Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 29 April 2011

AGEN PERUBAHAN ISLAM DITINJAU DARI PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKATOR PEMBANGUNANAGEN PERUBAHAN ISLAM DITINJAU DARI PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKATOR PEMBANGUNAN Oleh : SAHARANI NIM : 06 KOMI 1046 A. Pendahuluan Dalam ilmu komunikasi pembangunan seorang komunikator pada garis besarnya mempunyai tiga peranan penting sebagai upaya melakukan perubahan-perubahan sosial dalam pembangunan baik dalam bentuk fisik maupun non fisik, yaitu 1) sebagai agent of change, 2) sebagai agent of development dan 3) sebagai agen of modernization, untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Sebagai agent of change Sebagai agent of change dimana para komunikator bertugas untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam masyarakat, kearah perubahan yang lebih baik. Perubahan yang bersifat kemanusiaan, berpengetahuan, gagasan atau ide-ide baru, dimana pengetahuan yang dimiliki komunikator dipakai demi pengabdian agar masyarakat dapat hidup bermartabat. Hal-hal yang tidak sesuai dan menghambat kemajuan haruslah diganti dengan hal-hal yang baru yang sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam mengadakan perubahan harus memperlihatkan situasi dan kondisi dimana mereka berada, artinya bahwa perubahan yang membawa kemajuan di negeri lain belum bisa cocok untuk dilaksanakan di negeri sendiri. 2. Sebagai agent of development Sebagai agent of development, dimana komunikator bertugas untuk melancarkan pembangunan di segala bidang yang bersifat fisik maupun non fisik. Demi suksesnya pembangunan, peranan komunikator tidak bisa diabaikan, justru mempunyai peranan yang besar sekali. Komunikator diharapkan bertindak sebagai pelopor-pelopor dalam pembangunan. Pembangunan tidak akan bisa berjalan dengan lancer bila manusia-manusianya tidak giat bekerja. 3. Sebagai agen of modernization Sebagai agen of modernization, para komunikator dalam fungsi ini bertindak dan bertugas sebagai pelopor dalam perubahan. Dengan sendirinya macam perubahan yang bagaimana yang harus dijalankan tidak terlepas dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Tidak semua masyarakat dapat menerima begitu mudah terhadap ide-ide dan gagasan baru. Belum tentu bahwa hal-hal yang baru itu bisa membawa kebahagiaan bagi sosial masyarakat, bahkan tidak jarang hal-hal yang baru itu justru menjerumuskan masyarakat kejurang kesengsaraan. Seorang komunikator dengan bekal ilmu yang dimilikinya harus dapat memilih dan memilah-milah mana yang perlu diubah dan mana yang masih tetap dipertahankan. Untuk suksesnya perubahan sosial yang hendak dijalankan, para komunikator tidak boleh meninggalkan sistem sosial yang ada dalam masyarakat dimana perubahan itu akan dilakukan. B. Agen Perubahan Islam Agen perubahan Islam (Islamic development agent) adalah sejumlah orang yang ikut mempelopori, menggerakkan dan menyebarluaskan pesan-pesan ajaran Islam guna proses perubahan menurut konsep Islam dalam kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian agen perubahan Islam memiliki peran dan fungsi tersendiri dimana para pakar dalam bidang ilmu komunikasi Islam memberi paham diantaranya sebagai berikut: Agen perubahan Islam yang dalam hal ini dikenal juga seorang da’i yaitu penasehat, para pemimpin dan pemberi ingat, yang memberi nasehat dengan baik yang mengarah dan berkhotbah, yang memusatkan jiwa dan raganya dalam wa’ad (berita gembira) dan wa’id (berita siksa) dan dalam membicarakan tentang kampong akhirat untuk melepaskan orang-orang yang karam dalam gelombang dunia. Sedangkan disisi lain peran dan fungsi agen perubahan Islam dijelaskan oleh Nazaruddin Lathief menjelaskan bahwa: Agen perubahan Islam ialah muslim dan muslimat yang menjadikan komunikasi Islam sebagai suatu amaliyah pokok baginya tugas ulama. Ahli Agen perubahan Islam ialah wa’ad, mubaligh mustamain (komunikator Islam) yang menyeru, mengajak dan memberi pengajaran dan pelajaran tentang ajaran agama Islam. Menurut M.Nasir agen perubahan Islam adalah “orang yang memperingatkan atau memanggil supaya memilih yakni memilih jalan dengan membawa keuntungan dan kebaikan hidup dunia dan akhiran”. Berdasarkan kepada pembahasan tersebut di atas dapat dikemukakan suatu defenisi bahwa agen perubahan Islam itu ialah; setiap manusia yang bertugas mengajak orang lain kepada jalan menurut konsep Islam dengan persyaratan-persyaratan tertentu sesuai dengan daya, kemampuannya masing-masing dan ditengah-tengah masyarakat. Perlu diperhatikan oleh agen perubahan Islam adalah mendalami al-Qur’an, as-sunnah, sejarah, memahami keadaan masyarakat yang akan dihadapi, berani dalam mengungkapkan kebenaran kapanpun dan dimanapun, ikhlas dalam melaksanakan tugas dakwah tanpa tergiur oleh nikmat materil yang bersifat sementara, satu kata dengan perbuatan dan terjauh dari hal-hal yang akan menjatuhkan harga diri. Isya Allah dengan mengamalkan sifat-sifat tersebut setiap agen perubahan akan memiliki daya tarik yang kuat dan sekaligus akan jadi panutan ummat. Disamping hal tersebut diatas dengan dibekali kualifikasi dasar diantaranya adalah kualifikasi teknis yang termasuk salah satunya adalah metode dalam menyampaikan pesan ajaran-ajaran agama Islam, metode disini berarti pendekatan berkomunikasi secara langsung dan mengatasi kendala-kendala yang dihadapi saat melakukan perubahan. Dengan tidak menafikan “sumber-sumber pokok yang dijadikan pegangan para agen perubahan Islam antara lain, al-Qur’an, as-Sunnah, sirah (sejarah) dan nabawiyah atau salafus shaleh dari kalangan sahabat, tabi’in dan ahli ilmu”. Dalam hal ini Duncan dan Zaltman dalam bukunya Zulkarimen Nasution yang berjudul Komunikasi Pembangunan Pengenalan Teori dan Penerapannya memberi gambaran tentang kualifikasi dasar agen perubahan ke dalam tiga yang utama diantara sekian banyak kompetensi yang mereka miliki, yaitu: 1) kualifikasi teknis, yaitu kompetensi teknis dalam tugas spesifik dari proyek perubahan yang bersangkutan, 2) kemampuan administratif, yaitu persyaratan administratif yang paling dasar dan elementer, yakni kemauan untuk mengalokasikan waktu untuk persoalan-persoalan yang relatif menjelimet (detailed), 3) hubungan antarpribadi, suatu sifat yang paling penting adalah empati, yaitu kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi diri dengan orang lain, berbagi akan perspektif dan perasaan mereka dengan seakan-akan mengalaminya sendiri. Suatu usaha perubahan sosial yang berencana tentu ada yang memprakarsainya, prakarsa itu dimulai sejak menyusun rencana, hingga mempelopori pelaksanaannya. Bila kita lihat dalam suatu masyarakat yang melaksanakan pembangunan sebagai suatu perubahan sosial yang berencana, maka lembaga-lembaga perubahan (change agencies) tersebut adalah semua pihak yang melaksanakan pembangunan itu sendiri. Disamping seorang komunikator apakah dalam hal ini dimaksudkan seorang da’i sebagai komunikatornya, ke dalamnya termasuk pemerintah secara keseluruhan, berikut departemen-departemen, lembaga-lembaga masyarakat, termasuk lembaga-lembaga perekonomian beserta segala kelengkapannya. Orang-orang yang melaksanakan tugasnya mewujudkan usaha perubahan tersebut dinamakan agen, yang menurut Rogers dan Shoemaker, merupakan petugas professional yang mempengaruhi putusan inovasi klien menurut arah yang diinginkan oleh lembaga perubahan. Jadi semua orang yang bekerja untuk mempelopori, merencanakan, dan melaksanakan perubahan sosial adalah termasuk agen-agen pembangunan. Dalam rumusan Havelock, agen pembangunan adalah seseorang yang membantu terlaksananya perubahan sosial atau suatu inovasi yang berencana. Dalam kenyataan sehari-hari, maka sejak mereka yang bekerja sebagai perencana pembangunan, hingga para petugas lapangan pertanian, pamong, guru, penyuluh dan lainnya adalah agen-agen pembangunan. Agen-agen perubahan itu, menurut Rogers dan Shoemaker, berfungsi sebagai matarantai komunikasi antar dua (atau lebih) sistem sosial. Yaitu menghubungkan antara suatu sistem sosial yang mempelopori perubahan tadi dengan sistem sosial yang menjadi klien dalam usaha perubahan tersebut. Hal itu tercermin dalam peranan utama seorang agen pembangunan Havelock; 1) sebagai katalisator, 2) sebagai pemberi pemecahan persoalan, 3) sebagai pembantu proses perubahan: membantu dalam proses pemecahan masalah dan penyebaran inovasi, serta memberi petunjuk mengenai bagaimana mengenali dan merumuskan kebutuhan, mendiagnosa permasalahan dan menentukan tujuan, mendapatkan sumber-sumber yang relevan, memilih atau menciptakan pemecahan masalah, 4) sebagai penghubung (linker) dengan sumber-sumber yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Inti dari peranan agen perubahan dalam proses pembangunan masyarakat, adalah; 1) the “ought”, yaitu melakukan identifikasi dan pemanfaatan dari sumber-sumber, kepemimpinan dan organisasi, 2) the “shall be”, yaitu dimensi tindakan atau kegiatan dimana prioritas ditegakkan dan ditetapkan, rencana dan pelaksanaan, serta evaluasi dilakukan menurut urutan yang teratur agar alternatif yang telah dipilih dapat membawa hasil yang diharapkan. Keseluruhan peran agen pembangunan itu dapat dikelompokkan menjadi peran yang laten dan yang manifes. Peranan yang manifes adalah peran yang kelihatan “di permukaan” dalam hubungan antara agen perubahan dengan kliennya, dan merupakan peran yang dengan sadar dipersiapkan sebelumnya. Peran yang manifes ini kelak merupakan bukti bagi si agen maupun kliennya. Sedangkan peran yang laten merupakan peran yang timbul dari “arus bawah” yang memberi petunjuk bagi si agen dalam mengambil tindakan. C. Unsur-unsur Komunikasi Pembangunan Islam 1. Faktor komunikator Komunikator dalam komunikasi Islam adalah pihak yang memprakarsai komunikasi, artinya dia mengawali pengirikan pesan tertentu