan dalam pembahasan ini adalah gambaran pendidikan anak usia dini dalam keluarga sebagai upaya membentuk sikap kemandirian anak desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
2. Pendidikan Dini
Menurut Ahmad D. Marimba dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, pendidikan adalah “tuntunan atau bimbingan secara sadar terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju kepada kedewasaan lahir dan batin” .
Adapun menurut Prof. Dr. H. Mahmud Yunus dalam bukunya Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran menjelaskan bahwa pendidikan adalah “mengasuh jasmani dan rohani, supaya sampai kepada keindahan dan kesempurnaan yang mungkin dapat dicapai”.
Menurut Prof. Zahara Idris, MA., dalam bukunya berjudul Dasar-dasar Pendidikan menjelaskan bahwa pendidikan adalah “Usaha yang sengaja diadakan, baik langsung maupun tidak langsung, untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaan”.
Sedangkan “Pendidikan Dini” merupakan “masa pendidikan terpenting dan mendasar dalam kehidupan manusia, memegang kendali dalam masa perkembangan hidup individu dan mengawali kedewasaan…” . Sedangkan dalam batasan usia pendidikan dini dapat penulis pahami dari bukunya Muhibbin Syah, M.Ed. yang berjudul “Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru” bahwa “dalam rangka memfungsikan tahap-tahap perubahan yang menyertai perkembangannya, manusia harus belajar melakukan kebiasaan-kebiasaan tertentu umpamanya kebiasaan belajar berjalan dan berbicara pada rentang usia 1-5 tahun”.
Berdasarkan kepada penjelasan-penjelasan para ahli pendidikan tersebut diatas maka pendidikan dini yang penulis maksudkan dalam penelitian ini adalah segala upaya, pembinaan dan bimbingan yang ditempuh orang tua secara sadar kepada setiap anak usia dini menuju perkembangan sifat kemandirian anak di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
3. Keluarga
Keluarga adalah “unit/satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat” . Keluarga juga …sanak saudara yang bertalian oleh perkawinan; 2 orang seisi rumah…” .
Namun demikian konsep keluarga dapat ditinjau dari berbagai aspek, tergantung dari sudut mana melihatnya. Salah satunya keluarga adalah: (1) ibu bapak dengan anak-anaknya, seisi rumah; (2) orang seisi rumah yang menjadi tanggungan; (3) sanak saudara, kaum kerabat; (4) satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat.
Adapun keluarga yang penulis maksudkan dalam pembahasan ini adalah anak-anak beserta orang tua yang merupakan unit/satuan masyarakat sekaligus merupakan suatu kelompok dalam masyarakat desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
4. Sikap Kemandirian Anak
Salah satu makna kata “sikap” yang diperoleh dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “…prilaku; gerak-gerik…”.
“Kemandirian” berasal dari kata “mandiri” yang ditambah awalan “ke” dan akhiran “an” sehingga menjadi “kemandirian” yang artinya “berdiri sendiri”.
Sedangkan “anak” menurut Wasty Soemanto dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan berpendapat bahwa “anak bukanlah manusia dalam bentuk kecil (bayi), atau manusia dewasa minus beberapa hal yang belum dimiliki, tetapi seseorang yang sedang berada pada masa perkembangan tertentu yang mempunyai potensi untuk menjadi dewasa”.
Sikap kemandirian anak yang penulis maksudkan dalam pembahasan ini adalah sikap dan gerak-gerik serta perkembangan prilaku anak usia dini yang dipengaruhi oleh hasil pembinaan dan bimbingan setia orang tua dalam keluarga di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
5. Desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed
Desa Sampaimah adalah salah satu nama desa/gampong yang berada dalam wilayah Kecamatan Manyak Payed yang secara struktural berada dalam naungan wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, yang dalam pembahasan ini penulis tetapkan sebagai wilayah penelitian.
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan secara umum untuk melihat dan mengkaji sejauhmana pengaruh yang ditimbulkan akibat pendidikan usia dini bagi anak dalam keluarga khususnya bagi sikap kemandirian anak di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
Sedangkan secara khusus bertujuan untuk :
1. Mengetahui berapa besar pengaruh pola pendidikan anak terhadap perkembangan sikap mandiri anak di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
2. Untuk mengetahui pola-pola apa saja yang dilakukan para orang tua dalam pendidikan usia dini sebagai upaya membantu sikap kemandirian anak di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
E. Postulat dan Hipotesa.
Adapun postulat merupakan; “titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh sebahagian orang”, dan yang menjadi postulat dari penelitian ini adalah :
1. Mendidik anak sejak dalam kandungan hingga ia menjadi dewasa merupakan kewajiban setiap orang tua mereka.
2. Setiap orang tua ikut bertanggung jawab terhadap perkembangan sikap kemandirian anaknya di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
Berdasarkan postulat tersebut diatas, maka dapat dirumuskan beberapa hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang dipertanyakan”. Adapun hipotesa penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Terdapat beberapa pola pendidikan dini dikalangan keluarga desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed sebagai upaya pembinaan sikap kemandirian anak-anak mereka.
2. Pola pendidikan usia dini di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed memiliki pengaruh terhadap perkembangan sikap kemandirian anak-anak mereka.
F. Metodologi Penelitian
1. Populasi
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berada di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed yang keseluruhannya berjumlah 1.104 jiwa.
2. Sampel
Mengingat besarnya jumlah populasi tersebut diatas, maka pengambilan sampel ditentukan secara random sampling, maksudnya semua populasi mendapat kesempatan yang sama untuk diundi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Arikunto: “Jika jumlah populasinya besar, diambil sampelnya antara 10-15% atau 15-20%. Dalam hal ini yang menjadi sampel penulis tetapkan 10% dari populasi yakni terdiri dari para orang tua (ayah/ibu) anak usia dini, da’i, tokoh masyarakat yang keseluruhannya berjumlah 110 jiwa (10%). Adapun yang menjadi alasan penulis dalam penetapan sampel tersebut adalah, kepala keluarga/orang tua, da’i dan tokoh masyarakat merupakan objek utama yang secara langsung terlibat dalam pembinaan anak dalam rumah tangga dan lingkungannya di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
3. Langkah-langkah Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa metode penelitian, diantara jenis penelitian tersebut adalah penelitian kepustakaan (library research). Yang dalam teknis pengumpulan datanya, penulis menempuh langkah-langkah diantaranya sebagai berikut :
a. Penulis membaca buku-buku yang ada kaitannya dengan metode dakwah dan moralitas remaja sebagai sumber primer.
b. Disamping itu, penulis juga membaca sumber data sekunder, seperti majalah, koran, brosur dan lain-lain yang ada kaitannya dengan judul penulisan ini.
Untuk memperoleh data dan keterangan-keterangan dalam masalah yang sedang dibahas digunakan penelitian lapangan (field research), dimana suatu jenis penelitian dilapangan dengan tujuan untuk memperoleh data-data dan informasi yang diperlukan. Dalam rangka memperoleh data dilapangan digunakan tehnik pengumpulan data, sebagai berikut :
a. Observasi; penulis mengadakan peninjauan langsung dilapangan pada objek penelitian untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang lebih jelas.
b. Wawancara; dengan mewawancarai responden atau informen guna memperoleh data yang diperlukan sebagai pendukung dalam pembahasan hasil penelitian.
c. Angket; yaitu teknik komunikasi tidak langsung, dalam hal ini penulis mengedarkan daftar pertanyaan berstruktur kepada responden untuk dijawab atau diisi.
4. Teknik Analisa Data
Teknik analisa data adalah serangkaian kegiatan mengolah seperangkat hasil, baik dalam bentuk pertemuan-pertemuan baru maupun dalam bentuk pembuktian kebenaran hipotesa. Jadi setelah data selesai dikumpulkan dari lapangan dan keseluruhan data lengkap maka tahap berikutnya masuk pada proses pengolahan data. Pengolahan dan analisa data dilakukan dengan tehnik deskriptif, memaparkan secara sistematis dan akurat hasil dari observasi dan interviu sehingga dapat diterima kebenarannya. Untuk kemudian penulis menganalisa dan mengkajinya secara kritis, untuk kemudian dideskripsikan.
5. Pengolahan data
Data yang telah diperoleh akan dihimpun dan peneliti sajikan dalam bentuk analisa dan perbandingan dengan sejumlah literatur yang berhubungan dengan pembahasan tersebut, kemudian disusun dalam sebuah karya tulis dengan menggunakan suatu metode dedukatif, yaitu suatu cara berpikir yang umum kemudian ditarik kepada suatu kesimpulan yang khusus.
Untuk keseragaman dalam teknik penulisannya, penulis berpedoman kepada buku: Pedoman Penulisan Karya Ilmiyah Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Edisi Pertama yang diterbitkan oleh Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, tahun 2001.



BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. Konsep Pendidikan Dini di Lingkungan Keluarga
Antara keluarga dan pendidikan adalah dua istilah yang tidak bisa dipisahkan. Sebab, “dimana ada keluarga disitu ada pendidikan. Dimana ada orang tua disitu ada anak merupakan suatu kemestian dalam keluarga . Ketika ada orang tua yang ingin mendidik anaknya, maka pada waktu yang sama ada anak yang ingin mendidik anaknya, maka pada waktu yang sama ada anak yang menghajatkan pendidikan dari orang tua. Dari sini muncullah istilah “pendidikan keluarga”, artinya, pendidikan yang berlangsung dalam keluarga yang dilaksanakan oleh orang tua sebagai tugas dan tanggung jawabnya dalam mendidik anak dalam keluarga sejak dini.
Pendidikan jika ditelusuri lebih jauh adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan. Dalam konteks keluarga, maka “orang dewasa” yang dimaksud disini adalah orang tua (ayah dan ibu) yang secara sadar mendidik anak-anaknya untuk mencapai kedewasaan. Sebagai lembaga pendidikan, maka pendidikan yang berlangsung dalam keluarga bersifat kodrati karena adanya hubungan darah antara orang tua dan anak.
Keluarga adalah “suatu kesatuan yang diikat oleh hubungan darah antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan hubungan sosial, keluarga adalah suatu kesatuan yang diikat oleh adanya saling berhubungan atau interaksi dan sling mempengaruhi antara satu dengan lainnya” , walaupun diantara mereka tidak terdapat hubungan darah. Dalam perspektif yang lain, keluarga disebut juga sebagai “sebuah persekutuan antara ibu-bapak dengan anak-anaknya yang hidup bersama dalam sebuah institusi yang terbentuk karena ikatan perkawinan yang sah menurut hukum, di mana di dalamnya ada interaksi (saling berhubungan dan mempengaruhi) antara satu dengan lainnya”.
Dari uraian diatas jelaslah, bahwa keluarga adalah sebuah institusi pendidikan yang utama dan bersifat kodrat. Sebagai komunitas masyarakat terkecil, keluarga memiliki arti penting dan strategis dalam pembangunan komunitas masyarakat yang lebih luas. Oleh karena itu, kehidupan keluarga yang harmonis perlu dibangun di atas dasar sistem interaksi yang kondusif sejak dini sehingga pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Pendidikan dini yang baik harus diberikan kepada anggota keluarga sedini mungkin dalam upaya memerankan fungsi pendidikan dalam keluarga, yaitu menumbuhkan potensi laten anak, sebagai wahana untuk mentransfer nilai-nilai dan sebagai transformasi kebudayaan.
Ketika keluarga diakui sebagai sebuah komunitas, maka secara realitas objektif diakui di dalamnya hidup bersama ayah, ibu, dan anak. Sebagai makhluk sosial, mereka saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Dari kegiatan saling berhubungan dan saling mempengaruhi itu akhirnya melahirkan bentuk-bentuk interaksi sosial dalam keluagra sejak dini yang biasanya tidak hanya berlangsung antara sepasang suami dan istri, antara ayah, ibu dan anak, antara ayah dan anak, tapi juga antara ibu dan anak, serta antara anak dan anak.
“Konsep pendidikan dini yang berlangsung dalam keluarga tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi karena ada tujuan atau kebutuhan bersama antara ibu, ayah dan anak. Adanya tujuan tertentu yang ingin dicapai atau kebutuhan yang berbeda menyebabkan mereka saling berhubungan dan berinteraksi”. Keinginan untuk berhubungan dan berinteraksi tidak terlepas dari kegiatan pendidikan antara orang tua dan anak. Karena itulah, pendidikan dini merupakan suatu kegiatan yang pasti berlangsung dalam kehidupan keluarga sampai kapan pun disetiap keluarga. Tanpa pendidikan dini, sepilah kehidupan keluarga karena didalamnya tidak terdapat adanya kegiatan berdialog, bertukar pikiran, transfer ilmu pengetahuan dan sebagainya, sehingga kerawanan hubungan antara orang tua dan anak sukar untuk dihindari. Oleh karena itu, pendidikan merupakan suatu yang esensial dalam kehidupan keluarga.
Pendidikan dini dalam keluarga dapat berlangsung secara vertikal maupun horizontal. Dari dua jenis pendidikan dini ini berlangsung secara silih berganti pendidikan antara suami dan istri, pendidikan antara ayah, ibu dan anak, pendidikan antara ayah dan anak, pendidikan antara ibu dan anak, dan pendidikan antara anak dan anak. Dalam rangka mengakrabkan hubungan keluarga, pendidikan dini perlu dibangun secara timbale balik dan silih berganti antara orang tua dan anak dalam keluarga.
Untuk terjalinya pendidikan dini yang baik, tentu saja banyak faktor lain yang mempengaruhinya. Misalnya, faktor pendidikan orang tua, kasih sayang, profesi, pemahaman terhadap norma agama, dan mobilitas setiap orang tua. Hubungan yang baik antara aorang tua dan anak tidak hanya diukur dengan pemenuhan kebutuhan materil saja, tetapi kebutuhan mental spiritual merupakan ukuran keberhasilan dalam menciptakan hubungan tersebut. Masalah kasih sayang yang diberikan orang tua terhadap anaknya adalah faktor yang sangat penting dalam keluarga. “Tidak terpenuhinya kebutuhan kasih sayang dan seringnya orang tua tidak berada di rumah menyebabkan hubungan dengan anaknya kurang intim” .
Orang tua sebagai sebagai pemimpin dalam proses pendidikan dini adalah faktor penentu dalam menciptakan keakraban hubungan, proses pendidikan dini dalam keluarga. Tipe kepemimpinan yang diberlakukan dalam keluarga akan memberikan suasana tertentu dengan segala dinamikanya. Interaksi yang berlangsung pun bermacam-macam bentuknya. Oleh karena itu, hampir tidak terbantah, bahwa karakteristik seorang pemimpin akan menentukan pola komunikasi yang berlangsung dalam kehidupan keluarga. Kehidupan keluarga yang dipimpin oleh seorang pemimpin otoriter akan melahirkan suasana kehidupan keluarga yang berbeda dengan kehidupan keluarga yang dipimpin oleh seorang pemimpin demokratis. Perbedaan itu disebabkan adanya perbedaan karakteristik yang dimiliki oleh kedua tipe kepemimpinan dalam keluarga.
Persoalan muncul ketika kepemimpinan yang diterapkan oleh orang tua tidak mampu menciptakan suasana kehidupan keluarga yang kondusif. Suasana kehidupan keluarga yang tidak kondusif itu, misalnya seringnya terjadi konflik antara orang tua dan anak. Implikasinya adalah renggangnya hubungan antara orang tua dan anak. Kesenjangan demi kesenjangan selalu terjadi. Pendidikan yang baik pada akhirnya sukar diciptakan, inilah awal kehancuran hubungan antara orang tua dan anak dalam keluarga. Kegagalan orang tua dalam mendidik anak yang selama ini terjadi, bukan tidak mungkin disebabkan oleh aktivitas keluarga yang terlalu jarang di rumah sehingga kurangnya komunikasi yang dibangun beralaskan kesenjangan dan kesibukan tanpa memperhatikan sejumlah etika pendidikan dini. Padahal etika pendidikan dini sangat penting dalam rangka mengakrabkan hubungan orang tua dengan anak. Pendidikan dini dalam keluarga yang bagaimanapun bentuknya harus memperhatikan keharmonisan dapat dibangun dalam rangka mendidik anak dalam keluarga.
Dalam konteks ini, maka upaya untuk membangun pendidikan dini dalam keluarga yang harmonis diperlukan suatu pendekatan. Pendekatan yang diambil disini tidak dalam perspektif barat, tetapi dalam perspektif normatif Islami. Suatu pendekatan yang bersumber dari ajaran Islam. Dalam masalah pendidikan dini, Islam memiliki aturan tersendiri. Oleh karenanya, pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan Barat. Maka tidak heran bila rancang bangun pendidikan dalam Islam dalam upaya mendidik anak sejak dini dibangun beralaskan sejumlah prinsip etika yang diambil dari ajaran Islam itu sendiri.
Selama ini telah diakui bahwa keluarga adalah salah satu dari Tri Pusat Pendidikan (keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat) yang menyelenggarakan pendidikan secara kodrat. Menurut Dr. H. Kamrani Buseri, MA “pendidikan di lingkungan keluarga berlangsung sejak anak lahir (dini), bahkan setelah dewasa pun orang tua masih berhak memberikan nasehatnya kepada anak. Oleh karena itu, keluarga memiliki nilai strategis dalam memberikan pendidikan nilai kepada anak, terutama pendidikan nilai Ilahiyah” . Dan juga sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an surah an-Nisa’ ayat 36 yaitu:
ﻮﺍﻋﺑﺪ ﻭﺍﺍﷲ ﻮﻻ ﺘﺷﺮ ﻛﻭﺍﺒﻪ ﺷﻴﺋﺎ ﻭﺑﺎﻠﻭﺍﻟﺪﻳﻥ ﺍﺣﺳﺎ ﻨﺎ ﻭﺑﺫﻯ ﺍﻟﻗﺮﺑﻰ ﻭﺍﻟﻳﺗﻣﻰ ﻭﺍﻠﻣﺳﻜﻳﻥ ﻮﺍﻟﺠﺎﺮﺫﻯ ﺍﻟﻗﺮﺑﻰ ﻮﻟﺠﺎ ﺮﺍﻠﺠﻨﺐ ﻮﺍﻟﺻﺎﺣﺐ ﺑﺎﻟﺟﻨﺐ ﻮﺍﺑﻥ ﺍﻟﺴﺑﻳﻞ ﻮﻣﺎﻣﻟﻛﺖ ﺍﻳﻣﺎ ﻨﻜﻡ ﺍﻥﺍﷲ ﻻﻳﺣﺐ ﻣﻥ ﻜﺎﻥ ﻣﺧﺗﺎ ﻻﻔﺧﻮﺮﺍ ﴿ ﺍﻠﻨﺳﺂﺀ ׃ ٣٦ ﴾
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (QS. An-Nisa’ : 36).
Dari pendapat yang dikuatkan oleh sumber hukum Islam diatas, bahwa pendidikan dini dalam keluarga merupakan fondasi terhadap perkembangan agama bagi anak. Anak pertama sekali berkenalan dengan ibu dan ayah, saudara-saudara serta anggota keluarga lainnya. Melalui komunikasi itulah terjadi proses penerimaan pengetahuan dan nilai-nilai apa saja yang hidup dan berkembang di lingkungan keluarga. Semua yang diterima dalam fase awal itu akan menjadi referensi kepribadian anak pada masa-masa selanjutnya. Oleh sebab itu, keluarga dituntut untuk merealisasikan nilai-nilai yang positif, nilai-nilai keagamaan, sehingga terbina kepribadian anak yang baik pula sejak dini.
Walaupun begitu, disadari atau tidak, dalam kehidupan sekarang telah terjadi pergeseran nilai dan memandang status keluarga. Jika di masa lalu ukuran status keluarga tinggi adalah kesalehan, tetapi kini orang tua umumnya memandang status keluarga yang tinggi adalah kepemilikan harta kekayaan. Sekarang budaya materiil atau budaya kering nilai keagamaan telah menggeser budaya spiritual. Banyak indicator yang menunjukkan bahwa pergeseran nilai itu memang telah terjadi dalam keluarga. Misalnya, anak-anak sekarang lebih senang mendengarkan lagu-lagu pop atau lagu-lagu percintaan yang sarat pesan-pesan keduniaan dari pada mendengarkan nyanyian yang berisikan puji-pujian kepada Allah swt.
Kehidupan keluarga sekarang jauh berbeda dengan kehidupan keluarga di masa lalu. Tradisi keluarga di masa lalu lebih kental dengan nuansa keagamaan. Kebiasaan membaca al-Qur’an setelah shalat maghrib sering terdengar di dalam rumah. Tadarus al-Qur’an merupakan bagian dari kehidupan warga masyarakat. Mendengar ceramah agama, mengunjungi tablig akbar, menghadiri MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) adalah kegemaran mereka walaupun harus berjalan kaki, karena penyelenggaraannya cukup jauh dari rumah kediaman mereka.
Kini kegemaran orang tua dan anak menghadiri kegiatan seperti tersebut jauh sekali berkurang. Sedikit sekali warga masyarakat yang mau menyaksikannya, kalah bersaing dengan kegiatan “kosen musik AFI menuju bintang”, dikalahkan oleh pergelaran “Dangdut Goyang Ngebor” dan pagelaran lainnya yang ada di Indonesia, yang kini sedang ramainya di gelar dimana-mana. Padahal dampak positif dari kegiatan MTQ tersebut dapat dirasakan baik ditingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota dan kecamatan oleh warga masyarakat.
Selain itu, ada lagi kebiasaan yang baik yang mulai ditinggalkan oleh orang tua padahal berdampak positif terhadap perkembangan agama anak, yaitu kebiasaan melantunkan nyanyian yang bernapaskan agama atau puji-pujian terhadap Allah dan atau membacakan syair-syair yang berisi shalawat kepada Nabi Muhammad saw. ketika seorang ibu mau menidurkan anaknya di dalam ayunan.
Kehidupan keluarga sekarang pada umumnya lebih banyak terpedaya oleh tipu daya duniawi. Mengaku beragama Islam, tetapi tidak atau kurang pandai membaca al-Qur’an. Memiliki al-Qur’an bukannya dibaca, tetapi hanya dijadikan pajangan. Bahkan al-Qur’an itu berdebu, karena lama tersimpan, tidak pernah dibaca. Inilah potret keluarga yang miskin tradisi keagamaan.
Kini sudah waktunya orang tua menyadari dan mengembangkan fungsi keluarga di bidang pendidikan agama yang selama ini terabaikan. Pendidikan ibadah shalat, pendidikan membaca al-Qur’an harus menjadi tradisi dalam kehidupan keluarga. Sudah saatnya meninggalkan budaya barat dalam bersikap dan berperilaku. Mengidolakan dan bahkan meneladani sikap dan prilaku jahiliyah para selebritis adalah tidak benar dalam pandangan agama. Karena semua itu sangat menyesatkan. Bukankah masih banyak tokoh dan pejuang Islam yang bisa diteladani. Profil khalifah Abu Bakar Siddiq, khalifah Umar bin Khattab, khalifah Utsman bin Affan, dan khalifah Ali bin Abi Thalib adalah para tokoh dan pejuang Islam yang bisa diteladani. Selain itu, selogan-selogan yang dipajang di dinding rumah sebaiknya bernapaskan keagamaan. Selogan-selogan itu misalnya “shalatlah kamu sebelum dishalatkan orang lain”, “sudahkah anda Shalat?”, “sudahkan anda membaca al-Qur’an” dan sebagainya.
Budaya silaturrahmi antar keluarga kini sangat jarang terlihat sehingga jangan heran bila ada anak-anak tidak mengenal siapa keluarganya, kerabat dan handai tolan. Semuanya terasa asing dan nyaris terputus. Berbagai kesibukan selalu dijadikan sebagai faktor penyebab, padahal pada waktu tertentu masih ada peluang waktu untuk dimanfaatkan bersilaturrahmi. Tetapi yang terjadi adalah orang tua membawa anak-anak mereka pergi ke taman rekreasi, ke objek-objek wisata atau ke tempat hiburan lainnya. Dampak kehidupan modern yang individualistic memang telah mengubah tatanan kehidupan keluarga sehingga tradisi positif yang sarat nilai-nilai agama seperti budaya silaturrahmi semakin ditinggalkan yang ada hanya budaya silaturrahmi ketika hari raya idul fitri maupun hari raya idul adha atau silaturrahmi karena ada sesuatu.
Tetapi, hal ini masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Namun akan lebih baiknya lagi bila frekuensi silaturrahmi itu ditingkatkan. Bukankah menyambung tali silaturrahmi yang hampir putus dengan membudayakan saling mengunjungi antar keluarga sangat dianjurkan oleh agama. Kinilah saatnya untuk berbuat yang terbaik bagi anak sejak dini, jangan tunggu besok. Sebab bila tradisi silaturrahmi itu hilang, dampak negatifnya tidak dapat dielakkan.
B. Aspek Pendukung Pendidikan Dini dalam Keluarga
Orang tua adalah ibu dan bapak, bapak sebagai kepala keluarga, keluarga merupakan persekutuan hidup terkecil. Pangkal ketentraman dan kedamaian hidup adalah terletak dalam lingkungan keluarga. Mengingat pentingnya hidup keluarga yang demikian itu, maka Islam memandang keluarga bukan hanya sebagai persekutuan hidup terkecil saja, tetapi lebih dari itu yakni sebagai lembaga hidup manusia yang dapat memberi kemungkinan celaka dan atau kebahagiaan anggota-anggota keluarga tersebut dunia dan akhirat.
Prof. DR. Mukhti Ali, mantan Menteri Agama Republik Indonesia mengatakan :
Kalau orang bertanya bagaimana cara membangun Negara yang kuat, maka jawabannya ialah Negara yang terdiri dari rumah tangga yang kuat, Negara yang adil terdiri dari rumah tangga yang adil, Negara yang makmur juga terdiri dari rumah tangga yang makmur.
Dari keluarga yang makmur, adil dan tentram inilah berdirinya suatu Negara yang kokoh, makmur dan adil pula. Untuk mewujudkan yang demikian maka anggota keluarga haruslah dibenahi terlebih dahulu dengan sebaik-baiknya. Karena dari rumah tangga inilah lahir penerus bangsa yang akan melanjutkan cita-cita bangsa, dan anak-anak yang amoral dan berakhlak buruk pula.
Keluarga punya peranan yang sangat menentukan dalam pembinaan kepribadian anak yang merupakan tempat manusia dibina untuk mengarungi hidupnya. Setiap orang tua harus menyadari bahwa baik dan buruknya akhlak dan tabiat anak-anaknya tergantung kepada baik buruknya pembinaan yang diberikan pada waktu kecil, ibu dan bapak menjadi guru pertama bagi anak-anaknya.
Menurut Zakiah Daradjat :
Apabila ibu bapak rukun, taat beragama dan memperlakukan anak-anaknya sesuai dengan ajaran-ajaran agama, maka dalam pribadi anak yang sedang tumbuh itu akan diserapnya nilai-nilai keagamaan, yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari dengan orang lain. Demikian pula sebaliknya, jika orang tua tidak rukun dan sering bertengkar, kurang menunjukkan kasih sayang kepada anak serta kurang taqwa kepada Allah swt dan tidak taat mengamalkan agamanya, maka pengalaman yang negatif tersebut akan diserap pula oleh anak dalam peribadinya yang sedang tumbuh dan berkembang, keadaan ini dapat menggoncangkan jiwanya dikemudian hari, bahkan dapat menjadi penyebab dari gangguan kejiwaan.
Dari kutipan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa corak kehidupan dalam keluarga akan mempengaruhi perkembangan anak, namun orang tua tetap memegang peranan penting.
Untuk itu selagi anak mempunyai potensi fitrah dan untuh menerima ilmu pengetahuan dan binaan, “orang tua hendaknya memperhatikan pertumbuhan aspek-aspek kepribadian yang beragam, meliputi aspek kognitif (intelektual), afektif (mental spiritual) dan psikomotorik (fisik)”.
Ketiga aspek tersebut harus dikembangkan secara seimbang artinya tidak ada yang lebih diperhatikan dari pada yang lain seperti yang selama ini terdapat pada pendidikan formal. Demikian halnya pada orang tua yang menekankan perkembangan intelektual (kognitif) semata, dan kurang memperhatikan perkembangan afektif, psikomotorik anak, maka anak tersebut akan berkembang kurang seimbang pula.
Oleh karena itu orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak harus memperhatikan aspek-aspek antara lain :
1. Memiliki kelebihan dalam segala bidang dari pada si anak.
2. Menguasai ilmu jiwa atau ilmu jiwa perkembangan.
3. Menguasai metodik dan didaktik.
4. Mempunyai sikap dan tujuan hidup yang positif sebagai abdi Allah dan khalifah Allah.
Pada masa kanak-kanak pertama pembinaan mental anak dimonopoli oleh orang tua terutama ibu, karena anak lebih dekat hubungan dalam kehidupan sehari-hari dengan ibunya dari pada ayah. Dari itu setiap ibu yang mengandung dan melahirkan anak-anaknya terpikul pada pundaknya suatu kewajiban untuk mendidik serta mengasuh mereka sehingga menjadi anak yang shaleh. Jadi pengaruh ibu lebih besar dari pengaruh ayah dalam pembinaan akhlak anak. Sabda Nabi saw berbunyi :
ﻋﻥ ﺍﺑﻰ ﻫﺭﻳﺭﺓ ﻗﺎﻝﺠﺎﺀ ﺮﺠﻝ ﺍﻟﻰ ﺮﺴﻭﻝ ﺍﷲ ﺻﻟﻰ ﺍﷲ ﻋﻟﻳﻪ ﻭﺴﻟﻡ ﻓﻗﺎﻝ ﻣﻥ ﺍﺣﻕ ﺍﻟﻨﺎﺲﺑﺣﺳﻥ ﺻﺣﺎ ﺑﺗﻰ ﻗﺎﻝ ﺍﻣﻚ ﺛﻡ ﻣﻥ ﻗﺎﻝ ﺛﻢ ﺍﻣﻙ ﻗﺎﻞ ﺛﻡ ﻣﻥ ﻗﺎﻞ ﺛﻡ ﺍﻣﻙ ﻗﺎﻞ ﺛﻡ ﻣﻥ ﻗﺎﻞ ﺛﻡ ﺍﺑﻭﻙ ﴿ ﺮﻮﺍﻩ ﻣﺳﻟﻡ ﴾
Artinya: Dari Abi Hurairah ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasul lalu dia bertanya: Siapakah dari keluarga ku yang paling berhak dengan kebaktianku? Rasul menjawab: ibu mu! Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: kemudian Ibumu, kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu! Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Bapakmu.
Jadi jelaslah bahwa ibu dalam Islam dipandang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari ayah dalam bidang pendidikan anak, karena Islam menitik beratkan pendidikan anak atas dasar cinta kasih. Sedangkan yang paling besar cinta kasihnya dalam keluarga terhadap anak adalah ibu.
Pada masa kanak-kanak pertama ini, dimana nilai-nilai Islam sudah ditanamkan, misalnya menyuruh anak untuk membiasakan membaca basmalah sebelum makan dan hamdallah sesudah makan, mengambil makanan dengan tangan kanan, membagikan makanan kepada temannya, membacakan al-fatihah kepada anak dengan berulang-ulang kali, mengajarkan kepada anak supaya menghormati orang yang lebih tua, suruh anak mengucapkan salam sewaktu masuk rumah, dan orang tua harus menjaga sikapnya didepan anak.
Pada masa kanak-kanak terakhir yaitu 6 tahun adalah masa perkembangan kecerdasan berjalan cepat orang tua harus memberikan pengertian sesuai dengan perkembangan anak. Karena pada masa ini anak sudah mulai mengajukan bermacam-macam pertanyaan. Maka dalam menjawab pertanyaan yang diajukan harus sesuai dengan logikanya, pasti dan jangan berbelit-belit, karena kalau seorang ibu tidak konsekuen dengan apa yang dikatakannya, anak-anak akan mencap ibunya begini dan begitu. Dalam memberikan pelajaran kepada anak, misalnya dalam membedakan bahwa perbuatan itu baik dan buruk haruslah dengan memberikan contoh-contoh. Dominasi orang tua diperlukan agar dapat memformat otak buah hatinya dengan arah dan tujuan yang jelas. Disinilah dituntut kedewasaan orang tua, akan sulit sekali jika orang tua sendiri masih bersikap egois dan kekanak-kanakan.
Pada masa ini daya ingat anak tinggi, tapi daya seleksinya rendah, untuk itu anak harus didampingi dalam menikmati media masa seperti siaran televisi untuk bisa langsung memberikan penjelasan kepada anak terhadap yang dilihatnya.
Pada masa kanak-kanak terakhir ini adalah masa sekolah, maka orang tua harus memasukkan anaknya kesekolah yang mengajarkan pelajaran agama Islam, menciptakan suasana Islami dilingkungan keluarga, misalnya membiasakan anak shalat berjamaah, membaca al-Qur’an, memperkenalkan kepada anak kaligrafi yang Islami dan lain-lain sebagainya.
Luqman memberikan contoh dalam memberikan pendidikan kepada anaknya:
ﻮﺍﺬ ﻗﺎﻞ ﻟﻗﻣﻥ ﻻ ﺑﻨﻪ ﻮﻫﻮ ﻳﻌﻳﻈﻪ ﻳﺑﻨﻲ ﻻ ﺘﺷﺮﻙ ﺑﺎﷲ ﺍﻥ ﺍﻟﺷﺮﻙ ﻟﻅﻟﻢ ﻋﻅﻴﻢ ﴿ ﻟﻗﻣﺎﻥ ﴾
Artinya: Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberikan pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman besar”.
Demikian juga halnya dalam ayat yang lain Allah swt berfirman sebagai berikut :
ﻴﺑﻨﻲ ﺍﻗﻢ ﺍﻟﺻﻟﻮﺓ ﻮ ﺃﻣﺮ ﺒﺎﻟﻣﻌﺮﻮﻒ ﻮﺍﻨ ﻋﻥ ﺍﻟﻣﻨﻛﺭ ﻮﺍ ﺻﺑﺮﻋﻟﻰ ﻣﺎ ﺍﺼﺎ ﺑﻙ ﺍﻥ ﺫﻟﻙ ﻣﻥﻋﺯﻢ ﺍﻻ ﻣﻭﺮ ﴿ ﻟﻗﻣﺎﻥ ׃ ١٧﴾
Artinya: Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada masa kanak-kanak penting, sebagaimana yang dilukiskan diatas. Untuk uraian selanjutnya penulis akan mengemukakan disini, bahwa sistem orang tua dalam pembinaan agama dan akhlak anak adalah sebagai berikut yaitu :
1. Orang tua berfungsi sebagai lokomotif pendidik dalam keluarga
Anak adalah amanah dari Allah swt, maka orang tua berkewajiban mendidik, membina, melatih, dan membiasakan anak untuk selalu berbuat dan bertingkah laku sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan yang diberikan orang tua dirumah tangga adalah merupakan langkah awal dalam pembinaan akhlak anak. Imam al-Ghazali mengemukakan bahwa:
Mendidik anak termasuk masalah-masalah yang sangat urgen sekali, sebab seorang anak itu merupakan amanah (titipan) dari Allah kepada orang tuanya. Kalbu anak yang masih bersih bagaikan suatu permata yang mahal harganya dan bernilai bebas dari segala macam lukisan dan bentuk, ia bersedia menerima setiap sesuatu yang dapat dipergunakan memalingkannya. Manakala anak itu dibiasakan kepada hal-hal yang baik dan diajarkan dengan baik, maka anak itu akan tumbuh menjadi manusia yang baik, bahagia didunia dan akhirat dan kedua orang tuanya ikut mendapat pahala. Sebaliknya jika sejak semula sudah dibiasakan dengan perbuatan buruk atau diabaikan saja serta mengabaikan tingkah lakunya, dia akan celaka dan binasa dan dosanya ditanggung oleh orang-orang yang diserahi mendidiknya maupun walinya.
Dari kutipan diatas terlihat bahwa anak yang dilahirkan suci bersih, kalau dibiarkan tumbuh dan berkembang tanpa arahan dari orang tua, akibatnya anak akan tumbuh dan berkembang dengan berbagai masalah, untuk menghindari hal ini, tanggung jawab orang tua penting sekali khususnya bagi ibu.
Ibu bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya, ibu merupakan pendidik pertama dari anak-anaknya. Sebagai pendidik pertama ibu mempunyai tanggung jawab besar dalam pembentukan benteng moral khususnya pada saat anak berusia dini, karena pendidikan pada saat ini sangat berpengaruh pada perkembangan jiwa anak. Namun hal ini tidak berarti tanggung jawab ayah dalam pendidikan anak tidak ada, dan bukan berarti pula ibu tidak boleh melakukan aktifitas lain selain menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.
Tanggung jawab ibu sangat besar dalam pembentukan jiwa/kepribadian anak, sehingga kehadirannya sangat diperlukan dalam proses perkembangan anak, untuk itu jangan pada masa dini anak mendapat pendidikan dari unsur luar, misalnya media elektronik seperti televisi, video atau hanya dari pembantu.
Jika pada masa anak-anak, anak mendapat pendidikan dari unsur luar yang tidak jelas tujuannya maka perkembangan jiwa mereka bisa tidak terarah dan bahkan dapat terganggu, sehingga pada akhirnya dapat menghanyutkan mereka pada kondisi yang merugikan anak maupun orang tuanya.
Oleh sebab itu anak mengharapkan para ibu tidak meremehkan tanggung jawabnya dalam pembentukan akhlak anak kendatipun memiliki aktivitas lain seperti sebagai wanita karir. Hal ini harus dipahami dan dilaksanakan oleh setiap ibu, agar anak yang dilahirkannya tumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan agama, nusa, bangsa dan Negara.
2. Orang tua berfungsi sebagai sistem pemelihara dan pelindung keluarga.
Disamping orang tua mempunyai kekuasaan sebagai pendidik, orang tua juga berkewajiban memelihara keselamatan kehidupan keluarganya baik moril maupun materil. Sebagaimana firman Allah swt yang berbunyi:
ﻴﺎﻴﻬﺎ ﺍﻟﺬ ﻳﻥ ﺍﻣﻨﻭﺍ ﻗﻭﺍ ﺍﻨﻓﺳﻛﻡ ﻭﺍﻫﻟﻳﻛﻡ ﻨﺎﺮﺍ ﻭﻗﻭ ﺪﻫﺎﺍﻟﻨﺎﺲ ﻭﺍﻟﺤﺟﺎﺮﺓ ﻋﻟﻳﻬﺎ ﻣﻟﺌﻜﺔ ﻏﻚ ﻅ ﺷﺩﺍﺪ ﻻ ﻳﻌﺼﻭﻥ ﺍﷲ ﻣﺎ ﺍﻣﺮﻫﻡ ﻭ ﻳﻓﻌﻟﻭﻥ ﻣﺎ ﻳﺆﻣﺮﻭﻥ ﴿ﺍﻟﺘﺣﺮﻴﻡ ׃٦ ﴾
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa menjaga diri dan lingkungannya dari hal-hal yang dilarang Allah merupakan kewajiban setiap pribadi muslim, dengan jalan menghidupkan suasana Islam dalam lingkungan keluarga seperti: Menyuruh anggota keluarga melaksanakan sholat lima waktu, pauasa, berbuat baik kepada orang tua, dilarang berdusta, menghina orang lain, durhaka kepada orang tua, bersifat sombong, hasad, dengki, supaya keluarga dapat menghasilkan keturunan yang sholeh adalah dambaan orang tua, bahkan menjadi harapan bangsa dan Negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.
Dari uraian-uraian diatas dapat difahami bahwa orang tua mempunyai peranan penting dalam pembinaan akhlak anak, karena pada dasarnya setiap amak yang lahir fitrah, suci (tidak berdosa) dalam hal ini orang tua berkewajiban membina anak tersebut, agar tidak dipengaruhi oleh lingkungan yang dapat merusak fitrah tersebut jadi pada pembinaan orang tua lah seseorang anak bahagia atau celaka taat atau maksiat. Al-Gazali mengemukakan:
a. Imam al-Ghazali menasehati agar seorang anak dijauhkan dari teman-temannya yang jahat, dan tidak membiasakannya dengan hidup berkecimpung dalam pengumpulan harta dan bergelimang dalam kenikmatan atau menikmati sesuatu yang menyenangkan jiwa.
b. Imam al-Ghazali mengatakan bahwa terpujinya perbuatan utama dan tercelanya perbuatan hina yang terus menerus dinasehati diharapkan anak merupakan salah satu usaha menolong pendidikannya.
c. Menjauhkan anak dari perbuatan sia-sia dan kegila-gilaan yaitu mengisi kegiatan pada waktu kosongnya, misalnya membiasakan anak membaca al-Qur’an, Hadits, membaca atau menceritakan kepada mereka biografi orang-orang sholeh, agar tertanam dalam jiwanya kecintaan kepada orang-orang baik dan terpelihara dari puisi-puisi, roman yang mengandung rindu asmara, dan lain-lain sebagainya.
d. Anak itu seyogyanya dibiasakan untuk menghormati dan rendah hati kepada orang yang bergaul dengannya, sopan santun dalam berbicara dengan mereka tidak dibiasakan meludah ditempat duduknya, tidak boleh menguap dan membuang ingus didepan orang lain, tidak boleh membelakangi orang lain, tidak boleh bersilang kaki, tidak boleh bertopang dagu sebab semua itu menjadi pertanda kemalasan.
e. Anak harus dicegah berbicara kotor, mengutuk dan memaki orang lain.
Dari kutipan diatas terlihat bahwa tugas orang tua adalah berat tapi sangat mulia, karena dengan asuhan dan didikannya, maka hasilnya akan dinikmati oleh semua makhluk. Dengan demikian untuk mewujudkan cita-cita dari pendidik Islam, dalam menghadapi masalah anak, maka orang tua harus membekali dirinya terlebih dahulu dengan berbagai macam ilmu, karena pada masa kanak-kanak anak sangat memerlukan kehadiran orang tua yang mengerti tentang masalah-masalah yang akan dihadapinya, supaya orang tua dapat menuntut dan mendidik anak dengan tuntunan yang luhur, agar anak menjadi anak yang shalih.
C. Pola Sikap Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini dalam keluarga memiliki nilai strategis dalam pembentukan kepribadian anak. Sejak dini anak sudah mendapat pendidikan dari kedua orang tuanya melalui keteladanan dan kebiasaan hidup sehari-hari dalam keluarga. Baik tidaknya keteladanan yang diberikan dan bagaimana kebiasaan hidup orang tua sehari-hari dalam keluarga akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak. Keteladanan dan kebiasaan yang orang tua tampilkan dalam bersikap dan berperilaku tidak terlepas dari perhatian dan pengamatan anak. Meniru kebiasaan hidup orang tua adalah suatu hal yang sering anak lakukan, karena memang pada masa perkembangannya, anak selalu ingin menuruti apa-apa yang orang tua lakukan. Anak selalu ingin meniru ini dalam pendidikan dikenal dengan istilah anak belajar melalui imitasi.
Hal tersebut diatas tidak dapat dibantah, karena memang dalam kenyataannya anak suka meniru sikap dan prilaku orang tua dalam keluarga. Dorothy Law Nolte misalnya, sangat mendukung pendapat diatas. Melalui sajaknya berjudul “Anak belajar dari kehidupan”, dia mengatakan bahwa :
“Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih saying dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan”.
Dalam kehidupan sehari-hari orang tua tidak hanya secara sadar, tetapi juga terkadang secara tidak sadar memberikan contoh yang kurang baik kepada anak. Misalnya, meminta tolong kepada anak dengan nada mengancam, tidak mau mendengarkan cerita anak tentang sesuatu hal, memberi nasihat tidak pada tempatnya dan tidak pada waktu yang tepat, berbicara kasar kepada anak, terlalu mementingkan diri sendiri, tidak mau mengakui kesalahan padahal apa yang telah dilakukan adalah salah, mengaku serba tahu padahal tidak mengetahui banyak tentang sesuatu, terlalu mencampuri urusan anak, membeda-bedakan anak, kurang memberikan kepercayaan kepada anak untuk melakukan sesuatu, dan sebagainya.
Beberapa contoh sikap dan perilaku dari orang tua yang dikemukakan di atas berimplikasi negative terhadap perkembangan jiwa anak. Anak telah belajar banyak hal dari orang tuanya. Anak belum memiliki kemampuan untuk menilai, apakah yang diberikan oleh orang tuanya itu termasuk sikap dan perilaku yang baik atau tidak. Yang penting bagi anak adalah mereka telah belajar banyak hal dari sikap dan perilaku yang didemonstrasikan oleh orang tuanya. Efek negative dari sikap dan perilaku orang tua yang demikian terhadap anak misalnya, anak memiliki sifat keras hati, keras kepala, manja, pendusta, pemalu, pemalas dan sebagainya. Sifat-sifat anak tersebut menjadi rintangan dalam pendidikan anak selanjutnya.
Semua sikap dan perilaku anak yang telah dipolesi dengan sifat-sifat tersebut di atas diakui dipengaruhi oleh pola pendidikan dini dalam keluarga. Dengan kata lain, pola asuh orang tua akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak. Pola pendidikan dini orang tua disini bersentuhan langsung dengan masalah tipe kepemimpinan orang tua dalam keluarga. Tipe kepemimpinan orang tua dalam keluarga itu bermacam-macam, sehingga pola pendidikan dini para orang tua juga berlainan. Di satu sisi, pola pendidikan dini dalam keluarga bersifat demokratis atau otoriter. Pada sisi lain, bersifat laissez faire atau tipe campuran antara demokrasi dan otoriter.
Aspek kepemimpinan yang dikaji adalah tentang sifat-sifat kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang kepala rumah tangga, yaitu orang tua dalam keluarga. Pembahasan pada aspek ini penting, karena diakui bahwa sifat-sifat sorang kepala rumah tangga akan banyak menentukan berhasil tidaknya dalam memimpin bawahannya. Ada sederetan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh orang tua sebagai seorang pemimpin dalam keluarga, yaitu :
Energi jasmani dan mental, kesadaran akan tujuan dan arah pendidikan anak, antusiasme (semangat, kegairahan dan kegembiraan yang besar), keramahan dan kecintaan, integritas kepribadian (keutuhan, kejujuran dan ketulusan hati), penguasaan teknis mendidik anak, ketegasan dalam mengambil keputusan mengenal karakteristik anak, objektif, dan ada dorongan pribadi.
Orang tua dan anak adalah suatu ikatan dalam jiwa. “Dalam keterpisahan raga, jiwa mereka bersatu dalam ikatan keabadian. Tidak seorang pun dapat mencerai-beraikannya. Ikatan itu dalam bentuk hubungan emosional antara anak dan orang tua yang tercermin dalam prilaku”. Meskipun suatu saat misalnya, ayah dan ibu mereka sudah bercerai karena suatu sebab, tetapi hubungan emosional antara orang tua dan anak tidak pernah terputus. Sejahat-jahat ayah adalah tetap orang tua yang harus dihormati, lebih-lebih lagi terhadap ibu yang telah melahirkan dan membesarkan. Bahkan dalam perbedaan keyakinan agama sekalipun antara orang tua dan anak, maka seorang anak tetap diwajibkan menghormati orang tua sampai kapanpun.
Setiap orang tua yang memiliki anak selalu ingin memelihara, membesarkan dan mendidiknya. Seorang ibu yang melahirkan anak tanpa ayah pun memiliki naluri untuk memelihara, membesarkan, dan mendidiknya, meski terkadang harus menanggung beban malu yang berkepanjangan. Sebab kehormatan keluarga salah satunya juga ditentukan oleh bagaimana sikap dan perilaku anak dalam menjaga nama baik keluarga. Lewat sikap dan perilaku anak nama baik keluarga dipertahankan.
Orang tua dan anak dalam suatu keluarga memiliki kedudukan yang berbeda. Dalam pandangan orang tua, anak adalah buah hati dan tumpuan di masa depan yang harus dipelihara dan didik. Memeliharanya dari segala marabahaya dan mendidiknya agar menjadi anak yang cerdas, itulah sifat fitrah orang tua. Sedangkan sifat-sifat fitrah orang tua yang lainnya, seperti diungkapkan oleh M. Thalib, adalah :
Senang mempunyai anak, senang anak-anaknya shaleh, berusaha menempatkan anaknya ditempat yang baik, sedih melihat anaknya lemah atau hidup miskin, memohon kepada Allah bagi kebaikan anaknya, lebih memikirkan keselamatan anak daripada dirinya pada saat terjadi bencana, senang mempunyai anak yang bisa dibanggakan, cenderung lebih mencintai anak tertentu, menghendaki anaknya berbakti kepadanya, bersabar menghadapi perilaku buruk anaknya .
Sedangkan diantara tipe-tipe orang tua menurut M. Thaib adalah “penyantun dan pengayom, berwibawa, pemurah kepada istri, lemah lembut, dermawan, egois, emosional, mau menang sendiri dan kejam” .
Tanggung jawab orang tua terhadap anaknya tampil dalam bentuk yang bermacam-macam. Secara garis besar, bila dibutiri, maka tanggung jawab orang tua terhadap anaknya adalah :
Bergembira menyambut kelahiran anak memberi nama yang baik, memperlakukan dengan lembut dan kasih sayang, menanamkan rasa cinta sesama anak, memberikan pendidikan akhlak, menanamkan akidah tauhid, melatih anak mengerjakan shalat, berlaku adil, memperhatikan teman anak, menghormati anak, memberi hiburan, mencegah perbuatan bebas, menjauhkan anak dari hal-hal porno (baik pornoaksi maupun pornografi), menampakkan dalam lingkungan yang baik, memperkenalkan kerabat kepada anak, mendidik bertetangga dan bermasyarakat.
Sementara itu, Abdullah Nashih Ulwan membagi tanggung jawab orang tua dalam mendidik bersentuhan langsung dengan “pendidikan iman, pendidikan moral, pendidikan fisik, pendidikan rasio/akal, pendidikan kejiwaan, pendidikan sosial dan pendidikan seksual”.
Konteksnya dengan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan, maka orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Bagi anak, orang tua adalah model yang harus ditiru dan diteladani. Sebagai model, orang tua seharusnya memberikan contoh yang terbaik bagi anak dalam keluarga. Sikap dan prilaku orang tua harus mencerminkan akhlak yang mulia. Oleh karena itu, Islam mengajarkan kepada orang tua agar selalu mengajarkan sesuatu yang baik-baik saja kepada anak mereka. Dengan salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq Sa’id bin Mansur, Rasulullah saw. bersabda :
ﻋﻟﻣﻮﺍ ﺃﻮﻻﺪﻜﻡ ﺍﻠﺧﻴﺮ ﻭﺃﺪﺑﻮﻫﻡ
Artinya: Ajarkanlah kebaikan kepada anak-anak kamu dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang baik.
Pembentukan budi pekerti yang baik adalah tujuan utama dalam pendidikan Islam. Karena dengan budi pekerti itulah tercermin pribadi yang mulia, sedangkan pribadi yang mulia itu adalah pribadi yang utama yang ingin dicapai dalam mendidik anak dalam keluarga. Namun sayangnya, tidak semua orang tua dapat melakukannya. Banyak faktor yang bisa menjadi penyebabnya, misalnya orang tua yang sibuk dan bekerja keras siang dan malam dalam hidupnya untuk memenuhi kebutuhan materi anak-anaknya, waktunya dihabiskannya di luar rumah, jauh dari keluarga, tidak sempat mengawasi perkembangan anaknya, dan bahkan tidak punya waktu untuk memberikan bimbingan, sehingga pendidikan akhlak bagi anak-anaknya terabaikan.
Dalam kasuistik tertentu sering ditemukan sikap dan prilaku orang tua yang keliru dalam memperlakukan anak. Misalnya, orang tua membiarkan anak-anaknya nongkrong di jalan dan begadang hingga larut malam. Mereka menghabiskan waktunya hanya untuk bermain, mengejek satu sama lain, dan saling berlomba melempar kata-kata kotor. Padahal semestinya waktu-waktu tersebut bisa dimanfaatkan oleh orang tua untuk mendidik anak-anaknya untuk mengaji al-Qur’an di rumah. “Meski orang tua memiliki kemampuan yang kurang baik dalam membaca al-Qur’an, tetapi upaya orang tua itu dapat mempersempit ruang gerak anak untuk hal-hal yang kurang baik dalam pandangan agama”.
Dalam keluarga yang broken home sering ditemukan seorang anak yang kehilangan keteladanan. Orang tua yang diharapkan oleh anaknya sebagai teladan, ternyata belum mampu memperlihatkan sikap dan perilaku yang baik. Akhirnya anak kecewa terhadap orang tuanya, anak merasa resah dan gelisah, mereka tidak betah tinggal di rumah, keteduhan dan ketenangan merupakan hal yang langka bagi anak.
Hilangnya keteladanan dari orang tua yang dirasakan anak memberikan peluang bagi anak untuk mencari pigur yang lain sebagai tumpuan harapan untuk berbagai perasaan dalam duka dan lara. Di luar rumah, anak mencari teman yang dianggapnya dapat memahami dirinya; perasaannya dan keinginannya. Kegoncangan jiwa anak ini tidak jarang dimanfaatkan oleh anak-anak nakal untuk menyeretnya ke dalam sikap dan perilaku jahiliyah. Sebagian besar kelompok mereka tidak hanya sering mengganggu ketenangan orang lain seperti melakukan pencurian atau perkelahian, tetapi juga tidak sedikit yang terlibat dalam penggunaan obat-obat terlarang atau narkoba. Pergi ke tempat-tempat hiburan merupakan kebiasaan mereka, menggoda wanita muda atau pergi ke tempat prostitusi adalah hal yang biasa dalam pandangan mereka.
Sikap dan perilaku anak yang asosial dan amoral seperti di atas tidak bisa dialamatkan kepada keluarga miskin, bisa saja datang dari keluarga kaya, di kota-kota besar misalnya, sikap dan perilaku anak yang asosial dan amoral justru datang dari keluarga kaya yang memiliki kerawanan hubungan dalam keluarga. Ayah, ibu dan anak sangat jarang bertemu dalam rumah, ayah atau ibu sibuk dengan tugas mereka masing-masing, tidak mau tahu kehidupan anak, kesunyian rumah memberikan peluang bagi anak untuk pergi mencari tempat-tempat lain atau apa saja yang dapat memberikan keteduhan dan ketenanga dalam kegagalan batin.
Akhirnya, apa pun alasannya, mendidik anak adalah tanggung jawab orang tua dalam keluarga. Oleh karena itu, sesibuk apa pun pekerjaan yang harus diselesaikan, meluangkan waktu demi pendidikan anak adalah lebih baik. Bukankah orang tua yang bijaksana adalah orang tua yang lebih mendahulukan pendidikan anak dari pada mengurusi pekerjaan siang dan malam.
Orang tua yang mengabaikan pendidikan anak yang disebutkan diatas adalah orang tua yang merugi sebagaimana yang Allah swt. firmankan dalam al-Qur’an surat az-Zumar ayat 15, yaitu:
...ﺍﻥ ﺍﻟﺧﺳﺮﻳﻥ ﺍﻠﺬﻳﻥ ﺧﺴﺮﻮﺍﺍﻨﻔﺳﻬﻡ ﻮﺍﻫﻟﻳﻬﻡ ﻴﻭﻡ ﺍﻟﻗﻳﻣﺔ ﺍﻻ ﺫﻟﻚ ﻫﻭ ﺍﻟﺧﺳﺮﺍﻥ ﺍﻟﻣﺑﻳﻥ(ﺍﻟﺰﻣﺮ׃١۵)
Artinya: …Sesungguhnya orang-orang yang merugi adalah mereka yang merugikan diri mereka dan keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS: az-Zumar:15).
Dengan demikian maka tergolong kepada orang-orang yang merugilah bila terdapat keluarga yang mengabaikan pendidikan anak-anaknya sejak dini, hanya disebabkan oleh kesibukan dan kelalaian mereka sendiri yang pada akhirnya mereka akan tergolong kepada orang-orang yang tidak beruntung.
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Kemandirian Anak
Kehadiran keluarga sebagai komunitas masyarakat terkecil memiliki arti penting dan strategis dalam pendidikan dan pembangunan komunitas masyarakat yang lebih luas. Oleh karena itu, kehidupan keluarga yang harmonis perlu dibangun atas dasar sistem interaksi yang kondusif. Pendidikan dini yang baik harus diberikan kepada anggota keluarga sedini mungkin dalam upaya memerankan fungsi pendidikan dalam keluarga, yaitu menumbuhkembangkan potensi anak, sebagai wahana untuk mentransfer nilai-nilai dan sebagai agen transformasi kebudayaan.
Persoalannya adalah bagaimana sebenarnya bentuk-bentuk interaksi pendidikan dini dalam keluarga. Ada beberapa aspek interaksi pendidikan dini dalam keluarga, yaitu aspek interaksi antara suami dan istri, aspek interaksi antara ayah, ibu dan anak, aspek interaksi antara ayah dan anak, aspek interaksi antara ibu dan anak dan aspek interaksi antara anak dan anak.
1. Faktor interaksi antara suami dan istri
Interaksi sosial antara suami dan istri selalu saja terjadi, dimana dan kapan saja. Tetapi interaksi sosial dengan intensivitas yang tinggi lebih sering terjadi di rumah, karena berbagai kepentingan. Misalnya karena masalah kehangatan cinta, karena ingin berbincang-bincang, karena ada permasalahan keluarga yang harus dipecahkan, karena masalah anak, karena masalah sandang pangan, karena untuk meluruskan kesalahan pengertian antara suami dan istri, dan sebagainya.
Dalam kehidupan berumah tangga, pernikahan boleh saja semakin berumur, tapi bara cinta harus dapat terus menyala. Kapan dan dimana pun berada, pasangan suami-istri selalu mendambakan kehangatan cinta dari lawan jenisnya. Mereka tidak ingin kehangatan cinta itu padam dalam perjalanan waktu. Oleh karena itu, mereka berusaha mencari sikap dan perilaku yang dapat mengantarkan kepada kehangatan cinta. Ada beberapa indikator yang dapat mengantarkan pasangan suami-istri kepada kehangatan cinta, yaitu ungkapan cinta, efek sentuhan, beri bantuan, siap dengan dukungan, jangan pelit pujian, munculkan segala kebaikannya, sisihkan waktu berdua, panggilan khusus, dengarkan dan tiga kata ajaib dan sebagainya.
Dalam masalah pendidikan anak sejak dini, pasangan suami-istri harus bermusyawarah. Pendidikan bagaimana yang akan diberikan kepada anak? Siapa yang mendidiknya? Kemana memasukkan anak sekolah? Adalah agenda permasalahan suami-istri dalam pendidikan anak. Permasalahan pendidikan anak ini tidak bisa dianggap ringan, karena menyangkut masa depan anak, sekaligus keluarga di kemudian hari.
Kesalahan mendidik anak, sehingga melahirkan anak dengan sikap dan perilaku jahiliyah, bukan hanya derita bagi anak, tetapi juga nestapa bagi orang tua. Oleh karena itu, selektivitas dalam pendidikan anak mutlak diperlukan agar tidak terjadi salah asuh. Disini baik suami ataupun istri berhak mengemukakan pendapat masing-masing dalam musyawarah, teknik dan strategi pendidikan bagaimana yang harus dilaksanakan dalam rangka mendidik anak?

