Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 29 April 2011

=BAB II LANDASAN TEORETIS A. Teknologi Elektronik Media Televisi Pada hakikatnya media televisi lahir karena kemajuan teknologi yang telah mengilhami seorang mahasiswa Jerman bernama Paul Nipkov untuk mengirim gambar melalui udara ke tempat lain. Hal tersebut terjadi pada tahun 1883-1884 setelah electrische teleskop ditemukan. Dengan penemuan tersebut Nipkov dikenal sebagai bapak televisi. Kemajuan terpenting dari televisi dibanding dengan media lainnya adalah kemampuan televisi menyajikan komentar atau pengamatan langsung pada saat kejadian berlangsung. Media televisi telah berhasil mengatasi kesulitan manusia dalam soal ruang dan waktu yang sangat luas. Sebagaimana yang disampaikan Jhon Naisbitt dan Patricia Aburdene, “Dunia kini telah menjadi desa kecil (global village).” Untuk mendapatkan televisi zaman ini tidak lagi sesusah zaman dahulu, dimana perangkat komunikasi ini adalah barang yang langka dan hanya kalangan tertentu yang sanggup memilikinya. Saat ini televisi telah menjangkau lebih dari 90 persen penduduk di negara berkembang. Siaran-siaran televisi akan memanjakan orang-orang pada saat-saat luang seperti saat liburan, sehabis bekerja bahkan dalam suasana sedang bekerjapun orang-orang masih menyempatkan diri untuk menonton televisi. Suguhan acara yang variatif dan menarik membuat orang tersanjung untuk meluangkan waktunya duduk di depan televisi. Namun dibalik itu semua dengan dan tanpa disadari televisi telah memberikan banyak pengaruh negatif maupun positif bagi kehidupan manusia, baik itu pada anak-anak maupun orang dewasa. 1. Sejarah Perkembangan Dunia Pertelevisian Keampuhan televisi pernah diberitakan surat kabar Amerika ketika televisi berhasil mengatasi kesulitan yang dialami para peserta rapat pertama tahun 1946 di gedung PBB yang membahas tentang masa depan dunia setelah selesai melaksanakan perang dunia II. Teknologi yang dimiliki televisi, telah memberikan kepuasaan kepada para peserta rapat yang tidak memperoleh tempat. Namun sebelumnya, pada tahun 1939 masyarakat Amerika sebenarnya sudah menikmati siaran televisi. Tetapi karena terjadi Perang Dunia II, siaran televisi Amerika terpaksa berhenti. Baru setelah tahun 1946, kegiatan pertelevisian dilanjutkan kembali. Dengan kecanggihan teknologi yang dimiliki Amerika, mereka mampu meningkatkan jumlah pemancar yang berjumlah lebih kurang 750 stasiun siaran TV. Ketika Amerika sibuk meningkatkan teknologi dunia televisi, negara-negara Eropa lainnya juga tidak ketinggalan. Salah satu di antara negara Eropa yang paling lama mengadakan eksperimen dalam bidang TV adalah Inggris. Inggris sudah mulai mendemonstrasikan TV sejak tahun 1929. popularitas Inggris terkalahkan Amerika, karena Amerika pada Perang Dunia II tetap utuh. Namun sekarang BBC TV merupakan organisasi termaju di dunia sebagai keterampilan luar biasa orang-orang Inggris. Kemajuan teknologi pertelevisian di Eropa disusul negara-negara lain dengan badan-badan siaran TV, seperti Prancis, Jerman Barat, Nederland, Belgia, Luxemburg dan Italia. Seiring dengan kemajuan yang diraih Eropa, sejak tahun 1953 Asia mengejar ketertinggalan dalam bidang televisi yang dimulai Jepang dan Philifina, Muangthai tahun 1955, Indonesia dan China tahun 1962. Pertelevisian Indonesia baru dimulai pada tahun 1960-an, di mana terdapat satu stasiun televisi yang terpusat di Jakarta. Seluruh proses informasi yang terjadi dalam televisi Indonesia masih dalam kerangka stasiun televisi publik. TVRI mempunyai kriteria awal yang sehat. Artinya TVRI bisa dijadikan sarana untuk menjalin persatuan dan kesatuan. Teknologi satelit Palapa semakin mengokohkan peran TVRI sebagai stasiun televisi yang bisa mudah dan cepat diakses oleh penduduk Indonesia. Dalam perjalanan dinamisnya, TVRI juga sempat menjadi agak komersial dengan adanya iklan sampai tahun 1982-an ketika tuntutan ekonomi menjadi tuntutan tak terelakkan dari sebuah industri media. Televisi atau si kotak ajaib, saat ini adalah sarana elektronik yang paling digemari dan dicari orang. Televisi adalah paduan radio (broadcast) dan film (moving picture). Para penonton tidak mungkin menangkap siaran televisi kalau tidak ada unsur-unsur radio, dan tidak mungkin dapat melihat gambar jika tidak ada unsur-unsur film. Bila ditinjau dari segi penggunaaan dan kepemilikan masyarakat terhadap pesawat televisi, ternyata perkembangan jumlah penonton televisi terus bertambah. Di Indonesia misalnya, terjadi peningkatan jumlah penonton dari tahun ke tahun. Hal ini diketahui dari hasil penelitian yang dilakukan Ishadi pada tahun 1999. Gambaran persentase penduduk yang menonton televisi berdasarkan pulau dan propinsi dapat di lihat pada tabel di bawah ini. Tabel 1: Persentase penduduk yang menonton acara televisi menurut Provinsi/ Pulau di Indonesia. Provinsi/ Pulau 1976 1978 1982 1984 1987 DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.I. Yogyakarta Jawa Timur Sumatera Kalimantan Sulawesi Kepulauan lainnya 35,5 7,2 4,3 7,0 4,7 2,7 4,2 2,7 0,1 53,8 16,3 16,3 30,9 17,4 21,3 41,9 17,7 16,4 87,5 44,4 44,9 51,6 53,1 53,3 60,5 41,6 33,0 91,7 51,3 52,8 60,8 58,2 61,0 63,2 51,0 43,7 92,7 58,4 68,0 72,3 62,8 67,7 66,1 52,8 43,8 Indonesia 5,5 19,9 50,3 57,3 64,4 Dalam perkembangannya, ternyata satu stasiun televisi bagi masyarakat Indonesia tidak memadai. Arus perkembangan televisi yang menuntut keragaman, desakan kebutuhan informasi dan dinamisasi kehidupan sosial kultural, memaksa pemerintah untuk mulai mengijinkan tumbuhan stasiun-stasiun televisi baru. Kebijakan praktek kebebasan pertelevisian mulai dirasakan oleh masyarakat Indonesia sejak era 90-an. Sampai sekarang beberapa televisi swasta telah muncul seperti RCTI, SCTV, TPI, AnTeve, Indosiar, MetroTV, TV7, LaTivi, Global TV, Trans TV dan menyusul beberapa stasiun TV yang belum mengudara tapi sudah mengantongi perijinan. 2. Media Televisi dan Budaya Massa Inovasi terpenting yang terdapat dalam televisi ialah kemampuan menyajikan komentar atau pengamatan langsung pada saat suatu kejadian berlangsung. Televisi sebagai sebuah media massa berfungsi sebagai informatif, mendidik dan meghibur. Penayangan suara dan gambar di televisi, secara tidak langsung menumbuhkan kepedulian sosial masyarakat internasional untuk ikut merasakan peristiwa yang terjadi di belahan bumi lainnya. Namun sebaliknya tidak dapat disangkal penayangan acara-acara di televisi sering menimbulkan polemik dan konflik di tengah-tengah masyarakat. Media televisi sebagai media massa menjadi penting bagi manusia untuk mengontrol diri dalam kehidupan sosial. Pemantauan bisa dalam bentuk prilaku, mode, bahkan sikap terhadap ideologi tertentu. Sistem komunikasi mampu mengubah kebudayaan, sebab itu di setiap masyarakat, mulai dari yang paling primitif sampai paling modern, sistem komunikasi menjalankan empat fungsi. Tiga di antaranya didefenisikan Harold Lasswell sebagai pengamatan lingkungan, korelasi bagian-bagian dalam masyarakat untuk merespon lingkungan, dan penyampaian warisan masyarakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Schramm menyebutkan fungsi media dengan menggunakan istilah sederhana, yakni sebagai penjaga, forum dan guru. Dalam perkembangan teori komunikasi massa, konsep masyarakat massa mendapat relasi kuat dengan produk budaya massa yang pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana proses komunikasi dalam konteks masyarakat massa membentuk dan dibentuk oleh budaya massa yang ada. Media mampu membentuk selera masyarakat atau membentuk cara pandang tertentu terhadap sebuah realitas. 3. Posisi Media Televisi Munculnya televisi dalam kehidupan manusia memang menghadirkan suatu peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan informasi yang bersifat massa. Televisi sebagai media yang muncul belakangan ternyata memberikan nilai yang sangat spektakuler dalam sisi-sisi pergaulan hidup manusia, karena televisi telah menguasai jarak secara geografis dan sosiologis. Dengan demikian, televisi melahirkan istilah baru dalam peradaban manusia yang dikenal dengan kebudayaan massa (mass culture). Posisi dan peran media televisi dalam operasionalnya di masyarakat sama dengan media lainnya. Namun demikian, televisi mempunyai kelebihan dari media lainnya. Kelebihan televisi adalah dapat menyajikan suara dan gambar sehingga dapat menarik perhatian pemirsa. Dari sisi pengaruh televisi lebih cenderung menyentuh aspek psikologis manusia. Sedangkan di antara kelemahannya adalah, siaran televisi tidak dapat disimpan, terikat dengan waktu tontonan, sedangkan media cetak dapat disimpan dan dapat dibaca kapan saja. 4. Dampak Media Televisi Bagi Pemirsa Banyak sekali teori atau pendekatan yang telah disajikan selama kira-kira setengah abad riset komunikasi massa. Meskipun hasil akhir menunjukkan adanya perberbedaan, namun dapat dinyatakan komunikasi massa memberikan dampak terhadap audiensnya. Sebagaimana halnya riset George Gerbner (1980) yang menghasilkan teori kultivasi. Pada awalnya Gerbner memulai argumentasi bahwa televisi telah menjadi tangan budaya utama masyarakat Amerika. Gerbner juga menyatakan bahwa bagi pemirsa berat televisi, pada hakikatnya memonopoli dan memasukkan sumber-sumber informasi, gagasan dan kesadaran lain. Dampak dari keterbukaan ke pesan-pesan yang sama menghasilkan kultivasi atau pengajaran pandangan bersama tentang dunia sekitar, peran bersama dan nilai-nilai bersama. Berdasarkan teori kultivasi dari Gerbner, televisi mungkin mempunyai dampak yang penting, tetapi tidak kentara pada masyarakat. Teori kultivasi menyatakan bahwa karena terlalu sering menonton, membuat orang merasa dunia ini adalah tempat yang tidak aman. Penelitian lainnya dilakukan oleh McLuhan. McLuhan (1965) mengatakan bahwa televisi berbeda dengan media cetak karena televisi memberikan penekanan indra yang lebih banyak. Televisi lebih membuat orang terlibat dan berperan serta daripada media cetak. Televisi menurut McLuhan akan memulihkan keseimbangan rasio indra yang telah dihancurkan media cetak. Pada skala yang lebih luas katanya, televisi telah mempersatukan manusia dari negara dan bangsa yang terpisah-pisah dalam sebuah “desa dunia”. Selanjutnya McLuhan mengatakan bahwa generasi televisi adalah generasi pascamelek huruf pertama. Menurut dia, orang tua dewasa ini menyaksikan anaknya menjadi dunia ketiga, dan bahwa karena televisi dan media berita lainnya, anak-anak tidak berpikir dengan cara yang sama seperti orang tuanya dulu. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa televisi memberikan dampak bagi pemirsa. Suguhan acara yang variatif dan menarik membuat orang tersanjung untuk meluangkan waktunya duduk di depan televisi. Namun dibalik itu semua, tanpa disadari televisi telah memberikan banyak pengaruh negatif dalam kehidupan manusia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Televisi, selain bisa menjadi teman yang baik bisa juga menjadi musuh yang menghanyutkan. Dalam sebuah survei yang dilakukan lebih dari setengah anak-anak di AS mempunyai televisi di kamar mereka. Usia remaja paling banyak menonton televisi di kamar dan hampir sepertiga anak-anak pra sekolah mempunyai televisi di kamar mereka dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton televisi. Disebutkan juga adanya beberapa orang siswi sebuah sekolah yang bergantian bolos dari sekolah demi menonton sebuah tayangan opera sabun di televisi. Di Indonesia mungkin tidak sampai menjangkau persentase sebesar itu, namun pengaruh televisi juga telah banyak membentuk pola pikir dari anak-anak dan umumnya masyarakat Indonesia. Dalam tayangan televisi saat ini terdapat banyak gaya hidup yang bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat, apalagi dengan agama seperti tindakan kekerasan, vulgaritas, kejahatan, seks bebas, penipuan, tatanan rambut yang radikal dan lain-lain. Orang yang semakin sering menonton tayangan-tayangan seperti itu pada akhirnya akan menerima hal itu sebagai sesuatu perbuatan yang normal. Dalam hal ini televisi telah menjadi propaganda untuk menyesatkan masyarakat. Akibat terlalu sering menyaksikan kekerasan, maka menimbulkan: a. Perilaku agresif. b. Anak menjadi kurang kooperatif, kurang sensitif kepada yang lain. c. Timbul keyakinan pada diri anak-anak bahwa segala persoalan hanya dapat diselesaikan lewat kekerasan. d. Timbul keyakinan bahwa dunia televisi menghadirkan dunia nyata, bukan fantasi. e. Sulit mengekspresikan diri. f. Mereka sering meniru kekerasan pahlawan televisi dan perilakunya. g. Mereka akan sering meminta hal-hal yang diiklankan di televisi. h. Bila bermain, mereka lebih agresif daripada kreatif dan konstruktif. i. Mereka akan menemui kesulitan dalam berbaur dengan anak-anak lainnya. j. Mereka mungkin tidak mengembangkan kebiasaan membaca. k. Anak-anak sulit tidur karena berkaitan dengan ketakutan terhadap kekerasan yang ditampilkan di televisi. Media televisi sebagaimana media massa lainnya berperan sebagai alat informasi, hiburan, kontrol sosial dan penghubung wilayah secara gografis. Sehubungan dengan hal tersebut, pesan yang disampaikan akan dipersefsikan pemirsa dengan berbeda-beda. Dengan demikian dampak yang diakibatkan televisi tentu akan berbeda-beda. Namun demikian harus diakui bahwa kebutuhan untuk mendapatkan hiburan, pengetahuan dan informasi secara mudah melalui televisi juga tidak dapat dihindarkan sehingga walaupun semua orang mungkin sudah tahu akan dampak negatif yang bisa ditimbulkannya, keberadaan televisi tetap saja dipertahankan. Dampak yang ditimbulkan televisi saat ini secara realitas memang sangat banyak. Perubahan yang tidak diduga sebelumnya terjadi di masyarakat dewasa ini karena pengaruh tayangan acara televisi. Model rambut anak-anak muda yang terkenal di Amerika, sekarang di contoh oleh para anak-anak muda di Indonesia. Demikian dengan gaya pergaulan sehari-hari. Sebab itu terjadi pro dan kontra di tengah-tengah berbagai kalangan tentang dampak televisi bagi pemirsa. Ada yang mengatakan siaran televisi dapat mengancam nilai-nilai sosial dan ada yang mengatakan dapat menguatkan nilai-nilai sosial. Terlepas dari pro dan kontra tentang dampak televisi bagi pemirsa, yang jelas di balik keunggulan yang dimiliki televisi, televisi berpotensi besar dalam meninggalkan dampak negatif di tengah berbagai lapisan masyarakat, khususnya anak-anak. Televisi yang hadir dengan program-program pengrusakan moral dan kekerasan, sedang merobohkan nilai-nilai moral dalam masyarakat, terutama nilai-nilai moral dan akhlak remaja dan anak-anak. Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Barat, namun juga di negara-negara lain karena besarnya infiltrasi media terutama media Barat di berbagai penjuru dunia. Kerusakan moral tersebut dapat terjadi karena apa yang seharusnya menjadi tontonan orang dewasa, akhirnya menjadi tontonan anak-anak dan para remaja. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika, banyak sekali anak-anak yang menjadi pemirsa program-program televisi yang dikhususkan untuk orang dewasa. Doktor Tabatabaei seorang pakar komunikasi Iran dalam mengomentari hal tersebut menyatakan: Dewasa ini di Barat, anak-anak dihadapkan dengan pembunuhan, kekerasan, penculikan, penyanderaan, amoral dan asusila, keruntuhan moral, budaya dan sosial. Dampak dari problema ini adalah timbulnya kekacauan dan kerusakan pada kepribadian anak-anak sehingga akhirnya kepribadian kanak-kanak itu menjadi terhapus dan hilang sama sekali. Data statistik di Amerika Serikat menunjukkan bahwa tingkat kekerasan yang dilakukan anak-anak semakin hari semakin meningkat. Antara tahun 1950 hingga 1979 jumlah kejahatan berat yang dilakukan oleh anak-anak muda di bawah 15 tahun di AS adalah sebesar 110 kali lipat. Dewasa ini, banyak sekali anak-anak dan remaja di Amerika yang membawa senjata, baik untuk menyerang orang lain atau untuk melindungi diri sendiri. Televisi dapat menimbulkan kecemasan bagi para pemirsa. Kecemasan tersebut timbul akibat adanya respons terhadap kondisi stres atau konflik, baik yang datang dari luar maupun dalam diri sendiri. Misalnya, cemas kalau pada diri pemirsa terjadi peniruan terhadap adegan-adegan tertentu yang ditontonnya sehingga menjadikan pemirsa lebih agresif. Bila diperhatikan, setiap hari televisi menyajikan berbagai peristiwa kriminalitas dengan materi berupa peristiwa penangkapan pelaku perbuatan kriminal dan kupasan suatu peristiwa kriminal dengan amat dramatis. Hal itu tentu dapat mempengaruhi kondisi psikologis pemirsa. Satu sisi tayangan peristiwa kriminalitas di televisi memiliki sisi positif. Paling tidak publikasi keberhasilan aparat polisi menangkap dan membongkar peristiwa kriminal. Masyarakat mengetahui terjadinya suatu peristiwa kriminal dengan berbagai polanya, sehingga dapat berhati-hati untuk menghindari suatu perbuatan kriminal. Akan tetapi pada sisi lain terdapat nilai negatifnya. Antara lain yaitu, berita kriminal yang dikemas seperti sebuah sinetron atau telenovela dapat tertanam dalam benak anak-anak, wanita, dan masyarakat umum serta pada pelaku kriminal lainnya. Tidak mustahil masyarakat pun akan menjadikan tayangan kriminal sebagai arena “sekolah” kejahatan, karena penyajian peristiwa kriminal begitu gamblang dan jelas. Intensitas dan kualitas pemberitaan kriminalitas yang terus-menerus dengan tingkat kekerasan tinggi akan mendapatkan atmosfer ketakutan pada masyarakat (fear of crime). Jika dibiarkan berlarut-larut, situasi tersebut tidak sehat bagi masyarakat, karena dapat menimbulkan masyarakat yang penuh curiga dan kehilangan kehangatan (sense of friendly). Orang akan merasa berada dalam belantara kejahatan, padahal mereka berada di negara hukum yang memiliki aparat penegak hukum. Rasa kepercayaan kepada penegak hukum akan luntur. Pada gilirannya akan lahir frustrasi massa dalam bentuk maraknya tindakan main hakim sendiri, dengan modus membakar, membunuh atau merajam pelaku kejahatan yang tertangkap tangan. Gambaran yang disampaikan di atas, membuktikan bahwa televisi mempunyai dampak bagi pemirsa. Sebab itu, pemerintah di berbagai negara hendaknya sadar untuk mengatur industri televisi agar dapat memainkan peran positif dan konstruktif bagi pemirsa. B. Efek Kehadiran Media Massa Media komunikasi, dalam hal ini media massa memiliki fungsi-fungsi bagi individu. Denis McQuail mengemukakan bahwa ada empar macam fungsi media massa bagi individu. Keempat macam fungsi tersebut adalah sebagai pemberi informasi, sebagai pemberi identitas pribadi, sebagai sarana integrasi dan interaksi sosial dan sebagai sarana hiburan. Individu menjadikan media massa sebagai sumber berita dan informasi yang dapat memberikan kepuasan bagi diri sendiri dalam memperoleh pengetahuan dan penentuan pilihan. Selain berfungsi sebagai pemberi informasi, media massa berfungsi sebagai pemberi identitas pribadi khalayak yaitu sebagai model perilaku. Dalam hal ini, model perilaku dapat diperoleh dari sajian media. Apakah itu model perilaku yang sama dengan yang dimiliki seseorang atau bahkan yang kontra dengan yang dimiliki orang yang bersangkutan. Selain berfungsi sebagai pemberi identitas dan model perilaku, media massa juga berfungsi sebagai sarana untuk mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain. Manusia memiliki nilai-nilai hidupnya sendiri yang pada gilirannya akan ia gunakan untuk melihat dunia. Namun manusia juga perlu untuk melihat nilai-nilai yang diciptakan oleh media. Seperti dipahami bahwa media membawa nilai-nilai dari seluruh penjuru dunia. Implikasinya adalah konsumen media dapat mengetahui nilai-nilai lain di luar nilainya. Fungsi lain media massa sebagai pemberi identitas, dimana media sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman mengenai diri sendiri. Untuk melihat serta menilai siapa, apa dan bagaimana diri seorang individu, pada umumnya dibutuhkan pihak lain. Seseorang harus meminjam kacamata orang lain. Media dapat digunakan sebagai salah satu kacamata untuk melihat siapa, apa serta bagaimana diri kita sesungguhnya. Media membantu individu dengan memberikan berbagai pilihan topik yang bisa digunakan dalam membangun dialog dengan orang lain. Hal ini pada gilirannya menjadikan media massa sebagai sarana integrasi dan interaksi sosial berfungsi untuk penyedia bahan percakapan dalam interaksi sosial. Fungsi keempat media massa adalah sebagai hiburan. Berkaitan dengan itu media massa menjalankan fungsinya untuk melepaskan khalayak dari masalah yang dihadapinya. Media menjadi alternatif untuk membantu khalayak dalam melepaskan diri dari problem yang sedang dihadapi atau lari dari perasaan jenuh. Khalayak juga memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis dari mengkonsumsi media massa. Manusia tidak saja perlu untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, namun ia juga harus memenuhi kebutuhan rohaninya, jiwanya. Kebutuhan ini dapat terpuaskan dengan adanya media massa. Media massa memenuhi kebutuhan tersebut dengan sajian yang menurut media yang bersangkutan dapat dinikmati dan memiliki nilai estetika. Media massa sebagai tempat penyaluran emosi. Ini merupakan fungsi lain dari media massa sebagai sarana hiburan. Emosi pasti melekat dalam diri setiap manusia. Emosi butuh penyaluran, dan salah satu salurannya adalah dengan mengkonsumsi media massa atau bahkan memproduksi media yang senada dengan emosinya. Efek media massa sebagai akibat dari ledakan teknologi komunikasi, tidak luput dari perhatian berbagai pakar. Berbagai keprihatinan muncul seiring dengan ketakutan sebahagian orang terhadap kekuatan alat-alat elektronik yang dianggap dapat mengendalikan pikiran orang. Namun ketakutan tersebut telah dapat dilunakkan lewat berbagai kajian ilmiah terutama bagi kalangan masyarakat yang dapat menerimanya. Para pakar mempunyai pandangan yang berbeda mengenai efek media terhadap khalayak. Perbedaan pandangan tersebut disebabkan perbedaan latar belakang teoretis atau latar belakang historis dan perbedaan dalam mendefinisikan efek. Scharam mengatakan efek hanyalah perubahan perilaku manusia setelah diterpa pesan media. Menurut Steven M. Chaffe melihat efek pesan yang disampaikan media adalah pendekatan pertama dalam mempelajari pengaruh media massa. Pendekatan kedua menurut Steven M. Chaffe adalah melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak, seperti perubahan perasaan, perubahan sikap dan perubahan perilaku atau dengan istilah lain perubahan kognitif, afektif dan behavioral. Pendekatan ketiga adalah meninjau satuan observasi yang dikenai efek media massa, seperti individu, kelompok, organisasi, masyarakat atau sebuah bangsa. McLuhan mengatakan bahwa media adalah perluasan dari alat indra manusia. Media membentuk dan mengendalikan skala serta bentuk hubungan dan tindakan manusia. McLuhan juga mengatakan bahwa kehadiran media massa sebagai benda fisik mempunyai efek bagi khalayak. Teori yang dikemukakan McLuhan disebut dengan teori perpanjangan alat indra. Sikap seseorang tidak berkembang hanya karena pemenuhan terhadap keinginan tetapi dapat terbentuk melalui informasi yang diterapkan kepadanya. Pembicaraan mengenai efek komunikasi massa, erat kaitannya dengan teori dependensi mengenai efek komunikasi massa yang dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin L. Defleur (1976) yang memfokuskan perhatiannya pada kondisi struktural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan terjadinya efek media massa. Pemikiran terpenting dalam teori dependensi adalah bahwa dalam masyarakat modern, audiens menjadi tergantung pada media massa sebagai sumber informasi bagi pengetahuan tentang dan orientasi kepada apa yang terjadi dalam masyarakatnya. Jenis dan tingkatan ketergantungan akan dipengaruhi oleh sejumlah kondisi struktural, meskipun kondisi terpenting terutama berkaitan dengan tingkat perubahan, konflik atau tidak stabilnya masyarakat tersebut. Jenis-jenis efek yang dapat dipelajari dari teori dependensi adalah efek kognitif, afektif dan behavioral. 1. Efek Kognitif Media massa Efek kognitif media massa bagi khalayak terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, difahami, atau dipersepsi khalayak. Efek kognitif berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan atau informasi. Efek kognitif berkaitan juga dengan penciptaan atau penghilangan ambiguitas, pembentukan sikap, agenda setting, perluasan sistem keyakinan masyarakat dan penegasan terhadap nilai-nilai. 2. Efek Afektif Media Massa Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak. Efek afektif ada hubungannya dengan emosi, sikap atau nilai. Efek afektif berkaitan juga dengan penciptaan ketakutan atau kecemasan, meningkatkan atau menurunkan dukungan moral. 3. Efek Behavioral Media Massa Efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku. Termasuk juga efek behavioral media massa, yaitu mengaktifkan/ menggerakkan atau meredakan, pembentukan issu tertentu atau penyelesaiannya, menjangkau atau menyediakan strategi untuk suatu aktivitas dan menyebabkan perilaku dermawan. Dalam pandangan Burhan Bungin, media massa yang secara teoretis memiliki fungsi sebagai saluran informasi, saluran pendidikan dan saluran hiburan secara realitas memberi efek lain di luar fungsinya itu. Efek media massa tidak hanya mempengaruhi sikap seseorang, tetapi juga mempengaruhi perilaku, bahkan pada tataran yang lebih jauh efek media massa dapat mempengaruhi sistem-sistem sosial maupun sistem budaya masyarakat. Efek media dapat pula mempengaruhi seseorang dalam waktu pendek dan juga dapat memberi efek dalam waktu yang lama. Hal tersebut karena efek media massa terjadi secara disengaja dan ada yang tida disengaja. Denis McQuail sebagaimana dikutip Burhan Bungin menjelaskan bahwa efek media massa ada yang sifatnya sebagai efek yang direncanakan dan efek yang tidak direncanakan. Efek media massa yang direncanakan bisa terjadi dalam waktu yang pendek atau waktu yang cepat, dan bisa juga terjadi dalam waktu yang lama. Efek media massa yang dapat direncanakan dan terjadi dalam waktu yang cepat yaitu seperti propaganda, respons individu, kampanye media dan agenda setting. Efek media massa yang tidak terencana dapat berlangsung dalam dua tipologi, yaitu terjadi dalam waktu cepat dan terjadi dalam waktu lama. Terjadi dalam waktu cepat misalnya tindakan reaksional terhadap pemberitaan yang tiba-tiba mengagetkan masyarakat. Terjadi dalam waktu lama misalnya pemberitaan media massa tentang kekerasan dan kriminal, seperti Derap Hukum, Tikam, Patroli dan lain-lain. Sekilas dalam waktu pendek informasi tersebut tidak bermasalah. Orang yang menonton acara tersebut tidak langsung melakukan tindakan-tindakan melanggar hukum yang dilihatnya di televisi atau media massa lain. Namun dalam waktu yang lama, tanpa disadarinya acara-acara tersebut akan menciptakan jalan keluar yang tidak dikehendaki oleh dirinya sendiri, apabila mengalami masalah yang sama dengan apa yang dilihatnya di televisi. Selain yang dijelaskan oleh McQuail, secara empirik efek media massa yang tidak diharapkan (cenderung merusak) memiliki andil dalam hal pembentukan sikap, perilaku dan keadaan masyarakat. Antara lain adalah sebagai berikut: 1. Penyebaran budaya global yang menyebabkan masyarakat berubah dari tradisional ke modern, dari modern ke postmodern dan dari taat beragama ke sekuler. 2. Terjadinya perilaku imitasi yang kadang menjurus kepada meniru hal-hal yang buruk dari apa yang ia lihat dan ia dengar dari media massa. 3. Berita kekerasan dan terror di media massa telah memicu terbentuknya ketakutan massa di masyarakat. Masyarakat selalu merasa tidak aman, tidak menyenangkan bahkan tidak nyaman menjadi anggota masyarakat tertentu. C. Teori-Teori Motivasi Bila diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan terlihat bahwa manusia mempunyai perbedaan yang sangat nyata dalam melewati kehidupannya masing-masing. Perbedaan itu terlihat bahwa sebahagian di antara manusia ada yang melakukan pekerjaan dengan gigih dan sebahagian di antaranya ada yang melakukan pekerjaan dengan santai, bahkan ada yang tidak berbuat apa-apa. Kenapa ada orang yang bekerja sungguh-sungguh, kenapa ada yang bekerja dengan santai? Tentu hal tersebut merupakan gejala kejiwaan yang menarik untuk diperhatikan. Dari sudut pandang psikologi, dorongan-dorongan yang terjadi pada diri manusia, sebagaimana dijelaskan di atas diistilahkan dengan motivasi. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa istilah motivasi mengacu pada sebab atau mengapa seseorang berperilaku. Oleh sebab itu motivasi meliputi segala aspek psikologi. Namun para psikolog tetap membatasi konsep motivasi pada faktor-faktor yang menguatkan perilaku dan memberikan arahan pada perilaku. Suatu organisme yang dimotivasi akan melakukan aktivitasnya secara lebih giat dan lebih efisien dibandingkan dengan organisme yang berkreativitas tanpa motivasi. Selain menguatkan organisme, motivasi cenderung mengarahkan kepada suatu tingkah laku tertentu. Selama tahun 1950-an, para psikolog mulai meragukan dorongan dari motivasi sebagai penjelasan tentang semua jenis perilaku manusia. Bagi mereka organisme tidak hanya didorong oleh faktor internal, tetapi stimuli eksternal yang disebut insentif juga memegang peranan penting dalam menggugah perilaku. Oleh sebab itu, pendekatan yang lebih baru terhadap teori motivasi memfokuskan perhatian pada peran insentif, yaitu keadaan lingkungan yang menjadi motivasi bagi organisme. Insentif positif menggugah organisme untuk mendekatinya dan insentif negatif mengarahkan perilaku ke arah menjauhinya. Agar lebih jelas apa yang dimaksud dengan motivasi, di bawah ini akan dijelaskan beberapa pengertian mengenai motivasi. 1. Pengertian Motivasi Istilah motivasi baru digunakan sejak awal abad kedua puluh. Secara bahasa kata motivasi berasal dari bahasa Inggris yaitu motivation yang kata kerjanya adalah motivate yang berarti “to provide with motives, as the characters in a story or play” artinya “sebagai karakter dalam cerita atau permainan.” Dalam Kamus Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa motivasi adalah usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dijelaskan bahwa motivasi adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan. Para psikolog membedakan motif dengan motivasi. Motif adalah penggerak bagi timbulnya motivasi. Motif merupakan tahap awal dari proses motivasi, sehingga motif baru merupakan suatu kondisi intern atau kesiap siagaan. Dengan demikian motivasi mereka artikan dengan segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan. Dengan kata lain, motivasi merupakan dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tingkah laku. Para ahli psikologi menempatkan motivasi pada posisi penentu bagi kegiatan hidup individu dalam usahanya mencapai tujuan. Hubert Bonner mengatakan bahwa motivasi bersifat dinamis. Motivasi disebut juga dengan suatu pernyataan kompleks yang mengarahkan tingkah laku ke suatu tujuan. Dalam motivasi terdapat satu dorongan dinamis yang mendasari segala tingkah laku manusia. Dorongan tersebut muncul dari tujuan dan kebutuhan. Bilamana terdapat rintangan dalam mencapai tujuan yang diinginkan, maka dengan motivasi seseorang dapat melipatgandakan usahanya untuk mengatasi rintangan dalam mencapai tujuan tersebut. Sebab itu motivasi dipandang perlu dalam kehidupan manusia. Berdasarkan munculnya, maka ada motivasi yang muncul dari dalam diri yang disebut dengan motivasi intrinsik yang bersifat batin dan ada pula motivasi yang berasal dari luar atau disebut dengan motivasi ekstrinsik. Berdasarkan sifatnya yang intrinsik, motivasi muncul sebagai akibat adanya tiga hal pokok, yaitu kebutuhan, pengetahuan dan aspirasi cita-cita. Sementara itu, motivasi ekstrinsik muncul sebagai akibat adanya tiga hal juga yaitu ganjaran, hukuman dan persaingan atau kompetisi. Dari uraian yang telah dipaparkan, maka dapat diketahui motivasi memiliki tiga komponen pokok, yaitu: a. Menggerakkan. Dalam hal ini motivasi menimbulkan kekuatan pada individu, membawa seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu. b. Mengarahkan. Dalam hal ini motivasi mengarahkan tingkah laku dengan orientsi tujuan untuk mencapai sesuatu. c. Menopang. Artinya, motivasi berguna untuk menopang tingkah laku seseorang untuk melakukan interaksi dan arah dorongan-dorongan dan kekuatan individu. 