kepada pihak lain yang disebut komunikan. Dalam komunikasi Islam seorang komunikator dapat bisa saja berasal dari latar belakang kebudayaan tertentu, misalnya kebudayaan A yang berbeda dengan komunikan yang berkebudayaan B. Beberapa studi tentang karakteristik komunikator yang pernah dilakukan oleh Howard Giles dan Arlene Franklyn-Stokes menunjukkan bahwa karakteristik itu ditentukan antara lain oleh latar belakang etnis dan ras, faktor demografis seperti umur dan jenis kelamin, hingga ke latar belakang sistem politik. William Gudykunst dan Young Yun Kim mengatakan bahwa secara makro perbedaan karakteristik komunikator itu ditentukan oleh faktor nilai dan norma hingga kea rah mikro yang mudah dilihat dalam wujud kepercayaan, minat dan kebisaaan. Selain itu faktor-faktor yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa sebagai pendukung komunikasi misalnya kemampuan berbicara dan menulis secara baik dan benar (memilih kata, membuat kalimat), kemampuan menyatakan symbol non verbal (bahasa isyarat tubuh), bentuk-bentuk dialek dan aksen, dan lain-lain. Menurut mereka, baik komunikator maupun komunikan, karakteristik tersebut pun sangat ditentukan oleh faktor-faktor makro seperti penggunaan bahasa dan pengelolaan etnis, pandangan tentang pentingnya sebuah percakapan dalam kontek sosial budaya masyarakat, orientasi atas konsep individualistik dan kolektivistik dari suatu masyarakat, dan orientasi atas ruang dan waktu; dan faktor mikro, seperti komunikasi yang dilakukan dalam suatu kontek yang segera, masalah subjektivitas dan objektivitas dalam komunikasi Islam, bisaanya percakan dengan berbagai budaya masyarakat Islam dalam bentuk dialek, aksen serta nilai dan sikap yang menjadi identitas sebuah masyarakat. Berdasarkan pendapat ini maka komunikasi Islam di antara dua orang atau lebih yang berbeda jenis kelamin (gender), berbeda status sosial dan lain sebagainya adalah menjadi syarat kemampuan mutlak bagi seorang komunikator. 2. Komunikan Komunikan dalam komunikasi Islam adalah pihak yang menerima pesan tertentu, dia menjadi tujuan/sasaran komunikasi dari pihak lain (komunikator). Dalam komunikasi Islam, seorang komunikan dalam daerah tertentu seperti masyarakat hitrogen seorang komunikan bisa berasal dari latar belakang sebuah kebudayaan tertentu, misalnya kebudayaan B. Ingatlah bahwa baik komunikator dan komunikan dalam model komunikasi Islam diharapkan mempunyai perhatian penuh untuk merespon dan menerjemahkan pesan yang dialihkan. Tujuan komunikasi akan tercapai menakala komunikan mampu memahami makna pesan dari komunikator, dan memperhatikan (attention) serta menerima pesan secara menyeluruh (comprehension). Ini adalah dua aspek penting yang berkaitan dengan cara bagaimana seorang komunikator dan komunikan mencapai sukses dalam pertukaran pesan. Yang dimaksud dengan attention adalah proses awal dari seorang komunikan “memulai” mendengarkan pesan, menonton atau membaca pesan itu. Seorang komunikator berusaha agar pesan itu diterima sehingga perangkat pesan tersebut perlu mendapat perlakuan agar menarik perhatian. Sedangkan yang dimaksud dengan comprehension meliputi cara penggambaran pesan secara lengkap sehingga mudah dipahami dan dimengerti oleh komunikan. Acapkali seorang komunikan ketika memperhatikan atau memahami isi pesan sangat tergantung dari tiga bentuk pemahaman, yakni: 1) kognitif, komunikan menerima isi pesan sebagai sesuatu yang benar; 2) afektif, komunikan percaya bahwa pesan itu tidak hanya benar tetapi baik dan disukai, dan 3) overt action tindakan nyata, di mana seorang komunikan percaya atas pesan yang benar dan baik sehingga mendorong tindakan yang tepat. Jadi seorang komunikan dapat berbuat sesuatu untuk memisahkan isi dan perlakuan pesan hanya karena pesan yang diterima itu mengandung attention dan comprehension. 3. Pesan Dalam proses komunikasi, pesan berisi pikiran, ide atau gagasan, perasaan yang dikirim komunikator kepada komunikan dalam bentuk simbol. Simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk mewakili maksud tertentu, misalnya dalam kata-kata verbal yang diucapkan atau ditulis, atau symbol non verbal yang diperagakan melalui gerak-gerik tubuh/anggota tubuh, warna, artifak, gambar, pakaian dan lain-lain yang semuanya harus dipahami secara konotatif. Dalam model komunikasi Islam, pesan adalah apa yang ditekankan atau yang dialihkan oleh komunikator kepada komunikan. Setiap pesan sekurang-kurangnya mempunyai dua aspek utama; 1) content dan 2) treatment, yaitu isi dan perlakuan. Isi pesan meliputi aspek daya tarik pesan, misalnya aktual, kontroversi, argumentatif, rasional dan sebagainya. Misalnya komunikan akan lebih tertarik dengan pesan yang disampaikan dengan menampilkan poto-poto atau pemutaran video tentang peristiwa sebagai perbandingan. Namun demikian aspek daya tarik saja tidak cukup, akan tetapi sebuah pesan juga perlu mendapat perlakuan, perlakuan atas pesan berkaitan dengan penjelasan atau penataan isi pesan oleh komunikator. Pilihan isi dan perlakuan atas pesan tergantung dari ketrampilan komunikasi, sikap, tingkat pengetahuan, posisi dalam sistem sosial dan kebudayaan masyarakat. 4. Media Dalam proses komunikasi Islam, media merupakan tempat, saluran yang dilalui oleh pesan atau simbol yang dikirim melalui media tertulis misalnya surat, telegram, faksimile, kaset dan atau media lainnya seperti media massa (cetak) seperti majalah, surat kabar dan buku, media massa elektronik (radio, televise, video, film dan lain-lain. Akan tetapi kadang-kadang pesan-pesan itu dikirim tidak melalui media, terutama dalam komunikasi Islam tatap muka. Para ilmuan sosial menyepakati dua tipe saluran; 1) sensory channel atau saluran sensoris, yakni saluran yang memidahkan pesan sehingga akan ditangkap oleh lima indra, yaitu mata, telinga, tangan, hidung dan lidah. Lima saluran sensoris itu adalah cahaya, bunyi, perabaan, pembauran dan rasa. 2). Institutionalized means, atau saluran yang sudah sangat dikenal dan digunakan manusia, misalnya percakapan tatap muka, material cetakan dan media elektronik. Perlu diingat bahwa setiap saluran institusional memerlukan dukungan satu atau lebih saluran sensoris untuk memperlancar pertukaran pesan dari komunikator kepada komunikan. Perhatikan, tatkala manusia bertatap muka (medium institusional) maka orang akan memakai bahasa isyarat tubuh dan pernyataan wajah (kita menangkap pesan itu dengan mata), lalu menangkap bunyi (suara, atau gangguan lain), dan mungkin juga meraba, mencium bau dengan hidung atau merasakan sesuatu dengan lidah. Para ilmuan sosial juga menyimpulkan bahwa komunikasi akan lebih menyukai pesan yang disampaikan melalui kombinasi dua atau lebih saluran sensoris (perhatikan kalau kalau orang lebih suka menonton televisi, membaca surat kabar dari pada mendengarkan radio). 5) Efek atau umpan balik Manusia mengkomunikasikan pesan karena dia mengharapkan agar tujuan dan fungsi komunikasi itu tercapai. Tujuan dan fungsi komunikasi, termasuk komunikasi Islam, antara lain memberikan informasi, menjelaskan/menguraikan tentang sesuatu, memberikan hiburan, memaksakan pendapat atau mengubah sikap komunikan. Dalam proses seperti itu, kita umumnya menghendaki reaksi balik, kita sebut umpan balik. Umpan balik merupakan tanggapan balik dari komunikan kepada komunikator atas pesan-pesan yang telah disampaikan. Tanpa umpan balik atas pesan-pesan dalam komunikasi maka komunikator dan komunikan tidak bisa memahami ide, pikiran dan perasaan yang terkandung dalam pesan tersebut. Dalam kasus komunikasi tatap muka, umpan balik lebih mudah diterima. Komunikator dapat mengetahui secara langsung apakah serangkaian pesan itu dapat diterima oleh komunikan atau tidak. Komunikatorpun dapat mengatakan sesuatu secara langsung jika dia melihat komunikan kurang memberikan perhatian atas pesan yang sedang disampaikan. Reaksi verbal dapat diungkapkan secara langsung oleh komunikan melalui kata-kata menerima, mengerti bahkan mungkin menolak pesan, sebaliknya reaksi pesan dapat dinyatakan dengan pesan non verbal seperti menganggukkan kepala tanda setuju dan menggelengkan kepala sebagai ungkapan tidak setuju. 6. Suasana (setting dan context) Satu faktor penting dalam komunikasi Islam adalah suasana yang kadang-kadang disebut setting of communication, yakni tempat (ruang, space) dan waktu (time) serta suasana (sosial, psikologis) ketika komunikasi Islam berlangsung. Suasana itu berkaitan dengan waktu (jangka pendek/panjang, jam/hari/minggu/bulan/tahun) yang tepat untuk bertemu/berkomunikasi, sedangkan tempat (rumah, kantor, rumah ibadah) untuk berkomunikasi, kualitas relasi (formalitas, informalitas) yang berpengaruh terhadap komunikasi Islam. 