Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 29 April 2011

Analisis Data Penelitian Deskriptif

/ On : 13.24/ Thank you for visiting my small blog here.
Analisis Data Penelitian Deskriptif
Oleh : Amri

A. Pendahuluan
Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya. Penelitian ini juga sering disebut noneksperimen, karena pada penelitian ini peneliti tidak melakukan kontrol dan memanipulasi variabel penelitian. Dengan ametode deskriptif, peneliti memungkinkan untuk melakukan hubungan antarvariabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki validitas yang universal. Disamping itu, penelitian deskriptif juga merupakan penelitian, di mana pengumpulan data untuk mengetes pertanyaan penelitian atau hipotesis yang berkaitan dengan keadaan dan kejadian sekarang. Mereka melapor keadaan objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa adanya.
Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat. Dalam perkembangan akhir-akhir ini, metode penelitian deskriptif juga banyak dilakukan oleh para peneliti karena dua alasan. Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian dilakukan dalam bentuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia.
Di samping kedua alasan seperti tersebut diatas, penelitian deskriptif pada umumnya menarik para peneliti muda, karena bentuknya yang sederhana dan mudah dipahami dengan tanpa memerlukan teknik statistika yang kompleks. Walaupun sebenarnya tidak demikian kenyataannya, karena penelitian ini sebenarnya juga dapat ditampilkan dalam bentuk yang lebih kompleks, misalnya dalam penelitian penggambaran secara faktual tentang perkembangan sekolah, kelompok anak, maupun perkembangan individual. Penelitian deskriptif juga dapat dikembangkan ke arah penelitian naturalistik yang menggunakan kasus yang spesifik melalui deskriptif mendalam atau dengan penelitian setting, alami dengan pendekatan fenomenologis dan dilaporkan secara thick descrition (deskripsi mendalam) atau dalam penelitian ex-postfacto dengan hubungan antarvariabel yang lebih kompleks.
Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi variabel dan tidak menetapkan peristiwa yang akan terjadi, dan biasanya menyangkut peristiwa-peristiwa yang saat sekarang terjadi. Dengan penelitian deskriptif ini, peneliti memungkinkan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan hubungan variabel atau asosiasi, dan juga mencari hubungan komparasi antarvariabel.
Penelitian deskriptif mempunyai keunikan seperti berikut :
1. Penelitian deskriptif menggunakan kuesioner dan wawancara, seringkali memperoleh responden yang sangat sedikit, akibatnya bias dalam membuat kesimpulan.
2. Penelitian deskriptif yang menggunakan observasi, kadangkala dalam pengumpulan data tidak memperoleh data yang memadai. Untuk itu diperlukan para observer yang terlatih dalam observasi, dan jika perlu membuat check list lebih dahulu tentang objek yang perlu dilihat, sehingga peneliti memperoleh data yang diinginkan secara objektif dan reliabel.
3. Penelitian deskriptif juga memerlukan permasalahan yang harus diidentifikasi dan dirumuskan secara jelas, agar di lapangan, peneliti tidak mengalami kesulitan dalam menjaring data yang diperlukan.
Pada umumnya penelitian deskriptif merupakan penelitian non hipotesis, sehingga dalam langkah penelitiannya tidak perlu merumuskan hipotesis. Sehubungan dengan penelitian deskriptif ini, Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa penelitian deskriptif sering dibedakan atas dua jenis penelitian menurut proses sifat dan analisa datanya yaitu :
- Riset deskriptif yang bersifat eksploratif bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena. Dalam hal ini peneliti hanya ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan keadaan sesuatu, misalnya survey yang diadakan oleh pemerintah untuk mengetahui kemungkinan didirikannya sebuah Taman kanak-kanan di suatu daerah. Setelah peneliti mengetahui keadaan dan mengumpulkan data-data yang relevan dengan problematikanya, lalu diklasifikasikan menjadi 2 kelompok data yaitu : data Kualitatif yaitu digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan dan data kuantitatif yaitu yang berwujud angka-angka hasil perhitungan atau pengukuran.
- Riset deskriptif yang bersifat developmental yaitu pengujian datanya dibandingkan dengan suatu criteria atau standar yang sudah ditetapkan lebih dahulu pada waktu penyusunan desain penelitian.
Untuk mengenal lebih lanjut tentang analisis penelitian deskriptif ini, maka penulis berupaya memaparkan tentang teknik analisis deskriptif kuantitatif dan teknik analisis deskriptif kualitatif serta teknik statistic deskriptif.
B. Langkah Dalam Melaksanakan Penelitian Deskriptif.
Penelitian dengan metode deskriptif mempunyai langkah penting seperti berikut :
1. Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode deskriptif.
2. Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas.
3. Menentukan tujuan dan manfaat penelitian.
4. Melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan.
5. Menentukan kerangka berpikir, dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis penelitian.
6. Mendesain metode penelitian yang hendak digunakan termasuk dalam hal ini menentukan populasi, sampel, teknik sampling, menentukan instrumen pengumpul data, dan menganalisis data.
7. Mengumpulkan, mengorganisasi, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik statistika yang relevan.
8. Membuat laporan penelitian.
C. Macam-macam Penelitian Deskriptif
Dari aspek bagaimana proses pengumpulan data dilakukan, macam-macam penelitian deskriptif minimal dapat dibedakan menjaddi tiga macam, yaitu laporan diri atau self-report, studi perkembangan, studi kelanjutan (follow-up study) dan studi sosio metrik.
1. Penelitian Laporan Diri (Self-Report Research)
Dalam penelitian self-report ini peneliti dianjurkan menggunakan teknik observasi secara langsung, yaitu individu yang diteliti dikunjungi dan dilihat kegiatannya dalam situasi yang alami. Tujuan observasi langsung adalah untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Dalam penelitian self-report, peneliti juga dianjurkan menggunakan alat bantu lain untuk memperoleh data, termasuk misalnya dengan menggunakan perlengkapan lain seperti catatan, kamera dan rekaman. Alat-alat tersebut digunakan terutama untuk memaksimalkan ketika mereka harus menjaring data dari lapangan.
Yang perlu diperhatikan oleh para peneliti yang dengan model self-report adalah bahwa dalam menggunakan metode observasi dan melakukan wawancara, para peneliti harus dapat menggunakan secara simultan untuk memperoleh data yang maksimal. Salah satu contoh penelitian menggunakan self-report dapat dilihat dalam laporan tentang studi kelembagaan dan sistem pembiayaan usaha kecil dan menengah.
2. Studi Perkembangan (Developmental Study)
Studi perkembangan atau developmental study banyak dilakukan oleh peneliti di bidang pendidikan atau bidang psikologi yang berkaitan dengan tingkah laku. Sasaran penelitian perkembangan pada umumnya menyangkut variabel tingkah laku secara individual maupun dalam kelompok. Dalam penelitian perkembangan tersebut peneliti tertarik dengan variabel yang utamanjya membedakan antara tingkat umur, pertumbuhan atau kedewasaan subjek yang diteliti.
Studi perkembangan biasanya dilakukan dalam periode longitudinal dengan waktu tertentu, bertujuan guna menemukan perkembangan dimensi yang terjadi pada seorang responden. Dimensi yang sering menjadi perhatian peneliti ini, misalnya : intelektual, fisik, emosi, reaksi terhadap perlakuan tertentu, dan perkembangan sosial anak. Studi perkembangan ini bisa dilakukan baik secara cross-sectional atau longitudinal.
Jika penelitian dilakukan dengan model cross-sectional, peneliti pada waktu yang sama dan simultan menggunakan berbagai tingkatan variabel untuk diselidiki. Data yang diperoleh dari masing-masing tingkat dapat dideskripsi dan kemudian dikompatrasi atau dicari tingkat asosiasinya. Dalam penelitian perkembangan model longitudinal, peneliti menggunakan responden sebagai sampel tertentu, misalnya : satu kelas dalam satu sekolah, kemudian dicermati secara intensif perkembangannya secara kontinue dalam jangka waktu tertentu seperti 3 bulan, 6 bulan,atau 1 tahun. Semua fenomena yang muncul didokumentasi untuk digunakan sebagai informasi dalam menganalisis guna mencapai hasil penelitian.
3. Studi Kelanjutan (Follow-up Study)
Studi kelanjutan dilakukan oleh peneliti untuk menentukan status responden setelah beberapa periode waktu tertentu memperoleh perlakuan, misalnya program pendidikan. Studi kelanjutan ini dilakukan untuk melakukan evaluasi internal maupun evaluasi eksternal, setelah subjek atau responden menerima program di suatu lembaga pendidikan.sebagai contohnya, Badan Akreditasi Nasional menganjurkan adanya informasi tingkat serapan alumni dalam memasuki dunia kerja, setelah mereka selesai program pendidikannya.
Dalam penelitian studi kelanjutan biasanya peneliti mengenal istilah antara output dan outcome. Output (keluaran) berkaitan dengan informasi hasil akhir setelah suatu program yang diberikan kepada subjek sasaran diselesaikan. Sedangkan yang dimaksud dengan data yang diambil dari outcome (hasil) biasanya menyangkut pengaruh suatu perlakuan, misalnya program pendidikan kepada subjek yang diteliti setelah mereka kembali ke tempat asal yaitu masyarakat.
4. Studi Sosiometrik (Sociomtric Study)
Yang dimaksud dengan sosiometrik adalah analisi hubungan antarpribadi dalam suatu kelompok individu. Melalui analisis pilihan individu atas dasar idola atau penolakan seseorang terhadap orang lain dalam satu kelompok dapat ditentukan.