2. Teori-Teori Motivasi Motivasi dipandang sangat penting dalam kehidupan manusia. Setelah memberikan pengertian, para psikolog juga menyumbangkan teori-teori yang berkaitan dengan motivasi. a. Sigmund Freud Sigmund Freud adalah tokoh psikoanalisis yang berpendapat bahwa dasar motivasi tingkah laku manusia adalah insting (naluri). Psikoanalisis digolongkan ke dalam aliran psikologi mazhab pertama yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud (1858-1939). Psikoanalisis Sigmund Freud dijembatani oleh jasa pemikiran Mc Dougal yang membicarakan tentang insting. Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia berasal dari dua kelompok naluri yang bertentangan, yaitu naluri kehidupan dan naluri kematian. Naluri kehidupan meningkatkan hidup dan pertumbuhan seseorang. Energi kehidupan adalah libido yang berkisar pada kegiatan seksual. Naluri kematian mendorong manusia ke arah kehancuran. Naluri kematian dapat diarahkan kepada diri sendiri dalam bentuk bunuh diri dan perilaku merusak diri sendiri atau orang lain (agresi). Freud berpandangan bahwa seks dan agresi merupakan dua motif dasar perilaku manusia yang dapat bersifat positif dan negatif, konstruktif dan destruktif. Pertentangan tersebut dijelaskan oleh Sigmund Freud dengan membagi struktur kepribadian manusia yang akhirnya menjadi fokus perhatiannya. Struktur kepribadian manusia yang dimaksud Freud adalah, id, ego dan superego. Id adalah kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia sering juga disebut dengan libido. Ego sebagai mediator yang bekerja atas dasar prinsip realitas dan superego adalah hati nurani yang merupakan internalisasi dari sistem moral dari kepribadian mewakili yang ideal. Dalam pandangan psikoanalisis, naluri merupakan bagian terpenting dari pandangan mekanisme terhadap manusia. Naluri merupakan suatu kekuatan biologis bawaan yang mempengaruhi anggota tubuh untuk berlaku dengan cara tertentu dalam keadaan tepat. Sehingga semua pemikiran dan perilaku manusia merupakan hasil dari naluri yang diwariskan dan tidak ada hubungannya dengan akal. Dalam hal ini Freud percaya bahwa dalam diri manusia ada sesuatu yang tanpa disadari menentukan setiap sikap dan perilaku manusia. b. Abraham Maslow Abraham Maslow adalah tokoh psikologi humanistik. Psikologi humanistik dianggap sebagai revolusi ketiga dari psikologi setelah psikoanalisis dan behaviourisme. Psikologi humanis banyak mengambil dari fenomenologis dan eksistensialisme. Para pakar psikologi ini mempunyai pandangan, bahwa manusia hidup dalam dunia kehidupan yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Psikologi humanistik sangat besar perhatiannya terhadap makna kehidupan. Salah satu pernyataan yang sesuai dengan paham humanistik dalam psikologi yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Carl R. Rogers dan Abraham Maslow adalah, kebebasan merupakan panggilan jiwa manusia. Baik Rogers maupun Maslow beranggapan bahwa setiap orang akan selalu mengembangkan dirinya semaksimal mungkin. Hal tersebutlah yang mendorong manusia untuk berperilaku. Maslow berpendapat bahwa manusia dimotivasi oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah dan berasal dari sumber geneses atau naluriah. Maslow menyusun hirarki kebutuhan manusia mulai dari kebutuhan biologis sampai kebutuhan psikologis yang sangat kompleks. Dari keinginan yang rendah kepada keinginan tinggi. Kebutuhan manusia menurut Maslow adalah sebagai beriukut: 1. Kebutuhan fsiologis, misalnya rasa lapar dan haus. 2. Kebutuhan akan rasa aman. 3. Kebutuhan anak cinta dan rasa memiliki. 4. Kebutuhan akan harga diri. 5. Kebutuhan akan aktualisasi diri. Aliran humanistis kemudian mengembangkan sayapnya secara spesifik membentuk psikologi transpersonal, dengan landasan pengalaman keagamaan sebagai peak experience. Menurut Maslow psikologi belum sempurna sebelum difokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal. Menurut Maslow, orang yang berhasil dalam usaha tersebut akan merasakan pengalaman puncak (peak experiences) yang wujudnya adalah perasaan bahagia. Pengalaman puncak yang transenden digambarkan sebagai kondisi yang sehat super normal (normal super healthy) sebagaimana disebutkan Maslow dengan peakers dan non-peakers. Peakers memiliki pengalaman puncak. Kelompok ini cenderung menjadi lebih saleh. c. K.S. Lashley Motivasi dikendalikan oleh respon-respon susunan saraf sentral ke arah rangsangan dari dalam dan dari luar yang variasinya sangat kompleks. Tingkah laku yang dimotivasi tidak hanya tergantung pada satu rangsangan, tapi tergantung pula pada pola rangsang yang kompleks, meskipun satu rangsangan saja sudah dapat menimbulkan respon. Padangan Lashley menunjukkan pahamnya yang bersifat fisiologis (badaniah) bukan psikologis (rohaniah). 3. Motivasi dalam Alqur’an Manusia termotivasi untuk melakukan perbuatan digerakkan oleh suatu sistem yang disebut sebagai sistem nafs. Di sampaing mampu memahami dan merasa, sistem nafs juga mendorong manusia untuk melakukan sesuatu yang dibutuhkan. Jika motif telah bergerak secara kuat pada seseorang, maka ia mendominasi seseorang dan mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan. Dalam sistem nafs, motif bersifat fitri. Isyarat motifasi yang menggerakkan tingkah laku manusia dalam sistem nafs dipaparkan dalam Al Qur’an surah Yusuf ayat 53. وما ابرئ نفس إن النفس لامارة بالسوء الا مارحم ربي غفور رحيم (يوسف:٥٣) Artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ayat di atas menjelaskan bahwa dalam sistem nafs manusia terdapat motivasi yang menggerakkan ke arah kejahatan. Tapi jika seseorang berpegang teguh kepada tuntunan agama dan akhlak, maka perilaku seseorang akan menjadi positif atau baik. Oleh sebab itu harus dipahami bahwa di dalam sistem nafs juga terdapat naluri atau insting yang memiliki kecenderungan tertentu. Dorongan-dorongan nafs tersebut ada yang disadari dan ada pula yang tidak disadari. Motivasi manusia untuk berbuat baik merupakan dorongan psikis yang mempunyai landasan alamiah dalam watak kejadian manusia. Maksudnya, manusia melakukan sesuatu karena sebagai motif bawaan dalam wujud fitrah. Hal tersebut dijelaskan dalam Al Qur’an surah ar-Rum ayat 30. فاقم وجحك للدين حنيفا فطرت الله التي فطرالناس عليها لاتبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن اكثرالناس لايعلمون (الروم:٣٠) Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia mampunyai sifat bawaan yang bersifat fitrah. Hal tersebut memperlihatkan bahwa sejak diciptakan manusia memiliki potensi dasar yang mendorong untuk melakukan berbagai macam bentuk perbuatan, tanpa disertai dengan peran akal sehingga terkadang tanpa disadari manusia bersikap dan bertingkah laku untuk menuju pemenuhan fitrahnya. Dari sudut pandangan Islam, Utsman Najati membagi motivasi kedalam tiga bagian, yaitu motivasi fisiologis, motivasi psikologis dan spritual. Motivasi fisiologis, pada umumnya berhubungan dengan pemenuhan manusia terhadap kebutuhan tubuh dalam rangka menjaga keseimbangan organik dan kimiawi tubuh, misalnya rasa lapar, haus, bernafas, istirahat dan lain-lain. Sedangkan motivasi psikologis dan spritual bertujuan untuk memenuhi kebutuhan jiwa dan ruh manusia. Karena motivasi tersebutlah yang dapat memberikan kepuasan hidup, rasa aman, tentram dan bahagia. Dalam pandangan Najati, manusia yang tidak mendapatkan motivasi psikologis dan spritual tidak akan merasakan ketenangan jiwa. Bahkan sebaliknya ia akan merasa gelisah dan dihantui perasaan bahwa kelak dia akan celaka. D. Teori Penggunaan dan Efek (Uses and Effects) Pembahasan mengenai teori efek komunikasi massa sudah banyak dibicarakan para pakar. Salah satu di antara teori-teori tersebut adalah teori tentang penggunaaan dan efek (uses and effects), yaitu sebuah pemikiran yang pertama kali dikemukakan oleh Sven Windhal (1979). Teori uses and effects merupakan sintesis antara pendekatan uses and gratifications dan teori tradisional mengenai efek. Konsep use (penggunaan) merupakan pokok pemikiran dalam teori ini, karena pengetahuan mengenai penggunaan media dan penyebabnya, akan memberikan jalan bagi pemahaman dan perkiraan tentang hasil dari suatu proses komunikasi massa. Penggunaan media massa dapat memiliki banyak arti. Ini dapat berarti exposure yang semata-mata menunjukkan pada tindakan mempersepsi. Dalam konteks lain, pengertian tersebut dapat menjadi suatu proses yang lebih kompleks, di mana isi terkait dengan harapan-harapan tertentu untuk dapat dipenuhi. Teori uses and effects berbeda dengan teori uses and gratifications. Pada teori uses and gratifications dijelaskan bahwa penggunaan media pada dasarnya ditentukan oleh kebutuhan dasar individu. Sedangkan pada teori uses and effects dijelaskan bahwa kebutuhan terhadap media hanyalah salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penggunaan media. Karakteristik individu, harapan dan persepsi terhadap media dan tingkat akses kepada media, akan membawa individu kepada keputusan untuk menggunakan atau tidak menggunakan isi media massa. Teori uses and effects membicarakan tentang hubungan antara penggunaan media dengan hasil dari proses komunikasi massa. Hubungan antara penggunaan dan hasilnya dengan memperhitungkan isi media memiliki bebera bentuk yang berbeda, yaitu: 1. Pada kebanyakan teori efek tradisional, karakteristik isi media menentukan sebagian besar dari hasil. Dalam hal ini penggunaan media hanya dianggap sebagai faktor perantara dan hasil dari proses dinamakan efek. 2. Dalam berbagai proses, hasil lebih merupakan akibat penggunaan daripada karakteristik isi media. Penggunaan media dapat mengecualikan, mencegah atau mengurangi aktivitas lainnya, di samping dapat pula memiliki konsekwensi psikologis seperti ketergantungan pada media tertentu. Jika penggunaan merupakan penyebab utama dari hasil, maka ia disebut konsekuensi. 3. Kita dapat juga beranggapan bahwa hasil ditentukan sebagian oleh isi media (melalui perantaraan penggunaannya) dan sebagian lain oleh penggunaan media itu sendiri. Oleh karenanya ada dua proses yang bekerja secara serempak yang bersama-sama menyebabkan terjadinya suatu hasil yang disebut dengan coseffects (gabungan dari konsekuensi dan effek). Ketiga hubungan di atas dapat di lihat pada gambar di bawah ini. Hasil dari proses komunikasi massa dapat ditemukan pada tataran individu maupun tataran masyarakat. Gambaran selengkapnya dapat disimak dari gambar di bawah ini. E. Kajian Terdahulu Berdasarkan penelusuran yang dilakukan penulis di beberapa perpustakaan dan Perguruan Tinggi di Medan, penelitian yang sama dengan “Pengaruh menonton siaran ilustrasi kriminal di televisi terhadap kondisi psikologis masyarakat kecamatan Medan Amplas kota Medan” belum pernah dilakukan. Namun teori uses and effect banyak dijadikan para pakar maupun para peneliti sebagai landasan teori penelitian yang berkaitan dengan efek ataupun pengaruh media massa. Penelitian yang mengkaji pengaruh media massa dan motivasi khalayak dalam menonton pernah dilakukan Severin, namun penelitian yang dilakukan Severin terfokus secara khusus pada motivasi khalayak untuk menonton televisi. Dari hasil penelitian Severin diperoleh informasi bahwa khalayak menggunakan media, karena khalayak butuh informatif, mendidik, khayali, pelarian dan hiburan. Penelitian tentang “Pengaruh Program Berita Kriminal Televisi Terhadap Peningkatan Kriminalitas di Kota Padang,“ pernah juga diteliti oleh Deni Risman. Namun peneliti hanya memfokuskan penelitiannya terhadap berita kriminal, bukan pada acara rekonstruksi tindak kriminal seperti yang akan diteliti penulis. Dari hasil penelitian Deni Risman diperoleh informasi bahwa berita kriminal yang disiarkan televisi sangat mempengaruhi tindak kriminal di kota Padang. Penelitian tentang “Berita Kekerasan Terhadap Wanita dalam Surat Kabar Harian Kota Medan” pernah juga dilakukan oleh Nurhanifah mahasiswa Pascasarjana IAIN SU Medan tahun 2005. Penelitian yang dilakukan Nurhanifah tidak membicarakan bagaimana pengaruh kekerasan yang disiarkan media terhadap masyarakat di kota Medan. Penelitian Nurhanifah hanya menganilisis isi berita kekerasan pada surat kabar harian Medan dan terfokus pada: pertama, tindak kekerasan pada wanita di surat kabar harian Medan. Kedua, penelitian Nurhanifah hanya mengkupas bagaimana penonjolan berita tindak kekerasan terhadap wanita di surat kabar harian Medan. Ketiga, menjelaskan bentuk-bentuk kekerasan yang dialami korban. Keempat menjelaskan motif tindak kekerasan yang dilakukan. Kelima, menjelaskan hubungan korban dengan pelaku kekerasan. Keenam, pengaruh peristiwa kekerasan terhadap korban dan pelaku yang bersangkutan. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan penulis, dapat dinyatakan bahwa penelitian tentang “Pengaruh Menonton Siaran Rekonstruksi Kriminal Terhadap Kondisi Psikologis Masyarakat Kecamatan Medan Amplas Kota Medan,” belum pernah dilakukan sebelumnya. Dengan demikian penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu yang telah disebutkan, karena yang akan diteliti adalah pengaruh siaran rekonstruksi kriminal terhadap kondisi psikologis masyarakat Kecamatan Medan Amplas kota Medan. F. Hipotesis Hipotesis berasal dari bahasa Inggris, yaitu dari kata “hypo”, artinya di bawah dan “thesa”, artinya kebenaran. Dengan demikian hipotesis adalah kebenaran yang bersifat sementara dan perlu diuji keabsahannya. Hipotesis ada dua macam, yaitu hipotesis alternatif (Ha) yaitu hipotesis yang menunjukkan adanya perbedaan antara variabel X dan variabel Y, sedangkan hipotesis nol (Ho) adalah hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara varibel X dan variabel Y. Variabel X dalam penelitian ini adalah “Menonton siaran rekonstruksi kriminal di televisi.” Variabel Y adalah “kondisi psikologis masyarakat.” Hipotesis alternatif (Ha) yang diajukan adalah, “Ada pengaruh menonton siaran rekonstruksi kriminal di televisi terhadap kondisi psikologis masyarakat kecamatan Medan Amplas”. Hipotesis nolnya (Ho) adalah, “Tidak ada pengaruh menonton siaran rekonstruksi kriminal di televisi terhadap kondisi psikologis masyarakat kecamatan Medan Amplas.” Variabel X “Menonton Siaran rekonstruksi kriminal Variabel Y “Kondisi psikologis masyarakat” 1. Pemahaman tentang siaran rekonstruksi kriminal 2. Frekwensi menonton. 3. Waktu dan tempat menonton. 4. Pandangan tentang frekwensi siaran rekonstruksi kriminal. 5. Rekonstruksi kriminal yang disukai. 6. Motivasi menonton. 1. Ada tidaknya keinginan untuk melakukan hal yang sama dengan yang ditonton. 2. Perasaan cemas. 3. Perasaan khawatir. 4. Perasaan waswas 5. Perasaan rakut. 6. Harapan kepada pihak televisi dan masyarakat terkait dengan siaran rekonstuksi kriminal.