7) Gangguan (noise atau interference) Gangguan dalam komunikasi Islam adalah segala sesuatu yang menjadi penghambat laju pesan yang ditukar antara komunikator dengan komunikan, atau paling fatal adalah mengurangi makna pesan komunikasi Islam. Gangguan menghambat komunikan menerima pesan dan sumber pesan. Gangguan (noise) dikatakan ada dalam satu sistem komunikasi bila dalam membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima. Gangguan itu dapat bersumber dari unsur-unsur komunikasi, misalnya komunikator, komunikan, pesan, media/saluran yang mengurangi usaha bersama untuk memberikan makna yang sama atas pesan. Gangguan komunikasi yang bersumber dari komunikator dan komunikan misalnya karena perbedaan status sosial dan budaya (stratifikasi sosial, jenis pekerjaan, faktor usia), latar belakang pendidikan (tinggi pendidikan) dan pengetahuan (akumulasi pengetahuan terhadap tema yang dibicarakan), keterampilan (kemampuan untuk memanipulasi pesan) berkomunikasi. Sementara itu gangguan yang berasal dari pesan misalnya perbedaan pemberian makna atas pesan yang disampaikan secara verbal, gangguan dari media/saluran karena orang salah memilih media yang tidak sesuai dengan konteks komunikasi, gangguan situasi, kondisi, suasana yang kurang mendukung terlaksananya komunikasi Islam tersebut. Capper, menggolongkan tiga macam gangguan; 1) fisik berupa interfensi dengan tranmisi fisik isyarat atau pesan lain, misalnya desingan mobil lewat, dengungan computer, kaca mata; 2) psikologis-interfensi kognitif atau mental, misalnya prasangka dan bias pada sumber, penerima, pikiran yang sempit; 3) semantik berupa pembicara dan pendengar memberi arti yang berlainan, misalnya orang berbicara dengan bahasa yang berbeda, menggunakan jargon atau istilah yang rumit yang tidak dipahami pendengar. D. Prinsip-prinsip Komunikator Pembangunan Islam Dalam buku Antologi Kajian Islam Syukur Kholil menjelaskan komunikasi dalam perspektif Islam ditinjau dari prinsip komunikasi Islam, dalam kegiatan komunikasi Islam, seorang komunikator haruslah berpedoman kepada prinsip komunikasi yang digambarkan dalam al-Qur’an dan hadits. Diantara prinsip komunikasi yang dilukiskan dalam al-Qur’an dan hadis ialah: 1. Memulai pembicaraan dengan salam Komunikator sangat dianjurkan untuk memulai pembicaraan dengan mengucapkan salam, yaitu ucapan ‘assalamu ‘alaikum’. Keadaan ini digambarkan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadisnya yang mempunyai arti: “ucapkanlah salam sebelum kalam”. 2. Berbicara dengan lemah lembut Komunikator dalam komunikan Islam ditekankan agar berbicara secara lemah lembut, sekalipun dengan orang-orang yang terang-terangan memusuhinya. Hal ini antara lain ditegakkan dalam al-Qur’an surat Taha ayat 43-44 yang artinya: Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. 3. Menggunakan perkataan yang baik Disamping berbicara dengan lemah lembut, komunikator Islam juga harus menggunakan perkataan yang baik-baik yang dapat menyenangkan hati komunikan. Prinsip ini didasarkan kepada firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Isra’ ayat 53 yang artinya: dan katakanlah kepada hamba-hamba Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan diantara mereka…. 4. Menyambut hal-hal yang baik tentang diri komunikan Komunikan akan merasa senang apabila disebut hal-hal yang baik tentang dirinya. Keadaan ini dapat mendorong komunikan untuk melaksanakan pesan-pesan komunikasi sesuai dengan yang diharapkan komunikator. 5. Menggunakan hikmah dan nasehat yang baik Prinsip penggunaan hikmah dan nasehat yang baik antara lain disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Nahl ayat 125 yang artinya: Suruhlah (manusia) kepada jalan Tuhan mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” 6. Berlaku adil Berlaku adil dalam berkomunikasi dinyatakan dalam al-Qur’an surat al-An’am ayat 152 yang artinya: “…dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu) dan penuhilah janji Allah…. 7. Menyesuaikan bahasa dan isi pembicaraan dengan keadaan komunikan. Prinsip ini dinyatakan dalam al-Qur’an surat al-Nahl ayat 125 yang dikutipkan diatas. Ayat ini mengisyaratkan adanya tiga tingkatan manusia, yaitu kaum intelektual, masyarakat menengah dan masyarakat awam yang harus diajak berkomunikasi sesuai dengan keadaan mereka. 8. Berdiskusi dengan cara yang baik Diskusi sebagai salah satu kegiatan komunikasi harus dilakukan dengan cara yang baik. Seperti firman Allah dalam al-Qur’an al-Nahl ayat 125, dan juga dalam al-Qur’an surat al-‘Ankabut ayat 46, artinya: dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim diantara mereka… . 9. Lebih dahulu melakukan apa yang dikomunikasikan Dalam komunikasi Islam, komunikator dituntut untuk melakukan lebih dahulu apa yang disuruhnya untuk dilakukan orang lain. Allah amat membenci orang-orang yang mengkomunikasikan sesuatu pekerjaan yang baik kepada orang lain yang ia sendiri belum melakukannya. Hal ini dikemukakan dalam al-Qur’an surat al-Saff ayat 2-3, artinya sebagai berikut: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. 10. Mempertimbangkan pandangan dan fikiran orang lain Pada lazimnya gabungan pandangan dan pemikiran beberapa orang akan lebih bermutu dibandingkan dengan hasil pandangan dan pemikiran perseorangan. Karena itu dalam komunikasi Islam sangat dianjurkan bermusyawarah untuk mendapan pandangan dan pemikiran dari orang banyak. Disamping itu, suatu kebijakan atau keputusan yang diambil dengan jalan musyawarah, secara psikologis dirasakan oleh seluruh anggota masyarakat sebagai keputusan bersama dan tanggung jawab bersama yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Prinsip musyawarah yang dalam ilmu komunikasi digolongkan kepada komunikasi kelompok (group communication) ini antara lain dijelaskan dalam al-Qur’an ayat 159: “…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (peperangan dan masalah-masalah keduniaan) itu…”. 11. Berdoa ketika melakukan komunikasi yang berat Komunikator dianjurkan untuk berdo’a kepada Allah manakala melakukan kegiatan komunikasi yang dipandangnya berat. Prinsip seperti ini dikemukakan dalam al-Qur’an surat Thaha ayat 28 sebagai berikut: …Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”. Disamping itu, seorang komunikator dalam komunikasi Islam harus mengindahkan etika berkomunikasi yang digariskan dalam Islam, yaitu : 1) mengandalkan kejujuran, 2) menjaga akurasi pesan-pesan, 3) bersikap bebas dan bertanggung jawab, serta 4) dapat memberikan kritik membangun. E. Tugas-tugas Komunikator Perubahan dalam Pembangunan Islam Komunikator perubahan dalam pembangunan Islam memiliki beberapa peran penting yang bukan hanya sekedar menyampaikan pesan-pesan komunikasi akan tetapi lebih kepada peran pendampingan sebagai upaya pembangunan Islam, seperti peran yang manifest, peranan yang laten disamping tugas-tugas agen pembangunan lainnya yang harus dimiliki oleh setiap komunikator Islam tersebut. 1). Peran yang Manifes Peranan yang manifes dari agen pembangunan manurut Nasution : dapat dilihat dalam tiga perspektif, yaitu sebagai penggerak, perantara dan penyelesai (accomplisher). Sebagai penggerak, peranan agen pembangunan meliputi fungsi-fungsi fasilitator, penganalisa dan pengembangan kepemimpinan. Fasillitator adalah seseorang yang membangkitkan motivasi dan rangsangan dengan mesyarakat, agar masyarakat begerak, serta mempengaruhi mereka melalui petunjuk-petunjuk. Penganalisa adalah orang yang melakukan indetifikasi atas alternarif-alternatif yang dikemukakan oleh masyarakat atau sebagai pemberi masukan (input) bagi tenaga ahli dalam menganalisa masyarakat secara menyeluruh. Sedang sebagai pengembang kepemimpinan, seorang agen pembangunan berfungsi melakukan identifikasi, melatih, mengorganisir, serta meningkatkan kemampuan pemimpin-pemimpin setempat, termasuk mengokohkan status mereka di tengah masyarakat, sebagai suatu usaha untuk membina kesinambungan dalam proses pembangunan. Peran agen pembangunan senbagai perantara meliputi fungsi-fumgsi; pemberi informasi, dan penghubung. Fungsi pemberi informasi dilakukan dalam bentuk-bentuk memperkenalkan fakta-fakta, menghubungkan klien dengan nara sumber (resource person). Menyiapkan bahan dan peralatan pendidikan, melaksanakan studi dan mendatang pengetahuan teknis (technical know-how) bagi masyarakat setempat pada saat yang tepat. Fungsi penghubung dimaksudkan untuk menjembatani masyarakat setempat dengan tenaga ahli atau spesialis, sistem kemasyarakatan, para perumus kebijakan, dan pihak-pihak lain. Dalam peranannya sebagai pencapaian hasil, agen pembangunan berfungsi sebagai pengorganisir, pengevaluasi dan yang memantapkan hasil. Fungsi pengorganisir dilakukan agar kegiatan tetap dalam konteks pembangunan yang direncanakan. Sedangkan pengevaluasi mempersiapkan basis untuk mengevaluasi alternatif-alternatif melalui pengetahuan yang lebih luas, berbarengan dengan evaluasi terhadap proses yang berlangsung nyata, berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan oleh masyarakat dan hasil yang telah dicapai. Dalam perananya sebagai orang yang memantapkan hasil yang dicapai, dimaksudkan untuk memberi imbalan (rewards) terhadap penampilan hasil-hasil yang telah ada. 2). Peranan yang laten Hampir semua peranan yang manifest dari agen pembangunan yang disebutkan di atas mempunyai pasangan yang bersifat laten. Itu berarti selain fungsi-fungsi yang kelihatan secara nyata, agen pembangunan juga memiliki fungsi-fungsi yang laten, yaitu: sebagai pengembangan kepemimpinan, seorang agen pembangunan secara laten dapat berperan selaku orang memobilisir atau orang yang membangkitkan kesadaran. Pemobilisasi melakukan kegiatannya dalam rangka status qua. Pemobilisasi berguna dalam menghadapi masyarakat yang status qua dan dalam menghadapi suatu sistem yang menjadikan masyarakat hanyalah objek dalam mekanisme modernisasi. Pembangkit kesadaran berperan dalam mengatasi jurang kesadaran antara pemimpin dan masyarakat, membantu pengembangan masyarakat belajar mengajar dan membangun nilai-nilai melalui hubungan-hubungan yang dipunyainya. Selaku penganalisa, peranan agen perubahan dapat beerupa dichotomizer ataupun sebagai "pembangunan sejarah". Dichotomizer melakukan peranannya dengan memperjelas perbedaan antara pembangunan dengan keterbelakangan. Memberikan suatu kelompok minoritas menonjol ditengah massa masyarakat, dan memandang modernisasi sebagai tahap yang tidak diubah lagi. Sebagai pemberi informasi, agen perubahan secara laten dapat pula berfungsi sebagai seseorang yang "person oriented share", yaitu berusaha mencegah konsumerisme, menekankan kemanusiaan yang multi-dimensional, menekankan konsumsi yang rasional serta pemeratan pembagian pendapatan. Sebagai penghubung, agen perubahan berfungsi sebagai modernizer yaitu berusaha mencari nilai-nilai dari industrialisasi melalui cara yang tidak membedakan. Juga dapat berfungsi sebagai syncretizer memadukan hal-hal yang lama dan baru melalui pembangunan yang bervariasi dan berpusat pada percaya terhadap diri sendiri. Selaku organizer, agen perubahan menjadi pendukung dari partipasi popular, atau sebagai promoter efisiensi. Kalau ia seorang pendukung pertipasi popular, maka penekanannya adalah anggota-anggota sistem sosial. Sedangkan bila ia promoter efesiensi, maka ia akan menekankan pentingnya organisasi produksi, teknologi padat modal, serta kemanfaatan untuk perusahaan-perusahaan. Peranan yang laten dari fungsi pengevaluasian seorang agen pembangunan adalah kemungkinannya menjadi seorang yang berpandangan kuatitatif (quantifier) atau kualitatif (qualifier). Sebagai quantifier, ia memperhatikan pembangunan dalam arti pertumbuhan dan pencapaian yang bias diukur. Sedangka qualifier, ia melihat bahwa pertumbuhan ekonomi harus tunduk kepada pembangunan kemanusiaan dengan menekankan kepada pemerataan. Selaku reinforcer atau yang memantapkan hasil, peranan yang laten dari agen pembangunan mungkin merupakan konflik antara ingin menyesuaikan diri dengan sistem yang dominant, atau ingin membebaskan diri dari struktur kekuasaan. Dalam peran yang ingin menyesuaikan diri (adjuster), termasuk membatasi kepemimpinannya. Sedangkan peran untuk membebaskan diri (liberator) dari struktur kekuasaan, maka agen pembangunan mengusahakan tegaknya pengaruh dan kepemimpinannya ditengah masyarakat yang bersangkutan. 