Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 29 April 2011

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam sistem demokrasi akan terwadahi heterogenitas masyarakat baik dari sisi agama, etnik, keragaman, ide, aliran pemikiran, ideologi dan semua produk pemikiran manusia. Oleh karena sifat mayoritas merupakan salah satu ukuran dalam demokrasi, maka pengaruh sebuah pemikiran ditentukan oleh kemampuannya menjadi arus di masyarakat. Karena itu opini publik menjadi sangat penting dalam demokrasi, sama pentingnya dengan lembaga legislatif dan lembaga eksekutif. Artinya wacana publik harus dimenangkan dulu sebelum memenangkan wacana legislasi dan memenuhi lembaga eksekutif. Dalam kehidupan demokrasi langsung dan pemilihan secara langsung maka pencitraan menjadi sangat penting. Penilaian publik sebagai konstituen menjadi penentu bagi suatu tujuan politik. Karenanya dalam demokrasi langsung, sebuah pencitraan harus dibangun secara sistematis dan terukur untuk mencapai hasil yang maksimal. Di samping itu, faktor pendorong lainnya dalam memenangkan wacana publik adalah kemampuan memobilisasi opini publik. Kenyataannya, dalam kehidupan politik menunjukkan bahwa seorang pemimpin politik adalah orang yang memiliki kemampuan memobilisasi opini publik; dan kegiatan memobilisasi opini publik adalah komunikasi. Suatu akibat dari ledakan teknologi komunikasi tercermin dalam perhatian pada efek media massa pada masyarakat. Alat-alat elektronika yang canggih dikhawatirkan mempunyai kekuatan mengendalikan pikiran orang. Untungnya, ketakutan ini telah dilunakkan oleh pengkajian ilmiah yang serius tentang efek media massa pada rakyat yang menerimanya. Diskursus yang berkembang dan mengemuka dalam hal memenangkan wacana publik adalah; Haruskah kita punya media kalau ingin memenangkan wacana publik? Pendapat yang menyatakan bahwa media harus dimiliki untuk memenangkan wacana publik mengemukakan bahwa media adalah alat yang sangat vital sebagai saluran untuk pembentuk opini umum. Arus deras informasi dari media massa akan dengan sedemikian rupa membentuk suatu opini seperti yang diinginkan oleh si perancang pesan sehingga memperoleh dukungan secara luas oleh publik. Media massa memiliki peranan yang amat menentukan dalam membentuk pendapat umum terhadap suatu persoalan. Sesuatu yang sesungguhnya tidak terlalu penting namun dapat berubah menjadi penting sebagai akibat dari opini publik yang dihasilkan oleh media massa. Sama halnya orang yang sesungguhnya tidak terlalu menonjol akan tetapi dapat menjadi orang penting dari hasil liputan media massa terhadap dirinya. Demikian pula dengan keberagamaan. Wujud keberagamaan mengalami perubahan yang cukup drastis pada masa belakangan ini, salah satunya sebagai akibat dari pendapat umum yang dikemas media massa. Pada masa lalu, fenomena keberagamaan lebih banyak dilihat sebagai kreatifitas masyarakat agraris dengan pola kehidupan yang dibentuk oleh berbagai mitos dan legenda. Wacana keberagamaan lebih banyak dilihat sebagai aktifitas kemanusiaan yang paling pribadi dan oleh karena itu tidak layak difahami memiliki keterkaitan dengan pranata sosial, politik, ekonomi, pendidikan, hukum, sosial dan sebagainya. Akan tetapi media massa mengkemas penampilan keberagamaan itu dan akhirnya sekarang ini wujud keberagamaan telah mengalami perubahan yang dahsat karena telah merambah bidang politik, ekonomi, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesenian, entertainment dan lain-lain. Bahkan terkadang penampilan agama itu menjadi kehilangan sakralitas dan spiritualitas praktis. Tampilan agama dapat menjadi lunak atau keras akan sangat tergantung bagaimana media massa mengkemasnya. Pendapat lain yang berbeda menyebutkan bahwa tugas untuk memenangkan wacana publik tidak hanya dapat disederhanakan dengan cara memiliki media. Karena memenangkan wacana publik adalah jauh lebih besar dari itu yakni suatu seni tentang bagaimana mempengaruhi dan menyusun kerangka pemikiran masyarakat. Atau bagaimana membuat publik berfikir dengan cara yang diinginkan, bagaimana membuat publik mempersepsikan sesuatu dengan lensa yang dikenakan kepada mereka. Pikiran adalah referensi yang diperlukan masyarakat untuk memberi arah, merasionalisasikan sikap dan tindakan, membantu menentukan pilihan, menjawab pertanyaan-pertanyaan dan memberi solusi. Takkalah Uni Sovyet runtuh di awal dekade 90-an, orang-orang Barat merayakannya sebagai suatu kemenangan kapitalisme dan ekonomi pasar. Bagi mereka, komunisme tidak lagi sanggup menjawab tantangan zaman yang dihadapi masyarakat. Komunisme mengalami masa sulit yang tidak kunjung selesai manakala negara yang menyangganya kemudian mengalami kesulitan untuk tetap bertahan. Maka syarat pertama yang harus dimiliki adalah kekayaan pikiran yang ditentukan oleh dua hal yakni kekayaan orisinalitas referensi dan kemampuan mengekspresikan referensi dan memformulasikannya untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan zaman. Umat Islam memiliki yang pertama tetapi harus berlatih untuk memiliki yang kedua. Umat Islam memiliki Alquran dan Sunnah, namun mesti berijtihad untuk menemukan ‘mutiara-mutiaranya’. Sebuah pemikiran dengan struktur yang solid akan berpengaruh pada tiga hal. Pertama, pada tingkat kejelasan pikiran dalam benak kita pada keseluruhan susunan kesadaran kita. Kedua, pada tingkat keyakinan kita terhadap pemikiran tersebut, yang biasanya selalu tinggi. Ketiga pada kemampuan kita membahasakannya atau pada daya ungkap yang tercipta dari kejelasan pikiran tersebut. Semakin jelas pemahaman kita terhadap suatu pikiran, semakin sempurna kemampuan kita membahasakannya. Kemampuan meyakinkan publik telah berkembang menjadi sebuah pengetahuan baru yang dalam hal ini orang tidak lagi mempertanyakan kebenaran dari sebuah pikiran, tetapi berpikir bagaimana menjadikannya sebagai milik publik. Hal ini bertumpu kepada beberapa hal. Pertama pada penguasaan teoretis terhadap pikiran kita tentang struktur pemikiran orang lain dan varian-varian yang membentuknya. Kedua pada kejelian kita dalam menentukan entry point yang tepat untuk melakukan penetrasi terhadap pemikiran orang lain. Ketiga pada kemampuan menemukan format bahasa yang tepat dengan struktur kesadaran, bentuk logika, kecenderungan estetika, dan situasi psikologis serta momentum yang mengkorelasi pikiran kita dengan suasana mereka. Inilah yang disebut dengan seni mempengaruhi dan menyusun kerangka pemikiran masyarakat. Inilah uraian dari firman Allah yang berbunyi; Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya supaya dia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. ...dan hendaklah mereka mengucapkan perkataaan yang benar. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. ...dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. Dalam perspektif Islam, komunikasi massa ini ditekankan pada aspek subjek dan objek yakni komunikator itu sendiri, pesan dan cara penyampaian pesan tersebut. Sementara aspek efek dari pesan yang dirancang berdasarkan Alquran dan Hadis adalah sesuatu yang sejalur. Mahyuddin Abd.Halim menulis bahwa komunikasi Islam adalah proses penyampaian atau pengoperan hakikat kebenaran agama Islam kepada khalayak yang dilaksanakan secara terus menerus dengan berpedoman kepada Alquran dan Al Sunnah baik secara langsung atau tidak, melalui perantaraan media umum atau khusus, yang bertujuan untuk membentuk pandangan umum yang benar berdasarkan hakikat kebenaran agama dan memberi kesan kepada kehidupan seseorang dalam aspek aqidah, ibadah dan muamalah. Aspek objek yang dimaksud adalah kejujuran dalam berbicara, menepati janji, memenuhi amanah, menjaga kemaluan, menundukkan pandangan, dan mengekang diri dari perbuatan maksiat. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Musnand Ahmad, IV/205: ”Diriwayatkan dari ’Ubadah bin Shamit bahwa Nabi SAW bersabda: Berilah jaminan kepadaku enam hal dari kamu sekalian, maka aku akan menjamin surga untuk kamu sekalian. Enam hal itu dalah 1) berlakulah jujur jika berbicara, 2) tepatilah janji, jika kamu berjanji, 3)laksanakanlah (dengan baik) jika kamu diberi amanah (dipercaya), 4) jagalah kemaluanmu, 5) tundukkanlah pandangan matamu, 6) kekanglah tanganmu (dari melakukan perbuatan maksiat). (H.R. Imam Ahmad) Selanjutnya meskipun dalam porsi dan dasar pemikiran yang berbeda, namun dua pendapat tentang media massa ini sebetulnya memiliki persamaan yakni menjadikan media massa sebagai alat untuk memenangkan wacana publik. Dalam dunia politik, tugas memenangkan wacana publik ini juga tidak bisa dilepaskan dari peranan media massa. Ini sudah mulai tampak mencolok di tahun 1968 ketika Presiden Amerika Serikat Richard Nixon memenangkan nominasi partainya berkat liputan televisi. Ada tiga staf Nixon yang menonjol dalam hal ini, yakni Roger Ailes, Harry Treleaven dan Al Scott. Dalam masyarakat ada kelompok yang berjumlah banyak dan terus bertambah jumlahnya, sangat mempercayai radio dan televisi. Mereka umumnya memiliki tingkat pendapatan dan tingkat pendidikan yang sedang-sedang saja. Mereka inilah sasaran utama para pembujuk profesional, karena pilihan mereka ditentukan oleh semenarik apa bujukan itu dikemas. Inilah khalayak yang oleh Robert MacNeil dalam bukunya The People Machine, sebagai kelompok yang tidak begitu canggih, namun pendidikannya lebih banyak daripada generasi sebelumnya yang umumnya konservatif dan cenderung pasif dalam masalah-masalah dunia. Karena mereka tidak memperhatikan sesuatu dengan cara mendalam, mereka umumnya mudah percaya terhadap segala sesuatu yang disampaikan kepada mereka. Pencitraan, dalam masyarakat Indonesia pada umumnya sangat kental pada pengaruh pola keberagamaan masyarakat. Identitas personal dan kelompok terlebih dahulu akan dikenali oleh latar belakang agama, disusul latar belakang etnis dan seterusnya. Karena itu berbicara tentang politik pencitraan maka tidak akan lepas dari berbicara tentang agama dan keberagamaan. Pada masa lalu pola keberagamaan yang terdapat di kalangan umat Islam terdapat dua bentuk yakni tradisional dan modernis. Tapi pada masa kini pola itu dapat berkembang lagi dengan bentuk yang lain yaitu neo-tradisional, neo-modernis dan persaudaraan religio-politik. Pola neo-modernis yaitu kelompok umat Islam yang ingin lebih menunjukkan kelebihan Islam dari agama lain, sehingga selalu diupayakan titik temu antara konsep Islam dengan pola kehidupan modern. Sehingga yang terjadi adalah rasionalisasi Islam guna dilihat kaitannya dengan kehidupan modern. Dengan demikian, langkah ini adalah merupakan pembenaran terhadap tesis yang mengatakan bahwa Islam adalah sesuai untuk segala masa dan tempat (al Islam salihun likulli zaman wa makan). Dalam sistem demokrasi di Indonesia sekarang ini dikenal dengan pemilihan pemimpin secara langsung baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah. Sumatera Utara di tahun 2008 untuk pertama kalinya akan menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk memilih secara langsung gubernur dan wakil gubernur periode 2008-2013. Dalam Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur Sumatera Utara ini, politik pencitraan menjadi kebutuhan para kandidat dalam mempengaruhi opini publik untuk menentukan pilihannya. Sumatera Utara seperti halnya kota Medan sebagai ibukota provinsi memiliki penduduk yang heterogen baik dari sisi agama maupun etnisitas. Empat agama besar di mana dua di antaranya merupakan jumlah mayoritas yakni Islam dan Kristen (Katolik dan Protestan) juga menjadi suatu faktor penentu dalam Pilkada, di samping agama Budha dan Hindu yang juga memiliki komunitasnya di kota Medan. Demikian juga penduduk kota Medan yang memiliki beragam etnis yang jumlahnya sangat bervariasi. Sampai sejauh ini anggapan tersebut masih mengental di masyarakat, bahwa agama dan etnisitas merupakan faktor penentu dalam kemenangan pasangan kandidat yang berlaga dalam Pilkada. Maka semakin marak pendekatan-pendekatan dari sisi agama dan etnisitas untuk meraih simpati masyarakat pemilih. Kenyataannya, menjelang pelaksanaan Pilkada, kelompok-kelompok pengajian seperti halnya kelompok-kelompok etnis akan ramai didatangi atau digunakan para kandidat untuk tujuan kampanye baik secara terbuka maupun tertutup. Kegiatan ini secara langsung dan tidak langsung melakukan upaya-upaya perekatan budaya untuk mencari kesamaan dalam menentukan figur pemimpin daerah. Anggapan tersebut muncul dari kesadaran-kesadaran pribadi yang membentuk atau berusaha membentuk suatu kesadaran kolektif tentang dasar bagi seseorang untuk memilih seorang kandidat akan didasarkan pada persamaan agama dan etnis. Kesadaran kolektif ini sudah semestinya dilakukan penelusuran yang lebih mendalam dengan bersandarkan pada penelitian dan kajian-kajian ilmiah. Untuk itu sangat menarik untuk dilakukan telaah atas pengaruh berita-berita di surat kabar terbitan Medan yang memuat tentang tokoh tertentu yang bertujuan untuk membentuk citra yang baik di tengah masyarakat. Kota Medan merupakan daerah yang paling besar perhatian masyarakatnya untuk membaca surat kabar karena menjadi daerah penjualan surat kabar terbesar di Sumatera Utara, di samping memiliki jumlah penduduk paling besar. Karena itu perlu diteliti bagaimana pengaruh berita tokoh pada surat kabar harian terbitan Medan terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. B. Perumusan Masalah Dari uraian yang disampaikan di atas, maka selanjutnya dirumuskanlah hal-hal yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini. Secara umum hal yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pengaruh berita tokoh pada surat kabar terbitan kota Medan terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. Untuk lebih rincinya, masalah tersebut akan diuraikan ke dalam beberapa poin-poin penting yang merupakan bagian-bagian dari pembahasan dalam penelitian ini. Rumusan masalah tersebut, terdiri dari dua poin yaitu : 1. Bagaimanakah opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 ? 2. Seberapa besar berita tokoh di surat kabar berpengaruh terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008? C. Tujuan Penelitian Setelah merumuskan masalah dalam penelitian ini, selanjutnya ditetapkan tujuan penelitian. Tujuan penelitian pada hakikatnya merupakan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan pada bagian rumusan masalah. Karena itu tujuan penelitian ini dibuat sejalan dengan rumusan masalah. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berita tokoh pada surat kabar terbitan kota Medan terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. Untuk lebih jelasnya, secara khusus akan dideskripsikan tujuan penelitian ini, terdiri dari dua hal, yakni : 1. Mengetahui opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. 2. Mengetahui pengaruh membaca berita tokoh dalam surat kabar terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernnur Sumatera Utara tahun 2008. D. Kegunaan Penelitian Sebuah penelitian diartikan sebagai pencarian pengetahuan dan pemberiartian yang terus-menerus terhadap sesuatu. Penelitian juga merupakan percobaan yang hati-hati dan kritis untuk menemukan sesuatu yang baru. Dengan demikian penelitian ini juga dapat diartikan sebagai pencarian pengetahuan untuk menemukan sesuatu yang baru di mana objek penelitian diamati dengan cara mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Dalam penelitian ini ada beberapa kegunaan, baik yang bersifat praktis di tengah masyarakat maupun kegunaannya dalam mengembangkan tradisi ilmu pengetahuan secara ilmiah, yaitu : 1. Memberi gambaran tentang efektivitas pemberitaan tentang pembentukan citra seorang tokoh melalui surat kabar harian terbitan kota Medan. 2. Memberi gambaran atas sejauh mana kekuatan media massa, memberi pengaruh pada opini masyarakat kota Medan. E. Sistematika Pembahasan Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan penelitian lapangan dengan menyebarkan kuesioner langsung kepada masyarakat yang menjadi responden. Setelah diperoleh data lengkap dari hasil penelitian yang dilakukan maka data tersebut akan diolah dan kemudian disusun dalam bentuk laporan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Laporan dalam bentuk tulisan tersebut akan disusun dalam sebuah sistematika pembahasan sebagai berikut; Bab I. Pendahuluan yang di dalamnya berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dsan sistematika pembahasan. Bab II. Kerangka teori dan konsep yang di dalamnya berisi landasan teori, kajian terdahulu, pengertian konsep dan hipotesis. Bab III. Metodologi penelitian berisi jenis penelitian, populasi dan sampel, alat pengumpul data, pengukuran variabel, dan teknik analisis data. Bab IV. Hasil dan pembahasan penelitian meliputi profil responden, pola membaca berita tokoh yang terdiri dari frekuensi membaca surat kabar dan berita tokoh, ketertarikan membaca berita tokoh, banyak membaca berita tokoh, lama membaca berita tokoh, tempat membaca berita tokoh, alasan membaca berita tokoh, berita tokoh yang dibaca, citra berita surat kabar tentang tokoh, tingkat pemenuhan informasi oleh surat kabar, tingkat pengenalan terhadap tokoh, tokoh yang paling merakyat, tokoh yang paling mampu membangun Sumut, tokoh yang paling berpenampilan layak/pantas, tokoh paling pemersatu, tokoh paling nasionalis- religius. Pengujian hipotesis yang terdiri dari koefisien korelasi antara tingkat ketertarikan membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh, koefisien korelasi antara frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh, koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh, koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan tokoh yang paling pantas disebut tokoh merakyat, koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan penilaian tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara, koefisien korelasi antara alasan responden ingin mengetahui kegiatan para tokoh dengan terpenuhinya kebutuhan informasi tentang tokoh, koefisien korelasi antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh. Pembahasan penelitian. Bab V. Berisi rangkuman, kesimpulan dan saran-saran. BAB II KERANGKA TEORI DAN KONSEP A. Landasan Teori Menurut kamus Webster’s News International, penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu. Menurut ilmuwan Hillway, ”penelitian adalah suatu metode studi yang dilakukan melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat”. Penelitian adalah suatu penyelidikan yang terorganisir. Penelitian juga bertujuan untuk mengubah kesimpulan-kesimpulan yang telah diterima, ataupun mengubah dalil-dalil dengan adanya aplikasi baru dari dalil-dalil tersebut. Hillway menyatakan, ”penelitian dapat diartikan sebagai pencarian pengetahuan dan pemberiartian terus-menerus terhadap sesuatu. Penelitian juga merupakan percobaan yang hati-hati dan kritis untuk menemukan sesuatu yang baru”. Sedangkan Gee, menyatakan: Dalam berbagai defenisi penelitian, terkandung ciri tertentu yang lebih kurang bersamaan. Adanya suatu pencarian, penyelidikan atau investigasi terhadap pengetahuan baru, atau sekurang-kurangnya sebuah pengaturan baru atau interpretasi (tafsiran) baru dari pengetahuan yang timbul. Metode yang digunakan bisa saja ilmiah atau tidak, tetapi pandangan harus kritis dan prosedur harus sempurna. Tenaga bisa saja signifikan atau tidak. Dalam masalah aplikasi maka nampaknya aktivitas lebih banyak tertuju kepada pencarian (search) dari pada suatu pencarian kembali (re-search). Jika proses yang terjadi adalah hal yang selalu diperlukan, maka penelitian sebaiknya digunakan untuk menentukan ruang lingkup dari konsep dan bukan kehendak untuk menambah defenisi lain terhadap defenisi-defenisi yang telah banyak”. Penelitian dengan menggunakan metode ilmiah (scientific method) disebut penelitian ilmiah (scientific research). Dalam penelitian lmiah ini, selalu ditemukan dua unsur penting, yaitu unsur observasi (pengamatan) dan unsur nalar (reasioning). Unsur pengamatan merupakan kerja dengan mana pengetahuan mengenai fakta-fakta tertentu diperoleh melalui kerja mata (pengamatan) dengan menggunakan persepsi (sense of perception). Nalar, adalah suatu kekuatan dengan mana arti dari fakta-fakta, hubungan dan interelasi terhadap pengetahuan yang timbul, sebegitu jauh ditetapkan sebagai pengetahuan yang sekarang. Dalam penelitian ini, objek yang akan diteliti yakni pengaruh berita tokoh di surat kabar terhadap opini masyarakat kota Medan. Untuk itu landasan teori yang digunakan yaitu: Uses and Effect Theory (teori penggunaan dan efek) untuk meneliti efek dari berita tokoh di media massa atas opini umum masyarakat kota Medan. Teori ini merupakan sintesis dari pendekatan Uses and Gratifications dan teori tradisonal mengenai efek yang pertama kali dikemukakan Windahl pada tahun 1979 ini. Konsep ’use’ (penggunaan) merupakan bagian yang sangat penting atau pokok dari pemikiran ini. Karena pengetahuan mengenai penggunaan media dan penyebabnya, akan memberikan jalan bagi pemahaman dan perkiraan tentang hasil dari suatu proses komunikasi massa. Penggunaan media massa dapat berarti ’exposure’ yang semata-mata menunjuk pada tindakan mempersepsi. Dalam konteks lain, pengertian tersebut dapat menjadi suatu yang lebih kompleks, di mana isi tertentu dikonsumsi dalam kondisi tertentu, untuk memenuhi fungsi tertentu dan terkait harapan-harapan tertentu untuk dapat dipenuhi. Fokus dari teori ini lebih kepada pengertian yang kedua. Dalam Uses and Gratifications, penggunaan media pada dasarnya ditentukan oleh kebutuhan dasar individu. Sementara pada Uses and Effect, kebutuhan hanya salah satu dari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penggunaan media. Karakteristik individu, harapan dan persepsi terhadap media, dan tingkat akses kepada media akan membawa individu kepada keputusan untuk menggunakan atau tidak menggunakan isi media massa. Hasil dari proses komunikasi massa dan kaitannya dengan penggunaan media akan membawa pada bagian terpenting berikutnya dari teori ini. Karena substansi dari komunikasi massa sebetulnya adalah media itu sendiri, yang menjadi alat untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak yang ramai. Pesan-pesan yang disampaikan tersebut merupakan hubungan yang sangat erat antara komunikator sebagai pengguna dan media sebagai saluran untuk mencapai khalayaknya. Ada berbagai bentuk yang dimiliki dalam hubungan antara si pengguna dengan media yang merupakan alat saluran tersebut. Hubungan antara penggunaan dan hasilnya, dengan memperhitungkan pula isi media, memiliki beberapa bentuk perbedaan, yaitu: a. Pada kebanyakan teori efek tradisional, karakteristik isi media menentukan sebagian besar dari hasil. Dalam hal ini, penggunaan media hanya dianggap sebagai faktor perantara, dan hasil dari proses tersebut dinamakan efek. Dalam pengertian ini pula, Uses and Gratifications hanya akan dianggap berperan sebagai perantara, yang memperkuat atau memperlemah efek isi media. Dalam perspektif ini di mana kekuatan isi pesan media dipandang sebagai faktor yang sangat penting maka diperlukan suatu ketrampilan untuk merancang pesan secara maksimal agar dapat mempengaruhi khalayak dan menimbulkan efek yang diinginkan sesuati dengan tujuan merancang pesan. Isi media yang merupakan pesan yang sengaja dirancang tersebut kemudian hanya perlu disampaikan oleh media. b. Dalam berbagai proses, hasil lebih merupakan akibat penggunaan daripada karakteristik isi media. Penggunaan media dapat mengecualikan, mencegah atau mengurangi aktivitas lainnya, di samping dapat pula memiliki konsekuensi psikologis seperti ketergantungan pada media tertentu. Jika penggunaan merupakan penyebab utama dari hasil, maka ia disebut konsekuensi. Dalam arti lain, publik pengguna media dianggap sebagai pihak yang memiliki ketergantungan pada suatu media tertentu dengan demikian, isi pesan atau isi media faktor yang lebih kurang melengkapinya. Kajian ini menyimak lebih dalam terhadap penggunaan media oleh khalayak yang lebih jauh pada sifat ketergantungan. c. Di samping kedua perbedaan yang diuraikan di atas tersebut, ada beda lainnya dari penggunaan media ini dengan menggabungkan antara keduanya. Kita dapat beranggapan juga bahwa hasil ditentukan sebagian oleh isi media yang dilakukan melalui perantaraan penggunaannya dan sebagian lain hasilnya ditentukan oleh penggunaan media itu sendiri. Oleh karenanya ada dua proses yang bekerja secara serempak, yang bersama-sama menyebabkan terjadinya suatu hasil yang kita sebut ’conseffects’ (gabungan dari konsekuensi dan efek). Proses pendidikan biasanya menyebabkan hasil yang berbentuk ’conseffects’. Di mana sebagian hasil disebabkan oleh isi yang mendorong pembelajaran (efek), dan sebagian lain merupakan hasil dari suatu proses penggunaan media yang secara otomatis mengakumulasikan dan menyimpan pengetahuan. Pandangan ini memberi arti sama pentingnya isi media seperti halnya penggunaan media. Kedua faktor ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri tetapi secara bersama menimbulkan efek terhadap penggunaan media. Dalam arti lain efek dan konsekuensi bergabung bersama dalam suatu proses komunikasi hingga menimbulkan ’conseffects’. Ilustrasi mengenai hubungan-hubungan tersebut dapat dilihat pada dua diagram berikut: Hasil-hasil tersebut dapat ditemukan pada tataran individu dan masyarakat. Sendjaja S.Djuarsa juga mengurai diagram berikut: B. Kajian Terdahulu Beberapa penelitian yang penah dilakukan memiliki relevansi dengan penelitian ini, yakni: 1. ”Survei Jajak Pendapat Sikap Politik Masyarakat Kota Medan terhadap Pilkada Langsung Walikota/Wakil Walikota Medan” yang dilakukan Lembaga Analisis Sosial (LSAS) pada tahun 2004. Penelitian ini mengambil sampel di 21 kecamatan yang ada di Kota Medan dengan 1.500 responden. Penyebaran kuesioner mengambil sebanyak 71-72 responden per kecamatan. Responden dalam penelitian ini adalah para calon pemilih dalam Pilkada langsung Kota Medan berusia minimal 17 tahun, atau yang sudah menikah. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa program pembangunan kandidat merupakan suatu hal yang menentukan dalam Pilkada Kota Medan. Masyarakat pemilih sangat memperhatikan program pembangunan para calon sebelum menjatuhkan pilihannya. Sebanyak 56,2% masyarakat pemilih menentukan pilihannya karena pengaruh program pembangunan pasangan calon. Berita media menjadi faktor yang signifikan, karena program pembangunan para kandidat adalah informasi yang didapat masyarakat pemilih dari media massa. Di samping itu 23% para pemilih dipengaruhi berita di media. Dalam kategorisasi media, ternyata media cetak (koran) masih merupakan hal yang paling mempengaruhi pemilih untuk menentukan pilihannya. Sebanyak 41,78% responden menyatakan bahwa media cetak mempengaruhi pilihannya. 2. Sementara itu penelitian yang dilakukan Nashrillah pada tahun 2002 dengan judul “Minat Masyarakat Medan Menonton Siaran Agama di Televisi” mengambil 300 sampel dari tiga kelompok masyarakat yakni siswa, mahasiswa dan orang tua. Dalam penelitian ini ditemukan sekitar 48,1% rata-rata responden menonton televisi lebih dari dua jam sehari bahkan 26,3% responden yang rata-rata menonton lebih dari tiga jam sehari. Hanya 27% responden yang menonton televisi kurang dari satu jam sehari. Mean yang diperoleh untuk jumlah waktu menonton televisi ini 2,583, itu berarti rata-rata responden menonton televisi lebih dari dua jam sehari. Hasil penelitian juga menunjukkan 83,6% responden menonton siaran agama di televisi dalam satu minggu terakhir sebelum disebarkan angket. Penelitian ini menemukan, dari tiga stasiun televisi yang menjadi sampel yaitu SCTV, RCTI, dan Indosiar, menunjukkan bahwa siaran agama di televisi sangat sedikit, rata-rata hanya sekali siar sehari. Itupun sudah termasuk iklan yang hampir menghabiskan sepertiga hingga setengah dari seluruh siaran agama. Sehingga siaran agama yang efektif sebenarnya hanya 15-20 menit untuk sekali siar. Dari segi kelompok usia, yang paling lama menonton siaran agama di televisi berusia 46 tahun ke atas. Mayoritas di antara mereka atau sebanyak 62,07% rata-rata menonton siaran agama di televisi selama lebih dari 30 menit sehari. Sedangkan kelompok usia 21-45 tahun hanya sekitar 25,58% yang menonton siaran agama di televisi selama lebih dari 30 menit sehari. Kondisi ini membuktikan bahwa perbedaan usia akan mempengaruhi pola penggunaan media masa, termasuk pilihan materi pemberitaan dari media massa. Dari segi tingkat pendidikan, responden yang berpendidikan S1 lebih lama menonton siaran agama di televisi di bandingkan dengan yang lainnya. Sedangkan masyarakat dengan latar belakang mahasiswa yang menonton siaran agama di televisi lebih dari 30 menit sehari hanya 23,1%. Dari segi pekerjaan, pegawai swasta dan wiraswasta merupakan kelompok yang paling lama menonton siaran agama di televisi. Sedangkan yang paling banyak tidak menonton siaran agama di televsi adalah kelompok orang yang tidak bekerja atau menganggur. 3. Penelitian lain dilakukan Lydia Elton dengan judul “Pengaruh Pemberitaan Surat Kabar Terhadap Persepsi Masyarakat Pengguna Jasa Transportasi Udara Di Surabaya (Kasus Studi Kecelakaan Pesawat Adam Air)”. Penelitian ini mengambil sample 400 orang penumpang yang datang dan berangkat melalui Bandara Juanda Surabaya. Dalam penelitian ini Lydia Elton berkesimpulan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara berita surat kabar mengenai kasus kecelakaan pesawat Adam Air terhadap persepsi masyarakat pengguna jasa transportasi udara di Surabaya. Berubahnya persepsi masyarakat bahwa media mempunyai pengaruh besar dalam menentukan persepsi terhadap suatu peristiwa tertentu, hal ini juga disebabkan karena rentang waktu yang lama antara kejadian kecelakaan dengan waktu penyebaran kuesioner sehingga mengakibatkan besarnya kemungkinan terjadi perubahan persepsi masyarakat atau psikologi penumpang. Meskipun masyarakat mulai was-was dan meragukan kualitas maskapai Adam Air, ternyata diketahui bahwa sebagian besar masih memilih mau berpergian menggunakan maskapai Adam Air. Hal ini terjadi karena masyarakat masih mementingkan faktor ekonomis yaitu harga tiket. Hasil analisis korelasi yang menunjukkan adanya korelasi negatif dan tak berarti antara berita surat kabar dengan persepsi masyarakat yaitu sebesar 0,021. Korelasi negatif ini menunjukkan tidak ada hubungan antara berita surat kabar dengan persepsi. 4. Studi perilaku pemilih juga dilakukan Universitas Columbia. Studi ini bertujuan untuk menilai pengaruh komunikasi dan persuasi dalam kampanye. Menurut hasil studi Columbia, perilaku pemilih sangat ditentukan faktor sosial. Pada dasarnya studi yang dilakukan oleh Columbia ini mengakui adanya pengaruh identifikasi partai: bahwa pemilih tidak hanya digerakkan oleh isu-isu baru, melainkan juga isu-isu lama yang masih tertanam di benak pemilih. Hal ini menegaskan, para pemilih bukanlah tabularasa yang siap diisi dengan informasi apa saja, melainkan mereka juga telah mempunyai keyakinan yang seringkal sulit diubah propaganda kampanye. Sebagai pengaruh faktor sosial, studi Columbia juga mengungkapkan pengaruh media massa terhadap perilaku pemilih. Hanya saja menurut studi ini, pengaruh tersebut tidak langsung, melainkan diperantarai oleh diskusi dengan para pemlih lainnya. 5. Penelitian yang dilakukan Didik Budijanto dan Wijiartini yang berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hubungan Seks di Luar Nikah para ABK di Komunitas Pelabuhan”. Penelitian ini bertujuan menganalisis perilaku seksual Anak Buah Kapal (ABK) dan faktor-faktor yang dominan mempengaruhi hubungan seks di luar nikah para ABK tersebut. Studi yang dilakukan secara cross sectional di komunitas Pelabuhan Tanjung Perak ini mengambil sampel secara simple random dari populasi ABK berbendera Indonesia segala jurusan yang sedang sandar. Jumlah sampel yang diperoleh 80 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur, sedang analisis data dilakukan secara deskriptif dan regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 80 orang ABK, sebagian besar berpendidikan SLTA (45,0%); berumur > 30 th (51,3%); dan jenis pekerjaan kelasi (25,0%), jurumudi (13,8%), dan juru-minyak (12,5%). Lama kerja responden sebagian besar < 10 tahun (85,0%), berstatus kawin (57,5%), dan lama perkawinan < 5 tahun (73,8%). Jika dilihat dari sisi perilaku seksualnya, dari 46 (57,5%) orang yang menikah, 45,65% di antaranya melakukan hubungan seksual dengan istrinya 2 kali per minggu. Sedangkan jika dikaitkan dengan pernah tidaknya melakukan hubungan seks di luar nikah maka sebagian besar menyatakan pernah (71,7%). Hasil tabulasi silang antara frekuensi hubungan seks dengan istri per minggu dan pernah tidaknya melakukan hubungan seks di luar nikah, sebagian besar (90,5%) terjadi pada mereka yang frekuensi hubungan seks dengan istri ≤ 1 kali per minggu dibandingkan dengan yang > 1 kali per minggu (56,0%). Selanjutnya, hasil analisis regresi logistik ganda menjelaskan bahwa frekuensi hubungan seks dengan istri per minggu berpengaruh secara signifikan (p = 0,0045) terhadap pernah tidaknya melakukan hubungan seks di luar nikah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ABK yang frekuensi hubungan seks dengan istrinya ≤ 1 kali per minggu, berisiko jajan 7 kali lebih besar dibandingkan yang frekuensi hubungan seks dengan istrinya > 1 kali per minggu (OR = 6,9229). Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa faktor dominan yang berpengaruh terhadap hubungan seks di luar nikah adalah frekuensi hubungan seks dengan istri per minggu. Secara umum, penelitian ini merumuskan empat kesimpulan, yakni: 1. Sebagian besar ABK pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah. 2. Frekuensi hubungan seksual di luar nikah besar sekali. 3. Alasan melakukan hubungan seksual di luar nikah sebagian besar iseng, diajak teman, atau mencari variasi. 4. Sebagian besar ABK yang melakukan hubungan seks di luar nikah tidak memakai kondom saat berhubungan seksual. 5. Frekuensi hubungan seksual dengan istri per minggu berpengaruh terhadap melakukan tidaknya hubungan seks di luar nikah. C. Pengertian Konsep Dalam penelitian ini, untuk menghindari terjadinya pengaburan penelitian (ambigious meaning) karena terlalu luasnya ruang lingkup permasalahan, maka dalam penelitian yang berjudul Pengaruh Berita Tokoh Pada Surat Kabar Harian Terbitan Kota Medan Terhadap Opini Masyarakat Tentang Citra Bakal Calon Gubsu 2008 ini dibuat batasan-batasan masalah : 1. Secara spesifik, yang dimaksud berita tokoh adalah berita-berita tentang seorang tokoh yang menjadi bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 yang berasal dari berbagai latar belakang seperti tokoh politik, kepala daerah, pejabat nasional (sipil, militer) yang kerap muncul di surat kabar dalam upaya pembentukan citranya di tengah-tengah masyarakat. Jenis berita ini bisa termasuk berita kegiatan, komentar, ataupun, profil sang tokoh. Termasuk juga pola membaca berita tokoh terjadi di masyarakat dalam membaca berita-berita tentang tokoh bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 seperti frekuensi membaca, jumlah yang dibaca, lama membaca, tempat membaca dan lainnya. 2. Opini Masyarakat Tentang Citra yang dimaksud dalam penelitian ini adalah opini masyarakat kota Medan yang terbentuk tentang tokoh bakal calon Gubernur Sumatera Utara karena membaca berita tokoh di surat kabar. Opini Masyarakat dalam penelitian ini adalah pendapat masyarakat kota Medan tentang citra seorang tokoh yang kerap muncul di surat kabar. Pendapat masyarakat menyangkut citra tokoh di mata masyarakat. Walter Lippmann dalam bukunya Opini Umum menguraikan tentang opini umum dan pers sebagai berikut: ...analisis tentang sifat berita dan basis menunjukan bahwa surat kabar tidak terelakan Opini umum harus diberikan kepada pers jika ingin sehat, tidak oleh pers seperti halnya sekarang. 3. Surat Kabar Harian Terbitan Kota Medan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah surat kabar yang terbit setiap hari di kota Medan. Tiga surat kabar yang menjadi objek penelitian yakni Harian Waspada, Analisa, dan Sinar Indonesia Baru. Ketiga surat kabar tersebut adalah tiga penerbitan yang memiliki tiras penjualan yang tertinggi di kota Medan (the big three) dengan segmen pembaca yang masing-masing berbeda; Harian Waspada dibaca oleh umumnya umat Islam yang berasal dari etnis yang dikenal sebagai pemeluk agama Islam seperti Tapsel, Melayu, Minang, Aceh dan lainnya, Harian Analisa dibaca oleh umumnya masyarakat China umumnya beragama Budha, dan Harian Sinar Indonesia Baru dibaca oleh umumnya etnis Batak yang umumnya masyarakat Kristen. Dengan kata lain, pemilihan ketiga surat kabar tersebut karena dianggap mewakili kelompok agama dan etnis di masyarakat kota Medan. 4. Bakal Calon Gubsu yang dimaksud dalam penelitian ini adalah orang-orang akan mendaftar resmi menjadi Bakal Calon Gubsu periode 2008-2013, seperti Ali Umri (Walikota Binjai), dan Syamsul Arifin (Bupati Langkat). 