/ On : 13.37/ Thank you for visiting my small blog here.
=BAB II
LANDASAN TEORETIS


A. Teknologi Elektronik Media Televisi
Pada hakikatnya media televisi lahir karena kemajuan teknologi yang telah mengilhami seorang mahasiswa Jerman bernama Paul Nipkov untuk mengirim gambar melalui udara ke tempat lain. Hal tersebut terjadi pada tahun 1883-1884 setelah electrische teleskop ditemukan. Dengan penemuan tersebut Nipkov dikenal sebagai bapak televisi.
Kemajuan terpenting dari televisi dibanding dengan media lainnya adalah kemampuan televisi menyajikan komentar atau pengamatan langsung pada saat kejadian berlangsung. Media televisi telah berhasil mengatasi kesulitan manusia dalam soal ruang dan waktu yang sangat luas. Sebagaimana yang disampaikan Jhon Naisbitt dan Patricia Aburdene, “Dunia kini telah menjadi desa kecil (global village).”
Untuk mendapatkan televisi zaman ini tidak lagi sesusah zaman dahulu, dimana perangkat komunikasi ini adalah barang yang langka dan hanya kalangan tertentu yang sanggup memilikinya. Saat ini televisi telah menjangkau lebih dari 90 persen penduduk di negara berkembang. Siaran-siaran televisi akan memanjakan orang-orang pada saat-saat luang seperti saat liburan, sehabis bekerja bahkan dalam suasana sedang bekerjapun orang-orang masih menyempatkan diri untuk menonton televisi. Suguhan acara yang variatif dan menarik membuat orang tersanjung untuk meluangkan waktunya duduk di depan televisi. Namun dibalik itu semua dengan dan tanpa disadari televisi telah memberikan banyak pengaruh negatif maupun positif bagi kehidupan manusia, baik itu pada anak-anak maupun orang dewasa.