3. Tugas-tugas Agen Pembangunan Rogers dan Shoemaker; setidak-tidaknya agen pembangunan memiliki tujuh tugas utama dalam melaksanakan difusi inovasi yaitu: 1) menumbuhkan keinginan masyarakat untuk melakukan perubahan, 2) membina suatu hubungan dalam rangka perubahan (change relationship), 3) mendiagnosa permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, 4) menciptakan keinginan perubahan di kalangan klien, 5) menerjemahkan keinginan perubahan tersebut menjadi tindakan yang nyata, 6) menjaga kestabilan perubahan dan mencegah terjadinya drop out, 7) mencapai suatu terminal hubungan. Nasution ikut mengomentari hal tersebut di atas, pertama-tama dari seorang agen pembangunan diharapkan suatu peran pemrakarsa, atau pengambil inisiatif, dari perubahan sosial ditempat ia akan mendifusikan inovasi. Mula-mula kegiatannya adalah menumbuhkan keinginan di kalangan kliennya untuk melakukan perubahan dalam kehidupan mereka. Perubahan yang dimaksud tentu saja suatu perubahan dari keadaan yang ada sekarang menuju kesituasi yang lebih baik. Setelah keinginan itu tumbuh, maka agen perubahan mejalin hubungan baik dengan kliennya. Hubungan yang dimaksud adalah suatu kontak yang mengandung saling percaya, kejujuran, dan empati. Sebab untuk menerima suatu inovasi, pertama-tama klien harus dapat menerima si agen perubahan itu sendiri terlebih dahulu. Langkah berukutnya adalah melakukan diagnosa terhadap kebutuhan masyarakat yang hendak dibantunya. Diagnosa ini harus benar-benar bertitik tolak dari pandangan masyarakat tersebut, dan bukan Cuma dari kacamata si agen. Untuk itu dituntut kemampuan empati, yaitu menempatkan diri pada kedudukan masyarakat yang akan dibantu. Sesudah melakukan diagnosa, kemudian agen pembangunan kelien. Arti perubahan disini bukan sekedar berubah, namun benar-benar untuk kepentungan klien yang bersangkutan. Hastrat yang serius ini selanjutnya diteerjemahkan menjadi tindakan ataupun perbuatan yang nyata. Agen perubahan mempengaruhi perilaku kliennya (membuat mereka melakukan atau bertindak) menurut rekomendasika-rekomendasi yang diajukan setelah menganalisa kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Apabila masyarakat tersebut telah melaksanakan tindakan-tindakan perubahan, maka tugas si agen kini adalah menjaga kestabilan perubahan itu dalam kelangsungannya, dan mencegah terjadinya drop aut. Adalah suatu prinsip bagi seorang pembangunan, bahwa ia tidak akan selamanya terus-menerus membantu kliennya, melaikan harus sejak awal menanamkan kemampuan untuk menolong diri sendiri pada fihak klien. Oleh karena itu, seorang agen harus mencapai suatu titik terminal dalam hubungannya dengan masyarakat yang dibantunya, yakni agar pada suatu titik tertentu mereka itu tidak lagi bergantung sepenuhnya kepadda si agen, agen perubahan mulai melaksanakan tuganya, haruslah melibatkan anggota masyarakat yang dimaksud semaksimal mungkin padda setiap tahap kegiatan (mulai dari menganalisa, merencanakan, melaksanakan, sehingga mengevaluasi), juga melatih mereka seintensif mungkin, agar pada waktunya nanti mereka itu dapat menjadi agen pembangunan bagi diri mereka sendiri. Bila saat tersebut tiba, maka si agen dapat mengalihkan tugasnya membantu masyarakat yang lian, atau mulai mengarap masalah berikutnya pada masyarakat yang sama. Dengan melibatkan klien dalam setiap tahapan kegiatan, dimaksudkan untuk membina proses pertipasi dari komunikasi, sehingga dapat diperoleh umpam muka atau feedforward dari masyarakat yang bersangkutan. Cara ini diharapkan dapat menututupi jarak sosial ekonomi yang selama ini terdapat di antara mereka yang benar-benar membutuhkan perbaikan hidup, dan mereka yang relative sudah lebih memadai. Secara umum dan tahap langkah agen komunikasi pembangunan serta perubahan-perubahan yang terjadi dimasyarakat sebagai proses komunikasi pembangunan. Setidak-tidaknya ada tujuh tugas utama agen komunikasi pembangunan dalam melaksanakan difusi inovasi antara lain : 1) Menumbuhkan keinginan masyarakat untuk melakukan perubahan. 2) Membina suatu hubungan dalam rangka perubahan (change relationship). 3) Mendiagnosa permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. 4) Menciptakan keinginan perubahan dikalangan klien. 5) Menerjemahkan keinginan perubahan tersebut menjadi tindakan yang nyata. 6) Menjaga kestabilan perubahan dan mencegah terjadinya dropout. 7) Mencapai suatu terminal hubungan. F. Kesimpulan 1. Dalam ilmu komunikasi pembangunan seorang komunikator pada garis besarnya mempunyai tiga peranan penting sebagai upaya melakukan perubahan-perubahan sosial dalam pembangunan baik dalam bentuk fisik maupun non fisik, yaitu 1) sebagai agent of change, 2) sebagai agent of development dan 3) sebagai agen of modernization. 2. Kualifikasi dasar diantaranya adalah kualifikasi teknis yang termasuk salah satunya adalah metode dalam menyampaikan pesan ajaran-ajaran agama Islam, metode disini berarti pendekatan berkomunikasi secara langsung dan mengatasi kendala-kendala yang dihadapi saat melakukan perubahan. Dengan tidak menafikan “sumber-sumber pokok yang dijadikan pegangan para agen perubahan Islam antara lain, al-Qur’an, as-Sunnah, sirah (sejarah) dan nabawiyah atau salafus shaleh dari kalangan sahabat, tabi’in dan ahli ilmu. 3. Unsur-unsur komunikasi pembangunan dapat berjalan dengan baik apabila meliputi beberapa faktor seperti faktor komunikator, komunikan, pesan, media, efek atau umpan balik, suasana (setting dan context), dan gangguan (noise atau interference). 4. Prinsip komunikasi Islam meliputi; memulai pembicaraan dengan salam, berbicara dengan lemah lembut, menggunakan perkataan yang baik, menyambut hal-hal yang baik tentang diri komunikan, menggunakan hikmah dan nasehat yang baik, berlaku adil, menyesuaikan bahasa dan isi pembicaraan dengan keadaan komunikan, berdiskusi dengan cara yang baik, lebih dahulu melakukan apa yang dikomunikasikan, mempertimbangkan pandangan dan fikiran orang lain, dan berdoa ketika melakukan komunikasi yang berat. 5. Komunikator perubahan dalam pembangunan Islam memiliki tugas-tugas pendampingan sebagai upaya pembangunan Islam, seperti peran yang manifest, peranan yang laten disamping tugas-tugas agen pembangunan lainnya yang harus dimiliki oleh setiap komunikator Islam tersebut. BIBLIOGRAFI -----, Communication of Innovation. New York: The Free Press, 1971. Ahnadi, Abu. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bina Aksara, 1988. Al-Qahthani, Said Bin Ali. Al-Hikmatu Fid Da’wah Ilallah Ta’ala. terj. Masykur Hakim. Dakwah Islam Dakwah Bijak. cet. I, Jakarta : Gema Insani Press, 1994. Asante, Molefi and Gundykunst. Handbook of International and Intercultural Communication. London: Sage Publications, 1989. Capper, Simon. Non Verbal Communication and the Second Language Learner: Some Padagogic Considerations. Hiroshim: Suzugamine Women’s College, 1997. Drajat, Hasan Asari & Amroeni. Antologi Kajian Islam. Bandung: Citapustaka Media, 2004. Hasjmy, Dustur Dakwah menurut al-Qur’an. cet. 2, Jakarta: Bulan Bintang, 1984. Havelock. The Change Agent’s Guide to Innovation in Education. Englewood Cliffs, N.J. : Education Technology Publications, 1977. Jalal al-Din al-Suy-ti. Al-Jami’ al-Saghir. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t., jld. II. Lathief, Nasaruddin. Teori dan praktek Dakwah. Jakarta: Firma Dara, t.t. Liliweri, Alo. Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya. cet. II, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004. Nasution, Zulkarimen. Komunikasi Pembangunan; Pengenalan Teori dan Penerapannya. edisi Revisi, cet. Keempat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002. Natsir. Fiqhud Dakwah. Jakarta : Dewan Islamiyah Indonesia, t.t. Rogers and Shoemaker, Rogers. Communication of Innovation. New York: The Free Press, 1971. DAFTAR ISI Daftar Isi ii A. Pendahuluan 1 B. Agen Perubahan Islam 2 C. Unsur-unsur Komunikasi Pembangunan Islam 6 D. Prinsip-prinsip Komunikator Pembangunan Islam 12 E. Tugas-tugas Komunikator Perubahan dalam Pembangunan Islam 16 F. Kesimpulan 22 AGEN PERUBAHAN ISLAM DITINJAU DARI PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI PEMBANGUNAN Tugas Akhir Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mengikuti Ujian Akhir Pada Mata Kuliah Komunikasi Pembangunan O l e h : 1. SAHARANI NIM : 06 KOMI 1046 2. TARMIZI NIM : 06 KOMI 1049 3. AMRUL PURBA NIM : 06 KOMI 1041 Dosen Pengasuh : Dr. Yusnadi, M.Si PROGRAM PASCASARJANA IAIN SUMATERA UTARA M E D A N 2007

