Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 29 April 2011

Dinasti Abbasiyah

/ On : 13.08/ Thank you for visiting my small blog here.
Dinasti Abbasiyah
Oleh: Amri
07 PEDI 1088


A. Pendahuluan
Jatuhnya daulat bani Umaiyyah pada tahun 750 Masehi dan bangkitnya bani Abbasiyah telah menarik perhatian banyak kalangan dan sejarawan Islam. Para sejarawan melihat bahwa peristiwa ini unik dan menarik karena bukan saja pergantian dinasti, tetapi lebih dari itu adalah pergantian struktur sosial dan idiologi.
Dinasti Abbasiyah merupakan imperium Islam kedua, Setelah Bani Umaiyyah. Bani Abbas merupakan keturunan al-Abbas paman nabi Muhammad saw. Pendirinya ialah Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas yang dikenal dengan Abu Abbas al-Saffah.
Keberhasilannya mengambil alih kekuasaan dianggap sebagai sebuah kemenangan, yang sudah lama diharapkan oleh Bani Hasyim setelah wafatnya Rasulullah saw. Bani Hasyim yang merasa berhak atas kekhalifahan, sebagai ahl al-bait (keluarga Rasulullah saw), sudah sejak lama bersaing dengan keturunan Abdul Manaf yang lain, ketika Umaiyyah bin Abdu Syam bin Abdu Manaf, tidak senang atas keberhasilan Hasyim dalam menjalankan kekuasaan di Makkah.
Periode kepemimpinan Abbasiyah dinilai oleh para sejarawan Islam sebagai masa keemasan Islam, terutama ketika pemerintahan dipimpin oleh Harun al-Rasyid dan al-ma’mun. Pada masa itu tingkat kemakmuran dan kesejahteraan sosial sangat tinggi dan perkembangan pemikiran keislaman mencapai puncaknya dengan kajian-kajian ilmiah di bidang keagamaan, kebudayaan maupun kesusastraan. Pada masa inilah banyak bermunculan ahli kalam, imam mazhab dan para filosof.
Dinasti Bani Abbasiyah berkuasa dari tahun 132 H / 750 M sampai dengan 656 H / 1258 M. Kemampuan untuk berkuasa dalam kurun waktu tersebut mengindikasikan Bani Abbasiyah adalah imperium besar yang kuat tak mudah ditumbangkan oleh kekuatan lawan. Realitas juga memperlihatkan betapa Daulat Bani Abbasiyah memiliki wilayah kekuasaan hingga benua Eropa.
524 tahun adalah rentang waktu yang cukup lama, sehingga beragam nuansa telah mewarnai perjalanan sejarah kepemimpinan Bani Abbasiyah. Pertumbuhan, perkembangan, kemajuan seterusnya kemunduran dan kehancuran adalah fase yang harus / hampir dilalui setiap dinasti, begitu juga dengan dinasti Bani Abbasiyah. Sekelumit kisah dan sedikit analisa tentang proses berkibarnya panji Bani Abbasiyah, beberapa kemajuan dan sumbangsihnya bagi dunia ilmu dan peradaban Islam, bahkan peradaban dunia. Makalah ini akan menguraikan sekitar perkembangan dinasti Abbasiyah, perkembangan sosial politik,
B. Proses Pembentukan Dinasti Abbasiyah
Pemerintahan dinasti Abbasiyah merupakn kelanjutan dari pemerintahan dinasti bani Umayyah yang telah digulingkannya. Dinamakan kekhalifahan Abbasiyah karena pendirinya dan para penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas bin abdul Muthallib, paman Nabi Muhammad saw. Sebelum menggulinkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah, para keluarga Abbas melakukan berbagai persiapan dengan melakukan pengaturan strategi yang kuat. Karena menurut Muhammad bin Ali, salah seorang keluarga Abbas, bahwa perpindahan kekuasaan dari satu penguasa ke penguasa lainnya memerlukan berbagai persiapan yang matang dan dukungan kuat dari masyarakat. Karena bila tidak, maka usaha untuk mengambil kekuasaan tidak akan berhasil bahkan akan mengalami kegagalan total.