1. Sejarah Perkembangan Dunia Pertelevisian
Keampuhan televisi pernah diberitakan surat kabar Amerika ketika televisi berhasil mengatasi kesulitan yang dialami para peserta rapat pertama tahun 1946 di gedung PBB yang membahas tentang masa depan dunia setelah selesai melaksanakan perang dunia II. Teknologi yang dimiliki televisi, telah memberikan kepuasaan kepada para peserta rapat yang tidak memperoleh tempat. Namun sebelumnya, pada tahun 1939 masyarakat Amerika sebenarnya sudah menikmati siaran televisi. Tetapi karena terjadi Perang Dunia II, siaran televisi Amerika terpaksa berhenti. Baru setelah tahun 1946, kegiatan pertelevisian dilanjutkan kembali. Dengan kecanggihan teknologi yang dimiliki Amerika, mereka mampu meningkatkan jumlah pemancar yang berjumlah lebih kurang 750 stasiun siaran TV.
Ketika Amerika sibuk meningkatkan teknologi dunia televisi, negara-negara Eropa lainnya juga tidak ketinggalan. Salah satu di antara negara Eropa yang paling lama mengadakan eksperimen dalam bidang TV adalah Inggris. Inggris sudah mulai mendemonstrasikan TV sejak tahun 1929. popularitas Inggris terkalahkan Amerika, karena Amerika pada Perang Dunia II tetap utuh. Namun sekarang BBC TV merupakan organisasi termaju di dunia sebagai keterampilan luar biasa orang-orang Inggris.
Kemajuan teknologi pertelevisian di Eropa disusul negara-negara lain dengan badan-badan siaran TV, seperti Prancis, Jerman Barat, Nederland, Belgia, Luxemburg dan Italia. Seiring dengan kemajuan yang diraih Eropa, sejak tahun 1953 Asia mengejar ketertinggalan dalam bidang televisi yang dimulai Jepang dan Philifina, Muangthai tahun 1955, Indonesia dan China tahun 1962.
Pertelevisian Indonesia baru dimulai pada tahun 1960-an, di mana terdapat satu stasiun televisi yang terpusat di Jakarta. Seluruh proses informasi yang terjadi dalam televisi Indonesia masih dalam kerangka stasiun televisi publik. TVRI mempunyai kriteria awal yang sehat. Artinya TVRI bisa dijadikan sarana untuk menjalin persatuan dan kesatuan. Teknologi satelit Palapa semakin mengokohkan peran TVRI sebagai stasiun televisi yang bisa mudah dan cepat diakses oleh penduduk Indonesia. Dalam perjalanan dinamisnya, TVRI juga sempat menjadi agak komersial dengan adanya iklan sampai tahun 1982-an ketika tuntutan ekonomi menjadi tuntutan tak terelakkan dari sebuah industri media.
Televisi atau si kotak ajaib, saat ini adalah sarana elektronik yang paling digemari dan dicari orang. Televisi adalah paduan radio (broadcast) dan film (moving picture). Para penonton tidak mungkin menangkap siaran televisi kalau tidak ada unsur-unsur radio, dan tidak mungkin dapat melihat gambar jika tidak ada unsur-unsur film.
Bila ditinjau dari segi penggunaaan dan kepemilikan masyarakat terhadap pesawat televisi, ternyata perkembangan jumlah penonton televisi terus bertambah. Di Indonesia misalnya, terjadi peningkatan jumlah penonton dari tahun ke tahun. Hal ini diketahui dari hasil penelitian yang dilakukan Ishadi pada tahun 1999. Gambaran persentase penduduk yang menonton televisi berdasarkan pulau dan propinsi dapat di lihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1: Persentase penduduk yang menonton acara televisi menurut Provinsi/ Pulau di Indonesia.
Provinsi/ Pulau 1976 1978 1982 1984 1987
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
D.I. Yogyakarta
Jawa Timur
Sumatera
Kalimantan
Sulawesi
Kepulauan lainnya 35,5
7,2
4,3
7,0
4,7
2,7
4,2
2,7
0,1 53,8
16,3
16,3
30,9
17,4
21,3
41,9
17,7
16,4 87,5
44,4
44,9
51,6
53,1
53,3
60,5
41,6
33,0 91,7
51,3
52,8
60,8
58,2
61,0
63,2
51,0
43,7 92,7
58,4
68,0
72,3
62,8
67,7
66,1
52,8
43,8
Indonesia 5,5 19,9 50,3 57,3 64,4

Dalam perkembangannya, ternyata satu stasiun televisi bagi masyarakat Indonesia tidak memadai. Arus perkembangan televisi yang menuntut keragaman, desakan kebutuhan informasi dan dinamisasi kehidupan sosial kultural, memaksa pemerintah untuk mulai mengijinkan tumbuhan stasiun-stasiun televisi baru. Kebijakan praktek kebebasan pertelevisian mulai dirasakan oleh masyarakat Indonesia sejak era 90-an. Sampai sekarang beberapa televisi swasta telah muncul seperti RCTI, SCTV, TPI, AnTeve, Indosiar, MetroTV, TV7, LaTivi, Global TV, Trans TV dan menyusul beberapa stasiun TV yang belum mengudara tapi sudah mengantongi perijinan.

2. Media Televisi dan Budaya Massa
Inovasi terpenting yang terdapat dalam televisi ialah kemampuan menyajikan komentar atau pengamatan langsung pada saat suatu kejadian berlangsung. Televisi sebagai sebuah media massa berfungsi sebagai informatif, mendidik dan meghibur. Penayangan suara dan gambar di televisi, secara tidak langsung menumbuhkan kepedulian sosial masyarakat internasional untuk ikut merasakan peristiwa yang terjadi di belahan bumi lainnya. Namun sebaliknya tidak dapat disangkal penayangan acara-acara di televisi sering menimbulkan polemik dan konflik di tengah-tengah masyarakat. Media televisi sebagai media massa menjadi penting bagi manusia untuk mengontrol diri dalam kehidupan sosial. Pemantauan bisa dalam bentuk prilaku, mode, bahkan sikap terhadap ideologi tertentu.
Sistem komunikasi mampu mengubah kebudayaan, sebab itu di setiap masyarakat, mulai dari yang paling primitif sampai paling modern, sistem komunikasi menjalankan empat fungsi. Tiga di antaranya didefenisikan Harold Lasswell sebagai pengamatan lingkungan, korelasi bagian-bagian dalam masyarakat untuk merespon lingkungan, dan penyampaian warisan masyarakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Schramm menyebutkan fungsi media dengan menggunakan istilah sederhana, yakni sebagai penjaga, forum dan guru.
Dalam perkembangan teori komunikasi massa, konsep masyarakat massa mendapat relasi kuat dengan produk budaya massa yang pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana proses komunikasi dalam konteks masyarakat massa membentuk dan dibentuk oleh budaya massa yang ada. Media mampu membentuk selera masyarakat atau membentuk cara pandang tertentu terhadap sebuah realitas.

3. Posisi Media Televisi
Munculnya televisi dalam kehidupan manusia memang menghadirkan suatu peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan informasi yang bersifat massa. Televisi sebagai media yang muncul belakangan ternyata memberikan nilai yang sangat spektakuler dalam sisi-sisi pergaulan hidup manusia, karena televisi telah menguasai jarak secara geografis dan sosiologis. Dengan demikian, televisi melahirkan istilah baru dalam peradaban manusia yang dikenal dengan kebudayaan massa (mass culture).
Posisi dan peran media televisi dalam operasionalnya di masyarakat sama dengan media lainnya. Namun demikian, televisi mempunyai kelebihan dari media lainnya. Kelebihan televisi adalah dapat menyajikan suara dan gambar sehingga dapat menarik perhatian pemirsa. Dari sisi pengaruh televisi lebih cenderung menyentuh aspek psikologis manusia. Sedangkan di antara kelemahannya adalah, siaran televisi tidak dapat disimpan, terikat dengan waktu tontonan, sedangkan media cetak dapat disimpan dan dapat dibaca kapan saja.

4. Dampak Media Televisi Bagi Pemirsa
Banyak sekali teori atau pendekatan yang telah disajikan selama kira-kira setengah abad riset komunikasi massa. Meskipun hasil akhir menunjukkan adanya perberbedaan, namun dapat dinyatakan komunikasi massa memberikan dampak terhadap audiensnya. Sebagaimana halnya riset George Gerbner (1980) yang menghasilkan teori kultivasi. Pada awalnya Gerbner memulai argumentasi bahwa televisi telah menjadi tangan budaya utama masyarakat Amerika. Gerbner juga menyatakan bahwa bagi pemirsa berat televisi, pada hakikatnya memonopoli dan memasukkan sumber-sumber informasi, gagasan dan kesadaran lain. Dampak dari keterbukaan ke pesan-pesan yang sama menghasilkan kultivasi atau pengajaran pandangan bersama tentang dunia sekitar, peran bersama dan nilai-nilai bersama.
Berdasarkan teori kultivasi dari Gerbner, televisi mungkin mempunyai dampak yang penting, tetapi tidak kentara pada masyarakat. Teori kultivasi menyatakan bahwa karena terlalu sering menonton, membuat orang merasa dunia ini adalah tempat yang tidak aman.
Penelitian lainnya dilakukan oleh McLuhan. McLuhan (1965) mengatakan bahwa televisi berbeda dengan media cetak karena televisi memberikan penekanan indra yang lebih banyak. Televisi lebih membuat orang terlibat dan berperan serta daripada media cetak. Televisi menurut McLuhan akan memulihkan keseimbangan rasio indra yang telah dihancurkan media cetak. Pada skala yang lebih luas katanya, televisi telah mempersatukan manusia dari negara dan bangsa yang terpisah-pisah dalam sebuah “desa dunia”. Selanjutnya McLuhan mengatakan bahwa generasi televisi adalah generasi pascamelek huruf pertama. Menurut dia, orang tua dewasa ini menyaksikan anaknya menjadi dunia ketiga, dan bahwa karena televisi dan media berita lainnya, anak-anak tidak berpikir dengan cara yang sama seperti orang tuanya dulu.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa televisi memberikan dampak bagi pemirsa. Suguhan acara yang variatif dan menarik membuat orang tersanjung untuk meluangkan waktunya duduk di depan televisi. Namun dibalik itu semua, tanpa disadari televisi telah memberikan banyak pengaruh negatif dalam kehidupan manusia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Televisi, selain bisa menjadi teman yang baik bisa juga menjadi musuh yang menghanyutkan.
Dalam sebuah survei yang dilakukan lebih dari setengah anak-anak di AS mempunyai televisi di kamar mereka. Usia remaja paling banyak menonton televisi di kamar dan hampir sepertiga anak-anak pra sekolah mempunyai televisi di kamar mereka dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton televisi. Disebutkan juga adanya beberapa orang siswi sebuah sekolah yang bergantian bolos dari sekolah demi menonton sebuah tayangan opera sabun di televisi.
Di Indonesia mungkin tidak sampai menjangkau persentase sebesar itu, namun pengaruh televisi juga telah banyak membentuk pola pikir dari anak-anak dan umumnya masyarakat Indonesia. Dalam tayangan televisi saat ini terdapat banyak gaya hidup yang bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat, apalagi dengan agama seperti tindakan kekerasan, vulgaritas, kejahatan, seks bebas, penipuan, tatanan rambut yang radikal dan lain-lain. Orang yang semakin sering menonton tayangan-tayangan seperti itu pada akhirnya akan menerima hal itu sebagai sesuatu perbuatan yang normal. Dalam hal ini televisi telah menjadi propaganda untuk menyesatkan masyarakat.
Akibat terlalu sering menyaksikan kekerasan, maka menimbulkan:
a. Perilaku agresif.
b. Anak menjadi kurang kooperatif, kurang sensitif kepada yang lain.
c. Timbul keyakinan pada diri anak-anak bahwa segala persoalan hanya dapat diselesaikan lewat kekerasan.
d. Timbul keyakinan bahwa dunia televisi menghadirkan dunia nyata, bukan fantasi.
e. Sulit mengekspresikan diri.
f. Mereka sering meniru kekerasan pahlawan televisi dan perilakunya.
g. Mereka akan sering meminta hal-hal yang diiklankan di televisi.
h. Bila bermain, mereka lebih agresif daripada kreatif dan konstruktif.
i. Mereka akan menemui kesulitan dalam berbaur dengan anak-anak lainnya.
j. Mereka mungkin tidak mengembangkan kebiasaan membaca.
k. Anak-anak sulit tidur karena berkaitan dengan ketakutan terhadap kekerasan yang ditampilkan di televisi.