Prinsip teori studi sosiometrik pada dasarnya adalah menanyakan pada masing-masing anggota kelompok yang diteliti untuk menentukan dengan siapa dia paling suka, untuk bekerja sama dalam kegiatan kelompok. Pada kasus ini, dia dapat memperoleh jawaban yang bervariasi. Dengan menggunakan gambar sosiogram, posisi seseorang akan dapat diterangkan kedudukannya dalam kelompok organisasi.
Dalam sosiogram tersebut pada umumnya digunakan beberapa batasan istilah yang dapat menunjukkan posisi individu dalam kelompoknya. Beberapa istilah tersebut seperti misalnya :
- “bintang” diberikan kepada mereka yang paling banyak dipilih oleh para anggotanya,
- “terisolasi” diberikan kepada mereka yang tidak banyak dipilih oleh para anggota dalam kelompok,
- “klik” diberikan kepada kelompok kecil anggota yang saling memilih masing orang dalam kelompoknya.
Di bidang pendidikan, sosiometrik telah banyak digunakan untuk menentukan hubungan variabel status seseorang misalnya pemimpin formal, pemimpin dalam lembaga pendidikan atau posisi seseorang dalam kelompoknya dengan variabel lain dalam kegiatan pendidikan.
D. Teknik-teknik Analisis Deskriptif
Analisis data pada riset kuantitatif berbeda dengan riset kualitatif. Perbedaan ini salah satunya disebabkan pada jenis datanya. Karena data riset kuantitatif berbentuk angka-angka, maka analisis datanya berupa penghitungan melalui uji statistik. Sedangkan data pada riset kualitatif tidak menggunakan uji statistik karena datanya berupa data kualitatif yaitu kata-kata atau kalimat-kalimat, gambar-gambar dan bukan angka-angka. Adapun pembahasan lebih terperinci sebagaimana tertera dibawah ini :
a. Teknik Analisis Deskriptif Kuantitatif
Jenis-jenis Analisis Data.
Pada riset kuantitatif, dikenal beberapa jenis analisis. Perbedaan ini tergantung pada banyaknya variabel yang akan dianalisa.
1. Analisis Univariat
Analisis univariat adalah analisis terhadap satu variabel. Jenis analisis ini dilakukan untuk riset deskriptif, dan menggunakan statistik deskriptif. Hasil penghitungan statistik deskriptif ini nantinya merupakan dasar bagi penghitungan analisis berikutnya, misalnya untuk menghitung hubungan antarvariabel.
2. Analisis Bivariat
Analisis yang dilakukan untuk melihat hubungan dua variabel. Kedua variabel tersebut merupakan variabel pokok, yaitu variabel pengaruh (bebas) dan variabel terpengaruh (takbebas). Hubungan antarvariabel ini mempunyai beberapa kemungkinan :
- Simetris
Ada hubungan tetapi sifat hubungan adalah simetris, yaitu tidak saling mempengaruhi. Perubahan pada variabel satu tidak disebabkan oleh variabel lainnya. Misalnya pilihan acara televisi tidak disebabkan oleh kepemilikan pesawat televisi.
- Dua variabel mempunyai hubungan dan saling mempengaruhi (timbal balik).
- Asimetris
Sebuah variabel memengaruhi hubungan variabel yang lain atau sebuah variabel berubah disebabkan variabel yang lain.
3. Analisis Multivariat
Sama dengan analisis bivariat, hanya pada analisis multivariat jumlah variabelnya lebih pokok, hanya variabel bebasnya terdiri dari sub-subvariabel.
Teknik analisis data harus dapat dipahami oleh setiap peneliti, bukan hanya penanggungjawabnya saja, tetapi juga orang-orang lain terutama yang terlibat didalam proses analisis data. Beberapa keuntungan bagi peneliti jika sudah memahami proses analisis data adalah :
1. Petugas yang terlibat analisis sudah dapat menyiapkan alat Bantu atau instrument analisis seperti : tabel, lembar pengkodean (coding sheet), kertas gambar/kalkir, kertas millimeter (untuk membuat grafik), alat-alat tulis lain yang relevan.
2. Pengumpulan data dapat membantu engumpulkan informasi yang diperlukan.
3. Di dalam perjalanan penelitian masih mungkin saja peneliti tertumbu pada sesuatu masalah yang tidak atau belum terfikirkan sebelumnya.
Jika peneliti telah menetapkan teknik menganalisis data, maka selanjutnya dapat dilakukan analisis dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Salah satu contohnya adalah pengamatan yang dilakukan oleh seorang peneliti di terminal bus atau stasiun dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan ingin dicari jawabannya oleh peneliti antara lain :
a. Pertanyaan pertama : Apakah anak-anak kecil itu sekolah ?
Untuk menjawab pertanyaan ini peneliti tidak cukuphanya bertanya kepada satu atau dua orang saja tetapi harus membuat instrument angket untuk dibagikan kepada mereka atau kedua orang tuanya. Pengumpulan data dapat juga dilakukan melalui wawancara. Jika langkah ini diambil maka peneliti harus menyusun pedoman wawancara atau daftar cocok agar pengumpulan datanya terarah.
b. Pertanyaan kedua : Jika tidak sekolah apa sebabnya, dan bagaimanakah harapan tentang masa depan mereka ?