2. Faktor interaksi antara ayah, ibu dan anak
Sejak anak dalam usia balita ayah dan ibu sudah sering berinteraksi dengan anak. Ketika anak yang berumur satu setengah tahun sedang menyusu, seorang ibu berusaha untuk berbicara kepada anaknya dengan bahasa tersendiri, walaupun ketika itu anak belum mengerti perkataan yang merangkai kalimat yang terucap lewat bahasa yang ibu sampaikan. Tetapi, anak berusaha tersenyum memberikan tanggapan atas respons yang diberikan oleh ibu. Demikian juga ketika seorang ayah melambaikan sebelah tangan kepada anak ketika akan berangkat bekerja, anak akan memberikan tanggapan atas respons yang diberikan itu. Jadi disini, ayah dan anak terlihat dalam interaksi simbolik.
Suatu ketika ayah dan ibu sering terlibat dalam perbincangan mengenai masalah anak. Mereka bermusyawarah sikap dan perilaku bagaimana yang sebaiknya ditampilkan untuk memberikan pengalaman yang baik kepada anak di dalam rumah tangga mereka. Walaupun tanpa disadari sikap dan perilaku negatif ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari. Mendidik anak memang tidak mudah, karena banyak faktor yang ikut terlibat dalam memberikan pengalaman. Sumber informasi dalam bentuk media elektronik dan media cetak memberikan efek psikologis terhadap anak. Ayah dan ibu sering resah karena anaknya sering menonton perilaku berbau seks dan adegan kekerasan di TV. ayah dan ibu khawatir karena anaknya sering melihat gambar pornografi yang dipajang di cover depan Koran-koran, bagaimana ayah dan ibu tidak sedih dan menangis ketika mengetahui bahwa anaknya sering menonton film cabul atau pornoaksi lewat video.
Itulah pernik-pernik kehidupan berumah tangga bagi orang tua yang memiliki anak. Kehadiran anak semakin bermasalah seiring bertambahnya usia anak. Anak sudah pandai membangun jaringan sosial dalam dimensi yang lebih luas. Suatu waktu dia betah tinggal di rumah bersama orang tua, tetapi di lain kesempatan dia juga butuh teman bermain di luar rumah. Bercengkrama dan bercenda gurau dengan ayah atau ibu boleh jadi membosankan dan anak perlu suasana baru di luar rumah. Membawa anak pergi ke tempat tertentu, misalnya, ke pegunungan, ke pantai atau ke objek wisata lainnya penting dilakukan demi menyenangkan hati anak.
“Orang tua yang baik adalah ayah dan ibu yang pandai menjadi sahabat sekaligus sebagai teladan bagi anaknya sendiri”. Karena sikap bersahabat dengan anak mempunyai aspek dan peranan yang besar dalam mempengaruhi perkembangan jiwanya sejak dini. Sebagai sahabat, tentu saja orang tua harus menyediakan waktu untuk anak, menemani anak dalam suka dan duka, memilihkan teman yang baik untuk anak dan bukan membiarkan anak memilih teman sesuka hatinya tanpa petunjuk bagaimana cara memilih teman yang baik.
Dalam keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak, mendidik anak berarti mempersiapkan anak untuk menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Dalam hal ini pendidikan anak ini, saran dari Faramarz patut untuk diperhatikan, beliau mengatakan bahwa “orang tua yang ingin mempersiapkan anak-anak untuk kehidupan yang akan datang harus mengajarkan kepada mereka bagaimana mengembangkan sikap yang menarik sebagai cara hidup”. Memberikan nasehat kepada anak mesti dilakukanjika dalam sikap dan perilakunya terdapat gejala yang kurang baik bagi perkembangannya. Pemberian nasihat perlu waktu yang tepat dan dengan sikap yang bijaksana, jauh dari kekerasan dan kebencian. orang tua bisa menasehati anak pada saat rekreasi, dalam perjalanan di atas kendaraan, saat selesai makan, atau pada waktu anak sedang sakit.
Untuk mendukung kea rah pengembangan diri anak yang baik salah satu upayanya adalah pendidikan disiplin. Pendidikan disiplin dapat diberikan dalam bentuk keteladanan dalam rumah tangga. Ayah dan ibu harus memberikan teladan dalam hal disiplin yang baik dengan bijaksana dan dengan menggunakan pujian, bukan selalu dengan kritik atau hukuman. Sebab anak yang tumbuh dalam suasana pujian dan persetujuan akan tumbuh lebih bahagia, lebih produktif dan lebih patuh daripada anak yang terus-menerus dikritik.
Untuk melahirkan anak dengan disiplin yang baik tidak mungkin dapat terbentuk dalam waktu singkat, tetapi diperlukan waktu yang cukup lama dalam siklus proses. “Karenanya mendidik anak butuh kesabaran dan memiliki kepekaan terhadap anak”. Kesabaran ada, tetapi tidak peka terhadap anak, akan melahirkan anak dengan kepribadian yang labil.
Hal lain yang juga penting untuk diberikan kepada anak adalah menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Caranya memperkuat kemauan anak, menumbuhkan kepercayaan sosial, menumbuhkan kepercayaan ilmiah, dan menumbuhkan kepercayaan ekonomi dan bisnis. Kepercayaan diri dapat melahirkan kepribadian yang unggul dengan keyakinan yang kuat terhadap apa yang pernah diucapkan atau yang dilakukan, jauh dari ketergantungan dengan orang lain dan punya sikap yang konsisten.
3. Faktor interaksi antara ibu dan anak
Kiranya kenyataan menunjukkan, bahwa peranan ibu pada masa anak-anak adalah besar sekali, sejak dilahirkan, peranan tersebut tampak dengan nyata sekali, “sehingga dapat dikatakan bahwa pada awal proses sosialisasi, seorang ibu mempunyai peranan yang besar sekali (bahkan lebih besar dari peran seorang ayah).” Peranan seorang ibu dalam membantu proses sosialisasi tersebut, mengantarkan anak ke dalam sistem kehidupan sosial yang berstruktur. Anak diperkenalkan dengan kehidupan kelompok yang saling berhubungan dan saling bertegantungan dalam jalinan interaksi sosial.
Hubungan antara ibu dan anak tidak hanya terjadi pasca kelahiran anak, tetapi sudah berlangsung ketika anak sedang dalam kandungan ibu. Hubungan ibu dengan anak bersifat fisiologis dan psikologis. Secara fisiologis makanan yang dimakan oleh ibu yang sedang hamil akan mempengaruhi pertumbuhan fisik anak. Kalau tidak ada kelainan karena faktor lain di luar perkiraan, maka anak akan tumbuh dengan memiliki organ-organ tubuh yang sempurna. Oleh karena itu, dianjurkan kepada ibu hamil agar memakan makanan yang bergizi lagi halal. Atau menurut nasihat para ahli kesehatan dan gizi agar memakan makanan empat sehat lima sempurna.
Hubungan darah antara ibu dan anak melahirkan pendidikan yang bersifat kodrati. Karenanya secara naluriah, meskipun mendidik anak merupakan suatu kewajiban, tetapi setiap ibu merasa terpanggil untuk mendidik anaknya dengan cara mereka sendiri. Bagi seorang ibu yang terbiasa hidup dalam alam tradisional, mendidik anaknya berdasarkan pengalaman yang diberikan oleh leluhurnya atau berpedoman pada warisan budaya tradisional setempat. Bagi seorang ibu yang hidup dalam alam modern, juga mendidik anaknya berdasarkan pengalaman atau ilmu pengetahuan yang pernah diterimanya dalam kehidupan modern.
Dari kultur kehidupan keluarga yang kontradiksi di atas melahirkan perilaku pendidikan yang berlainan, sehingga upaya pendidikan yang diberikan kepada anak dengan pendekatan yang tidak selalu sama. Pada umumnya pendekatan pendidikan yang sering dilakukan dalam suatu keluarga berkisar pada “pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan edukatif, pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, dan pendekatan keagamaan”.
Sedangkan pendekatan dasar yang baik yang harus diberikan di dalam keluarga adalah pendidikan dasar agama, pendidikan dasar akhlak, pendidikan dasar moral, pendidikan dasar sosial, pendidikan dasar susila dan pendidikan dasar etika.
4. Faktor Interaksi antara ayah dan anak
Pada pase awal dari kehidupan anak, dia tidak hanya berkenalan dengan ibunya, tetapi juga berkenalan dengan ayahnya sebagai orang tuanya. Keduanya sama-sama memberikan cinta, kasih dan saying kepada anaknya, bagaimana pun keadaan anaknya. Karena setiap pengalaman, entah yang baik atau yang buruk, yang dimiliki ayah akan menjadi referensi kepribadian anak pada masa-masa selanjutnya, maka yang harus diberikan kepada anak adalah pengalaman yang baik-baik saja. Karenanya menjadi tugas dan tanggung jawab orang tua untuk memberikan pengalaman yang baik kepada anak melalui pendidikan yang diberikan dalam rumah tangga.
Dengan posisi dan peranan yang sedikit berbeda antara ibu dan ayah melahirkan hubungan yang bervariasi dengan anak, meski demikian, baik ibu maupun ayah, sama-sama berusaha berada sedekat mungkin dengan anaknya, seolah-olah tidak ada jarak. Karena hanya dengan begitu, orang tua dapat memberikan pendidikan lebih intensif kepada anaknya di rumah.
Seorang ayah dengan kesadaran yang tinggi akan pentingnya pendidikan bagi anaknya akan berusaha meluangkan waktu dan mencurahkan pikiran untuk memperhatikan pendidikan anaknya. Rela menyisihkan uangnya untuk membelikan buku dan peralatan sekolah anak. Menyediakan ruang belajar khusus untuk keperluan belajar anak, membantu anak bila mengalami kesulitan belajar, menjadi pendengar yang baik ketika anak menceritakan berbagai pengalaman yang didapatkannya di luar rumah, memanfaatkan waktu untuk berdialog dan diselingi Tanya jawab dengan perspektif kependidikan tentang sesuatu dengan anak, agar dia memperoleh pelajaran yang baik dari ayahnya.
5. Faktor interaksi antara anak dan anak
Dengan hadirnya anak-anak dalam keluarga berarti komunitas keluarga bertambah. Disini interaksi semakin meluas, semula hubungan antara suami dan istri, kemudian meluas hubungan antara anak dan anak. Hubungan antara anak tidak selalu melibatkan kedua orang tuanya. Bisa saja berlangsung antara sesama anak. Mereka bermain bersama, saling membantu antara sesama mereka, atau melakukan apa saja yang dapat menyenangkan hati.
Interaksi antara sesama anak bisa berlangsung dimana dan kapan saja, banyak hal yang menjadi penghubung jalannya interaksi antara sesama anak, misalnya, masalah perjalanan, masalah bermain, masalah rekreasi dan sebagainya. Pertemuan antara kakak dan adinya untuk membicarakan rencana berkunjung ke rumah teman atau seorang adik yang meminta bantuan kepada kakaknya bagaimana cara belajar yang baik adalah bentuk interaksi antara sesama anak. Interaksi yang berlangsung antara mereka tidak sepihak, tetapi secara timbal balik.
Pada suatu waktu mungkin saja seorang kakak yang memulai pembicaraan untuk membicarakan sesuatu hal kepada adiknya. Tetapi di lain kesempatan bisa saja seorang adik yang memulai pembicaraan untuk membicarakan sesuatu hal kepada kakaknya. Mereka berbicara antar sesama mereka, tanpa melibatkan orang tua. Bahasa yang mereka pergunakan sesuai dengan alam pemikiran dan tingkat penguasaan bahasa yang dikuasai. Mereka bertukar pengalaman, bersenda gurau, bermain atau melakukan aktivitas apa saja menurut cara mereka masing-masing dalam suka dan duka.
Dalam interaksi seperti tersebut diatas termasuk kepada aspek-aspek yang ikut mempengaruhi tingkat perkembangan anak sejak dini, dimana anak yang satu akan membagi pengalamannya kepada anak yang lainnya sejak dini, banyak hal yang dapat dilihat, seperti berbagi pengalaman dalam bermain, bercerita dan lain sebagainya.