/ On : 13.28/ Thank you for visiting my small blog here.
AGEN PERUBAHAN ISLAM DITINJAU DARI
PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKATOR PEMBANGUNAN
Oleh : SAHARANI
NIM : 06 KOMI 1046


A. Pendahuluan
Dalam ilmu komunikasi pembangunan seorang komunikator pada garis besarnya mempunyai tiga peranan penting sebagai upaya melakukan perubahan-perubahan sosial dalam pembangunan baik dalam bentuk fisik maupun non fisik, yaitu 1) sebagai agent of change, 2) sebagai agent of development dan 3) sebagai agen of modernization, untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Sebagai agent of change
Sebagai agent of change dimana para komunikator bertugas untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam masyarakat, kearah perubahan yang lebih baik. Perubahan yang bersifat kemanusiaan, berpengetahuan, gagasan atau ide-ide baru, dimana pengetahuan yang dimiliki komunikator dipakai demi pengabdian agar masyarakat dapat hidup bermartabat.
Hal-hal yang tidak sesuai dan menghambat kemajuan haruslah diganti dengan hal-hal yang baru yang sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam mengadakan perubahan harus memperlihatkan situasi dan kondisi dimana mereka berada, artinya bahwa perubahan yang membawa kemajuan di negeri lain belum bisa cocok untuk dilaksanakan di negeri sendiri.
2. Sebagai agent of development
Sebagai agent of development, dimana komunikator bertugas untuk melancarkan pembangunan di segala bidang yang bersifat fisik maupun non fisik. Demi suksesnya pembangunan, peranan komunikator tidak bisa diabaikan, justru mempunyai peranan yang besar sekali. Komunikator diharapkan bertindak sebagai pelopor-pelopor dalam pembangunan. Pembangunan tidak akan bisa berjalan dengan lancer bila manusia-manusianya tidak giat bekerja.
3. Sebagai agen of modernization
Sebagai agen of modernization, para komunikator dalam fungsi ini bertindak dan bertugas sebagai pelopor dalam perubahan. Dengan sendirinya macam perubahan yang bagaimana yang harus dijalankan tidak terlepas dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Tidak semua masyarakat dapat menerima begitu mudah terhadap ide-ide dan gagasan baru. Belum tentu bahwa hal-hal yang baru itu bisa membawa kebahagiaan bagi sosial masyarakat, bahkan tidak jarang hal-hal yang baru itu justru menjerumuskan masyarakat kejurang kesengsaraan.
Seorang komunikator dengan bekal ilmu yang dimilikinya harus dapat memilih dan memilah-milah mana yang perlu diubah dan mana yang masih tetap dipertahankan. Untuk suksesnya perubahan sosial yang hendak dijalankan, para komunikator tidak boleh meninggalkan sistem sosial yang ada dalam masyarakat dimana perubahan itu akan dilakukan.
B. Agen Perubahan Islam
Agen perubahan Islam (Islamic development agent) adalah sejumlah orang yang ikut mempelopori, menggerakkan dan menyebarluaskan pesan-pesan ajaran Islam guna proses perubahan menurut konsep Islam dalam kehidupan sosial masyarakat.
Dengan demikian agen perubahan Islam memiliki peran dan fungsi tersendiri dimana para pakar dalam bidang ilmu komunikasi Islam memberi paham diantaranya sebagai berikut: Agen perubahan Islam yang dalam hal ini dikenal juga seorang da’i yaitu penasehat, para pemimpin dan pemberi ingat, yang memberi nasehat dengan baik yang mengarah dan berkhotbah, yang memusatkan jiwa dan raganya dalam wa’ad (berita gembira) dan wa’id (berita siksa) dan dalam membicarakan tentang kampong akhirat untuk melepaskan orang-orang yang karam dalam gelombang dunia.
Sedangkan disisi lain peran dan fungsi agen perubahan Islam dijelaskan oleh Nazaruddin Lathief menjelaskan bahwa: Agen perubahan Islam ialah muslim dan muslimat yang menjadikan komunikasi Islam sebagai suatu amaliyah pokok baginya tugas ulama. Ahli Agen perubahan Islam ialah wa’ad, mubaligh mustamain (komunikator Islam) yang menyeru, mengajak dan memberi pengajaran dan pelajaran tentang ajaran agama Islam.
Menurut M.Nasir agen perubahan Islam adalah “orang yang memperingatkan atau memanggil supaya memilih yakni memilih jalan dengan membawa keuntungan dan kebaikan hidup dunia dan akhiran”.
Berdasarkan kepada pembahasan tersebut di atas dapat dikemukakan suatu defenisi bahwa agen perubahan Islam itu ialah; setiap manusia yang bertugas mengajak orang lain kepada jalan menurut konsep Islam dengan persyaratan-persyaratan tertentu sesuai dengan daya, kemampuannya masing-masing dan ditengah-tengah masyarakat.
Perlu diperhatikan oleh agen perubahan Islam adalah mendalami al-Qur’an, as-sunnah, sejarah, memahami keadaan masyarakat yang akan dihadapi, berani dalam mengungkapkan kebenaran kapanpun dan dimanapun, ikhlas dalam melaksanakan tugas dakwah tanpa tergiur oleh nikmat materil yang bersifat sementara, satu kata dengan perbuatan dan terjauh dari hal-hal yang akan menjatuhkan harga diri. Isya Allah dengan mengamalkan sifat-sifat tersebut setiap agen perubahan akan memiliki daya tarik yang kuat dan sekaligus akan jadi panutan ummat.
Disamping hal tersebut diatas dengan dibekali kualifikasi dasar diantaranya adalah kualifikasi teknis yang termasuk salah satunya adalah metode dalam menyampaikan pesan ajaran-ajaran agama Islam, metode disini berarti pendekatan berkomunikasi secara langsung dan mengatasi kendala-kendala yang dihadapi saat melakukan perubahan. Dengan tidak menafikan “sumber-sumber pokok yang dijadikan pegangan para agen perubahan Islam antara lain, al-Qur’an, as-Sunnah, sirah (sejarah) dan nabawiyah atau salafus shaleh dari kalangan sahabat, tabi’in dan ahli ilmu”.
Dalam hal ini Duncan dan Zaltman dalam bukunya Zulkarimen Nasution yang berjudul Komunikasi Pembangunan Pengenalan Teori dan Penerapannya memberi gambaran tentang kualifikasi dasar agen perubahan ke dalam tiga yang utama diantara sekian banyak kompetensi yang mereka miliki, yaitu: 1) kualifikasi teknis, yaitu kompetensi teknis dalam tugas spesifik dari proyek perubahan yang bersangkutan, 2) kemampuan administratif, yaitu persyaratan administratif yang paling dasar dan elementer, yakni kemauan untuk mengalokasikan waktu untuk persoalan-persoalan yang relatif menjelimet (detailed), 3) hubungan antarpribadi, suatu sifat yang paling penting adalah empati, yaitu kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi diri dengan orang lain, berbagi akan perspektif dan perasaan mereka dengan seakan-akan mengalaminya sendiri.
Suatu usaha perubahan sosial yang berencana tentu ada yang memprakarsainya, prakarsa itu dimulai sejak menyusun rencana, hingga mempelopori pelaksanaannya. Bila kita lihat dalam suatu masyarakat yang melaksanakan pembangunan sebagai suatu perubahan sosial yang berencana, maka lembaga-lembaga perubahan (change agencies) tersebut adalah semua pihak yang melaksanakan pembangunan itu sendiri. Disamping seorang komunikator apakah dalam hal ini dimaksudkan seorang da’i sebagai komunikatornya, ke dalamnya termasuk pemerintah secara keseluruhan, berikut departemen-departemen, lembaga-lembaga masyarakat, termasuk lembaga-lembaga perekonomian beserta segala kelengkapannya.
Orang-orang yang melaksanakan tugasnya mewujudkan usaha perubahan tersebut dinamakan agen, yang menurut Rogers dan Shoemaker, merupakan petugas professional yang mempengaruhi putusan inovasi klien menurut arah yang diinginkan oleh lembaga perubahan. Jadi semua orang yang bekerja untuk mempelopori, merencanakan, dan melaksanakan perubahan sosial adalah termasuk agen-agen pembangunan. Dalam rumusan Havelock, agen pembangunan adalah seseorang yang membantu terlaksananya perubahan sosial atau suatu inovasi yang berencana. Dalam kenyataan sehari-hari, maka sejak mereka yang bekerja sebagai perencana pembangunan, hingga para petugas lapangan pertanian, pamong, guru, penyuluh dan lainnya adalah agen-agen pembangunan.
Agen-agen perubahan itu, menurut Rogers dan Shoemaker, berfungsi sebagai matarantai komunikasi antar dua (atau lebih) sistem sosial. Yaitu menghubungkan antara suatu sistem sosial yang mempelopori perubahan tadi dengan sistem sosial yang menjadi klien dalam usaha perubahan tersebut. Hal itu tercermin dalam peranan utama seorang agen pembangunan Havelock; 1) sebagai katalisator, 2) sebagai pemberi pemecahan persoalan, 3) sebagai pembantu proses perubahan: membantu dalam proses pemecahan masalah dan penyebaran inovasi, serta memberi petunjuk mengenai bagaimana mengenali dan merumuskan kebutuhan, mendiagnosa permasalahan dan menentukan tujuan, mendapatkan sumber-sumber yang relevan, memilih atau menciptakan pemecahan masalah, 4) sebagai penghubung (linker) dengan sumber-sumber yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Inti dari peranan agen perubahan dalam proses pembangunan masyarakat, adalah; 1) the “ought”, yaitu melakukan identifikasi dan pemanfaatan dari sumber-sumber, kepemimpinan dan organisasi, 2) the “shall be”, yaitu dimensi tindakan atau kegiatan dimana prioritas ditegakkan dan ditetapkan, rencana dan pelaksanaan, serta evaluasi dilakukan menurut urutan yang teratur agar alternatif yang telah dipilih dapat membawa hasil yang diharapkan.
Keseluruhan peran agen pembangunan itu dapat dikelompokkan menjadi peran yang laten dan yang manifes. Peranan yang manifes adalah peran yang kelihatan “di permukaan” dalam hubungan antara agen perubahan dengan kliennya, dan merupakan peran yang dengan sadar dipersiapkan sebelumnya. Peran yang manifes ini kelak merupakan bukti bagi si agen maupun kliennya. Sedangkan peran yang laten merupakan peran yang timbul dari “arus bawah” yang memberi petunjuk bagi si agen dalam mengambil tindakan.
C. Unsur-unsur Komunikasi Pembangunan Islam
1. Faktor komunikator
Komunikator dalam komunikasi Islam adalah pihak yang memprakarsai komunikasi, artinya dia mengawali pengirikan pesan tertentu kepada pihak lain yang disebut komunikan. Dalam komunikasi Islam seorang komunikator dapat bisa saja berasal dari latar belakang kebudayaan tertentu, misalnya kebudayaan A yang berbeda dengan komunikan yang berkebudayaan B.
Beberapa studi tentang karakteristik komunikator yang pernah dilakukan oleh Howard Giles dan Arlene Franklyn-Stokes menunjukkan bahwa karakteristik itu ditentukan antara lain oleh latar belakang etnis dan ras, faktor demografis seperti umur dan jenis kelamin, hingga ke latar belakang sistem politik. William Gudykunst dan Young Yun Kim mengatakan bahwa secara makro perbedaan karakteristik komunikator itu ditentukan oleh faktor nilai dan norma hingga kea rah mikro yang mudah dilihat dalam wujud kepercayaan, minat dan kebisaaan. Selain itu faktor-faktor yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa sebagai pendukung komunikasi misalnya kemampuan berbicara dan menulis secara baik dan benar (memilih kata, membuat kalimat), kemampuan menyatakan symbol non verbal (bahasa isyarat tubuh), bentuk-bentuk dialek dan aksen, dan lain-lain.
