Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 29 April 2011

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan metode survey eksplanatif. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik populasi atau menarik generalisasi kesimpulan yang berlaku bagi suatu populasi. Kuantitatif dalam penelitian ini bersifat korelasional sederhana (simple correlation) karena yang dikembangkan adalah untuk mengukur hubungan di antara dua variabel atau lebih. Kekuatan hubungan yang menunjukkan derajat hubungan ini disebut koefisien asosiasi (korelasi). Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian survey. Objek yang diteliti adalah masyarakat kecamatan Medan Amplas Kota Medan. B. Populasi dan Sampel Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sampel adalah bahagian dari populasi yang dijadikan sebagai objek penelitian. Dengan demikian, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berdomisili di Kecamatan Medan Amplas. Dalam hal ini dibedakan kepada tiga kelompok, yaitu anak-anak, remaja dan orang tua. Dari populasi diambil sampel dengan teknik stratified random sampling atau sampel bertingkat karena populasi yang akan diteliti sangat heterogen. Strata sampel dalam penelitian ini dibagi berdasarkan usia, yaitu: orang tua, remaja dan anak-anak dan jumlahnya diambil secara berimbang. Sampel untuk mewakili anak-anak diambil sebanyak 50 orang, kemudian mewakili remaja sebanyak 50 orang dan orang tua sebanyak 50 orang. Dengan demikian, jumlah sampel seluruhnya dalam penelitian ini adalah sebanyak 150 orang. Distribusi sampel dalam penelitian ini dapat di lihat pada tabel di bawah ini. Tabel 1. Distribusi sampel penelitian Sumber Sampel Jenis kelamin Jumlah Anak-anak Remaja Orang Tua 1. Laki-laki 2. Perempuan 1. Laki-laki 2. Perempuan 1. Laki-laki 2. Perempuan 26 24 27 23 44 6 Jumlah 150 C. Definisi Operasional Konsep Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang terlebih dahulu harus didefinisikan untuk kemudian dioperasionalisasikan. Operasional konsep yang dimaksud terdiri dari dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yaitu “Menonton siaran rekonstruksi kriminal” dan variabel terikat yaitu “Kondisi psikologis masyarakat.” Rekonstruksi kriminal yaitu segala siaran yang ditayangkan di televisi terkait dengan penayangan ulang kejadian-kejadian tindak kriminal yang dilakukan seseorang. Tayangan tersebut berupa reka ulang kasus perampokan, pembunuhan, pemerkosaan dan pencurian yang diperagakan oleh seorang model. Acara tersebut terdapat di SCTV dengan nama Derap Hukum, di Lativi diberi nama Eksekusi, di TPI Sidik Kasus, di Anteve Fakta dan di Tranz TV Jelang Siang. Kondisi psikologis masyarakat, yaitu timbulnya perasaan waswas, khawatir, cemas dan takut dalam diri masyarakat jika sewaktu-waktu tindakan kriminal yang ditayangkan akan dicontoh orang lain dan terjadi pada diri mereka sendiri. D. Instrumen Pengumpulan Data Sehubungan jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, maka untuk mengumpulkan data digunakan Instrumen Pengumpul Data (IPD). Instrumen pengumpul data yang digunakan adalah angket atau kuesioner yang memuat 30 item pertanyaan yang telah diuji kevalidannya. Angket disusun berdasarkan skala Likert yang telah dimodifikasi, dimana setiap item pertanyaan akan diberikan 3 alternatif jawaban. Misalnya, Siaran ilustrasi kriminal dapat mempengaruhi mental orang yang menontonnya. a. Setuju (3) b. Ragu-ragu (2) e. Tidak setuju (1) Kisi-kisi angket sebagai instrumen pengumpul data dapat dirinci, sebagaimana berikut: Menonton siaran rekonstruksi kriminal Indikator Nomor butir item Jumlah 1. Pemahaman responden tentang siaran rekontruksi kriminal. 2. Frekwensi menonton. 3. Waktu dan tempat menonton. 4. Pandangan tentang frekwensi siaran rekonstruksi kriminal. 5. Rekonstruksi kriminal yang disukai. 6. Motivasi menonton. 1, 2, 3, 4, 5 6-7 8-9 10, 11, 12 13, 14,15 2 3 2 2 3 3 Kondisi psikologis masyarakat Indikator Nomor butir item Jumlah 1. Ada tidaknya keinginan untuk melakukan hal yang sama dengan yang ditonton. 2. Perasaan cemas. 3. Perasaan khawatir. 4. Perasaan waswas. 5. Perasaan takut. 6. Harapan kepada pihak televisi dan masyarakat terkait dengan siaran rekonstruksi kriminal. 16, 17 18, 19, 20, 21 22, 23 24, 25 26, 27 28, 29, 30 2 4 2 2 2 3 F. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis bivariat untuk melihat hubungan antara dua variabel yaitu korelasi antara menonton siaran rekonstruksi kriminal dengan kondisi psikologis masyarakat Kecamatan Medan Amplas. Data juga akan dianalisis dengan teknik tabulasi silang (cross tabulation) untuk mengetahui motivasi menonton siaran rekonstruksi kriminal berdasarkan usia, jenis kelamin, dan pekerjaan. Mengetahui keinginan untuk melakukan perbuatan yang sama dengan apa yang ditonton berdasarkan usia, jenis kelamin, dan lain-lain. Untuk menguji hipotesis korelasi antara menonton siaran rekonstruksi kriminal dengan kondisi psikologis masyarakat, digunakan fungsi korelasi tata jenjang yang dikemukakan oleh Spearman dengan rumus korelasi rank order (spearmen’s rho rank order correlations) sebagai berikut: Keterangan: ρ (rho) : Koefisien korelasi rank order. Angka 1 : Angka 1, yaitu bilangan konstan. 6 : Angka 6, yaitu bilangan konstan. d : Beda antara 2 pengamatan berpasangan, yaitu selisih nilai variabel menonton siaran ilustrasi kriminal dengan kondisi psikologis. : Sigma atau jumlah. N : Jumlah individu dalam sampel. Untuk mempermudah penghitungan ρ digunakan program SPSS (statistical Package for social studies) versi 12.0. Selanjutnya untuk mengetahui tingkat kesignifikanannya, maka dikonsultasikan dengan tabel harga kritik rho Spearman. Tinggi rendahnya korelasi diukur dengan menggunakan koefisien korelasi dari Guilford sebagai berikut: Kurang dari 0,220 = rendah sekali, lemah sekali. 0,20 – 0,40 = rendah tetapi pasti. 0,40 – 0,70 = cukup berarti. 0,70 – 0,90 = tinggi, kuat Lebih dari 0,90 = sangat tinggi, kuat sekali, dapat diandalkan.