Media televisi sebagaimana media massa lainnya berperan sebagai alat informasi, hiburan, kontrol sosial dan penghubung wilayah secara gografis. Sehubungan dengan hal tersebut, pesan yang disampaikan akan dipersefsikan pemirsa dengan berbeda-beda. Dengan demikian dampak yang diakibatkan televisi tentu akan berbeda-beda. Namun demikian harus diakui bahwa kebutuhan untuk mendapatkan hiburan, pengetahuan dan informasi secara mudah melalui televisi juga tidak dapat dihindarkan sehingga walaupun semua orang mungkin sudah tahu akan dampak negatif yang bisa ditimbulkannya, keberadaan televisi tetap saja dipertahankan.
Dampak yang ditimbulkan televisi saat ini secara realitas memang sangat banyak. Perubahan yang tidak diduga sebelumnya terjadi di masyarakat dewasa ini karena pengaruh tayangan acara televisi. Model rambut anak-anak muda yang terkenal di Amerika, sekarang di contoh oleh para anak-anak muda di Indonesia. Demikian dengan gaya pergaulan sehari-hari. Sebab itu terjadi pro dan kontra di tengah-tengah berbagai kalangan tentang dampak televisi bagi pemirsa. Ada yang mengatakan siaran televisi dapat mengancam nilai-nilai sosial dan ada yang mengatakan dapat menguatkan nilai-nilai sosial.
Terlepas dari pro dan kontra tentang dampak televisi bagi pemirsa, yang jelas di balik keunggulan yang dimiliki televisi, televisi berpotensi besar dalam meninggalkan dampak negatif di tengah berbagai lapisan masyarakat, khususnya anak-anak. Televisi yang hadir dengan program-program pengrusakan moral dan kekerasan, sedang merobohkan nilai-nilai moral dalam masyarakat, terutama nilai-nilai moral dan akhlak remaja dan anak-anak. Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Barat, namun juga di negara-negara lain karena besarnya infiltrasi media terutama media Barat di berbagai penjuru dunia. Kerusakan moral tersebut dapat terjadi karena apa yang seharusnya menjadi tontonan orang dewasa, akhirnya menjadi tontonan anak-anak dan para remaja.
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika, banyak sekali anak-anak yang menjadi pemirsa program-program televisi yang dikhususkan untuk orang dewasa. Doktor Tabatabaei seorang pakar komunikasi Iran dalam mengomentari hal tersebut menyatakan:
Dewasa ini di Barat, anak-anak dihadapkan dengan pembunuhan, kekerasan, penculikan, penyanderaan, amoral dan asusila, keruntuhan moral, budaya dan sosial. Dampak dari problema ini adalah timbulnya kekacauan dan kerusakan pada kepribadian anak-anak sehingga akhirnya kepribadian kanak-kanak itu menjadi terhapus dan hilang sama sekali.

Data statistik di Amerika Serikat menunjukkan bahwa tingkat kekerasan yang dilakukan anak-anak semakin hari semakin meningkat. Antara tahun 1950 hingga 1979 jumlah kejahatan berat yang dilakukan oleh anak-anak muda di bawah 15 tahun di AS adalah sebesar 110 kali lipat. Dewasa ini, banyak sekali anak-anak dan remaja di Amerika yang membawa senjata, baik untuk menyerang orang lain atau untuk melindungi diri sendiri.
Televisi dapat menimbulkan kecemasan bagi para pemirsa. Kecemasan tersebut timbul akibat adanya respons terhadap kondisi stres atau konflik, baik yang datang dari luar maupun dalam diri sendiri. Misalnya, cemas kalau pada diri pemirsa terjadi peniruan terhadap adegan-adegan tertentu yang ditontonnya sehingga menjadikan pemirsa lebih agresif.
Bila diperhatikan, setiap hari televisi menyajikan berbagai peristiwa kriminalitas dengan materi berupa peristiwa penangkapan pelaku perbuatan kriminal dan kupasan suatu peristiwa kriminal dengan amat dramatis. Hal itu tentu dapat mempengaruhi kondisi psikologis pemirsa. Satu sisi tayangan peristiwa kriminalitas di televisi memiliki sisi positif. Paling tidak publikasi keberhasilan aparat polisi menangkap dan membongkar peristiwa kriminal. Masyarakat mengetahui terjadinya suatu peristiwa kriminal dengan berbagai polanya, sehingga dapat berhati-hati untuk menghindari suatu perbuatan kriminal. Akan tetapi pada sisi lain terdapat nilai negatifnya. Antara lain yaitu, berita kriminal yang dikemas seperti sebuah sinetron atau telenovela dapat tertanam dalam benak anak-anak, wanita, dan masyarakat umum serta pada pelaku kriminal lainnya. Tidak mustahil masyarakat pun akan menjadikan tayangan kriminal sebagai arena “sekolah” kejahatan, karena penyajian peristiwa kriminal begitu gamblang dan jelas.
Intensitas dan kualitas pemberitaan kriminalitas yang terus-menerus dengan tingkat kekerasan tinggi akan mendapatkan atmosfer ketakutan pada masyarakat (fear of crime). Jika dibiarkan berlarut-larut, situasi tersebut tidak sehat bagi masyarakat, karena dapat menimbulkan masyarakat yang penuh curiga dan kehilangan kehangatan (sense of friendly). Orang akan merasa berada dalam belantara kejahatan, padahal mereka berada di negara hukum yang memiliki aparat penegak hukum. Rasa kepercayaan kepada penegak hukum akan luntur. Pada gilirannya akan lahir frustrasi massa dalam bentuk maraknya tindakan main hakim sendiri, dengan modus membakar, membunuh atau merajam pelaku kejahatan yang tertangkap tangan.
Gambaran yang disampaikan di atas, membuktikan bahwa televisi mempunyai dampak bagi pemirsa. Sebab itu, pemerintah di berbagai negara hendaknya sadar untuk mengatur industri televisi agar dapat memainkan peran positif dan konstruktif bagi pemirsa.

B. Efek Kehadiran Media Massa
Media komunikasi, dalam hal ini media massa memiliki fungsi-fungsi bagi individu. Denis McQuail mengemukakan bahwa ada empar macam fungsi media massa bagi individu. Keempat macam fungsi tersebut adalah sebagai pemberi informasi, sebagai pemberi identitas pribadi, sebagai sarana integrasi dan interaksi sosial dan sebagai sarana hiburan.
Individu menjadikan media massa sebagai sumber berita dan informasi yang dapat memberikan kepuasan bagi diri sendiri dalam memperoleh pengetahuan dan penentuan pilihan. Selain berfungsi sebagai pemberi informasi, media massa berfungsi sebagai pemberi identitas pribadi khalayak yaitu sebagai model perilaku. Dalam hal ini, model perilaku dapat diperoleh dari sajian media. Apakah itu model perilaku yang sama dengan yang dimiliki seseorang atau bahkan yang kontra dengan yang dimiliki orang yang bersangkutan.
Selain berfungsi sebagai pemberi identitas dan model perilaku, media massa juga berfungsi sebagai sarana untuk mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain. Manusia memiliki nilai-nilai hidupnya sendiri yang pada gilirannya akan ia gunakan untuk melihat dunia. Namun manusia juga perlu untuk melihat nilai-nilai yang diciptakan oleh media. Seperti dipahami bahwa media membawa nilai-nilai dari seluruh penjuru dunia. Implikasinya adalah konsumen media dapat mengetahui nilai-nilai lain di luar nilainya.
Fungsi lain media massa sebagai pemberi identitas, dimana media sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman mengenai diri sendiri. Untuk melihat serta menilai siapa, apa dan bagaimana diri seorang individu, pada umumnya dibutuhkan pihak lain. Seseorang harus meminjam kacamata orang lain. Media dapat digunakan sebagai salah satu kacamata untuk melihat siapa, apa serta bagaimana diri kita sesungguhnya.
Media membantu individu dengan memberikan berbagai pilihan topik yang bisa digunakan dalam membangun dialog dengan orang lain. Hal ini pada gilirannya menjadikan media massa sebagai sarana integrasi dan interaksi sosial berfungsi untuk penyedia bahan percakapan dalam interaksi sosial.
Fungsi keempat media massa adalah sebagai hiburan. Berkaitan dengan itu media massa menjalankan fungsinya untuk melepaskan khalayak dari masalah yang dihadapinya. Media menjadi alternatif untuk membantu khalayak dalam melepaskan diri dari problem yang sedang dihadapi atau lari dari perasaan jenuh.
Khalayak juga memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis dari mengkonsumsi media massa. Manusia tidak saja perlu untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, namun ia juga harus memenuhi kebutuhan rohaninya, jiwanya. Kebutuhan ini dapat terpuaskan dengan adanya media massa. Media massa memenuhi kebutuhan tersebut dengan sajian yang menurut media yang bersangkutan dapat dinikmati dan memiliki nilai estetika.
Media massa sebagai tempat penyaluran emosi. Ini merupakan fungsi lain dari media massa sebagai sarana hiburan. Emosi pasti melekat dalam diri setiap manusia. Emosi butuh penyaluran, dan salah satu salurannya adalah dengan mengkonsumsi media massa atau bahkan memproduksi media yang senada dengan emosinya.
Efek media massa sebagai akibat dari ledakan teknologi komunikasi, tidak luput dari perhatian berbagai pakar. Berbagai keprihatinan muncul seiring dengan ketakutan sebahagian orang terhadap kekuatan alat-alat elektronik yang dianggap dapat mengendalikan pikiran orang. Namun ketakutan tersebut telah dapat dilunakkan lewat berbagai kajian ilmiah terutama bagi kalangan masyarakat yang dapat menerimanya.
Para pakar mempunyai pandangan yang berbeda mengenai efek media terhadap khalayak. Perbedaan pandangan tersebut disebabkan perbedaan latar belakang teoretis atau latar belakang historis dan perbedaan dalam mendefinisikan efek. Scharam mengatakan efek hanyalah perubahan perilaku manusia setelah diterpa pesan media. Menurut Steven M. Chaffe melihat efek pesan yang disampaikan media adalah pendekatan pertama dalam mempelajari pengaruh media massa. Pendekatan kedua menurut Steven M. Chaffe adalah melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak, seperti perubahan perasaan, perubahan sikap dan perubahan perilaku atau dengan istilah lain perubahan kognitif, afektif dan behavioral. Pendekatan ketiga adalah meninjau satuan observasi yang dikenai efek media massa, seperti individu, kelompok, organisasi, masyarakat atau sebuah bangsa.
McLuhan mengatakan bahwa media adalah perluasan dari alat indra manusia. Media membentuk dan mengendalikan skala serta bentuk hubungan dan tindakan manusia. McLuhan juga mengatakan bahwa kehadiran media massa sebagai benda fisik mempunyai efek bagi khalayak. Teori yang dikemukakan McLuhan disebut dengan teori perpanjangan alat indra. Sikap seseorang tidak berkembang hanya karena pemenuhan terhadap keinginan tetapi dapat terbentuk melalui informasi yang diterapkan kepadanya.
Pembicaraan mengenai efek komunikasi massa, erat kaitannya dengan teori dependensi mengenai efek komunikasi massa yang dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin L. Defleur (1976) yang memfokuskan perhatiannya pada kondisi struktural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan terjadinya efek media massa.
Pemikiran terpenting dalam teori dependensi adalah bahwa dalam masyarakat modern, audiens menjadi tergantung pada media massa sebagai sumber informasi bagi pengetahuan tentang dan orientasi kepada apa yang terjadi dalam masyarakatnya. Jenis dan tingkatan ketergantungan akan dipengaruhi oleh sejumlah kondisi struktural, meskipun kondisi terpenting terutama berkaitan dengan tingkat perubahan, konflik atau tidak stabilnya masyarakat tersebut. Jenis-jenis efek yang dapat dipelajari dari teori dependensi adalah efek kognitif, afektif dan behavioral.