Menurut mereka, baik komunikator maupun komunikan, karakteristik tersebut pun sangat ditentukan oleh faktor-faktor makro seperti penggunaan bahasa dan pengelolaan etnis, pandangan tentang pentingnya sebuah percakapan dalam kontek sosial budaya masyarakat, orientasi atas konsep individualistik dan kolektivistik dari suatu masyarakat, dan orientasi atas ruang dan waktu; dan faktor mikro, seperti komunikasi yang dilakukan dalam suatu kontek yang segera, masalah subjektivitas dan objektivitas dalam komunikasi Islam, bisaanya percakan dengan berbagai budaya masyarakat Islam dalam bentuk dialek, aksen serta nilai dan sikap yang menjadi identitas sebuah masyarakat.
Berdasarkan pendapat ini maka komunikasi Islam di antara dua orang atau lebih yang berbeda jenis kelamin (gender), berbeda status sosial dan lain sebagainya adalah menjadi syarat kemampuan mutlak bagi seorang komunikator.
2. Komunikan
Komunikan dalam komunikasi Islam adalah pihak yang menerima pesan tertentu, dia menjadi tujuan/sasaran komunikasi dari pihak lain (komunikator). Dalam komunikasi Islam, seorang komunikan dalam daerah tertentu seperti masyarakat hitrogen seorang komunikan bisa berasal dari latar belakang sebuah kebudayaan tertentu, misalnya kebudayaan B.
Ingatlah bahwa baik komunikator dan komunikan dalam model komunikasi Islam diharapkan mempunyai perhatian penuh untuk merespon dan menerjemahkan pesan yang dialihkan. Tujuan komunikasi akan tercapai menakala komunikan mampu memahami makna pesan dari komunikator, dan memperhatikan (attention) serta menerima pesan secara menyeluruh (comprehension). Ini adalah dua aspek penting yang berkaitan dengan cara bagaimana seorang komunikator dan komunikan mencapai sukses dalam pertukaran pesan. Yang dimaksud dengan attention adalah proses awal dari seorang komunikan “memulai” mendengarkan pesan, menonton atau membaca pesan itu. Seorang komunikator berusaha agar pesan itu diterima sehingga perangkat pesan tersebut perlu mendapat perlakuan agar menarik perhatian. Sedangkan yang dimaksud dengan comprehension meliputi cara penggambaran pesan secara lengkap sehingga mudah dipahami dan dimengerti oleh komunikan.
Acapkali seorang komunikan ketika memperhatikan atau memahami isi pesan sangat tergantung dari tiga bentuk pemahaman, yakni: 1) kognitif, komunikan menerima isi pesan sebagai sesuatu yang benar; 2) afektif, komunikan percaya bahwa pesan itu tidak hanya benar tetapi baik dan disukai, dan 3) overt action tindakan nyata, di mana seorang komunikan percaya atas pesan yang benar dan baik sehingga mendorong tindakan yang tepat. Jadi seorang komunikan dapat berbuat sesuatu untuk memisahkan isi dan perlakuan pesan hanya karena pesan yang diterima itu mengandung attention dan comprehension.
3. Pesan
Dalam proses komunikasi, pesan berisi pikiran, ide atau gagasan, perasaan yang dikirim komunikator kepada komunikan dalam bentuk simbol. Simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk mewakili maksud tertentu, misalnya dalam kata-kata verbal yang diucapkan atau ditulis, atau symbol non verbal yang diperagakan melalui gerak-gerik tubuh/anggota tubuh, warna, artifak, gambar, pakaian dan lain-lain yang semuanya harus dipahami secara konotatif.
Dalam model komunikasi Islam, pesan adalah apa yang ditekankan atau yang dialihkan oleh komunikator kepada komunikan. Setiap pesan sekurang-kurangnya mempunyai dua aspek utama; 1) content dan 2) treatment, yaitu isi dan perlakuan. Isi pesan meliputi aspek daya tarik pesan, misalnya aktual, kontroversi, argumentatif, rasional dan sebagainya. Misalnya komunikan akan lebih tertarik dengan pesan yang disampaikan dengan menampilkan poto-poto atau pemutaran video tentang peristiwa sebagai perbandingan. Namun demikian aspek daya tarik saja tidak cukup, akan tetapi sebuah pesan juga perlu mendapat perlakuan, perlakuan atas pesan berkaitan dengan penjelasan atau penataan isi pesan oleh komunikator. Pilihan isi dan perlakuan atas pesan tergantung dari ketrampilan komunikasi, sikap, tingkat pengetahuan, posisi dalam sistem sosial dan kebudayaan masyarakat.
4. Media
Dalam proses komunikasi Islam, media merupakan tempat, saluran yang dilalui oleh pesan atau simbol yang dikirim melalui media tertulis misalnya surat, telegram, faksimile, kaset dan atau media lainnya seperti media massa (cetak) seperti majalah, surat kabar dan buku, media massa elektronik (radio, televise, video, film dan lain-lain. Akan tetapi kadang-kadang pesan-pesan itu dikirim tidak melalui media, terutama dalam komunikasi Islam tatap muka.
Para ilmuan sosial menyepakati dua tipe saluran; 1) sensory channel atau saluran sensoris, yakni saluran yang memidahkan pesan sehingga akan ditangkap oleh lima indra, yaitu mata, telinga, tangan, hidung dan lidah. Lima saluran sensoris itu adalah cahaya, bunyi, perabaan, pembauran dan rasa. 2). Institutionalized means, atau saluran yang sudah sangat dikenal dan digunakan manusia, misalnya percakapan tatap muka, material cetakan dan media elektronik. Perlu diingat bahwa setiap saluran institusional memerlukan dukungan satu atau lebih saluran sensoris untuk memperlancar pertukaran pesan dari komunikator kepada komunikan.
Perhatikan, tatkala manusia bertatap muka (medium institusional) maka orang akan memakai bahasa isyarat tubuh dan pernyataan wajah (kita menangkap pesan itu dengan mata), lalu menangkap bunyi (suara, atau gangguan lain), dan mungkin juga meraba, mencium bau dengan hidung atau merasakan sesuatu dengan lidah. Para ilmuan sosial juga menyimpulkan bahwa komunikasi akan lebih menyukai pesan yang disampaikan melalui kombinasi dua atau lebih saluran sensoris (perhatikan kalau kalau orang lebih suka menonton televisi, membaca surat kabar dari pada mendengarkan radio).
5) Efek atau umpan balik
Manusia mengkomunikasikan pesan karena dia mengharapkan agar tujuan dan fungsi komunikasi itu tercapai. Tujuan dan fungsi komunikasi, termasuk komunikasi Islam, antara lain memberikan informasi, menjelaskan/menguraikan tentang sesuatu, memberikan hiburan, memaksakan pendapat atau mengubah sikap komunikan. Dalam proses seperti itu, kita umumnya menghendaki reaksi balik, kita sebut umpan balik. Umpan balik merupakan tanggapan balik dari komunikan kepada komunikator atas pesan-pesan yang telah disampaikan. Tanpa umpan balik atas pesan-pesan dalam komunikasi maka komunikator dan komunikan tidak bisa memahami ide, pikiran dan perasaan yang terkandung dalam pesan tersebut.
Dalam kasus komunikasi tatap muka, umpan balik lebih mudah diterima. Komunikator dapat mengetahui secara langsung apakah serangkaian pesan itu dapat diterima oleh komunikan atau tidak. Komunikatorpun dapat mengatakan sesuatu secara langsung jika dia melihat komunikan kurang memberikan perhatian atas pesan yang sedang disampaikan. Reaksi verbal dapat diungkapkan secara langsung oleh komunikan melalui kata-kata menerima, mengerti bahkan mungkin menolak pesan, sebaliknya reaksi pesan dapat dinyatakan dengan pesan non verbal seperti menganggukkan kepala tanda setuju dan menggelengkan kepala sebagai ungkapan tidak setuju.
6. Suasana (setting dan context)
Satu faktor penting dalam komunikasi Islam adalah suasana yang kadang-kadang disebut setting of communication, yakni tempat (ruang, space) dan waktu (time) serta suasana (sosial, psikologis) ketika komunikasi Islam berlangsung. Suasana itu berkaitan dengan waktu (jangka pendek/panjang, jam/hari/minggu/bulan/tahun) yang tepat untuk bertemu/berkomunikasi, sedangkan tempat (rumah, kantor, rumah ibadah) untuk berkomunikasi, kualitas relasi (formalitas, informalitas) yang berpengaruh terhadap komunikasi Islam.
7) Gangguan (noise atau interference)
Gangguan dalam komunikasi Islam adalah segala sesuatu yang menjadi penghambat laju pesan yang ditukar antara komunikator dengan komunikan, atau paling fatal adalah mengurangi makna pesan komunikasi Islam. Gangguan menghambat komunikan menerima pesan dan sumber pesan. Gangguan (noise) dikatakan ada dalam satu sistem komunikasi bila dalam membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima. Gangguan itu dapat bersumber dari unsur-unsur komunikasi, misalnya komunikator, komunikan, pesan, media/saluran yang mengurangi usaha bersama untuk memberikan makna yang sama atas pesan.
Gangguan komunikasi yang bersumber dari komunikator dan komunikan misalnya karena perbedaan status sosial dan budaya (stratifikasi sosial, jenis pekerjaan, faktor usia), latar belakang pendidikan (tinggi pendidikan) dan pengetahuan (akumulasi pengetahuan terhadap tema yang dibicarakan), keterampilan (kemampuan untuk memanipulasi pesan) berkomunikasi.
Sementara itu gangguan yang berasal dari pesan misalnya perbedaan pemberian makna atas pesan yang disampaikan secara verbal, gangguan dari media/saluran karena orang salah memilih media yang tidak sesuai dengan konteks komunikasi, gangguan situasi, kondisi, suasana yang kurang mendukung terlaksananya komunikasi Islam tersebut.
Capper, menggolongkan tiga macam gangguan; 1) fisik berupa interfensi dengan tranmisi fisik isyarat atau pesan lain, misalnya desingan mobil lewat, dengungan computer, kaca mata; 2) psikologis-interfensi kognitif atau mental, misalnya prasangka dan bias pada sumber, penerima, pikiran yang sempit; 3) semantik berupa pembicara dan pendengar memberi arti yang berlainan, misalnya orang berbicara dengan bahasa yang berbeda, menggunakan jargon atau istilah yang rumit yang tidak dipahami pendengar.
D. Prinsip-prinsip Komunikator Pembangunan Islam
Dalam buku Antologi Kajian Islam Syukur Kholil menjelaskan komunikasi dalam perspektif Islam ditinjau dari prinsip komunikasi Islam, dalam kegiatan komunikasi Islam, seorang komunikator haruslah berpedoman kepada prinsip komunikasi yang digambarkan dalam al-Qur’an dan hadits. Diantara prinsip komunikasi yang dilukiskan dalam al-Qur’an dan hadis ialah:
1. Memulai pembicaraan dengan salam
Komunikator sangat dianjurkan untuk memulai pembicaraan dengan mengucapkan salam, yaitu ucapan ‘assalamu ‘alaikum’. Keadaan ini digambarkan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadisnya yang mempunyai arti: “ucapkanlah salam sebelum kalam”.
2. Berbicara dengan lemah lembut
Komunikator dalam komunikan Islam ditekankan agar berbicara secara lemah lembut, sekalipun dengan orang-orang yang terang-terangan memusuhinya. Hal ini antara lain ditegakkan dalam al-Qur’an surat Taha ayat 43-44 yang artinya: Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.
3. Menggunakan perkataan yang baik
Disamping berbicara dengan lemah lembut, komunikator Islam juga harus menggunakan perkataan yang baik-baik yang dapat menyenangkan hati komunikan. Prinsip ini didasarkan kepada firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Isra’ ayat 53 yang artinya: dan katakanlah kepada hamba-hamba Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan diantara mereka….