Gerakan Abbasiyah sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Umar Ibn Abdul Azis, gerakannya begitu rapih dan tersembunyi sehingga tak diketahui pihak Bani Umayyah. Selain itu gerakan ini juga didukung oleh kalangan syiah. Hal ini bisa dimaklumi karena dalam melakukan aksinya, para aktivisnya membawa-bawa nama bani Hasyim, bukan bani Abbas. Maka secara tidak langsung orang-orang syiah merasa disertakan dalam perjuangan mereka.
Gerakan Abbasiyah mulai muncul di daerah Hamimah, Kufah dan Khurasan, Salah satu pendirinya adalah Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Setelah Muhammad bin Ali meninggal, anaknya Ibrahim menggantikan posisinya.
Pada 125 H, disaat pemerintahan Bani Umayyah tengah mengalami masa kemunduran, gerakan Abbasiyah semakin gencar. Empat tahun kemudian, Ibrahim bin Muhammad mendeklarasikan gerakannya di Khurasan melalui panglimanya Abu Muslim al-Khurasani. Namun gerakan ini diketahui oleh Marwan bin Muhammad, Khalifah terakhir bani Umayyah, Ibrahimpun ditangkap dan dipenjarakan.
Motivasi yang mendorong mereka merebut kekuasaan dari Bani Umayyah adalah karena faktor permusuhan yang menimbulkan dendam di kalangan Bani Abbas terhadap Bani Umayyah. Permusuhan ini muncul dikarenakan bani Umayyah selalu mengganggu pemerintahan dan berupaya memusnahkan kelompok Ali. Keberhasilan Bani Umayyah merebut kekuasaan dari tangan Ali merupakan pukulan yang hebat sehingga luka di dalam diri mereka semakin menganga.
Dalam upaya untuk merebut kekuasaan ini, Abbasiyah melakukan beberapa tahapan kerja mulai dari penyusunan rencana hingga terjadinya pertempuran dahsyat. Setidaknya ada dua taktik propaganda yang mereka lancarkan untuk menunjang keberhasilan ini yaitu penyebaran propaganda secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan dengan melakukan perlawanan (konfrontatif). Propaganda secara sembunyi-sembunyi dilakukan dengan cara menyebarkan rasa kebencian terhadap Bani Umyyah yang dianggap telah merebut kekuasaan dan keluarga Rasulullah sebagai pewaris utama kepemimpinan Islam. Propaganda yang dilancarkan ternyata sangat ampuh untuk menarik simpati massa kaum syiah. Selain itu bersatu pula kelompok tertindas lainnya yaitu dari kalangan orang-orang Persia dan mawali yang tidak dapat menerima perlakuan sebagai masyarakat kelas dua.
Sedangkan Propaganda konfrontatif mencapai puncaknya pada tahun 747 M. Hukuman gantung yang diberikan kepada Ibrahim Ibn Muhammad merupakan isu aktual yang diangkat oleh Abu Muslim untuk memprovokasi massa. Melalui pertarungan yang sengit, kota Khurasan berhasil dikuasai, dan di kota Khurasan ini diproklamirkan berdirinya kerajaan Abbasiyah.
B. Perkembangan Sosial Politik dan Pemerintahan
Meskipun pemerintahan Daulat Bani Umayyah telah berakhir, akan tetapi sistem yang digunakan dalam menjalankan politik pemerintahan kelihatannya tidak jauh berbeda. Sistem kerajaan (monarchi heredetis) yang lebih menekankan pelimpahan kekuasaan kepada keluarga terdekat berdasarkan wasiat khalifah sebelumnya masih terus saja berlangsung. Hal ini terlihat dari ketigapuluh tujuh khalifah yang muncul semasa pemerintahan Abbasiyah keseluruhannya adalah berasal dari garis keturunan Abbas ibn Abdul Muthalib, sementara proses suksesinya adalah berdasarkan wasiat sebelumnya.