5. Kata Pengaruh = berarti sesuatu daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang. Makna kata pengaruh dalam penelitian ini adalah terbentuknya opini masyarakat kota Medan tentang citra tokoh yang menjadi bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 akibat membaca berita tokoh dalam surat kabar. D. Hipotesis Kasus-kasus observasi kita simpulkan sebuah teori melalui proses induksi. Selanjutnya, dari teori dapat dijabarkan proposisi-proposisi baru melalui proses deduksi. Teori ini tidak dapat diuji. Supaya dapat diuji, teori harus dirinci menjadi proposisi-proposisi. Proposisi seperti ini disebut hipotesis. Hipotesis sering disebut statement of theory in testable form, atau tentative statements about reality. Dalam penelitian ini dirumuskan suatu hipotesis untuk menduga kesimpulan akhir yang merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian. Hipotesis antara masing-masing variabel akan diteliti dengan konsep sebagai berikut: Adanya hubungan yang signifikan di antara berita tokoh di surat kabar dengan opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Sesuai dengan apa yang telah diuraikan di atas, maka penelitian ini merupakan penelitian survei yang mengumpulkan data dari pendapat masyarakat kota Medan untuk mengukur pengaruh yang disebabkan pemberitaan surat kabar atas opini masyarakat. Penelitian survei ialah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. Penelitian ini bersifat deskripsi analitik, yaitu penulis berusaha mencari informasi/data pengaruh kampanye politik di surat kabar terhadap pembentukan citra atas seorang tokoh dalam masyarakat kota Medan. Dengan melakukan penelitian ini ada beberapa maksud dan tujuan yang dapat dicapai. Salah satu tujuan penelitian survei yang dapat diaplikasikan adalah untuk meramalkan hasil suatu fenomena tertentu. Misalnya survei tentang pendapat calon pemilih presiden tentang siapa calon presiden yang akan mereka pilih nanti. Data yang diperoleh dari hasil survei ini dapat digunakan untuk meramalkan siapa calon presiden yang bakal menang kelak. Survei atau jajak pendapat merupakan salah satu penemuan terpenting di dunia kebijakan publik. Penemuan jajak pendapat dalam kebijakan publik sama pentingnya dengan penemuan pinisilin dalam ilmu kedokteran, atau penemuan roda dalam dunia otomotif. Melalui jajak pendapat, hanya dengan menggunakan seribu atau dua ribu responden, kita dapat mengetahui persepsi, aspirasi, harapan atau ketakutan dua ratus juta penduduk satu negara. Hal ini dapat dianalogikan dengan satu kuali besar sup ayam. Hanya dengan mencicipi satu sendok sup itu, kita sudah dapat tahu rasa dari keseluruhan satu kuali sup ayam. Tentu saja analogi itu hanya tepat, jika pengambilan responden dan keseluruhan jajak pendapat mengikuti metodologi yang benar dan ketat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional. Metode kuantitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang yang diamati. Secara umum penelitian kuantitatif diartikan sebagai suatu penelitian yang menggunaan alat bantu statistik sebagai paling utama dalam memberikan gambaran atas suatu peristiwa atau gejala, baik statistik deskriptif maupun statistik inferensial. Statistik bekerja dengan angka-angka, karena itu seseorang yang melakukan penelitian kuantitatif harus terlibat dengan permainan angka-angka. Angka-angka di dalam statistik merupakan simbol atau pernyataan yang bersifat verbal. Tingkat keakuratan penggunaan statistik sebagai alat analisa data, sangat tergantung kepada pemakainya. Karena itu tidak tepat kalau dikatakan bahwa statistik sebagai alat analisis data yang paling dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian kuantitatif pada umumnya adalah bersifat deduktif, yaitu dimulai dari penjelasan teoretis yang bersifat umum, kemudian pandangan teoretis yang bersifat umum itu diuji kebenarannya kepada suatu sampel tertentu yang bersifat khusus untuk diambil suatu kesimpulan. B. Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan objek penelitian, dapat berupa manusia, wilayah geografis, waktu, organisasi, kelompok, lembaga, buku, kata-kata, surat kabar, majalah dan sebagainya. Populasi bukan sekedar jumlah yang ada pada objek, tetapi meliputi seluruh karakteristik yang dimiliki objek yang diteliti. Sedangkan sampel adalah sebagian dari jumlah atau karakteristik yang dimiliki populasi. Komponen yang terkait dalam pelaksanaan penelitian sesuai dengan sifat penelitian survei yaitu menetapkan sampel dari keseluruhan populasi yang ada. Populasi Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik kota Medan, jumlah penduduk di kota Medan pada tahun 2004 sebanyak 2.006.142 juta orang yang terdapat pada 21 kecamatan. Dalam penelitian ini peneliti menetapkan 3 wilayah kecamatan; antara lain Kecamatan Medan Helvetia, Kecamatan Medan Tembung, dan Kecamatan Medan Deli. Penetapan ketiga wilayah kecamatan ini adalah berdasarkan jumlah penduduk dan pembaca surat kabar terbanyak. Untuk lebih jelasnya, akan diuraikan nama-nama kecamatan beserta jumlah penduduk pada masing-masing kecamatan tersebut. Data ini merupakan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara tahun 2004. Penetapan ketiga wilayah kecamatan dari 21 kecamatan dalam struktur kota Medan digambarkan dalam tabel di bawah ini: Tabel 3.1: Pengelompokkan Populasi No Kerangka Sampling/ Sampling Frame Jumlah Penduduk Satuan Sampling/ Sampling Unit 1. Kec.Medan Tuntungan 68.438 1. Medan Helvetia 2. Medan Tembung 3. Medan Deli 2. Kec.Medan Johor 108. 911 3. Kec.Medan Amplas 104.455 4. Kec.Medan Denai 133.742 5. Kec.Medan Area 108.317 6. Kec.Medan Kota 82.901 7. Kec.Medan Maimun 47.137 8. Kec.Medan Polonia 49.048 9. Kec.Medan Baru 42.221 10. Kec.Medan Selayang 81.035 11. Kec.Medan Sunggal 106.759 12 Kec.Medan Helvetia 136.216 13. Kec.Medan Petisah 66.073 14. Kec.Medan Barat 77.839 15. Kec.Medan Timur 110.492 16. Kec.Medan Perjuangan 99.580 17. Kec.Medan Tembung 135.188 18. Kec.Medan Deli 141.787 19. Kec.Medan Labuhan 100.184 20. Kec.Medan Marelan 112.463 21. Kec.Medan Belawan 93.356 21 Kecamatan 2.006.142 3 Kecamatan Sampel Sampel dalam penelitian ini diambil dari populasi yang ditetapkan berdasarkan metode Stratified Random Sampling atau pembagian sampel secara berlapis untuk mewakili berbagai unsur, tingkatan, dan kelompok dalam masyarakat. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 267 responden yang ditetapkan dengan mengunakan Formula Cochran yang disederhanakan. no = (t)² . (s)² __________________ d² = (1,96)² . (1,25)² ___________________________ (0,15)² = 266,77 = 267 Keterangan; t = Kekuatan hubungan/Alpha (0,05 – 1,96) s = Standar defiasi = Perjumpaan yang terjadi (1,25 -1,50) d = Derajat kepercayaan (90% dan 85%) Selanjutnya penentuan sampel dari populasi ditentukan dengan menggunakan rumus; n = no ________________________ 1 + (no/N) 413.191 = ______________________________ 1 + 413.191/267 413.191 = ___________________ 1549 = 267 Untuk menetukan besarnya jumlah sampel dalam setiap kecamatan, maka akan ditetapkan besarnya sampel dalam setiap satuan sampling yang dibagi dalam ketiga kecamatan yang menjadi sampling tersebut. Selanjutnya, untuk menetapkan besarnya sampel dalam setiap satuan sampling dari daerah kecamatan, maka ditetapkan persentase penduduk di setiap kecamatan tersebut yang berdasarkan pada besarnya jumlah penduduk dari masing-masing kecamatan yang ada di kota Medan. Kemudian, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini; Tabel 3.2. Populasi No. KECAMATAN N % 1. 2. 3. Medan Helvetia Medan Tembung Medan Deli 136.216 135.188 141.787 33% 33% 34% Jumlah 413.191 100% Selanjutnya dari perhitungan yang telah diuraikan di atas maka telah didapatkan ukuran sampel dalam penelitian ini sebanyak 267 unit. Maka pembagian sampel kemudian ditetapkan dalam wilayah-wilayah satuan sampling dengan menggunakan jumlah ukuran sampel sebagai pengalinya. Untuk lebih jelasnya pembagian sampel dapat dilihat dalam tabel di bawah ini; Tabel 3.3. Sampel Penelitian No. KECAMATAN N % 1. 2. 3. Medan Helvetia Medan Tembung Medan Deli 88 87 92 33% 33% 34% Jumlah 267 100% Untuk memenuhi karakteristik dalam setiap lapisan masyarakat yang menjadi populasi, maka ditetapkan jumlah dari masing-masing karakteristik yang ada di kota Medan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di tabel di bawah ini; Tabel 3.4: Pengelompokkan Sampel No Kecamatan Jumlah Kelompok Medan Helvetia Medan Tembung Medan Deli 1 Agama - Islam - Kristen - Hindu/ Budha 55 30 3 55 30 2 60 30 2 170 90 7 2. Jumlah Etnis - Jawa - Melayu - Mandailing/ Tapsel - Batak - Aceh - Minang - Karo 88 30 20 25 10 3 - - 87 50 - 30 7 - - - 92 20 30 20 10 10 - 2 267 100 50 75 27 13 - - 3. Jumlah Usia - 17-25 - 26-35 - 36-45 - 46-55 - 55< 88 30 20 15 15 8 87 30 20 15 15 7 92 35 20 15 15 7 267 95 50 45 45 45 Jumlah 88 87 92 267 C. Alat Pengumpul Data Alat pengumpul data utama dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner yang begitu lumrah dalam penelitian sehingga penyusunannya kelihatannya sebagai tugas yang dapat dilaksanakan oleh setiap orang yang berpendidikan baik. Orang cenderung bahwa jawaban yang terus terang dapat dipancing dengan pertanyaan sederhana dan terus terang. Namun pada kenyataannya tidak selalu demikian. Di samping keanehan etimologis bahasa Inggris (dan semua bahasa lainnya), setiap penyusunan kuesioner dan setiap responden memberikan kepada setiap pertanyaan arti dan nuansa yang khusus dan sering tidak biasa. Penelitian ini dititikberatkan pada penelitian korelasional; yakni mempelajari hubungan variabel-variabel. Dalam survei informasi dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner. Umumnya pengertian survei dibatasi pada penelitian yang datanya dikumpulkan dari sampel atas populasi untuk mewakili seluruh populasi. Biasanya yang merupakan unit analisa dalam penelitian survei adalah individu, bukan masyarakat. Wawancara untuk kuesioner tetap dilakukan kepada satu orang. Dalam penelitian ini, selain tentang data pribadi responden, kuesioner akan dirancang (terutama) menyangkut kecenderungan pemilih terhadap kriteria figur yang diminatinya. C. Pengukuran Variabel Penelitian survei dalam penelitian ini dilakukan dengan pengukuran variabel-variabel yakni variabel terikat dan variabel bebas. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah berita tokoh pada surat kabar terbitan kota Medan. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubsu tahun 2008. Tabel 3.5. Kisi-kisi Instrumen No Variabel Sub Variabel Nomor Item Jumlah Item 1. 2. Berita Tokoh Opini Masyarakat Tentang Citra Tokoh 1. Frekuensi membaca surat kabar dan berita tokoh 2. Ketertarikan membaca berita tokoh 3. Banyak membaca berita tokoh 4. Kebiasaan membaca berita tokoh 5. Lama membaca berita tokoh 6. Tempat membaca berita tokoh 7. Alasan membaca berita tokoh 8. Berita tokoh yang dibaca 1. Citra berita surat kabar tentang tokoh 2. Tingkat pemenuhan informasi oleh surat kabar. 3. Tingkat pengenalan terhadap tokoh. 4. Tokoh yang paling merakyat 5. Tokoh yang paling mampu membangun Sumut 6. Tokoh yang paling berpenampilan layak/pantas 7. Tokoh paling pemersatu 8. Tokoh paling nasionalis- religius 1-4 5-7 8 9 10 11 12-14 15-16 17 18-19 20-22 23 24 25 26 27 4 3 1 1 1 1 3 2 1 2 3 1 1 1 1 1 E. Teknik Analisis Data Seperti diuraikan di atas, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, analitis, dan korelasional. Menurut Jalaluddin Rakhmat, penelitian deskriptif diartikan melukiskan variabel demi variabel, satu demi satu. Pada hakikatnya metode deskriptif menngumpulkan data secara univariat. Karakteristik data diperoleh dengan ukuran-ukuran kecenderungan pusat (central tendency) atau ukuran sebaran (dispersion). Penelitian deskriptif bukan saja menjabarkan (analitis) tetapi memadukan (sintesis). Bukan saja melakukan klasifikasi tetapi juga organisasi. Dari penelitian deskriptif kemudian dikembangkan berbagai penelitian korelasional dan eksperimental. Selanjutnya metode korelasional dalam penelitian ini yang merupakan lanjutan dari metode deskriptif. Metode korelasi bertujuan meneliti sejauhmana variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi pada faktor lain. Kalau dua variabel saja yang dihubungkan maka korelasinya disebut korelasi sederhana (simple correlation). Sedangkan hubungan variabel yang lebih dari dua disebut korelasi ganda (multiple corelation). Seperti dijelaskan di atas, metode korelasional meneliti hubungan di antara berbagai variabel. Dalam penelitian sosial kita sering berhubungan dengan variabel atribut, yakni variabel yang tidak dapat kita kendalikan. Dalam penelitian deskriptif, metode korelasi digunakan untuk mengukur dan meramalkan berbagai variabel di antaranya, yaitu : 1. Mengukur hubungan di antara berbagai variabel. 2. Meramalkan variabel tak bebas dari pengetahuan tentang variabel bebas. 3. Meratakan jalan untuk membuat rancangan penelitian eksperimental. Dalam penelitian ini, akan dideskripsikan hubungan antara variabel melalui pengumpulan data di lapangan dengan penyebaran kuesioner. Uji korelasi akan mencari besarnya hubungan dan arah hubungan. Nilai korelasi dalam rentang 0 sampai 1 atau 0 sampai -1. Tanda positif dan negatif menunjukkan arah hubungan. Tanda positif menunjukkan arah perubahan yang sama, yaitu jika satu variabel naik, maka variabel yang lain naik, demikian pula sebaliknya. Tanda negatif menunjukkan arah perubahan yang berlawanan, yaitu jika satu variabel naik, maka variabel yang lain turun. Nilai korelasi yang didapat dalam uji adalah nilai korelasi sampel. Pendekatan korelasi populasi dapat dilakukan dengan uji ”t” sebagai berikut: r√ n – 2 t = __________________ √ 1 - r² Di mana: r = nilai korelasi sampel n = jumlah pengamatan (sampel) Besarnya nilai korelasi dikategorikan sebagai berikut: • 0.7 – 1.00 baik positif maupun negatif, menunjukkan derajat hubungan yang tinggi. • 0.4 – 0.7 baik positif maupun negatif, menunjukan derajat hubungan yang substansial. • 0.2 – 0.4 baik positif maupun negatif, menujukkan derajat hubungan rendah. • < 0.2 baik positif maupun negatif, hubungan dapat diabaikan. Uji bivariate digunakan untuk menguji hubungan dua variabel bertipe ordinal dan skala. Terdapat tiga macam uji bivariate, yaitu uji Pearson, uji Kendall, dan uji Spearman. Uji Pearson digunakan untuk mengukur hubungan dengan data berdistribusi normal (parametrik). Uji Kendall dan Spearman mengukur hubungan antar variabel berdasarkan ranking dan tidak memandang distribusi variabel (non parametrik). Untuk memperkuat hasil kesimpulan yang diperoleh, dalam penelitian ini uji variabel menggunakan uji Pearson, uji Kendall dan uji Spearman. Dalam penelitian ini, masing-masing variabel akan dihubungkan. Data yang didapat kemudian akan dianalisis dengan menggunakan alat pengukur dalam program SPSS versi 12. Penelitian ini adalah berusaha mendeskripsikan fenomena pengaruh kampanye politik bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 di media massa terhadap pembentukan citra dalam masyarakat kota Medan. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN A. Profil Responden Penelitian tentang Pengaruh Berita Tokoh Pada Surat Kabar Terbitan Kota Medan Terhadap Opini Masyarakat Tentang Citra Bakal Calon Gubernur Sumatera Utara Tahun 2008 ini mengambil 267 sampel masyarakat kota Medan. Penelitian yang dilakukan pada tanggal 13-23 Desember 2007 ini dilakukan di tiga kecamatan yakni Kecamatan Medan Tembung, Kecamatan Medan Helvetia, dan Kecamatan Medan Deli. Waktu penelitian tersebut dipilih berkaitan tenggat waktu pengumuman oleh masing-masing partai politik yang akan menetapkan pasangan calon yang akan didukung menjadi calon gubernur dan calon wakil gubernur Sumatera Utara periode 2008-2013 dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara tahun 2008. Sedangkan pilihan daerah kecamatan yang menjadi sampel, seperti diuraikan sebelumnya karena merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk paling besar dan konsentrasi pembaca surat kabar paling banyak. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa daerah yang paling banyak memiliki jumlah penduduk dan paling banyak membaca surat kabar akan lebih mewakili populasi secara keseluruhan dibandingkan dengan daerah yang memiliki jumlah penduduk lebih sedikit dan tingkat konsentrasi pembaca surat kabar yang juga lebih sedikit. Sesuai dengan data kependudukan yang ada, responden dalam penelitian ini dikelompokkan dalam tiga karakteristik yang berbeda yakni kelompok agama, kelompok etnis dan kelompok usia. Pengelompokkan sampel ini dilakukan secara proporsional. Artinya, jumlah kelompok masyarakat dalam populasi di persentasikan ke dalam jumlah sampel yang disebar ke tiga wilayah kecamatan di kota Medan. Berdasarkan tiga karakteristik yang ditentukan tersebut kemudian dilakukan penyebaran kuesioner ke masyarakat kota Medan. Dari penyebaran kesioner ini kemudian menjaring kelompok-kelompok sampel lainnya dalam masyarakat secara alamiah sesuai dengan proporsinya masing-masing. Kelompok-kelompok tersebut yakni kelompok gender, kelompok pekerjaan dan kelompok pendidikan. Dari jumlah responden tersebut 65,17 % di antaranya adalah perempuan dan sisanya sebanyak 34.83% adalah responden laki-laki. Dari segi pekerjaan, responden dalam penelitian ini terdiri dari 13.11% yang berprofesi sebagai karyawan swasta, dan 0.75 % yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau merupakan kelompok sampel yang paling kecil dari segi kelompok pekerjaan. Jumlah responden yang merupakan mahasiswa/pelajar sebanyak 23.60 %. Sedangkan yang berprofesi sebagai wiraswasta atau memiliki usaha sendiri sebanyak 37.08% atau merupakan kelompok responden yang paling banyak dari segi kelompok pekerjaan. Jumlah ibu rumah tangga sebanyak 14.23% dan yang tidak bekerja atau menganggur sebanyak 11.61 %. Dari segi pendidikan, jumlah responden yang berpendidikan Sekolah Dasar (SD) sebanyak 4.87%. Untuk responden yang berpendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 17.23%. Sedangkan responden yang berpendidikan setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 65.54%. Untuk tingkat diploma jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 5.99%. Sementara responden yang berpendidikan tingkat sarjana (S1/S2/S3) sebanyak 4.49% dan yang tidak sekolah ada sebanyak 1.87%. Selanjutnya, sesuai dengan rencana pengelompokkan sampel, jumlah responden yang beragama Islam sebanyak 63,67%. Sedangkan responden yang beragama Kristen sebanyak 33.71%. Sementara jumlah responden yang beragama Hindu/Budha sebanyak 2.62%. Dari segi etnis, jumlah responden etnis Jawa sebanyak 37.45% yang merupakan kelompok etnis paling besar jumlahnya dalam populasi masyarakat kota Medan. Sedangkan yang beretnis Melayu sebanyak 18.73%. Untuk responden etnis Mandailing/Tapsel yang menjawab pertanyaan dalam penelitian ini sebanyak 28.09%. Etnis Batak (Toba, Pak pak, Simalungun) yang menjadi responden dalam penelitian ini sebanyak 10.11%. Responden dari etnis Aceh sebanyak 4.84% dan etnis Karo sebanyak 0.75%. Dari segi usia, jumlah responden yang berusia 17-25 tahun sebanyak 35.58% yang merupakan pemilih pemula dan pemilih produktif yang menjadi kelompok pemilih paling banyak dari segi kelompok usia. Kemudian responden yang berusia 26-35 tahun sebanyak 18.73%, usia 36-45 tahun sebanyak 16.85%. Begitu juga dengan usia 46-55 tahun dan >55 tahun sebanyak 16.85% responden. B. Pola Membaca Berita Tokoh 1. Frekuensi Membaca Surat Kabar dan Berita Tokoh Dalam penelitian ini terlihat, pada umumnya responden membaca surat kabar dalam seminggu terakhir. Ada sebanyak 61,8 % responden yang membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir, dan sebanyak 38,2 % responden yang tidak membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir. Dengan demikian, Min yang diperoleh untuk frekuensi masyarakat membaca surat kabar terbitan Medan ini yakni 1,3820. Grafik 4.1: Jumlah Responden Membaca Surat Kabar Sebanyak 16.9% responden membaca surat kabar setiap hari dalam satu minggu terakhir. Sedangkan 5.2% responden yang membaca surat kabar 5-6 hari dalam satu minggu. Jumlah yang membaca surat kabar 3-4 hari dalam satu minggu sebanyak 13.1%. Jumlah yang paling banyak adalah yang membaca surat kabar 1-2 hari dalam satu minggu terakhir yakni sebanyak 35.2%, sedangkan yang tidak membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir sebanyak 29.2% responden dan ada 0.4% responden yang tidak memberikan jawabannya dalam pertanyaan ini. Min kekerapan responden membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir adalah 3.5581 sehingga rata-rata kekerapan responden membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir adalah 1-2 hari dalam seminggu. Grafik 4.2: Tingkat Kekerapan Responden Membaca Surat Kabar Dalam Satu Minggu Terakhir Dari jumlah waktu yang digunakan responden membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir cukup bervariasi. Jumlah responden yang setiap hari membaca berita tokoh sebanyak 12%. Sedangkan responden yang membaca berita tokoh sebanyak 5-6 hari dalam seminggu ada 5.6%. Jumlah responden yang membaca berita tokoh 3-4 hari dalam seminggu sebanyak 13.9%. Jumlah responden yang membaca berita tokoh 1-2 hari dalam semingu 31.8%. Sedangkan responden yang tidak membaca berita tokoh sebanyak 35.2% dan yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 1.5%. Dengan demikian Min yang diperoleh sebesar 3.7715. Grafik 4.3: Tingkat Kekerapan Responden Membaca Berita Tokoh Di Surat Kabar Dalam 1 Minggu Terakhir Jumlah hari yang digunakan responden dalam membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir juga cukup bervariasi. Jumlah waktu yang dipakai responden kurang dari satu jam sebanyak 64.8%. Sedangkan responden yang menggunakan waktu membacanya 1-2 jam sebanyak 22.5%. Responden yang menggunakan waktu 2-3 jam dalam membaca surat kabar sebanyak 3.4%. Sementara yang menggunakan waktu membaca surat kabar selama 4-5 jam ada sebanyak 1.5% responden. Sedangkan yang membaca surat kabar lebih dari lima jam dijawab oleh 3% responden. Ada 4.9 responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min yang diperoleh dalam jumlah waktu yang digunakan responden dalam membca surat kabar adalah 1.7004, itu berarti rata-rata responden membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir kurang dari satu jam. Grafik 4.4: Jumlah Waktu Yang Digunakan Responden Surat Kabar 2. Ketertarikan Membaca Berita Tokoh Dalam penelitian ini para responden menyatakan bahwa berita tentang tokoh yang dimuat surat kabar terbitan Medan menarik untuk menjadi bahan bacaan atau menarik untuk dibaca. Ada sebanyak 68.2% responden yang menyatakan bahwa berita tokoh menarik untuk dibaca. Namun yang menyatakan berita tokoh yang dimuat di surat kabar terbitan Medan tidak menarik untuk dibaca ada sebanyak 31.1%. Dalam penelitian ini ada sebanyak 0.7% responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tingkat penilaian ketertarikan akan berita tokoh di surat kabar adalah 1.3258. Itu berarti rata-rata berita tokoh di surat kabar merupakan berita yang menarik bagi para responden. Grafik 4.5: Penilaian Responden Tentang Berita Tokoh Dalam penelitian ini juga mengukur besar kecilnya ketertarikan responden terhadap berita tokoh di surat kabar. Responden yang menjawab ketertarikannya membaca berita tokoh di surat kabar sangat kecil sebanyak 13.1%. Sedangkan yang menyatakan ketertarikannya kecil untuk membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 6.7%. Jumlah yang menyatakan ketertarikannya biasa saja dalam membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 61.8%. Jumlah yang menyatakan ketertarikannya besar membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 11.2%. Jumlah responden yang menyatakan ketertarikannya sangat besar membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 7.1%. Dengan demikian Min yang diperoleh dalam besar kecilnya ketertarikan responden membaca berita tokoh adalah 2.9251, berarti rata-rata responden menilai ketertarikannya membaca berita tokoh yang dimuat disurat kabar biasa saja. Grafik 4.6: Besar Kecilnya Ketertarikan Membaca Berita Tokoh Di Surat Kabar Dibandingkan rubrik lainnya yang dimuat surat kabar terbitan kota Medan, rubrik berita sangat jarang dibaca oleh sebanyak 21.3% responden. Sedangkan jumlah responden yang menyatakan jarang membaca rubrik berita tokoh dibanding rubrik lain sebanyak 31.1%. Jumlah responden yang menyatakan sedang sebanyak 30.3%. Sedangkan jumlah responden yang menyatakan sering membaca rubrik berita tokoh dibanding rubrik lain di surat kabar sebanyak 13.1%. Jumlah responden yang menyatakan sangat sering membaca rubrik berita tokoh dibanding rubrik lain di surat kabar sebanyak 3.4%. Sedangkan yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 0.7%. Dengan demikian, Min untuk seringnya rubrik berita tokoh dibaca dibanding rubrik lain adalah 2.4831 hingga rata-rata responden menilai tingkat keseringan membaca berita tokoh dibanding rubrik lainnya di surat kabar adalah sedang. Grafik 4.7: Keseringan Responden Membaca Rubrik Berita Tokoh Dibanding Rubrik Lain di Surat Kabar 3. Banyaknya Membaca Berita Tokoh Penelitian ini juga mengukur banyaknya jumlah berita tokoh yang dibaca responden dalam setiap membaca surat kabar dalam satu harinya. Pada umumnya responden membaca berita tokoh di surat kabar dalam satu hari sebanyak 1-2 berita, dengan jumlah mencapai 58.1%. Namun responden yang menyatakan tidak ada membaca berita tokoh dalam satu hari sebanyak 21.3%. Sedangkan jumlah responden yang membaca berita tokoh 2-3 berita dalam satu hari sebanyak 9%. Yang membaca semua berita tokoh yang dimuat surat kabar dalam satu hari ada sebanyak 3.4%. Sementara yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 0.7%. Dengan demikian Min untuk berita tokoh yang biasanya dibaca dalam satu hari adalah 1.9775, itu berarti rata-rata responden membaca 1-2 berita tokoh dalam satu hari. Grafik 4.8: Banyaknya Berita Tokoh Yang dibaca Dalam Satu Hari 4. Kebiasaan Membaca Berita Tokoh Para responden memiliki kebiasaan atau pola masing-masing dalam membaca berita di surat kabar khususnya dalam membaca berita tokoh. Pada umumnya responden membaca judul dan sebagian berita tokoh yang dimuat di surat kabar; jumlahnya sebanyak 41.9%. Sedangkan responden yang biasanya membaca judul dan seluruh berita tokoh di surat kabar sebanyak 24%. Jumlah responden yang hanya membaca judulnya saja dalam membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 22.8%. Jumlah yang hanya membaca judul dan lead berita tokoh saja sebanyak 10.5% dan yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 0.7%. Dengan demikian Min untuk kebiasaan responden membaca berita tokoh adalah 2.692 yang berarti rata-rata responden membaca judul dan seluruh berita tokoh yang dimuat di surat kabar. Grafik 4.9: Kebiasaan Membaca Berita Tokoh 5. Lama Membaca Berita Tokoh Responden yang menyatakan rata-rata menghabiskan waktunya kurang dari lima menit dalam membaca berita tokoh di surat kabar terbitan Medan sebanyak 36%. Sedangkan yang menyatakan menghabiskan waktunya 5-10 menit dalam membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 34.8%. Jumlah responden yang menyatakan rata-rata menghabiskan waktunya 10-30 menit dalam membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 13.1%. Jumlah responden yang menyatakan menghabiskan waktunya rata-rata 30 menit sampai 1 jam sebanyak 9.4%. Jumlah yang menjawab menghabiskan rata-rata waktunya lebih dari satu jam dalam membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 4.5%. Sedangkan responden yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 2.3%. Dengan demikian Min untuk lama membaca berita tokoh adalah 2.3146 atau rata-rata responden membaca berita tokoh kurang dari lima menit. Grafik 4.10. Lama Membaca Berita Tokoh 6. Tempat Membaca Berita Tokoh Pada umumnya responden membaca berita tokoh di surat kabar di rumahnya masing-masing. Ada sebanyak 47.2% responden yang membaca berita tentang tokoh di rumahnya. Sedangkan yang membaca berita tokoh yang dimuat di surat kabar di tempat-tempat umum seperti warung, hotel dan lain-lain sebanyak 39.3%. Jumlah responden yang menjawab membaca berita tokoh di kantor sebanyak 4.9%. Jumlah responden yang biasanya membaca berita tokoh di perpustakaan 3.4%. Sedangkan yang membaca berita tokoh di surat kabar selain di rumah, kantor, tempat umum, dan di perpustakaan 4.9%. Ada sebanyak 0.4% responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk lokasi membaca berita tokoh adalah 2.7603, itu berarti rata-rata responden membaca berita tokoh di surat kabar berlokasi di rumah. Grafik 4.11: Tempat Membaca Berita Tokoh 7. Alasan Membaca Berita Tokoh Para responden membaca berita tokoh di surat kabar karena alasan iseng-iseng sebanyak 27.7%. Sedangkan responden menjawab alasan membaca berita tokoh di surat kabar karena kemasannya menarik sebanyak 10.9%. Jumah responden yang membaca berita tokoh karena ingin tahu kegiatan yang dilakukan para tokoh adalah jumlah yang terbanyak yakni 35.6%. Sedangkan responden beralasan ingin mengetahui pernyataan para tokoh dalam berita 21.3%. Sedangkan responden yang memberikan alasan selain karena alasan di atas ada sebanyak 3.7%. Sementara 0.7 persen responden tidak menjawab pertanyaan ini. Min untuk alasan membaca berita tokoh adalah 2.6479, itu berarti rata-rata alasan responden membaca berita tokoh di surat kabar karena mereka ingin mengetahui kegiatan para tokoh. Grafik 4.12: Alasan Membaca Berita Tokoh Bagi responden yang menjawab pertanyaan alasan membaca berita tokoh di atas karena ingin tahu kegiatan tokoh (35.6%), hal itu karena senang melakukannya (16.9%) responden. Sedangkan yang paling banyak yakni 44.9% responden menjawab karena penasaran dengan apa saja yang dilakukan para tokoh menjelang Pilgubsu 2008. Sedangkan 8.6% responden menyatakan keingintahuan mereka tentang kegiatan para tokoh untuk bahan diskusi. Sedangkan yang beralasan karena ingin mengikuti kegiatan tokoh favoritnya melalui pemberitaan di surat kabar sebanyak 9.7%. Responden yang memberikan alasan sebanyak 4.9%, dan responden yang tidak menjawab pertanyaan ini 15.4%. Min untuk alasan responden yang ingin mengetahui kegiatan para tokoh melalui surat kabar adalah 2.8727, artinya rata-rata responden yang ingin mengetahui kegiatan para tokoh karena merasa penasaran dengan apa saja yang dilakukan para tokoh menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 mendatang. Grafik 4.13: Alasan Keingintahuan Tentang Kegiatan Para Tokoh Bagi responden yang menjawab alasan membaca berita tokoh di atas karena ingin mengetahui pernyataan para tokoh dalam berita (21.3%) adalah cuma ingin tahu dijawab oleh 40.1%. Sedangkan alasan menjawab ingin mengetahui pernyataan para tokoh dalam berita adalah karena hal itu dinilai penting bagi pembangunan dijawab oleh 25.5% responden. Jumlah responden yang menjawab karena alasan ingin mencari figur pemimpin yang ideal sebanyak 11.6%. Jumlah yang ingin mengetahui pernyataan para tokoh di surat kabar karena alasan ingin membanding-bandingkannya dengan tokoh favoritnya sebanyak 8.2%. Sedangkan responden yang memberikan alasan seperti yang diuraikan di atas sebanyak 3%, dan yantg tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 11.6%. Dengan demikian Min untuk alasan responden menjawab ingin mengetahui pernyataan para tokoh dalam berita untuk alasan membaca berita tokoh adalah 2.4345, itu berarti rata-rata responden beralasan karena menilai pernyataan para tokoh penting bagi pembangunan Sumatera Utara ke depan. Grafik 4.14: Alasan Ingin Tahu Pernyataan Tokoh Dalam Berita 8. Berita Tokoh Yang Dibaca Pada umumnya responden membaca berita tokoh dalam surat kabar terbitan kota Medan adalah berita tokoh-tokoh tertentu saja. Sebanyak 63.3% responden menyatakan hanya membaca berita-berita tokoh-tokoh tertentu saja pada surat kabar yang mereka baca. Sedangkan sebanyak 33.3% responden membaca semua berita tokoh yang dimuat dalam surat kabar. Sedangkan 3.4% responden tidak memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Min untuk berita tokoh yang dibaca adalah 1.7004, itu artinya rata-rata responden hanya membaca berita tokoh tertentu saja dari berita-berita tokoh yang dimuat surat kabar terbitan kota Medan. Grafik 4.15: Berita Tokoh Yang Dibaca Nama Ali Umri sering dibaca oleh 16.1% responden. Sedangkan tokoh yang paling sering dibaca adalah Abdillah yang dibaca 42.7% responden. Jumlah responden yang paling sering membaca Chairuman Harahap sebanyak 6.4% responden, sedangkan jumlah responden yang paling sering membaca berita Rudolf M.Pardede 11.2% responden, jumlah responden ini sama dengan jumlah responden yang paling sering membaca berita Syamsul Arifin di surat kabar yakni sebesar 11.2%. Responden yang sering membaca berita Herry W.Marzuki di surat kabar sebanyak 2.2% responden. Sementara sebanyak 7.1% responden menjawab beberapa nama lainnya sebanyak 7.1%, dan yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 3% responden. Dengan demikian Min untuk tokoh yang paling sering dibaca responden di surat kabar adalah 3.2697, itu berarti rata-rata responden paling sering membaca berita Abdillah di surat kabar. Grafik 4.16: Berita Tokoh Yang Paling Sering Dibaca 9. Citra Berita Surat Kabar Tentang Tokoh Berita-berita yang disajikan surat kabar tentang tokoh mencitrakan para tokoh tersebut. Sebanyak 4.1% responden menilai citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh dengan sangat tidak baik. Sedangkan sebanyak 2.6% menilai citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh dengan tidak baik. Sebanyak 38.6% responden menyatakan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh dengan biasa saja atau sedang. Jumlah responden yang menilai kesan itu baik adalah yang paling banyak yakni 40.4%. Sementara jumlah responden yang menyatakan citra yang dikesankan media massa sangat baik sebanyak 13.1%, dan ada 1.1% responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk citra berita surat kabar tentang tokoh adalah 3.5918, berarti rata-rata responden menilai baik citra yang dikesankan surat kabar tentang tokoh. Grafik 4.17: Citra Berita Surat Kabar Tentang Tokoh 10. Tingkat Pemenuhan Informasi Oleh Surat Kabar Dalam penelitian ini juga diukur tingkat pemenuhan informasi yang diberikan oleh surat kabar melalui pemberitaannya kepada masyarakat luas. Jumlah responden yang menyatakan bahwa surat kabar sudah memberikan kebutuhan informasi dengan yang menyatakan belum memenuhi kebutuhan informasi tidak jauh berbeda. Sebanyak 46.1% responden menyatakan surat kabar sudah memenuhi kebutuhan informasi. Sedangkan sebanyak 52.1% masyarakat menyatakan surat kabar belum memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkan, sementara sebanyak 1.1% responden tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tingkat pemenuhan informasi oleh surat kabar adalah 1.5431, berarti rata-rata responden menyatakan surat kabar belum memenuhi informasi yang dibutuhkan. Grafik 4.18: Tingkat Pemenuhan Informasi Oleh Surat Kabar Bagi responden yang menilai kebutuhan informasi sudah terpenuhi oleh pemberitaan surat kabar, diukur lagi seberapa besar tingkat pemenuhan informasi tersebut. Sebanyak 13.1% responden menyatakan pemenuhan informasi itu sangat kecil, sebanyak 11.6% menyatakan kecil. Sedangkan jumlah responden yang paling besar adalah yang menyatakan sedang untuk tingkat pemenuhan informasi oleh surat kabar yakni sebanyak 46.1%. Jumlah yang menyatakan tingkat pemenuhan informasi oleh surat kabar besar sebanyak 14.6%, yang menyatakan sangat besar 4.9% dan yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 9.7%. Dengan demikian Min untuk tingkat pemenuhan informasi oleh surat kabar ini adalah 3.1573, artinya rata-rata responden menilai tingkat pemenuhan informasi oleh surat kabar adalah sedang. Grafik.4.19: Besaran Tingkat Pemenuhan Informasi Oleh Surat Kabar C. Opini Masyarakat Tentang Citra Tokoh Selain mengukur tentang tingkat ketertarikan responden dan hal-hal yang berkaitan dengan berita tokoh yang terbit di surat kabar, juga dilakukan penelitian tentang efek yang diperoleh sebagai akibat dari berita tokoh tersebut. 1. Tingkat Pengenalan Terhadap Tokoh Pada umumnya tingkat pengenalan responden terhadap para tokoh menjadi lebih baik akibat pemberitaan di surat kabar. Sebanyak 83.9% responden memiliki tingkat pengenalan lebih baik tentang tokoh sebagai akibat pemberitaan di surat kabar. Sedangkan sebanyak 16.1% responden yang menyatakan tingkat pengenalannya terhadap para tokoh tidak menjadi lebih baik akibat pemberitaan di surat kabar. Dengan demikian Min untuk tingkat pengenalan terhadap tokoh ini adalah 1.1798 , atau rata-rata responden memiliki tingkat pengenalan lebih baik terhadap para tokoh akibat pemberitaan di surat kabar. Grafik 4.20: Tingkat Pengenalan Terhadap Tokoh Tingkat pengenalan itu ditegaskan lagi terhadap para responden yang telah lebih kenal dengan para tokoh akibat pemberitaan surat kabar tersebut. Sebanyak 1.5% responden memiliki tingkat pengenalan terhadap para tokoh dengan sangat tidak baik. Sedangkan sebanyak 3.7% responden mengenal para tokoh dengan tidak baik. Sementara sebanyak 55.8% responden atau jumlah yang paling besar mengenal para tokoh lebih baik dengan tingkat yang sedang. Jumlah yang mengenal para tokoh dengan baik akibat pemberitaan di surat kabar sebanyak 27.7%. Jumlah yang jadi mengenal para tokoh dengan sangat baik akibat pemberitaan di surat kabar sebanyak 9%, dan ada 2.2% responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tingkat pengenalan 3.4569, atau berarti rata-rata responden jadi mengenal baik para tokoh akibat pemberitaan di surat kabar dengan tingkat yang sedang. Grafik 4.21: Tingkat Pengenalan Terhadap Tokoh Tingkat pengenalan terhadap para responden ini dipertegas dengan memunculkan nama-nama para tokoh yang akan menjadi Calon Gubernur Sumatera Utara. Nama Abdillah dikenal oleh 59.9% responden tapi tidak dikenal oleh 12.7% responden. Nama Ali Umri dikenal oleh 36% responden tapi tidak dikenal oleh 17.2% responden. Nama Chairuman Harahap dikenal oleh 12.4% responden namun tidak dikenal oleh 28.8% responden. Nama Herry W.Marzuki dikenal oleh 7.9% responden tapi tidak dikenal oleh 30.7% responden. Nama Rudolf M.Pardede dikenal oleh 36.3% responden tapi tidak dikenal oleh 12.4% responden, dan nama Syamsul Arifin dikenal oleh 28.1% responden tapi tidak dikenal oleh 18.4% responden. Tabel 4.22: Tingkat Pengenalan Terhadap Para Tokoh No. Nama Tokoh Kenal Tidak Kenal 1. Abdillah 59.