4. Menyambut hal-hal yang baik tentang diri komunikan
Komunikan akan merasa senang apabila disebut hal-hal yang baik tentang dirinya. Keadaan ini dapat mendorong komunikan untuk melaksanakan pesan-pesan komunikasi sesuai dengan yang diharapkan komunikator.
5. Menggunakan hikmah dan nasehat yang baik
Prinsip penggunaan hikmah dan nasehat yang baik antara lain disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Nahl ayat 125 yang artinya: Suruhlah (manusia) kepada jalan Tuhan mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”
6. Berlaku adil
Berlaku adil dalam berkomunikasi dinyatakan dalam al-Qur’an surat al-An’am ayat 152 yang artinya: “…dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu) dan penuhilah janji Allah….
7. Menyesuaikan bahasa dan isi pembicaraan dengan keadaan komunikan.
Prinsip ini dinyatakan dalam al-Qur’an surat al-Nahl ayat 125 yang dikutipkan diatas. Ayat ini mengisyaratkan adanya tiga tingkatan manusia, yaitu kaum intelektual, masyarakat menengah dan masyarakat awam yang harus diajak berkomunikasi sesuai dengan keadaan mereka.
8. Berdiskusi dengan cara yang baik
Diskusi sebagai salah satu kegiatan komunikasi harus dilakukan dengan cara yang baik. Seperti firman Allah dalam al-Qur’an al-Nahl ayat 125, dan juga dalam al-Qur’an surat al-‘Ankabut ayat 46, artinya: dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim diantara mereka… .
9. Lebih dahulu melakukan apa yang dikomunikasikan
Dalam komunikasi Islam, komunikator dituntut untuk melakukan lebih dahulu apa yang disuruhnya untuk dilakukan orang lain. Allah amat membenci orang-orang yang mengkomunikasikan sesuatu pekerjaan yang baik kepada orang lain yang ia sendiri belum melakukannya. Hal ini dikemukakan dalam al-Qur’an surat al-Saff ayat 2-3, artinya sebagai berikut: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
10. Mempertimbangkan pandangan dan fikiran orang lain
Pada lazimnya gabungan pandangan dan pemikiran beberapa orang akan lebih bermutu dibandingkan dengan hasil pandangan dan pemikiran perseorangan. Karena itu dalam komunikasi Islam sangat dianjurkan bermusyawarah untuk mendapan pandangan dan pemikiran dari orang banyak. Disamping itu, suatu kebijakan atau keputusan yang diambil dengan jalan musyawarah, secara psikologis dirasakan oleh seluruh anggota masyarakat sebagai keputusan bersama dan tanggung jawab bersama yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Prinsip musyawarah yang dalam ilmu komunikasi digolongkan kepada komunikasi kelompok (group communication) ini antara lain dijelaskan dalam al-Qur’an ayat 159: “…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (peperangan dan masalah-masalah keduniaan) itu…”.
11. Berdoa ketika melakukan komunikasi yang berat
Komunikator dianjurkan untuk berdo’a kepada Allah manakala melakukan kegiatan komunikasi yang dipandangnya berat. Prinsip seperti ini dikemukakan dalam al-Qur’an surat Thaha ayat 28 sebagai berikut: …Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”.
Disamping itu, seorang komunikator dalam komunikasi Islam harus mengindahkan etika berkomunikasi yang digariskan dalam Islam, yaitu : 1) mengandalkan kejujuran, 2) menjaga akurasi pesan-pesan, 3) bersikap bebas dan bertanggung jawab, serta 4) dapat memberikan kritik membangun.
E. Tugas-tugas Komunikator Perubahan dalam Pembangunan Islam
Komunikator perubahan dalam pembangunan Islam memiliki beberapa peran penting yang bukan hanya sekedar menyampaikan pesan-pesan komunikasi akan tetapi lebih kepada peran pendampingan sebagai upaya pembangunan Islam, seperti peran yang manifest, peranan yang laten disamping tugas-tugas agen pembangunan lainnya yang harus dimiliki oleh setiap komunikator Islam tersebut.
1). Peran yang Manifes
Peranan yang manifes dari agen pembangunan manurut Nasution : dapat dilihat dalam tiga perspektif, yaitu sebagai penggerak, perantara dan penyelesai (accomplisher). Sebagai penggerak, peranan agen pembangunan meliputi fungsi-fungsi fasilitator, penganalisa dan pengembangan kepemimpinan. Fasillitator adalah seseorang yang membangkitkan motivasi dan rangsangan dengan mesyarakat, agar masyarakat begerak, serta mempengaruhi mereka melalui petunjuk-petunjuk.
Penganalisa adalah orang yang melakukan indetifikasi atas alternarif-alternatif yang dikemukakan oleh masyarakat atau sebagai pemberi masukan (input) bagi tenaga ahli dalam menganalisa masyarakat secara menyeluruh. Sedang sebagai pengembang kepemimpinan, seorang agen pembangunan berfungsi melakukan identifikasi, melatih, mengorganisir, serta meningkatkan kemampuan pemimpin-pemimpin setempat, termasuk mengokohkan status mereka di tengah masyarakat, sebagai suatu usaha untuk membina kesinambungan dalam proses pembangunan.
Peran agen pembangunan senbagai perantara meliputi fungsi-fumgsi; pemberi informasi, dan penghubung. Fungsi pemberi informasi dilakukan dalam bentuk-bentuk memperkenalkan fakta-fakta, menghubungkan klien dengan nara sumber (resource person). Menyiapkan bahan dan peralatan pendidikan, melaksanakan studi dan mendatang pengetahuan teknis (technical know-how) bagi masyarakat setempat pada saat yang tepat. Fungsi penghubung dimaksudkan untuk menjembatani masyarakat setempat dengan tenaga ahli atau spesialis, sistem kemasyarakatan, para perumus kebijakan, dan pihak-pihak lain.
Dalam peranannya sebagai pencapaian hasil, agen pembangunan berfungsi sebagai pengorganisir, pengevaluasi dan yang memantapkan hasil. Fungsi pengorganisir dilakukan agar kegiatan tetap dalam konteks pembangunan yang direncanakan. Sedangkan pengevaluasi mempersiapkan basis untuk mengevaluasi alternatif-alternatif melalui pengetahuan yang lebih luas, berbarengan dengan evaluasi terhadap proses yang berlangsung nyata, berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan oleh masyarakat dan hasil yang telah dicapai. Dalam perananya sebagai orang yang memantapkan hasil yang dicapai, dimaksudkan untuk memberi imbalan (rewards) terhadap penampilan hasil-hasil yang telah ada.
2). Peranan yang laten
Hampir semua peranan yang manifest dari agen pembangunan yang disebutkan di atas mempunyai pasangan yang bersifat laten. Itu berarti selain fungsi-fungsi yang kelihatan secara nyata, agen pembangunan juga memiliki fungsi-fungsi yang laten, yaitu: sebagai pengembangan kepemimpinan, seorang agen pembangunan secara laten dapat berperan selaku orang memobilisir atau orang yang membangkitkan kesadaran. Pemobilisasi melakukan kegiatannya dalam rangka status qua. Pemobilisasi berguna dalam menghadapi masyarakat yang status qua dan dalam menghadapi suatu sistem yang menjadikan masyarakat hanyalah objek dalam mekanisme modernisasi. Pembangkit kesadaran berperan dalam mengatasi jurang kesadaran antara pemimpin dan masyarakat, membantu pengembangan masyarakat belajar mengajar dan membangun nilai-nilai melalui hubungan-hubungan yang dipunyainya.
Selaku penganalisa, peranan agen perubahan dapat beerupa dichotomizer ataupun sebagai "pembangunan sejarah". Dichotomizer melakukan peranannya dengan memperjelas perbedaan antara pembangunan dengan keterbelakangan. Memberikan suatu kelompok minoritas menonjol ditengah massa masyarakat, dan memandang modernisasi sebagai tahap yang tidak diubah lagi.
Sebagai pemberi informasi, agen perubahan secara laten dapat pula berfungsi sebagai seseorang yang "person oriented share", yaitu berusaha mencegah konsumerisme, menekankan kemanusiaan yang multi-dimensional, menekankan konsumsi yang rasional serta pemeratan pembagian pendapatan.
Sebagai penghubung, agen perubahan berfungsi sebagai modernizer yaitu berusaha mencari nilai-nilai dari industrialisasi melalui cara yang tidak membedakan. Juga dapat berfungsi sebagai syncretizer memadukan hal-hal yang lama dan baru melalui pembangunan yang bervariasi dan berpusat pada percaya terhadap diri sendiri.
Selaku organizer, agen perubahan menjadi pendukung dari partipasi popular, atau sebagai promoter efisiensi. Kalau ia seorang pendukung pertipasi popular, maka penekanannya adalah anggota-anggota sistem sosial. Sedangkan bila ia promoter efesiensi, maka ia akan menekankan pentingnya organisasi produksi, teknologi padat modal, serta kemanfaatan untuk perusahaan-perusahaan.
Peranan yang laten dari fungsi pengevaluasian seorang agen pembangunan adalah kemungkinannya menjadi seorang yang berpandangan kuatitatif (quantifier) atau kualitatif (qualifier). Sebagai quantifier, ia memperhatikan pembangunan dalam arti pertumbuhan dan pencapaian yang bias diukur. Sedangka qualifier, ia melihat bahwa pertumbuhan ekonomi harus tunduk kepada pembangunan kemanusiaan dengan menekankan kepada pemerataan.
Selaku reinforcer atau yang memantapkan hasil, peranan yang laten dari agen pembangunan mungkin merupakan konflik antara ingin menyesuaikan diri dengan sistem yang dominant, atau ingin membebaskan diri dari struktur kekuasaan. Dalam peran yang ingin menyesuaikan diri (adjuster), termasuk membatasi kepemimpinannya. Sedangkan peran untuk membebaskan diri (liberator) dari struktur kekuasaan, maka agen pembangunan mengusahakan tegaknya pengaruh dan kepemimpinannya ditengah masyarakat yang bersangkutan.
3. Tugas-tugas Agen Pembangunan
Rogers dan Shoemaker; setidak-tidaknya agen pembangunan memiliki tujuh tugas utama dalam melaksanakan difusi inovasi yaitu: 1) menumbuhkan keinginan masyarakat untuk melakukan perubahan, 2) membina suatu hubungan dalam rangka perubahan (change relationship), 3) mendiagnosa permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, 4) menciptakan keinginan perubahan di kalangan klien, 5) menerjemahkan keinginan perubahan tersebut menjadi tindakan yang nyata, 6) menjaga kestabilan perubahan dan mencegah terjadinya drop out, 7) mencapai suatu terminal hubungan.
Nasution ikut mengomentari hal tersebut di atas, pertama-tama dari seorang agen pembangunan diharapkan suatu peran pemrakarsa, atau pengambil inisiatif, dari perubahan sosial ditempat ia akan mendifusikan inovasi. Mula-mula kegiatannya adalah menumbuhkan keinginan di kalangan kliennya untuk melakukan perubahan dalam kehidupan mereka. Perubahan yang dimaksud tentu saja suatu perubahan dari keadaan yang ada sekarang menuju kesituasi yang lebih baik.
Setelah keinginan itu tumbuh, maka agen perubahan mejalin hubungan baik dengan kliennya. Hubungan yang dimaksud adalah suatu kontak yang mengandung saling percaya, kejujuran, dan empati. Sebab untuk menerima suatu inovasi, pertama-tama klien harus dapat menerima si agen perubahan itu sendiri terlebih dahulu.
Langkah berukutnya adalah melakukan diagnosa terhadap kebutuhan masyarakat yang hendak dibantunya. Diagnosa ini harus benar-benar bertitik tolak dari pandangan masyarakat tersebut, dan bukan Cuma dari kacamata si agen. Untuk itu dituntut kemampuan empati, yaitu menempatkan diri pada kedudukan masyarakat yang akan dibantu. Sesudah melakukan diagnosa, kemudian agen pembangunan kelien. Arti perubahan disini bukan sekedar berubah, namun benar-benar untuk kepentungan klien yang bersangkutan. Hastrat yang serius ini selanjutnya diteerjemahkan menjadi tindakan ataupun perbuatan yang nyata. Agen perubahan mempengaruhi perilaku kliennya (membuat mereka melakukan atau bertindak) menurut rekomendasika-rekomendasi yang diajukan setelah menganalisa kebutuhan masyarakat yang bersangkutan.
Apabila masyarakat tersebut telah melaksanakan tindakan-tindakan perubahan, maka tugas si agen kini adalah menjaga kestabilan perubahan itu dalam kelangsungannya, dan mencegah terjadinya drop aut.
Adalah suatu prinsip bagi seorang pembangunan, bahwa ia tidak akan selamanya terus-menerus membantu kliennya, melaikan harus sejak awal menanamkan kemampuan untuk menolong diri sendiri pada fihak klien. Oleh karena itu, seorang agen harus mencapai suatu titik terminal dalam hubungannya dengan masyarakat yang dibantunya, yakni agar pada suatu titik tertentu mereka itu tidak lagi bergantung sepenuhnya kepadda si agen, agen perubahan mulai melaksanakan tuganya, haruslah melibatkan anggota masyarakat yang dimaksud semaksimal mungkin padda setiap tahap kegiatan (mulai dari menganalisa, merencanakan, melaksanakan, sehingga mengevaluasi), juga melatih mereka seintensif mungkin, agar pada waktunya nanti mereka itu dapat menjadi agen pembangunan bagi diri mereka sendiri. Bila saat tersebut tiba, maka si agen dapat mengalihkan tugasnya membantu masyarakat yang lian, atau mulai mengarap masalah berikutnya pada masyarakat yang sama.
Dengan melibatkan klien dalam setiap tahapan kegiatan, dimaksudkan untuk membina proses pertipasi dari komunikasi, sehingga dapat diperoleh umpam muka atau feedforward dari masyarakat yang bersangkutan. Cara ini diharapkan dapat menututupi jarak sosial ekonomi yang selama ini terdapat di antara mereka yang benar-benar membutuhkan perbaikan hidup, dan mereka yang relative sudah lebih memadai.
Secara umum dan tahap langkah agen komunikasi pembangunan serta perubahan-perubahan yang terjadi dimasyarakat sebagai proses komunikasi pembangunan. Setidak-tidaknya ada tujuh tugas utama agen komunikasi pembangunan dalam melaksanakan difusi inovasi antara lain :
1) Menumbuhkan keinginan masyarakat untuk melakukan perubahan.
2) Membina suatu hubungan dalam rangka perubahan (change relationship).
3) Mendiagnosa permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.
4) Menciptakan keinginan perubahan dikalangan klien.
5) Menerjemahkan keinginan perubahan tersebut menjadi tindakan yang nyata.
6) Menjaga kestabilan perubahan dan mencegah terjadinya dropout.
7) Mencapai suatu terminal hubungan.
F. Kesimpulan
1. Dalam ilmu komunikasi pembangunan seorang komunikator pada garis besarnya mempunyai tiga peranan penting sebagai upaya melakukan perubahan-perubahan sosial dalam pembangunan baik dalam bentuk fisik maupun non fisik, yaitu 1) sebagai agent of change, 2) sebagai agent of development dan 3) sebagai agen of modernization.
2. Kualifikasi dasar diantaranya adalah kualifikasi teknis yang termasuk salah satunya adalah metode dalam menyampaikan pesan ajaran-ajaran agama Islam, metode disini berarti pendekatan berkomunikasi secara langsung dan mengatasi kendala-kendala yang dihadapi saat melakukan perubahan. Dengan tidak menafikan “sumber-sumber pokok yang dijadikan pegangan para agen perubahan Islam antara lain, al-Qur’an, as-Sunnah, sirah (sejarah) dan nabawiyah atau salafus shaleh dari kalangan sahabat, tabi’in dan ahli ilmu.
3. Unsur-unsur komunikasi pembangunan dapat berjalan dengan baik apabila meliputi beberapa faktor seperti faktor komunikator, komunikan, pesan, media, efek atau umpan balik, suasana (setting dan context), dan gangguan (noise atau interference).
4. Prinsip komunikasi Islam meliputi; memulai pembicaraan dengan salam, berbicara dengan lemah lembut, menggunakan perkataan yang baik, menyambut hal-hal yang baik tentang diri komunikan, menggunakan hikmah dan nasehat yang baik, berlaku adil, menyesuaikan bahasa dan isi pembicaraan dengan keadaan komunikan, berdiskusi dengan cara yang baik, lebih dahulu melakukan apa yang dikomunikasikan, mempertimbangkan pandangan dan fikiran orang lain, dan berdoa ketika melakukan komunikasi yang berat.
5. Komunikator perubahan dalam pembangunan Islam memiliki tugas-tugas pendampingan sebagai upaya pembangunan Islam, seperti peran yang manifest, peranan yang laten disamping tugas-tugas agen pembangunan lainnya yang harus dimiliki oleh setiap komunikator Islam tersebut.