1. Efek Kognitif Media massa
Efek kognitif media massa bagi khalayak terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, difahami, atau dipersepsi khalayak. Efek kognitif berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan atau informasi. Efek kognitif berkaitan juga dengan penciptaan atau penghilangan ambiguitas, pembentukan sikap, agenda setting, perluasan sistem keyakinan masyarakat dan penegasan terhadap nilai-nilai.

2. Efek Afektif Media Massa
Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak. Efek afektif ada hubungannya dengan emosi, sikap atau nilai. Efek afektif berkaitan juga dengan penciptaan ketakutan atau kecemasan, meningkatkan atau menurunkan dukungan moral.

3. Efek Behavioral Media Massa
Efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku. Termasuk juga efek behavioral media massa, yaitu mengaktifkan/ menggerakkan atau meredakan, pembentukan issu tertentu atau penyelesaiannya, menjangkau atau menyediakan strategi untuk suatu aktivitas dan menyebabkan perilaku dermawan.
Dalam pandangan Burhan Bungin, media massa yang secara teoretis memiliki fungsi sebagai saluran informasi, saluran pendidikan dan saluran hiburan secara realitas memberi efek lain di luar fungsinya itu. Efek media massa tidak hanya mempengaruhi sikap seseorang, tetapi juga mempengaruhi perilaku, bahkan pada tataran yang lebih jauh efek media massa dapat mempengaruhi sistem-sistem sosial maupun sistem budaya masyarakat. Efek media dapat pula mempengaruhi seseorang dalam waktu pendek dan juga dapat memberi efek dalam waktu yang lama. Hal tersebut karena efek media massa terjadi secara disengaja dan ada yang tida disengaja.
Denis McQuail sebagaimana dikutip Burhan Bungin menjelaskan bahwa efek media massa ada yang sifatnya sebagai efek yang direncanakan dan efek yang tidak direncanakan. Efek media massa yang direncanakan bisa terjadi dalam waktu yang pendek atau waktu yang cepat, dan bisa juga terjadi dalam waktu yang lama. Efek media massa yang dapat direncanakan dan terjadi dalam waktu yang cepat yaitu seperti propaganda, respons individu, kampanye media dan agenda setting.
Efek media massa yang tidak terencana dapat berlangsung dalam dua tipologi, yaitu terjadi dalam waktu cepat dan terjadi dalam waktu lama. Terjadi dalam waktu cepat misalnya tindakan reaksional terhadap pemberitaan yang tiba-tiba mengagetkan masyarakat. Terjadi dalam waktu lama misalnya pemberitaan media massa tentang kekerasan dan kriminal, seperti Derap Hukum, Tikam, Patroli dan lain-lain. Sekilas dalam waktu pendek informasi tersebut tidak bermasalah. Orang yang menonton acara tersebut tidak langsung melakukan tindakan-tindakan melanggar hukum yang dilihatnya di televisi atau media massa lain. Namun dalam waktu yang lama, tanpa disadarinya acara-acara tersebut akan menciptakan jalan keluar yang tidak dikehendaki oleh dirinya sendiri, apabila mengalami masalah yang sama dengan apa yang dilihatnya di televisi.
Selain yang dijelaskan oleh McQuail, secara empirik efek media massa yang tidak diharapkan (cenderung merusak) memiliki andil dalam hal pembentukan sikap, perilaku dan keadaan masyarakat. Antara lain adalah sebagai berikut:
1. Penyebaran budaya global yang menyebabkan masyarakat berubah dari tradisional ke modern, dari modern ke postmodern dan dari taat beragama ke sekuler.
2. Terjadinya perilaku imitasi yang kadang menjurus kepada meniru hal-hal yang buruk dari apa yang ia lihat dan ia dengar dari media massa.
3. Berita kekerasan dan terror di media massa telah memicu terbentuknya ketakutan massa di masyarakat. Masyarakat selalu merasa tidak aman, tidak menyenangkan bahkan tidak nyaman menjadi anggota masyarakat tertentu.


C. Teori-Teori Motivasi
Bila diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan terlihat bahwa manusia mempunyai perbedaan yang sangat nyata dalam melewati kehidupannya masing-masing. Perbedaan itu terlihat bahwa sebahagian di antara manusia ada yang melakukan pekerjaan dengan gigih dan sebahagian di antaranya ada yang melakukan pekerjaan dengan santai, bahkan ada yang tidak berbuat apa-apa. Kenapa ada orang yang bekerja sungguh-sungguh, kenapa ada yang bekerja dengan santai? Tentu hal tersebut merupakan gejala kejiwaan yang menarik untuk diperhatikan. Dari sudut pandang psikologi, dorongan-dorongan yang terjadi pada diri manusia, sebagaimana dijelaskan di atas diistilahkan dengan motivasi.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa istilah motivasi mengacu pada sebab atau mengapa seseorang berperilaku. Oleh sebab itu motivasi meliputi segala aspek psikologi. Namun para psikolog tetap membatasi konsep motivasi pada faktor-faktor yang menguatkan perilaku dan memberikan arahan pada perilaku. Suatu organisme yang dimotivasi akan melakukan aktivitasnya secara lebih giat dan lebih efisien dibandingkan dengan organisme yang berkreativitas tanpa motivasi. Selain menguatkan organisme, motivasi cenderung mengarahkan kepada suatu tingkah laku tertentu.
Selama tahun 1950-an, para psikolog mulai meragukan dorongan dari motivasi sebagai penjelasan tentang semua jenis perilaku manusia. Bagi mereka organisme tidak hanya didorong oleh faktor internal, tetapi stimuli eksternal yang disebut insentif juga memegang peranan penting dalam menggugah perilaku. Oleh sebab itu, pendekatan yang lebih baru terhadap teori motivasi memfokuskan perhatian pada peran insentif, yaitu keadaan lingkungan yang menjadi motivasi bagi organisme. Insentif positif menggugah organisme untuk mendekatinya dan insentif negatif mengarahkan perilaku ke arah menjauhinya.
Agar lebih jelas apa yang dimaksud dengan motivasi, di bawah ini akan dijelaskan beberapa pengertian mengenai motivasi.

1. Pengertian Motivasi
Istilah motivasi baru digunakan sejak awal abad kedua puluh. Secara bahasa kata motivasi berasal dari bahasa Inggris yaitu motivation yang kata kerjanya adalah motivate yang berarti “to provide with motives, as the characters in a story or play” artinya “sebagai karakter dalam cerita atau permainan.” Dalam Kamus Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa motivasi adalah usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dijelaskan bahwa motivasi adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan. Para psikolog membedakan motif dengan motivasi. Motif adalah penggerak bagi timbulnya motivasi. Motif merupakan tahap awal dari proses motivasi, sehingga motif baru merupakan suatu kondisi intern atau kesiap siagaan. Dengan demikian motivasi mereka artikan dengan segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan. Dengan kata lain, motivasi merupakan dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tingkah laku.
Para ahli psikologi menempatkan motivasi pada posisi penentu bagi kegiatan hidup individu dalam usahanya mencapai tujuan. Hubert Bonner mengatakan bahwa motivasi bersifat dinamis. Motivasi disebut juga dengan suatu pernyataan kompleks yang mengarahkan tingkah laku ke suatu tujuan.
Dalam motivasi terdapat satu dorongan dinamis yang mendasari segala tingkah laku manusia. Dorongan tersebut muncul dari tujuan dan kebutuhan. Bilamana terdapat rintangan dalam mencapai tujuan yang diinginkan, maka dengan motivasi seseorang dapat melipatgandakan usahanya untuk mengatasi rintangan dalam mencapai tujuan tersebut. Sebab itu motivasi dipandang perlu dalam kehidupan manusia.
Berdasarkan munculnya, maka ada motivasi yang muncul dari dalam diri yang disebut dengan motivasi intrinsik yang bersifat batin dan ada pula motivasi yang berasal dari luar atau disebut dengan motivasi ekstrinsik. Berdasarkan sifatnya yang intrinsik, motivasi muncul sebagai akibat adanya tiga hal pokok, yaitu kebutuhan, pengetahuan dan aspirasi cita-cita. Sementara itu, motivasi ekstrinsik muncul sebagai akibat adanya tiga hal juga yaitu ganjaran, hukuman dan persaingan atau kompetisi.
Dari uraian yang telah dipaparkan, maka dapat diketahui motivasi memiliki tiga komponen pokok, yaitu:
a. Menggerakkan. Dalam hal ini motivasi menimbulkan kekuatan pada individu, membawa seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu.
b. Mengarahkan. Dalam hal ini motivasi mengarahkan tingkah laku dengan orientsi tujuan untuk mencapai sesuatu.
c. Menopang. Artinya, motivasi berguna untuk menopang tingkah laku seseorang untuk melakukan interaksi dan arah dorongan-dorongan dan kekuatan individu.


2. Teori-Teori Motivasi
Motivasi dipandang sangat penting dalam kehidupan manusia. Setelah memberikan pengertian, para psikolog juga menyumbangkan teori-teori yang berkaitan dengan motivasi.

a. Sigmund Freud
Sigmund Freud adalah tokoh psikoanalisis yang berpendapat bahwa dasar motivasi tingkah laku manusia adalah insting (naluri). Psikoanalisis digolongkan ke dalam aliran psikologi mazhab pertama yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud (1858-1939). Psikoanalisis Sigmund Freud dijembatani oleh jasa pemikiran Mc Dougal yang membicarakan tentang insting.
Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia berasal dari dua kelompok naluri yang bertentangan, yaitu naluri kehidupan dan naluri kematian. Naluri kehidupan meningkatkan hidup dan pertumbuhan seseorang. Energi kehidupan adalah libido yang berkisar pada kegiatan seksual. Naluri kematian mendorong manusia ke arah kehancuran. Naluri kematian dapat diarahkan kepada diri sendiri dalam bentuk bunuh diri dan perilaku merusak diri sendiri atau orang lain (agresi).
Freud berpandangan bahwa seks dan agresi merupakan dua motif dasar perilaku manusia yang dapat bersifat positif dan negatif, konstruktif dan destruktif. Pertentangan tersebut dijelaskan oleh Sigmund Freud dengan membagi struktur kepribadian manusia yang akhirnya menjadi fokus perhatiannya. Struktur kepribadian manusia yang dimaksud Freud adalah, id, ego dan superego. Id adalah kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia sering juga disebut dengan libido. Ego sebagai mediator yang bekerja atas dasar prinsip realitas dan superego adalah hati nurani yang merupakan internalisasi dari sistem moral dari kepribadian mewakili yang ideal.
Dalam pandangan psikoanalisis, naluri merupakan bagian terpenting dari pandangan mekanisme terhadap manusia. Naluri merupakan suatu kekuatan biologis bawaan yang mempengaruhi anggota tubuh untuk berlaku dengan cara tertentu dalam keadaan tepat. Sehingga semua pemikiran dan perilaku manusia merupakan hasil dari naluri yang diwariskan dan tidak ada hubungannya dengan akal. Dalam hal ini Freud percaya bahwa dalam diri manusia ada sesuatu yang tanpa disadari menentukan setiap sikap dan perilaku manusia.

b. Abraham Maslow
Abraham Maslow adalah tokoh psikologi humanistik. Psikologi humanistik dianggap sebagai revolusi ketiga dari psikologi setelah psikoanalisis dan behaviourisme. Psikologi humanis banyak mengambil dari fenomenologis dan eksistensialisme. Para pakar psikologi ini mempunyai pandangan, bahwa manusia hidup dalam dunia kehidupan yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Psikologi humanistik sangat besar perhatiannya terhadap makna kehidupan. Salah satu pernyataan yang sesuai dengan paham humanistik dalam psikologi yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Carl R. Rogers dan Abraham Maslow adalah, kebebasan merupakan panggilan jiwa manusia.
Baik Rogers maupun Maslow beranggapan bahwa setiap orang akan selalu mengembangkan dirinya semaksimal mungkin. Hal tersebutlah yang mendorong manusia untuk berperilaku. Maslow berpendapat bahwa manusia dimotivasi oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah dan berasal dari sumber geneses atau naluriah.
Maslow menyusun hirarki kebutuhan manusia mulai dari kebutuhan biologis sampai kebutuhan psikologis yang sangat kompleks. Dari keinginan yang rendah kepada keinginan tinggi. Kebutuhan manusia menurut Maslow adalah sebagai beriukut:
1. Kebutuhan fsiologis, misalnya rasa lapar dan haus.
2. Kebutuhan akan rasa aman.
3. Kebutuhan anak cinta dan rasa memiliki.
4. Kebutuhan akan harga diri.
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri.