% 12.7% 2. Ali Umri 36% 17.2% 3. Chairuman Harahap 12.4% 28.8% 4. Herry W.Marzuki 7.9% 30.7% 5. Rudolf M.Pardede 36.3% 12.4% 6. Syamsul Arifin 28.1% 18.4% 7. Dll 25.15% - 2. Tokoh Yang Paling Merakyat Para responden menilai bahwa tokoh yang paling pantas disebut tokoh yang merakyat adalah Abdillah. Sebanyak 41.9% responden memilihnya. Selanjutnya sebanyak 15.7% responden memilih Ali Umri sebagai tokoh yang paling pantas disebut tokoh yang merakyat. Syamsul Arifin dipilih oleh 12.4% responden sebagai tokoh yang merakyat, kemudian Rudolf M.Pardede dipilih oleh 9.7% responden. Nama Chairuman Harahap dipilih oleh 5.6% responden sebagai tokoh yang paling pantas disebut sebagai tokoh yang merakyat, sedangkan Herry W.Marzuki dipilih oleh 3.4% responden dan sebanyak 7.1% responden memilih nama-nama lain. Ada 4.1% responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tokoh yang paling merakyat ini adalah 2.2547, atau rata-rata responden menilai Abdillah sebagai tokoh yang merakyat. Grafik 4.23: Tokoh Yang Paling Merakyat 3. Tokoh Yang Paling Mampu Membangun Sumut Abdillah juga dinilai sebagai tokoh yang paling pantas disebut tokoh yang mampu membangun Sumatera Utara. Sebanyak 39% responden menilai Abdillah tokoh yang mampu. Selanjutnya nama Ali Umri dipilih oleh 15.7% responden, dan nama Rudolf M.Pardede dipilih oleh 12% responden, disusul nama Syamsul Arifin yang dipilih oleh 10.5% responden. Sedangkan nama Chairuman Harahap dipilih oleh 7.1% responden, dan Herry W.Marzuki dipilih oleh 3% responden. Ada sebanyak 9% responden yang memilih nama-nama lain dan 3.7% responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tokoh yang dinilai paling mampu membangun Sumatera Utara adalah 3.427 itu berarti rata-rata responden menilai Abdillah sebagai tokoh yang pantas disebut tokoh yang mampu membangun Sumut. Grafik 4.24: Tokoh Yang Paling Mampu Membangun Sumut 4. Tokoh Yang Paling Berpenampilan Layak/Pantas Seperti halnya penilaian tentang tokoh merakyat dan tokoh yang bisa membangun Sumatera Utara, tokoh yang berpenampilan layak juga didominasi oleh Abdillah. Sebanyak 33% responden menilai Abdillah adalah tokoh yang paling pantas disebut tokoh yang berpenampilan menarik. Ali Umri dipilih oleh 19.9% responden, kemudian Syamsul Arifin dipilih 12.4% responden. Nama Chairuman Harahap dipilih oleh 10.5% responden yang menilainya sebagai tokoh yang paling layak disebut berpenampilan menarik. Sedangkan Rudolf dipilih 9.7% responden, sedangkan Herry W.Marzuki dipilih 2.2% responden. Sebanyak 9% responden memilih beberapa nama lain, dan 3.4% memilih tidak menjawab. Dengan demikian Min untuk tokoh yang paling berpenampilan menarik ini adalah 3.3895, artinya rata-rata responden menilai Abdillah sebagai tokoh yang paling pantas disebut berpenampilan paling menarik. Grafik 4.25: Tokoh Yang Paling Berpenampilan Layak/Pantas 5. Tokoh Paling Pemersatu Tokoh yang paling paling pantas disebut tokoh pemersatu juga didominasi oleh Abdilah. Sebanyak 34.1% responden memilih Abdillah, disusul Ali Umri yang dipilih 16.5%. Kemudian Rudolf M.Pardede dipilih oleh 13.1% responden dan Syamsul Arifin dipilih oleh 11.6%. Nama Chairuman Harahap dipilih oleh 8.2% responden sebagai tokoh yang paling pantas disebut sebagai tokoh pemersatu. Sedangkan Herry W.Marzuki dipilih oleh 3.7% responden. Sementara sebanyak 11.6% responden memilih nama-nama lain selain dari nama-nama yang diuraikan di atas, dan 2.6% responden memilih tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tokoh paling pemersatu ini adalah 3.5131, atau rata-rata responden menilai Abdillah sebagai tokoh yang paling pantas disebut sebagai tokoh pemersatu. Grafik 4.26: Tokoh Paling Pemersatu 6. Tokoh Paling Nasionalis-Religius Untuk tokoh yang paling pantas disebut sebagai tokoh yang nasionalis-religius juga didominasi nama Abdillah. Sebanyak 33.7% responden memilihnya, Ali Umri dipilih 16.5% responden, Syamsul Arifin dipilih oleh 14.2% responden dan Rudolf M.Pardede dipilih oleh 11.6% responden. Nama Chairuman Harahap dipilih oleh 8.2% responden sebagai tokoh yang paling pantas disebut tokoh nasionalis-religius. Sedangkan Herry W.Marzuki dipilih oleh 4.5% responden. Sebanyak 8.6% responden memilih nama-nama lain selain yang diuraikan di atas, dan 2.6% responden memilih tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tokoh paling nasionalis-religius ini adalah 3.6742, atau rata-rata responden memilih Abdillah untuk tokoh yang paling pantas disebut tokoh nasionalis-religius. Grafik 4.27: Tokoh Paling Nasionalis-Religius D. Pengujian Hipotesis Hipotesis adalah pernyataan atau dugaan yang bersifat sementara terhadap suatu masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah (belum tentu kebenarannya) sehingga harus diuji secara empiris. Tahapan yang dilakukan dalam pengujian hipotesis setelah dirumuskan adalah dengan menetapkan tes statistik yang akan digunakan, menetapkan tingkat signifikansi (0.05%), melakukan perhitungan statistik dengan mengunakan program SPSS, dan mengambil kesimpulan. Dalam penelitian ini, hipotesis antara masing-masing variabel akan diteliti dengan konsep sebagai berikut: Adanya hubungan yang signifikan di antara berita tokoh di surat kabar dengan opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. Analisis korelasi antara untuk mengetahui hubungan berita tokoh di surat kabar (X) dengan opini masyarakat tentang citra bakal calon gubernur Sumatera Utara (Y). Penelitian ini menggunakan uji Kendall dan Spearman yang mengukur hubungan antar variabel berdasarkan rangking dan tidak memandang distribusi variabel (non parametrik). Sedangkan untuk menguji keberartian digunakan uji ’t’. Untuk mengetahui hubungan tersebut variabel X akan dihubungkan dengan variabel Y, dihubungkan beberapa variabel yang diuraikan di bawah ini; 1. Koefisien korelasi antara tingkat ketertarikan responden membaca berita tentang tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. Sesuai dengan hipotesis yang diuraikan di atas, maka hipotesis kedua variabel ini adalah adanya hubungan antara tingkat ketertarikan responden membaca berita tentang tokoh di surat kabar dengan tingkat pengenalan responden terhadap para tokoh. Untuk menguji hipotesis antara kedua variabel tersebut, diurakan sebagai berikut: KETERTARIKAN MEMBACA BERITA TOKOH TINGKAT PENGENALAN TERHADAP PARA TOKOH Kendall's tau_b KETERTARIKAN MEMBACA BERITA TOKOH Correlation Coefficient 1.000 .164 Sig. (2-tailed) . .002 N 267 267 TINGKAT PENGENALAN TERHADAP PARA TOKOH Correlation Coefficient .164 1.000 Sig. (2-tailed) .002 . N 267 267 Spearman's rho KETERTARIKAN MEMBACA BERITA TOKOH Correlation Coefficient 1.000 .185 Sig. (2-tailed) . .002 N 267 267 TINGKAT PENGENALAN TERHADAP PARA TOKOH Correlation Coefficient .185 1.000 Sig. (2-tailed) .002 . N 267 267 Tabel 4.28: Koefisien Korelasi antara tingkat ketertarikan responden membaca berita tentang tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. Tingkat signifikan berada pada level 0,05 Keterangan: Nilai koefisien korelasi antara tingkat ketertarikan responden membaca berita tentang tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh versi Kendall sebesar 0.164, sedangkan menurut Spearman 0.185. r√ n – 2 t hitung = -------------------- √ 1 - r² 0.164 √ 267 - 2 T hitung Kendall = _______________ √ 1 – 0.164² 0.164 x 16.279 = _______________ √ 1 – 0.027 2.668 = ____________ √ 0.9732 2.668 = _________ 0.986 = 2.705 0.185 √ 267 - 2 t hitung Spearman = ________________ √ 1 – 0.185² 0.185 x 16.279 = ______________ √ 1 - 0.034 3.009 = _________ √ 0.966 3.009 = _______ 0.98 = 3.070 t tabel (265 ; 0.05) Keterangan: Jika t hitung > t tabel, maka hipotesis diterima Jika t hitung < t tabel, maka hipotesis ditolak t hitung Kendall = 2.705 > t tabel 1.645 t hitung Spearman = 3.070 > t tabel 1.645 Maka hipotesis diterima, jadi ada hubungan yang signifikan antara variabel tingkat ketertarikan responden membaca berita tentang tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. 2. Koefisien korelasi antara frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. Hipotesis hubungan kedua variabel ini adalah adanya hubungan antara frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. Untuk menguji hipotesis tersebut diuraikan sebagai berikut: Tabel 4.29: Koefisien korelasi antara frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. FREKUENSI MEMBACA BERITA TOKOH TINGKAT PENGENALAN TERHADAP TOKOH Kendall's tau_b FREKUENSI MEMBACA BERITA TOKOH Correlation Coefficient 1.000 .101 Sig. (2-tailed) . .067 N 267 267 TINGKAT PENGENALAN TERHADAP TOKOH Correlation Coefficient .101 1.000 Sig. (2-tailed) .067 . N 267 267 Spearman's rho FREKUENSI MEMBACA BERITA TOKOH Correlation Coefficient 1.000 .112 Sig. (2-tailed) . .068 N 267 267 TINGKAT PENGENALAN TERHADAP TOKOH Correlation Coefficient .112 1.000 Sig. (2-tailed) .068 . N 267 267 Tingkat signifikan berada pada level 0.05 Keterangan : Nilai koefisien korelasi frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh versi Kendall adalah 0.101, sedangkan menurut Spearman adalah 0.112. r√ n – 2 t hitung = -------------------- √ 1 - r² 0.101 √ 267 - 2 t hitung Kendall = ______________ √ 1 – 0.101² 0.101 x 16.279 = _____________ √ 1 – 0.0102 1.644 = _________ √ 0.9898 1.644 = _______ 0.995 = 1.656 0.112 √ 267 - 2 t hitung Spearman = ______________ √ 1 – 0.112² 0.101 x 16.279 = _____________ √ 1 – 0.0125 1.823 = _______________ √ 0.988 1.823 = _______ 0.994 = 1.838 t tabel (265 ; 0.05) Keterangan: t hitung Kendall = 1.656 > t tabel 1.645 t hitung Spearman = 1.838 > t tabel 1.645 Maka hipotesis diterima, ada hubungan antara variabel frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. 3. Koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh. Hipotesis kedua variabel adalah adanya hubungan antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh. Untuk menguji hipotesis tersebut, berikut diuraikan: Tabel 4.30: Koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh. TOKOH YANG PALING SERING DIBACA CITRA TOKOH YANG DIKESANKAN SURAT KABAR Kendall's tau_b TOKOH YANG PALING SERING DIBACA Correlation Coefficient 1.000 -.007 Sig. (2-tailed) . .888 N 267 267 CITRA TOKOH YANG DIKESANKAN SURAT KABAR Correlation Coefficient -.007 1.000 Sig. (2-tailed) .888 . N 267 267 Spearman's rho TOKOH YANG PALING SERING DIBACA Correlation Coefficient 1.000 -.007 Sig. (2-tailed) . .907 N 267 267 CITRA TOKOH YANG DIKESANKAN SURAT KABAR Correlation Coefficient -.007 1.000 Sig. (2-tailed) .907 . N 267 267 Tingkat signifikan berada pada level 0.05 Keterangan : Nilai koefisien korelasi frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh versi Kendall adalah -0.007, sedangkan menurut Spearman adalah -0.007. r√ n – 2 t hitung = ------------------- √ 1 - r² t hitung Kendall dan Spearman : -0.007 X 16.279 = ________________ √ 1 – 0.007 0.101 √ 265 = _________________ √ 1 – 0.000049 -0.11389 = _______________ 0.9999 = - 0.1139 Keterangan: t hitung Kendall dan Spearman= - 0.1139 < t tabel 1.645 Maka hipotesis ditolak, tidak ada hubungan antara variabel antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh. 4. Koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan tokoh yang paling pantas disebut tokoh merakyat. Hipotesis antara kedua variabel ini yakni adanya hubungan antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan tokoh yang paling pantas disebut tokoh merakyat. Untuk menguji hipotesis tersebut berikut diuraikan: Tabel 4.31: Koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan tokoh yang paling pantas disebut tokoh merakyat. TOKOH YANG PALING SERING DIBACA TOKOH YANG PALING MERAKYAT Kendall's tau_b TOKOH YANG PALING SERING DIBACA Correlation Coefficient 1.000 .363 Sig. (2-tailed) . .000 N 267 267 TOKOH YANG PALING MERAKYAT Correlation Coefficient .363 1.000 Sig. (2-tailed) .000 . N 267 267 Spearman's rho TOKOH YANG PALING SERING DIBACA Correlation Coefficient 1.000 .396 Sig. (2-tailed) . .000 N 267 267 TOKOH YANG PALING MERAKYAT Correlation Coefficient .396 1.000 Sig. (2-tailed) .000 . N 267 267 Tingkat signifikan berada pada level 0.05 Keterangan : Nilai koefisien korelasi berita tokoh yang paling sering dibaca dengan penilaian tokoh yang paling merakyat versi Kendall adalah 0.363, sedangkan menurut Spearman adalah 0.396. r√ n – 2 t hitung = -------------------- √ 1 - r² 0.363 √ 267 - 2 t hitung Kendall = _____________ √ 1 – 0.363² 0.363 X 16.279 = _____________ √ 1 – 0.1317 5.906 = ______ 0.9318 = 6.338 0.396 √ 267 - 2 t hitung Spearman = ______________ √ 1 – 0.396² 0.396 X 16.279 = ______________ √ 1 – 0.1568 6.4429 = ________ 0.918 = 7.018 Keterangan: t hitung Kendall = 6.338 > t tabel 1.645 t hitung Spearman = 7.018 > t tabel 1.645 Maka hipotesis diterima, ada hubungan yang sangat signifikan antara variabel berita tokoh yang sering dibaca dengan penilaian tokoh yang paling merakyat. 5. Koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan penilaian tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara. Hipotesis kedua variabel tersebut yakni adanya hubungan antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan penilaian tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara. Untuk menguji hipotesis kedua variabel ini diuraikan sebagai berikut: Tabel 4.31: Koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan penilaian tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara. TOKOH YANG PALING SERING DIBACA TOKOH YANG PALING MAMPU MEMBANGUN SUMUT Kendall's tau_b TOKOH YANG PALING SERING DIBACA Correlation Coefficient 1.000 .320 Sig. (2-tailed) . .000 N 267 267 TOKOH YANG PALING MAMPU MEMBANGUN SUMUT Correlation Coefficient .320 1.000 Sig. (2-tailed) .000 . N 267 267 Spearman's rho TOKOH YANG PALING SERING DIBACA Correlation Coefficient 1.000 .356 Sig. (2-tailed) . .000 N 267 267 TOKOH YANG PALING MAMPU MEMBANGUN SUMUT Correlation Coefficient .356 1.000 Sig. (2-tailed) .000 . N 267 267 Tingkat signifikan berada pada level 0.05 Keterangan : Nilai koefisien korelasi berita tokoh yang paling sering dibaca dengan penilaian tokoh yang paling merakyat versi Kendall adalah 0.320, sedangkan menurut Spearman adalah 0.356. r√ n – 2 t hitung = -------------------- √ 1 - r² 0.320 √ 267 - 2 t hitung Kendall = _____________ √ 1 – 0.320² 0.320 √ 265 = ___________ √ 1 – 0.1024 5.2074 = _________ 0.9474 = 5.495 0.356 √ 267 - 2 t hitung Spearman = _____________ √ 1 – 0.356² 0.356 √ 265 = ___________ √ 1 – 01267 5.792 = ______ 0.9345 = 6.1979 Keterangan: t hitung Kendall = 5.495 > t tabel 1.645 t hitung Spearman = 6.1979 > t tabel 1.645 Maka hipotesis diterima, ada hubungan yang sangat signifikan antara variabel berita tokoh yang sering dibaca dengan penilaian tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara. 6. Koefisien korelasi antara alasan responden ingin mengetahui kegiatan para tokoh dengan terpenuhinya kebutuhan informasi tentang tokoh. Hipotesis kedua variabel yakni adanya hubungan antara alasan responden ingin mengetahui kegiatan para tokoh dengan terpenuhnya informasi tentang tokoh. Untuk menguji hipotesis ini diuraikan sebagai berikut: Tabel 4.32 : Koefisien korelasi antara alasan responden ingin mengetahui kegiatan para tokoh dengan terpenuhinya kebutuhan informasi tentang tokoh. ALASAN INGIN TAHU BERITA TOKOH TERPENUHINYA KEBUTUHAN INFORMASI TENTANG TOKOH Kendall's tau_b ALASAN INGIN TAHU BERITA TOKOH Correlation Coefficient 1.000 .101 Sig. (2-tailed) . .067 N 267 267 TERPENUHINYA KEBUTUHAN INFORMASI TENTANG TOKOH Correlation Coefficient .101 1.000 Sig. (2-tailed) .067 . N 267 267 Spearman's rho ALASAN INGIN TAHU BERITA TOKOH Correlation Coefficient 1.000 .112 Sig. (2-tailed) . .068 N 267 267 TERPENUHINYA KEBUTUHAN INFORMASI TENTANG TOKOH Correlation Coefficient .112 1.000 Sig. (2-tailed) .068 . N 267 267 Tingkat signifikan berada pada level 0.05 Keterangan : Nilai koefisien korelasi alasan ingin tahu berita tokoh di surat kabar dengan terpenuhnya kebutuhan informasi tentang tokoh versi Kendall adalah 0.101, sedangkan menurut Spearman adalah 0.112. r√ n – 2 t hitung = ------------------- √ 1 - r² 0.101 √ 267 - 2 t hitung Kendall = ______________ √ 1 – 0.101² 0.101 x 16.279 = ______________ √ 1 – 0.0102 1.644 = _________ √ 0.9898 1.644 = _______ 0.995 = 1.656 0.112 √ 267 - 2 t hitung Spearman = ________________ √ 1 – 0.112² 0.101 x 16.279 = _______________ √ 1 – 0.0125 1.823 = _________ √ 0.988 1.823 = ______ 0.994 = 1.838 t tabel (265 ; 0.05) Keterangan: t hitung Kendall = 1.656 > t tabel 1.645 t hitung Spierman = 1.838 > t tabel 1.645 Maka hipotesis diterima, ada hubungan antara variabel alasan ingin tahu kegiatan tokoh di surat kabar dengan terpenuhinya kebutuhan informasi tentang tokoh dari surat kabar. 7. Nilai koefisien korelasi antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh. Hipotesis kedua variabel yakni adanya hubungan antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh. Untuk menguji hipotesis ini diuraikan sebagai berikut: Tabel 4.33: Nilai koefisien korelasi antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh. WAKTU YANG DIHABISKAN MEMBACA BERITA TOKOH PEMENUHAN INFORMASI TENTANG TOKOH OLEH SURAT KABAR WAKTU YANG DIHABISKAN MEMBACA BERITA TOKOH Pearson Correlation 1 .132 Sig. (2-tailed) . .031 N 267 267 PEMENUHAN INFORMASI TENTANG TOKOH OLEH SURAT KABAR Pearson Correlation .132 1 Sig. (2-tailed) .031 . N 267 267 Tingkat signifikan berada pada level 0.01 Nilai koefisien korelasi antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh menurut Pearson adalah 0.132. r√ n – 2 t hitung = ------------------- √ 1 - r² 0.132 √ 267 - 2 T hitung Perason = ______________ √ 1 – 0.132² 0.132 x 16.279 = _____________ √ 1 – 0.174 2.14 = ________ 0.9826 = 2.177 Keterangan T hitung Pearson 2.177 > t tabel 1.645 Maka : Hipotesis diterima, ada hubungan antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh. E. Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil uraian penelitian di atas, diketahui bahwa opini masyarakat terhadap citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 adalah baik. Hal ini dimungkinkan karena pemberitaan di surat kabar yang pada umumnya positif terhadap para bakal calon gubernur Sumatera Utara. Hanya sebanyak 4.1% responden menilai citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh dengan sangat tidak baik. Sedangkan sebanyak 2.6% menilai citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh dengan tidak baik. Sebanyak 38.6% responden menyatakan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh dengan biasa saja atau sedang. Jumlah responden yang menilai kesan itu baik adalah yang paling banyak yakni 40.4%. Sementara jumlah responden yang menyatakan citra yang dikesankan media massa sangat baik sebanyak 13.1%. Dapat juga diuraikan bahwa lebih banyak masyarakat kota Medan yang membaca surat kabar sebagai sumber informasi, jika dibandingkan yang tidak membaca surat kabar (61.8% : 38.2%). Hal ini dimungkinkan masyarakat kota Medan adalah masyarakat perkotaan yang lebih mudah dalam mengakses informasi di banding masyarakat yang hidup di pedesaan. Namun tingkat membaca surat kabar masyarakat ini masih tergolong rendah, rata-rata 1-2 hari dalam satu minggu (Min 3.5581). Begitu juga dengan waktu yang digunakan dalam membaca surat kabar dalam satu hari, rata-rata masyarakat menghabiskan waktu kurang dari satu jam setiap hari (64.8%). Sedangkan berita tokoh yang disajikan surat kabar juga sebanding dengan aktifitas membaca surat kabar yakni 1-2 hari dalam seminggu (31.8%). Jumlah yang membaca berita tokoh setiap hari ada sebanyak 12%, yang membaca 5-6 hari sebanyak 5.6%, yang membaca 3-4 hari sebanyak 13.9%. Meski jumlah yang paling banyak adalah yang tidak membaca berita tokoh yakni 35.2%, namun masih lebih banyak yang membaca berita tokoh. Hal ini sejalan dengan tingkat ketertarikan responden dalam membaca berita tokoh yakni sebesar 68.2%, dan yang menyatakan berita tokoh tidak menarik hanya 31.1%. Itu menunjukkan bahwa berita tokoh termasuk berita yang menarik untuk dibaca masyarakat karena isunya adalah merupakan masalah yang sedang hangat sekarang ini yakni proses untuk memilih secara langsung pemimpin Sumatera Utara periode mendatang. Dalam skala sangat besar, besar, sedang, kecil, dan sangat kecil, para responden meilih ketertarikkannya membaca berita tokoh adalah sedang atau biasa saja (61.8%). Jumlah yang menyatakan ketertarikkannya besar membaca berita tokoh ada 11.2% dan sangat besar 7.1%. Jumlah ini sepertinya berbanding lurus dengan yang menyatakan ketertarikkannya kecil (6.7%) dan sangat kecil (13/1%). Ini menunjukkan meski berita tokoh dianggap menarik, namun tidak terlalu menarik. Jika dibandingkan dengan rubrik lain, rubrik berita tokoh termasuk jarang dibaca (31.3%). Namun yang menyatakan rubrik berita termasuk yang sedang dibaca dibanding rubrik lain sebanyak 30.3%. Jumlah rata-rata masyarakat kota Medan membaca berita tokoh di surat kabar dalam satu hari sebanyak 1-2 berita (58.1%). Jumlah ini masih lebih banyak dibanding yang menyatakan tidak ada membaca berita tokoh (25.8%). Hal ini menguatkan bahwa berita tokoh adalah kategori berita yang menarik dibaca dalam skala yang sedang. Pola atau kebiasaan masyarakat dalam membaca berita tokoh ini pada umumnya membaca judul dan sebagian isi berita (41.9%). Sedangkan yang membaca judul dan seluruh isi berita mencapai 24%. Yang membaca judulnya saja 22.8% dan yang membaca judul dan leadnya saja hanya 10.5%. Ini menunjukkan pola membaca surat kabar masyarakat kota Medan sudah baik. Atau bisa juga disimpulkan content berita tokoh dianggap menarik atau juga kemasan berita tokoh dianggap menarik. Meski demikian waktu yang digunakan masyarakat dalam membaca berita tokoh tidak terlalu lama, rata-rata kurang dari lima menit (36%), dan 5-10 menit (34.8%), 10-30 menit (13.1%) dan 30 menit sampai 1 jam (4.5%). Namun kategori rata-rata alokasi waktu membaca berita tokoh ini masih tergolong baik karena mengingat banyaknya rubrik lain yang tersedia di surat kabar yang merupakan pilihan bagi pembaca sebelum menentukan pilihannya membaca berita tokoh. Kebiasaan membaca masyarakat membaca surat kabar dilakukan di rumah masing-masing (47.2%). Sedangkan yang biasa membaca di tempat umum sebanyak 39.3%. Sementara yang biasa membaca surat kabar di kantor (4.9%), dan yang biasa membaca di perpustakaan (3.4%). Ini menunjukkan bahwa jumlah pembaca surat kabar di kota Medan yang membeli sendiri (berlangganan) surat kabar hampir separuh dari yang membaca dengan tidak membeli sendiri. Ini dimungkinkan bagi yang membaca surat kabar di rumah adalah orang yang membeli sendiri surat kabar. Bagi para pembaca ini, pada umumnya alasan mereka membaca berita tokoh di surat kabar adalah karena ingin mengetahui kegiatan para tokoh (35.6%). Sedangkan yang ingin mengetahui pernyataan para tokoh dalam berita sebanyak 21.3%. Ini menunjukkan kalau memang perhatian pembaca berita tokoh memang diarahkan kepada para tokoh tersebut. Kenyataan ini sejalan dengan alasan mereka ingin mengatahui apa saja kegiatan tokoh itu, adalah karena merasa penasaran akan apa saja yang dilakukan para tokoh (44.6%). Namun berbeda dengan alasan ingin mengetahui pernyataan para tokoh dalam berita adalah karena hanya ingin tahu saja merupakan jumlah yang paling besar (40.1%). Dan sebanyak 25.5% yang menilai pernyataan tersebut penting bagi pembangunan, jumlah yang beralasan ingin mencari figur yang ideal sebanyak 11.6% dan yang bermaksud membandingkan dengan tokoh favoritnya sebanyak 8.2%. Ini menunjukkan bahwa perhatian pembaca berita tokoh karena memang ada interest di belakangannya yang bisa merupakan wujud kepedulian terhadap masalah imamah di Sumatera Utara. Para pembaca juga memiliki tingkat selektifitas dalam membaca berita tokoh. Pada umumnya masyarakat pembaca hanya membaca berita tokoh-tokoh tertentu saja (63.3%). Hanya 33.3% responden yang tidak memilih-milih dalam membaca berita tokoh. Mengingat banyaknya tokoh yang diproklamirkan atau meproklamirkan diri menjadi calon gubernur atau calon wakil gubernur telah menimbulkan selektifitas ini. Hal tersebut karena penilaian tentang keseriusan para calon tersebut dinilai tidak semuanya serius. Dari nama-nama yang diajukan, nama Abdillah termasuk tokoh yang paling sering dibaca beritanya di surat kabar (42.7%). Ali Umri merupakan tokoh yang juga sering dibaca beritanya di surat kabar (16.1%), disusul Rudolf M.Pardede dan Syamsul Arifin masing-masing (11.2%), Chairuman Harahap (6.4%), dan Herry W.Marzuki 2.2%. Beberapa nama tokoh lain yang dibaca sebanyak 7.1% responden saja. Dari pemberitaan surat kabar tersebut, pada umumnya pencitraan yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh adalah pencitraan yang positif. Responden yang menilai pencitraan itu pada tingkat baik sebanyak 40.4%, dan yang menilai sedang 38.6% dan ada yang menilai sangat baik 13.1%. Hanya 4.1% yang menyatakan sangat tidak baik, dan 7% menyatakan tidak baik. Hal ini dimungkinkan karena pada umumnya hal-hal yang disampaikan dalam berita tokoh tersebut adalah hal-hal yang merupakan promosi diri para tokoh. Pemberitaan surat kabar yang sifatnya mendiskreditkan tokoh tertentu sangat sedikit atau kalaupun ada disajikan secara samar. Kondisi ini juga bisa berarti bahwa pers di kota Medan cenderung lebih dewasa dengan mengesampingkan berita-berita yang sifatnya menjelek-jelekkan orang lain. Namun bisa jadi juga karena berita-berita menyangkut black campaign tidak banyak beredar. Menyangkut pemenuhan informasi tentang tokoh oleh surat kabar merupakan satu hal yang masih dinilai belum begitu besar. Sebanyak 52.1% menilai surat kabar belum memenuhi kebutuhan informasi tentang tokoh, dan sebanyak 46.8% yang menyatakan kebutuhan informasi tentang para tokoh tersebut sudah terpenuhi. Meski hasil ini bukanlah hasil yang ideal, tetapi peran media massa menyediakan 46.8% informasi tentang para tokoh merupakan suatu yang signifikan, karena media informasi alternatif untuk mensosialisasi para tokoh yang akan menjadi calon pemimpin di Sumatera Utara masih banyak yang bisa dijadikan pilihan seperti pamflet, brosur, buku dan lainnya. Masyarakat kota Medan pada umumnya menilai tingkat pemenuhan informasi tentang para tokoh di surat kabar pada level sedang (46.1%). Hanya 13.1% yang menyatakan sangat kecil dan 11.6% menyatakan kecil. Sedangkan yang menyatakan tingkat pemenuhan informasi itu besar 14.6%, dan sangat besar 4.9%. Hal ini sejalan dengan pengenalan masyarakat tentang para tokoh yang menjadi lebih baik (83.9%) dengan berita tokoh di surat kabar. Sedangkan yang menyatakan tingkat pengenalannya tidak lebih baik sebanyak 16.1%. Senada dengan itu tingkat pengenalan masyarakat tentang para tokoh juga jadi lebih baik. Pada level lebih baik yang sedang ada 55.8% responden, pada level baik 27.7% dan sangat baik 9%. Sedangkan yang menyatakan sangat tidak baik 1.5%, dan level tidak baik 3.7%. Hasil ini menyimpulkan bahwa peran media masa sebagai sumber informasi dalam berita tokoh yang bakal menjadi calon Gubernur Sumatera Utara masih cukup signifikan, khususnya bagi masyarakat perkotaan seperti di kota Medan yang notabene adalah ibukota provinsi Sumatera Utara. Dari nama-nama yang dimunculkan, pada umumnya masyarakat kota Medan mengenal nama-nama tersebut dibanding yang tidak mengenalnya. Nama Abdillah dikenal 59.9% dan tidak dikenal 12.7%, Ali Umri dikenal 36% dan tidak dikenal 17.2%, nama Chairuman dikenal 12.4% dan tidak dikenal 28.8%, nama Herry W.Marzuki dikenal 7.9% dan tidak dikenal 30.7%, nama Rudolf M.Pardede dikenal 36.3% dan tidak dikenal 12.4%, nama Syamsul Arifin dikenal 28.1% dan tidak dikenal 18.4%. Hasil ini mendukung data tentang peran surat kabar memperkenalkan dan memberikan informasi tentang para tokoh kepada masyarakat. Ada pengaruh signifikan dari berita tokoh di surat kabar terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon gubernur Sumatera Utara. Opini masyarakat ini dipengaruhi oleh tingkat pengenalan dan tingkat pemenuhan informasi yang diperoleh masyarakat. Sedangkan tingkat pengenalan ini dipengaruhi oleh tingkat ketertarikan dan tingkat membaca surat kabar. Tingkat pengenalan masyarakat terhadap para tokoh ini mempengaruhi penilaiannya terhadap para tokoh. Ada hubungan antara tingkat pengenalan ini dengan penilaian tersebut. Abdillah yang paling dikenal oleh masyarakat dinilai sebagai tokoh yang paling pantas disebut tokoh merakyat (41.9%), paling mampu membangun Sumatera Utara (39%), berpenampilan paling menarik (33%), tokoh pemersatu (34.1%), tokoh nasional-religius (33.7%). Herry W.Marzuki yang kurang dikenal masyarakat juga mempengaruhi penilaian tentang dirinya. Hanya 3.4% responden menyatakan Herry sebagai tokoh yang paling pantas disebut merakyat, dan 3% menyebutnya sebagai tokoh yang mampu membangun Sumatera Utara, 2.2% menilainya memiliki penampilan menarik, 3.7% menilainya sebagai tokoh pemersatu, dan hanya 4.5% yang menilainya sebagai tokoh nasionalis-religius. Hal ini berarti semakin besar tingkat pengenalan masyarakat tentang para tokoh maka akan semakin besar mempengaruhi penilaiannya tentang para tokoh tersebut. Dari pengujian hipotesis juga ditemukan bahwa tingkat pengenalan ini dipengaruhi oleh tingkat ketertarikan membaca berita tokoh di surat kabar dan frekuensi membaca berita tokoh. Ada hubungan di antara variable-variabel tersebut. Sementara waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh juga memiliki hubungan dengan tingkat pemenuhan informasi para tokoh. Penilaian tentang citra yang baik (tokoh paling merakyat dan tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara) dengan tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar. Dari tujuh uji korelasi yang dilakukan, enam di antaranya diterima sehingga adanya hubungan antara variabel-variabel tersebut. Berikut ini diuraikan kesimpulan dari hasil uji hipotesis yang dilakukan: 1. t hitung Kendall = 2.705 > t tabel 1.645 t hitung Spearman = 3.070 > t tabel 1.645 Hasil ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel tingkat ketertarikan responden membaca berita tentang tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. Maka dengan demikian hipotesis diterima. 2. t hitung Kendall = 1.656 > t tabel 1.645 t hitung Spearman = 1.838 > t tabel 1.645 Hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara variabel frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. Maka dengan demikian hipotesis diterima. 3. t hitung Kendall dan Spearman= - 0.1139 < t tabel 1.645 Hasil ini menunjukkan tidak ada hubungan antara variabel antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh. Dengan demikian maka hipotesis ditolak. 4. t hitung Kendall = 6.338 > t tabel 1.645 t hitung Spearman = 7.018 > t tabel 1.645 Hasil ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara variabel berita tokoh yang sering dibaca dengan penilaian tokoh yang paling merakyat. Dengan demikian maka hipotesis diterima. 5. t hitung Kendall = 5.495 > t tabel 1.645 t hitung Spearman = 6.1979 > t tabel 1.645 Hasil ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara variabel berita tokoh yang sering dibaca dengan penilaian tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara. Dengan demikian maka hipotesis diterima. 6. t hitung Kendall = 1.656 > t tabel 1.645 t hitung Spierman = 1.838 > t tabel 1.645 Hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara variabel alasan ingin tahu kegiatan tokoh di surat kabar dengan terpenuhinya kebutuhan informasi tentang tokoh dari surat kabar. Dengan demikian mak hipotesis diterima. 7. t hitung Pearson 2.177 > t tabel 1.645 Hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh. Dengan demikian maka hipotesis diterima. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas yang merupakan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Surat kabar mengesankan para tokoh dengan citra yang baik sesuai dengan pernyataan dan kegiatan-kegiatan yang baik yang dimuat surat kabar. 2. Opini masyarakat tentang citra para tokoh dipengaruhi tingkat ketertarikannya membaca berita tokoh di surat kabar. 3. Masyarakat kota Medan pada umumnya tertarik untuk membaca berita tokoh di surat kabar. Rata-rata membaca berita tokoh 1-2 berita setiap hari dengan pola atau kebiasaan membaca berita tokoh dengan membaca judul dan sebagian isi berita. 4. Tingkat membaca berita tokoh di surat kabar dilandasi alasan yang serius karena pada masyarakat kota Medan membaca berita tokoh karena ingin tahu kegiatan para tokoh dan ingin mengetahui pernyataan yang dikeluarkan para tokoh dalam berita. 5. Masyarakat memiliki tingkat selektifitas dalam membaca berita tokoh. Tidak semua berita tokoh yang dibaca, hanya tokoh tertentu yang memiliki konsistensi dalam penampilannya di surat kabar. Masyarakat pembaca di kota Medan menyaring sendiri orang-orang yang benar-benar serius dalam pencalonan dibandingkan orang yang hanya melemparkan isu saja. 6. Citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh adalah positif. Hal ini karena pada umumnya content pemberitaan surat kabar tentang para tokoh adalah hal-hal yang bersifat promosi para tokoh. Citra yang baik ini jugamendorong popularitas para tokoh di mata masyarakat. 7. Tingkat pemenuhan informasi tentang para tokoh yang disajikan oleh surat kabar belum seratus persen memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Untuk melengkapi kebutuhan informasi tentang para tokoh harus didirong dengan penyebaran media komunikasi massa lainnya seperti brosur, buku-buku, spanduk dan sebagainya. 8. Meski kurang memenuhi kebutuhan informasi masyarakat tentang tokoh namun tingkat pengenalan masyarakat tentang para tokoh jadi lebih baik akibat pemberitaan di surat kabar. Hal ini memiliki benang merah bagi penilaian masyarakat tentang tokoh. Semakin masyarakat mengenal tokoh tertentu maka semakin baik penilaiannya terhadap tokoh tersebut. Tingkat pengenalan yang baik terhadap Abdilah, Ali Umri berkorelasi dengan penilaian masyarakat tentang tokoh-tokoh tersebut. Sebaliknya tingkat pengenalan yang rendah terhadap sosok Herry W.Marzuki berkorelasi dengan penilaian terhadap tokoh ini sehinga tidak banyak masyarakat yang menilainya dengan berkonotasi yang baik. 9. Berita surat kabar berpengaruh secara signifikan terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. Dari tujuh pengujian hipotesis yang dilakukan tentang pengaruh surat kabar terhadap opini masyarakat ini, enam di antaranya dapat diterima, dan satu ditolak, yakni: • Adanya hubungan yang signifikan antara variabel tingkat ketertarikan responden membaca berita tentang tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. (t hitung Kendall = 2.705, t hitung Spearman = 3.070). • Adanya hubungan signifikan antara variabel frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh (t hitung Kendall = 1.656, t hitung Spearman = 1.838). • Tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh (t hitung Kendall dan Spearman = - 0.1139). • Adanya hubungan yang sangat signifikan antara variabel berita tokoh yang sering dibaca dengan penilaian sebagai tokoh yang paling merakyat (t hitung Kendall = 6.338, t hitung Spearman = 7.018). • Adanya hubungan yang sangat signifikan antara variabel berita tokoh yang sering dibaca dengan penilaian sebagai tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara (t hitung Kendall = 5.495, t hitung Spearman = 6.1979). • Adanya hubungan yang signifikan antara variabel alasan ingin tahu kegiatan tokoh di surat kabar dengan terpenuhinya kebutuhan informasi tentang tokoh dari surat kabar (t hitung Kendall = 1.656, t hitung Spearman = 1.838). • Adanya hubungan yang signifikan antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh (t hitung Pearson = 2.177). B. Saran-saran 1. Kepada pihak pengelola surat kabar terbitan kota Medan disarankan untuk lebih intensif memberikan informasi kepada masyarakat menyangkut para tokoh yang bakal menjadi calon Gubernur Sumatera Utara. Hal ini karena masyarakat ternyata belum sepenuhnya mendapatkan informasi dari surat kabar. Selain bentuk pemberitaan yang lebih informatif surat kabar juga hendaknya menyajikan berita yang bersifat simbang di antara tokoh-tokoh tersebut agar tidak terjadi kesenjangan arus informasi. Karena arus informasi tentang tokoh tersebut akan mempengaruhi tingkat pengenalan masyarakat akan para tokoh dan tingkat pengenalan tersebut mempengaruhi penilaian yang positif terhadap para tokoh tersebut. 2. Kepada masyarakat pemilih disarankan agar memiliki informasi dari sumber yang memilki validitas yang tinggi dan seimbang dalam mengkonsumsi informasi yang berasal dari berbagai sumber yang relevan sebelum memberikan penilaian yang objektif kepada para tokoh tentang kapasitas dan segala sesuatu tentang para tokoh. Karena semakin banyak sumber informasi, maka masyarakat akan semakin kaya memiliki latar belakang sebelum memutuskan pilihannya dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. 3. Kepada para calon yang akan berlagai disarankan untuk tidak hanya berlomba mencitrakan diri sebagai orang yang merakyat, paling mampu membangun Sumatera Utara, berpenampilan dan layak jadi pemimpin, tokoh pemersatu atau orang yang nasionalis-religius, tapi lebih dari itu berupaya membentuk diri seperti upaya mencitrakan diri. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik kota Medan, 2004 Budijanto, Didik dan Wijiartini, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hubungan Seks di Luar Nikah para ABK di Komunitas Pelabuhan, Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan, Depkes RI, 2001. Champion, D.I, Basic Statistic for Social Research, New York: Macmillan Publishing Co.,Inc., 1981. Effendy , Onong Uchjana, Dinamika Komunikasi, Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 1992. Elton, Lydia, Jurnal Ilmiah SCRIPTURA ISSN1978-385X Vol.1 No.2, Surabaya Juli 2007. Fisher, B.Aubrey, Teori-teori Komunikasi, Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 1990. Gee, W, (Ed.), Research in Social Sciences: Its Fundamental Methods and Objectives, New York: The Macmillian Co, 1929. Hennessy, Bernard, Pendapat Umum, ed.4, Jakarta: Erlangga, 1989. Hillway,T, Introduction to Research, Boston: Houghton Miffin Co, 1956. J.A.Denny, Jajak Pendapat Dan Pemilu di Indonesia, Kinerja Lembaga Jajak Pendapat dalam Meramal Hasil Pemilu 1999 dan 2004, Jakarta: Lembaga Survei Indonesia, 2004. Kamisa, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya, Kartika, 1997. Kholil, Syukur, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung, Ciptapustaka Media, 2006. ____________, “Komunikasi dalam Perspektif Islam”, dalam Hasan Asari & Amroeni Drajat (Ed), Antologi Kajian Islam, Bandung: Citapustakan Media, 2004. Lembaga Studi Analisis Sosial (LSAS), Rangkuman Hasil Penelitian Volume I Tahun 2006. Lippmann, Walter, Opini Umum, terj. S.Maimoen, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1994. Lubis, M.Ridwan, “Signifikansi Media Massa Dalam Mendorong Keberagamaan Sebagai Faktor Harmonisasi Dunia,” makalah seminar nasional Agama, Media Massa, Dan Harmonisasi Dunia, Medan, 10 Januari 2004. Lubis, Suwardi, Metode Penarikan Sampel, Medan: Universitas Sumatera Utara Press, 2002. Matta, Anis, Menikmati Demokrasi, Strategi Dakwah Meraih Kemenangan, Jakarta: Penerbit Pustaka Saksi, 2002. Munawwar, Said Agil Husin, MA, Abdul Mustaqim, MAg, Asbabul Wurud, Studi Kritis Hadis Nabi Pendekatan Sosio-Historis-Kontekstual,Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001. Nashrillah, Jurnal Penelitian Medan Agama, No.1/thn.2002. Nazir, Moh, Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988. Nursal , Adman, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 2004. Rakhmat, Jalaluddin, Metode Penelitian Komunikasi, cet. Ke-4, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1995. Rivers, William L et. al.,Media Massa dan Masyarakat Modern, Edisi Kedua, terj. Haris Munandar dan Dudy Priatna, Jakarta: Prenada Media, 2003. Sendjaja S.Djuarsa, Teori Komunikasi, Jakarta: Universitas Terbuka, 1994. Singarimbun, Masri, Metode Penelitian Survai, Jakarta: LP3ES, 1989. Trihendardi, Cornelius, Memecahkan Kasus-kasus Statistik: Deskriptif, Parametrik, dan Non-Parametrik dengan SPSS 12, Yogyakarta: ANDI, 2004. Ostle,B, Statistics in Research, 3rd ed, Iowa: The Iowa State College Press, 1975. Prasetyo, Bambang, Jannah, Lina Miftahul, Metode Penelitian Kuantitatif; Teori Dan Aplikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007. Purwanto, Erwan Agus, Sulistyastuti, Dyah Ratih, Metode Penelitian Kuantitatif; Untuk Administrasi Publik Dan Masalah-masalah Sosial, Yogyakarta: Gava Media, 2007.