Dengan demikian, pengangkayan khalifah berdasarkan criteria orang yang terbaik dari orang-orang yang baik (primus inter pares) seperti yang diterapkan pada masa khufa’al-rasyidin tidak berlaku lagi. Seseorang yang dianggap layak (capable) untuk diangkat menjadi pemimpin berdasarkan kewarakannya atau penguasaan ilmunya yang luas belum tentu memperoleh kesempatan untuk diangkat menjadi khalifah selama ia tidak memiliki garis keturunan Bani Abbas. Untuk itu tidak mengherankan bila para sejarawan berpendapat bahwa sistem pemerintahan yang berlaku pada masa Abbasiyah sangat jauh dari nilai-nilai demokrasi.
Namun demikian, sistem monarckhi yang dikembangkan Abbasiyah memiliki perbedaan yang cukup signifikan dari sistem monarchi yang muncul sebelumnya dimasa pemerintahan dinasti Muawiyah. Perbedaan ini sangat kontras kelihatan terutama dari segi pola yang diterapkan. Para khalifah mulai bertindak absolute sebab mereka merasa dirinya sebagai pemimpin yang memiliki otoritas mutlak, jantungnya pemerintahan, rujukan dalam segala hal, dan sumber dari segala kemuliaan. Hal ini terlihat pula dari penampilan sehari-hari khalifah yang hidup layaknya seorang kaisar yang selalu memakai pakaian kebesaran, dan bila berjalan selalu diiringi para pengawal dan algojo yang berwajah seram, sehingga rakyat sangat susah bertemu khalifah sebab harus berhadapan terlebih dahulu dengan para pengawal istana.
Di samping itu, jabatan kekhalifahan dipandang sebagai sesuatu yang suci karena merupakan mandate dari Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang tertentu sebagai manusia pilihan-Nya. Merekalah yang diberi wewenang mengurus kepentingan umat baik urusan dunia maupun akhirat. Untuk itu konsep sakralisasi khalifah (the divine right) sangat melekat pada masa pemerintahan Abbasiyyah.
Pola seperti ini sebenarnya sudah kelihatan pada masa pemerintahan Abbasiyah awal. Abu Ja’far Mansur (754-775M) selaku khalifah kedua dan disebut sebagai Pembina Daulat Abbasiyah, dalam salah satu pidatonya do Makkah, beliau menyatakan dirinya sebagai kekuasaan (sulthan) Allah di muka bumi yang memperoleh restu, mandate dan bertugas untuk menjaga harta Allah.
Pada masa al-Mu’tasshim (khalifah VII) hingga berakhirnya kekhilafahan Abbasiyah, sakralisasi makin lebih dipertegas melalui gelar-gelar tahta yang mereka miliki. Gelar ini bukan hanya berkonotasi makna ketuhanan akan tetapi langsung diiringi penyebutan lafz al-jalalah (Allah) seperti al-Mu’tashim bi Allah, al-Hakim bi Amr Allah, al-Mutawakkil’ala Allah.
Melalui sakralisasi khilafah ini kekuasaan raja semakin absolute, sebab segala titah yang dikeluarkan raja dipandang merupakan titah Allah, sehingga barang siapa yang menentang titah tersebut berarti menentang Allah, dan ancamannya adalah dimasukkan ke dalam neraka. Ketaatan kepada khalifah berarti bukti ketaatan kepada Allah. Munculnya ide sakralisasi khilafah ini pada dasarnya lebih banyak dipengaruhi oleh corak kepemimpinan bangsa Persia yang menganggap bahwa sosok raja merupakan perwakilan Tuhan di muka bumi, sehingga raja dipandang sebagai sosok yang suci dan titahnya merupakan lambang dari kehendak Tuhan.