c. Pertanyaan ketiga : jika mereka ini sekolah, lalu kapankah mereka ini belajar, atau bagaimana mereka membagi waktu ?
Kedua pertanyaan ini dijawab dengan data yang harus dikumpulkan dengan angket atau wawancara. Dari angket yang terkumpul, peneliti dapat menghitung jumlah responden yang dapat terjaring kemudian jawabannya dapat diklasifikasikan, sehingga informasinya dapat terinci. Bagaimana menganalisis jawaban tinggal disesuaikan dengan pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.
Manfaat dari informasi yang dihasilkan antara lain :
1. Untuk diberikan kepada pengurus pedesaaan sebagai bahan pembinaan terhadap penduduknya.
2. Untuk bahan pertimbangan bagi badan-badan sosial yang mempunyai program mengenai anak asuh.
3. Untuk para ahli pendidikan khususnya pengembangan kurikulum agar tertantang mencari alternative penyampaian pelajaran secara inovatif sehingga siswa-siswanya tidak perlu harus belajar dalam waktu yang terjadwal ketat, misalnya belajar menggunakan modul.
Jelaslah bahwa teknik analisis deskriptif kuantitatif merupakan teknik menganalisis data yang diperoleh melalui angket atau wawancara dari beberapa responden yangterjaring dalam suatu pengamatan kemudian dikumpulkan datanya dan diklasifikasikan.
b. Teknik Analisis Deskriptif Kualitatif
Analisis data kualitatif digunakan bila data-data yang terkumpul dalam riset adalah data kualitatif. Data kualitatif dapat berupa kata-kata, kalimat-kalimat atau narasi-narasi, baik yang diperoleh dari wawancara mendalam maupun observasi. Contohnya, “banyak mahasiswa yang naik sepeda motor ke kampus”; “sebagian beasr ibu-ibu di Surabaya sangat sering menonton acara sinetron di malam hari”. Tahap analisis data memegang peran penting dalam riset kualitatif, yaitu sebagai faktor utama penilaian kualitas tidaknya riset. Artinya, kemampuan periset memberi makna kepada data merupakan kunci apakah data yang diperolehnya memenuhi unsur reliabilitas dan validitas atau tidak. Ingat reliabilitas dan validitas data kualitatif terletak pada diri periset sebagai instrumen riset.
Riset kualitatif adalah riset yang menggunakan cara berpikir induktif, yaitu cara berpikir yang berangkat dari hal-hal yang khusus (fakta empiris) menuju hal-hal yang umum (tataran konsep).
Analisis deskriptif kualitatif adalah pemberian predikat kepada variable yang diteliti sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Predikat yang diberikan tersebut dalam bentuk peringkat yang sebanding dengan atau atas dasar kondidi yang diinginkan. Agar pemberian predikat dapat tepat, maka sebelum dilakukan pemberian predikat, dilakukan kondisi tersebut diukur dengan persentase, baru kemudian ditransfer ke predikat.
Analisis data yang menggunakan teknik deskriptif kualitatif memanfaatkan persentase hanya merupakan langkah awal saja dari keseluruhan proses analisis. Persentase yang dinyatakan dalam bilangan sudah jelas merupakan ukuran yang bersifat kuantitatif, bukan kualitatif. Jadi pernyataan persentase bukan merupakan hasil analisis kualitatif. Analisis kualitatif tetu harus dinyatakan dalam sebuah predikat yang menunjukkan pada pernnyataan keadaan, ukuran kualitas. Oleh karena itu hasil penilaian yang berupa bilangan tersebut harus diubah menjadi sebuah predikat misalnya : “Baik Sekali”, “Cukup”, “Kurang Baik” dan “Tidak Baik” (lima tingkatan).
Seperti contoh tolok ukur untuk rumusan TIK. SebuahTIK dikatakan jika (tolok ukur) :
a. Berpusat pada siswa
b. Khusus (dirumuskan mengukur satu aspek saja)
c. Dapat diukur (keberhasilannya dapat diamati)
d. Ada kondisi demonstrasi (ada kesempatan menampilkan)
Agar hasil penilaian akhir berupa pernyataan kualitatif, maka besarnya persentase dijadikan dasar bagi penentuan predikat. Dengan demikian maka :
a. Jika TIK dirumuskan oleh guru memenuhi keempat tolok ukur maka pertama-tama peneliti memberi angka kesesuaian 100 %, kemudian diganti dengan : TIK “Baik Sekali”.
b. Jika TIK dirumuskan oleh memenuhi tiga butir tolok ukur maka diberi tingkatan kesesuaian 75 %, kemudian diganti dengan predikat : TIK yang dirumuskan “Baik”.
c. Jika TIK dirumuskan oleh guru memenuhi dua butir tolok ukur maka mempunyai tingkat kesesuaian 50 %, kemudian diganti dengan predikat : TIK yang dirumuskan “Cukup”.
d. Jika TIK dirumuskan oleh guru memenuhi hanya satu butir tolok ukur saja maka diberi tingkatan kesesuaian 25 %, kemudian diganti dengan predikat : TIK yang dirumuskan “Kurang Baik”.
e. Jika TIK dirumuskan oleh guru sama sekali tidak memenuhi tolok ukur maka diberi tingkatan kesesuaian 0 %, kemudian diganti dengan predikat : TIK yang dirumuskan “Tidak Baik”.
Jadi teknik analisis deskriptif kualitatif adalah teknik manganalisis data yang dinyatakan dalam sebuah predikat yang menunjukkan pada pernyataan keadaan, ukuran kualitas.