/ On : 13.37/ Thank you for visiting my small blog here.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan metode survey eksplanatif. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik populasi atau menarik generalisasi kesimpulan yang berlaku bagi suatu populasi. Kuantitatif dalam penelitian ini bersifat korelasional sederhana (simple correlation) karena yang dikembangkan adalah untuk mengukur hubungan di antara dua variabel atau lebih. Kekuatan hubungan yang menunjukkan derajat hubungan ini disebut koefisien asosiasi (korelasi). Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian survey. Objek yang diteliti adalah masyarakat kecamatan Medan Amplas Kota Medan.

B. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sampel adalah bahagian dari populasi yang dijadikan sebagai objek penelitian. Dengan demikian, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berdomisili di Kecamatan Medan Amplas. Dalam hal ini dibedakan kepada tiga kelompok, yaitu anak-anak, remaja dan orang tua.
Dari populasi diambil sampel dengan teknik stratified random sampling atau sampel bertingkat karena populasi yang akan diteliti sangat heterogen. Strata sampel dalam penelitian ini dibagi berdasarkan usia, yaitu: orang tua, remaja dan anak-anak dan jumlahnya diambil secara berimbang. Sampel untuk mewakili anak-anak diambil sebanyak 50 orang, kemudian mewakili remaja sebanyak 50 orang dan orang tua sebanyak 50 orang. Dengan demikian, jumlah sampel seluruhnya dalam penelitian ini adalah sebanyak 150 orang.
Distribusi sampel dalam penelitian ini dapat di lihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Distribusi sampel penelitian
Sumber Sampel Jenis kelamin Jumlah
Anak-anak