Dalam rentang tahun pemerintahan Bani Abbasiyah tercatat 37 orang khalifah yang pernah memimpin Daulat Bani Abbasiyah,
1. Abu al-Abbas al-Saffah, 132 H
2. abu Ja’far al-Mansur, 136 H
3. Abu Abdullah Muhammad al-Mahdi bin al-Mansur, 158 H
4. Abu Musa al-Hadi, 169 H
5. Abu JA’far Harun al-Rasyid, 170 H
6. Abu Musa Muhammad al-Amin, 193 H
7. Abu Ja’far Abdullah al-Ma’mun, 198 H
8. Abu Ishak Muhammad al-Mu’tashim, 218 H
9. Abu Ja’far Harun al-Watsiq, 227 H
10. Abu al-Fadhl Ja’far al-Mutawakkil, 232 H
11. Abu Ja’far Muhammad al-Muntashir, 247 H
12. Abu al-Abbas Ahmad al-Musta’in, 248 H
13. Abu Abdullah Muhammad al-Mu’taz, 252 H
14. Abu Ishak Muhammad al-Muhtadi, 255 H
15. Abu al-Abbas Ahmad al-Mu’tamid, 256 H
16. Abu al-Abbas Ahmad al-Mu’tadhid, 279 H
17. Abu Muhammad Ali al-Muktafi, 289 H
18. Abu al-Fadhl Ja’far al-Muqtadir, 295 H
19. Abu Mansur Muhammad al-Qahir, 320 H
20. Abu al-Abbas Ahamad al-Radhi 322 H
21. Abu Ishak Ibrahim al-Muttaqi, 329 H
22. Abu al-Qasim Abdullah al-Mustakfi, 333H
23. Abu al-Qasim al-Mufaddal al-Muti’, 334 H
24. Abu al-Fadhl abdul Karim al Ta’I, 362 H
25. Abu al-abbas Ahmad al-Qadir, 381 H
26. Abu Ja’far Abdullah al-Qa’im, 422 H
27. Abu al-Qasim Abdullah al-Muqtadi, 467 H.
28. Abu al-Abbas Ahmad al-Mustazhir, 487 H
29. Abu Mansur al-Fadhl al-Mustarsid, 512 H
30. Abu Ja’far al-Mansur al-Rasyid,529 H
31. Abu Abdullah Muhammad al-Munqtafi, 530 H
32. Abu al-Muzaffar al-Mustanjid, 555 H
33. Abu Muhammad al-Hasan al-Mustadi, 566 H
34. Abu al-Abbas Ahmad al-Nasir, 575 H
35. Abu Nasr Muhammad al-Zahir, 622 H
36. Abu Ja’far al-Mansur al-Mustansir, 623 H
37. Abu Ahmad Abdullah al-Musta’shim, 640 – 656 H.
Sekian panjangnya sejarah yang diukir Bani Abbasiyah, telah mendorong para sejarawan dalam melakukan periodeisasi pemerintahan Abbasiyah. Ada yang membaginya dalam tiga periodeisasi, namun periodeisasi yang dikemukakan Stryzewska dianggap sebagai klasifikasi yang representatif. Beliau membaginya dalam lima Periode, yaitu :
1. Periode pertama (132H / 750M-232H / 847M), disebut masa pengaruh Persia I.
2. Periode kedua (132H/ 847M – 334M), disebut masa pengaruh Turki I
3. Periode Ketiga (334H / 945M-447H/1055M), disebut masa pengaruh Persia II yang dipresentasikan melalui dinasti Buwaihi.
4. Periode Keempat (447H / 1055M-590H / 1194M), disebut masa pengaruh Turki II.
5. Periode Kelima (590H / 1194M-656H / 1258M), masa khalifah bebas dari pengaruh lain tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.
C. Kontribusi Abbasiyah terhadap Peradaban
Sebagaimana disebut, bahwa masa gemilang yang dicapai oleh Daulat Bani Abbasiyah adalah pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun. Tercapainya kemajuan peradaban yang begitu pesat terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan arsitektur bangunan, adalah buah dari kepemimpinan mereka.
1. Prestasi di Bidang Ilmu pengetahuan
Keberhasilan Khilafah Abbasiyah dalam bidang Ilmu Pengetahuan dimulai pada masa pemerintahan khalifah Abu Ja’far al-Mansur yang dikenal sebagai orang yang sangat cinta ilmu pengetahuan sekaligus ilmuan. Pada masanya, karya-karya asing diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Gelombang penerjemahan ini mencapai puncaknya pada masa khalifah al-Ma’mun dengan mendirikan Bait al-Hikmah Sebagai pusat penerjemahan dan penelitian yang pada masa berikutnya berubah fungsi menjadi sebuah pendidikan tinggi. Penerjemahan dari bahasa Sansekerta, Suriani dan Yunani banyak memberikan kontribusi bagi kemajuan yang pesat bagi ilmu pengetahuan dan peradaban bukan saja untuk kalangan Islam tetapi untuk dunia, dan pada masa inilah banyak bermunculan para ahli.