c.Teknik Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan peristiwa, perilaku atau objek tertentu lainnya. Beberapa jenis teknik yang termasuk kategori statistik deskriptif yang sering digunakan antara lain : Distribusi Frekwensi, Tendensi Sentral, dan Standar Diviasi.
Ditinjau dari arti katanya statistic deskriptif merupakan statistic yang bertugas untuk mendeskripsikan atau memaparkan gejala hasil penelitian. Statistik deskriptif sifatnya sangat sederhana dalam arti tidak menghitung dan tidak pula menggeneralisasikan hasil penelitian.
Analisis data dengan statistik deskriptif dapat ditentukan dengan tepat oleh peneliti jika diketahui terlebih dahulu klasifikasi atau jenis data yang akan diolah. Diantara jenis-jenis data itu antara lain :
1. Data Diskrit (data nominal) yaitu : data yang hanya dapat dikelompokkan secara terpisah menjadi dua atau beberapa kelompok yang tidak ada hubungannya disebut data pilah, kategori contohnya :
a. Data yang dapat dipisahkan menjadi dua kategori : “ya” dan “tidak” saja Misalnya : laki-laki dan wanita. Laki-laki adalah ya laki-laki dan wanita adalah tidak laki-laki.
b. Data yang dapat dipisahkan menjadi beberapa kategori dan antara ketegori yang satu dengan kategori yang lain tidak merupakan kelanjutan. Jika seseorang atau sesuatu sudah dapat digolongkan kedalam sesuatu kategori tidaklah mungkin menjadi anggota dari kategori yang lain, contoh : “kawin”, “belum kawin”, “janda”, “duda”.
c. Data yang ditunjukkan oleh bilangan-bilagan yang bukan merupakan hasil penghitungan tetapi hasil pencacahan, misalnya : banyaknya benda, banyaknya orang, banyaknya kejadian dan sebagainya.
d. Data yang ditunjukkan oleh bilangan-bilangan yang bukan merupakan hasil penghitungan dan juga bukan hasil pencacahan, misalnya : nomor rumah, nomor telepon, nomor urut dan sebagainya.
2. Data Ordinal yaitu : data yang menunjukkan pada tingkatan sesuatu. Dalam bidang pendidikan data ordinal dapat dikenakan pada semua predikat yang menunjukkan tingkatan, seperti : “Pandai”, “Kurang Pandai”, dan “Tidak Pandai”.
3. Data Interval yaitu : data yang mempunyai tingkatan yang lebih tinggi lagi dibandingkan dengan data ordinal karena mempunyai tingkatan yang lebih banyak lagi. Data interval menunjukkan adanya jarak antara data yang satu dengan yang lain, contoh : Sepuluh orang siswa mendapat nilai hasil ulangan umum pelajaran Tata Negara dengan variasi antara 1 dan 10. Diantara sepuluh orang tersebut adalah Nabila nilai 8, Naufal nilai 10, Rizky nilai 4, maka nilai 8 dengan nilai 10 berjarak 2 dan antara nilai 8 dengan nilai 4 berjarak 4.
4. Data Rasio yaitu : data yang menunjukkan bahwa antara data yang satu dengan data yang lain dapat diperbandingkan, contoh : Berat badan ibu adalah 50 kg. Berat badan Syifa adalah 10 kg. Dengan demikian maka berat badan ibu ada 5 kali berat badan Syifa. Bagaimanakah dapat diketahui berat badan ibu dan Syifa ? Dengan menggunakan ukuran berat yaitu timbangan badan, maka berat ibu dan Syifa dapat diketahui. Berat 50 kg mengandung arti bahwa berat tersebut dibandingkan dengan satuan berat yang digunakan sebagai ukuran. Satuan ukuran tersebut adalah “kilogram” yang merupakan satuan ukuran yang sudah berstandar.
Ronny Kountur mengatakan teknik statistik yang pada umumnya digunakan untuk menganalisis data pada penelitian-penelitian deskriptif ialah dengan menggunakan tabel, grafik, ukuran central tendency dan ukuran perbedaan (differential data analysis).
a. Tabel
Cara yang terbaik untuk meringkaskan data kedalam bentuk yang mudah dibaca adalah dengan menampilkan data tersebut kedalam bentuk distribusi frekuensi (frequency distribution) yang umumnya tampilan datanya tiga kolom yaitu: variabel, frekuensi dan persentasi. Distribusi frekuensi (frequency distribution) dibagi kedalam dua kelompok yaitu :
1. Distribusi Frekuensi Sederhana (simple frequency distribution).
Dapat digunakan untuk data-data yang berskala nominal, interval atau rasio contoh untuk data nominal : peneliti ingin menganalisis data tentang suku dari 100 responden, didapati 50 orang suku Jawa, 30 orang suku Aceh, 20 orang suku Minang. Data-data ini dapat ditampilkan dalam bentuk tabel frekuensi distribusi sederhana seperti pada tabel-1
SUKU FREKUENSI PERSENTASE (%)
Jawa
Aceh
Minang 50
30
20 50
30
20
Total 100 100
Tabel – 1 Distribusi Frekuensi Sederhana untuk Data Nominal
Contoh untuk data interval : peneliti ingin menganalisis data tentang tinggi badan (dalam centimeter) dari 50 orang yang diteliti, 25 orang memiliki tinggi badan 170 cm, 10 orang memiliki tinggi badan 160 cm dan 15 orang memiliki tinggi badan 150 cm, maka frekuensinya akan tampak pada tabel – 2
TINGGI (CM) FREKUENSI PERSENTASE (%)
170
160
150 25
10
15 50
20
30
Total 50 100
Tabel – 2 Distribusi Frekuensi Sederhana untuk Data Interval
2. Distribusi Frekuensi Kelompok (group frekuency distribution )
Dikelompokkan hanya untuk data-data yang berskala interval atau rasio. Dari data yang banyak tersebut pada suatu range memungkinkan datanya dalam bentuk decimal, maka dikelompokkan data tersebut kedalam kelas-kelas. Misalnya : ada 100 siswa yang memiliki tinggi badan tersebar antara 151 cm sampai 180 cm. Range tinggi badan dari 150 cm sampai 180 cm dapat dibagi kedalam tiga kelas misalnya antara 151 – 160 cm terdapat 50 siswa, antara 161-170 cm terdapat 20 siswa dan antara 171 – 180 terdapat 30 siswa. Data yang sudah dikelompokkan ini dapat ditampilkan dalam tabel – 3
TINGGI (CM) FREKUENSI PERSENTASE
171 – 180
161 – 170
151 - 160 30
20
50 30
20
30
Total 100 100
Tabel – 3 Distribusi Frekuensi Kelompok untuk Data Interval
b. Grafik
Grafik dalam teknik analisis statistic deskriptif ada empat macam yaitu bar, pie, histogram dan polygon. Grafik mana yang akan digunakan tergantung pada skala variabelnya. Apabila variabelnya berskala nominal digunakan grafik bar atau pie. Jika skala variabelnya interval atau rasio digunakan grafik histogram atau polygon.
- Grafik Bar
Misalnya pada contoh data tentang suku diatas. Bujur vertikal menunjukkan frekuensi, sedangkan bujur horizontal menunjukkan kategori. Pada contoh ini frekuensi adalah jumlah orang, sedangkan kategorinya adalah masing-masing suku yang diteliti yaitu angka 1 menunjukkan suku Jawa, angka 2 menunjukkan suku Aceh, angka 3 menunjukkan suku Minang.