BAB III
HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Letak Geografis
Desa Sampaimah merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Manyak Payed Kabupaten Aceh Tamiang secara geografis desa Sampaimah memiliki jarak dari pusat pemerintahan Kecamatan Manyak Payed lebih kurang 3 km.
Desa Sampaimah mempunyai luas wilayah adalah 9,60 km2 dengan batas desa tersebut sebagai berikut :
- Sebelah Barat berbatasan dengan desa Gelanggang Merak
- Sebelah Timur berbatasan dengan desa Kasih Sayang
- Sebelah Utara berbatasan dengan desa Tualang Cut, dan
- Sebelah Selatan berbatasan dengan desa Simpang Tiga.
Dilihat dari segi topografi, desa Sampaimah terdiri dari dataran rendah dan tidak berbukit-bukit dengan jenis penggunaan tanah adalah daratan, sawah dan rawa-rawa, dengan ketinggian mencapai 400 meter diatas permukaan laut.
2. Penduduk
Menurut catatan yang terdapat pada Kantor Camat jumlah penduduk di wilayah desa Sampaimah sampai tahun 2006 mencapai 1.104 jiwa, yang terdiri dari 506 jiwa laki-laki dan 598 jiwa perempuan, dengan jumlah KK (Kepala Keluarga) sebanyak 275 KK. Secara rinci jumlah penduduk perdesa dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3.1. Jumlah Penduduk Desa Sampaimah dilihat menurut Usia dalam Tahun 2006.