Satu hal yang menarik dari gerakan penerjemahan ini adalah bahwa al-Ma’mun lebih mencurahkan perhatiannya pada penerjemahan sistematis dari karya-karya sains dan filsafat yang umumnya berasal dari Yunani. Bidang-bidang yang diterjemahkan lebih difokuskan pada buku-buku yang mengundang minat praktis orang-orang Arab seperti bidang kedokteran, astronomi, arsitektur, farmasi, fisika, dan geografi dan filsafat.
Disamping melakukan penerjemahan, juga dilakukan beberapa penelitian sehingga berhasil diketemukan beberapa temuan-temuan baru yang cukup spektakuler. Di bidang kedokteran tercatat nama-nama seperti Yuhanna ibn Maskawaih (w.857 M), Hunain ibn Ishak (w.873 M), Tsabit ibn Qurrah al-Hurrani (w.910 M), Qustha ibn Luqa’al-Ba’labakki (w.914 M), Muhammad ibn Zakaria al-Razi (863-932M), yang dikenal sebagai dokter pertama yang menggunakan air dingin untuk mengobatai demam, meneliti tentang penyakit campak dan cacar, serta adanya batu-batu kecil pada ginjal sehingga ia disebut sebagai ahli pengobatan klinis pada masa abad pertengahan.
Bidang astronomi diminati masyarakat saat itu dikarenakan fungsinya yang begitu besar untuk mengetahui arah kiblat. Dalam bidang ini dikenal nama-nama seperti Muhammad ibn Ibrahim, Muslim pertama yang menggunakan astrolabe, Muhamah ibn Musa al-Khawarizmi yang dikalangan para sarjana latin dikenal dengan sebutan Algorismus. Dari namanyalah diambil istilah algorisme. Beliau berhasil menemukan metode-metode operasional matematika yang sangat rumit seperti mendalam akar kuadrat dari angka satu. .
Sebagaimana halnya ilmu pengetahuan umum, pengetahuan agama seperti AlQuran (tafsir), qiraat, hadis, fikih, ilmu kalam, ilmu bahasa dan sastra juga berkembang pesat. Bahkan empat mazhab fikih tumbuh dan berkembang pada masa itu. Dalam bidang ilmu Alquran (tafsir) muncul karya-karya seperti : Jami’al Bayan Fi Tafsir Alquran karangan al-thabrani (w.923M), Ma’alim al-Tanzil karangan al-Bagawi (w.1122M).
Sementara d bidang hadis, hadis-hadis yang selama ini berserakan mulai dihimpun dalam sebuah kitab yang disebut dengan al-Kutub al-Sittah. Tokoh yang terkenal dalam bidang ini adalah al-Bukhari (w.870M), yang juga disebut imam ahli hadis, Muslim (w.875M), Ibn Majah (886M), Abu Daud (w.888M),al-Turmudzi (w.893M), dan an-Nasa’I (w.915M).
Pada masa itu, juga berkembang ilmu Tasawuf yang selanjutnya mengambil bentuk dalam tarekat-tarekat sufi seperti Qadiriyah, Kizaniah, Rifa’iyah dan Syaliziyah.Tokoh sufi yang terkenal pada masa ini adalah Hasan-al-Basri (w.727M), Rabiah al-adawiyah (w.801M), Abu Yazid al-Bustamidan al-hallaj (w.922M). Dalam bidang fikih, pada masa Abbasiyahlah munculnya para pakar, yaitu : Imam abu Hanifah, imam Malik, ImamSyafi’I dan Ima ahmad bin Hambal. Mreka adalah ulama-ulama fiqh yang agung dan masyhur serta memberi pengaruh yang luas di kalangan umat Islam, hingga sekarang.
Dala bidang filsafat dikenal beberapa tokoh di antaranya al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga banyak mengarang buku-buku tentang filsafat di antaranya Al-Syifa”,Sedangkan Ibn Rusyd (di Barat dikenal dengan Averros), banyak memberikan pengaruh dalam bidang filsafat, sehingga kemudian di Barat muncul aliran filsafat yang disebut dengan Averroisme.