- Grafik Pie
Sama seperti grafik bar, grafik pie digunakan apabila data dari variable yang dianalisis berskala nominal. Contoh grafik Pie berikut ini :


Grafik Histogram
Grafik histogram digunakan apabila data yang dianalisis berskala interval atau yang dinyatakan dalam kelompok distribusi frekuensi (gruped frequency distribution). Misalnya data yang menyangkut ukuran tinggi badan 100 siswa yang dinyatakan sebagai berikut :
Tinggi Badan (cm) Jumlah Siswa
171 – 180 30
161 – 170 20
151 – 160 50
Data-data ini dapat digambarkan dalam bentuk grafik histogram sebagaimana yang dapat dilihat pada gambar – 3



Pada grafik histogram, bujur vertikal menunjukkan frekuensi sedangkan bujur horizontal menunjukkan kelas. Pada contoh ini bujur vertikal adalah jumlah siswa sedangkan bujur horizontal adalah tinggi badan (centimeter) mereka yang dikelompokkan kedalam tiga kelas. Pertama yaitu mereka dengan tinggi badan antara 151 cm – 160 cm, kedua mereka dengan tinggi badan antara 161 – 170 cm, dan ketiga mereka dengan tinggi badan antara 171 cm – 180 cm.
Grafik polygon
Sama seperti grafik histogram, grafik polygon digunakan apabila data dari variabel yang dianalisis berskala interval atau rasio. Pada grafik polygon tidak selamanya data dinyatakan dalam bentuk kelompok, bisa saja data dalam bentuk distribusi frekuensi (ungrouped frequency distribution). Contoh grafik Polygon berikut ini :