Remaja

Orang Tua 1. Laki-laki
2. Perempuan
1. Laki-laki
2. Perempuan
1. Laki-laki
2. Perempuan 26
24
27
23
44
6
Jumlah 150
C. Definisi Operasional Konsep
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang terlebih dahulu harus didefinisikan untuk kemudian dioperasionalisasikan. Operasional konsep yang dimaksud terdiri dari dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yaitu “Menonton siaran rekonstruksi kriminal” dan variabel terikat yaitu “Kondisi psikologis masyarakat.”
Rekonstruksi kriminal yaitu segala siaran yang ditayangkan di televisi terkait dengan penayangan ulang kejadian-kejadian tindak kriminal yang dilakukan seseorang. Tayangan tersebut berupa reka ulang kasus perampokan, pembunuhan, pemerkosaan dan pencurian yang diperagakan oleh seorang model. Acara tersebut terdapat di SCTV dengan nama Derap Hukum, di Lativi diberi nama Eksekusi, di TPI Sidik Kasus, di Anteve Fakta dan di Tranz TV Jelang Siang. Kondisi psikologis masyarakat, yaitu timbulnya perasaan waswas, khawatir, cemas dan takut dalam diri masyarakat jika sewaktu-waktu tindakan kriminal yang ditayangkan akan dicontoh orang lain dan terjadi pada diri mereka sendiri.

D. Instrumen Pengumpulan Data
Sehubungan jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, maka untuk mengumpulkan data digunakan Instrumen Pengumpul Data (IPD). Instrumen pengumpul data yang digunakan adalah angket atau kuesioner yang memuat 30 item pertanyaan yang telah diuji kevalidannya. Angket disusun berdasarkan skala Likert yang telah dimodifikasi, dimana setiap item pertanyaan akan diberikan 3 alternatif jawaban. Misalnya, Siaran ilustrasi kriminal dapat mempengaruhi mental orang yang menontonnya.
a. Setuju (3) b. Ragu-ragu (2) e. Tidak setuju (1)
Kisi-kisi angket sebagai instrumen pengumpul data dapat dirinci, sebagaimana berikut:
Menonton siaran rekonstruksi kriminal
Indikator Nomor butir item Jumlah
1. Pemahaman responden tentang siaran rekontruksi kriminal.
2. Frekwensi menonton.
3. Waktu dan tempat menonton.
4. Pandangan tentang frekwensi siaran rekonstruksi kriminal.
5. Rekonstruksi kriminal yang disukai.
6. Motivasi menonton. 1, 2,

3, 4, 5
6-7
8-9

10, 11, 12
13, 14,15 2

3
2
2

3
3

Kondisi psikologis masyarakat
Indikator Nomor butir item Jumlah
1. Ada tidaknya keinginan untuk melakukan hal yang sama dengan yang ditonton.
2. Perasaan cemas.
3. Perasaan khawatir.
4. Perasaan waswas.
5. Perasaan takut.
6. Harapan kepada pihak televisi dan masyarakat terkait dengan siaran rekonstruksi kriminal. 16, 17


18, 19, 20, 21
22, 23
24, 25
26, 27
28, 29, 30

2


4
2
2
2
3

F. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis bivariat untuk melihat hubungan antara dua variabel yaitu korelasi antara menonton siaran rekonstruksi kriminal dengan kondisi psikologis masyarakat Kecamatan Medan Amplas. Data juga akan dianalisis dengan teknik tabulasi silang (cross tabulation) untuk mengetahui motivasi menonton siaran rekonstruksi kriminal berdasarkan usia, jenis kelamin, dan pekerjaan. Mengetahui keinginan untuk melakukan perbuatan yang sama dengan apa yang ditonton berdasarkan usia, jenis kelamin, dan lain-lain.
Untuk menguji hipotesis korelasi antara menonton siaran rekonstruksi kriminal dengan kondisi psikologis masyarakat, digunakan fungsi korelasi tata jenjang yang dikemukakan oleh Spearman dengan rumus korelasi rank order (spearmen’s rho rank order correlations) sebagai berikut:

Keterangan:
ρ (rho) : Koefisien korelasi rank order.
Angka 1 : Angka 1, yaitu bilangan konstan.
6 : Angka 6, yaitu bilangan konstan.
d : Beda antara 2 pengamatan berpasangan, yaitu selisih nilai
variabel menonton siaran ilustrasi kriminal dengan kondisi psikologis.
: Sigma atau jumlah.
N : Jumlah individu dalam sampel.
Untuk mempermudah penghitungan ρ digunakan program SPSS (statistical Package for social studies) versi 12.0. Selanjutnya untuk mengetahui tingkat kesignifikanannya, maka dikonsultasikan dengan tabel harga kritik rho Spearman. Tinggi rendahnya korelasi diukur dengan menggunakan koefisien korelasi dari Guilford sebagai berikut:
Kurang dari 0,220 = rendah sekali, lemah sekali.
0,20 – 0,40 = rendah tetapi pasti.
0,40 – 0,70 = cukup berarti.
0,70 – 0,90 = tinggi, kuat
Lebih dari 0,90 = sangat tinggi, kuat sekali, dapat diandalkan.

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>