2. Perkembangan Ekonomi
Ekonomi imperim Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan. Barang-barang kebutuhan pokok dan mewah dari wilayah timur imperium diperdagangkan dengan barang-barang hasil dari wilayah bagian barat. Di kerajaan ini, sudah terdapat berbagai macam industri seperti kain linen di Mesir, Sutra bdari Syiria dan Irak, kertas dari Samarkhan, serta berbagai produk pertanian seperti gandum dari Mesir dan Kurma dari Iraq. Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan Negara lain. Di bendung lagi. Selain itu, perdagangan barang tambang juga semarak. Emas yang ditambang dari Nubia dan Sudan barat (termasuk wilayah yang kini bernama Mali dan Niger) melambungkan perekonomian Abbasiyah.
Perdagangan dengan wilayah-wilayah lain merupakan hal yang sangat penting. Secara bersamaan dengan kemajuan Daulah Abbasiyah, dinasti Tang di china juga mengalami masa puncak kejayaan sehingga hubungan perdagangan antar kedua Negara menambah semaraknya kegiatanperdagangan tingkat dunia. Kapal-kapal laut cina berlayar ke Baghdad. Sebeliknya banyak perkampungan juga dilakukan melalui jalan darat melalui melalui jalan sutra yang sudah digunakan sejak masa kuno. Barang-barang perdagangan dari wilayah kekuasaan Abbasiyah dibawa ke wilayah Cina dan India dan begitu juga sebaliknya. Barang-barang dari eropa dan afrika yang dikirim ke wilayah Cina dan India pasti melalui Bandar-bandar dagang di wilayah Abbasiyah. Meski terjadi peperangan yang spradis, perdagangan dengan Byzantium di Eropa Timur juga berlangsung, Sedangkan Eropa Barat masih dalam kegelapan. Perdagangan dengan kerajaan-kerajaan di wilayah Nusantara juga berlangsung sangat insentif.
3. Bagdad yang Metropolitan
Sebelum Bagdad jadi pusat pemerintahan, di Kufahlah awal dari pemerintahan Bani Abbasiyah. Keadaan yang tidak kondusif mengharuskan al-Saffah memindahkan pusat pemerintahan sementara ke Hirah. Selanjutnya, kota Anbar ditetapkan sebagai ibu kota pemerintahan. Ketika kemudian khalifah al-Mansur merasa kurang terjaminnya keamanan di kota ini, melalui pertimbangan yang matang dipilihlah Bagdad sebagai pusat pemerintahan yang baru.
Kota Bagdad sebagai pusat militer dan administratif menjadi sebuah pusat kota metropolitan yang merupakan percampuran berbagai unsur kedaerahan dari segala lapisan dan penjuru. Bagdad tumbuh sebagai lokasi pedagangan internasional dan sangat produktif dengan sejumlah industri yang menghasilkan tekstil, sutra dan kertas.
Kemegahan dan kemakmuran kota Bagdad tercermin dalam istana khalifah yang luasnya hampir sepertiga kota Bagdad, dengan dilengkapi bangunan-bangunan sayap dan ruang audiensi yang dipenuhi dengan berbagai ornamen yang indah. Disebutkan bahwa beribu orang terlibat sebagai tenaga ahli yang datang dari berbagai penjuru, turut andil dalam membangun kota Bagdad dengan biaya yang sangat besar.
Bagdad dibangun dengan tatakota yang sangat rapid an indah. Bangunan lama yang kurang indah akan diperbaiki. Jalan rayanya yang luas membelah kota, dank e setiap penjuru kota dibuatkan jalan-jalan sehingga transportasi berjalan teratur dan lancar. Kemudian untuk menghubungkan Bagdad dengan daerah lain, digali terusan untuk dapat dilalui melalui transportasi perairan.
Dalam waktu yang relatif singkat, Bagdad menjadi sebuah kota metropolitan yang makmur, maju dengan peradaban yang dipenuhi cahaya ilmu pengetahuan dan kebaikan sehingga menjadi perhatian orang dari segala penjuru, tidak saja umat Islam tapi seluruh dunia. Karena ramainya penduduk dan mobilitasnya maka kemudian dibangunlah kota Karkh dekat Bagdad untuk menampungnya.