BIBLIOGRAFI

-----, Communication of Innovation. New York: The Free Press, 1971.
Ahnadi, Abu. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bina Aksara, 1988.
Al-Qahthani, Said Bin Ali. Al-Hikmatu Fid Da’wah Ilallah Ta’ala. terj. Masykur Hakim. Dakwah Islam Dakwah Bijak. cet. I, Jakarta : Gema Insani Press, 1994.
Asante, Molefi and Gundykunst. Handbook of International and Intercultural Communication. London: Sage Publications, 1989.
Capper, Simon. Non Verbal Communication and the Second Language Learner: Some Padagogic Considerations. Hiroshim: Suzugamine Women’s College, 1997.
Drajat, Hasan Asari & Amroeni. Antologi Kajian Islam. Bandung: Citapustaka Media, 2004.
Hasjmy, Dustur Dakwah menurut al-Qur’an. cet. 2, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
Havelock. The Change Agent’s Guide to Innovation in Education. Englewood Cliffs, N.J. : Education Technology Publications, 1977.
Jalal al-Din al-Suy-ti. Al-Jami’ al-Saghir. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t., jld. II.
Lathief, Nasaruddin. Teori dan praktek Dakwah. Jakarta: Firma Dara, t.t.
Liliweri, Alo. Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya. cet. II, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Nasution, Zulkarimen. Komunikasi Pembangunan; Pengenalan Teori dan Penerapannya. edisi Revisi, cet. Keempat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002.
Natsir. Fiqhud Dakwah. Jakarta : Dewan Islamiyah Indonesia, t.t.
Rogers and Shoemaker, Rogers. Communication of Innovation. New York: The Free Press, 1971.




DAFTAR ISI

Daftar Isi ii
A. Pendahuluan 1
B. Agen Perubahan Islam 2
C. Unsur-unsur Komunikasi Pembangunan Islam 6
D. Prinsip-prinsip Komunikator Pembangunan Islam 12
E. Tugas-tugas Komunikator Perubahan dalam Pembangunan Islam 16
F. Kesimpulan 22

AGEN PERUBAHAN ISLAM DITINJAU DARI
PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI
PEMBANGUNAN


Tugas Akhir
Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mengikuti Ujian Akhir
Pada
Mata Kuliah Komunikasi Pembangunan


O l e h :
1. SAHARANI
NIM : 06 KOMI 1046
2. TARMIZI
NIM : 06 KOMI 1049
3. AMRUL PURBA
NIM : 06 KOMI 1041



Dosen Pengasuh :
Dr. Yusnadi, M.Si













PROGRAM PASCASARJANA
IAIN SUMATERA UTARA
M E D A N
2007

Relate Posts



0 komentar:

Poskan Komentar

>