No Usia Jumlah Jumlah Total Ket.
Laki-2 Perem.
1.
2.
3.
4.
5.
6. 0 – 1 tahun
2 – 4 tahun
5 – 15 tahun
16 – 44 tahun
45 – 64 tahun
64 tahun keatas 22
85
98
156
119
26 35
95
111
220
122
15 57
180
209
376
241
41
Jumlah 506 598 1.104
Sumber Data : Statistik Desa Sampaimah yang diperoleh dari Kantor Camat Kec. Manyak Payed, Tahun 2006
Dari tabel diatas menunjukkan bahwa, yang mayoritas penduduknya adalah perempuan yaitu mencapai 598 jiwa sedangkan laki-laki mencapai 506 jiwa.
3. Mata Pencaharian
Sesuai dengan letak geografis desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed yang subur tanahnya dan baik sekali untuk dijadikan areal pertanian, maka oleh sebab itu sebahagian besar penduduknya bermata pencaharian dibidang pertanian. Disamping usaha bidang pertanian, sebahagian masyarakat tersebut berpenghasilan pegawai negeri, karyawan swasta dan lain-lain yang dapat memperoleh penghasilan untuk kebutuhan pribadi dan keluarga. Untuk lebih jelasnya tentang mata pencaharian masyarakat desa Sampaimah dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3.2. Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian Di Desa Sampaimah Tahun 2006.
No Mata Pencaharian Persentase Ket.
1.
2.
3.
4.
5. Tani
Buruh
Karyawan Swasta
Pegawai Negeri
Dan lain-lain 30%
20%
10%
20%
20%
Jumlah Prosentase 100
Sumber Data : Kantor Camat Kec. Manyak Payed, Tahun 2006.
Tabel tersebut menunjukkan bahwa, sebahagian penduduk Desa Sampaimah bekerja dibidang pertanian, Pegawai Negeri Sipil, pegawai swasta dan lain-lain yang tidak tetap termasuk usia yang belum produktif lagi untuk bekerja dan mencapai 20% yang terdiri dari anak-anak, remaja usia pendidikan dan usia lanjut.
4. Pendidikan
Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena melalui pendidikan seseorang dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah swt. ber etika dan bertanggung jawab baik sebagai individu (perorangan), anggota masyarakat, maupun sebagai warga negara. Desa Sampaimah yang merupakan wilayah yang ikut berperan terhadap kemajuan pendidikan untuk mengisi otonomi daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dalam bidang pendidikan, agama dan budaya (adat istiadat).
Sejak berdirinya sekolah-sekolah disekitar desa Sampaimah yaitu di wilayah Kecamatan Manyak Payed tersebut, baik negeri maupun swasta telah banyak menghasilkan manusia terpelajar yang mampu mengisi pembangunan Desa Sampaimah untuk mewujudkan pembangunan bangsa Republik Indonesia seutuhnya.
Untuk mendapatkan pendidikan bagi masyarakat sudah tersedianya sarana dan fasilitas pendidikan yang relatif memadai, untuk memajukan pendidikan mulai dari tingkat Dasar (SD) sampai dengan Sekolah Menengah Umum (SMU), sedangkan Perguruan Tinggi melanjutkan ke Kota Langsa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 3.3. Fasilitas Pendidikan Formal dalam Wilayah Kecamatan Manyak Payed Tahun 2006.
No Nama/Tingkat Sekilah Jumlah Ket.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7. SD
MI
SLTP
MTsN
MAN
SMU
TK 14 buah
4 buah
3 buah
2 buah
1 buah
1 buah
3 buah Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Jumlah 28 buah
Sumber Data : Kantor Camat Kec. Manyak Payed, Tahun 2006.
Dengan demikian dapat dipahami, perkembangan pendidikan masyarakat desa Sampaimah sudah cukup baik dan terlepas dari buta huruf. Walaupun fasilitas yang berjumlah 28 buah tersebut bukanlah berada dalam wilayah desa Sampaimah namun tersebar dalam Kecamatan Manyak Payed dan sangat terjangkau dari desa Sampaimah.
Hal tersebut juga didukung oleh jumlah sarana pendidikan non formal sebagaimana tabel berikut :
Tabel 3.4. Fasilitas Pendidikan Non Formal di Desa Sampaimah, Tahun 2006.
No Nama/Tingkat Sekilah Jumlah Ket.
1.
2. Pesantren tradisional
TPA 1 buah
1 buah Baik
Baik
Jumlah 1 buah
Sumber Data : Kantor Camat Kec. Manyak Payed, Tahun 2006.
Dari tabel tersebut diatas juga terlihat bahwa di desa Sampaimah juga memiliki wadah pendidikan formal berupa pesantren dan TPA sehingga anak-anak usia sekolah dengan leluasa dapat menikmati wadah tersebut sebagai tempat untuk menambah ilmu pengetahuan agama mereka.
5. Agama
Penduduk Desa Sampaimah keseluruhannya menganut agama Islam yang ta’at, kesadaran hidup beragama di Desa Sampaimah tergolong baik, meskipun pengaruh budaya asing melalui media elektrinik yang pada saat sekarang ini beraneka ragam dan hampir tidak terbendungkan.
Pembinaan kehidupan beragama diwilayah Desa Sampaimah dapat tercermin dari jumlah sarana dan prasarana peribadatan yang tersedia cukup memadai, hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3.5. Sarana dan Prasarana Ibadah di Desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed Tahun 2006.
No J e n i s Jumlah Keterangan
1. Mushalla 2 Baik
Jumlah 2
Sumber Data : Kantor Camat Kec. Manyak Payed, Tahun 2006.
Dari tabel diatas menunjukkan, bahwa di desa Sampaimah baru terdapat dua buah mushalla sebagai sarana ibadah dan bukan masjid, namun hal tersebut tidak mengurangi ketaatan masyarakat terhadap beribadah, karena sarana peribadatan ummat Islam yang memadai juga terdapat disekitar desa Sampaimah, sehingga kehidupan masyarakat selalu diwarnai dengan kehidupan Islami.
6. Adat Istiadat
Adat istiadat desa Sampaimah masih terlihat tinggi, karena desa Sampaimah pada umumnya penduduk asli ber-suku Aceh, walaupun banyak sudah bercampur dengan suku pendatang, seperti : Jawa, Tamiang, Mandiling dan lain-lain. Akan tetapi mengenai kebudayaan mereka tidak terpengaruh dengan kebudayaan luar daerahnya.
Dengan demikian dalam kehidupan sosial budaya, suku Aceh asli terlihat dalam kehidupan sehari-hari, pada umumnya masyarakat Sampaimah masih berperilaku seperti adat kebiasaan masyarakat Aceh lainnya.
Sesungguhnya masyarakat Sampaimah terdiri dari beberapa etnis yang datang dari luar Aceh, tetapi dalam kehidupan sehari-hari terlihat rasa solidaritas yang tinggi, hal ini terlihat antara lain :
a. Dalam hal kematian
Apabila dalam suatu desa ada orang meninggal, maka segala kegiatan pada hari itu dihentikan dan masyarakat beramai-ramai datang ketempat yang musibah, mereka memberi sedekah dari kaum bapak berupa uang atau barang, sedangkan bagi kaum ibu membawa kue-kue, gula, teh atau kopi.
Memasuki malam pertama di rumah ahli musibah, dibacakan al-Qur’an dan tahlilan oleh masyarakat selama tiga malam berturut-turut dan pada hari ketujuh, keempat puluh dan keseratus terkadang juga diadakan kenduri mengundang tetangga dan ahli famili sesuai dengan kemampuan keluarga yang ditinggalkannya.
b. Dalam hal perkawinan
Apabila seorang pemuda berkeinginan terhadap seorang gadis, hal ini disampaikan kepada orang tua untuk meminang atau mencari gadis yang disukai oleh puteranya. Adapun cara yang ditempuh oleh orang tua, orang tua (bapak si pemuda) mencari seorang laki-laki lain yang sudah dewasa sebagai penggantinya untuk meminang seorang gadis calon menantu (dalam bahasa Aceh, Seulangkue), datang kerumah membawa roti, kopi, teh dan sejenisnya. Selanjutnya seulangkeu datang langsung membicarakan dengan orang tau si gadis menyampaikan setuju atau tidak pinangan gadisnya.
Dalam pelaksanaan seterusnya baru dilaksana-kan tunangan (Ba-ranup), kadang kala sekaligus dengan nikah, ada yang menunggu beberapa bulan baru dilangsungkan pernikahan dan peresmian.
Acara pesta perkawinan (walimah) diadakan ada yang satu hari penuh dan ada pula yang satu hari satu malam. Pada acara antar Linto (intat linto) kenduri diadakan pada tempat pengantin wanita (bak dara baro) kenduri diadakan pada tempat pengantin laki-laki (bak linto). Disamping diadakan kenduri tersebut diselingi dengan kesenian seperti rabbana, seulawat kepada Nabi, Ranup Lampuan dan lain-lainnya tergantung pada permintaan orang punya pesta.
c. Dalam hal kelahiran
Seperti kelahiran anak, bila anak tersebut laki-laki, langsung di azankan pada telinga sebelah kanan, tetapi bila anak yang baru lahir itu perempuan di Iqamah pada telinga sebelah kiri, kemudian pada hari ketiga potong pusat, seterusnya pada hari ketujuh diberi nama dan cukur rambut. Pada hari tersebut diadakan kenduri dengan memotong ayam dan kambing mengundang tetangga dan seluruh famili dekat. Seterusnya pada hari keenam puluh diadakan kenduri penurunan bayi yang baru lahir (peutren aneuk), untuk dibacakan do’a dan sebagian lainnya mengaji, mendo’akan anak terebut panjang umur dan mendapat kebahagiaan didunia dan kesejahteraan di akhirat.
d. Dalam hal keagamaan
Dalam memperingati hari-hari besar Ilam seperti : Isra’ Mikraj, Nuzul Qur’an, Maulid Nabi Muhammad saw., dan hari besar lainnya diadakan kenduri, sedangkan pada malam harinya diadakan ceramah, terkadang diundang penceramah dari daerah luar gampong bahkan diluar kecamatan Manyak Payed itu sendiri.
Demikian gambaran secara umum tentang adat istiadat di Desa Sampaimah yang selalu mencerminkan nilai-nilai yang Islami dalam pelaksanaan adat istiadat sekalipun adat-istiadat sudah bermacam ragam.
B. Pola Pendidikan Dini dalam Keluarga Masyarakat Desa Sampaimah
Pola pendidikan dini dalam keluarga desa Sampaimah terdapat beberapa pola diantaranya adalah pola keteladanan melalui kebiasaan baik orang tua, pendidikan nilai-nilai kepribadian, pendidikan agama dan moral, memperhatikan teman bergaul anak, meluangkan waktu untuk keluarga, sebagai orang tua merangkap sebagai sahabat dan menanamkan disiplin dan kepercayaan diri.
Untuk melihat sejauhmana para orang tua di desa Sampaimah dalam menerapkan sistem pembinaan tersebut dapat akan penulis dapat dilihat dari hasil penelitian berikut:
1. Keteladanan dan pembiasaan berbuat baik
Keteladanan dan pembiasaan berbuat baik yang diterapkan dalam lingkungan keluarga dapat membentuk sikap kemandirian anak. Untuk mengetahui sejauhmana masyarakat desa Sampaimah dalam menerapkan keteladanan dan pembiasaan berbuat baik bagi anak-anak mereka dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 3.6. Keteladanan dan pembiasaan mengerjakan yang baik-baik bagi setiap anak-anak mereka sebagai pola pendidikan dini dalam keluarga di desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak.