4. Munculnya Dinasti-Dinasti Kecil
Mencermati kemunduran kekuatan kekhalifahan Dinasti Abbasiyah yang pada gilirannya menyebabkan lahirnya dinasti-dinasti kecil, hal ini menurut para sejarawan disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya;
Pertama, perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang telah dicapai menyebabkan dan mendorong para penguasa untuk hidup mewah dan berlebih-lebihan. Setiap khalifah cenderung ingin lebih mewah dari para pendahulunya.
Kedua, Terjadinya perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Hal ini juga sebenarnya terjadi pada pemerintahan Islam sebelumnya. Akan tetapi apa yang terjadi pada pemerintahan Abbasiyah berbeda dengan apa yang terjadi pada pemerintahan Islam sebelumnya. Perebutan kekuasaan (pemberontakan) yang terjadi pada masa pemerintahan sebelumnya bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan pemerintahan khalifah dan digantikan oleh pemimpin pemberontak itu.
Sedangkan pada masa pemerintahan Abbasiyah perebutan kekuasaan bukan untuk menggantikan jabatan kekhalifahan tetapi menjadikan khalifah hanya sebagai symbol kekuasaan. Hal ini terjadi karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sacral dan tidak bisa diganggu gugat. Sedangkan kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Tentera Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. Ditangan mereka khalifah bagaikan boneka yang tidak berbuat apa-apa. Bahkan merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah sesuai dengan keinginan politik mereka.
Ketiga, luasnya wilayah kekuasaan daulat Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dan daerah sulit dilakukan bersamaan dengan itu tingkat saling percaya dikalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. Hal inilah yang pada gilirannya di tubuh bani Abbasiyah muncul dinasti-dinasti kecil.
Adapun dinasti-dinasti kecil yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Bagdad pada masa khalifah Abbasiyah yaitu;
Pertama, yang berbangsa Persia diantaranya; dinasti Thahiriyah di Khurasan, Safariyah di Pars, Samaniyah di Transoxania, Sajiyyah di Azerbaizan dan Buwaihiyyah bahkan menguasai Bagdad.
Kedua, berbangsa Turki diantaranya; dinasti Thuluniyah di Mesir, Ikhsyidiyah di Turkistan, Ghaznawiyah di Afghanistan dan dinasti Saljuk yang menyebar di beberapa tempat.
Ketiga, yang berbangsa Kurdi di antaranya; dinasti al-Barquni, Abu Ali dan Ayubiyah.
Keempat, yang berbangsa Arab diantaranya, Idrisiyah di Maroko Aghlabiyah di Tunisia, Dulafiyah di Kurdistan, Alawiyah di Tabaristan, Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil, Mazyadiyyah di Hillah, Ukailiyyah di Maushil, dan Mirdasiyyah di Aleppo.
Kelima, yang mengaku dirinya sebagai Khaifah diantaranya; Umayyah di Spanyol dan Fathimiyah di Mesir.
5. Akhir Kekuasaan Abbasiyah
Ketika al-Mutawakkil memegang tampuk kekuasaan Bani Abbasiyah, tanda-tanda kemunduran mulai terasa. Hal ini ditandai oleh dominasi pengaruh Turki dalam pemerintahan. Bahkan, setelah al-Mutawakkil wafat, praktis merekalah yang berkuasa meski kekhalifahan tetap dipegang oleh keturunan Bani Abbasiyah. Dua belas orang khalifah setelah al-Mutawakkil selalu saja diwarnai oleh pengaruh Turki sehingga demi menurunkan seorang khalifah mereka tidak segan-segan membunuhnya.