c. Ukuran Central Tendency
Ukuran central tendency juga dikenal dengan ukuran rata-rata. Ada tiga pengertian rata-rata dalam statistic yaitu mode, median dan mean. Ketiga ukuran ini mempunyai tujuan yang sama yaitu mengukur rata-rata. Hanya saja dalam perhitungannya berbeda-beda.
Mode
Mode merupakan nilai yang muncul paling banyak didalam distribusi. Ada dua hal yang terkandung didalam mode yaitu “nilai” dan “frekuensi”. Contoh distribusi skor adalah sebagai berikut : 12, 13, 14,14, 14, 14, 15, 15, 17, 18, 19 dari deretan skor tersebut dengan cepat diketahui bahwa yang paling banyak muncul adalah 14, yang muncul sebanyak empat kali. Maka mode untuk distribusi tersebut adalah 14.
Median
Median diartikan sebagai nilai didalam distribusi yang menjadi batas antara 50 % subjek yang memiliki nilai yang lebih besar dan 50 % subjek yang memiliki nilai kurang dari nilai batas tersebut. Contoh distribusi skor adalah sebagai berikut : 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20
Dari distribusi ini diketahui mediannya yaitu 15,5. Nilai tersebut diperoleh dari (15+16) : 2. Subjek yang memiliki nilai lebih tinggi dari 15,5 ada 5 orang, demikian juga subjek yang memiliki nilai lebih rendah dari 15,5 ada 5 orang.
Didalam istilah statistik nilai 15,5 yang terletak ditengah-tengah antara 15 dan 16 disebut “batas atas” dari nilai 15 dan “batas bawah” dari nilai 16. Hal ini dapat dimengerti karena bilangan 15 sebenarnya mewakili nilai14, 5 sampai dengan 15,5, sedangkan 15,5 merupakan batas atas. Demikian juga nilai 16 merupakan wakil dari nilai mulai 15,5 sampai dengan 16,5, sedangkan nilai 15,5 merupakan batas bawahnya.
Mean atau Rerata Nilai
Mean merupakan rerata atau nilai rata-rata yang paling banyak digunakan dalam penelitian. Yang paling banyak digunakan adalah rerata hitung yang rumusnya :
X = Xn + X2 + X3 + X4 +…+Xn
N