No Alternatif Jawaban ƒ ٪
1.
2.
3. Sangat sering
Sekali-sekali
Tidak pernah 20
50
50 18,18%
45,45%
36,36%
Jumlah 110 100,00%
Dari tabel tersebut diatas dapat dipahami bahwa pola pendidikan dini melalui pola keteladanan dan pembiasaan berbuat baik bagi anak-anak mereka di Desa Sampaimah terlihat bahwa 18,18% responden yang mengatakan sangat sering, 45,45% yang menyatakan kadang-kadang dan terdapat 36,36% yang menyatakan tidak pernah. Dapat disimpulkan bahwa para orang tua di desa Sampaimah belum sepenuhnya melakukan pola keteladanan melalui pembiasaan berbuat baik sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluarga mereka.
2. Pendidikan nilai-nilai kepribadian
Banyak hal yang dapat dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai kepribadian dimana orang tua memulai mengenalkan kepada anak-anak mereka tentang kemesraan, kecintaan, kejujuran, keutuhan dan sebagainya. Untuk mengetahui sejauhmana masyarakat desa Sampaimah dalam menerapkan pendidikan nilai-nilai kepribadian sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluarga mereka dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 3.7. Pendidikan nilai-nilai kepribadian sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak.
No Alternatif Jawaban ƒ ٪
1.
2.
3. Sangat sering
Sekali-sekali
Tidak pernah 15
65
40 13,64%
59,09%
36,36%
Jumlah 110 100,00%
Dari tabel tersebut diatas dapat dipahami bahwa pola pendidikan dini melalui pola pendidikan nilai-nilai kepribadian bagi anak-anak mereka di Desa Sampaimah terlihat bahwa 13,64% responden yang mengatakan sangat sering, 59,09% yang menyatakan kadang-kadang dan terdapat 36,36% yang menyatakan tidak pernah. Dapat disimpulkan bahwa sebagian orang tua dalam keluarganya di desa Sampaimah sudah menanamkan pola pendidikan nilai-nilai kepribadian di lingkungan keluarga mereka.
3. Pendidikan agama dan moral
Pendidikan agama dan moral sangat penting dilakukan hal ini dapat memberi pemahaman kepada anak tentang tauhid, akhlak, ibadah, berlaku adil, tolong menolong dan sebagainya. Untuk mengetahui sejauhmana masyarakat desa Sampaimah dalam menerapkan Pendidikan agama dan moral sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluarga mereka dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 3.8. Pendidikan agama dan moral sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak.
No Alternatif Jawaban ƒ ٪
1.
2.
3. Sangat sering
Sekali-sekali
Tidak pernah 68
36
6 61,82%
32,73%
5,45%
Jumlah 110 100,00%
Dari tabel tersebut diatas dapat dipahami bahwa pola pendidikan dini melalui pendidikan agama dan moral bagi anak-anak mereka di Desa Sampaimah terlihat bahwa 61,82% responden yang mengatakan sangat sering, 32,73% yang menyatakan kadang-kadang dan terdapat 5,45% yang menyatakan tidak pernah. Dapat disimpulkan bahwa sebagian orang tua dalam keluarganya di desa Sampaimah sudah menanamkan pendidikan agama dan moral sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluarga mereka.
4. Mengenal teman bergaul anak
Mengenal teman bergaul anak sangatlah penting, hal ini orang tua sebagai filter sehingga anak dapat terhindar dari pergaulan bebas dan kecenderungan mengikuti teman yang berakhlak buruk. Untuk mengetahui sejauhmana masyarakat desa Sampaimah dalam mengenal teman bergaul anak-anak mereka sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluarganya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 3.9. Mengenal teman bergaul anak sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak.
No Alternatif Jawaban ƒ ٪
1.
2.
3. Sangat sering
Sekali-sekali
Tidak pernah 12
45
53 10,91%
40,91%
48,18%
Jumlah 110 100,00%
Dari tabel tersebut diatas dapat dipahami bahwa pola pendidikan dini melalui mengenal teman bergaul anak anak-anak mereka di Desa Sampaimah terlihat bahwa 10,91% responden yang mengatakan sangat sering, 40,91% yang menyatakan kadang-kadang dan terdapat 48,18% yang menyatakan tidak pernah. Dapat disimpulkan bahwa sebagian orang tua dalam keluarganya di desa Sampaimah belum mengenal teman bergaul anak-anak mereka sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluarganya.
5. Meluangkan waktu bersama keluarga dan anak-anak
Kepadatan aktifitas orang tua sering sekali mengabaikan waktu bagi anak-anak mereka, hal ini juga berpengaruh kepada psikologi anak dimana anak terlepas dari arahan dan bimbingan para orang tua. Untuk mengetahui sejauhmana masyarakat desa Sampaimah dalam meluangkan waktu bersama keluarga dan anak-anak mereka sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluarganya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 3.10. Meluangkan waktu bersama keluarga dan anak-anak sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak.
No Alternatif Jawaban ƒ ٪
1.
2.
3. Sangat sering
Sekali-sekali
Tidak pernah 10
65
35 9,09%
59,09%
31,82%
Jumlah 110 100,00%
Dari tabel tersebut diatas dapat dipahami bahwa pola pendidikan dini melalui meluangkan waktu bersama keluarga dan anak-anak mereka di Desa Sampaimah terlihat bahwa 9,09% responden yang mengatakan sangat sering, 59,09% yang menyatakan kadang-kadang dan terdapat 31,82% yang menyatakan tidak pernah. Dapat disimpulkan bahwa sebagian orang tua dalam keluarganya di desa Sampaimah sudah dan sebagian lainnya belum meluangkan waktu bersama keluarga dan anak-anak mereka sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluarganya yang disebabkan oleh kesibukan mereka dalam aktifitasnya sehari-hari.
6. Sebagai orang tua sekaligus merangkap sebagai sahabat bagi anak.
Orang tua yang baik adalah orang tua yang pandai menjadi sahabat sekaligus tauladan bagi anak-anaknya. Untuk mengetahui sejauhmana masyarakat desa Sampaimah bertindak sebagai orang tua sekaligus merangkap sebagai sahabat bagi anak-anak mereka dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 3.11. Sebagai orang tua sekaligus merangkap sebagai sahabat bagi anak-anak sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak.
No Alternatif Jawaban ƒ ٪
1.
2.
3. Sangat sering
Sekali-sekali
Tidak pernah 5
45
60 4,55%
40,91%
54,55%
Jumlah 110 100,00%
Dari tabel tersebut diatas dapat dipahami bahwa pola pendidikan dini dengan bertindak sebagai orang tua sekaligus merangkap sebagai sahabat bagi anak-anak mereka di Desa Sampaimah terlihat bahwa 4,55% responden yang mengatakan sangat sering, 40,91% yang menyatakan kadang-kadang dan terdapat sebagian besar yaitu mencapai 54,55% yang menyatakan tidak pernah. Dapat disimpulkan bahwa sebagian orang tua dalam keluarganya di desa Sampaimah belum sepenuhnya bertindak sebagai orang tua sekaligus merangkap sebagai sahabat bagi anak-anak mereka sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluarganya.
7. Menanamkan disiplin dan kepercayaan diri.
Membiasakan disiplin merupakan salah satu bentuk pola pendidikan yang berpengaruh terhadap sikap kemandirian anak. Untuk mengetahui sejauhmana masyarakat desa Sampaimah menanamkan disiplin dan kepercayaan diri bagi anak-anak mereka dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 3.12. Menanamkan disiplin dan kepercayaan diri bagi anak-anak sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak.
No Alternatif Jawaban ƒ ٪
1.
2.
3. Sangat sering
Sekali-sekali
Tidak pernah 30
65
15 27,27%
59,09%
13,64%
Jumlah 110 100,00%
Dari tabel tersebut diatas dapat dipahami bahwa pola pendidikan dini dengan menanamkan disiplin dan kepercayaan diri bagi anak-anak mereka di desa Sampaimah terlihat bahwa 27,27% responden yang mengatakan sangat sering, 59,09% yang menyatakan kadang-kadang dan terdapat sebagian besar yaitu mencapai 13,64% yang menyatakan tidak pernah menanamkan disiplin dan kepercayaan diri pada anak-anak mereka. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar orang tua dalam keluarganya di desa Sampaimah telah menanamkan disiplin dan kepercayaan diri bagi anak-anak mereka sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluarganya.
C. Pengaruh Pola Pendidikan Dini Terhadap Kepribadian Anak
Adapun kepribadian anak berdasarkan bekal dari pembinaan orang tua dalam rumah tangga melalui beberapa sistem pembinaan agama diantaranya dengan pembinaan melalui pembiasaan, latihan, keteladanan, memberi penjelasan atau memberi tahu, memberi dorongan, menyuruh dan melarang, mengawasi, praktek lapangan (demontrasi), kompetensi dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 3.13. Pola pendidikan dini bagi anak dalam keluarga masyarakat desa Sampaimah dan pengaruhnya terhadap sikap kemandirian anak.
No Alternatif Jawaban ƒ ٪
1.
2.
3. Sangat berpengaruh
Berpengaruh
Tidak berpengaruh 48
52
10 43,64%
47,27%
9,09%
Jumlah 110 100,00%
Dari tabel diatas terlihat bahwa 43,64% responden yang menyatakan pola pendidikan dini sangat berpengaruh terhadap sikap kemandirian anak, 47,27% yang menyatakan berpengaruh dan 9,09% yang menyatakan tidak berpengaruh. Dengan demikian dapat difahami bahwa pola pendidikan dini bagi anak dalam keluarga sangat berpengaruh terhadap sikap kemandirian anak di desa Sampaimah.
D. Pembuktian Hipotesa
Dari hasil pembahasan dan hipotesa penelitian terhadap pola pendidikan dini dan pengaruhnya terhadap sikap kemandirian anak di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed adalah sebagai berikut :
1. Hipotesa pertama
Terdapat beberapa pola pendidikan dini dikalangan keluarga desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed sebagai upaya pembinaan sikap kemandirian anak-anak mereka.
Hipotesa ini positif, hal ini dapat dilihat dari hasil jawaban responden dalam tabel 3.6, 3.7, 3.8, 3.9, 3.10, 3.11 dan 3.12.
2. Hipotesa kedua
Pola pendidikan usia dini di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed memiliki pengaruh terhadap perkembangan sikap kemandirian anak-anak mereka.
Hipotesa ini positif, hal ini dapat dilihat dari hasil jawaban responden dalam tabel 3.13.