Aliran humanistis kemudian mengembangkan sayapnya secara spesifik membentuk psikologi transpersonal, dengan landasan pengalaman keagamaan sebagai peak experience. Menurut Maslow psikologi belum sempurna sebelum difokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal. Menurut Maslow, orang yang berhasil dalam usaha tersebut akan merasakan pengalaman puncak (peak experiences) yang wujudnya adalah perasaan bahagia. Pengalaman puncak yang transenden digambarkan sebagai kondisi yang sehat super normal (normal super healthy) sebagaimana disebutkan Maslow dengan peakers dan non-peakers. Peakers memiliki pengalaman puncak. Kelompok ini cenderung menjadi lebih saleh.

c. K.S. Lashley
Motivasi dikendalikan oleh respon-respon susunan saraf sentral ke arah rangsangan dari dalam dan dari luar yang variasinya sangat kompleks. Tingkah laku yang dimotivasi tidak hanya tergantung pada satu rangsangan, tapi tergantung pula pada pola rangsang yang kompleks, meskipun satu rangsangan saja sudah dapat menimbulkan respon. Padangan Lashley menunjukkan pahamnya yang bersifat fisiologis (badaniah) bukan psikologis (rohaniah).

3. Motivasi dalam Alqur’an
Manusia termotivasi untuk melakukan perbuatan digerakkan oleh suatu sistem yang disebut sebagai sistem nafs. Di sampaing mampu memahami dan merasa, sistem nafs juga mendorong manusia untuk melakukan sesuatu yang dibutuhkan. Jika motif telah bergerak secara kuat pada seseorang, maka ia mendominasi seseorang dan mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan.
Dalam sistem nafs, motif bersifat fitri. Isyarat motifasi yang menggerakkan tingkah laku manusia dalam sistem nafs dipaparkan dalam Al Qur’an surah Yusuf ayat 53.
وما ابرئ نفس إن النفس لامارة بالسوء الا مارحم ربي غفور رحيم (يوسف:٥٣)
Artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat di atas menjelaskan bahwa dalam sistem nafs manusia terdapat motivasi yang menggerakkan ke arah kejahatan. Tapi jika seseorang berpegang teguh kepada tuntunan agama dan akhlak, maka perilaku seseorang akan menjadi positif atau baik. Oleh sebab itu harus dipahami bahwa di dalam sistem nafs juga terdapat naluri atau insting yang memiliki kecenderungan tertentu. Dorongan-dorongan nafs tersebut ada yang disadari dan ada pula yang tidak disadari.
Motivasi manusia untuk berbuat baik merupakan dorongan psikis yang mempunyai landasan alamiah dalam watak kejadian manusia. Maksudnya, manusia melakukan sesuatu karena sebagai motif bawaan dalam wujud fitrah. Hal tersebut dijelaskan dalam Al Qur’an surah ar-Rum ayat 30.
فاقم وجحك للدين حنيفا فطرت الله التي فطرالناس عليها لاتبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن اكثرالناس لايعلمون (الروم:٣٠)
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia mampunyai sifat bawaan yang bersifat fitrah. Hal tersebut memperlihatkan bahwa sejak diciptakan manusia memiliki potensi dasar yang mendorong untuk melakukan berbagai macam bentuk perbuatan, tanpa disertai dengan peran akal sehingga terkadang tanpa disadari manusia bersikap dan bertingkah laku untuk menuju pemenuhan fitrahnya.
Dari sudut pandangan Islam, Utsman Najati membagi motivasi kedalam tiga bagian, yaitu motivasi fisiologis, motivasi psikologis dan spritual. Motivasi fisiologis, pada umumnya berhubungan dengan pemenuhan manusia terhadap kebutuhan tubuh dalam rangka menjaga keseimbangan organik dan kimiawi tubuh, misalnya rasa lapar, haus, bernafas, istirahat dan lain-lain. Sedangkan motivasi psikologis dan spritual bertujuan untuk memenuhi kebutuhan jiwa dan ruh manusia. Karena motivasi tersebutlah yang dapat memberikan kepuasan hidup, rasa aman, tentram dan bahagia. Dalam pandangan Najati, manusia yang tidak mendapatkan motivasi psikologis dan spritual tidak akan merasakan ketenangan jiwa. Bahkan sebaliknya ia akan merasa gelisah dan dihantui perasaan bahwa kelak dia akan celaka.

D. Teori Penggunaan dan Efek (Uses and Effects)
Pembahasan mengenai teori efek komunikasi massa sudah banyak dibicarakan para pakar. Salah satu di antara teori-teori tersebut adalah teori tentang penggunaaan dan efek (uses and effects), yaitu sebuah pemikiran yang pertama kali dikemukakan oleh Sven Windhal (1979). Teori uses and effects merupakan sintesis antara pendekatan uses and gratifications dan teori tradisional mengenai efek. Konsep use (penggunaan) merupakan pokok pemikiran dalam teori ini, karena pengetahuan mengenai penggunaan media dan penyebabnya, akan memberikan jalan bagi pemahaman dan perkiraan tentang hasil dari suatu proses komunikasi massa.
Penggunaan media massa dapat memiliki banyak arti. Ini dapat berarti exposure yang semata-mata menunjukkan pada tindakan mempersepsi. Dalam konteks lain, pengertian tersebut dapat menjadi suatu proses yang lebih kompleks, di mana isi terkait dengan harapan-harapan tertentu untuk dapat dipenuhi. Teori uses and effects berbeda dengan teori uses and gratifications. Pada teori uses and gratifications dijelaskan bahwa penggunaan media pada dasarnya ditentukan oleh kebutuhan dasar individu. Sedangkan pada teori uses and effects dijelaskan bahwa kebutuhan terhadap media hanyalah salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penggunaan media. Karakteristik individu, harapan dan persepsi terhadap media dan tingkat akses kepada media, akan membawa individu kepada keputusan untuk menggunakan atau tidak menggunakan isi media massa.
Teori uses and effects membicarakan tentang hubungan antara penggunaan media dengan hasil dari proses komunikasi massa. Hubungan antara penggunaan dan hasilnya dengan memperhitungkan isi media memiliki bebera bentuk yang berbeda, yaitu:

1. Pada kebanyakan teori efek tradisional, karakteristik isi media menentukan sebagian besar dari hasil. Dalam hal ini penggunaan media hanya dianggap sebagai faktor perantara dan hasil dari proses dinamakan efek.
2. Dalam berbagai proses, hasil lebih merupakan akibat penggunaan daripada karakteristik isi media. Penggunaan media dapat mengecualikan, mencegah atau mengurangi aktivitas lainnya, di samping dapat pula memiliki konsekwensi psikologis seperti ketergantungan pada media tertentu. Jika penggunaan merupakan penyebab utama dari hasil, maka ia disebut konsekuensi.
3. Kita dapat juga beranggapan bahwa hasil ditentukan sebagian oleh isi media (melalui perantaraan penggunaannya) dan sebagian lain oleh penggunaan media itu sendiri. Oleh karenanya ada dua proses yang bekerja secara serempak yang bersama-sama menyebabkan terjadinya suatu hasil yang disebut dengan coseffects (gabungan dari konsekuensi dan effek).

Ketiga hubungan di atas dapat di lihat pada gambar di bawah ini.






Hasil dari proses komunikasi massa dapat ditemukan pada tataran individu maupun tataran masyarakat. Gambaran selengkapnya dapat disimak dari gambar di bawah ini.

























E. Kajian Terdahulu
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan penulis di beberapa perpustakaan dan Perguruan Tinggi di Medan, penelitian yang sama dengan “Pengaruh menonton siaran ilustrasi kriminal di televisi terhadap kondisi psikologis masyarakat kecamatan Medan Amplas kota Medan” belum pernah dilakukan. Namun teori uses and effect banyak dijadikan para pakar maupun para peneliti sebagai landasan teori penelitian yang berkaitan dengan efek ataupun pengaruh media massa.
Penelitian yang mengkaji pengaruh media massa dan motivasi khalayak dalam menonton pernah dilakukan Severin, namun penelitian yang dilakukan Severin terfokus secara khusus pada motivasi khalayak untuk menonton televisi. Dari hasil penelitian Severin diperoleh informasi bahwa khalayak menggunakan media, karena khalayak butuh informatif, mendidik, khayali, pelarian dan hiburan.
Penelitian tentang “Pengaruh Program Berita Kriminal Televisi Terhadap Peningkatan Kriminalitas di Kota Padang,“ pernah juga diteliti oleh Deni Risman. Namun peneliti hanya memfokuskan penelitiannya terhadap berita kriminal, bukan pada acara rekonstruksi tindak kriminal seperti yang akan diteliti penulis. Dari hasil penelitian Deni Risman diperoleh informasi bahwa berita kriminal yang disiarkan televisi sangat mempengaruhi tindak kriminal di kota Padang. Penelitian tentang “Berita Kekerasan Terhadap Wanita dalam Surat Kabar Harian Kota Medan” pernah juga dilakukan oleh Nurhanifah mahasiswa Pascasarjana IAIN SU Medan tahun 2005.
Penelitian yang dilakukan Nurhanifah tidak membicarakan bagaimana pengaruh kekerasan yang disiarkan media terhadap masyarakat di kota Medan. Penelitian Nurhanifah hanya menganilisis isi berita kekerasan pada surat kabar harian Medan dan terfokus pada: pertama, tindak kekerasan pada wanita di surat kabar harian Medan. Kedua, penelitian Nurhanifah hanya mengkupas bagaimana penonjolan berita tindak kekerasan terhadap wanita di surat kabar harian Medan. Ketiga, menjelaskan bentuk-bentuk kekerasan yang dialami korban. Keempat menjelaskan motif tindak kekerasan yang dilakukan. Kelima, menjelaskan hubungan korban dengan pelaku kekerasan. Keenam, pengaruh peristiwa kekerasan terhadap korban dan pelaku yang bersangkutan.
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan penulis, dapat dinyatakan bahwa penelitian tentang “Pengaruh Menonton Siaran Rekonstruksi Kriminal Terhadap Kondisi Psikologis Masyarakat Kecamatan Medan Amplas Kota Medan,” belum pernah dilakukan sebelumnya. Dengan demikian penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu yang telah disebutkan, karena yang akan diteliti adalah pengaruh siaran rekonstruksi kriminal terhadap kondisi psikologis masyarakat Kecamatan Medan Amplas kota Medan.

F. Hipotesis
Hipotesis berasal dari bahasa Inggris, yaitu dari kata “hypo”, artinya di bawah dan “thesa”, artinya kebenaran. Dengan demikian hipotesis adalah kebenaran yang bersifat sementara dan perlu diuji keabsahannya. Hipotesis ada dua macam, yaitu hipotesis alternatif (Ha) yaitu hipotesis yang menunjukkan adanya perbedaan antara variabel X dan variabel Y, sedangkan hipotesis nol (Ho) adalah hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara varibel X dan variabel Y.
Variabel X dalam penelitian ini adalah “Menonton siaran rekonstruksi kriminal di televisi.” Variabel Y adalah “kondisi psikologis masyarakat.” Hipotesis alternatif (Ha) yang diajukan adalah, “Ada pengaruh menonton siaran rekonstruksi kriminal di televisi terhadap kondisi psikologis masyarakat kecamatan Medan Amplas”. Hipotesis nolnya (Ho) adalah, “Tidak ada pengaruh menonton siaran rekonstruksi kriminal di televisi terhadap kondisi psikologis masyarakat kecamatan Medan Amplas.”

Variabel X “Menonton Siaran rekonstruksi kriminal Variabel Y “Kondisi psikologis masyarakat”
1. Pemahaman tentang siaran rekonstruksi kriminal
2. Frekwensi menonton.
3. Waktu dan tempat menonton.
4. Pandangan tentang frekwensi siaran rekonstruksi kriminal.
5. Rekonstruksi kriminal yang disukai.
6. Motivasi menonton. 1. Ada tidaknya keinginan untuk melakukan hal yang sama dengan yang ditonton.
2. Perasaan cemas.
3. Perasaan khawatir.
4. Perasaan waswas
5. Perasaan rakut.
6. Harapan kepada pihak televisi dan masyarakat terkait dengan siaran rekonstuksi kriminal.

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>