/ On : 13.34/ Thank you for visiting my small blog here.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam sistem demokrasi akan terwadahi heterogenitas masyarakat baik dari sisi agama, etnik, keragaman, ide, aliran pemikiran, ideologi dan semua produk pemikiran manusia. Oleh karena sifat mayoritas merupakan salah satu ukuran dalam demokrasi, maka pengaruh sebuah pemikiran ditentukan oleh kemampuannya menjadi arus di masyarakat. Karena itu opini publik menjadi sangat penting dalam demokrasi, sama pentingnya dengan lembaga legislatif dan lembaga eksekutif. Artinya wacana publik harus dimenangkan dulu sebelum memenangkan wacana legislasi dan memenuhi lembaga eksekutif.
Dalam kehidupan demokrasi langsung dan pemilihan secara langsung maka pencitraan menjadi sangat penting. Penilaian publik sebagai konstituen menjadi penentu bagi suatu tujuan politik. Karenanya dalam demokrasi langsung, sebuah pencitraan harus dibangun secara sistematis dan terukur untuk mencapai hasil yang maksimal.
Di samping itu, faktor pendorong lainnya dalam memenangkan wacana publik adalah kemampuan memobilisasi opini publik. Kenyataannya, dalam kehidupan politik menunjukkan bahwa seorang pemimpin politik adalah orang yang memiliki kemampuan memobilisasi opini publik; dan kegiatan memobilisasi opini publik adalah komunikasi.
Suatu akibat dari ledakan teknologi komunikasi tercermin dalam perhatian pada efek media massa pada masyarakat. Alat-alat elektronika yang canggih dikhawatirkan mempunyai kekuatan mengendalikan pikiran orang. Untungnya, ketakutan ini telah dilunakkan oleh pengkajian ilmiah yang serius tentang efek media massa pada rakyat yang menerimanya.
Diskursus yang berkembang dan mengemuka dalam hal memenangkan wacana publik adalah; Haruskah kita punya media kalau ingin memenangkan wacana publik? Pendapat yang menyatakan bahwa media harus dimiliki untuk memenangkan wacana publik mengemukakan bahwa media adalah alat yang sangat vital sebagai saluran untuk pembentuk opini umum. Arus deras informasi dari media massa akan dengan sedemikian rupa membentuk suatu opini seperti yang diinginkan oleh si perancang pesan sehingga memperoleh dukungan secara luas oleh publik.
Media massa memiliki peranan yang amat menentukan dalam membentuk pendapat umum terhadap suatu persoalan. Sesuatu yang sesungguhnya tidak terlalu penting namun dapat berubah menjadi penting sebagai akibat dari opini publik yang dihasilkan oleh media massa. Sama halnya orang yang sesungguhnya tidak terlalu menonjol akan tetapi dapat menjadi orang penting dari hasil liputan media massa terhadap dirinya.
Demikian pula dengan keberagamaan. Wujud keberagamaan mengalami perubahan yang cukup drastis pada masa belakangan ini, salah satunya sebagai akibat dari pendapat umum yang dikemas media massa. Pada masa lalu, fenomena keberagamaan lebih banyak dilihat sebagai kreatifitas masyarakat agraris dengan pola kehidupan yang dibentuk oleh berbagai mitos dan legenda. Wacana keberagamaan lebih banyak dilihat sebagai aktifitas kemanusiaan yang paling pribadi dan oleh karena itu tidak layak difahami memiliki keterkaitan dengan pranata sosial, politik, ekonomi, pendidikan, hukum, sosial dan sebagainya. Akan tetapi media massa mengkemas penampilan keberagamaan itu dan akhirnya sekarang ini wujud keberagamaan telah mengalami perubahan yang dahsat karena telah merambah bidang politik, ekonomi, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesenian, entertainment dan lain-lain. Bahkan terkadang penampilan agama itu menjadi kehilangan sakralitas dan spiritualitas praktis. Tampilan agama dapat menjadi lunak atau keras akan sangat tergantung bagaimana media massa mengkemasnya.
Pendapat lain yang berbeda menyebutkan bahwa tugas untuk memenangkan wacana publik tidak hanya dapat disederhanakan dengan cara memiliki media. Karena memenangkan wacana publik adalah jauh lebih besar dari itu yakni suatu seni tentang bagaimana mempengaruhi dan menyusun kerangka pemikiran masyarakat. Atau bagaimana membuat publik berfikir dengan cara yang diinginkan, bagaimana membuat publik mempersepsikan sesuatu dengan lensa yang dikenakan kepada mereka.
Pikiran adalah referensi yang diperlukan masyarakat untuk memberi arah, merasionalisasikan sikap dan tindakan, membantu menentukan pilihan, menjawab pertanyaan-pertanyaan dan memberi solusi. Takkalah Uni Sovyet runtuh di awal dekade 90-an, orang-orang Barat merayakannya sebagai suatu kemenangan kapitalisme dan ekonomi pasar. Bagi mereka, komunisme tidak lagi sanggup menjawab tantangan zaman yang dihadapi masyarakat. Komunisme mengalami masa sulit yang tidak kunjung selesai manakala negara yang menyangganya kemudian mengalami kesulitan untuk tetap bertahan.
Maka syarat pertama yang harus dimiliki adalah kekayaan pikiran yang ditentukan oleh dua hal yakni kekayaan orisinalitas referensi dan kemampuan mengekspresikan referensi dan memformulasikannya untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan zaman. Umat Islam memiliki yang pertama tetapi harus berlatih untuk memiliki yang kedua. Umat Islam memiliki Alquran dan Sunnah, namun mesti berijtihad untuk menemukan ‘mutiara-mutiaranya’.
Sebuah pemikiran dengan struktur yang solid akan berpengaruh pada tiga hal. Pertama, pada tingkat kejelasan pikiran dalam benak kita pada keseluruhan susunan kesadaran kita. Kedua, pada tingkat keyakinan kita terhadap pemikiran tersebut, yang biasanya selalu tinggi. Ketiga pada kemampuan kita membahasakannya atau pada daya ungkap yang tercipta dari kejelasan pikiran tersebut. Semakin jelas pemahaman kita terhadap suatu pikiran, semakin sempurna kemampuan kita membahasakannya.
Kemampuan meyakinkan publik telah berkembang menjadi sebuah pengetahuan baru yang dalam hal ini orang tidak lagi mempertanyakan kebenaran dari sebuah pikiran, tetapi berpikir bagaimana menjadikannya sebagai milik publik. Hal ini bertumpu kepada beberapa hal. Pertama pada penguasaan teoretis terhadap pikiran kita tentang struktur pemikiran orang lain dan varian-varian yang membentuknya. Kedua pada kejelian kita dalam menentukan entry point yang tepat untuk melakukan penetrasi terhadap pemikiran orang lain. Ketiga pada kemampuan menemukan format bahasa yang tepat dengan struktur kesadaran, bentuk logika, kecenderungan estetika, dan situasi psikologis serta momentum yang mengkorelasi pikiran kita dengan suasana mereka. Inilah yang disebut dengan seni mempengaruhi dan menyusun kerangka pemikiran masyarakat. Inilah uraian dari firman Allah yang berbunyi;

Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya supaya dia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.

...dan hendaklah mereka mengucapkan perkataaan yang benar.


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.


...dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

Dalam perspektif Islam, komunikasi massa ini ditekankan pada aspek subjek dan objek yakni komunikator itu sendiri, pesan dan cara penyampaian pesan tersebut. Sementara aspek efek dari pesan yang dirancang berdasarkan Alquran dan Hadis adalah sesuatu yang sejalur. Mahyuddin Abd.Halim menulis bahwa komunikasi Islam adalah proses penyampaian atau pengoperan hakikat kebenaran agama Islam kepada khalayak yang dilaksanakan secara terus menerus dengan berpedoman kepada Alquran dan Al Sunnah baik secara langsung atau tidak, melalui perantaraan media umum atau khusus, yang bertujuan untuk membentuk pandangan umum yang benar berdasarkan hakikat kebenaran agama dan memberi kesan kepada kehidupan seseorang dalam aspek aqidah, ibadah dan muamalah.
Aspek objek yang dimaksud adalah kejujuran dalam berbicara, menepati janji, memenuhi amanah, menjaga kemaluan, menundukkan pandangan, dan mengekang diri dari perbuatan maksiat. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Musnand Ahmad, IV/205:
”Diriwayatkan dari ’Ubadah bin Shamit bahwa Nabi SAW bersabda: Berilah jaminan kepadaku enam hal dari kamu sekalian, maka aku akan menjamin surga untuk kamu sekalian. Enam hal itu dalah 1) berlakulah jujur jika berbicara, 2) tepatilah janji, jika kamu berjanji, 3)laksanakanlah (dengan baik) jika kamu diberi amanah (dipercaya), 4) jagalah kemaluanmu, 5) tundukkanlah pandangan matamu, 6) kekanglah tanganmu (dari melakukan perbuatan maksiat). (H.R. Imam Ahmad)

Selanjutnya meskipun dalam porsi dan dasar pemikiran yang berbeda, namun dua pendapat tentang media massa ini sebetulnya memiliki persamaan yakni menjadikan media massa sebagai alat untuk memenangkan wacana publik. Dalam dunia politik, tugas memenangkan wacana publik ini juga tidak bisa dilepaskan dari peranan media massa. Ini sudah mulai tampak mencolok di tahun 1968 ketika Presiden Amerika Serikat Richard Nixon memenangkan nominasi partainya berkat liputan televisi. Ada tiga staf Nixon yang menonjol dalam hal ini, yakni Roger Ailes, Harry Treleaven dan Al Scott.
Dalam masyarakat ada kelompok yang berjumlah banyak dan terus bertambah jumlahnya, sangat mempercayai radio dan televisi. Mereka umumnya memiliki tingkat pendapatan dan tingkat pendidikan yang sedang-sedang saja. Mereka inilah sasaran utama para pembujuk profesional, karena pilihan mereka ditentukan oleh semenarik apa bujukan itu dikemas. Inilah khalayak yang oleh Robert MacNeil dalam bukunya The People Machine, sebagai kelompok yang tidak begitu canggih, namun pendidikannya lebih banyak daripada generasi sebelumnya yang umumnya konservatif dan cenderung pasif dalam masalah-masalah dunia. Karena mereka tidak memperhatikan sesuatu dengan cara mendalam, mereka umumnya mudah percaya terhadap segala sesuatu yang disampaikan kepada mereka.
Pencitraan, dalam masyarakat Indonesia pada umumnya sangat kental pada pengaruh pola keberagamaan masyarakat. Identitas personal dan kelompok terlebih dahulu akan dikenali oleh latar belakang agama, disusul latar belakang etnis dan seterusnya. Karena itu berbicara tentang politik pencitraan maka tidak akan lepas dari berbicara tentang agama dan keberagamaan.
Pada masa lalu pola keberagamaan yang terdapat di kalangan umat Islam terdapat dua bentuk yakni tradisional dan modernis. Tapi pada masa kini pola itu dapat berkembang lagi dengan bentuk yang lain yaitu neo-tradisional, neo-modernis dan persaudaraan religio-politik.
Pola neo-modernis yaitu kelompok umat Islam yang ingin lebih menunjukkan kelebihan Islam dari agama lain, sehingga selalu diupayakan titik temu antara konsep Islam dengan pola kehidupan modern. Sehingga yang terjadi adalah rasionalisasi Islam guna dilihat kaitannya dengan kehidupan modern. Dengan demikian, langkah ini adalah merupakan pembenaran terhadap tesis yang mengatakan bahwa Islam adalah sesuai untuk segala masa dan tempat (al Islam salihun likulli zaman wa makan).
Dalam sistem demokrasi di Indonesia sekarang ini dikenal dengan pemilihan pemimpin secara langsung baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah. Sumatera Utara di tahun 2008 untuk pertama kalinya akan menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk memilih secara langsung gubernur dan wakil gubernur periode 2008-2013.
Dalam Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur Sumatera Utara ini, politik pencitraan menjadi kebutuhan para kandidat dalam mempengaruhi opini publik untuk menentukan pilihannya. Sumatera Utara seperti halnya kota Medan sebagai ibukota provinsi memiliki penduduk yang heterogen baik dari sisi agama maupun etnisitas. Empat agama besar di mana dua di antaranya merupakan jumlah mayoritas yakni Islam dan Kristen (Katolik dan Protestan) juga menjadi suatu faktor penentu dalam Pilkada, di samping agama Budha dan Hindu yang juga memiliki komunitasnya di kota Medan. Demikian juga penduduk kota Medan yang memiliki beragam etnis yang jumlahnya sangat bervariasi. Sampai sejauh ini anggapan tersebut masih mengental di masyarakat, bahwa agama dan etnisitas merupakan faktor penentu dalam kemenangan pasangan kandidat yang berlaga dalam Pilkada. Maka semakin marak pendekatan-pendekatan dari sisi agama dan etnisitas untuk meraih simpati masyarakat pemilih.
Kenyataannya, menjelang pelaksanaan Pilkada, kelompok-kelompok pengajian seperti halnya kelompok-kelompok etnis akan ramai didatangi atau digunakan para kandidat untuk tujuan kampanye baik secara terbuka maupun tertutup. Kegiatan ini secara langsung dan tidak langsung melakukan upaya-upaya perekatan budaya untuk mencari kesamaan dalam menentukan figur pemimpin daerah. Anggapan tersebut muncul dari kesadaran-kesadaran pribadi yang membentuk atau berusaha membentuk suatu kesadaran kolektif tentang dasar bagi seseorang untuk memilih seorang kandidat akan didasarkan pada persamaan agama dan etnis. Kesadaran kolektif ini sudah semestinya dilakukan penelusuran yang lebih mendalam dengan bersandarkan pada penelitian dan kajian-kajian ilmiah.
Untuk itu sangat menarik untuk dilakukan telaah atas pengaruh berita-berita di surat kabar terbitan Medan yang memuat tentang tokoh tertentu yang bertujuan untuk membentuk citra yang baik di tengah masyarakat. Kota Medan merupakan daerah yang paling besar perhatian masyarakatnya untuk membaca surat kabar karena menjadi daerah penjualan surat kabar terbesar di Sumatera Utara, di samping memiliki jumlah penduduk paling besar.
Karena itu perlu diteliti bagaimana pengaruh berita tokoh pada surat kabar harian terbitan Medan terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008.

B. Perumusan Masalah
Dari uraian yang disampaikan di atas, maka selanjutnya dirumuskanlah hal-hal yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini. Secara umum hal yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pengaruh berita tokoh pada surat kabar terbitan kota Medan terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008.
Untuk lebih rincinya, masalah tersebut akan diuraikan ke dalam beberapa poin-poin penting yang merupakan bagian-bagian dari pembahasan dalam penelitian ini. Rumusan masalah tersebut, terdiri dari dua poin yaitu :
1. Bagaimanakah opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 ?
2. Seberapa besar berita tokoh di surat kabar berpengaruh terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008?

C. Tujuan Penelitian
Setelah merumuskan masalah dalam penelitian ini, selanjutnya ditetapkan tujuan penelitian. Tujuan penelitian pada hakikatnya merupakan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan pada bagian rumusan masalah. Karena itu tujuan penelitian ini dibuat sejalan dengan rumusan masalah. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berita tokoh pada surat kabar terbitan kota Medan terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. Untuk lebih jelasnya, secara khusus akan dideskripsikan tujuan penelitian ini, terdiri dari dua hal, yakni :

1. Mengetahui opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008.
2. Mengetahui pengaruh membaca berita tokoh dalam surat kabar terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernnur Sumatera Utara tahun 2008.


D. Kegunaan Penelitian
Sebuah penelitian diartikan sebagai pencarian pengetahuan dan pemberiartian yang terus-menerus terhadap sesuatu. Penelitian juga merupakan percobaan yang hati-hati dan kritis untuk menemukan sesuatu yang baru. Dengan demikian penelitian ini juga dapat diartikan sebagai pencarian pengetahuan untuk menemukan sesuatu yang baru di mana objek penelitian diamati dengan cara mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok.
Dalam penelitian ini ada beberapa kegunaan, baik yang bersifat praktis di tengah masyarakat maupun kegunaannya dalam mengembangkan tradisi ilmu pengetahuan secara ilmiah, yaitu :
1. Memberi gambaran tentang efektivitas pemberitaan tentang pembentukan citra seorang tokoh melalui surat kabar harian terbitan kota Medan.
2. Memberi gambaran atas sejauh mana kekuatan media massa, memberi pengaruh pada opini masyarakat kota Medan.

E. Sistematika Pembahasan
Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan penelitian lapangan dengan menyebarkan kuesioner langsung kepada masyarakat yang menjadi responden. Setelah diperoleh data lengkap dari hasil penelitian yang dilakukan maka data tersebut akan diolah dan kemudian disusun dalam bentuk laporan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Laporan dalam bentuk tulisan tersebut akan disusun dalam sebuah sistematika pembahasan sebagai berikut;

Bab I. Pendahuluan yang di dalamnya berisi latar belakang
masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dsan sistematika pembahasan.

Bab II. Kerangka teori dan konsep yang di dalamnya berisi
landasan teori, kajian terdahulu, pengertian konsep dan
hipotesis.

Bab III. Metodologi penelitian berisi jenis penelitian, populasi
dan sampel, alat pengumpul data, pengukuran
variabel, dan teknik analisis data.

Bab IV. Hasil dan pembahasan penelitian meliputi
profil responden, pola membaca berita tokoh yang
terdiri dari frekuensi membaca surat kabar dan berita
tokoh, ketertarikan membaca berita tokoh, banyak
membaca berita tokoh, lama membaca berita tokoh,
tempat membaca berita tokoh, alasan membaca berita
tokoh, berita tokoh yang dibaca, citra berita surat kabar
tentang tokoh, tingkat pemenuhan informasi oleh surat
kabar, tingkat pengenalan terhadap tokoh, tokoh yang
paling merakyat, tokoh yang paling mampu
membangun
Sumut, tokoh yang paling berpenampilan layak/pantas,
tokoh paling pemersatu, tokoh paling nasionalis-
religius. Pengujian hipotesis yang terdiri dari koefisien korelasi antara tingkat ketertarikan membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh, koefisien korelasi antara frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh, koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh, koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan tokoh yang paling pantas disebut tokoh merakyat, koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan penilaian tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara, koefisien korelasi antara alasan responden ingin mengetahui kegiatan para tokoh dengan terpenuhinya kebutuhan informasi tentang tokoh, koefisien korelasi antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh. Pembahasan penelitian.

Bab V. Berisi rangkuman, kesimpulan dan saran-saran.



BAB II
KERANGKA TEORI DAN KONSEP

A. Landasan Teori
Menurut kamus Webster’s News International, penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu. Menurut ilmuwan Hillway, ”penelitian adalah suatu metode studi yang dilakukan melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat”.
Penelitian adalah suatu penyelidikan yang terorganisir. Penelitian juga bertujuan untuk mengubah kesimpulan-kesimpulan yang telah diterima, ataupun mengubah dalil-dalil dengan adanya aplikasi baru dari dalil-dalil tersebut. Hillway menyatakan, ”penelitian dapat diartikan sebagai pencarian pengetahuan dan pemberiartian terus-menerus terhadap sesuatu. Penelitian juga merupakan percobaan yang hati-hati dan kritis untuk menemukan sesuatu yang baru”.
Sedangkan Gee, menyatakan:
Dalam berbagai defenisi penelitian, terkandung ciri tertentu yang lebih kurang bersamaan. Adanya suatu pencarian, penyelidikan atau investigasi terhadap pengetahuan baru, atau sekurang-kurangnya sebuah pengaturan baru atau interpretasi (tafsiran) baru dari pengetahuan yang timbul. Metode yang digunakan bisa saja ilmiah atau tidak, tetapi pandangan harus kritis dan prosedur harus sempurna. Tenaga bisa saja signifikan atau tidak. Dalam masalah aplikasi maka nampaknya aktivitas lebih banyak tertuju kepada pencarian (search) dari pada suatu pencarian kembali (re-search). Jika proses yang terjadi adalah hal yang selalu diperlukan, maka penelitian sebaiknya digunakan untuk menentukan ruang lingkup dari konsep dan bukan kehendak untuk menambah defenisi lain terhadap defenisi-defenisi yang telah banyak”.

Penelitian dengan menggunakan metode ilmiah (scientific method) disebut penelitian ilmiah (scientific research). Dalam penelitian lmiah ini, selalu ditemukan dua unsur penting, yaitu unsur observasi (pengamatan) dan unsur nalar (reasioning). Unsur pengamatan merupakan kerja dengan mana pengetahuan mengenai fakta-fakta tertentu diperoleh melalui kerja mata (pengamatan) dengan menggunakan persepsi (sense of perception). Nalar, adalah suatu kekuatan dengan mana arti dari fakta-fakta, hubungan dan interelasi terhadap pengetahuan yang timbul, sebegitu jauh ditetapkan sebagai pengetahuan yang sekarang.
Dalam penelitian ini, objek yang akan diteliti yakni pengaruh berita tokoh di surat kabar terhadap opini masyarakat kota Medan. Untuk itu landasan teori yang digunakan yaitu:
Uses and Effect Theory (teori penggunaan dan efek) untuk meneliti efek dari berita tokoh di media massa atas opini umum masyarakat kota Medan.
Teori ini merupakan sintesis dari pendekatan Uses and Gratifications dan teori tradisonal mengenai efek yang pertama kali dikemukakan Windahl pada tahun 1979 ini. Konsep ’use’ (penggunaan) merupakan bagian yang sangat penting atau pokok dari pemikiran ini. Karena pengetahuan mengenai penggunaan media dan penyebabnya, akan memberikan jalan bagi pemahaman dan perkiraan tentang hasil dari suatu proses komunikasi massa.
Penggunaan media massa dapat berarti ’exposure’ yang semata-mata menunjuk pada tindakan mempersepsi. Dalam konteks lain, pengertian tersebut dapat menjadi suatu yang lebih kompleks, di mana isi tertentu dikonsumsi dalam kondisi tertentu, untuk memenuhi fungsi tertentu dan terkait harapan-harapan tertentu untuk dapat dipenuhi. Fokus dari teori ini lebih kepada pengertian yang kedua.
Dalam Uses and Gratifications, penggunaan media pada dasarnya ditentukan oleh kebutuhan dasar individu. Sementara pada Uses and Effect, kebutuhan hanya salah satu dari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penggunaan media. Karakteristik individu, harapan dan persepsi terhadap media, dan tingkat akses kepada media akan membawa individu kepada keputusan untuk menggunakan atau tidak menggunakan isi media massa.
Hasil dari proses komunikasi massa dan kaitannya dengan penggunaan media akan membawa pada bagian terpenting berikutnya dari teori ini. Karena substansi dari komunikasi massa sebetulnya adalah media itu sendiri, yang menjadi alat untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak yang ramai. Pesan-pesan yang disampaikan tersebut merupakan hubungan yang sangat erat antara komunikator sebagai pengguna dan media sebagai saluran untuk mencapai khalayaknya. Ada berbagai bentuk yang dimiliki dalam hubungan antara si pengguna dengan media yang merupakan alat saluran tersebut. Hubungan antara penggunaan dan hasilnya, dengan memperhitungkan pula isi media, memiliki beberapa bentuk perbedaan, yaitu:
a. Pada kebanyakan teori efek tradisional, karakteristik isi media menentukan sebagian besar dari hasil. Dalam hal ini, penggunaan media hanya dianggap sebagai faktor perantara, dan hasil dari proses tersebut dinamakan efek. Dalam pengertian ini pula, Uses and Gratifications hanya akan dianggap berperan sebagai perantara, yang memperkuat atau memperlemah efek isi media. Dalam perspektif ini di mana kekuatan isi pesan media dipandang sebagai faktor yang sangat penting maka diperlukan suatu ketrampilan untuk merancang pesan secara maksimal agar dapat mempengaruhi khalayak dan menimbulkan efek yang diinginkan sesuati dengan tujuan merancang pesan. Isi media yang merupakan pesan yang sengaja dirancang tersebut kemudian hanya perlu disampaikan oleh media.

b. Dalam berbagai proses, hasil lebih merupakan akibat penggunaan daripada karakteristik isi media. Penggunaan media dapat mengecualikan, mencegah atau mengurangi aktivitas lainnya, di samping dapat pula memiliki konsekuensi psikologis seperti ketergantungan pada media tertentu. Jika penggunaan merupakan penyebab utama dari hasil, maka ia disebut konsekuensi. Dalam arti lain, publik pengguna media dianggap sebagai pihak yang memiliki ketergantungan pada suatu media tertentu dengan demikian, isi pesan atau isi media faktor yang lebih kurang melengkapinya. Kajian ini menyimak lebih dalam terhadap penggunaan media oleh khalayak yang lebih jauh pada sifat ketergantungan.

c. Di samping kedua perbedaan yang diuraikan di atas tersebut, ada beda lainnya dari penggunaan media ini dengan menggabungkan antara keduanya. Kita dapat beranggapan juga bahwa hasil ditentukan sebagian oleh isi media yang dilakukan melalui perantaraan penggunaannya dan sebagian lain hasilnya ditentukan oleh penggunaan media itu sendiri. Oleh karenanya ada dua proses yang bekerja secara serempak, yang bersama-sama menyebabkan terjadinya suatu hasil yang kita sebut ’conseffects’ (gabungan dari konsekuensi dan efek). Proses pendidikan biasanya menyebabkan hasil yang berbentuk ’conseffects’. Di mana sebagian hasil disebabkan oleh isi yang mendorong pembelajaran (efek), dan sebagian lain merupakan hasil dari suatu proses penggunaan media yang secara otomatis mengakumulasikan dan menyimpan pengetahuan. Pandangan ini memberi arti sama pentingnya isi media seperti halnya penggunaan media. Kedua faktor ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri tetapi secara bersama menimbulkan efek terhadap penggunaan media. Dalam arti lain efek dan konsekuensi bergabung bersama dalam suatu proses komunikasi hingga menimbulkan ’conseffects’.
Ilustrasi mengenai hubungan-hubungan tersebut dapat dilihat pada dua diagram berikut:






Hasil-hasil tersebut dapat ditemukan pada tataran individu dan masyarakat. Sendjaja S.Djuarsa juga mengurai diagram berikut:












B. Kajian Terdahulu
Beberapa penelitian yang penah dilakukan memiliki relevansi dengan penelitian ini, yakni:
1. ”Survei Jajak Pendapat Sikap Politik Masyarakat Kota Medan terhadap Pilkada Langsung Walikota/Wakil Walikota Medan” yang dilakukan Lembaga Analisis Sosial (LSAS) pada tahun 2004. Penelitian ini mengambil sampel di 21 kecamatan yang ada di Kota Medan dengan 1.500 responden. Penyebaran kuesioner mengambil sebanyak 71-72 responden per kecamatan.
Responden dalam penelitian ini adalah para calon pemilih dalam Pilkada langsung Kota Medan berusia minimal 17 tahun, atau yang sudah menikah. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa program pembangunan kandidat merupakan suatu hal yang menentukan dalam Pilkada Kota Medan. Masyarakat pemilih sangat memperhatikan program pembangunan para calon sebelum menjatuhkan pilihannya. Sebanyak 56,2% masyarakat pemilih menentukan pilihannya karena pengaruh program pembangunan pasangan calon.
Berita media menjadi faktor yang signifikan, karena program pembangunan para kandidat adalah informasi yang didapat masyarakat pemilih dari media massa. Di samping itu 23% para pemilih dipengaruhi berita di media. Dalam kategorisasi media, ternyata media cetak (koran) masih merupakan hal yang paling mempengaruhi pemilih untuk menentukan pilihannya. Sebanyak 41,78% responden menyatakan bahwa media cetak mempengaruhi pilihannya.

2. Sementara itu penelitian yang dilakukan Nashrillah pada tahun 2002 dengan judul “Minat Masyarakat Medan Menonton Siaran Agama di Televisi” mengambil 300 sampel dari tiga kelompok masyarakat yakni siswa, mahasiswa dan orang tua. Dalam penelitian ini ditemukan sekitar 48,1% rata-rata responden menonton televisi lebih dari dua jam sehari bahkan 26,3% responden yang rata-rata menonton lebih dari tiga jam sehari. Hanya 27% responden yang menonton televisi kurang dari satu jam sehari. Mean yang diperoleh untuk jumlah waktu menonton televisi ini 2,583, itu berarti rata-rata responden menonton televisi lebih dari dua jam sehari. Hasil penelitian juga menunjukkan 83,6% responden menonton siaran agama di televisi dalam satu minggu terakhir sebelum disebarkan angket.
Penelitian ini menemukan, dari tiga stasiun televisi yang menjadi sampel yaitu SCTV, RCTI, dan Indosiar, menunjukkan bahwa siaran agama di televisi sangat sedikit, rata-rata hanya sekali siar sehari. Itupun sudah termasuk iklan yang hampir menghabiskan sepertiga hingga setengah dari seluruh siaran agama. Sehingga siaran agama yang efektif sebenarnya hanya 15-20 menit untuk sekali siar.
Dari segi kelompok usia, yang paling lama menonton siaran agama di televisi berusia 46 tahun ke atas. Mayoritas di antara mereka atau sebanyak 62,07% rata-rata menonton siaran agama di televisi selama lebih dari 30 menit sehari. Sedangkan kelompok usia 21-45 tahun hanya sekitar 25,58% yang menonton siaran agama di televisi selama lebih dari 30 menit sehari. Kondisi ini membuktikan bahwa perbedaan usia akan mempengaruhi pola penggunaan media masa, termasuk pilihan materi pemberitaan dari media massa.
Dari segi tingkat pendidikan, responden yang berpendidikan S1 lebih lama menonton siaran agama di televisi di bandingkan dengan yang lainnya. Sedangkan masyarakat dengan latar belakang mahasiswa yang menonton siaran agama di televisi lebih dari 30 menit sehari hanya 23,1%.
Dari segi pekerjaan, pegawai swasta dan wiraswasta merupakan kelompok yang paling lama menonton siaran agama di televisi. Sedangkan yang paling banyak tidak menonton siaran agama di televsi adalah kelompok orang yang tidak bekerja atau menganggur.

3. Penelitian lain dilakukan Lydia Elton dengan judul “Pengaruh Pemberitaan Surat Kabar Terhadap Persepsi Masyarakat Pengguna Jasa Transportasi Udara Di Surabaya (Kasus Studi Kecelakaan Pesawat Adam Air)”.
Penelitian ini mengambil sample 400 orang penumpang yang datang dan berangkat melalui Bandara Juanda Surabaya. Dalam penelitian ini Lydia Elton berkesimpulan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara berita surat kabar mengenai kasus kecelakaan pesawat Adam Air terhadap persepsi masyarakat pengguna jasa transportasi udara di Surabaya. Berubahnya persepsi masyarakat bahwa media mempunyai pengaruh besar dalam menentukan persepsi terhadap suatu peristiwa tertentu, hal ini juga disebabkan karena rentang waktu yang lama antara kejadian kecelakaan dengan waktu penyebaran kuesioner sehingga mengakibatkan besarnya kemungkinan terjadi perubahan persepsi masyarakat atau psikologi penumpang.
Meskipun masyarakat mulai was-was dan meragukan kualitas maskapai Adam Air, ternyata diketahui bahwa sebagian besar masih memilih mau berpergian menggunakan maskapai Adam Air. Hal ini terjadi karena masyarakat masih mementingkan faktor ekonomis yaitu harga tiket. Hasil analisis korelasi yang menunjukkan adanya korelasi negatif dan tak berarti antara berita surat kabar dengan persepsi masyarakat yaitu sebesar 0,021. Korelasi negatif ini menunjukkan tidak ada hubungan antara berita surat kabar dengan persepsi.

4. Studi perilaku pemilih juga dilakukan Universitas Columbia. Studi ini bertujuan untuk menilai pengaruh komunikasi dan persuasi dalam kampanye. Menurut hasil studi Columbia, perilaku pemilih sangat ditentukan faktor sosial. Pada dasarnya studi yang dilakukan oleh Columbia ini mengakui adanya pengaruh identifikasi partai: bahwa pemilih tidak hanya digerakkan oleh isu-isu baru, melainkan juga isu-isu lama yang masih tertanam di benak pemilih.
Hal ini menegaskan, para pemilih bukanlah tabularasa yang siap diisi dengan informasi apa saja, melainkan mereka juga telah mempunyai keyakinan yang seringkal sulit diubah propaganda kampanye. Sebagai pengaruh faktor sosial, studi Columbia juga mengungkapkan pengaruh media massa terhadap perilaku pemilih. Hanya saja menurut studi ini, pengaruh tersebut tidak langsung, melainkan diperantarai oleh diskusi dengan para pemlih lainnya.