BAB IV
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan dalam bab-bab sebelumnya dan hasil penelitian yang penulis dapatkan, ditemukan beberapa kesimpulan dan saran-saran sebagai berikut :
1. Pendidikan sejak dini merupakan kewajiban bagi setiap orang tua dan perlu dibangun sebagai pola pendidikan dini upaya pembentukan sikap kemandirian anak di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
2. Terdapat beberapa bentuk pola pendidikan dini diantaranya adalah pola keteladanan melalui kebiasaan baik orang tua, pendidikan nilai-nilai kepribadian, pendidikan agama dan moral, memperhatikan teman bergaul anak, meluangkan waktu untuk keluarga, sebagai orang tua merangkap sebagai sahabat dan menanamkan disiplin dan kepercayaan diri di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
3. Pola pendidikan dini memiliki pengaruh terhadap sikap kemandirian anak, di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
4. Para orang tua di desa sampaimah hendaknya selalu mengawasi anak-anak mereka dalam menentukan teman bergaul sehingga anak-anak tersebut dapat terhindar dari pergaulan bebas.
B. Saran-saran
1. Disarankan kepada setiap orang tua dalam rumah tangga agar menyadari pentingnya pola pendidikan dini disetiap keluarga mereka sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
2. Disarankan kepada orang tua agar setiap hari dapat meluangkan waktu disamping aktifitas mereka yang padat untuk anak-anak mereka, baik melalui dialog, belajar, diskusi dan memberi contoh tauladan yang baik.
3. Hendaknya dalam setiap rumah tangga, kepala keluarga disamping sebagai orang tua hendaknya pandai menjadikan diri mereka sebagai teman sekaligus tauladan bagi anak-anak mereka sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak.
4. Kepada setiap orang tua hendaknya tidak bosan-bisan dalam membentuk kepribadian anak dengan kepribadian yang baik sebagai upaya pendidikan dini dalam keluarga.


ABSTRAKSI


Nama lengkap: YUSNITA; Nomor Pokok: 110101824; Skripsi berjudul: POLA PENDIDIKAN DINI DALAM KELUARGA DAN PENGARUHNYA TERHADAP SIKAP KEMANDIRIAN ANAK DI DESA SAMPAIMAH KECAMATAN MANYAK PAYED. Untuk memperoleh data ilmiah yang objektif dalam penelitian ini penulis menggunakan metode library research dan field research yang tertuju kepada pemecahan masalah pada saat sekarang.
Pola pendidikan dini dalam keluarga sebagai komunitas masyarakat terkecil memiliki arti penting dan strategis dalam pembentukan sikap kemandirian anak sejak dini, pola pendidikan ini dapat dilakukan melalui interaksi antara suami dan isteri, interaksi antara ayah, ibu dan anak, interaksi antara ayah dan anak, interaksi antara ibu dan anak dan interaksi antara anak dan anak.
Melalui hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pola pendidikan dini dalam keluarga memiliki pengaruh terhadap sikap kemandirian anak, namun belum semua orang tua memahami akan pentingnya pola pendidikan sejak dini tersebut sehingga masih terdapat sebagian dari responden yang belum memanfaatkan interaksi sosial antara ayah, ibu dan anak-anak mereka di desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed.
Disarankan kepada orang tua agar menyadari sepenuhnya akan pentingnya pola pendidikan dini dalam setiap keluarga mereka guna membina sikap kemandirian anak dimasa yang akan datang.