Yang biasanya dituliskan dalam rumus sederhana
∑ X
X =
N


Keterangan :
X = Rerata nilai
= Tanda Jumlah
X = Nilai mentah yang dimiliki subjek
N = Banyaknya subjek yang memiliki nilai

Kesimpulan
Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan baik melalui teknik analisis deskriptif kuantitatif atau teknik analisis deskriptif kualitatif maupun teknik statistic deskriptif.
1. Penelitian ideskriptif merupakan metode penelitian yang ebrusaha menggambarkan objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa adanya, dengan tujuan menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek yang diteliti secara tepat.
2. Penelitian deskriptif mempunyai keunikan diantaranya , seperti :
a. Menggunakan kuesioner atau wawancara seringkali hanya mendapatkan responden yang sedikit yang dapat mengakibatkan biasnya kesimpulan
b. Penelitian deskriptif yang menggunakan observasi, kadangkala dalam pengumpulan data tidak memperoleh data yang memadai,
c. Memerlukan permasalahan yang dirumuskan secara jelas, agar pada waktu menjaring data di lapangan peneliti tidak mengalami kesulitan,
3. Dilihat dari aspek pengumpulan data di lapangan , penelitian deskriptif dapat dibedakan antara lain menjadi penelitian laporan diri, studi perkembangan, studi kelanjutan, dan studi sosiometrik.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Rachmat Kriyantono, Teknik Praktik Riset komunikasi, (Jakarta : Kencana, 2007).
Ronny Kountur, Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi Dan Tesis, (Jakarta : PPM, 2003).
Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta : Rineka Cipta, 2005).
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta : Rineka Cipta, 1998).
Sukardi, Metodelogi Penelitian Pendidikan, kompetensi dan Praktiknya,(Jakarta : Bumi Aksara, 2005).







ANALISIS DATA PENELITIAN DESKRIPTIF


Makalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
METODELOGI PENDIDIKAN ISLAM



Oleh
A M R I
07 PEDI 1088


Dosen Pembimbing
DR. SAIFUL AKHYAR LUBIS, MA
DR. AL-RASYIDIN, M.Ag
















PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
2007

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>