5. Penelitian yang dilakukan Didik Budijanto dan Wijiartini yang berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hubungan Seks di Luar Nikah para ABK di Komunitas Pelabuhan”.
Penelitian ini bertujuan menganalisis perilaku seksual Anak Buah Kapal (ABK) dan faktor-faktor yang dominan mempengaruhi hubungan seks di luar nikah para ABK tersebut.
Studi yang dilakukan secara cross sectional di komunitas Pelabuhan Tanjung Perak ini mengambil sampel secara simple random dari populasi ABK berbendera Indonesia segala jurusan yang sedang sandar. Jumlah sampel yang diperoleh 80 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur, sedang analisis data dilakukan secara deskriptif dan regresi logistik ganda.
Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 80 orang ABK, sebagian besar berpendidikan SLTA (45,0%); berumur > 30 th (51,3%); dan jenis pekerjaan kelasi (25,0%), jurumudi (13,8%), dan juru-minyak (12,5%). Lama kerja responden sebagian besar < 10 tahun (85,0%), berstatus kawin (57,5%), dan lama perkawinan < 5 tahun (73,8%). Jika dilihat dari sisi perilaku seksualnya, dari 46 (57,5%) orang yang menikah, 45,65% di antaranya melakukan hubungan seksual dengan istrinya 2 kali per minggu. Sedangkan jika dikaitkan dengan pernah tidaknya melakukan hubungan seks di luar nikah maka sebagian besar menyatakan pernah (71,7%). Hasil tabulasi silang antara frekuensi hubungan seks dengan istri per minggu dan pernah tidaknya melakukan hubungan seks di luar nikah, sebagian besar (90,5%) terjadi pada mereka yang frekuensi hubungan seks dengan istri ≤ 1 kali per minggu dibandingkan dengan yang > 1 kali per minggu (56,0%).
Selanjutnya, hasil analisis regresi logistik ganda menjelaskan bahwa frekuensi hubungan seks dengan istri per minggu berpengaruh secara signifikan (p = 0,0045) terhadap pernah tidaknya melakukan hubungan seks di luar nikah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ABK yang frekuensi hubungan seks dengan istrinya ≤ 1 kali per minggu, berisiko jajan 7 kali lebih besar dibandingkan yang frekuensi hubungan seks dengan istrinya > 1 kali per minggu (OR = 6,9229).
Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa faktor dominan yang berpengaruh terhadap hubungan seks di luar nikah adalah frekuensi hubungan seks dengan istri per minggu. Secara umum, penelitian ini merumuskan empat kesimpulan, yakni:
1. Sebagian besar ABK pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah.
2. Frekuensi hubungan seksual di luar nikah besar sekali.
3. Alasan melakukan hubungan seksual di luar nikah sebagian besar iseng, diajak teman, atau mencari variasi.
4. Sebagian besar ABK yang melakukan hubungan seks di luar nikah tidak memakai kondom saat berhubungan seksual.
5. Frekuensi hubungan seksual dengan istri per minggu berpengaruh terhadap melakukan tidaknya hubungan seks di luar nikah.


C. Pengertian Konsep
Dalam penelitian ini, untuk menghindari terjadinya pengaburan penelitian (ambigious meaning) karena terlalu luasnya ruang lingkup permasalahan, maka dalam penelitian yang berjudul Pengaruh Berita Tokoh Pada Surat Kabar Harian Terbitan Kota Medan Terhadap Opini Masyarakat Tentang Citra Bakal Calon Gubsu 2008 ini dibuat batasan-batasan masalah :
1. Secara spesifik, yang dimaksud berita tokoh adalah berita-berita tentang seorang tokoh yang menjadi bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 yang berasal dari berbagai latar belakang seperti tokoh politik, kepala daerah, pejabat nasional (sipil, militer) yang kerap muncul di surat kabar dalam upaya pembentukan citranya di tengah-tengah masyarakat. Jenis berita ini bisa termasuk berita kegiatan, komentar, ataupun, profil sang tokoh. Termasuk juga pola membaca berita tokoh terjadi di masyarakat dalam membaca berita-berita tentang tokoh bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 seperti frekuensi membaca, jumlah yang dibaca, lama membaca, tempat membaca dan lainnya.

2. Opini Masyarakat Tentang Citra yang dimaksud dalam penelitian ini adalah opini masyarakat kota Medan yang terbentuk tentang tokoh bakal calon Gubernur Sumatera Utara karena membaca berita tokoh di surat kabar. Opini Masyarakat dalam penelitian ini adalah pendapat masyarakat kota Medan tentang citra seorang tokoh yang kerap muncul di surat kabar. Pendapat masyarakat menyangkut citra tokoh di mata masyarakat. Walter Lippmann dalam bukunya Opini Umum menguraikan tentang opini umum dan pers sebagai berikut: ...analisis tentang sifat berita dan basis menunjukan bahwa surat kabar tidak terelakan Opini umum harus diberikan kepada pers jika ingin sehat, tidak oleh pers seperti halnya sekarang.

3. Surat Kabar Harian Terbitan Kota Medan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah surat kabar yang terbit setiap hari di kota Medan. Tiga surat kabar yang menjadi objek penelitian yakni Harian Waspada, Analisa, dan Sinar Indonesia Baru. Ketiga surat kabar tersebut adalah tiga penerbitan yang memiliki tiras penjualan yang tertinggi di kota Medan (the big three) dengan segmen pembaca yang masing-masing berbeda; Harian Waspada dibaca oleh umumnya umat Islam yang berasal dari etnis yang dikenal sebagai pemeluk agama Islam seperti Tapsel, Melayu, Minang, Aceh dan lainnya, Harian Analisa dibaca oleh umumnya masyarakat China umumnya beragama Budha, dan Harian Sinar Indonesia Baru dibaca oleh umumnya etnis Batak yang umumnya masyarakat Kristen. Dengan kata lain, pemilihan ketiga surat kabar tersebut karena dianggap mewakili kelompok agama dan etnis di masyarakat kota Medan.

4. Bakal Calon Gubsu yang dimaksud dalam penelitian ini adalah orang-orang akan mendaftar resmi menjadi Bakal Calon Gubsu periode 2008-2013, seperti Ali Umri (Walikota Binjai), dan Syamsul Arifin (Bupati Langkat).

5. Kata Pengaruh = berarti sesuatu daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang. Makna kata pengaruh dalam penelitian ini adalah terbentuknya opini masyarakat kota Medan tentang citra tokoh yang menjadi bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 akibat membaca berita tokoh dalam surat kabar.

D. Hipotesis
Kasus-kasus observasi kita simpulkan sebuah teori melalui proses induksi. Selanjutnya, dari teori dapat dijabarkan proposisi-proposisi baru melalui proses deduksi. Teori ini tidak dapat diuji. Supaya dapat diuji, teori harus dirinci menjadi proposisi-proposisi. Proposisi seperti ini disebut hipotesis. Hipotesis sering disebut statement of theory in testable form, atau tentative statements about reality. Dalam penelitian ini dirumuskan suatu hipotesis untuk menduga kesimpulan akhir yang merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian. Hipotesis antara masing-masing variabel akan diteliti dengan konsep sebagai berikut:
Adanya hubungan yang signifikan di antara berita tokoh di surat kabar dengan opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008.










BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Sesuai dengan apa yang telah diuraikan di atas, maka penelitian ini merupakan penelitian survei yang mengumpulkan data dari pendapat masyarakat kota Medan untuk mengukur pengaruh yang disebabkan pemberitaan surat kabar atas opini masyarakat.
Penelitian survei ialah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. Penelitian ini bersifat deskripsi analitik, yaitu penulis berusaha mencari informasi/data pengaruh kampanye politik di surat kabar terhadap pembentukan citra atas seorang tokoh dalam masyarakat kota Medan.
Dengan melakukan penelitian ini ada beberapa maksud dan tujuan yang dapat dicapai. Salah satu tujuan penelitian survei yang dapat diaplikasikan adalah untuk meramalkan hasil suatu fenomena tertentu. Misalnya survei tentang pendapat calon pemilih presiden tentang siapa calon presiden yang akan mereka pilih nanti. Data yang diperoleh dari hasil survei ini dapat digunakan untuk meramalkan siapa calon presiden yang bakal menang kelak.
Survei atau jajak pendapat merupakan salah satu penemuan terpenting di dunia kebijakan publik. Penemuan jajak pendapat dalam kebijakan publik sama pentingnya dengan penemuan pinisilin dalam ilmu kedokteran, atau penemuan roda dalam dunia otomotif. Melalui jajak pendapat, hanya dengan menggunakan seribu atau dua ribu responden, kita dapat mengetahui persepsi, aspirasi, harapan atau ketakutan dua ratus juta penduduk satu negara. Hal ini dapat dianalogikan dengan satu kuali besar sup ayam. Hanya dengan mencicipi satu sendok sup itu, kita sudah dapat tahu rasa dari keseluruhan satu kuali sup ayam. Tentu saja analogi itu hanya tepat, jika pengambilan responden dan keseluruhan jajak pendapat mengikuti metodologi yang benar dan ketat.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional. Metode kuantitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang yang diamati.
Secara umum penelitian kuantitatif diartikan sebagai suatu penelitian yang menggunaan alat bantu statistik sebagai paling utama dalam memberikan gambaran atas suatu peristiwa atau gejala, baik statistik deskriptif maupun statistik inferensial.
Statistik bekerja dengan angka-angka, karena itu seseorang yang melakukan penelitian kuantitatif harus terlibat dengan permainan angka-angka. Angka-angka di dalam statistik merupakan simbol atau pernyataan yang bersifat verbal. Tingkat keakuratan penggunaan statistik sebagai alat analisa data, sangat tergantung kepada pemakainya. Karena itu tidak tepat kalau dikatakan bahwa statistik sebagai alat analisis data yang paling dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian kuantitatif pada umumnya adalah bersifat deduktif, yaitu dimulai dari penjelasan teoretis yang bersifat umum, kemudian pandangan teoretis yang bersifat umum itu diuji kebenarannya kepada suatu sampel tertentu yang bersifat khusus untuk diambil suatu kesimpulan.

B. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian, dapat berupa manusia, wilayah geografis, waktu, organisasi, kelompok, lembaga, buku, kata-kata, surat kabar, majalah dan sebagainya. Populasi bukan sekedar jumlah yang ada pada objek, tetapi meliputi seluruh karakteristik yang dimiliki objek yang diteliti. Sedangkan sampel adalah sebagian dari jumlah atau karakteristik yang dimiliki populasi.
Komponen yang terkait dalam pelaksanaan penelitian sesuai dengan sifat penelitian survei yaitu menetapkan sampel dari keseluruhan populasi yang ada.

Populasi
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik kota Medan, jumlah penduduk di kota Medan pada tahun 2004 sebanyak 2.006.142 juta orang yang terdapat pada 21 kecamatan. Dalam penelitian ini peneliti menetapkan 3 wilayah kecamatan; antara lain Kecamatan Medan Helvetia, Kecamatan Medan Tembung, dan Kecamatan Medan Deli. Penetapan ketiga wilayah kecamatan ini adalah berdasarkan jumlah penduduk dan pembaca surat kabar terbanyak.
Untuk lebih jelasnya, akan diuraikan nama-nama kecamatan beserta jumlah penduduk pada masing-masing kecamatan tersebut. Data ini merupakan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara tahun 2004. Penetapan ketiga wilayah kecamatan dari 21 kecamatan dalam struktur kota Medan digambarkan dalam tabel di bawah ini:

Tabel 3.1: Pengelompokkan Populasi

No Kerangka Sampling/
Sampling Frame Jumlah
Penduduk Satuan Sampling/
Sampling Unit
1. Kec.Medan Tuntungan 68.438 1. Medan Helvetia
2. Medan Tembung
3. Medan Deli


2. Kec.Medan Johor 108. 911
3. Kec.Medan Amplas 104.455
4. Kec.Medan Denai 133.742
5. Kec.Medan Area 108.317
6. Kec.Medan Kota 82.901
7. Kec.Medan Maimun 47.137
8. Kec.Medan Polonia 49.048
9. Kec.Medan Baru 42.221
10. Kec.Medan Selayang 81.035
11. Kec.Medan Sunggal 106.759
12 Kec.Medan Helvetia 136.216
13. Kec.Medan Petisah 66.073
14. Kec.Medan Barat 77.839
15. Kec.Medan Timur 110.492
16. Kec.Medan Perjuangan 99.580
17. Kec.Medan Tembung 135.188
18. Kec.Medan Deli 141.787
19. Kec.Medan Labuhan 100.184
20. Kec.Medan Marelan 112.463
21. Kec.Medan Belawan 93.356
21 Kecamatan 2.006.142 3 Kecamatan

Sampel
Sampel dalam penelitian ini diambil dari populasi yang ditetapkan berdasarkan metode Stratified Random Sampling atau pembagian sampel secara berlapis untuk mewakili berbagai unsur, tingkatan, dan kelompok dalam masyarakat. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 267 responden yang ditetapkan dengan mengunakan Formula Cochran yang disederhanakan.


no = (t)² . (s)²
__________________


= (1,96)² . (1,25)²
___________________________
(0,15)²

= 266,77

= 267

Keterangan;
t = Kekuatan hubungan/Alpha (0,05 – 1,96)
s = Standar defiasi = Perjumpaan yang terjadi
(1,25 -1,50)
d = Derajat kepercayaan (90% dan 85%)

Selanjutnya penentuan sampel dari populasi ditentukan dengan menggunakan rumus;

n = no
________________________
1 + (no/N)

413.191
= ______________________________
1 + 413.191/267

413.191
= ___________________
1549

= 267


Untuk menetukan besarnya jumlah sampel dalam setiap kecamatan, maka akan ditetapkan besarnya sampel dalam setiap satuan sampling yang dibagi dalam ketiga kecamatan yang menjadi sampling tersebut. Selanjutnya, untuk menetapkan besarnya sampel dalam setiap satuan sampling dari daerah kecamatan, maka ditetapkan persentase penduduk di setiap kecamatan tersebut yang berdasarkan pada besarnya jumlah penduduk dari masing-masing kecamatan yang ada di kota Medan.
Kemudian, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini;
Tabel 3.2. Populasi
No. KECAMATAN N %

1.
2.
3.

Medan Helvetia
Medan Tembung
Medan Deli
136.216
135.188
141.787
33%
33%
34%
Jumlah 413.191 100%

Selanjutnya dari perhitungan yang telah diuraikan di atas maka telah didapatkan ukuran sampel dalam penelitian ini sebanyak 267 unit. Maka pembagian sampel kemudian ditetapkan dalam wilayah-wilayah satuan sampling dengan menggunakan jumlah ukuran sampel sebagai pengalinya. Untuk lebih jelasnya pembagian sampel dapat dilihat dalam tabel di bawah ini;

Tabel 3.3. Sampel Penelitian
No. KECAMATAN N %

1.
2.
3.

Medan Helvetia
Medan Tembung
Medan Deli

88
87
92
33%
33%
34%
Jumlah 267 100%


Untuk memenuhi karakteristik dalam setiap lapisan masyarakat yang menjadi populasi, maka ditetapkan jumlah dari masing-masing karakteristik yang ada di kota Medan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di tabel di bawah ini;

Tabel 3.4: Pengelompokkan Sampel


No Kecamatan

Jumlah

Kelompok Medan Helvetia Medan Tembung Medan
Deli
1 Agama
- Islam
- Kristen
- Hindu/
Budha
55
30

3
55
30

2
60
30

2
170
90

7


2. Jumlah

Etnis
- Jawa
- Melayu
- Mandailing/
Tapsel
- Batak
- Aceh
- Minang
- Karo 88


30
20

25
10
3
-
- 87


50
-

30
7
-
-
- 92


20
30

20
10
10
-
2 267


100
50

75
27
13
-
-


3. Jumlah

Usia
- 17-25
- 26-35
- 36-45
- 46-55
- 55< 88 30 20 15 15 8 87 30 20 15 15 7 92 35 20 15 15 7 267 95 50 45 45 45 Jumlah 88 87 92 267 C. Alat Pengumpul Data Alat pengumpul data utama dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner yang begitu lumrah dalam penelitian sehingga penyusunannya kelihatannya sebagai tugas yang dapat dilaksanakan oleh setiap orang yang berpendidikan baik. Orang cenderung bahwa jawaban yang terus terang dapat dipancing dengan pertanyaan sederhana dan terus terang. Namun pada kenyataannya tidak selalu demikian. Di samping keanehan etimologis bahasa Inggris (dan semua bahasa lainnya), setiap penyusunan kuesioner dan setiap responden memberikan kepada setiap pertanyaan arti dan nuansa yang khusus dan sering tidak biasa. Penelitian ini dititikberatkan pada penelitian korelasional; yakni mempelajari hubungan variabel-variabel. Dalam survei informasi dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner. Umumnya pengertian survei dibatasi pada penelitian yang datanya dikumpulkan dari sampel atas populasi untuk mewakili seluruh populasi. Biasanya yang merupakan unit analisa dalam penelitian survei adalah individu, bukan masyarakat. Wawancara untuk kuesioner tetap dilakukan kepada satu orang. Dalam penelitian ini, selain tentang data pribadi responden, kuesioner akan dirancang (terutama) menyangkut kecenderungan pemilih terhadap kriteria figur yang diminatinya. C. Pengukuran Variabel Penelitian survei dalam penelitian ini dilakukan dengan pengukuran variabel-variabel yakni variabel terikat dan variabel bebas. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah berita tokoh pada surat kabar terbitan kota Medan. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubsu tahun 2008. Tabel 3.5. Kisi-kisi Instrumen No Variabel Sub Variabel Nomor Item Jumlah Item 1. 2. Berita Tokoh Opini Masyarakat Tentang Citra Tokoh 1. Frekuensi membaca surat kabar dan berita tokoh 2. Ketertarikan membaca berita tokoh 3. Banyak membaca berita tokoh 4. Kebiasaan membaca berita tokoh 5. Lama membaca berita tokoh 6. Tempat membaca berita tokoh 7. Alasan membaca berita tokoh 8. Berita tokoh yang dibaca 1. Citra berita surat kabar tentang tokoh 2. Tingkat pemenuhan informasi oleh surat kabar. 3. Tingkat pengenalan terhadap tokoh. 4. Tokoh yang paling merakyat 5. Tokoh yang paling mampu membangun Sumut 6. Tokoh yang paling berpenampilan layak/pantas 7. Tokoh paling pemersatu 8. Tokoh paling nasionalis- religius 1-4 5-7 8 9 10 11 12-14 15-16 17 18-19 20-22 23 24 25 26 27 4 3 1 1 1 1 3 2 1 2 3 1 1 1 1 1 E. Teknik Analisis Data Seperti diuraikan di atas, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, analitis, dan korelasional. Menurut Jalaluddin Rakhmat, penelitian deskriptif diartikan melukiskan variabel demi variabel, satu demi satu. Pada hakikatnya metode deskriptif menngumpulkan data secara univariat. Karakteristik data diperoleh dengan ukuran-ukuran kecenderungan pusat (central tendency) atau ukuran sebaran (dispersion). Penelitian deskriptif bukan saja menjabarkan (analitis) tetapi memadukan (sintesis). Bukan saja melakukan klasifikasi tetapi juga organisasi. Dari penelitian deskriptif kemudian dikembangkan berbagai penelitian korelasional dan eksperimental. Selanjutnya metode korelasional dalam penelitian ini yang merupakan lanjutan dari metode deskriptif. Metode korelasi bertujuan meneliti sejauhmana variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi pada faktor lain. Kalau dua variabel saja yang dihubungkan maka korelasinya disebut korelasi sederhana (simple correlation). Sedangkan hubungan variabel yang lebih dari dua disebut korelasi ganda (multiple corelation). Seperti dijelaskan di atas, metode korelasional meneliti hubungan di antara berbagai variabel. Dalam penelitian sosial kita sering berhubungan dengan variabel atribut, yakni variabel yang tidak dapat kita kendalikan. Dalam penelitian deskriptif, metode korelasi digunakan untuk mengukur dan meramalkan berbagai variabel di antaranya, yaitu : 1. Mengukur hubungan di antara berbagai variabel. 2. Meramalkan variabel tak bebas dari pengetahuan tentang variabel bebas. 3. Meratakan jalan untuk membuat rancangan penelitian eksperimental. Dalam penelitian ini, akan dideskripsikan hubungan antara variabel melalui pengumpulan data di lapangan dengan penyebaran kuesioner. Uji korelasi akan mencari besarnya hubungan dan arah hubungan. Nilai korelasi dalam rentang 0 sampai 1 atau 0 sampai -1. Tanda positif dan negatif menunjukkan arah hubungan. Tanda positif menunjukkan arah perubahan yang sama, yaitu jika satu variabel naik, maka variabel yang lain naik, demikian pula sebaliknya. Tanda negatif menunjukkan arah perubahan yang berlawanan, yaitu jika satu variabel naik, maka variabel yang lain turun. Nilai korelasi yang didapat dalam uji adalah nilai korelasi sampel. Pendekatan korelasi populasi dapat dilakukan dengan uji ”t” sebagai berikut: r√ n – 2 t = __________________ √ 1 - r² Di mana: r = nilai korelasi sampel n = jumlah pengamatan (sampel) Besarnya nilai korelasi dikategorikan sebagai berikut: • 0.7 – 1.00 baik positif maupun negatif, menunjukkan derajat hubungan yang tinggi. • 0.4 – 0.7 baik positif maupun negatif, menunjukan derajat hubungan yang substansial. • 0.2 – 0.4 baik positif maupun negatif, menujukkan derajat hubungan rendah. • < 0.2 baik positif maupun negatif, hubungan dapat diabaikan. Uji bivariate digunakan untuk menguji hubungan dua variabel bertipe ordinal dan skala. Terdapat tiga macam uji bivariate, yaitu uji Pearson, uji Kendall, dan uji Spearman. Uji Pearson digunakan untuk mengukur hubungan dengan data berdistribusi normal (parametrik). Uji Kendall dan Spearman mengukur hubungan antar variabel berdasarkan ranking dan tidak memandang distribusi variabel (non parametrik). Untuk memperkuat hasil kesimpulan yang diperoleh, dalam penelitian ini uji variabel menggunakan uji Pearson, uji Kendall dan uji Spearman. Dalam penelitian ini, masing-masing variabel akan dihubungkan. Data yang didapat kemudian akan dianalisis dengan menggunakan alat pengukur dalam program SPSS versi 12. Penelitian ini adalah berusaha mendeskripsikan fenomena pengaruh kampanye politik bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 di media massa terhadap pembentukan citra dalam masyarakat kota Medan. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN A. Profil Responden Penelitian tentang Pengaruh Berita Tokoh Pada Surat Kabar Terbitan Kota Medan Terhadap Opini Masyarakat Tentang Citra Bakal Calon Gubernur Sumatera Utara Tahun 2008 ini mengambil 267 sampel masyarakat kota Medan. Penelitian yang dilakukan pada tanggal 13-23 Desember 2007 ini dilakukan di tiga kecamatan yakni Kecamatan Medan Tembung, Kecamatan Medan Helvetia, dan Kecamatan Medan Deli. Waktu penelitian tersebut dipilih berkaitan tenggat waktu pengumuman oleh masing-masing partai politik yang akan menetapkan pasangan calon yang akan didukung menjadi calon gubernur dan calon wakil gubernur Sumatera Utara periode 2008-2013 dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara tahun 2008. Sedangkan pilihan daerah kecamatan yang menjadi sampel, seperti diuraikan sebelumnya karena merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk paling besar dan konsentrasi pembaca surat kabar paling banyak. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa daerah yang paling banyak memiliki jumlah penduduk dan paling banyak membaca surat kabar akan lebih mewakili populasi secara keseluruhan dibandingkan dengan daerah yang memiliki jumlah penduduk lebih sedikit dan tingkat konsentrasi pembaca surat kabar yang juga lebih sedikit. Sesuai dengan data kependudukan yang ada, responden dalam penelitian ini dikelompokkan dalam tiga karakteristik yang berbeda yakni kelompok agama, kelompok etnis dan kelompok usia. Pengelompokkan sampel ini dilakukan secara proporsional. Artinya, jumlah kelompok masyarakat dalam populasi di persentasikan ke dalam jumlah sampel yang disebar ke tiga wilayah kecamatan di kota Medan. Berdasarkan tiga karakteristik yang ditentukan tersebut kemudian dilakukan penyebaran kuesioner ke masyarakat kota Medan. Dari penyebaran kesioner ini kemudian menjaring kelompok-kelompok sampel lainnya dalam masyarakat secara alamiah sesuai dengan proporsinya masing-masing. Kelompok-kelompok tersebut yakni kelompok gender, kelompok pekerjaan dan kelompok pendidikan. Dari jumlah responden tersebut 65,17 % di antaranya adalah perempuan dan sisanya sebanyak 34.83% adalah responden laki-laki. Dari segi pekerjaan, responden dalam penelitian ini terdiri dari 13.11% yang berprofesi sebagai karyawan swasta, dan 0.75 % yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau merupakan kelompok sampel yang paling kecil dari segi kelompok pekerjaan. Jumlah responden yang merupakan mahasiswa/pelajar sebanyak 23.60 %. Sedangkan yang berprofesi sebagai wiraswasta atau memiliki usaha sendiri sebanyak 37.08% atau merupakan kelompok responden yang paling banyak dari segi kelompok pekerjaan. Jumlah ibu rumah tangga sebanyak 14.23% dan yang tidak bekerja atau menganggur sebanyak 11.61 %. Dari segi pendidikan, jumlah responden yang berpendidikan Sekolah Dasar (SD) sebanyak 4.87%. Untuk responden yang berpendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 17.23%. Sedangkan responden yang berpendidikan setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 65.54%. Untuk tingkat diploma jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 5.99%. Sementara responden yang berpendidikan tingkat sarjana (S1/S2/S3) sebanyak 4.49% dan yang tidak sekolah ada sebanyak 1.87%. Selanjutnya, sesuai dengan rencana pengelompokkan sampel, jumlah responden yang beragama Islam sebanyak 63,67%. Sedangkan responden yang beragama Kristen sebanyak 33.71%. Sementara jumlah responden yang beragama Hindu/Budha sebanyak 2.62%. Dari segi etnis, jumlah responden etnis Jawa sebanyak 37.45% yang merupakan kelompok etnis paling besar jumlahnya dalam populasi masyarakat kota Medan. Sedangkan yang beretnis Melayu sebanyak 18.73%. Untuk responden etnis Mandailing/Tapsel yang menjawab pertanyaan dalam penelitian ini sebanyak 28.09%. Etnis Batak (Toba, Pak pak, Simalungun) yang menjadi responden dalam penelitian ini sebanyak 10.11%. Responden dari etnis Aceh sebanyak 4.84% dan etnis Karo sebanyak 0.75%. Dari segi usia, jumlah responden yang berusia 17-25 tahun sebanyak 35.58% yang merupakan pemilih pemula dan pemilih produktif yang menjadi kelompok pemilih paling banyak dari segi kelompok usia. Kemudian responden yang berusia 26-35 tahun sebanyak 18.73%, usia 36-45 tahun sebanyak 16.85%. Begitu juga dengan usia 46-55 tahun dan >55 tahun sebanyak 16.85% responden.
B. Pola Membaca Berita Tokoh

1. Frekuensi Membaca Surat Kabar dan Berita Tokoh
Dalam penelitian ini terlihat, pada umumnya responden membaca surat kabar dalam seminggu terakhir. Ada sebanyak 61,8 % responden yang membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir, dan sebanyak 38,2 % responden yang tidak membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir. Dengan demikian, Min yang diperoleh untuk frekuensi masyarakat membaca surat kabar terbitan Medan ini yakni 1,3820.

Grafik 4.1: Jumlah Responden
Membaca Surat Kabar


Sebanyak 16.9% responden membaca surat kabar setiap hari dalam satu minggu terakhir. Sedangkan 5.2% responden yang membaca surat kabar 5-6 hari dalam satu minggu. Jumlah yang membaca surat kabar 3-4 hari dalam satu minggu sebanyak 13.1%. Jumlah yang paling banyak adalah yang membaca surat kabar 1-2 hari dalam satu minggu terakhir yakni sebanyak 35.2%, sedangkan yang tidak membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir sebanyak 29.2% responden dan ada 0.4% responden yang tidak memberikan jawabannya dalam pertanyaan ini. Min kekerapan responden membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir adalah 3.5581 sehingga rata-rata kekerapan responden membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir adalah 1-2 hari dalam seminggu.

Grafik 4.2: Tingkat Kekerapan Responden Membaca Surat
Kabar Dalam Satu Minggu Terakhir

Dari jumlah waktu yang digunakan responden membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir cukup bervariasi. Jumlah responden yang setiap hari membaca berita tokoh sebanyak 12%. Sedangkan responden yang membaca berita tokoh sebanyak 5-6 hari dalam seminggu ada 5.6%. Jumlah responden yang membaca berita tokoh 3-4 hari dalam seminggu sebanyak 13.9%. Jumlah responden yang membaca berita tokoh 1-2 hari dalam semingu 31.8%. Sedangkan responden yang tidak membaca berita tokoh sebanyak 35.2% dan yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 1.5%. Dengan demikian Min yang diperoleh sebesar 3.7715.

Grafik 4.3: Tingkat Kekerapan Responden Membaca Berita Tokoh Di Surat Kabar Dalam 1 Minggu Terakhir

Jumlah hari yang digunakan responden dalam membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir juga cukup bervariasi. Jumlah waktu yang dipakai responden kurang dari satu jam sebanyak 64.8%. Sedangkan responden yang menggunakan waktu membacanya 1-2 jam sebanyak 22.5%. Responden yang menggunakan waktu 2-3 jam dalam membaca surat kabar sebanyak 3.4%. Sementara yang menggunakan waktu membaca surat kabar selama 4-5 jam ada sebanyak 1.5% responden. Sedangkan yang membaca surat kabar lebih dari lima jam dijawab oleh 3% responden. Ada 4.9 responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min yang diperoleh dalam jumlah waktu yang digunakan responden dalam membca surat kabar adalah 1.7004, itu berarti rata-rata responden membaca surat kabar dalam satu minggu terakhir kurang dari satu jam.

Grafik 4.4: Jumlah Waktu Yang Digunakan Responden
Surat Kabar

2. Ketertarikan Membaca Berita Tokoh
Dalam penelitian ini para responden menyatakan bahwa berita tentang tokoh yang dimuat surat kabar terbitan Medan menarik untuk menjadi bahan bacaan atau menarik untuk dibaca. Ada sebanyak 68.2% responden yang menyatakan bahwa berita tokoh menarik untuk dibaca. Namun yang menyatakan berita tokoh yang dimuat di surat kabar terbitan Medan tidak menarik untuk dibaca ada sebanyak 31.1%. Dalam penelitian ini ada sebanyak 0.7% responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tingkat penilaian ketertarikan akan berita tokoh di surat kabar adalah 1.3258. Itu berarti rata-rata berita tokoh di surat kabar merupakan berita yang menarik bagi para responden.