KATA PENGANTAR

ﻢﻴﺣﺮﻠﺍﻥﻤﺤﺭﻟﺍﷲﺍﻢﺴﺑ
Alhamdulillah, segala puji dan syukur kehadirat Allah swt atas rahmat dan kurnia-Nya penulis telah dapat menyelesaikan penelitian serta penulisan skripsi ini sebagaimana yang tercantum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, selawat dan salam penulis sampaikan kepangkuan Nabi Besar Muhammad saw yang telah membawa manusia dari alam kebodohan kepada alam yang berilmu pengetahuan.
Penulis menyadari bahwa isi dari karya tulis ini, belum begitu sempurna disebabkan keterbatasan ilmu pengetahuan yang ada pada penulis. Sungguhpun demikian, kesulitan dan hambatan-hambatan telah dapat penulis atasi berkat ketekunan dan ketabahan serta berkat bantuan semua pihak.
Dalam hal ini dengan penuh rasa keikhlasan penulis ucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Bapak Drs. Basri Ibrahim, MA selaku Pembimbing I dan Bapak Drs. Zainuddin, MA selaku Pembimbing II yang telah membimbing penulis dengan sebaik-baiknya, telah berkenan meluangkan waktu, mencurahkan pikiran dan tenaganya sehingga skripsi ini dapat penulis selesaikan.
Selanjutnya ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Ketua dan Pembantu Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Zawiyah Cot Kala Langsa, Ketua Jurusan serta Bapak dan Ibu Dosen yang telah memberikan bimbingan dan ilmu pengetahuan kepada penulis. Juga terima kasih kepada pimpinan Perpustakaan Sekolah Tinggi Agama Islam Zawiyah Cot Kala Langsa beserta seluruh karyawan yang telah meminjamkan buku-buku yang penulis perlukan dan tidak lupa juga semua civitas akademika Sekolah Tinggi Agama Islam Zawiyah Cot Kala Langsa.
Do’a dan ucapan terima kasih penulis persembahkan kepada ayahanda, ibunda tercinta, yang telah bersusah payah dalam membimbing dan mendorong penulis serta memberikan bantuan baik berupa materil maupun sprituil sehingga tulisan ini selesai dengan baik.
Akhirnya terima kasih penulis kepada semua pihak yang ikut memberikan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini, mudah-mudahan Allah memberikan balasan yang setimpal terhadap jasa-jasa mereka. Amin ya rabbal ‘alamin.

Langsa, Desember 2006

P e n u l i s,-

DAFTAR ISI


Halaman
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL vii
ABSTRAKSI viii

BAB I : PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 4
C. Penjelasan Istilah 4
D. Tujuan Penelitian 8
E. Postulat dan Hipotesa 8
F. Metodologi Penelitian 9

BAB II : LANDASAN TEORITIS 12
A. Konsep Pendidikan Dini di Lingkungan Keluarga 12
B. Aspek Pendukung Pendidikan Dini dalam Keluarga 20
C. Pola Sikap Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia
Dini 29
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Kemandirian
Anak 37

BAB III : HASIL PENELITIAN 46
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 46
B. Pola Pendidikan Dini dalam Keluarga Masyarakat -
Desa Sampaimah 53
C. Pengaruh Pola Pendidikan Dini Terhadap Kepribadian
Anak 59
D. Pembuktian Hipotesa 60

BAB V : P E N U T U P 62
A. Kesimpulan 62
B. Saran-saran 62

DAFTAR KEPUSTAKAAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Jumlah Penduduk Desa Sampaimah dilihat menurut Usia dalam Tahun 2006 47
Tabel 3.2. Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian Di Desa Sampaimah Tahun 2006 48
Tabel 3.3. Fasilitas Pendidikan Formal dalam Wilayah Kecamatan Manyak Payed Tahun 2006 49
Tabel 3.4. Fasilitas Pendidikan Non Formal di Desa Sampaimah, Tahun 2006 49
Tabel 3.5. Sarana dan Prasarana Ibadah di Desa Sampaimah Kecamatan Manyak Payed Tahun 2006 50
Tabel 3.6. Keteladanan dan pembiasaan mengerjakan yang baik-baik bagi setiap anak-anak mereka sebagai pola pendidikan dini dalam keluarga di desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak 54
Tabel 3.7. Pendidikan nilai-nilai kepribadian sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak 55
Tabel 3.8. Pendidikan agama dan moral sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak 55
Tabel 3.9. Mengenal teman bergaul anak sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak 56
Tabel 3.10. Meluangkan waktu bersama keluarga dan anak-anak sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak 57
Tabel 3.11. Sebagai orang tua sekaligus merangkap sebagai sahabat bagi anak-anak sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak 58
Tabel 3.12. Menanamkan disiplin dan kepercayaan diri bagi anak-anak sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak 59
Tabel 3.13. Pola pendidikan dini bagi anak dalam keluarga masyarakat desa Sampaimah dan pengaruhnya terhadap sikap kemandirian anak 60






DAFTAR RIWAYAT HIDUP



1. Nama Lengkap : Y U S N I T A
2. Tempat/Tanggal Lahir : Sampaimah, 3 Agustus 1981
3. Nomor Pokok : 110101824
4. Jenis Kelamin : Perempuan
5. Agama : Islam
6. Kebangsaan/Suku : Indonesia / Aceh
7. Status Perkawinan : Belum Kawin
8. Pekerjaan : Mhs.STAI Zawiyah Cot Kala Langsa
9. Alamat : Desa Sampaimah
Kec. Manyak Payed

10. Nama Orang Tua :
a. A y a h : Muhammad (almarhum)
b. I b u : Nuriah
c. Pekerjaan : IRT
d. Alamat : Kec. Manyak Payed

11. Jenjang Pendidikan :
1. SD lulus tahun 1993
2. MTsN lulus tahun 1996
3. SMEA lulus tahun 1999
4. STAI Zawiyah Cot Kala Langsa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), sejak tahun 2001 sampai dengan sekarang.

Demikian daftar riwayat hidup ini saya perbuat dengan sebenarnya, agar dapat dipergunakan seperlunya.


Langsa, 5 Desember 2006

Penulis;



Y U S N I T A





LAMPIRAN I :
DAFTAR WAWANCARA
Nama : …………………………………
Jabatan : …………………………………
Alamat : …………………………………
---------------------------------------------------
1. Dapatkah bapak/Ibu jelaskan batas wilayah desa Sampaimah ini ?
2. Dapatkah bapak/Ibu jelaskan jarak antara Desa Sampaimah dengan Kota Kecamatan Manyak Payed?
3. Menurut yang bapak/ibu masyarakat Desa Sampaimah mayoritasnya berpenghasilan sebagai apa dalam memenuhi kehidupan keluarganya ?
4. Coba bapak/ibu jelaskan berapa luas wilayah Desa Sampaimah ?
5. Untuk saat ini berapakah jumlah rumah ibadah (masjid/mushalla) yang ada di Desa Sampaimah ?
6. Dalam kenyataannya dapatkah bapak/ibu jelaskan berapakah jumlah sarana pendidikan non formal yang ada di desa Sampaimah ?
7. Dapatkan bapak/ibu memberi gambaran kehidupan sosial masyarakat desa Sampaimah ini ?
8. Bagaimana pula masyarakat desa Sampaimah dalam pelaksanaan ritual keagamaannya sehari-hari ? Jelaskan!
9. Pola pendidikan dini yang bagaimanakah yang pernah bapak/ibu lakukan dalam pembinaan rumah tangga sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak di Desa Sampaimah?




LAMPIRAN II :
DAFTAR ANGKET

Nama : ……………………………………
Jabatan : ……………………………………
Alamat : ……………………………………
----------------------------------------------------------------------------
Petunjuk : - Jawablah dengan jujur karena kerahasiaan dari setiap jawaban bapak/ibu adalah jaminan dari kami.
- Beritanda silang (x) pada jawaban yang anda anggap benar
----------------------------------------------------------------------------

1. Apakah keteladanan dan pembiasaan mengerjakan yang baik-baik bagi setiap anak-anak mereka sebagai pola pendidikan dini dalam keluarga di desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak
a. Sangat sering
b. Sekali-kali
c. Tidak pernah
2. Apakah pendidikan nilai-nilai kepribadian sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak
a. Sangat sering
b. Sekali-kali
c. Tidak pernah
3. Apakah pendidikan agama dan moral sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak
a. Sangat sering
b. Sekali-kali
c. Tidak pernah
4. Apakah mengenal teman bergaul anak sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak
a. Sangat sering
b. Sekali-kali
c. Tidak pernah
5. Apakah meluangkan waktu bersama keluarga dan anak-anak sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak
a. Sangat sering
b. Sekali-kali
c. Tidak pernah
6. Apakah sebagai orang tua sekaligus merangkap sebagai sahabat bagi anak-anak sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak
a. Sangat sering
b. Sekali-kali
c. Tidak pernah
7. Apakah menanamkan disiplin dan kepercayaan diri bagi anak-anak sebagai pola pendidikan dini di lingkungan keluagra masyarakat desa Sampaimah sebagai upaya pembentukan sikap kemandirian anak
a. Sangat sering
b. Sekali-kali
c. Tidak pernah
8. Apakah pola pendidikan dini bagi anak dalam keluarga masyarakat desa Sampaimah dan pengaruhnya terhadap sikap kemandirian anak
a. Sangat sering
b. Sekali-kali
c. Tidak pernah



DAFTAR KEPUSTAKAAN

Al-Qur’annul Karim
Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil Islam, (diterjemahkan oleh Drs. Jamaludin Miri. Lc. dengan judul “Pendidikan Anak dalam Islam”, Jakarta: Pustaka Amani, 1995).
Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan, (Surabaya: Aksara, 1988).
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1974).
Ali Akbar, Merawat Cinta Kasih, (Jakarta: Pustaka Antara, 1977).
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990).
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar …, (Edisi Ketiga, 2002).
Faramarz bin Muhammad Rahbar, Raising Children According to the Qur’an and Sunnah, diterjemahkan oleh Kamdani dengan judul: Selamatkan Putra-putrimu dari Lingkungan Tidak Islami, cet.II, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1998).
Farid Ma’ruf Noor, Menuju Keluarga Sejahtera dan Bahagia, Cet. Ke-2, (Bandung: Al-Ma’arif, 1983).
Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Versi al-Ghazali, (Bandung: al-Ma’arif, 1986).
Husain Mazhahiri, Tarbiyah Ath-Thifl fi Ar-ru’yah al-Islamiyah, diterjemahkan oleh :Segaf Abdillah Assegaf dan Miqdad Turkan, dengan judul: Pintar Mendidik Anak, (Jakarta: PT. Lentera Basritama, 1999).
Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001).
Jhon W. Best, Metodologi Penelitian Pendidikan, (terjemahan: Sanapiah Faisal dan Mulyadi Guntur Waseso), (Surabaya: Usaha Nasional, 1982).
Kamrani Buseri, Antologi Pendidikan Islam dan Dakwah Pemikiran Teoritis Praktis Kontemporer, (Yogyakarta: UII Press, 2003).
Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994).
Khairiyah Husain Thaha, Konsep Ibu Teladan Kajian Pendidikan Islam, (Surabaya: Risalah Gusti, 1992).
M. Arifin Noor, Ilmu Sosial Dasar; untuk IAIN, STAIN, PTAIS Semua Fakultas dan Jurusan Komponen MKU, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999).
M. Enoch Markum, Anak, Keluarga dan Masyarakat, Cet. II, (Jakarta: Sinar Harapan, 1985).
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991).
M. Nur Maksum, Pola Hubungan Ayah dan Anak dalam Masyarakat Komplek Perumnas, (Banjarmasin: IAIN Antasari, 1986).
M. Quraish Shihab, Lentera Hati, Kisah dan Hikmah Kehidupan, cet. XIII, (Jakarta: Mizan, 1998).
M. Thalib, 40 Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Anak, (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 1995).
M. Thalib, Memahami 20 Sifat Fitrah Orang Tus,, (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 1997).
M. Thalib, Mengenal Tipe-tipe Suami, (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 1999).
Ma’mur Daud, (penterjemah), Terjemahan Hadits Shahih-Muslim, Cet. Ke-1, Jilid IV, (Jakarta: Wijaya, t.t.).
Mahmud Yunus, Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1978).
Moh. Shochib, Pola Asuh Orang Tua dalam Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998).
Mohammad Fauzil Adhim, Menjadi Ibu bagi Muslimah, cet. II, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1996).
Muhammad Rasyid Dimas, Al-Inshat al-In’ikasi (Khamsun Wa’Isyruna Thariqah Lit-Ta’tsir fi Nafsi Ath-Thifi wa ‘Aqlihi), diterjemahkan oleh: Tate Qamaruddin, Lc., dengan judul: 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak, cet. II, (Jakarta: Robbani Press, 2001).
Muhammad Zuhaili, Pendidikan Islam Sejak Dini, (Jakarta: A.H. Ba’adillah Press, 2002).
Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976).
Soerjono Soekanto, Sosiologi Keluarga; tentang ikhwal; Keluarga, Remaja dan Anak, cet.II, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992).
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Cet. Ix, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993).
Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua & Anak dalam Keluarga; Sebuah Perspektif Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004).
Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, cet.II, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002).
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004).
Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, Cet.III, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990).
Zahara Idris, Dasar Kependidikan, (Padang: Aksara Raya, 1981).
Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta : Bulan Bintang, 1970).

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>