Kekuasaan Daulat Bani Abbasiyah berakhir ketika pasukan bangsa Mongol dan Tartar meluluhlantakkannya. Khalifah al-Musta’sim sebagai khalifah terakhir tidak dapat membendung serangan mereka. Ketika pasukan Mongol dan Tartar sudah menguasai Kota Bagdad, khalifah tertipu oleh muslihat perdamaian yang dijanjikan kepadanya. Khalifah yang datang dengan damai bahkan membawa hadiah, harus mengakhiri hidup dengan pancungan pasukan Khulagu Khan. Tidak hanya itu, pengawal khalifah juga mengalami hal yang sama, menghadap Khaliq dengan leher dipancung, secara bergiliran. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Daulat Bani Abbasiyah yang telah memerintah dalam kurun waktu yang cukup lama. Bahkan, kota Bagdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah, termasuk pustaka dan isinya yang tidak ternilai harganya itu.
D. Penutup
Meski pustaka yang terkenal Bait al-Hikmah dan lembaga-lembaga pendidikan lain telah dihancurkan, tapi ilmu dan pengetahuannya tetap abadi. Daulat Bani Abbasiyah telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Kaum muslimin pecinta ilmu pada masa itu bukan saja sebagai penerjemah, tapi telah memberikan warna bahkan sebagai pembaharu dan pelopor bagi penemuan-penemuan mutakhir. Mereka telah menyelamatkan ilmu dan peradaban, tidak saja bagi dunia Islam tapi peradaban dunia.






Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, alih bahasa oleh Muhammad Labib Ahmad, (Jakarta : Pustaka al-Husna, 1993), Jilid Ketiga, h. 1.
Nourouzzaman Shiddiqie, Pengantar Sejarah Muslim, (ttp : Nur Cahaya, 1983), h. 94 – 99.
Ali Muhammad Radhi, ‘Asr al-Islam al-Zahabi al-Ma’mun al-Abbasi, (ttp : al-Dar al-Qaumiyyat, tt), h. 104.
Ali Mufradi, Islam di Kawasan Arab, ( Jakarta : Logos, 1997), h 100.
Jurji Zaidan, History of Islamic Civitilization, (New Delhi : Kitab Bhavan, 1981), h. 146 – 147.
Hasan Ibrahim Hasan , Tarikh al-Islam al-Siyasi, al-dini, al-Saqafi, wa al-Ijtima;I, Jilid II, (Kairo : Maktabat al-Nahdat al-Missiyat, 1976), h. 13.
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta : PT.RajaGrafindo Persada, 1996), h.49.
Muhammad Aziz Nazmi Salim, al-Fikr al-Siyasi wa al-Hukm fi al-Islam, ( Iskandariyat : Muassasat al-Sabab al-Jami’at, tt), h. 83.
Ahmad Syalabi, op-cit., h. 4-5.
Bajena Gajena Stryzewska, Tarikh al-Daulat al-Islamiyat, (Beirut : al-Maktab al-Tijari, tt) h.360.
Lihat Ahmad Syalabi, op-cit.,h.185 - 206
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta : PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), h. 7.
Edwar Mc.Nall Burn & Philip Lee Ralph, World Civilizations From Ancient to Contempporery, (New York :W.W.Norton & Company, 1964), h.339
W.Montgomery Watt. The influence of Islam on Medikal Europe (Jakarta : Pustaka Gramedia Utama, 1995), h.49.
Badri Yatim, op-cit, h.58-59.
Glenn E.Perry, Th Middle East Fourteen Islamic Centuries, (Englewood, New Jersey : Prentie – Hall, 1983), h.62-63.
Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, terjemahan Gufron A. Mas’adi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999), hlm. 102.
Ali Mufradi, Islam…, hlm. 104.
W. Montgomery Watt, Politik Islam dalam Lintasan Sejarah (Jakarta: P3M, 1988), hlm. 152.
Jurji Zaidan, History of Islamic Civilization (New Delhi: Kitab Bhawan, 1978), hlm. 240.
Atho Mudzhar, Pendekatan Studi, Teori dan Praktek (Yogyakarta: Pustaka Pelaja, 1998), hlm. 124.



















PEMBAGIAN NILAI HADIS MENURUT KEHUJAHANNYA

Makalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
HADIS


Oleh
SAHARANI
06 KOMI 1046

Dosen Pembimbing
DR. H. RAMLI ABDUL WAHID, M.A.








PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
2007

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>