Grafik 4.5: Penilaian Responden
Tentang Berita Tokoh


Dalam penelitian ini juga mengukur besar kecilnya ketertarikan responden terhadap berita tokoh di surat kabar. Responden yang menjawab ketertarikannya membaca berita tokoh di surat kabar sangat kecil sebanyak 13.1%. Sedangkan yang menyatakan ketertarikannya kecil untuk membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 6.7%. Jumlah yang menyatakan ketertarikannya biasa saja dalam membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 61.8%. Jumlah yang menyatakan ketertarikannya besar membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 11.2%. Jumlah responden yang menyatakan ketertarikannya sangat besar membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 7.1%. Dengan demikian Min yang diperoleh dalam besar kecilnya ketertarikan responden membaca berita tokoh adalah 2.9251, berarti rata-rata responden menilai ketertarikannya membaca berita tokoh yang dimuat disurat kabar biasa saja.

Grafik 4.6: Besar Kecilnya Ketertarikan
Membaca Berita Tokoh Di Surat Kabar

Dibandingkan rubrik lainnya yang dimuat surat kabar terbitan kota Medan, rubrik berita sangat jarang dibaca oleh sebanyak 21.3% responden. Sedangkan jumlah responden yang menyatakan jarang membaca rubrik berita tokoh dibanding rubrik lain sebanyak 31.1%. Jumlah responden yang menyatakan sedang sebanyak 30.3%. Sedangkan jumlah responden yang menyatakan sering membaca rubrik berita tokoh dibanding rubrik lain di surat kabar sebanyak 13.1%. Jumlah responden yang menyatakan sangat sering membaca rubrik berita tokoh dibanding rubrik lain di surat kabar sebanyak 3.4%. Sedangkan yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 0.7%. Dengan demikian, Min untuk seringnya rubrik berita tokoh dibaca dibanding rubrik lain adalah 2.4831 hingga rata-rata responden menilai tingkat keseringan membaca berita tokoh dibanding rubrik lainnya di surat kabar adalah sedang.

Grafik 4.7: Keseringan Responden Membaca Rubrik Berita
Tokoh Dibanding Rubrik Lain di Surat Kabar

3. Banyaknya Membaca Berita Tokoh
Penelitian ini juga mengukur banyaknya jumlah berita tokoh yang dibaca responden dalam setiap membaca surat kabar dalam satu harinya. Pada umumnya responden membaca berita tokoh di surat kabar dalam satu hari sebanyak 1-2 berita, dengan jumlah mencapai 58.1%. Namun responden yang menyatakan tidak ada membaca berita tokoh dalam satu hari sebanyak 21.3%. Sedangkan jumlah responden yang membaca berita tokoh 2-3 berita dalam satu hari sebanyak 9%. Yang membaca semua berita tokoh yang dimuat surat kabar dalam satu hari ada sebanyak 3.4%. Sementara yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 0.7%. Dengan demikian Min untuk berita tokoh yang biasanya dibaca dalam satu hari adalah 1.9775, itu berarti rata-rata responden membaca 1-2 berita tokoh dalam satu hari.

Grafik 4.8: Banyaknya Berita Tokoh
Yang dibaca Dalam Satu Hari

4. Kebiasaan Membaca Berita Tokoh
Para responden memiliki kebiasaan atau pola masing-masing dalam membaca berita di surat kabar khususnya dalam membaca berita tokoh. Pada umumnya responden membaca judul dan sebagian berita tokoh yang dimuat di surat kabar; jumlahnya sebanyak 41.9%. Sedangkan responden yang biasanya membaca judul dan seluruh berita tokoh di surat kabar sebanyak 24%. Jumlah responden yang hanya membaca judulnya saja dalam membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 22.8%. Jumlah yang hanya membaca judul dan lead berita tokoh saja sebanyak 10.5% dan yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 0.7%. Dengan demikian Min untuk kebiasaan responden membaca berita tokoh adalah 2.692 yang berarti rata-rata responden membaca judul dan seluruh berita tokoh yang dimuat di surat kabar.

Grafik 4.9: Kebiasaan Membaca Berita Tokoh

5. Lama Membaca Berita Tokoh
Responden yang menyatakan rata-rata menghabiskan waktunya kurang dari lima menit dalam membaca berita tokoh di surat kabar terbitan Medan sebanyak 36%. Sedangkan yang menyatakan menghabiskan waktunya 5-10 menit dalam membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 34.8%. Jumlah responden yang menyatakan rata-rata menghabiskan waktunya 10-30 menit dalam membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 13.1%. Jumlah responden yang menyatakan menghabiskan waktunya rata-rata 30 menit sampai 1 jam sebanyak 9.4%. Jumlah yang menjawab menghabiskan rata-rata waktunya lebih dari satu jam dalam membaca berita tokoh di surat kabar sebanyak 4.5%. Sedangkan responden yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 2.3%. Dengan demikian Min untuk lama membaca berita tokoh adalah 2.3146 atau rata-rata responden membaca berita tokoh kurang dari lima menit.

Grafik 4.10. Lama Membaca Berita Tokoh

6. Tempat Membaca Berita Tokoh
Pada umumnya responden membaca berita tokoh di surat kabar di rumahnya masing-masing. Ada sebanyak 47.2% responden yang membaca berita tentang tokoh di rumahnya. Sedangkan yang membaca berita tokoh yang dimuat di surat kabar di tempat-tempat umum seperti warung, hotel dan lain-lain sebanyak 39.3%. Jumlah responden yang menjawab membaca berita tokoh di kantor sebanyak 4.9%. Jumlah responden yang biasanya membaca berita tokoh di perpustakaan 3.4%. Sedangkan yang membaca berita tokoh di surat kabar selain di rumah, kantor, tempat umum, dan di perpustakaan 4.9%. Ada sebanyak 0.4% responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk lokasi membaca berita tokoh adalah 2.7603, itu berarti rata-rata responden membaca berita tokoh di surat kabar berlokasi di rumah.

Grafik 4.11: Tempat Membaca Berita Tokoh

7. Alasan Membaca Berita Tokoh
Para responden membaca berita tokoh di surat kabar karena alasan iseng-iseng sebanyak 27.7%. Sedangkan responden menjawab alasan membaca berita tokoh di surat kabar karena kemasannya menarik sebanyak 10.9%. Jumah responden yang membaca berita tokoh karena ingin tahu kegiatan yang dilakukan para tokoh adalah jumlah yang terbanyak yakni 35.6%. Sedangkan responden beralasan ingin mengetahui pernyataan para tokoh dalam berita 21.3%. Sedangkan responden yang memberikan alasan selain karena alasan di atas ada sebanyak 3.7%. Sementara 0.7 persen responden tidak menjawab pertanyaan ini. Min untuk alasan membaca berita tokoh adalah 2.6479, itu berarti rata-rata alasan responden membaca berita tokoh di surat kabar karena mereka ingin mengetahui kegiatan para tokoh.

Grafik 4.12: Alasan Membaca Berita Tokoh

Bagi responden yang menjawab pertanyaan alasan membaca berita tokoh di atas karena ingin tahu kegiatan tokoh (35.6%), hal itu karena senang melakukannya (16.9%) responden. Sedangkan yang paling banyak yakni 44.9% responden menjawab karena penasaran dengan apa saja yang dilakukan para tokoh menjelang Pilgubsu 2008. Sedangkan 8.6% responden menyatakan keingintahuan mereka tentang kegiatan para tokoh untuk bahan diskusi. Sedangkan yang beralasan karena ingin mengikuti kegiatan tokoh favoritnya melalui pemberitaan di surat kabar sebanyak 9.7%. Responden yang memberikan alasan sebanyak 4.9%, dan responden yang tidak menjawab pertanyaan ini 15.4%. Min untuk alasan responden yang ingin mengetahui kegiatan para tokoh melalui surat kabar adalah 2.8727, artinya rata-rata responden yang ingin mengetahui kegiatan para tokoh karena merasa penasaran dengan apa saja yang dilakukan para tokoh menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 mendatang.
Grafik 4.13: Alasan Keingintahuan Tentang Kegiatan Para
Tokoh

Bagi responden yang menjawab alasan membaca berita tokoh di atas karena ingin mengetahui pernyataan para tokoh dalam berita (21.3%) adalah cuma ingin tahu dijawab oleh 40.1%. Sedangkan alasan menjawab ingin mengetahui pernyataan para tokoh dalam berita adalah karena hal itu dinilai penting bagi pembangunan dijawab oleh 25.5% responden. Jumlah responden yang menjawab karena alasan ingin mencari figur pemimpin yang ideal sebanyak 11.6%. Jumlah yang ingin mengetahui pernyataan para tokoh di surat kabar karena alasan ingin membanding-bandingkannya dengan tokoh favoritnya sebanyak 8.2%. Sedangkan responden yang memberikan alasan seperti yang diuraikan di atas sebanyak 3%, dan yantg tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 11.6%. Dengan demikian Min untuk alasan responden menjawab ingin mengetahui pernyataan para tokoh dalam berita untuk alasan membaca berita tokoh adalah 2.4345, itu berarti rata-rata responden beralasan karena menilai pernyataan para tokoh penting bagi pembangunan Sumatera Utara ke depan.

Grafik 4.14: Alasan Ingin Tahu
Pernyataan Tokoh Dalam Berita

8. Berita Tokoh Yang Dibaca
Pada umumnya responden membaca berita tokoh dalam surat kabar terbitan kota Medan adalah berita tokoh-tokoh tertentu saja. Sebanyak 63.3% responden menyatakan hanya membaca berita-berita tokoh-tokoh tertentu saja pada surat kabar yang mereka baca. Sedangkan sebanyak 33.3% responden membaca semua berita tokoh yang dimuat dalam surat kabar. Sedangkan 3.4% responden tidak memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Min untuk berita tokoh yang dibaca adalah 1.7004, itu artinya rata-rata responden hanya membaca berita tokoh tertentu saja dari berita-berita tokoh yang dimuat surat kabar terbitan kota Medan.

Grafik 4.15: Berita Tokoh Yang Dibaca

Nama Ali Umri sering dibaca oleh 16.1% responden. Sedangkan tokoh yang paling sering dibaca adalah Abdillah yang dibaca 42.7% responden. Jumlah responden yang paling sering membaca Chairuman Harahap sebanyak 6.4% responden, sedangkan jumlah responden yang paling sering membaca berita Rudolf M.Pardede 11.2% responden, jumlah responden ini sama dengan jumlah responden yang paling sering membaca berita Syamsul Arifin di surat kabar yakni sebesar 11.2%. Responden yang sering membaca berita Herry W.Marzuki di surat kabar sebanyak 2.2% responden. Sementara sebanyak 7.1% responden menjawab beberapa nama lainnya sebanyak 7.1%, dan yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 3% responden. Dengan demikian Min untuk tokoh yang paling sering dibaca responden di surat kabar adalah 3.2697, itu berarti rata-rata responden paling sering membaca berita Abdillah di surat kabar.

Grafik 4.16: Berita Tokoh Yang Paling Sering Dibaca
9. Citra Berita Surat Kabar Tentang Tokoh
Berita-berita yang disajikan surat kabar tentang tokoh mencitrakan para tokoh tersebut. Sebanyak 4.1% responden menilai citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh dengan sangat tidak baik. Sedangkan sebanyak 2.6% menilai citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh dengan tidak baik. Sebanyak 38.6% responden menyatakan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh dengan biasa saja atau sedang. Jumlah responden yang menilai kesan itu baik adalah yang paling banyak yakni 40.4%. Sementara jumlah responden yang menyatakan citra yang dikesankan media massa sangat baik sebanyak 13.1%, dan ada 1.1% responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk citra berita surat kabar tentang tokoh adalah 3.5918, berarti rata-rata responden menilai baik citra yang dikesankan surat kabar tentang tokoh.

Grafik 4.17: Citra Berita Surat Kabar Tentang Tokoh

10. Tingkat Pemenuhan Informasi Oleh Surat Kabar
Dalam penelitian ini juga diukur tingkat pemenuhan informasi yang diberikan oleh surat kabar melalui pemberitaannya kepada masyarakat luas. Jumlah responden yang menyatakan bahwa surat kabar sudah memberikan kebutuhan informasi dengan yang menyatakan belum memenuhi kebutuhan informasi tidak jauh berbeda. Sebanyak 46.1% responden menyatakan surat kabar sudah memenuhi kebutuhan informasi. Sedangkan sebanyak 52.1% masyarakat menyatakan surat kabar belum memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkan, sementara sebanyak 1.1% responden tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tingkat pemenuhan informasi oleh surat kabar adalah 1.5431, berarti rata-rata responden menyatakan surat kabar belum memenuhi informasi yang dibutuhkan.

Grafik 4.18: Tingkat Pemenuhan Informasi Oleh Surat Kabar

Bagi responden yang menilai kebutuhan informasi sudah terpenuhi oleh pemberitaan surat kabar, diukur lagi seberapa besar tingkat pemenuhan informasi tersebut. Sebanyak 13.1% responden menyatakan pemenuhan informasi itu sangat kecil, sebanyak 11.6% menyatakan kecil. Sedangkan jumlah responden yang paling besar adalah yang menyatakan sedang untuk tingkat pemenuhan informasi oleh surat kabar yakni sebanyak 46.1%. Jumlah yang menyatakan tingkat pemenuhan informasi oleh surat kabar besar sebanyak 14.6%, yang menyatakan sangat besar 4.9% dan yang tidak menjawab pertanyaan ini sebanyak 9.7%. Dengan demikian Min untuk tingkat pemenuhan informasi oleh surat kabar ini adalah 3.1573, artinya rata-rata responden menilai tingkat pemenuhan informasi oleh surat kabar adalah sedang.

Grafik.4.19: Besaran Tingkat Pemenuhan Informasi
Oleh Surat Kabar

C. Opini Masyarakat Tentang Citra Tokoh
Selain mengukur tentang tingkat ketertarikan responden dan hal-hal yang berkaitan dengan berita tokoh yang terbit di surat kabar, juga dilakukan penelitian tentang efek yang diperoleh sebagai akibat dari berita tokoh tersebut.

1. Tingkat Pengenalan Terhadap Tokoh
Pada umumnya tingkat pengenalan responden terhadap para tokoh menjadi lebih baik akibat pemberitaan di surat kabar. Sebanyak 83.9% responden memiliki tingkat pengenalan lebih baik tentang tokoh sebagai akibat pemberitaan di surat kabar. Sedangkan sebanyak 16.1% responden yang menyatakan tingkat pengenalannya terhadap para tokoh tidak menjadi lebih baik akibat pemberitaan di surat kabar. Dengan demikian Min untuk tingkat pengenalan terhadap tokoh ini adalah 1.1798 , atau rata-rata responden memiliki tingkat pengenalan lebih baik terhadap para tokoh akibat pemberitaan di surat kabar.

Grafik 4.20: Tingkat Pengenalan Terhadap Tokoh

Tingkat pengenalan itu ditegaskan lagi terhadap para responden yang telah lebih kenal dengan para tokoh akibat pemberitaan surat kabar tersebut. Sebanyak 1.5% responden memiliki tingkat pengenalan terhadap para tokoh dengan sangat tidak baik. Sedangkan sebanyak 3.7% responden mengenal para tokoh dengan tidak baik. Sementara sebanyak 55.8% responden atau jumlah yang paling besar mengenal para tokoh lebih baik dengan tingkat yang sedang. Jumlah yang mengenal para tokoh dengan baik akibat pemberitaan di surat kabar sebanyak 27.7%. Jumlah yang jadi mengenal para tokoh dengan sangat baik akibat pemberitaan di surat kabar sebanyak 9%, dan ada 2.2% responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tingkat pengenalan 3.4569, atau berarti rata-rata responden jadi mengenal baik para tokoh akibat pemberitaan di surat kabar dengan tingkat yang sedang.

Grafik 4.21: Tingkat Pengenalan Terhadap Tokoh

Tingkat pengenalan terhadap para responden ini dipertegas dengan memunculkan nama-nama para tokoh yang akan menjadi Calon Gubernur Sumatera Utara. Nama Abdillah dikenal oleh 59.9% responden tapi tidak dikenal oleh 12.7% responden. Nama Ali Umri dikenal oleh 36% responden tapi tidak dikenal oleh 17.2% responden. Nama Chairuman Harahap dikenal oleh 12.4% responden namun tidak dikenal oleh 28.8% responden. Nama Herry W.Marzuki dikenal oleh 7.9% responden tapi tidak dikenal oleh 30.7% responden. Nama Rudolf M.Pardede dikenal oleh 36.3% responden tapi tidak dikenal oleh 12.4% responden, dan nama Syamsul Arifin dikenal oleh 28.1% responden tapi tidak dikenal oleh 18.4% responden.

Tabel 4.22: Tingkat Pengenalan Terhadap Para Tokoh

No. Nama Tokoh Kenal Tidak Kenal
1. Abdillah 59.% 12.7%
2. Ali Umri 36% 17.2%
3. Chairuman Harahap 12.4% 28.8%
4. Herry W.Marzuki 7.9% 30.7%
5. Rudolf M.Pardede 36.3% 12.4%
6. Syamsul Arifin 28.1% 18.4%
7. Dll 25.15% -

2. Tokoh Yang Paling Merakyat
Para responden menilai bahwa tokoh yang paling pantas disebut tokoh yang merakyat adalah Abdillah. Sebanyak 41.9% responden memilihnya. Selanjutnya sebanyak 15.7% responden memilih Ali Umri sebagai tokoh yang paling pantas disebut tokoh yang merakyat. Syamsul Arifin dipilih oleh 12.4% responden sebagai tokoh yang merakyat, kemudian Rudolf M.Pardede dipilih oleh 9.7% responden. Nama Chairuman Harahap dipilih oleh 5.6% responden sebagai tokoh yang paling pantas disebut sebagai tokoh yang merakyat, sedangkan Herry W.Marzuki dipilih oleh 3.4% responden dan sebanyak 7.1% responden memilih nama-nama lain. Ada 4.1% responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tokoh yang paling merakyat ini adalah 2.2547, atau rata-rata responden menilai Abdillah sebagai tokoh yang merakyat.

Grafik 4.23: Tokoh Yang Paling Merakyat

3. Tokoh Yang Paling Mampu Membangun Sumut
Abdillah juga dinilai sebagai tokoh yang paling pantas disebut tokoh yang mampu membangun Sumatera Utara. Sebanyak 39% responden menilai Abdillah tokoh yang mampu. Selanjutnya nama Ali Umri dipilih oleh 15.7% responden, dan nama Rudolf M.Pardede dipilih oleh 12% responden, disusul nama Syamsul Arifin yang dipilih oleh 10.5% responden. Sedangkan nama Chairuman Harahap dipilih oleh 7.1% responden, dan Herry W.Marzuki dipilih oleh 3% responden. Ada sebanyak 9% responden yang memilih nama-nama lain dan 3.7% responden yang tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tokoh yang dinilai paling mampu membangun Sumatera Utara adalah 3.427 itu berarti rata-rata responden menilai Abdillah sebagai tokoh yang pantas disebut tokoh yang mampu membangun Sumut.

Grafik 4.24: Tokoh Yang Paling Mampu Membangun Sumut

4. Tokoh Yang Paling Berpenampilan Layak/Pantas
Seperti halnya penilaian tentang tokoh merakyat dan tokoh yang bisa membangun Sumatera Utara, tokoh yang berpenampilan layak juga didominasi oleh Abdillah. Sebanyak 33% responden menilai Abdillah adalah tokoh yang paling pantas disebut tokoh yang berpenampilan menarik. Ali Umri dipilih oleh 19.9% responden, kemudian Syamsul Arifin dipilih 12.4% responden. Nama Chairuman Harahap dipilih oleh 10.5% responden yang menilainya sebagai tokoh yang paling layak disebut berpenampilan menarik. Sedangkan Rudolf dipilih 9.7% responden, sedangkan Herry W.Marzuki dipilih 2.2% responden. Sebanyak 9% responden memilih beberapa nama lain, dan 3.4% memilih tidak menjawab. Dengan demikian Min untuk tokoh yang paling berpenampilan menarik ini adalah 3.3895, artinya rata-rata responden menilai Abdillah sebagai tokoh yang paling pantas disebut berpenampilan paling menarik.
Grafik 4.25: Tokoh Yang Paling Berpenampilan Layak/Pantas


5. Tokoh Paling Pemersatu
Tokoh yang paling paling pantas disebut tokoh pemersatu juga didominasi oleh Abdilah. Sebanyak 34.1% responden memilih Abdillah, disusul Ali Umri yang dipilih 16.5%. Kemudian Rudolf M.Pardede dipilih oleh 13.1% responden dan Syamsul Arifin dipilih oleh 11.6%. Nama Chairuman Harahap dipilih oleh 8.2% responden sebagai tokoh yang paling pantas disebut sebagai tokoh pemersatu. Sedangkan Herry W.Marzuki dipilih oleh 3.7% responden. Sementara sebanyak 11.6% responden memilih nama-nama lain selain dari nama-nama yang diuraikan di atas, dan 2.6% responden memilih tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tokoh paling pemersatu ini adalah 3.5131, atau rata-rata responden menilai Abdillah sebagai tokoh yang paling pantas disebut sebagai tokoh pemersatu.

Grafik 4.26: Tokoh Paling Pemersatu

6. Tokoh Paling Nasionalis-Religius
Untuk tokoh yang paling pantas disebut sebagai tokoh yang nasionalis-religius juga didominasi nama Abdillah. Sebanyak 33.7% responden memilihnya, Ali Umri dipilih 16.5% responden, Syamsul Arifin dipilih oleh 14.2% responden dan Rudolf M.Pardede dipilih oleh 11.6% responden. Nama Chairuman Harahap dipilih oleh 8.2% responden sebagai tokoh yang paling pantas disebut tokoh nasionalis-religius. Sedangkan Herry W.Marzuki dipilih oleh 4.5% responden. Sebanyak 8.6% responden memilih nama-nama lain selain yang diuraikan di atas, dan 2.6% responden memilih tidak menjawab pertanyaan ini. Dengan demikian Min untuk tokoh paling nasionalis-religius ini adalah 3.6742, atau rata-rata responden memilih Abdillah untuk tokoh yang paling pantas disebut tokoh nasionalis-religius.

Grafik 4.27: Tokoh Paling Nasionalis-Religius

D. Pengujian Hipotesis
Hipotesis adalah pernyataan atau dugaan yang bersifat sementara terhadap suatu masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah (belum tentu kebenarannya) sehingga harus diuji secara empiris. Tahapan yang dilakukan dalam pengujian hipotesis setelah dirumuskan adalah dengan menetapkan tes statistik yang akan digunakan, menetapkan tingkat signifikansi (0.05%), melakukan perhitungan statistik dengan mengunakan program SPSS, dan mengambil kesimpulan.
Dalam penelitian ini, hipotesis antara masing-masing variabel akan diteliti dengan konsep sebagai berikut: Adanya hubungan yang signifikan di antara berita tokoh di surat kabar dengan opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. Analisis korelasi antara untuk mengetahui hubungan berita tokoh di surat kabar (X) dengan opini masyarakat tentang citra bakal calon gubernur Sumatera Utara (Y). Penelitian ini menggunakan uji Kendall dan Spearman yang mengukur hubungan antar variabel berdasarkan rangking dan tidak memandang distribusi variabel (non parametrik). Sedangkan untuk menguji keberartian digunakan uji ’t’.
Untuk mengetahui hubungan tersebut variabel X akan dihubungkan dengan variabel Y, dihubungkan beberapa variabel yang diuraikan di bawah ini;
1. Koefisien korelasi antara tingkat ketertarikan responden membaca berita tentang tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh.

Sesuai dengan hipotesis yang diuraikan di atas, maka hipotesis kedua variabel ini adalah adanya hubungan antara tingkat ketertarikan responden membaca berita tentang tokoh di surat kabar dengan tingkat pengenalan responden terhadap para tokoh.
Untuk menguji hipotesis antara kedua variabel tersebut, diurakan sebagai berikut:
KETERTARIKAN MEMBACA BERITA TOKOH TINGKAT PENGENALAN TERHADAP PARA TOKOH
Kendall's tau_b KETERTARIKAN MEMBACA BERITA TOKOH Correlation Coefficient 1.000 .164
Sig. (2-tailed) . .002
N 267 267
TINGKAT PENGENALAN TERHADAP PARA TOKOH Correlation Coefficient .164 1.000
Sig. (2-tailed) .002 .
N 267 267
Spearman's rho KETERTARIKAN MEMBACA BERITA TOKOH Correlation Coefficient 1.000 .185
Sig. (2-tailed) . .002
N 267 267
TINGKAT PENGENALAN TERHADAP PARA TOKOH Correlation Coefficient .185 1.000
Sig. (2-tailed) .002 .
N 267 267

Tabel 4.28: Koefisien Korelasi antara tingkat ketertarikan
responden membaca berita tentang tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh.
Tingkat signifikan berada pada level 0,05
Keterangan:
Nilai koefisien korelasi antara tingkat ketertarikan responden membaca berita tentang tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh versi Kendall sebesar 0.164, sedangkan menurut Spearman 0.185.

r√ n – 2
t hitung = --------------------
√ 1 - r²


0.164 √ 267 - 2
T hitung Kendall = _______________
√ 1 – 0.164²

0.164 x 16.279
= _______________
√ 1 – 0.027

2.668
= ____________
√ 0.9732

2.668
= _________
0.986

= 2.705


0.185 √ 267 - 2
t hitung Spearman = ________________
√ 1 – 0.185²

0.185 x 16.279
= ______________
√ 1 - 0.034

3.009
= _________
√ 0.966

3.009
= _______
0.98

= 3.070

t tabel (265 ; 0.05)

Keterangan:
Jika t hitung > t tabel, maka hipotesis diterima
Jika t hitung < t tabel, maka hipotesis ditolak t hitung Kendall = 2.705 > t tabel 1.645
t hitung Spearman = 3.070 > t tabel 1.645

Maka hipotesis diterima, jadi ada hubungan yang signifikan antara variabel tingkat ketertarikan responden membaca berita tentang tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh.

2. Koefisien korelasi antara frekuensi membaca berita tokoh
dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh.

Hipotesis hubungan kedua variabel ini adalah adanya hubungan antara frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. Untuk menguji hipotesis tersebut diuraikan sebagai berikut:

Tabel 4.29: Koefisien korelasi antara frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh.
FREKUENSI MEMBACA BERITA TOKOH TINGKAT PENGENALAN TERHADAP TOKOH
Kendall's tau_b FREKUENSI MEMBACA BERITA TOKOH Correlation Coefficient 1.000 .101
Sig. (2-tailed) . .067
N 267 267

TINGKAT PENGENALAN TERHADAP TOKOH
Correlation Coefficient
.101
1.000
Sig. (2-tailed) .067 .
N 267 267


Spearman's rho

FREKUENSI MEMBACA BERITA TOKOH

Correlation Coefficient 1.000 .112
Sig. (2-tailed) . .068
N 267 267


TINGKAT PENGENALAN TERHADAP TOKOH

Correlation Coefficient .112 1.000
Sig. (2-tailed) .068 .
N 267 267
Tingkat signifikan berada pada level 0.05

Keterangan :
Nilai koefisien korelasi frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh versi Kendall adalah 0.101, sedangkan menurut Spearman adalah 0.112.

r√ n – 2
t hitung = --------------------
√ 1 - r²

0.101 √ 267 - 2
t hitung Kendall = ______________
√ 1 – 0.101²

0.101 x 16.279
= _____________
√ 1 – 0.0102

1.644
= _________
√ 0.9898

1.644
= _______
0.995

= 1.656


0.112 √ 267 - 2
t hitung Spearman = ______________
√ 1 – 0.112²

0.101 x 16.279
= _____________
√ 1 – 0.0125

1.823
= _______________
√ 0.988

1.823
= _______
0.994

= 1.838
t tabel (265 ; 0.05)
Keterangan:
t hitung Kendall = 1.656 > t tabel 1.645
t hitung Spearman = 1.838 > t tabel 1.645

Maka hipotesis diterima, ada hubungan antara variabel frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh.

3. Koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh.

Hipotesis kedua variabel adalah adanya hubungan antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh. Untuk menguji hipotesis tersebut, berikut diuraikan:

Tabel 4.30: Koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering
dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh.
TOKOH YANG PALING SERING DIBACA CITRA TOKOH YANG DIKESANKAN SURAT KABAR

Kendall's tau_b
TOKOH YANG PALING SERING DIBACA
Correlation Coefficient 1.000 -.007
Sig. (2-tailed) . .888
N 267 267


CITRA TOKOH YANG DIKESANKAN SURAT KABAR


Correlation Coefficient
-.007
1.000
Sig. (2-tailed) .888 .
N 267 267



Spearman's rho


TOKOH YANG PALING SERING DIBACA


Correlation Coefficient


1.000


-.007
Sig. (2-tailed) . .907
N 267 267


CITRA TOKOH YANG DIKESANKAN SURAT KABAR


Correlation Coefficient
-.007
1.000
Sig. (2-tailed) .907 .
N 267 267
Tingkat signifikan berada pada level 0.05

Keterangan :
Nilai koefisien korelasi frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh versi Kendall adalah -0.007, sedangkan menurut Spearman adalah -0.007.
r√ n – 2
t hitung = -------------------
√ 1 - r²
t hitung Kendall dan Spearman :
-0.007 X 16.279
= ________________
√ 1 – 0.007

0.101 √ 265
= _________________
√ 1 – 0.000049

-0.11389
= _______________
0.9999

= - 0.1139

Keterangan:
t hitung Kendall dan Spearman= - 0.1139 < t tabel 1.645 Maka hipotesis ditolak, tidak ada hubungan antara variabel antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh. 4. Koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan tokoh yang paling pantas disebut tokoh merakyat. Hipotesis antara kedua variabel ini yakni adanya hubungan antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan tokoh yang paling pantas disebut tokoh merakyat. Untuk menguji hipotesis tersebut berikut diuraikan: Tabel 4.31: Koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan tokoh yang paling pantas disebut tokoh merakyat. TOKOH YANG PALING SERING DIBACA TOKOH YANG PALING MERAKYAT Kendall's tau_b TOKOH YANG PALING SERING DIBACA Correlation Coefficient 1.000 .363 Sig. (2-tailed) . .000 N 267 267 TOKOH YANG PALING MERAKYAT Correlation Coefficient .363 1.000 Sig. (2-tailed) .000 . N 267 267 Spearman's rho TOKOH YANG PALING SERING DIBACA Correlation Coefficient 1.000 .396 Sig. (2-tailed) . .000 N 267 267 TOKOH YANG PALING MERAKYAT Correlation Coefficient .396 1.000 Sig. (2-tailed) .000 . N 267 267 Tingkat signifikan berada pada level 0.05 Keterangan : Nilai koefisien korelasi berita tokoh yang paling sering dibaca dengan penilaian tokoh yang paling merakyat versi Kendall adalah 0.363, sedangkan menurut Spearman adalah 0.396. r√ n – 2 t hitung = -------------------- √ 1 - r² 0.363 √ 267 - 2 t hitung Kendall = _____________ √ 1 – 0.363² 0.363 X 16.279 = _____________ √ 1 – 0.1317 5.906 = ______ 0.9318 = 6.338 0.396 √ 267 - 2 t hitung Spearman = ______________ √ 1 – 0.396² 0.396 X 16.279 = ______________ √ 1 – 0.1568 6.4429 = ________ 0.918 = 7.018 Keterangan: t hitung Kendall = 6.338 > t tabel 1.645
t hitung Spearman = 7.018 > t tabel 1.645

Maka hipotesis diterima, ada hubungan yang sangat signifikan antara variabel berita tokoh yang sering dibaca dengan penilaian tokoh yang paling merakyat.

5. Koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan penilaian tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara.

Hipotesis kedua variabel tersebut yakni adanya hubungan antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan penilaian tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara. Untuk menguji hipotesis kedua variabel ini diuraikan sebagai berikut:

Tabel 4.31: Koefisien korelasi antara tokoh yang paling sering
dibaca di surat kabar dengan penilaian tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara.
TOKOH YANG PALING SERING DIBACA TOKOH YANG PALING MAMPU MEMBANGUN SUMUT
Kendall's tau_b TOKOH YANG PALING SERING DIBACA
Correlation Coefficient 1.000 .320
Sig. (2-tailed) . .000
N 267 267



TOKOH YANG PALING MAMPU MEMBANGUN SUMUT

Correlation Coefficient .320 1.000
Sig. (2-tailed) .000 .
N 267 267



Spearman's rho


TOKOH YANG PALING SERING DIBACA



Correlation Coefficient



1.000



.356
Sig. (2-tailed) . .000
N 267 267


TOKOH YANG PALING MAMPU MEMBANGUN SUMUT


Correlation Coefficient .356 1.000
Sig. (2-tailed) .000 .
N 267 267
Tingkat signifikan berada pada level 0.05

Keterangan :
Nilai koefisien korelasi berita tokoh yang paling sering dibaca dengan penilaian tokoh yang paling merakyat versi Kendall adalah 0.320, sedangkan menurut Spearman adalah 0.356.

r√ n – 2
t hitung = --------------------
√ 1 - r²

0.320 √ 267 - 2
t hitung Kendall = _____________
√ 1 – 0.320²

0.320 √ 265
= ___________
√ 1 – 0.1024

5.2074
= _________
0.9474

= 5.495

0.356 √ 267 - 2
t hitung Spearman = _____________
√ 1 – 0.356²

0.356 √ 265
= ___________
√ 1 – 01267

5.792
= ______
0.9345
= 6.1979
Keterangan:
t hitung Kendall = 5.495 > t tabel 1.645
t hitung Spearman = 6.1979 > t tabel 1.645
Maka hipotesis diterima, ada hubungan yang sangat signifikan antara variabel berita tokoh yang sering dibaca dengan penilaian tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara.

6. Koefisien korelasi antara alasan responden ingin mengetahui kegiatan para tokoh dengan terpenuhinya kebutuhan informasi tentang tokoh.

Hipotesis kedua variabel yakni adanya hubungan antara alasan responden ingin mengetahui kegiatan para tokoh dengan terpenuhnya informasi tentang tokoh. Untuk menguji hipotesis ini diuraikan sebagai berikut:

Tabel 4.32 : Koefisien korelasi antara alasan responden ingin mengetahui kegiatan para tokoh dengan terpenuhinya kebutuhan informasi tentang tokoh.
ALASAN INGIN TAHU BERITA TOKOH TERPENUHINYA KEBUTUHAN INFORMASI TENTANG TOKOH

Kendall's tau_b
ALASAN INGIN TAHU BERITA TOKOH
Correlation Coefficient 1.000 .101
Sig. (2-tailed) . .067
N 267 267

TERPENUHINYA KEBUTUHAN INFORMASI TENTANG TOKOH

Correlation Coefficient .101 1.000
Sig. (2-tailed) .067 .
N 267 267


Spearman's rho

ALASAN INGIN TAHU BERITA TOKOH

Correlation
Coefficient

1.000

.112
Sig. (2-tailed) . .068
N 267 267


TERPENUHINYA KEBUTUHAN INFORMASI TENTANG TOKOH


Correlation Coefficient .112 1.000
Sig. (2-tailed) .068 .
N 267 267
Tingkat signifikan berada pada level 0.05

Keterangan :
Nilai koefisien korelasi alasan ingin tahu berita tokoh di surat kabar dengan terpenuhnya kebutuhan informasi tentang tokoh versi Kendall adalah 0.101, sedangkan menurut Spearman adalah 0.112.
r√ n – 2
t hitung = -------------------
√ 1 - r²
0.101 √ 267 - 2
t hitung Kendall = ______________
√ 1 – 0.101²


0.101 x 16.279
= ______________
√ 1 – 0.0102


1.644
= _________
√ 0.9898


1.644
= _______
0.995

= 1.656
0.112 √ 267 - 2
t hitung Spearman = ________________
√ 1 – 0.112²

0.101 x 16.279
= _______________
√ 1 – 0.0125

1.823
= _________
√ 0.988

1.823
= ______
0.994

= 1.838
t tabel (265 ; 0.05)
Keterangan:
t hitung Kendall = 1.656 > t tabel 1.645
t hitung Spierman = 1.838 > t tabel 1.645

Maka hipotesis diterima, ada hubungan antara variabel alasan ingin tahu kegiatan tokoh di surat kabar dengan terpenuhinya kebutuhan informasi tentang tokoh dari surat kabar.

7. Nilai koefisien korelasi antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh.

Hipotesis kedua variabel yakni adanya hubungan antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh. Untuk menguji hipotesis ini diuraikan sebagai berikut:

Tabel 4.33: Nilai koefisien korelasi antara lama waktu yang
dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh.
WAKTU YANG DIHABISKAN MEMBACA BERITA TOKOH PEMENUHAN INFORMASI TENTANG TOKOH OLEH SURAT KABAR
WAKTU YANG DIHABISKAN MEMBACA BERITA TOKOH
Pearson Correlation 1 .132
Sig. (2-tailed) . .031
N 267 267

PEMENUHAN INFORMASI TENTANG TOKOH OLEH SURAT KABAR

Pearson Correlation .132 1
Sig. (2-tailed) .031 .
N 267 267
Tingkat signifikan berada pada level 0.01

Nilai koefisien korelasi antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh menurut Pearson adalah 0.132.


r√ n – 2
t hitung = -------------------
√ 1 - r²

0.132 √ 267 - 2
T hitung Perason = ______________
√ 1 – 0.132²

0.132 x 16.279
= _____________
√ 1 – 0.174

2.14
= ________
0.9826

= 2.177

Keterangan
T hitung Pearson 2.177 > t tabel 1.645

Maka :
Hipotesis diterima, ada hubungan antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh.



E. Pembahasan Hasil Penelitian
Dari hasil uraian penelitian di atas, diketahui bahwa opini masyarakat terhadap citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 adalah baik. Hal ini dimungkinkan karena pemberitaan di surat kabar yang pada umumnya positif terhadap para bakal calon gubernur Sumatera Utara. Hanya sebanyak 4.1% responden menilai citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh dengan sangat tidak baik. Sedangkan sebanyak 2.6% menilai citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh dengan tidak baik. Sebanyak 38.6% responden menyatakan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh dengan biasa saja atau sedang. Jumlah responden yang menilai kesan itu baik adalah yang paling banyak yakni 40.4%. Sementara jumlah responden yang menyatakan citra yang dikesankan media massa sangat baik sebanyak 13.1%.
Dapat juga diuraikan bahwa lebih banyak masyarakat kota Medan yang membaca surat kabar sebagai sumber informasi, jika dibandingkan yang tidak membaca surat kabar (61.8% : 38.2%). Hal ini dimungkinkan masyarakat kota Medan adalah masyarakat perkotaan yang lebih mudah dalam mengakses informasi di banding masyarakat yang hidup di pedesaan. Namun tingkat membaca surat kabar masyarakat ini masih tergolong rendah, rata-rata 1-2 hari dalam satu minggu (Min 3.5581). Begitu juga dengan waktu yang digunakan dalam membaca surat kabar dalam satu hari, rata-rata masyarakat menghabiskan waktu kurang dari satu jam setiap hari (64.8%).
Sedangkan berita tokoh yang disajikan surat kabar juga sebanding dengan aktifitas membaca surat kabar yakni 1-2 hari dalam seminggu (31.8%). Jumlah yang membaca berita tokoh setiap hari ada sebanyak 12%, yang membaca 5-6 hari sebanyak 5.6%, yang membaca 3-4 hari sebanyak 13.9%. Meski jumlah yang paling banyak adalah yang tidak membaca berita tokoh yakni 35.2%, namun masih lebih banyak yang membaca berita tokoh. Hal ini sejalan dengan tingkat ketertarikan responden dalam membaca berita tokoh yakni sebesar 68.2%, dan yang menyatakan berita tokoh tidak menarik hanya 31.1%. Itu menunjukkan bahwa berita tokoh termasuk berita yang menarik untuk dibaca masyarakat karena isunya adalah merupakan masalah yang sedang hangat sekarang ini yakni proses untuk memilih secara langsung pemimpin Sumatera Utara periode mendatang.
Dalam skala sangat besar, besar, sedang, kecil, dan sangat kecil, para responden meilih ketertarikkannya membaca berita tokoh adalah sedang atau biasa saja (61.8%). Jumlah yang menyatakan ketertarikkannya besar membaca berita tokoh ada 11.2% dan sangat besar 7.1%. Jumlah ini sepertinya berbanding lurus dengan yang menyatakan ketertarikkannya kecil (6.7%) dan sangat kecil (13/1%). Ini menunjukkan meski berita tokoh dianggap menarik, namun tidak terlalu menarik. Jika dibandingkan dengan rubrik lain, rubrik berita tokoh termasuk jarang dibaca (31.3%). Namun yang menyatakan rubrik berita termasuk yang sedang dibaca dibanding rubrik lain sebanyak 30.3%.
Jumlah rata-rata masyarakat kota Medan membaca berita tokoh di surat kabar dalam satu hari sebanyak 1-2 berita (58.1%). Jumlah ini masih lebih banyak dibanding yang menyatakan tidak ada membaca berita tokoh (25.8%). Hal ini menguatkan bahwa berita tokoh adalah kategori berita yang menarik dibaca dalam skala yang sedang.
Pola atau kebiasaan masyarakat dalam membaca berita tokoh ini pada umumnya membaca judul dan sebagian isi berita (41.9%). Sedangkan yang membaca judul dan seluruh isi berita mencapai 24%. Yang membaca judulnya saja 22.8% dan yang membaca judul dan leadnya saja hanya 10.5%. Ini menunjukkan pola membaca surat kabar masyarakat kota Medan sudah baik. Atau bisa juga disimpulkan content berita tokoh dianggap menarik atau juga kemasan berita tokoh dianggap menarik. Meski demikian waktu yang digunakan masyarakat dalam membaca berita tokoh tidak terlalu lama, rata-rata kurang dari lima menit (36%), dan 5-10 menit (34.8%), 10-30 menit (13.1%) dan 30 menit sampai 1 jam (4.5%). Namun kategori rata-rata alokasi waktu membaca berita tokoh ini masih tergolong baik karena mengingat banyaknya rubrik lain yang tersedia di surat kabar yang merupakan pilihan bagi pembaca sebelum menentukan pilihannya membaca berita tokoh.
Kebiasaan membaca masyarakat membaca surat kabar dilakukan di rumah masing-masing (47.2%). Sedangkan yang biasa membaca di tempat umum sebanyak 39.3%. Sementara yang biasa membaca surat kabar di kantor (4.9%), dan yang biasa membaca di perpustakaan (3.4%). Ini menunjukkan bahwa jumlah pembaca surat kabar di kota Medan yang membeli sendiri (berlangganan) surat kabar hampir separuh dari yang membaca dengan tidak membeli sendiri. Ini dimungkinkan bagi yang membaca surat kabar di rumah adalah orang yang membeli sendiri surat kabar.
Bagi para pembaca ini, pada umumnya alasan mereka membaca berita tokoh di surat kabar adalah karena ingin mengetahui kegiatan para tokoh (35.6%). Sedangkan yang ingin mengetahui pernyataan para tokoh dalam berita sebanyak 21.3%. Ini menunjukkan kalau memang perhatian pembaca berita tokoh memang diarahkan kepada para tokoh tersebut. Kenyataan ini sejalan dengan alasan mereka ingin mengatahui apa saja kegiatan tokoh itu, adalah karena merasa penasaran akan apa saja yang dilakukan para tokoh (44.6%). Namun berbeda dengan alasan ingin mengetahui pernyataan para tokoh dalam berita adalah karena hanya ingin tahu saja merupakan jumlah yang paling besar (40.1%). Dan sebanyak 25.5% yang menilai pernyataan tersebut penting bagi pembangunan, jumlah yang beralasan ingin mencari figur yang ideal sebanyak 11.6% dan yang bermaksud membandingkan dengan tokoh favoritnya sebanyak 8.2%. Ini menunjukkan bahwa perhatian pembaca berita tokoh karena memang ada interest di belakangannya yang bisa merupakan wujud kepedulian terhadap masalah imamah di Sumatera Utara.
Para pembaca juga memiliki tingkat selektifitas dalam membaca berita tokoh. Pada umumnya masyarakat pembaca hanya membaca berita tokoh-tokoh tertentu saja (63.3%). Hanya 33.3% responden yang tidak memilih-milih dalam membaca berita tokoh. Mengingat banyaknya tokoh yang diproklamirkan atau meproklamirkan diri menjadi calon gubernur atau calon wakil gubernur telah menimbulkan selektifitas ini. Hal tersebut karena penilaian tentang keseriusan para calon tersebut dinilai tidak semuanya serius. Dari nama-nama yang diajukan, nama Abdillah termasuk tokoh yang paling sering dibaca beritanya di surat kabar (42.7%). Ali Umri merupakan tokoh yang juga sering dibaca beritanya di surat kabar (16.1%), disusul Rudolf M.Pardede dan Syamsul Arifin masing-masing (11.2%), Chairuman Harahap (6.4%), dan Herry W.Marzuki 2.2%. Beberapa nama tokoh lain yang dibaca sebanyak 7.1% responden saja.
Dari pemberitaan surat kabar tersebut, pada umumnya pencitraan yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh adalah pencitraan yang positif. Responden yang menilai pencitraan itu pada tingkat baik sebanyak 40.4%, dan yang menilai sedang 38.6% dan ada yang menilai sangat baik 13.1%. Hanya 4.1% yang menyatakan sangat tidak baik, dan 7% menyatakan tidak baik. Hal ini dimungkinkan karena pada umumnya hal-hal yang disampaikan dalam berita tokoh tersebut adalah hal-hal yang merupakan promosi diri para tokoh. Pemberitaan surat kabar yang sifatnya mendiskreditkan tokoh tertentu sangat sedikit atau kalaupun ada disajikan secara samar. Kondisi ini juga bisa berarti bahwa pers di kota Medan cenderung lebih dewasa dengan mengesampingkan berita-berita yang sifatnya menjelek-jelekkan orang lain. Namun bisa jadi juga karena berita-berita menyangkut black campaign tidak banyak beredar.
Menyangkut pemenuhan informasi tentang tokoh oleh surat kabar merupakan satu hal yang masih dinilai belum begitu besar. Sebanyak 52.1% menilai surat kabar belum memenuhi kebutuhan informasi tentang tokoh, dan sebanyak 46.8% yang menyatakan kebutuhan informasi tentang para tokoh tersebut sudah terpenuhi. Meski hasil ini bukanlah hasil yang ideal, tetapi peran media massa menyediakan 46.8% informasi tentang para tokoh merupakan suatu yang signifikan, karena media informasi alternatif untuk mensosialisasi para tokoh yang akan menjadi calon pemimpin di Sumatera Utara masih banyak yang bisa dijadikan pilihan seperti pamflet, brosur, buku dan lainnya.
Masyarakat kota Medan pada umumnya menilai tingkat pemenuhan informasi tentang para tokoh di surat kabar pada level sedang (46.1%). Hanya 13.1% yang menyatakan sangat kecil dan 11.6% menyatakan kecil. Sedangkan yang menyatakan tingkat pemenuhan informasi itu besar 14.6%, dan sangat besar 4.9%. Hal ini sejalan dengan pengenalan masyarakat tentang para tokoh yang menjadi lebih baik (83.9%) dengan berita tokoh di surat kabar. Sedangkan yang menyatakan tingkat pengenalannya tidak lebih baik sebanyak 16.1%. Senada dengan itu tingkat pengenalan masyarakat tentang para tokoh juga jadi lebih baik. Pada level lebih baik yang sedang ada 55.8% responden, pada level baik 27.7% dan sangat baik 9%. Sedangkan yang menyatakan sangat tidak baik 1.5%, dan level tidak baik 3.7%. Hasil ini menyimpulkan bahwa peran media masa sebagai sumber informasi dalam berita tokoh yang bakal menjadi calon Gubernur Sumatera Utara masih cukup signifikan, khususnya bagi masyarakat perkotaan seperti di kota Medan yang notabene adalah ibukota provinsi Sumatera Utara.
Dari nama-nama yang dimunculkan, pada umumnya masyarakat kota Medan mengenal nama-nama tersebut dibanding yang tidak mengenalnya. Nama Abdillah dikenal 59.9% dan tidak dikenal 12.7%, Ali Umri dikenal 36% dan tidak dikenal 17.2%, nama Chairuman dikenal 12.4% dan tidak dikenal 28.8%, nama Herry W.Marzuki dikenal 7.9% dan tidak dikenal 30.7%, nama Rudolf M.Pardede dikenal 36.3% dan tidak dikenal 12.4%, nama Syamsul Arifin dikenal 28.1% dan tidak dikenal 18.4%. Hasil ini mendukung data tentang peran surat kabar memperkenalkan dan memberikan informasi tentang para tokoh kepada masyarakat.
Ada pengaruh signifikan dari berita tokoh di surat kabar terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon gubernur Sumatera Utara. Opini masyarakat ini dipengaruhi oleh tingkat pengenalan dan tingkat pemenuhan informasi yang diperoleh masyarakat. Sedangkan tingkat pengenalan ini dipengaruhi oleh tingkat ketertarikan dan tingkat membaca surat kabar. Tingkat pengenalan masyarakat terhadap para tokoh ini mempengaruhi penilaiannya terhadap para tokoh. Ada hubungan antara tingkat pengenalan ini dengan penilaian tersebut. Abdillah yang paling dikenal oleh masyarakat dinilai sebagai tokoh yang paling pantas disebut tokoh merakyat (41.9%), paling mampu membangun Sumatera Utara (39%), berpenampilan paling menarik (33%), tokoh pemersatu (34.1%), tokoh nasional-religius (33.7%). Herry W.Marzuki yang kurang dikenal masyarakat juga mempengaruhi penilaian tentang dirinya. Hanya 3.4% responden menyatakan Herry sebagai tokoh yang paling pantas disebut merakyat, dan 3% menyebutnya sebagai tokoh yang mampu membangun Sumatera Utara, 2.2% menilainya memiliki penampilan menarik, 3.7% menilainya sebagai tokoh pemersatu, dan hanya 4.5% yang menilainya sebagai tokoh nasionalis-religius. Hal ini berarti semakin besar tingkat pengenalan masyarakat tentang para tokoh maka akan semakin besar mempengaruhi penilaiannya tentang para tokoh tersebut.
Dari pengujian hipotesis juga ditemukan bahwa tingkat pengenalan ini dipengaruhi oleh tingkat ketertarikan membaca berita tokoh di surat kabar dan frekuensi membaca berita tokoh. Ada hubungan di antara variable-variabel tersebut. Sementara waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh juga memiliki hubungan dengan tingkat pemenuhan informasi para tokoh.
Penilaian tentang citra yang baik (tokoh paling merakyat dan tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara) dengan tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar. Dari tujuh uji korelasi yang dilakukan, enam di antaranya diterima sehingga adanya hubungan antara variabel-variabel tersebut. Berikut ini diuraikan kesimpulan dari hasil uji hipotesis yang dilakukan:

1. t hitung Kendall = 2.705 > t tabel 1.645
t hitung Spearman = 3.070 > t tabel 1.645
Hasil ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel tingkat ketertarikan responden membaca berita tentang tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. Maka dengan demikian hipotesis diterima.

2. t hitung Kendall = 1.656 > t tabel 1.645
t hitung Spearman = 1.838 > t tabel 1.645
Hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara variabel frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. Maka dengan demikian hipotesis diterima.

3. t hitung Kendall dan Spearman= - 0.1139 < t tabel 1.645 Hasil ini menunjukkan tidak ada hubungan antara variabel antara tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh. Dengan demikian maka hipotesis ditolak. 4. t hitung Kendall = 6.338 > t tabel 1.645
t hitung Spearman = 7.018 > t tabel 1.645
Hasil ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara variabel berita tokoh yang sering dibaca dengan penilaian tokoh yang paling merakyat. Dengan demikian maka hipotesis diterima.

5. t hitung Kendall = 5.495 > t tabel 1.645
t hitung Spearman = 6.1979 > t tabel 1.645
Hasil ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara variabel berita tokoh yang sering dibaca dengan penilaian tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara. Dengan demikian maka hipotesis diterima.



6. t hitung Kendall = 1.656 > t tabel 1.645
t hitung Spierman = 1.838 > t tabel 1.645
Hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara variabel alasan ingin tahu kegiatan tokoh di surat kabar dengan terpenuhinya kebutuhan informasi tentang tokoh dari surat kabar. Dengan demikian mak hipotesis diterima.

7. t hitung Pearson 2.177 > t tabel 1.645
Hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh. Dengan demikian maka hipotesis diterima.
















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas yang merupakan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Surat kabar mengesankan para tokoh dengan citra yang baik sesuai dengan pernyataan dan kegiatan-kegiatan yang baik yang dimuat surat kabar.

2. Opini masyarakat tentang citra para tokoh dipengaruhi tingkat ketertarikannya membaca berita tokoh di surat kabar.

3. Masyarakat kota Medan pada umumnya tertarik untuk membaca berita tokoh di surat kabar. Rata-rata membaca berita tokoh 1-2 berita setiap hari dengan pola atau kebiasaan membaca berita tokoh dengan membaca judul dan sebagian isi berita.

4. Tingkat membaca berita tokoh di surat kabar dilandasi alasan yang serius karena pada masyarakat kota Medan membaca berita tokoh karena ingin tahu kegiatan para tokoh dan ingin mengetahui pernyataan yang dikeluarkan para tokoh dalam berita.

5. Masyarakat memiliki tingkat selektifitas dalam membaca berita tokoh. Tidak semua berita tokoh yang dibaca, hanya tokoh tertentu yang memiliki konsistensi dalam penampilannya di surat kabar. Masyarakat pembaca di kota Medan menyaring sendiri orang-orang yang benar-benar serius dalam pencalonan dibandingkan orang yang hanya melemparkan isu saja.

6. Citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh adalah positif. Hal ini karena pada umumnya content pemberitaan surat kabar tentang para tokoh adalah hal-hal yang bersifat promosi para tokoh. Citra yang baik ini jugamendorong popularitas para tokoh di mata masyarakat.

7. Tingkat pemenuhan informasi tentang para tokoh yang disajikan oleh surat kabar belum seratus persen memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Untuk melengkapi kebutuhan informasi tentang para tokoh harus didirong dengan penyebaran media komunikasi massa lainnya seperti brosur, buku-buku, spanduk dan sebagainya.

8. Meski kurang memenuhi kebutuhan informasi masyarakat tentang tokoh namun tingkat pengenalan masyarakat tentang para tokoh jadi lebih baik akibat pemberitaan di surat kabar. Hal ini memiliki benang merah bagi penilaian masyarakat tentang tokoh. Semakin masyarakat mengenal tokoh tertentu maka semakin baik penilaiannya terhadap tokoh tersebut. Tingkat pengenalan yang baik terhadap Abdilah, Ali Umri berkorelasi dengan penilaian masyarakat tentang tokoh-tokoh tersebut. Sebaliknya tingkat pengenalan yang rendah terhadap sosok Herry W.Marzuki berkorelasi dengan penilaian terhadap tokoh ini sehinga tidak banyak masyarakat yang menilainya dengan berkonotasi yang baik.

9. Berita surat kabar berpengaruh secara signifikan terhadap opini masyarakat tentang citra bakal calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. Dari tujuh pengujian hipotesis yang dilakukan tentang pengaruh surat kabar terhadap opini masyarakat ini, enam di antaranya dapat diterima, dan satu ditolak, yakni:
• Adanya hubungan yang signifikan antara variabel tingkat ketertarikan responden membaca berita tentang tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh. (t hitung Kendall = 2.705, t hitung Spearman = 3.070).
• Adanya hubungan signifikan antara variabel frekuensi membaca berita tokoh dengan tingkat pengenalan terhadap para tokoh (t hitung Kendall = 1.656, t hitung Spearman = 1.838).
• Tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel tokoh yang paling sering dibaca di surat kabar dengan citra yang dikesankan surat kabar tentang para tokoh (t hitung Kendall dan Spearman = - 0.1139).
• Adanya hubungan yang sangat signifikan antara variabel berita tokoh yang sering dibaca dengan penilaian sebagai tokoh yang paling merakyat (t hitung Kendall = 6.338, t hitung Spearman = 7.018).
• Adanya hubungan yang sangat signifikan antara variabel berita tokoh yang sering dibaca dengan penilaian sebagai tokoh yang paling mampu membangun Sumatera Utara (t hitung Kendall = 5.495, t hitung Spearman = 6.1979).
• Adanya hubungan yang signifikan antara variabel alasan ingin tahu kegiatan tokoh di surat kabar dengan terpenuhinya kebutuhan informasi tentang tokoh dari surat kabar (t hitung Kendall = 1.656, t hitung Spearman = 1.838).
• Adanya hubungan yang signifikan antara lama waktu yang dihabiskan untuk membaca berita tokoh dengan pemenuhan informasi tentang tokoh (t hitung Pearson = 2.177).

B. Saran-saran
1. Kepada pihak pengelola surat kabar terbitan kota Medan disarankan untuk lebih intensif memberikan informasi kepada masyarakat menyangkut para tokoh yang bakal menjadi calon Gubernur Sumatera Utara. Hal ini karena masyarakat ternyata belum sepenuhnya mendapatkan informasi dari surat kabar. Selain bentuk pemberitaan yang lebih informatif surat kabar juga hendaknya menyajikan berita yang bersifat simbang di antara tokoh-tokoh tersebut agar tidak terjadi kesenjangan arus informasi. Karena arus informasi tentang tokoh tersebut akan mempengaruhi tingkat pengenalan masyarakat akan para tokoh dan tingkat pengenalan tersebut mempengaruhi penilaian yang positif terhadap para tokoh tersebut.

2. Kepada masyarakat pemilih disarankan agar memiliki informasi dari sumber yang memilki validitas yang tinggi dan seimbang dalam mengkonsumsi informasi yang berasal dari berbagai sumber yang relevan sebelum memberikan penilaian yang objektif kepada para tokoh tentang kapasitas dan segala sesuatu tentang para tokoh. Karena semakin banyak sumber informasi, maka masyarakat akan semakin kaya memiliki latar belakang sebelum memutuskan pilihannya dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara tahun 2008.

3. Kepada para calon yang akan berlagai disarankan untuk tidak hanya berlomba mencitrakan diri sebagai orang yang merakyat, paling mampu membangun Sumatera Utara, berpenampilan dan layak jadi pemimpin, tokoh pemersatu atau orang yang nasionalis-religius, tapi lebih dari itu berupaya membentuk diri seperti upaya mencitrakan diri.

DAFTAR PUSTAKA


Badan Pusat Statistik kota Medan, 2004

Budijanto, Didik dan Wijiartini, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Hubungan Seks di Luar Nikah para ABK di Komunitas Pelabuhan, Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan, Depkes RI, 2001.

Champion, D.I, Basic Statistic for Social Research, New York: Macmillan
Publishing Co.,Inc., 1981.

Effendy , Onong Uchjana, Dinamika Komunikasi, Bandung:
PT.Remaja Rosdakarya, 1992.

Elton, Lydia, Jurnal Ilmiah SCRIPTURA ISSN1978-385X Vol.1 No.2,
Surabaya Juli 2007.

Fisher, B.Aubrey, Teori-teori Komunikasi, Bandung: PT.Remaja
Rosdakarya, 1990.

Gee, W, (Ed.), Research in Social Sciences: Its Fundamental Methods and
Objectives, New York: The Macmillian Co, 1929.

Hennessy, Bernard, Pendapat Umum, ed.4, Jakarta: Erlangga, 1989.

Hillway,T, Introduction to Research, Boston: Houghton Miffin Co, 1956.

J.A.Denny, Jajak Pendapat Dan Pemilu di Indonesia, Kinerja Lembaga
Jajak Pendapat dalam Meramal Hasil Pemilu 1999 dan 2004, Jakarta: Lembaga Survei Indonesia, 2004.

Kamisa, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya, Kartika, 1997.

Kholil, Syukur, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung, Ciptapustaka
Media, 2006.


____________, “Komunikasi dalam Perspektif Islam”, dalam Hasan
Asari & Amroeni Drajat (Ed), Antologi Kajian Islam, Bandung: Citapustakan Media, 2004.

Lembaga Studi Analisis Sosial (LSAS), Rangkuman Hasil Penelitian
Volume I Tahun 2006.

Lippmann, Walter, Opini Umum, terj. S.Maimoen, Jakarta, Yayasan
Obor Indonesia, 1994.

Lubis, M.Ridwan, “Signifikansi Media Massa Dalam Mendorong
Keberagamaan Sebagai Faktor Harmonisasi Dunia,” makalah
seminar nasional Agama, Media Massa, Dan Harmonisasi Dunia, Medan, 10 Januari 2004.

Lubis, Suwardi, Metode Penarikan Sampel, Medan: Universitas
Sumatera Utara Press, 2002.

Matta, Anis, Menikmati Demokrasi, Strategi Dakwah Meraih
Kemenangan, Jakarta: Penerbit Pustaka Saksi, 2002.

Munawwar, Said Agil Husin, MA, Abdul Mustaqim, MAg, Asbabul
Wurud, Studi Kritis Hadis Nabi Pendekatan Sosio-Historis-Kontekstual,Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.

Nashrillah, Jurnal Penelitian Medan Agama, No.1/thn.2002.

Nazir, Moh, Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988.

Nursal , Adman, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu,
Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Rakhmat, Jalaluddin, Metode Penelitian Komunikasi, cet. Ke-4,
Bandung, Remaja Rosdakarya, 1995.

Rivers, William L et. al.,Media Massa dan Masyarakat Modern, Edisi
Kedua, terj. Haris Munandar dan Dudy Priatna, Jakarta: Prenada Media, 2003.
Sendjaja S.Djuarsa, Teori Komunikasi, Jakarta: Universitas Terbuka,
1994.

Singarimbun, Masri, Metode Penelitian Survai, Jakarta: LP3ES, 1989.

Trihendardi, Cornelius, Memecahkan Kasus-kasus Statistik: Deskriptif,
Parametrik, dan Non-Parametrik dengan SPSS 12, Yogyakarta: ANDI, 2004.

Ostle,B, Statistics in Research, 3rd ed, Iowa: The Iowa State College
Press, 1975.

Prasetyo, Bambang, Jannah, Lina Miftahul, Metode Penelitian Kuantitatif;
Teori Dan Aplikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.

Purwanto, Erwan Agus, Sulistyastuti, Dyah Ratih, Metode Penelitian
Kuantitatif; Untuk Administrasi Publik Dan Masalah-masalah Sosial, Yogyakarta: Gava Media, 2007.

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>